Friday, December 28, 2012

Catatan akhir tahun

Tahun 2012, tahun ke-2 saya di Jepang. Ada banyak (sekali) kejadian penting yang terjadi di tahun 2012 ini.
  • Bulan September, the first Swastika family was born in Japan. Saya resmi menjadi seorang papa untuk Hideaki Joshua Swastika. Senang dan sangat sangat bersyukur karena itu artinya Tuhan mempercayai kami untuk merawat dan membesarkan Hideaki. Tuhan tentu bisa menaruh "Hideaki" di rahim siapapun yang Dia mau. Tapi dalam kedaulatanNya, Dia memilih kami untuk merawat dan membesarkan Hideaki.

    Suatu ketika, ibu gembala gereja lokal kami mengatakan ke saya, "...punya anak itu anugerah Tuhan. Walaupun berusaha, kalau memang belum waktuNya, ya nggak jadi." Saya setuju. Semoga kami yang sudah diberi anugerah ini, bisa senantiasa berhikmat dan punya kekuatan untuk merawat dan membesarkan Hideaki. Amin.

    Anyway, seperti kata istri saya bahwa masa kecil Hideaki hanya terjadi sekali, setiap hari (sejak hari pertama kelahiran Hideaki) saya (atau istri saya) selalu mengambil 3-5 foto dan saya simpan di album pribadi. Foto yang diambil istri saya ini saya nobatkan sebagai foto terbaik Hideaki tahun ini, yang diambil di hari ke-77.

day 77
  • Bulan April tahun ini saya resmi jadi Ph. D student. Masih 2 tahun lagi sebelum resmi dapat gelar Ph. D, perjalanan masih panjang. Tapi, karena pada dasarnya saya suka belajar dan meneliti bidang biomedical engineering, saya tetap enjoy. Seingat saya, selama kuliah di Jepang, nggak pernah seharipun saya ogah2an datang ke lab, apalagi sampai bolos (kalo bolos kelas bahasa Jepang sih, sering). Setiap hari saya selalu semangat saat datang ke lab... Baca jurnal terbaru yang berhubungan dengan penelitian, coding, bikin presentasi, menulis progress report, menulis manuscript untuk disubmit di conference, menulis jurnal. Selalu ada kesibukan... tapi fun! Menyenangkan. Seandainya saya masih single, liburan akhir tahun ini pasti sudah saya habiskan di lab.

    Anggota Haneishi lab tahun 2012
  • Bulan Maret lalu, disela-sela kesibukan riset, saya "diam-diam" selingkuh. Bukan dengan cewek, tapi dengan yang namanya Internet Marketing. Saya lebih senang menyebut exploit internet. Intinya adalah mendapatkan income dari Internet. Mungkin banyak yang akan bilang, "Ah, klise... dari dulu juga udah ada kayak gitu2an, tapi hasilnya nol besar." Di Internet, ada banyak peluang, ada juga banyak jebakan. Kalau jalurnya salah, bisa jadi jebakan... Terutama yang tergiur dengan get-rich-quick-scheme atau skema-jadi-cepat-kaya. Model bisnis yang semacam ini yang lebih cocok dibilang "hasilnya nol besar" (kalo nggak malah minus). Saya lebih suka exploit internet dengan model bisnis yang jelas. Bukan spekulasi, taruhan, saham, lotere, atau semacam itu. Saya milih untuk jadi indie writer (atau jadi penulis independent). Ini salah satu model bisnis Internet yang jelas. Menulis buku, lalu bukunya dijual. Setiap kali buku terjual, penulis akan mendapat royalti.

    Tahun ini, untuk pertama kalinya saya menulis buku, yang dipasarkan di Amazon. Kalau di-search di Amazon.com, ada lebih 10 buku dengan nama "Windra Swastika" sebagai penulis. Semuanya ber-genre Japanese language (yang kebanyakan adalah catatan2 saya selama ngambil kelas bahasa Jepang. Sejujurnya Bahasa Jepang saya juga masih nggak gitu bagus2 banget. Tapi catatan2 itu - yang dikompilasi menjadi buku - akan berguna untuk mereka yang sedang belajar Japanese).

    Untuk buku-buku di luar genre Bahasa Jepang, ada lebih dari 10 juga (targetnya bisa nambah 30-40 judul lagi tahun depan). Saya menggunakan nama pena yang berbeda-beda. Aneh aja, kalo "Windra Swastika" yang sama menulis buku Bahasa Jepang, juga menulis buku tentang kehamilan, misalnya. Dua buku terbaru adalah buku ber-genre anak-anak yang saya buat bareng istri saya, "Tobby the tiny dinosaur" dan "Danny and the new egg". Keduanya menggunakan nama istri saya sebagai authornya.

    Buat saya, model bisnis Internet dengan menjadi indie writer semacam ini, jelas dan  bisa menghasilkan income dengan stabil secara pasif. Buku-buku itu seperti "pekerja-pekerja" yang terus menerus bekerja 24x7 dan menghasilkan income walaupun penulisnya sedang tidur ataupun jalan2. Masih ada banyak model bisnis di Internet yang belum (sempat) saya jajaki (I wish I had more time). Saya berusaha mencari partner yang punya banyak waktu luang untuk sama-sama mengeksploit internet... sudah ada beberapa, hanya masih belum bisa maksimal. Let me know if you (seriously) want to join.

    sale dari Amazon KDP
All in all, tahun 2012 ini adalah tahun dengan banyak pengalaman baru. Banyak kejadian yang akan menjadi titik balik untuk tahun-tahun ke depan. The year of increasing - sesuai dengan visi gereja lokal kami tahun ini.

Happy (coming) new year, everyone!



Friday, November 16, 2012

Sekilas Korea


Kemarin saya (dan dua rekan lab) tiba di Seoul, Korea - untuk pertama kalinya. Tujuan kami untuk mengikuti conference IFMIA di mana kami akan mempresentasikan hasil penelitian kami.

Pengalaman buta-aksara kembali terulang, seperti saat pertama kali saya tiba di Jepang. Saya baru sadar, bahwa pengetahuan akan karakter Hangeul saya NOL BESAR. Tidak ada satu karakter-pun yang berhasil saya decode. Saya kira, negara2 Asia Timur seperti Jepang, Korea, Mongol, atau China, bisa bangga karena mereka punya karakter khusus dalam bahasanya. Mereka yg bisa membaca dalam alfabet mendadak buta huruf ketika berhadapan dengan karakter-karakter tersebut. Saya berandai-andai, kalau saja aksara jawa atau huruf palawa menjadi karakter sebagai identitas bahasa Indonesia... Ah, never mind.

Karena saya berangkat dengan dua rekan lab - yang adalah Japanese -, maka saya ngikut aja rencana mereka. Jarak dari Incheon Airport ke hotel, cukup jauh. 140Km yang bisa ditempuh dengan bus atau kereta. Mereka sepakat untuk menempuh perjalanan dengan cara yg nggak seru (menurut saya), yaitu naik limosine bus yang tinggal-duduk-tidur-lalu-tau-tau-sampai-hotel. Kalo saja saya sendirian, saya pasti sudah memilih untuk naik kereta yang paling nggak 3 kali ganti kereta. Dengan cara seperti itu, saya merasa bisa benar-benar menikmati perjalanan, ketimbang tinggal-duduk-tau-tau-sampai.

Yang saya agak surprise adalah ketika melihat banyaknya bangunan gereja di sepanjang perjalanan ke hotel. Hampir 3-4 Km nampak bangunan gereja. Kurang lebih sama seperti bangunan masjid yang banyak ditemui di Indonesia. Sepertinya, seperti yang sering saya dengar, pertumbuhan kekristenan di Korea beberapa puluh tahun terakhir, memang meningkat dengan signifikan.

Malam hari, ketika kami berjalan2 di sekitar kompleks hotel untuk makan malam, kami sekali lagi kesulitan mengartikan apa yang tertera di menu makanan. Tidak ada foto makanan, hanya tulisan dalam Hangeul beserta harga. Bahkan untuk berkomunikasi dengan pelayan, tidak satu kata dalam bahasa Korea-pun yang berhasil kami ucapkan dan dipahami oleh pelayan. Mencoba berbicara dalam Bahasa Jepang dan Inggris, semuanya sia-sia. Lalu? Ya, sudah... Kami secara acak menunjuk menu makanan dalam menu bertuliskan Hangeul itu. We have NO IDEA what kind of food we're going to eat. Just order by faith.

Hasilnya? Kami, atau setidaknya saya, tidak bisa menikmati makanan yang kami pesan. Dalam 1 jam, saya sudah lupa rasa makanannya yang entah-namanya-apa. Sesampai di hotel, saya membuka bekal makanan dan snack yang sudah disiapkan istri sebelum saya berangkat ke Korea. Jauh lebiiih enaaak ketimbang makanan Korea yang tadi saya makan.

----
Beberapa catatan penting saat di Jepang:

Akses kereta dari Chiba (atau Tokyo) ke bandara Narita ternyata SANGAT terbatas. Kereta hanya jalan satu jam sekali. Artinya, kalo kelewatan satu kereta, maka kita baru bisa sampai ke Narita satu jam berikutnya! Pastikan berangkat lebih 3-4 jam sebelum waktu departure. Lain dengan jalur kereta ke bandara Haneda yang ada hampir tiap 5 menit sekali.

Saya naik Asiana Airlines yang checkin di terminal 1, pintu gerbang selatan, counter G. Tidak ada fasilitas self-checkin. Artinya, harus ANTRI yang cukup panjang sebelum mendapatkan boarding pass. Lebih baik tiba awal untuk checkin, daripada harus terburu2 kuatir ketinggalan pesawat.

"unknown dinner"
kampus KAIST yang artistik



plakat ajakan untuk doa bersama/fellowship  yang banyak ditemukan di papan pengumuman universitas


Logika negara pemberi beasiswa


Setiap tahun, Pemerintah Jepang memberikan beasiswa kepada pelajar Indonesia yang disebut beasiswa Monbukagakushou (atau biasa disingkat monbushou). Inti dari beasiswa ini adalah memberikan kesempatan kepada pelajar-pelajar terbaik di seluruh Indonesia untuk kuliah di Jepang dengan dana sepenuhnya dari pemerintah Jepang.

Sebagian besar alokasi beasiswa adalah untuk pelajar lulusan SMA yang akan lanjut studi diploma atau S1 di Jepang (sekitar 30 pelajar). Berapa beasiswa (atau uang) yang didapatkan? Biaya hidup diberikan kurang lebih 15jt tiap bulan yang diberikan sampai penerima beasiswa lulus (kurang lebih selama 4 tahun atau 60 bulan) atau total Rp. 900jt. Ditambah biaya masuk dan SPP selama studi, yg kurang lebih total 240jt. Jd untuk seorang penerima beasiswa, pemerintah Jepang harus menyediakan dana lebih dari 1M! Itu berlaku untuk 1 individu. Jika ada 30 pelajar yg mendapatkan beasiswa, maka Rp. 30M (atau 3jt dolar US) harus disiapkan oleh pemerintah Jepang!

Bagaimana logika pemerintah Jepang ketika harus memberikan uang sebesar 3jt dolar kepada pelajar2 Indonesia? Tidakkah lebih baik uang sebesar 3jt dolar dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat Jepang? Untuk membangun infrastruktur pembangkit listrik misalnya? Apa semata2 hanya untuk memperat hubungan bilateral antara Jepang-Indonesia?

Ini hipotesis saya.
Alasan terakhir, untuk meningkatkan hubungan bilateral antar kedua negara, sangat make sense. Tapi itu bukan satu-satunya alasan pemberian beasiswa. Ada motivasi politis dan ekonomis di balik itu semua.

Fakta pertama, beasiswa monbukagakushou diberikan kepada pelajar-pelajar dengan prestasi akademik yang EXTRAORDINARY. Tahap seleksinya cukup jelas, yaitu menguji kemampuan analitis, verbal dan aritmatik. Hanya pelajar yang SANGAT cerdas dan ber-IQ tinggi yang berhak mendapatkan beasiswa ini. Cerdas saja nggak cukup, harus SANGAT SANGAT CERDAS di verbal, analitis dan aritmatik.

Isn't that great? Jepang "mengambil" pelajar-pelajar terbaik Indonesia untuk kuliah di negerinya. Idealnya sih, setelah lulus, para pelajar JENIUS itu kembali ke Indonesia sebagai sumber daya manusia unggul yang akan ikut membangun dan mengembangkan Indonesia.

idealnya...

Tapi kenyataannya nggak seperti itu.

Setelah beberapa tahun kuliah di Jepang - kemudian lulus dari universitas terbaik di Jepang - , para pelajar itu punya beberapa pilihan. Pertama, kembali ke Indonesia. Kedua, lanjut kuliah di Jepang dan ketiga, bekerja di perusahaan Jepang. Menjadi pengangguran tentu bukan opsi mengingat mereka adalah pelajar2 SUPER JENIUS yang nggak akan bisa diam, bengong dan gak tau mesti ngapain.

Opsi pertama, kembali ke Indonesia sepertinya akan menjadi opsi terakhir bagi mereka. Kenapa? Karena ketika mereka meninggalkan Indonesia, 4 tahun yang lalu, mereka baru lulus SMA. Nggak tau (atau nggak mikir) dunia kerja. Why should they? Dan setelah 4 tahun berlalu, seberapa banyak mereka tahu tentang kondisi (kerja) di Indonesia? Seberapa besar network yang mereka punyai untuk bisa merintis karir atau bisnis di Indonesia? Tentu tahun-tahun selama mereka kuliah di Jepang telah menghapus berbagai kesempatan membangun network atau relasi di Indonesia. Teman2 Indonesia yang dipunyai, mungkin hanya teman lama SMA yang sudah jarang kontak - atau malah kehilangan kontak.
Juga, kalaupun mereka kembali ke Indonesia, seberapa mau mereka digaji dgn standard freshgraduate Indonesia yg nilainya mungkin hanya 1/5 dari beasiswa yang biasa mereka terima?

Nggak ada relasi, buta kondisi dunia kerja, rendahnya gaji, juga "nyamannya" keadaan negara maju yg selama ini sudah mereka rasakan, menjadikan opsi "pulang kampung" adalah opsi terakhir. Hanya mereka yg nekat (atau sudah punya planning jelas atau punya nasionalisme yang SANGAT TINGGI) yg akan kembali ke Indonesia.

Sisanya? Tetap di Jepang. Melanjutkan studi atau bekerja sebagai pegawai di perusahaan Jepang.

Jangan lupakan fakta bahwa mereka adalah pelajar pilihan YANG SANGAT SANGAT CERDAS. Sumber daya manusia yang berkualitas. Pada akhirnya, beasiswa 1M yang sudah diberikan ke setiap individu, akan kembali lagi ke Jepang. Nilai ekenomis dari produktivitas pelajar2 pilihan ini - ketika mereka bekerja di perusahaan Jepang - pasti jauh di atas 1M. Kalau mereka lanjut studi, maka penelitian2 yg mereka lakukan adalah penelitian yg SANGAT berkualitas. Yg pada akhirnya membawa nama universitas (Jepang) di kancah internasional yang berpotensi mendapatkan berbagai dana hibah jutaan dolar.

Jadi, sama sekali nggak rugi memberikan beasiswa kepada pelajar-pelajar itu. Nilai ekonomis yang kembali ke negara pemberi beasiswa, akan jauh lebih besar dari nilai beasiswa yang diberikan.




Tuesday, November 13, 2012

Kindle di Jepang

Menurut saya, the best book reader device in the world adalah Amazon Kindle. Jenis Kindle yang saya punya adalah Kindle Keyboard 3G+WiFi - yang bisa mengunduh ebook di Amazon dan dikirim langsung ke device selama ada koneksi WiFi.


Teknologi e-ink (elektronic ink) membuat kualitas display di Kindle persis sama seperti kualitas cetak di buku atau koran. Nggak bikin lelah saat baca dan nggak tetap readable walo baca di bawah terik matahari (emang ngapain baca buku di bawah terik matahari?). Bandingkan dengan iPad ato iPhone yang menggunakan LED untuk display-nya.

Bulan Oktober lalu, Kindle Family resmi masuk Jepang. Satu ebook reader, yaitu Kindle Paperwhite tanpa wifi yang dibandrol 7,980 yen (atau kurang dari 1jt), sementara untuk yang ber-wifi harganya 12,980 yen (1.5jt). Dua tablet juga dirilis untuk pasar Jepang bulan Oktober lalu, Kindle Fire HD (19,800 yen) dan Kindle Fire.


Kindle Paperwhite

Di Indonesia, Kindle masih belum masuk. Saya bisa paham, karena statistik minat baca di Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan Amerika atau Jepang. Hasil survei UNESCO di tahun 2011, menunjukkan minat baca masyarakat Indonesia paling rendah di ASEAN. Indeks minat baca di Indonesia adalah sebesar 0,001, artinya dari seribu penduduk, hanya ada satu orang yang memiliki minat baca tinggi. Bandingkan dengan Singapura yang mencapai 0,45 (450 dari 1000 memiliki minat baca yang tinggi). Tentu menjual ebook reader device di Indonesia bukan strategi bisnis yang menguntungkan.

Anyway, untuk temen-temen di Indo yang punya minat baca tinggi, pingin banget untuk punya Kindle, bisa PM saya dan dengan senang hati bisa saya pesankan Kindle lewat Amazon.co.jp. :)


Monday, November 12, 2012

Mengurus Visa Korea di Jepang

Minggu ini, saya akan ke Korea (selatan) untuk presentasi poster di IFMIA (International Forum on Medical Imaging in Asia), tepatnya di Daejeon. Bagi warga negara Jepang, pergi ke Korea tidak memerlukan visa karena ada kerja sama bilateral. Sama seperti WNI yang pergi ke negara-negara ASEAN.

Awalnya saya pikir saya juga nggak perlu visa untuk ke Korea. Beberapa forum menyebutkan bahwa WNI bisa masuk ke Korea TANPA perlu visa. Namun itu hanya berlaku untuk pemegang passport biru (passport dinas). Sementara untuk rakyat biasa (seperti saya), visa Korea mutlak diperlukan untuk bisa masuk ke Korea.

Minggu lalu, saya mengurus visa Korea. Situasinya agak unik karena saya warga negara Indonesia, tinggal di Jepang dan mengurus visa untuk pergi Korea. Pengurusannya ternyata sederhana - tidak serumit ketika mengurus visa ke Amerika dulu. Cukup mengunduh formulir aplikasi visa di sini, isi dan bawa ke Embassy of South Korea di Tokyo. Biaya pembuatan visa sebesar 2400 yen dan jadi dalam waktu 2-3 hari kerja.

[Rute Embassy of South Korea]
Paragraf berikut ini sekedar catatan - just in case saya perlu mengurus visa ke Korea lagi, saya bisa membaca ulang bagian ini (dan semoga lokasinya nggak pindah2).

Stasiun terdekat dengan Embassy of South Korea adalah stasiun Azabu-juban (Tokyo Metro Uedo line atau Namboku line). Sesampai di Azabu-juban, cari exit gate #2. Dari exit gate #2, jalan lurus sekitar 700 meter. Bangunan yang dapat dijadikan patokan adalah Hotel Olympic Inn - dapat dilacak di peta yang terpampang di sekitar stasiun. Lokasi Kedutaan besar Korea sekitar 3 bangunan dari Hotel Olympic Inn. Bagian pengurusan visa ada di Lt. 3.

Untuk pengisian formulir, pastikan menyertakan alamat tujuan dan no. telpon dari alamat tujuan. Passport, foto ukuran passport dan Kopi registration card (KTP) juga dibutuhkan sebagai lampiran dari aplikasi pengajuan visa. Karena tujuan saya ke Korea untuk conference, maka lampiran email undangan untuk conference juga perlu disertakan. Pertanyaan standard seperti tanggal berapa berangkat, dalam rangka apa ke Korea, berapa lama ke Korea akan diajukan saat pengajuan aplikasi visa.

Setelah passport dan aplikasi diserahkan, petugas akan memberikan secarik kertas yang berisi kapan passport beserta visa dapat diambil. Sayangnya di kedutaan besar Korea ini nggak menyediakan layanan pengiriman untuk passport seperti di kedutaan Amerika.

Hari ini saya ke kedutaan besar Korea lagi, untuk mengambil passport yang telah ditempel visa Korea.

Capek di jalan.


Tuesday, October 9, 2012

Hectic month of the year

Bulan September kemarin adalah bulan yang hectic. Ada banyak hal yang harus diselesaikan - dan semuanya pertama kali saya lakukan. Nggak ada pengalaman sebelumnya.

Pertama, kami harus pindah dari asrama ke private apartment. Ada batas maksimum untuk dapat tinggal di asrama bagi mahasiswa internasional. Untuk kami, bulan September adalah bulan terakhir untuk bisa tinggal di asrama. Jadi kami harus mencari apartemen. Mencari dan menyewa apartemen di Jepang, nggak semudah mencari kos-kos-an di Indonesia yang hari ini ketemu ma ibu kos-nya, negosiasi dan hari itu juga bisa langsung masuk dengan modal KTP.  Di Jepang, menyewa apartemen ribetnya kayak beli rumah. Identitas harus jelas, mesti ada penjamin, mesti meng-asuransi-kan apartemen dari bencana alam, tanda tangan kontrak dengan berbagai macam aturan... ribet. Fakta bahwa kami adalah orang asing, sedikit banyak menambah faktor kesulitan dalam mendapatkan apartemen. Dari sekian banyak apartemen yang kami kunjungi, kami akhirnya memutuskan untuk memilih apartemen yang berjarak 10 menit bersepeda ke kampus. Keesokan harinya, setelah kami memutuskan untuk memilih apartemen tersebut, anak kami lahir.

Hal kedua yang harus diselesaikan bulan ini adalah hal kelahiran anak. Mengantar dan mendampingi istri selama proses persalinan adalah yang paling mendebarkan dan seru. Mendebarkan karena selama proses persalinan, kami harus berinteraksi dengan suster dan dokter dalam bahasa yang tidak terlalu kami pahami. Tentu tidak ada waktu untuk melihat kamus apa yang diucapkan oleh suster atau dokter. Dalam banyak situasi, saya (atau istri) mengandalkan feeling apa yang harus kami lakukan selama proses persalinan. Apapun yang terjadi, kami tahu persis bahwa Tuhan yang menjagai dan mengintervensi proses kelahiran anak kami.

Ketiga adalah pengurusan dokumen kelahiran anak kami. Dokumen pertama adalah dokumen internal sebagai warga negara Indonesia, yaitu surat keterangan lahir untuk pengurusan akte dan passport. Dokumen ke dua adalah dokumen untuk melegalkan tinggal di Jepang bagi anak kami, yaitu residence card, tunjangan kesehatan dan asuransi kesehatan. Semua formulir tertulis dan harus diisi dalam Bahasa Jepang. Sisi positifnya adalah meningkatkan kemampuan saya dalam membaca huruf-huruf Kanji dan berinteraksi dengan orang-orang di kantor kecamatan.

Keempat adalah pindahan. Setelah memilih apartemen, kami tidak bisa begitu saja pindah. Selama seminggu, saya mesti mengurus berbagai dokumen untuk kelengkapan proses kontrak sewa sebelum kunci bisa diserahkan. Hari H+1 setelah kunci diserahkan, barulah kami bisa pindah ke apartemen yang baru. Proses pindah tempat tinggal itu gampang-gampang susah. Kami menggunakan jasa yang memang spesialisasi untuk pindahan. Jadi agak repot karena kami harus memastikan bahwa anak kami nggak sampe terpacking di box bersama dengan baju-baju musim dingin yang akan segera datang.

Semua proses di atas sangat menguras tenaga dan pikiran. Juga uang yang jumlahnya nggak sedikit. Nggak sedikit, bahkan untuk ukuran pengeluaran di Jepang. Semua dalam bulan yang sama, September. Tapi lagi-lagi, Tuhan dengan mudah mengintervensi dan mencukupkan semua yang kami butuhkan. I mean, Semuanya.

Hari-hari ini adalah hari-hari menjelang musim dingin. Musim dingin ketiga selama saya di Jepang. Mungkin masih dua musim dingin lagi yang akan saya lewati di sini... and The Lord is always my shepherd,  I shall not be in want.


Friday, September 28, 2012

Pengurusan dokumen melahirkan di Jepang

[Catatan pribadi berkenaan dengan dokumen-dokumen setelah melahirkan di Jepang]

Sebenarnya prosedurnya nggak terlalu rumit kalau sudah tahu prosedurnya. Semua prosedur sudah tercatat dengan jelas. Hanya saja seringkali bahasa menjadi kendala. Berikut adalah catatan pengurusan dokumen kelahiran anak di Jepang (based on true story).

Ketika bayi dari orang tua berwarga negara Indonesia lahir di Jepang, maka passport, visa dan KTP Jepang mutlak diperlukan. Apa bisa bayi bisa memiliki passport? Bisa dan memang wajib memiliki jika bayi tersebut tinggal di luar negeri.

Prosedur untuk mengurus passport adalah:

  1. Terlebih dulu melaporkan kelahiran di kantor kota (区役所/kuyakusho) atau kantor kecamatan (市役所/shiyakusho) paling lambat 14 hari sesudah kelahiran anak. Tentunya nggak bisa ujug-ujug datang dan bilang bahwa anak sudah lahir. Laporan kelahiran membutuhkan dokumen yang disebut Surat keterangan lahir (出生届/shusei todoke) yang diberikan oleh rumah sakit atau klinik di mana anak lahir. Ketika surat keterangan lahir diserahkan ke kantor kota atau kecamatan, maka kantor akan mencatat identitas bayi dan memberikan dua buah formulir. Formulir pertama adalah formulir untuk asuransi kesehatan dan formulir kedua adalah formulir untuk mendapatkan tunjangan anak dari pemerintah setempat. Dapat langsung diisi hari itu juga.
  2. Sebagai salah satu syarat pembuatan passport, kita perlu meminta sertifikat kelahiran anak (出生証明書/shusei shomesho) di kantor kota atau kantor kecamatan dengan membayar sebesar 350 yen. Sertifikat ini BERBEDA dengan Surat keterangan lahir (出生届/shusei todoke) yang dikeluarkan oleh rumah sakit (surat keterangan lahir akan disimpan oleh kantor kota atau kecamatan).  
  3. Sebelum membuat passport, kita perlu mengurus surat keterangan lahir di kantor KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia). Surat keterangan lahir ini adalah surat PENTING yang hanya diterbitkan SEKALI oleh KBRI. Surat ini harus ada saat anak kembali ke Indonesia dan mengurus akte kelahiran. Untuk mendapatkan surat keterangan lahir, orang tua perlu mengisi formulir yang ada di KBRI dengan membawa sertifikat kelahiran anak (出生証明書/shusei shoumeisho), kopi passport ortu, kopi alien card ortu, surat pernikahan ortu dan kopi boshitecho. Lama pengurusan adalah 1-2 hari kerja dengan membayar 1200 yen.
  4. Setelah surat keterangan lahir jadi, berikutnya adalah membuat passport (yang juga dilakukan di kantor KBRI). Selain surat keterangan lahir, dokumen lain yang dibutuhkan yaitu kopi passport, alien card, surat nikah, 4 lembar foto anak 3×4 dengan latar belakang putih. Agar tidak perlu kembali ke KBRI untuk mengambil passport yang sudah jadi, gunakan amplop Letter Pack 500 (re-tta-pa-ku go-hyaku) agar passport dapat dikirim ke alamat rumah setelah selesai. Biaya pembuatan passport 2.500 yen.
Setelah passport si anak selesai, berikutnya adalah mendapatkan visa untuk izin tinggal selama di Jepang. Permohonan visa untuk anak diajukan di kantor imigrasi Jepang dalam waktu maksimal 30 hari setelah kelahiran anak. Formulir yang diisi adalah formulir khusus untuk mendapatkan status tinggal anak (bukan formulir dependent atau COE). Dokumen yang dibutuhkan antara lain, kopi passport anak dan ortu, kopu alien card ortu, student card (kalau ortu adalah pelajar), dan rekening tabungan. Visa tidak dapat langsung diberikan di hari H pengajuan. Pihak imigrasi akan mengirimkan surat ketika visa sudah dapat diambil.

Catatan:
  1. Sesuai aturan keimigrasian yang terbaru (Juli 2012), pihak kantor kota atau kecamatan tidak lagi menerbitkan KTP  (外国人登録証/gaikokujin torokushou) untuk anak yang baru lahir. KTP dapat diurus di imigrasi setelah anak memiliki passport dan visa Jepang.
  2. Semua dokumen sebaiknya segera diurus tanpa ditunda-tunda begitu anak lahir. Tanpa adanya surat keterangan lahir, passport, visa, dll, maka si anak dapat masuk dalam kategori ilegal yang bisa sewaktu-waktu di-deportasi.




Wednesday, September 5, 2012

Takjub!

4 September 2012
05.30
Pagi itu, kami bangun pagi sekali. Buru-buru menelepon taksi untuk pergi ke klinik. Ketuban sudah pecah, airnya membasahi celana dan baju tidur yang dipakai istri saya. Jarak dari tempat tinggal kami ke klinik hanya 5 menit naik taksi.

3 September 2012, hari H-1
21.30
Sebenarnya tidak ada tanda-tanda akan melahirkan. Sama sekali. Tapi toh, setelah selesai makan malam saya tetap mengatakan ke istri apa yg saya rasakan selama ini. "Besok lahir...", kata saya pendek. Istri cuman senyum, antara yakin dan kurang yakin. "Besok ato kalo nggak ya lusa...", kata saya lagi.

4 September 2012
08.00
Di ruang bersalin itu, ada sebuah tempat tidur yang memang didesain untuk persiapan melahirkan. Di samping2nya ada tempat untuk meletakkan telapak kaki, yang dapat memudahkan untuk dijejak saat mengejan. Tuas di samping2nya juga bisa disetel agar pas dengan jangkauan kedua tangan dan bisa digenggam ketika kontraksi terjadi.



Saya berada di ruang bersalin itu. Mendampingi istri dan melihat proses kelahiran normal anak pertama kami, proses luar biasa yang saya anggap adalah salah satu keajaiban Tuhan untuk manusia.

** alert: tiga paragraf di bawah akan menceritakan apa yang terjadi selama proses kelahiran normal. Nggak perlu dibaca kalo takut menghadapi proses melahirkan.

Pada dasarnya, saat akan melahirkan, kontraksi terjadi secara periodik setiap 5 menit sekali dan semakin lama semakin pendek periodenya. Satu atau dua menit sekali. Saya tentu nggak tau gimana rasanya mengalami kontraksi. Tapi saya bisa menduga rasanya seperti kram dan nyeri perut. Reaksi alami saat terjadi kontraksi semacam ini adalah mengejan. Ini adalah momentum yang tepat agar bayi di dalam bisa didorong keluar. Tanpa ada kontraksi, tenaga untuk mengejan tidak akan cukup besar untuk bisa mendorong bayi. Itu dugaan saya.

Tiga jam lebih istri saya harus mengalami proses kontraksi... berusaha mengejan untuk mendorong bayi keluar. Tuas pegangan yang seharusnya digenggam seringkali berganti jd tangan saya. Genggaman yg kuat meninggalkan banyak bekas 'cakaran' di tangan saya. Untuk menambah serunya proses melahirkan normal, sebelum bayi keluar, ada event yang disebut dengan "bloody show". Darah segar keluar dan membuat proses melahirkan nampak mengerikan, terutama bagi mereka yang tidak tahan melihat darah.

Ketika kepala bayi sudah berada dalam jangkauan, maka bidan akan membantu menarik kepala tersebut dengan kedua telapak tangannya. Saya berdiri tepat samping istri dan mengamati prosesnya. Takjub melihat anak kami keluar untuk menghirup udara bumi untuk pertama kalinya. Darah dan cairan ketuban yang kental masih ada di tubuhnya. Dengan sigap bidan segera memotong tali pusar dan membersihkan dengan handuk. Terjawab sudah pertanyaan "aku keluar dari mana?" yang saya tanyakan ke mami, 30 tahun yang lalu.

Saya bersyukur bahwa putra kami lahir dengan sehat pukul 11.12 waktu Jepang. Berada di persentil 50, dengan berat 3kg dan panjang 49cm. Setelah proses kelahiran, istri saya berbisik ke saya, "kita punya anak satu aja ya...". Saya tersenyum, dan dalam hati yakin seyakin2nya bahwa jutaan ibu juga mengatakan hal yang sama ke suaminya, lalu beberapa waktu kemudian "nggak kapok" untuk punya anak ke-2, 3, 4, 5 dst.

***

Dengan proses kelahiran normal seperti itu, saya bisa pastikan akan ada "emotional bond" antara ibu dan anak yang nggak pernah bisa dipunyai oleh ayah. Anak itu akan disayangi dengan sepenuh hati setelah apa yang dialami selama mengandung dan puncaknya saat proses melahirkan. Si ibu akan merasakan sakit yang sama ketika si anak disakiti, akan selalu dibela dan dibanggakan. Kasih itu akan bertahan selamanya di hati sang ibu, no matter what.

Made in heaven, assembled in Japan: Hideaki Joshua Swastika,
September, 4th 2012


Thursday, August 16, 2012

Mana yang dipriotaskan? Keluarga atau karir?

Saya menuliskan sebuah kalimat di salah satu posting tanggal 3 Juli bulan lalu, 'Ohana means family, family means nobody gets left behind. Or forgotten.' Quote yang saya ambil dari film Lilo and Stitch, film produksi Disney sepuluh tahun yang lalu, yang somehow, quotenya masih saya ingat sampai sekarang.

Kalo para ayah diberikan pertanyaan "Mana yang dipriotaskan? Keluarga atau karir?", saya yakin sembilan dari sepuluh ayah yang normal pasti akan menjawab, "Keluarga saya lebih penting ketimbang karir..." Soal yang tentu terlalu gampang bagi para ayah. 

Menjawab berbeda dengan praktek.

Dua minggu lalu, waktu saya dan istri ke dokter untuk mengontrol kandungan yang masuk di minggu ke-33 (atau bulan ke-8), dokter mengatakan bahwa bayi kami sehat dan semua normal. Puji Tuhan. Senang mendengar apa yg disampaikan oleh dokter itu. Namun  hal yg dikhawatirkan oleh dokter yang nggak mau berbicara pake Inggris itu adalah cervix insufficiency istri yang berpotensi bayi lahir lebih cepat. Dokter itu memberikan rujukan ke RS kota yg lebih besar agar diperiksa lebih detail dan segera dilakukan tindakan medis kalau memang diperlukan.

Di rumah sakit, dokter memutuskan agar istri bed-rest selama 2 minggu dan diberikan obat yang dapat mengurangi ketegangan pada perut. Tujuannya agar tidak sampai terjadi kelahiran dini. Dan mulailah, ujian praktek pertanyaan, "Mana yang dipriotaskan? Keluarga atau karir?"

Di minggu itu, saya dijadwalkan untuk presentasi hasil penelitian di Hokkaido - selama 4 hari 3 malam. Jadwal presentasi sudah diputuskan sejak abstract paper saya accepted 3 bulan lalu. Tiket dan hotel juga sudah dipesan jauh-jauh hari. Minggu itu pula, istri harus bed-rest di rumah sakit selama 2 minggu. Mana yang dipilih? Tetap berangkat ke Hokkaido yang cmn 4 hari atau membatalkan presentasi dan menunggui istri di rumah sakit?

Logika orang Jepang, sedikit terbalik dengan logika orang Indonesia. Bagi orang Jepang, bed-rest di rumah sakit adalah kondisi yang paling ideal. Di rumah sakit, pasien pasti aman, mendapat perawatan yang terbaik, dokter yang berdedikasi dan suster yang senantiasa mengontrol kondisi pasien. Ini Jepang. Nothing to be worried. Pasien pasti terurus dan terjamin. Tidak ada perbedaan kasta pasien seperti di Indonesia. Di sini semua akan dimonitor dengan detail dan segera mendapat tindakan medis kalau diperlukan. Justru kalau tetap berada di rumah, itu malah berbahaya.  

Jadi saya bisa memakai logika ini untuk tetap berangkat ke Hokkaido. Toh, hanya 4 hari kan? Setelah pulang dari Hokkaido masih ada 10 hari lagi. 

Saya tahu, situasi ini semacam turning point bagaimana saya kelak bersikap terhadap keluarga. Mengutamakan karir atau keluarga. Saya merasa, ini seperti bukan one-time-decision yang setelah diputuskan lalu selesai. Dampak keputusan yang akan saya ambil, jauh lebih panjang drpada sekedar memutuskan pergi ikut conference ato nggak. 

Saya memutuskan untuk tetap tinggal dan menyampaikan ke pak prof bahwa saya tidak bisa pergi ke Hokkaido untuk presentasi. Gimana respon pak prof, nasib tiket pesawat, hotel, dan presentasi nggak perlu diceritakan karena bukan bagian penting dari posting ini.

Saya tinggal. Selama 2 minggu, setiap hari setelah pulang dari lab saya akan segera ke RS. 

Hari ini istri telah keluar dari RS. Bayi kami memang belum lahir, tapi semuanya baik dan istri bisa melanjutkan bed-rest-nya di rumah. Home-sweet-home. I don't regret my decision. Ujian pertama untuk Ph. D candidate dengan pertanyaan, "Mana yang dipriotaskan? Keluarga atau karir?" sudah saya lewati.
I'm a Ph. D (Perfect Husband and Daddy) candidate.


Anyway, my wife stayed at the 7th floor, where the sea can be clearly seen from the window. I should have taken some pics before leaving the hospital today. Image credit: http://www.city.chiba.jp/byoin/kaihin/kaihintop.html

NB. kejadian ini merupakan latar belakang tweet "家族のために、未来のために。。。" (kazoku no tame ni, mirai no tame ni) yang artinya, "demi keluarga, demi masa depan..."

Friday, July 13, 2012

Repotnya sesi "journal reading presentation"


[Menulis posting tentang research nggak pernah bisa pendek. Posting ini termasuk posting yang akan butuh waktu untuk membacanya.]

Di lab, ada sesi yang disebut dengan 雑誌会 (zasshi kai). Saya mengistilahkan dengan "Journal Reading Presentation" yang mana tidak ada seorangpun di lab yang mengistilahkan seperti itu, selain saya (ya, suka2 saya ngasih nama). Setiap semester, anggota lab (entah mahasiswa doktor, magister atau bachelor) diminta untuk memilih sebuah jurnal kemudian mempresentasikan isi jurnal tersebut di depan pak profesor dan anggota lab lainnya.  Setelah presentasi, seperti biasa, ada sesi tanya jawab.

Jadi menarik karena yang dipresentasikan adalah jurnal. Bukan sekedar paper di prosiding. Di bidang akademik, jurnal berisi tentang publikasi penelitian terbaru yang telah selesai dilakukan oleh seorang atau sekelompok ilmuwan. Sedangkan paper di prosiding biasanya hanya menuliskan sebagian kecil dari hasil penelitian besar. Mahasiswa S1 (atau bahkan S2) sering salah kaprah antara jurnal dengan paper di prosiding. Semua dianggap sama.

Jurnal lebih sulit dipahami (dan ditulis) ketimbang paper di prosiding. Einstein, misalnya, setelah meneliti tentang teori relativitas, dia menulis hasil penelitian dan mempublikasikan di jurnal Annalen der Physik (1905) - bukan di prosiding. Lewat publikasi jurnal-jurnal semacam inilah biasanya seorang ilmuwan diakui kepakarannya (bukan lewat prosiding). Lewat jurnal jugalah, industri dapat mengetahui temuan terbaru yang bisa diterapkan dan diproduksi menjadi teknologi yang bisa dinikmati umat manusia.

Intinya, melalui jurnal inilah para ilmuwan dapat saling mengetahui penelitian yang sudah dilakukan oleh ilmuwan lain. Hasil dari penelitian tersebut dapat dirujuk untuk melakukan penelitian lain sehingga ilmu pengetahuan semakin berkembang. Anyway, agar mendapatkan gelar Doktor (di tempat saya kuliah), minimal harus menulis 2 hasil penelitian dan disubmit ke jurnal internasional. 

Karena sebuah jurnal berisi hasil dari sebuah penelitian besar, maka sesi Journal reading presentation di lab  bukanlah hal yang mudah seperti membaca novel. Membaca mudah, tapi untuk memahami itu merupakan tantangan tersendiri. Contoh, kalimat ini saya quote dari kalimat pertama jurnal IEEE TRANSACTIONS ON PATTERN ANALYSIS AND MACHINE INTELLIGENCE, VOL. 26, tahun 2004 yang berjudul "Two-Dimensional PCA: A New Approach to Appearance-Based Face Representation and Recognition"

 "PRINCIPAL component analysis (PCA), also known as Karhunen-Loeve expansion, is a classical feature extraction and data representation technique widely used in the areas of pattern recognition and computer vision."

Mudah untuk dibaca (atau diterjemahkan). Tapi untuk memahami sepenggal kalimat ini, perlu punya fondasi sains yang pas. Contoh, "principal component analysis" dapat diterjemahkan menjadi "analisa komponen utama", tapi apa itu "komponen utama"? Muncul juga kata "classical feature extraction" yang kalau diterjemahkan menjadi "ekstraksi fitur klasik". Apa itu ekstraksi fitur? Kalau ada yang klasik berarti ada yang modern. Juga kata "data reprensentation", "pattern recognition", dan "computer vision". Semua istilah-istilah ini adalah istilah khusus yang nggak bisa dipahami hanya dengan menerjemahkan secara harafiah.

Itulah tantangan ketika mendapat giliran journal reading presentation. Bulan Juni lalu adalah giliran saya. Sebulan sebelumnya, saya sudah mulai memilih-milih jurnal yang akan saya presentasikan. Awalnya, dengan pe-de-nya saya memilih jurnal terbaru tentang pemodelan gerakan pernafasan yang dipublikasikan oleh Medical Physics Journal tahun 2012 ini. Dua minggu fokus mempelajari - dan macet di metode image registration-nya. Ganti jurnal yang agak lamaan, tahun 2010. Macet lagi. Sampe akhirnya saya memutuskan untuk ambil jurnal di tahun 2004 (yang saya quote di atas) dan bisa bener2 paham apa yang ditulis di dalemnya. 

Ini salah satu tantangan sebagai mahasiswa Doctor. Sesi-sesi semacam ini, akan melatih seorang mahasiswa Doctor untuk punya pola pikir yang sistematis yang kelak harus dituangkan dalam publikasinya. 

I'm glad to be a member of this lab so I'm able to focus to conduct a research. I wouldn't dare to be a doctoral student and having an activity as a lecturer in the same time.


Tuesday, July 3, 2012

'Ohana means family (2nd year)

'Ohana means family, family means nobody gets left behind. Or forgotten. (Lilo and Sticth, 2002)

We've been married for two years dan dalam dua tahun ini saya sedang dalam perjalanan untuk mendapatkan dua gelar Ph. D. Iya, dua.
  • Gelar Ph. D yang pertama adalah Doctor of Philosophy. Ph. D yang ini butuh kerja keras. Setiap hari mesti belajar, belajar dan belajar. Saya enjoy karena setiap hari selalu bisa mendapatkan hal-hal baru.  Kelak, dari apa yang telah saya kerjakan hari ini, akan ada saintis lain yang memanfaatkan untuk bidang penelitian yang lebih besar dan lebih berdampak. So exciting. Normalnya dalam 3 tahun saya akan bisa mendapatkan gelar Ph. D dari institusi di mana saya belajar saat ini, Chiba University.
  • Gelar Ph. D yang kedua lebih sulit didapat. Berapa lama saya bisa dapat gelar Ph. D yang kedua ini? Nggak tau. Mungkin seumur hidup nggak akan bisa. Nggak ada buku teks yang bisa saya pelajari. Nggak ada satupun  institusi yang berani memberi gelar Ph. D yang satu ini, selain... 


Gelar Ph. D itu namanya, "Perfect husband and Daddy".

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Rm 8:28)


Past year(s):

Monday, June 18, 2012

Nge-lab di Jepang, seperti apa?

* Posting ini ditujukan khususnya bagi  mereka yang berencana melanjutkan studi lanjut (Master atau Doctor) di Jepang. *

Waktu saya dinyatakan diterima di Lab RCFME (Research center for frontier medical engineering), Chiba University tahun 2010 lalu, sejujurnya saya tidak punya bayangan bagaimana keadaan yang akan saya alami di sana. Hanya bisa menebak2...

Sampai saya mengalami sendiri.

Tidak seperti di Indonesia, di Jepang setiap graduate student (entah master atau doctor student) pasti akan tergabung dalam sebuah lab yang dikelola oleh seorang profesor (atau associate professor). Di lab inilah, penelitian dikerjakan. Si mahasiswa setiap hari datang ke lab seperti halnya pegawai yang harus datang di jam kerja. Tapi di Jepang, di mana mental kerja keras benar-benar dihargai, jadwal nge-lab mahasiswa bisa dari jam 9 pagi sampai jam 10 malam. Menginap di lab juga bukan hal yang luar biasa. Lab akan menjadi rumah pertama (bukan lagi rumah kedua) bagi si mahasiswa. "Aturan" semacam ini berlaku untuk semua anggota lab, tanpa memandang umur, jenis kelamin atau kebangsaan. (Mungkin untuk bidang-bidang sosial, kegiatan nge-lab bisa jadi lebih sering di lapangan ketimbang berhadapan dengan komputer seperti mahasiswa teknik umumnya)

Hampir 2 tahun saya resmi menjadi mahasiswa di Jepang (atau bagian dari lab RCFME). Apa yang saya alami, tidak semuanya menyenangkan. Ada hal-hal yang bisa membuat tertekan. Hanya saja, prinsip saya, semua hal yang terjadi (baik atau buruk) pada akhirnya akan mendatangkan kebaikan bagi saya (dan menjadikan saya lebih baik). Jadi ya, apapun yang terjadi, saya tetap enjoy.

Bagi yang berencana untuk melanjutkan studi, menjadi graduate student (master atau doctor) di Jepang, ada baiknya mengetahui hal-hal berikut.

Sebelum berangkat ke Jepang, maksimalkan waktu untuk belajar bahasa Jepang. Setidaknya pada level conversation... Ketika sudah menjadi bagian dari suatu Lab, terutama jika sebagian besar anggota lab adalah orang Jepang, maka ketidakmampuan berkomunikasi akan menjadi halangan yang tidak dapat dianggap enteng.

Ketika ada mahasiswa asing, umumnya mahasiswa Jepang tidak mau repot-repot "berlatih" Bahasa Inggris dengan mahasiswa asing. Jaim... Saya menduga, mereka tidak ingin ketauan kalo "nggak bisa bahasa Inggris". Keengganan untuk berbicara dengan bahasa inggris ini berlaku baik bagi yang bahasa inggrisnya jago, maupun yang nggak bisa bahasa inggris beneran.

Kondisi semacam ini akan berlanjut di dalam lab. Mahasiswa asing yang baru datang, nggak bisa bahasa Jepang, bisa merasa benar-benar kesepian karena "dibiarkan" begitu saja. Semacam nggak dianggep. Tapi bukan berarti mereka jahat ato nggak mau bergaul. Kalo si mahasiswa asing butuh bantuan, mereka dengan sigap membantu.

Saran saya untuk mereka yang ingin melanjutkan studi di Jepang (dan menjadi bagian dari suatu lab) proaktif-lah mendekati mereka kalau ingin menjadi bagian dari lab. Mengajak mereka ngobrol (entah dengan bahasa Jepang seadanya, atau bahasa inggris) di waktu yang tepat sehingga tidak merepotkan dan mengganggu waktu. Tanpa pro-aktif untuk mengajak mereka ngobrol, mereka juga nggak akan "repot" nyamperin mahasiswa asing untuk diajak ngobrol. Sehari di lab bisa2 mahasiswa asing hanya mengucapkan 3 kata, "Ohayou gozaimasu" ketika datang pagi hari dan "Tsukaresamadesu" ketika pulang. 

Lepas dari fasilitas lab yang serba canggih, buku-buku terbaru, kebutuhan software apapun bisa dipenuhi,  alat yang rusak diganti tanpa banyak birokrasi, koneksi internet yang super cepat, ada tantangan lain yang mesti dihadapi mahasiswa asing, yaitu tantangan suasana lab. Menjadi pro-aktif untuk dapat benar-benar menjadi bagian dari lab yang mana tempat yang setiap hari dikunjungi.


That's the way it is.

Sunday, June 17, 2012

Teologi Kemakmuran, pro? kontra?

# Personal opinion about Christian Theology called "Prosperity Theology".

Sejak tahun 1950an, teologi kemakmuran telah menjadi perdebatan (dan perpecahan) di kalangan umat Kristen. Mereka yang pro mengklaim bahwa Allah menginginkan umatnya hidup berkelimpahan, tidak hanya secara rohani tapi juga secara jiwani dan jasmani. Artinya Allah menghendaki kemakmuran secara penuh. Let's make it straight forward: financial blessing is the will of God for Christians.

Tentu saja, klaim Teologi kemakmuran dapat dikonfrontasi dengan Alkitab. Seperti di Mal 3:10 yang memberikan pernyataan bahwa Allah akan mencurahkan berkat untuk umatNya yang membawa persembahan perpuluhan ke rumah Tuhan, Yoh 10:10, yang menuliskan tentang bahwa Yesus  datang agar umatNya dapat memperoleh hidup dalam kelimpahan, 3Yoh 2 yang merupakan doa agar umat Tuhan mengalami kebaikan dalam segala sesuatu, termasuk dalam jiwa. Juga fakta bahwa tokoh-tokoh iman  seperti Abraham, Ishak dan Yakub merupakan orang-orang yang SANGAT kaya di jamannya. Banyak penginjil-penginjil kenamaan yang mendukung Teologi kemakmuran ini sepert Oral Robert (menulis buku: "God's Formula for Success and Prosperity"), Gordon Lindsay (menulis buku: "God's Master Key to Prosperity"), dan Joel Osteen (menulis"Your best life now" yang menjadi New York Times best seller di tahun 2005).

Konflik dan kritikan muncul ketika mereka yang kontra dengan Teologi Kemakmuran mengklaim bahwa pengajaran ini membuat umat Kristen menjadikan uang sebagai "idola". Bahkan Rick Warren (yang juga salah satu penulis buku New York Times best seller, "Driven Purpose Life") menyatakan bahwa  Yesus tidak pernah memberikan pengajaran tentang bagaimana menjadi kaya. Sitasi dari ucapan Yesus bahwa lebih mudah seekor unta masuk dalam lubang jarum ketimbang orang kaya masuk sorga, juga merupakan indikasi bahwa Yesus tidak mendukung teologi kemakmuran.

Yang menarik adalah seorang penginjil, Jim Baker, yang pada awalnya mendukung (dan mengajarkan) Teologi Kemakmuran dengan menyatakan "God wants you to be rich", kemudian berubah haluan dan menentang habis-habisan Teologi Kemakmuran dengan menuliskan buku, "I was wrong" sebagai pernyataan bahwa Teologi kemakmuran yang diajarkan dulu, adalah suatu kesalahan.

Perdebatan-perdebatan semacam ini, dapat dengan mudah membuat umat Tuhan tergoncang imannya. Siapa yang benar? Siapa yang harus diturut? Kedua pihak seolah-olah benar dan keduanya menghasilkan buah-buah yang baik.

Saya pribadi, tidak akan secara eksplisit menyatakan bahwa saya pendukung teologi kemakmuran atau menentangnya. Bagi saya Allah adalah Allah yang luar biasa Besar. Tidak akan pernah bisa manusia memahami dan mengetahui bagaimana karakter Allah dengan lengkap. Seperti kisah orang buta yang ingin mengetahui bagaimana rupa gajah, seperti itulah usaha manusia memandang dan mengetahui Allah. Tidak dapat secara penuh memahami Allah. Tidak mengherankan jika terjadi perbedaan pendapat.

Bagi saya, hubungan pribadi dengan Allah lewat doa, mempelajari firmanNya dan pengalaman iman yang akan membawa saya pada pengenalan Allah. Kembali ke teologi kemakmuran, sejauh ini saya mendapati dan mengalami Allah sebagai Jehovah Jireh, Allah yang menyediakan, Allah yang memberkati bukan hanya rohani, jiwani, tapi juga jasmani termasuk financial blessing.

Saya juga tidak akan menentang seandainya ada umat Tuhan yang mendapatkan pengalaman iman atau pewahyuan bahwa Teologi kemakmuran bukanlah kehendak Allah. Itu cara mereka memandang Allah.

Sama seperti orang buta yang memegang gajah, dan memegang tepat pada ekor gajah. Sementara orang buta yang lain memegang pada gadingnya. Pendapat keduanya akan berbeda ketika ditanya bagaimana rupa gajah. Demikian pula tindakan kedua orang buta tersebut terhadap gajah akan sangat berbeda, bergantung dari persepsi masing-masing. Itulah sebabnya, penting untuk setiap hari kita mengenal dan lebih kenal lagi karakter Allah lewat doa, mempelajari Firman dan mengalami pengalaman iman denganNya.

Wednesday, May 30, 2012

Internet dan pekerjaan yang manusiawi (Part 1)

Episode: Pipi dan Pipa

Menurut saya, pekerjaan yang manusiawi adalah pekerjaan yang nggak mengeksplotasi manusia. Mengeksplotasi maksudnya memeras tenaga (atau uang) orang lain demi menguntungkan segelintir pihak. Pihak yang diuntungkan bisa individu, bisa juga perusahaan.

Saya ingat dulu pernah diprospek MLM oleh teman yang bergabung di N*21, salah satu MLM terbesar dengan inisial A*W*. Saat mem-prospek, teman saya ngasih suatu cerita yang sampe sekarang saya ingat. Kurang lebih begini ceritanya. Alkisah, jaman dahulu kala di sebuah desa tersebutlah dua orang bernama Pipi dan Pipa. Suatu ketika, desa tersebut mengalami kekeringan sehingga seluruh desa membutuhkan air. Air bisa didapat di sumber mata air yang jaraknya dari desa tersebut cukup jauh. Setelah berembug, kepala desa menyerahkan tender pengadaan air untuk seluruh warga desa ini kepada Pipi dan Pipa.

Pipi segera mengambil tender ini, dengan membeli dua buah timba besar dan membangun bak penampung air. Pagi-pagi benar, Pipi segera bangun, lalu dengan dua buah timba tersebut, dia bolak-balik untuk mengambil air dan mengisi bak penampung hingga penuh. Pagi hari, orang2 desa akan datang untuk membeli air ke Pipi. Good job, Pipi!

Cara Pipa bekerja berbeda dengan Pipi. Alih-alih membeli timba, Pipa membangun sebuah saluran air dari sumber mata air sampai ke desa. Tentu selama proses membangun saluran air ini, Pipa nggak bisa menghasilkan uang. Lah, kalo airnya nggak ada, apanya yang dijual? Sementara Pipi sudah menghasilkan uang, Pipa masih sibuk membangun saluran air.

Apa yang terjadi ketika saluran air yang dibuat Pipa selesai? Air dapat mengalir dari sumber air ke desa tanpa perlu bolak-balik diambil menggunakan timba. Seberapa banyak orang desa memerlukan air, stok akan selalu ada. Sementara Pipi masih tetap melakukan pekerjaan rutin-nya dengan setiap hari bangun pagi, mengambil air dari sumber mata air dan memenuhi bak penampung untuk memastikan stok air selalu tersedia.

Jelas, tenaga yang dikeluarkan Pipi lebih besar, dengan penghasilan yang terbatas. Pipi menukar waktu dan tenaganya dengan imbalan uang. Sementara Pipa, tinggal menikmati hasil tanpa perlu lagi bekerja. Saluran air yang dibuatnya telah bekerja untuknya. Dengan waktu luangnya, mungkin Pipa bisa membuat sistem saluran air untuk desa yang lain... [Tamat]

Waktu denger cerita ini, saya mikir... ah, gitu aja ya saya udah tau. Seandainya saya yang ada di desa itu, saya juga akan melakukan hal yang sama... Sama seperti Pipa maksudnya. Semua orang juga paham bener bahwa cara yang dilakukan Pipi sama sekali nggak efisien dan membuang tenaga... Tapi, dalam dunia yang sebenernya, sebagian besar orang bekerja dengan cara seperti Pipi bekerja.

Bekerja dari jam 9 pagi (ato jam 8 kalo di institusi saya) sampai jam 5 sore, seminggu 5 hari kerja. Terikat dengan jam dan aturan kantor. Tenaga, waktu dan pikiran yang dikeluarkan akan ditukar dengan gaji di akhir bulan (yang bisa memuaskan, bisa juga membuat dongkol). Tentu ini bukan sesuatu yang jelek. Bagi mereka yang memang menikmati pekerjaan-nya (karena merasa udah terpanggil dengan profesi tersebut), apa yang dilakukan adalah suatu anugerah yang akan disyukurinya setiap hari. Bekerja tidak seperti bekerja karena dia menikmati. Tentu, bagi yang sudah menikmati pekerjaannya dan merasa dapat mengaktualisasikan diri karena pekerjaan 8-jam-sehari-5-hari-seminggu-nya, nggak perlu repot-repot mikirkan cara seperti yang Pipa lakukan. Keep Pipi-ing and be happy!

Bagi yang tidak puas, atau ingin menjadi seperti Pipa, maka perlu untuk mulai memikirkan bagaimana membuat "saluran air" seperti yang Pipa lakukan. Membangun "saluran air" ini yang saya sebut  pekerjaan yang manusiawi sekali. Tidak ada unsur eksploitasi manusia demi keuntungan orang lain. Sekali pekerjaan selesai, "sistem" itu yang akan bekerja, bukan manusia lagi yang bekerja (pada kasus Pipi, manusia tetap bekerja).

Tentu pertanyaannya adalah seperti apa "saluran air"-nya? dan siapa "orang desa" yang akan membeli "air"nya.

Saya nggak lagi promo money game, get-rich-quick-scheme, MLM ato semacam itu. Nggak sama sekali. Buat saya, ketika MLM dilakukan dengan cara mengeksploitasi down-line-nya, agar up-line mendapatkan keuntungan adalah cara yang tidak manusiawi. Ada eksploitasi manusia di dalamnya untuk menguntungkan segelintir orang. ONggak adil banget kan, ketika orang keluar uang untuk memperkaya atasannya, dan dia akan melakukan hal yang sama ke bawahannya agar uang yang dikeluarkannya bisa kembali. Yang di bawah dieksplotasi (dan kalo nggak mau ter-eksplotasi, go ahead, exploit other people as well). Banyak orang sangat nggak bisa melakukan pekerjaan semacam ini. Tentu saya nggak menyangkal bahwa ada juga MLM yang sehat jasmani dan rohani. Ah, never mind.

Pada cerita Pipa, semua orang diuntungkan lewat saluran air yang dibuat. Nggak ada yang dieksplotasi. Pipa untung. Orang desa-pun untung.

Jadi "saluran air"-nya apa? Siapa "orang desa"nya?

Salah satu alternatifnya adalah Internet.

"Orang-orang desa" adalah pengguna internet. "
Air" adalah informasi yang dicari/dibutuhkan.

Setiap hari PULUHAN JUTA orang mengakses internet untuk mencari informasi. Kalau kita bisa menyediakan informasi yang dibutuhkan dengan akurat, dan "menukar" informasi tersebut dengan Rp. 100 rupiah, maka bisa dihitung berapa yang dihasilkan jika ada seribu orang per hari yang dengan senang hati mendapatkan informasi tersebut dan menukarnya dengan Rp. 100 rupiah. Prinsip menyediakan "saluran air" untuk yang membutuhkan "air". Tidak ada eksploitasi manusia di dalamnya, dan semua pihak diuntungkan.

Am I talking about money game? NO!! (with capital "N", "O", and two exclamation marks)
Am I talking about arisan berantai? NO!!
Am I talking about creating Google-like-website? No.
Am I talking about complicated-Internet-technology-that-only-a-PhD-can-do? No.

[Bersambung]

Catatan: dalam semua seri posting ini, TIDAK ADA AJAKAN untuk mengikuti program tertentu, TIDAK ADA promosi untuk membeli produk tertentu, TIDAK ADA PEMALAKAN TERSELUBUNG demi keuntungan saya pribadi. Tujuan posting ini adalah untuk berbagi pengetahuan dan (jika memungkinkan) saling berkolaborasi dan sinergi untuk kemajuan bersama.

Please leave comment and let me know what you think.
I won't continue the series unless I know this information is needed.

Thursday, May 24, 2012

Buku belajar kanji berbahasa Inggris

Yay, buku pertama saya yang bisa terbit secara internasional. Dirilis di Amazon.com, dan link-nya ada di: http://www.amazon.com/dp/B00856D3LE.



(Klik di www.belajarkanji.com untuk versi dalam Bahasa Indonesia.)

Topiknya tentang metode belajar Kanji yang selama ini saya gunakan. Sejauh ini, saya merasa metode ini cukup efektif membantu saya memahami (dan membaca) Kanji dalam waktu yang relatif singkat. Caranya adalah dengan fokus pada Kanji yang paling sering muncul pada artikel di koran, majalah atau Internet.

Jadi prosesnya, pertama dari ratusan artikel yang ada (dari berbagai bidang, mulai politik, ekonomi, olahraga, dan sastra), frekuensi kemunculan dari masing-masing Kanji pada artikel itu dihitung. Setelah dapat setiap frekuensinya, Kanji diurutkan dari yang paling sering muncul sampai yang paling jarang muncul. Dari sini, akan didapatkan daftar Kanji berdasarkan frekuensi kemunculan. Sebagai contoh, sepuluh Kanji yang paling sering muncul adalah 日、一、国、十、大、会、人、年、二、dan 本. Artinya pada sebuah artikel, kanji "日" (peringkat 1) akan lebih banyak muncul ketimbang kanji "餡" misalnya.

Nah, logikanya, kalo kita bisa hafal, katakan, 1000 kanji yang paling sering muncul ini, maka kemampuan dalam memahami artikel juga semakin baik. Metode ini, lebih baik ketimbang belajar menghafal Kanji secara sporadis tanpa urutan tertentu. Dengan menghafal kanji berdasarkan frekuensi kemunculan, maka ingatan terhadap Kanji tersebut akan semakin baik karena Kanji tersebut sering dijumpai. Kalo kanji-nya jarang dijumpai, ya otak kita cenderung untuk melupakan. Analoginya, kita pasti inget bener nama temen2 yang sering kita panggil. Tapi kita cenderung bisa lupa nama temen yang jarang kita panggil. Analogi sederhana, tapi it's true.

Metode inilah yang saya pakai untuk belajar Kanji, sampai sekarang dan hasilnya bagus (setidaknya untuk saya). Jadi, mengapa nggak dibuat buku yang mungkin bisa bermanfaat untuk orang lain yang juga struggling dalam belajar Kanji.

Di dalam buku itu, selain berisi 200 Kanji yang paling sering muncul, saya kasih juga compound (atau gabungan kanji) dan 3 contoh kalimat untuk masing-masing kanji. Dengan adanya contoh kalimat yang mengandung Kanji tersebut, pembaca bisa lebih mendapatkan sense arti dari suatu Kanji. Misalnya kanji "出" yang arti dasarnya adalah "keluar". Kata "keluar" seperti apa yang bisa dipakai untuk Kanji "出" ini? Contoh compound atau gabungan dari Kanji ini antara lain: 出す(dasu):  to take out; to get out, 出発(shuppatsu): departure, 出席(shusseki): attendance; presence. Untuk contoh kalimat yang menggunakan "出" di buku ini adalah:

1. 彼は怒ってレストランを出て行った。
(I saw her leaving the restaurant in anger.)
2. 出口に立っていました。
(Standing at the exit door.)
3. 原料の輸出する。
(Exporting raw material.)

Lewat contoh kalimat ini, arti "出" bisa lebih terasa... "Keluar dari restoran", "pintu keluar", dan "mengekspor". (Apalagi kalo ditambah fakta bahwa kanji 出sebenarnya berasal dari gambar tanaman yang muncul dari dalam tanah) - anyway, kanji "出" berada di peringkat ke-14 untuk kanji yang paling sering muncul.

Dan jadilah buku Kanji ini, setebal 90 halaman lebih (untuk 50 kanji pertama), total sekitar 300 halaman untuk keseluruhan 200 kanji.

Credit for this book goes to my ex-student William Prathama Nugraha. Saya berterima kasih untuk kerja kerasnya dan waktu yang diluangkan untuk membantu saya dalam mengolah ribuan data Kanji... Termasuk kesediaannya untuk sama-sama mengurus website (semi-profit) belajarkanji.com.

Tapi, sejujurnya... membuat buku Kanji dan merilis di Amazon.com, bukan hal yang utama. Seandainya berenang, rilis buku lewat Amazon.com ini hanya mencelupkan jari ke kolam renang. Bukan berenang yang sebenarnya. Tapi namanya berenang ya perlu tau airnya dulu...

I'll share more on this in the coming posting.


Friday, April 27, 2012

[Movie] The Raid Redemption vs. Soegija

Ini tentang film.

Saya suka nonton film. Tapi sangat pilih2. Banget. Suka sebel kalo menghabiskan waktu 1.5-2jam nonton film, tapi ternyata film-nya gak bermutu, gak menginspirasi, ato gak jelas.

The Raid Redemption adalah salah satu film Indonesia yang beberapa pekan terakhir ini ditayangkan di Amerika. Memenangi beberapa awards international sebagai film terbaik. Film-nya "bagus". Tapi saya sangat NGGAK rekomendasikan untuk ditonton anak-anak ato cewek. Nggak sama sekali. Terlalu sadis dan vulgar. Ceritanya tentang penyerbuan tim khusus ke sebuah apartemen yang di dalamnya ada puluhan penjahat beringas yang dipimpin oleh seorang gembong narkoba sadis. Kisahnya jadi menegangkan karena satu per satu anggota tim khusus ini dibantai oleh penjahat-penjahat di dalam apartemen itu. Bagaimana perjuangan beberapa gelintir anggota tim khusus yang masih tersisa untuk bertahan hidup (atau malah sampe berhasil mengalahkan semua penjahat dalam apartemen) itu yang mungkin menjadikan film ini menarik. Adegan pertarungan disajikan secara keras, baik menggunakan senjata berapi, pisau, golok, atau tangan kosong. Jangan ditonton kalau tidak tahan melihat darah atau melihat adegan penyiksaan. Dan, film ini menjadi box-office top 20 di Amerika beberapa minggu terakhir ini. Beberapa negara seperti Australia, Singapore, Kanada, Jerman (dan juga Jepang)  membeli hak distribusi film ini untuk masuk dan ditayangkan di bioskop. (Film dengan adegan vulgar, tapi jadi box-office... What kind of society we live in? #wondering)

Film Soegija adalah film Indonesia yang saya rekomendasikan untuk SEMUA. Kisahnya mengambil setting tahun 1940-an, tentang Romo Mgr. Soegijapranata, seorang pribumi asli yang ditahbiskan menjadi Romo dan kemudian menjadi uskup agung (Anyway, Presiden Soekarno memberikan anugerah kepada beliau sebagai pahlawan nasional atas perjuangan kemanusiaan yang telah beliau lakukan selama pendudukan Belanda dan Jepang di Indonesia). 

Note that film Soegija BUKAN film dakwah yang bertujuan agar menyebarkan agama Katholik. Jauh dari itu. Sang sutradara, Garin Nugroho, bertujuan agar film ini bisa menjadi pendidikan karakter bagi bangsa Indonesia yang multi-kultur... Ada cerita tentang seorang tentara Belanda yang jatuh cinta dengan gadis pribumi, seorang gadis keturunan Tionghoa yang menjadi korban kerusuhan dan terpisah dengan keluarganya, dan banyak nilai-nilai kemanusiaan yang ditunjukkan di film ini. Teaser film Soegija yang berdurasi 6 menit lebih bisa dilihat di sini: http://www.youtube.com/watch?v=MWSdt3paIw8

Saya akan lebih bangga seandainya film Soegija ini yang menjadi box office di USA ketimbang The Raid Redemption yang sadis itu.

* image credit: http://filmindonesia.or.id/


Wednesday, April 18, 2012

Rektor "Jaim" (Tentang Jaga Image)

Bukan... Saya nggak lagi nggosip tentang rektor universitas X yang ini itu. Ini tentang kutipan yang sangat menginspirasi dari twitter Frater Aris (@arismsc), seorang Frater dari Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC) yang ditugaskan di Nagoya, Jepang.
  • Punya mobil di Jepang bukanlah hal yg terlalu muluk dan mewah. Kecuali jika mobil itu Ferrari #JagaImage
  • Misalnya, kepala sekolah di TK sebelah rumah kami di sini mengendarai mobil Subaru sekelas Innova keluaran terbaru #JagaImage
  • Atau, ibu yang membantu menyiapkan hidangan untuk kami mengendarai Toyota Harrier (versi lama) #JagaImage
  • Karena itu, saya heran melihat Rektor Universitas kami setiap hari mengendarai sepeda ke kampus #JagaImage
  • Tidak mampu beli mobil? Bukan alasan. Kepala Sekolah TK saja punya mobil kinclong. Ibu yg masak utk kami punya Harrier tua #JagaIMage
  • Alasannya apa? Ini: "Jika terjadi kecelakaan yg melibatkan saya, nama universitas akan tercemar dengan sendirinya". #JagaImage
  • Utk kepentingan ribuan mahasiswa dan stafnya dan lembaganya, Rektor Universitas kami memilih menyimpan gengsi dan ego-nya #JagaImage
  • Itulah #JagaImage yang sesungguhnya. Hebat ya?
Saya merenung cukup lama setelah membaca twit ini karena saya juga seorang pengajar di bawah lembaga universitas. Ingin menuliskan sesuatu, tapi jadi speechless. Mungkin nanti...

Terima kasih untuk Frater Aris yang sudah memberi izin share kutipan ini di blog saya. Bagi yang punya account twitter saya highly recommend untuk follow beliau (@arismsc), atau kunjungi blog-nya di http://aruibab.blogspot.com/, it simply recharges your life.

Monday, April 16, 2012

Extraordinary friend (1)

Kalo suatu hari saya mau balik ke Indo karena kangen dengan suasana Indo, wajar banget kalo ada temen di sini yang bilang, "eh, kalo balik Jepang jangan lupa oleh2nya ya!". Saya nganggep itu hal yang biasa. Wajar juga kalo ada yang nitip sesuatu... Misalnya nitip Indomie ato bumbu masakan Indonesia yang memang jarang ditemui di Jepang. Wajar. Nggak ada yang salah dengan hal itu.

Tapi, temen yang satu ini nggak begitu.
Si A, bulan depan mau balik ke negara asalnya, untuk beberapa bulan.

"Eh, kamu mau balik ya?" tanyanya.
"Iya, tanggal xx bulan depan..." Jawab A.
"Udah beli oleh2, buat keluarga?"
"Udah... Kapan hari udah mulai nyicil beli oleh2." Jawab A
"Ooo... Minggu depan, ya aku bawakan oleh2..."
"..."

Minggu depannya, temen itu bawa oleh2 buat si A. Satu tas penuh.
Dia bilang, "Ini oleh2 buat keluarga ya... Moga2 keluarga suka."

Isinya memang oleh2. Si A yang mau balik, bukannya ditagih oleh2, bukannya dititipi yang macem2, malah diberi oleh2. Bermacam2 oleh2, dan bukan yang murahan.

Saya terkesan. Jujur, belum pernah saya melakukan hal seperti itu. Paling banter, saya ngasih ucapan selamat jalan yang tulus dan doa agar selamat sampai tujuan, bisa seneng2 dan ketemu keluarga. Nggak terpikir ngasih oleh2 untuk mereka yang mau balik ato bepergian jauh.

Temen saya yang satu itu punya giving lifestyle. Saya yakin dia adalah orang yang bahagia dan nggak akan merasa berkekurangan dalam hidupnya. Diam-diam saya janji pada diri saya untuk belajar punya giving lifestyle seperti itu. Nggak cuma bawa oleh2 kalo habis bepergian, tapi juga bisa ngasih oleh2 untuk temen yang AKAN bepergian.


Friday, April 13, 2012

Hal-hal unik di Jepang (3)

Posting "Hal-hal unik di Jepang (1)" dan "Hal-hal unik di Jepang (2)", di luar dugaan saya, sangat, sangat populer. Lebih dari 300 total hits dalam sebulan! Here we go, the 3rd trilogy of "Hal-hal unik di Jepang".

  1. Anjing adalah hewan peliharaan yang tidak boleh dibiarkan berkeliaran. Setiap pagi, sore atau malam, sang majikan akan mengantar anjingnya untuk berjalan-jalan. Uniknya, ketika si anjing buang kotoran, sang majikan akan segera MENGAMBIL kotoran2 itu dan memasukkan ke dalam plastik yang sudah disiapkan. Iya, betul... Pemilik anjing di Jepang TIDAK membiarkan kotoran anjingnya tercecer di jalan.  Sampai di level itulah taraf mereka menjaga kebersihan lingkungannya. Saya kira di Indonesia, pemilik anjing malah senang kalau anjing peliharaannya buang kotoran di jalan instead of di rumahnya sendiri.
  2. Di toko swalayan (baik yang besar maupun kecil) tidak ada tempat penitipan barang seperti halnya di Indonesia. Pengunjung bebas membawa tasnya masuk ke dalam tempat belanja. Tidak ada juga pramuniaga yang secara khusus menjaga barang. Bahkan di beberapa toko swalayan yang besar, ada counter khusus di mana pengunjung bisa menghitung sendiri barang2 yang dibeli, membayar dengan kartu debit atau kredit dan membawa pulang barang belanjaannya TANPA ADA kasir! (Saya tidak berani membayangkan kalau sistem semacam itu diterapkan di Indonesia).
  3. Inilah bahan makanan pokok yang termurah yang ada: (a) Susu 1 liter 98 yen. (b) Roti tawar 8 slices 87 yen (c) Telor 10 biji 78 yen (d) Beras 5kg 1.270 yen (e) Cabe kering 100gram 200 yen (f) 5 pack mie instant 198 yen (g) Teh kaleng 200ml 28 yen (h) Minyak goreng 1500gr 348 yen (i) Air mineral 2lt 76 yen (j) Gula 1kg 168yen (k) Burger McD 100yen. Semua harga di atas merupakan harga reguler, bukan harga discount yang hanya sewaktu2 ada. Jadi bahan makanan dengan harga itu bisa dibeli kapan saja. Kalau ada yang punya informasi harga lebih murah, bisa dibagi infonya. :) 
  4. Ketika mahasiswa asing (atau pekerja asing) yang ada di Jepang hendak kembali ke negaranya, maka semua barang-barang elektronik, akan dihibahkan secara GRATIS kepada siapapun yang bersedia menerima. Situasi ini adalah win-win solution, di mana pihak yang hendak kembali tidak perlu membayar untuk biaya pembuangan sampah, dan pihak yang dihibahi tidak perlu membeli barang elektronik baru.  Ini merupakan "transaksi" yang sangat2 umum. Bahkan, mahasiswa asing yang baru tiba di Jepang, jika bisa ketemu dengan orang-orang yang tepat, tidak perlu lagi repot membeli peralatan baru. 
  5. Tidak salah kalau sistem perkereta-apian di Jepang adalah yang terbaik di dunia. Setiap hari minggu, saya beribadah di Gereja Indonesia yang ada di Tokyo (1.5jam dari Chiba) dengan naik kereta. Ada tiga kali transfer. Rute pertama kereta berangkat pk. 13.04 tepat dan tiba Pk. 13.25. Jalan kaki 1 menit untuk pindah ke rute kedua. Di rute ke dua, kereta berangkat Pk. 13.27 tepat dan tiba Pk. 13.56, lalu jalan kaki 3 menit untuk ke rute berikutnya yang keretanya berangkat pk. 13.59 dan tiba Pk. 14.25. Dalam satu setengah tahun terakhir ini, semua kereta berangkat dan tiba dengan tepat, belum pernah ada jadwal kereta yang meleset barang semenit-pun! * keretanya memang nggak telat, saya aja yang bisa telat sampe di stasiun.
  6. Semua Film Amerika (atau film asing) yang masuk dan ditayangkan di televisi (atau bioskop) akan di-dubbing ke dalam Bahasa Jepang. Namun beberapa stasiun televisi (atau gedung bioskop) yang menyediakan fitur bi-lingual sehingga bagi mereka yang merasa nggak seru ndengerkan film asing berbahasa Jepang (seperti saya), tetap bisa menikmati dalam bahasa aslinya.
  7. Di toko-toko buku dan minimarket (yang hampir ada di setiap sudut jalan), selalu ada majalah yang menampilkan pose-pose cewek setengah telanjang (baik asli maupun kartun). Majalah atau komik semacam itu dijual bebas begitu saja. Anak kecil yang diajak orang tuanya berbelanja, juga dapat melihat-lihatnya... 
[End]

Wednesday, April 11, 2012

Amazon Kindle dan garansinya

Sejak dibeli bulan Desember lalu, saya masih nggak bisa lepas dengan produk ini, Amazon Kindle Keyboard 3G. Fungsi utamanya sebenernya untuk baca buku. Apa bedanya ma aplikasi ebook reader di smartphone? Beda... Kindle ini pake teknologi e-ink (tinta elektronik) yang displaynya nggak bikin mata gampang capek. Beda dengan aplikasi ebook reader yang di smartphone (kayak iPhone, iPad ato smartphone lain) yang memancarkan cahaya (layar LCD)... Mata akan gampang capek kalo dibuat baca buku (gimana nggak capek, kalo mata terus2an diadu dengan pendaran cahaya yang keluar dari layarnya). Kalo baca buku di Kindle mah, serasa kayak baca buku cetak, plus ukuran font, paragraf, ketebalan bisa diganti-ganti... - bonus lain dari Kindle ini, ada pemutar MP3, browser untuk internet-an, dan...text-to-voice feature! (* iya, saya sedang promosi Amazon Kindle *)

Kindle saya isinya macem2 ebook - mulai jurnal-jurnal yang berhubungan dengan penelitian, buku pengembangan diri, buku untuk belajar Bahasa Jepang, kamus, novel, peta tempat-tempat wisata, jalur kereta dan tak lupa, Holy Bible. Kalo ada informasi di website yang masuk dalam "daftar-wajib-baca", saya akan simpan ke pdf, dan masukkan ke Kindle. Anytime ada waktu, bisa segera dibaca. Praktis! Serasa bawa perpustakaan dalam kantong jaket saya (iya, nggak perlu ditaruh di tas, muat kok di kantong jaket). Nggak ada lagi waktu terbuang dengan bengong gak jelas dan nggak tau mesti ngapain. 

Harganya? Saya dulu beli nggak sampe sejuta ($99). Seriously! Untuk siapapun yang suka baca buku, saya highly recommend untuk punya gadget yang satu ini. Ato kalo nggak suka baca buku, bisa juga jadi hadiah untuk mereka yang suka baca buku. Trust me, book-lovers will reallllllyyyy appreciate this kind of gift (termasuk saya).

Nah, ceritanya gini... 
Kindle ini kan praktis kalo dibuat baca sambil tidur2an. Suatu ketika, waktu Kindle-nya saya taroh di kasur, tanpa sengaja saya mengadu lutut saya dengan layar Kindle. Namanya juga barang tipis, ditaroh di kasur empuk, dan kena tekan lutut dari badan yang beratnya 60kg... Muncullah bunyi krraaak... Layarnya nggak pecah. Masih utuh. Tapi tulisan di layar jadi kacau. Somehow, feature text-to-voice-nya menyala (mungkin ini fungsi darurat ketika terdeteksi situasi di mana layar tidak berfungsi). Saya mencoba mengakses menu (dengan petunjuk text-to-voice), semuanya masih berjalan normal. Hanya saja tampilan layarnya kacau kayak gini: 


Saya langsung kepikiran beli baru... Beli online dan nanti dikirim ke Jepang. Eh, tapi terus saya inget ada garansi 1 tahun. Kalo beli barang di toko Indo, mungkin saya masih pikir2 mau klaim garansinya... Karena bisa makan ati, barang diambil (dan janji diperbaiki, yang entah kapan selesainya). Berminggu-minggu kemudian baru dikasi tau kalo ada yang rusak (lah kalo nggak rusak, ya ngapain di bawa ke situ?), dibilang nggak bisa diperbaiki, spare part harus diganti di kantor pusat di Timbuktu, dan sebagainya. 

Tapi ini kan Amazon? Toko online terbesar di dunia. Siapa tau garansi masih bisa dimanfaatkan. Saya kontak dengan bagian customer support. Kita chatting dan saya menceritakan kejadiannya. Tanpa banyak prosedur, mereka segera membuatkan saya replacement. Artinya mereka akan mengganti Kindle saya yang rusak itu dengan Kindle baru. Mereka memberikan nomer tracking barang yang diperkirakan akan sampai 5 hari kerja, dan meminta saya untuk mengirimkan balik Kindle yang udah nggak berfungsi itu SETELAH saya menerima Kindle yang baru.

Tiga hari, Kindle replacement itu sampai di tempat saya. Komplit dengan box seperti kayak kalo beli baru. 



Bahkan untuk pengiriman balik Kindle yang udah nggak berfungsi itu, mereka menyiapkan form pengiriman lewat UPS yang mana tinggal saya print, lalu ditempelkan di kardus Kindle, dan masukkan ke drop-box UPS terdekat. GRATIS! Nggak ada biaya perangko, biaya pengiriman, jasa perbaikan, ongkos transport, ato whatsoever.

Saya dapet Kindle baru tanpa keluar biaya se-yen-pun.

Nah, nggak heran kan kalo saya promosikan Amazon Kindle Keyboard 3G ini.


Wednesday, March 14, 2012

Hal-hal unik di Jepang (2)

Hal-hal biasa bagi orang Jepang atau yang sudah lama tinggal di Jepang. Tapi tetap saja menjadi hal yang tidak biasa bagi saya - setidaknya sampai saat ini.
  1. Rata-rata harga sebuah apel di supermarket adalah 10rb rupiah (iya, satu biji bukan satu kilo). Harga apel yang di bawah 10rb kemungkinan adalah apel yang memiliki cacat, kotor atau bentuknya kurang baik. Pembelian apel (atau buah lain seperti jeruk, apokat, atau mangga) BUKAN dalam satuan kilogram  seperti  halnya di Indonesia, melainkan dijual per buah. Harganya juga dalam kisaran 10rb rupiah per buah.
  2. Kebanyakan pengisian tanggal pada dokumen resmi menggunakan penanggalan berdasarkan pemerintahan kaisar. Setiap kaisar baru yang memerintah, maka tahun akan direset menjadi 1. Tahun 2012 adalah tahun Heisei 24, yang berarti kaisar saat ini (Kaisar Akihito) telah menjadi kaisar selama 24 tahun. 
  3. Kaisar di Jepang tidak menentukan kebijakan ataupun menjalankan roda pemerintahan. Kaisar dihormati sebagai figur pemersatu Bangsa Jepang. Rakyat Jepang bisa punya pandangan politik yang berbeda, keyakinan yang berbeda, kesukaan atau ketidaksukaan terhadap pemerintah saat ini, namun tetap memiliki respek yang sama terhadap kaisar yang memerintah saat itu. Kaisar adalah faktor penting yang membuat rakyat Jepang bersatu. Ulang tahun kaisar-pun dijadikan hari libur nasional sehingga semua orang Jepang tahun kapan ulang tahun kaisar mereka. (anyway, pak SBY kapan ultahnya?)
  4. Di setiap gerbong kereta atau bus, selalu ada priority seats yang diperuntukkan bagi lansia, ibu hamil, ibu dengan balita atau orang-orang yang menggunakan kursi roda. Bagi ibu-ibu yang sedang hamil, akan diberikan gantungan kunci khusus yang berlogo ibu hamil dari kantor kelurahan. Saat jam sibuk di mana kereta penuh sesak, akan ada orang2 yang mau merelakan tempat duduknya bagi pemegang gantungan kunci ibu hamil. Tip untuk selalu dapat tempat duduk di kereta: bawalah selalu gantungan kunci berlogo ib... ah, sudahlah.
  5. Di setiap tempat umum (stasiun, supermarket, universitas, kantor layanan publik, rumah sakit) akan selalu ada akses untuk orang2 yang disable (cacat). Selalu ada jalan di mana mereka, yang menggunakan kursi roda, akan dapat pergi ke sudut manapun dari gedung tersebut. (di universitas "international-wanna-be" MC, mahasiswa (atau dosen) dengan kursi roda apa bisa mengikuti kuliah (atau mengajar) di lt. 4? *wondering*)
  6. Kalau di Indonesia mabuk dianggap hal yang jelek, negatif, tidak sopan, hanya dilakukan oleh oknum yg kurang berpendidikan, maka tidak demikian dengan di Jepang. Sensei (yang adalah profesor atau setidaknya dosen dengan latar belakang pendidikan S3) bisa mabuk bersama dengan siswa2nya kala party seperti party akhir tahun, party menyambut siswa baru, atau party perpisahan. Siswa2nya juga bisa dengan bebas mabuk di depan senseinya. Mungkin karena manifestasi dari mabuk di Jepang hanya sebatas terpengaruh alkohol sehingga kurang dapat mengontrol kata-kata yang dikeluarkan. Sementara manifestasi mabuk di Indonesia mulai dari mengeluarkan kata2 kotor sampai merusak properti orang lain atau melakukan penganiayaan terhadap orang lain.
[Bersambung - Lanjut ke part 3]

Monday, March 12, 2012

Hal-hal unik di Jepang (1)

Ini tentang hal-hal unik di Jepang menurut ukuran saya. Saya cukup yakin, bagi orang Jepang sendiri (atau mereka yang sudah lama tinggal di Jepang), hal2 ini adalah hal yang biasa.
  1. Kendaraan utama mahasiswa adalah sepeda, bukan sepeda motor, bukan pula mobil. Walaupun di Indonesia sepeda motor Jepang sangat terkenal dan dipakai sebagian besar mahasiswa, ternyata di Jepang, para mahasiswa malah menggunakan sepeda atau berjalan kaki. Adalah sangat tidak biasa apabila seorang mahasiswa ke kampus dengan mengendarai kendaraan bermotor (apalagi mobil). Saya kira pemerintah Jepang telah menganalisa dengan hati-hati tentang dampak penggunaan kendaraan bermotor dari sisi polusi, resiko kecelakaan dan konsumsi BBM. Kendaraan bermotor Jepang pun akhirnya hanya dijadikan komoditas di negara-negara berkembang ketimbang di Jepang sendiri.
  2. TIDAK ADA sama sekali iklan rokok di televisi, di jalan-jalan ataupun sebagai sponsor kegiatan. Rokok hanya untuk mereka yang berusia 17 tahun ke atas dan HANYA diperbolehkan merokok di tempat yang bertanda khusus. Berbeda dengan Indonesia, yang  anak SD pun bisa dengan mudah mendapatkan rokok di warung dan area merokok yang relatif bebas.
  3. Setahun sebelum lulus, mahasiswa di Jepang akan mulai berburu pekerjaan dengan mengirimkan lamaran ke berbagai perusahaan. Di bulan pertama setelah mereka lulus (biasanya bulan April), mereka segera berpindah status dari mahasiswa menjadi pegawai/salary man. Di Indonesia, mengirimkan lamaran pekerjaan dilakukan setelah mendapatkan ijasah. Ada periode "stres" bagi sarjana yang setelah lulus, namun masih belum mendapatkan panggilan kerja. Ijasah - yang menjadi syarat melamar pekerjaan di Indonesia - membuat mahasiswa di Indonesia tidak punya banyak pilihan selain mencari pekerjaan setelah lulus (menerima ijasah).
  4. Naik eskalator (atau disebut "lift" di Indonesia) memiliki aturan tertentu, yaitu: sisi kiri untuk mereka yang "diam" dan sisi kanan untuk mereka yang bergerak/berjalan naik atau turun. Aturan ini dibuat agar mereka yang butuh untuk cepat/ingin segera tiba (di atas atau di bawah), dapat menggunakan sisi kanan. Di Indonesia, mereka yang pacaran bisa dengan santai bergandengan di lift dan memonopoli baik sisi kiri maupun kanan sehingga mengakibatkan lift menjadi "buntu". Orang di belakangnya tidak punya banyak pilihan lain selain ikut berdiri di belakangnya. 
  5. Sampah dipisahkan menurut jenis (1) sampah terurai (2) plastik (3) botol plastik (4) botol gelas/kaca (5) kertas dan karton (6) barang besar dan (7) barang berbahan kimia. Setiap jenis harus diletakkan dalam plastik sampah yang berbeda. Orang Jepang sejak kecil di sekolah telah dilatih melakukan klasifikasi sampah sehingga menjadi kebiasaan - dan negaranya menjadi negara yang sangat bersih. Level mereka bukan himbauan "membuang sampah pada tempatnya", tapi "membuang sampah sesuai dengan jenisnya". Kami, orang asing yang tinggal di asrama, sangat sulit melakukan klasifikasi sampah semacam itu, sehingga pihak asrama harus mempekerjakan 2 pegawai khusus yang mengklasifikasikan sampah setiap pagi. Saya sulit memprediksikan kapan Indonesia bisa sampai pada tahap pengelolaan sampah seperti di Jepang. Ah, eniwei, di Indonesia ada tukang loak yang bisa menerima (bahkan membeli) barang elektronik bekas seperti televisi, kulkas, mesin cuci, atau microwave. Di Jepang nggak ada tukang loak, dan buang sampah elektronik HARUS BAYAR (yang bisa sampe 1jt rupiah ongkos buangnya)!
  6. Kemampuan menulis karakter kanji orang Jepang masih kalah dengan orang China. Walaupun kanji adalah aksara utama yang digunakan di Jepang, namun ada banyak karakter yang bisa-dibaca tapi kesulitan (lupa) ketika disuruh menuliskan. Beberapa kali saya mendapati guru kelas Bahasa Jepang kami, mengucapkan suatu karakter, namun kesulitan untuk menuliskannya. Mahasiswa dari China atau Taiwan dengan santainya menuliskan karakter yang dimaksud.

Friday, March 9, 2012

Berapa harga ketenangan?

Ketenangan itu mahal.

Setidaknya itu yang saya pelajari minggu lalu.

Dua minggu lalu, saya baru selesai memperbaiki sebuah hitungan di research saya (tentang gerakan diafragma). Analisa menggunakan metode terdahulu, ternyata memiliki margin kesalahan yang cukup signifikan. Artinya, ketika gerakan diafragma dimodelkan dengan menggunakan metode yang lama tersebut, beberapa titik dapat meleset sampai 12mm - yang mana cukup berbahaya ketika diterapkan untuk aplikasi klinis seperti radioterapi pada tumor.

Sebuah paper memberikan ide bahwa pemodelan yang lebih baik dapat dilakukan dengan metode "tensor-based decomposition". Paper ini tidak secara eksplisit menuliskan bahwa metode ini juga dapat diterapkan untuk memodelkan gerakan (diafragma). Tapi, namanya juga research. Semuanya masih meraba-raba. Kalo sudah pasti hasilnya, bukan lagi disebut research, tapi sains.

Hasilnya menggembirakan. Margin kesalahan dari model gerakan diafragma menggunakan metode yang baru ini dapat diperkecil hingga di bawah 1mm. Artinya pemodelan gerakan diafragma menggunakan metode ini cukup akurat. Untuk aplikasi klinis-nya, para radiolog dapat mengamati gerakan diafragma menggunakan model tersebut karena model tersebut cukup representatif dalam mewakili gerakan diafragma secara umum.

Tentu sensei senang dengan hasil yang jauh lebih baik ketimbang pemodelan menggunakan metode terdahulu. Segera sensei meminta saya untuk menuliskan full paper  yang akan segera disubmit ke jurnal tertentu, termasuk membuat poster untuk poster session-nya.

Nah, hari itu hari Jumat, sore hari. Sensei mengunjungi Lab dan bertanya2 tentang metode "tensor-based" yang diterapkan untuk pemodelan gerakan diafragma itu.

Beliau menyampaikan bahwa  besok ada simposium di Kyushu dan akan mempresentasikan poster hasil penelitian terbaru dari labnya (termasuk pemodelan gerakan diafragma menggunakan metode terbaru yang baru aja kelar). Ini simposium tahunan yang akan dihadiri oleh akademisi di bidang medical imaging yang mendapatkan dana penelitian dari pemerintah. Semacam laporan pertanggungjawaban terhadap dana penelitian yang telah didapatkan.

Oh, itu sebabnya hari Jumat sore gini sensei ke lab dan nanya2 tentang metode terbaru itu, pikir saya. Tapi nggak sampe di situ...

"Gimana kalo kamu besok ikut saya ke Kyushu?" tanya sensei dengan santai... "Jadi kalau nanti ada yang bertanya tentang metode ini, nanti kamu yang jelaskan. Secara garis besar saya bisa paham metode ini, tapi nanti kalau ada yang nanya perhitungannya secara detail, bisa kamu jelaskan..."

"Jauh ya sensei?" tanya saya - masih buta posisi geografis di Jepang.

"Emm... 2 jam perjalanan... Dengan pesawat."

Great! Sama kayak Malang-Jakarta - kurang lebih 900 km. Saya kira, sistem akademik di Jepang menganut "apa yang diinginkan oleh sensei, itu adalah suatu perintah yang wajib dilakukan".

"Jangan kuatir dengan tiket (dan hotel). Lab akan ganti..."

Saya sebenernya nggak kuatir dengan tiket. Saya lebih kuatir hari Minggunya nggak bisa sampai ke Tokyo untuk ibadah.

Setelah saya yakin bahwa hanya menemani di poster session hari Sabtu sore, dan minggu pagi sudah bisa kembali ke Tokyo, segera tiket pesawat dipesan secara online. Harga normal tiket pesawat Tokyo-Fukuoka (Kyushu) adalah sekitar 20rb yen. Tapi karena pesan hari H-1, maka harga tiket lebih mahal 3x lipat, yaitu 67rb yen (yang setara dengan tiket pesawat Tokyo-Jakarta).

Itulah harga sebuah ketenangan menurut versi seorang profesor di Jepang. Ketenangan mengikuti simposium yang dihadiri oleh akademisi di bidang medical imaging dari seluruh Jepang... Dengan memastikan bahwa di poster session ada yang bisa memahami dengan detail apa yang tertulis di situ.

Catatan kecil:
Setelah poster session berakhir di hari Sabtu sore, saya masih belum tahu akan tinggal di hotel mana karena memang belum mem-booking hotel. Saya memutuskan untuk bertemu dengan seorang teman, sesama kolega dosen di Malang yang tempat tinggalnya 1 jam dari Fukuoka. Kami sama2 mengajar di tempat yang sama. Hampir 1.5 tahun kami nggak pernah bertemu. Hotel saya malam itu adalah apartment beliau, di mana kami bisa ngobrol2 santai sampai dini hari. Senang sekali bisa bertemu dengan beliau.

Thursday, February 23, 2012

Risetnya tentang apa sih?

Saya sering ditanya pertanyaan "risetnya tentang apa sih?" ato pertanyaan "Kalo di lab itu ngapain aja?".
Nggak gampang njawab pertanyaan semacam ini. Dan jawabnya, juga berbeda-beda - tergantung siapa yang bertanya. Jawaban untuk orang awam dan jawaban untuk profesor di bidang biomedical engineering akan sangat berbeda walaupun pertanyaannya sama.

Salah menjawab pertanyaan dapat berakibat fatal. Misalnya menjawab pertanyaan "Risetnya tentang apa?" dari sang profesor dengan jawaban yang diperuntukkan orang awam dapat menimbulkan kekecewaan terhadap sang profesor... Demikian juga sebaliknya. Kalau mami saya (yang nggak bisa mengoperasikan komputer), tanya tentang riset saya, dan saya nekat menjawab dengan jawaban untuk profesor di bidang medical engineering, pasti mami saya nggak nyambung dan mikir saya lagi ngigau.

Salah seorang peneliti di Sandia Laboratory, Tamara G. Kolda memberikan saran penting sebagai sesama peneliti. Kita setidaknya punya koleksi penjelasan tentang riset yang kita tekuni untuk (1) orang awam, dan (2) sesama saintis di bidang yang sama. Saya setuju.

Jadi, jawaban saya untuk pertanyaan dari orang awam tentang "risetnya tentang apa sih?", maka jawabnya kira-kira demikian:

"Saya meneliti tentang organ pernafasan. Organ pernafasan ini misalnya paru-paru, jantung, dan diaphragma (organ yang ada di bawah paru-paru, naik-turun saat kita bernafas). Nah, masalah timbul ketika ada penderita tumor/kanker di sekitar daerah pernafasan. Misalnya di paru-paru ditemukan adanya tumor. Tumor tersebut bisa dijinakkan lewat penyinaran/radiasi. Tapi karena paru-paru bergerak saat pasien bernafas, tentu penyinaran harus mengikuti sesuai dengan gerakan paru-paru. Penyinaran, kalau sampai meleset dan terkena sel yang sehat, akan berakibat fatal. Sel-sel sehat akan mati dan tidak dapat berfungsi dengan baik. Itu sebabnya, saya meneliti bagaimana membuat model yang akurat tentang pergerakan pernafasan. Dengan model yang akurat, maka penyinaran dapat dilakukan pada posisi yang tepat seperti pada model yang dibuat."

Jika si penanya masih nampak berminat dan memahami penjelasan itu, saya dapat lanjutkan:

"Model gerakan pernafasan dibuat dengan cara yang menarik. Umumnya mesin MRI atau CT scan hanya bisa memfoto (atau istilah kerennya memindai) organ pernafasan dalam 2 dimensi atau bidang datar. Untuk membuat modelnya, dibutuhkan banyak citra (foto) dalam berbagai fase pernafasan, dari mulai menarik nafas sampai menghembuskan nafas. Juga mulai dari posisi depan (dada) sampai posisi belakang (punggung) agar bisa mendapatkan foto 3 dimensi dan berbagai fase pernafasan. Hasilnya adalah ratusan foto 2 dimensi dari berbagai fase dan posisi. Ratusan foto itu harus diproses dengan komputer agar bisa menghasilkan simulasi atau model pernafasan sehingga posisi tumor dapat diketahui dengan tepat dan penyinaran dapat dilakukan dengan lebih akurat. Nah, saya melakukan penelitian bagaimana mengkonstruksi citra-citra 2 dimensi tersebut agar menjadi seperti film yang menggambarkan gerakan pernafasan dengan baik. Saat ini, untuk memindai citra 2D dalam berbagai fase pernafasan dan membuat model gerakan pernafasan dibutuhkan waktu 40-50 menit per pasien. Harus dipikirkan bagaimana caranya agar lebih cepat. Harapannya,  kelak mesin MRI atau CT scan tidak lagi hanya sekedar menghasilkan citra 2 dimensi, tapi dokter bisa melihat secara langsung gerakan pernafasan seperti halnya melihat gerakan kaki saat berjalan."

Itu jawaban untuk orang awam. Jawaban untuk expert atau ahli di bidang biomedical akan lain sama sekali, walaupun pada intinya saya menjelaskan hal yang sama. Kira-kira penjelasan riset kepada sesama saintis di bidang yang sama adalah sebagai berikut:
"Riset saya tentang pemodelan gerapan pernafasan. Model ini dapat digunakan untuk mengatur dosis radiasi pada radioterapi atau untuk melakukan analisa dan klasifikasi penyakit2 pada pernafasan. Material yang saya gunakan adalah citra MRI pada model orthogonal dan sagittal. Di lab kami, teknik untuk merekonstruksi citra MRI menjadi 4D MRI sudah berhasil dilakukan dengan intersection profile method. Hanya saja, waktu yang dibutuhkan masih cukup lama, sehingga kami perlu membuat model yang lebih sederhana. Saya mencoba untuk melakukan ekstraksi pada diafragma untuk mendapatkan model gerakan diafragma, lalu menganalisanya dengan analisa komponen utama. Hasil rekonstruksi dari model gerakan menggunakan 3 buah komponen utama  cukup bagus dengan margin kesalahan rata-rata 3 mm. Sayangnya, ketika dilakukan validasi model menggunakan metode leave-one-out, margin kesalahan meningkat jadi 5 mm, yang mana cukup signifikan. Lalu saya coba melakukan analisa dengan menggunakan teknik Generalized n Dimensional PCA (GND-PCA) dan berharap mendapakan model yang lebih baik. Gerakan diafragma diasumsikan sebagai tensor orde ke-4. Lalu dilakukan dekomposisi tensor dengan menggunakan tensor inti dalam berbagai model. Hasilnya sangat menarik. Dengan menggunakan training sample dalam jumlah yang sedikit, gerakan diafragma dapat dimodelkan dengan margin kesalahan lebih kecil ketimbang ketika dimodelkan dengan  analisa komponen utama biasa. Jadi, dengan pemodelan statistik menggunakan GND-PCA, gerakan diafragma dapat disederhanakan dengan margin kesalahan kurang dari 1mm. Ke depan, kami mencoba teknik registrasi citra dan penginderaan kompresif untuk bisa mendapatkan gerakan pernafasan dengan resolusi yang tinggi dan waktu akuisisi yang cepat."

Kurang lebih begitu penjelasannya.

Jadi kalau ada yang bertanya kepada saya, "risetnya tentang apa sih?" maka kurang lebih saya akan menjelaskan dengan salah satu dari kedua penjelasan di atas.