Postingan

Menampilkan postingan dengan label Motivate

Kunjungan tanpa visa ke Jepang!

Kabar gembira bagi para traveller! Jepang resmi mengumumkan pembebasan visa warga negara Indonesia untuk kunjungan wisata selama 15 hari. Syaratnya hanya satu, yaitu memiliki e-passport. Bagi yang sudah punya e-passport, tinggal cari tiket murah AirAsia (yang kalo lg promo bisa dapet Rp. 3jt PP Indo-Jpn-Indo) lalu bisa nyelonong gitu aja bisa masuk di Haneda atau Narita. Gak pake visa-visa-an (yang kabarnya) sulit dikabulkan. Btw, e-passport berbeda dengan passport biasa. Di dalam e-passport ada informasi biometric yang unik sehingga kecil kemungkinan (mendekati tidak mungkin) untuk memalsukan passport. Kalo passport biasa, asal punya KTP, punya koneksi sama RT dan RW, bisa banget warga negara Indonesia punya lebih dari 1 passport. Kenapa sih kok harus pake e-passport segala? Ceritanya begini. Jepang ini kan lagi mendongkrak sektor pariwisata yang beberapa tahun ini menurun drastis karena issue radiasi nuklir. Tentu agar semakin banyak wisatawan berkunjung ke Jepang, prosedur mas...

E-G-O

Beberapa minggu (atau bulan) terakhir ini saya banyak diajar (atau belajar) mengendalikan pride (atau ego tepatnya). Ego itu suatu perasaan bahwa kita bener dan orang lain salah. Perasaan bahwa kita gak mau disalahkan. Perasaan bahwa kita yang paling berhak untuk menghakimi, menyalahkan (atau lebih parah, menjelek2kan) orang lain. Salah satu manifestasi dari ego adalah ngeyel (dan ngotot). Orang lain ngomong apa, kita nggak mau terima, tetep ngeyel bahwa apa yang udah kita lakukan adalah yang paling bener dan orang lain yang salah. Pada titik yang ekstrim, manifestasinya adalah cuek - sak karepmu, aku gak urus. Buat saya, mengendalikan ego itu sulit - karena prinsip "gak mau salah dan gak mau disalahkan" itu tertanam di benak saya... perasaan nggak enak kalo ada yang menyalahkan itu membuat saya sulit menerima tuduhan "you're wrong!". Bener kalo ada yang bilang, "A man's greatest enemy is his own ego". Suami-suami sering berpikir bahwa mengak...

Logika negara pemberi beasiswa

Setiap tahun, Pemerintah Jepang memberikan beasiswa kepada pelajar Indonesia yang disebut beasiswa Monbukagakushou (atau biasa disingkat monbushou). Inti dari beasiswa ini adalah memberikan kesempatan kepada pelajar-pelajar terbaik di seluruh Indonesia untuk kuliah di Jepang dengan dana sepenuhnya dari pemerintah Jepang. Sebagian besar alokasi beasiswa adalah untuk pelajar lulusan SMA yang akan lanjut studi diploma atau S1 di Jepang (sekitar 30 pelajar). Berapa beasiswa (atau uang) yang didapatkan? Biaya hidup diberikan kurang lebih 15jt tiap bulan yang diberikan sampai penerima beasiswa lulus (kurang lebih selama 4 tahun atau 60 bulan) atau total Rp. 900jt. Ditambah biaya masuk dan SPP selama studi, yg kurang lebih total 240jt. Jd untuk seorang penerima beasiswa, pemerintah Jepang harus menyediakan dana lebih dari 1M! Itu berlaku untuk 1 individu. Jika ada 30 pelajar yg mendapatkan beasiswa, maka Rp. 30M (atau 3jt dolar US) harus disiapkan oleh pemerintah Jepang! Bagaimana logika...

Internet dan pekerjaan yang manusiawi (Part 1)

Episode: Pipi dan Pipa Menurut saya, pekerjaan yang manusiawi adalah pekerjaan yang nggak mengeksplotasi manusia. Mengeksplotasi maksudnya memeras tenaga (atau uang) orang lain demi menguntungkan segelintir pihak. Pihak yang diuntungkan bisa individu, bisa juga perusahaan. Saya ingat dulu pernah diprospek MLM oleh teman yang bergabung di N*21, salah satu MLM terbesar dengan inisial A*W*. Saat mem-prospek, teman saya ngasih suatu cerita yang sampe sekarang saya ingat. Kurang lebih begini ceritanya. Alkisah, jaman dahulu kala di sebuah desa tersebutlah dua orang bernama Pipi dan Pipa. Suatu ketika, desa tersebut mengalami kekeringan sehingga seluruh desa membutuhkan air. Air bisa didapat di sumber mata air yang jaraknya dari desa tersebut cukup jauh. Setelah berembug, kepala desa menyerahkan tender pengadaan air untuk seluruh warga desa ini kepada Pipi dan Pipa. Pipi segera mengambil tender ini, dengan membeli dua buah timba besar dan membangun bak penampung air. Pagi-pagi benar, P...

Extraordinary friend (1)

Kalo suatu hari saya mau balik ke Indo karena kangen dengan suasana Indo, wajar banget kalo ada temen di sini yang bilang, "eh, kalo balik Jepang jangan lupa oleh2nya ya!". Saya nganggep itu hal yang biasa. Wajar juga kalo ada yang nitip sesuatu... Misalnya nitip Indomie ato bumbu masakan Indonesia yang memang jarang ditemui di Jepang. Wajar. Nggak ada yang salah dengan hal itu. Tapi, temen yang satu ini nggak begitu. Si A, bulan depan mau balik ke negara asalnya, untuk beberapa bulan. "Eh, kamu mau balik ya?" tanyanya. "Iya, tanggal xx bulan depan..." Jawab A. "Udah beli oleh2, buat keluarga?" "Udah... Kapan hari udah mulai nyicil beli oleh2." Jawab A "Ooo... Minggu depan, ya aku bawakan oleh2..." "..." Minggu depannya, temen itu bawa oleh2 buat si A. Satu tas penuh. Dia bilang, "Ini oleh2 buat keluarga ya... Moga2 keluarga suka." Isinya memang oleh2. Si A yang mau balik, bukannya ditagih ol...

Prayer and science

Science is interesting topic indeed. Kalo saat ini kita bisa menikmati televisi, hape, mobil, rumah, pakaian, komputer, internet, ... semua karena ada para ilmuwan yang dengan tekun bekerja di laboratorium, merumuskan konsep sains, dan kemudian menerapkan konsep-konsep sains tersebut dalam industri. Tapi, somehow tetap ada banyak hal yang sampe sekarang nggak bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan. Doa, misalnya. Belum pernah ada saintis yang merumuskan tentang cara kerja doa. Bagaimana doa dapat menyembuhkan penyakit. Bagaimana doa dapat mengubah suatu keadaan. Misalnya, seseorang sedang berdoa untuk kondisinya yang sedang kesulitan, lalu setelah berdoa, kondisinya berangsur-angsur baik... Well, Praise God! The prayer was answered! Tapi tidak semua orang mengalami hal yang sama. Orang lain dengan kondisi yang sama, dengan ucapan doa yang sama, bisa jadi tidak menjadi lebih baik. Itu sebabnya, doa tidak dapat dijadikan sains. Ketika diterapkan pada orang lain, walaupun de...

Saintis vs artis

Suatu ketika, seorang peraih nobel Fisika dari Jepang, Prof. Koshiba, diinterview oleh NHK. Salah satu pertanyaan yang menarik adalah ketika beliau ditanya, mana yang lebih jenius, fisikawan Albert Eintein atau musisi Mozart. Setelah berpikir sejenak, Prof. Koshiba menjawab bahwa yang lebih jenius adalah musisi Mozart. Alasannya  Albert Einstein hanya merumuskan apa yang sudah ada di alam. Seandainya relativitas tidak ditemukan oleh Albert Einstein, maka somehow, fisikawan lainlah yang akan merumuskan... begitu menurutnya. Saya setuju. It's just a matter of time. Sama halnya dengan penemuan bola lampu oleh Thoma Alva Edison. Saya sering mendengar kelakar bahwa kalau tidak ada Thomas Alva Edison, maka dunia saat ini akan menjadi dunia yang gelap... Mungkin juga, tapi saya lebih cenderung pada kemungkinan bahwa orang lain lah yang akan menemukannya lampu pijar seandainya Edison menyerah pada kegagalannya. Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh musisi Mozart yang mengkomposis...

Pak Dengklek dan mimpinya

Pak Dengklek dulu adalah peternak bebek. Bebeknya ratusan. Sekarang, Pak Dengklek bukan lagi peternak bebek. Tahun lalu, Pak Dengklek melanjutkan studinya di Jepang, dia mengambil riset tentang teknologi medis bebek (kelak, sekembalinya dari Jepang, Pak Dengklek berharap agar tidak banyak bebek yang mati sia2 karena peralatan medis yang tidak menunjang). Setahun di Jepang, Pak Dengklek merasa terkagum2 dgn budaya, lingkungan, kehidupan sosial, dan teknologi yang ada. Sebagian besar masyrakat yg ditemui Pak Dengklek selama ini benar2 ramah dan sopan. Kata2 seperti "maaf merepotkan", "tolong ya...", "terima kasih", "ah, tidak apa2" sangat sering terdengar dlm percakapan sehari2, bahkan untuk hal yg remeh-temeh. Bahasa tubuh menganggukkan kepala dan tersenyum tanda respek antar kolega juga menjadi bagian yg umum dlm kehidupan sehari2. Transportasi begitu teratur. Selama hidup di Jepang, Pak Dengklek hanya 2 kali mendengar suara klakson mobil ...

Gurauan (nggak) lucu

Ada pelajaran penting yang saya dapatkan ketika masih kelas 2 SMP. Waktu itu pelajaran Bahasa Indonesia. Topiknya pantun. Di buku teks ada sebuah contoh pantun jenaka yang sampai sekarang saya ingat: Elok rupanya pohon belimbing Tumbuh dekat pohon mangga Elok rupanya berbini sumbing Biar marah tertawa juga Bapak guru kami, (Alm) Pak To, mengatakan bahwa pantun ini contoh yang jelek. Karena saya suka dengan bahasa, saya tertantang untuk mengamat-amati di mana letak jelek-nya pantun ini. Secara aturan, pantun di atas mengikuti kaidah pantun yang berlaku, 2 sampiran dan 2 isi serta memiliki rima a-b-a-b. Sepertinya tidak ada masalah dengan pantun itu. Ternyata masalahnya bukan pada kaidah pantun-nya, tapi pada isi pantun-nya. Bapak guru kami mengatakan bahwa isi pantun ini tidak sopan karena menghina orang sumbing. Beliau mengatakan, orang memiliki kekurangan, tapi malah dijadikan bahan gurauan itu tidak sopan. Saya setuju. Hari itu saya belajar pelajaran penting - dan be...

The X Factor Judges

Saya bukan TV junkie - yang menghabiskan puluhan jam per minggu di depan TV. Tapi ada beberapa TV show yang (sekarang) saya gemari. Bukan cuma suka, tapi really... really love. Untuk acara TV Indonesia, saya suka Stand up comedy. Ada beberapa comedian favorit saya yang joke-nya cerdas, nggak lebai atopun maksa. Ernest Prakasa dan Raditya Dika adalah beberapa di antaranya. Dulunya saya suka American Idol, tapi sejak juri eksentrik, Simon Cowel, nggak lagi jadi juri di American Idol, saya jadi kurang mengikuti American Idol. Daya tariknya jauh berkurang. Sebagai gantinya adalah The X Factor (US), yang mana si Simon is (finally) back. The show was broadcasted last September. It's just like what I've expected! Great show! Inti acaranya tetap singing competition, tapi The X Factor dikemas berbeda dengan American Idol. Siapapun boleh ikut. Pria, wanita, usia 17 tahun ato 71 tahun, solo, ato group. Nggak ada batasan sama sekali seperti di American Idol. Jurinya ada 4 orang, si ...

Setelah lulus, ngapain? (Part 3 - end)

Setelah lulus, ngapain? Episode 3: "Berjanjilah padaku nak, jangan pakai ijasahmu untuk mencari pekerjaan, tapi gunakan untuk memberi orang lain pekerjaan." [ Sambungan dari posting yang lalu ] Jadi ada dua kemungkinan bagi seorang fresh graduate yang ingin mencari kerja: (1) mencari pekerjaan di perusahaan biasa dengan gaji biasa yang "entah-berapa-lama-bisa-promosi-jabatan" atau (2) hunting pekerjaan di perusahaan besar dengan gaji awal 8 digit rupiah per bulan yang tentunya akan dituntut untuk punya skill yang extraordinary dibandingkan ratusan pelamar lain. Alternatif lain setelah lulus tentu masih banyak (misalnya ikut Indonesian Idol, ngelamar jadi pemain sinetron, mencalonkan diri jadi caleg ato ketua PSSI, dsb). Tapi most likely, fresh graduate akan segera berpikir untuk mencari pekerjaan. Wajar. Bagi yang cewek, siapa tahu di tempat kerja ada pangeran tampan pewaris tahta yang mencari permaisuri dengan menyamar sebagai pegawai biasa (ato office boy). Kalo b...

Setelah lulus, ngapain? (Part 2)

Setelah lulus, ngapain? Episode 2: Who do you think you are, so we have to pay you big bucks? [ Sambungan dari posting yang lalu ] Tapi tentu bukan berarti tidak ada peluang sama sekali bagi seorang fresh graduate untuk mendapatkan gaji 8 digit/per bulan di awal-awal karir sebagai pegawai. Perusahaan nasional dengan omzet puluhan atau ratusan milyar per bulan (perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan, rokok, otomotif, properti atau telekomunikasi), justru mencari fresh graduate yang berkualitas dengan iming2 gaji yang dalam setahun bisa setara dengan biaya kuliah S1 selama 4 tahun. (Kabar burungnya, perusahaan rokok seperti HM Smp, berani menggaji fresh graduate yang baru kemaren sore lulus sebesar 6-8jt/bln di posisi teknis, perusahaan penambangan minyak Caltex bahkan mem-booking mahasiswa2 geologi/pertambangan yang belom lulus agar setelah lulus mau bekerja di Caltex dengan gaji awal 8 digit! Jangan lupa juga, di Indonesia ada Microsoft yang selalu hunting fresh...

Setelah lulus, ngapain? (Part 1)

Setelah lulus, ngapain? Episode 1: With great salary, comes great responsibility Seorang mentee yang akan segera lulus, menuliskan status tentang biaya kuliah yang nggak sebanding dengan gaji UMR yang diterima setelah lulus. Saya setuju. Saya coba hitung2... berapa rata-rata biaya kuliah S1 di universitas swasta (di Malang) dari pertama masuk sampai lulus? Hitungan kasar saya muncul angka 50 juta. Hitungan halusnya mungkin bisa mencapai 60juta atau lebih karena ada tambahan biaya transportasi, buku, fotokopi, seminar, biaya skripsi, internet, pulsa, dan kegiatan-kegiatan ekstra yang diwajibkan kampus (plus biaya nonton, jalan2 bareng temen, makan2 bareng yang jadi pengeluaran wajib mahasiswa). Berapa rata-rata gaji seorang fresh graduate (yang baru lulus)? Hitungan kasar saya, kalau dia kerja di bank atau perusahaan atau institusi pendidikan (dengan asumsi si fresh graduate tersebut termasuk pegawai jujur yang nggak mau korupsi), maka kemungkinan gaji awalnya akan berkis...

Televisi

Dibandingkan dengan Indonesia, saya merasa acara televisi di Jepang lebih menarik. Setiap acara dikemas dengan kreatif, sebagian diberi subtitle dalam Kanji (mungkin untuk memudahkan mereka yang tuna rungu atau bisa juga untuk melatih anak2 SD dan orang asing seperti saya agar lebih lancar membaca kanji), diberikan animasi dan warna2 yang segar agar penonton betah menonton berjam2, dan tak lupa menampilkan pembawa acara yang cantik atau keren atau konyol agar lebih menghibur. Nggak di Indonesia, nggak di Jepang, para produser acara TV berusaha bikin acara yang penonton sampe betah di depan TV selama berjam2. Waktu di Indonesia, saya sering kali ketemu dengan anak2 muda (dan orang tua) yang masuk dalam kategori "pecandu TV". Dalam sehari, waktu yang dihabiskan di depan TV bisa 5-10 jam. Kalo ketemu dengan "pecandu TV" semacam ini, saya kemudian berhitung2... Kalau 1 hari menghabiskan 5 jam di depan TV, maka dalam 1 minggu dia menghabiskan 35 jam di depan TV. Dalam ...

Dosen ala "Simon Cowell"

American Idol. Siapa yang belom pernah nonton? Acara ini, menurut saya menarik karena memberi kesempatan yang sama untuk jadi penyanyi kelas dunia bagi jutaan penyanyi yang merasa dirinya berbakat. Pada proses audisi, mereka akan diberi waktu untuk menunjukkan "bakat" menyanyinya di depan 3 orang juri. Ketiga orang juri tersebut yang menentukan apakah peserta audisi lolos di babak selanjutnya atau tidak. Di American Idol, ada 3 juri legendaris yang mempunyai ciri khas masing-masing, yaitu Randy Jackson, Paula Abdul dan Simon Cowell. Setelah selesai perform, para juri akan memberikan komentar terhadap penampilan masing-masing kontestan. Saya pribadi selalu menantikan komentar dari Simon Cowell (yang mungkin juga dinantikan oleh jutaan penggemar acara American Idol). Kenapa dinantikan? Karena dari komentarnya akan nampak siapa2 yang memang punya potensi menjadi bintang. Tapi tidak sedikit kontestan yang sakit hati dan benci setengah mati dengan Simon Cowell karena komentar peda...

Bangga Jadi "Indonesian"?

Genap empat bulan saya tinggal di negara orang. Seumur2, saya belum pernah meninggalkan Indonesia sampe berbulan-bulan (bahkan berencana sampe bertahun2) untuk menetap di negara lain. Dan sekarang, status saya adalah orang asing, foreigner, gaikoku-jin (dalam bahasa Jepang). Some Japanese menyingkatnya menjadi "gaijin" untuk merendahkan status sosial orang2 asing yang tinggal di Jepang (sama seperti orang Malaysia yang memanggil orang Indonesia dengan sebutan "Indon" ato orang bule yang nyebut orang kulit hitam dengan "Nigger" - diskriminasi untuk menyebut status sosial yang lebih rendah dari dirinya). Menjadi orang asing di negara lain bener2 pengalaman yang unik. Negara asal kita akan menentukan bagaimana orang asli memandang kita. Prejudice hampir tidak bisa dihindari saat kita menyebutkan asal negara kita. Ketika menyebutkan "I'm from Indonesia " ato "Indonesia-jin desu", kira2 bagaimana pandangan mereka? Saya nyaris tidak bisa ...

Skema Beasiswa DIKTI

Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (DIKTI) merupakan direktorat yang paling sakti untuk mengatur seluruh perguruan tinggi se-Indonesia Raya. Hidup-matinya suatu perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, ada di tangan DIKTI. Kalo misalnya tiba-tiba DIKTI mengeluarkan peraturan bahwa seluruh universitas yang berawalan "M" harus ditutup, maka detik itu juga saya jadi jobless. Tapi aturan semacam itu tidak pernah muncul... Salah satu isu yang menjadi concern DIKTI adalah tentang sumber daya dosen. Sesuai dengan UU nomer [entah berapa] tentang pendidikan nasional, dosen diwajibkan memiliki strata pendidikan minimal satu tingkat lebih tinggi dari para mahasiswa yang diajarnya. Dosen yang ngajar mahasiswa S1 wajib memiliki gelar S2. Dosen yang ngajar mahasiswa S2 wajib memiliki gelar S3, dan dosen yang ngajar mahasiswa S3, wajib memiliki gelar S4. Nah, mari berbicara fakta. Tahun 2009, dari 150rb dosen yang ada di Indonesia, ternyata yang memenuhi persyaratan tersebut hanya 57...

Culinary: Table For Two

Gambar
Suka dengan wisata kuliner? Saya nggak termasuk di dalamnya. Saya rewel dengan makanan. Di Jepang saya kesulitan mencari makanan yang cocok dengan lidah saya. Makanan yang bernama " i kan-salmon-beku-di-supermarket-yang-kemudian-digoreng-di-rumah-dan-dimakan-dengan-nasi-anget-plus-sambel-dari-indonesia " saya nobatkan sebagai The-best-food-I-ever-tasted-in-Japan (setelah mengalahkan kandidat kuat lainnya, yaitu indomie-goreng dan nasi-goreng-telor). Berbagai macam bentuk sushi, yakiniku, atau okonomiyaki, masih nggak bisa cocok dengan lidah saya. I prefer lemper instead of Sushi. I prefer bakso bakar instead of yakiniku dan I prefer dadar jagung instead of okonomiyaki (fyi: lemper and sushi, bakso bakar and yakiniku, dadar jagung and okonomiyaki, they look alike)... Forget about my weird-meal-preferences (make sure you know what you'll offer to me when you invite me for lunch or dinner at your house... ). For those who wants to have (or already have) a resto, let me prop...

Indonesia dan Human Development Index

Baru-baru ini, PBB mengeluarkan laporan tentang Human Development Index (HDI) dari negara-negara di dunia. Indeks ini menunjukkan bagaimana kualitas hidup manusia di sebuah negara yang diindikasikan dari: (1) Rata-rata harapan hidup (life expentancy), (2) rata-rata lama menempuh pendidikan (years of schooling), dan (3) rata-rata pendapatan per kapita (Gross National Income per capita). Indeks ini memiliki skala 0 sampai 1. Indeks yang mendekati 0 berarti rakyat di negara tersebut memiliki rata-rata harapan hidup yang jelek (misalnya banyak yang meninggal di usia 40-50 tahun), rakyatnya tidak memiliki pendidikan yang baik (hanya lulus sekolah dasar) dan pendapatan perkapitanya rendah (kurang dari 1.5jt per bulan). Sementara indeks yang mendekati 1 berarti rata-rata harapan hidup rakyat di negara tersebut tinggi (misal rakyatnya rata2 meninggal di usia 80 tahun), rakyatnya memiliki pendidikan yang baik (rata2 lulus perguruan tinggi S1), dan pendapatannya tinggi (income rata2 per bulan r...

Mesin Waktu

Judulnya mungkin cukup provokatif untuk membuat beberapa orang meluangkan waktu membaca blog ini (di tengah ke-sibuk-an atau ke-nganggur-annya). Tapi, sebelum dilanjutkan membaca, let me clarify bahwa sampai saat ini saya belum menciptakan mesin waktu seperti di film-film, yang memungkinkan seseorang berkelana ke masa lalu atau ke masa depan dan bertemu dengan versi muda atau tua dirinya sendiri. Riset saya di sini tentang compressed sensing untuk citra medis, juga nggak ada kena-mengenanya dengan mesin waktu. Jadi, lalu kenapa postingnya dikasi judul "Mesin Waktu"? Salah satu film tentang berkelana ke masa lalu adalah film The Time Traveler's Wife (2009) yang menceritakan romantika tentang seorang istri yang bersuamikan Time Traveler. Si suami memiliki gen yang membuat dirinya secara acak "pergi" ke masa silam. Di suatu waktu, dia bertemu dengan istrinya yang masih berusia 6 tahun, dan "calon" istrinya inipun jatuh cinta kepadanya. Di masa sekarang, m...