Postingan

Menampilkan postingan dengan label Doctorate Journey

Terpilih sebagai featured articles di Journal of Medical Imaging

Gambar
Kapan hari, saya submit artikel untuk jurnal medical imaging.   Jurnalnya ini sebenernya jurnal baru. Current issue-nya aja baru Vol 2, yang artinya belum genap 2 tahun umurnya.   Paper saya dimuat... Dimuat setelah revisi 4 putaran yang memakan waktu 1 tahun lebih! Benar-benar menguras energi - dan berakibat studi molor 1 semester.  Tapi saya jadi banyak belajar bagaimana mem-publish manuscript di jurnal internasional... setidaknya publikasi jurnal internasional jadi gak seserem yang dulu saya bayangkan. Ada strateginya.  Kembali ke jurnal medical imaging tadi, alhasil artikel saya terpilih sebagai featured articles (http://medicalimaging.spiedigitallibrary.org/issues.aspx). Featured articles dipilih dari artikel-artikel yang ada dan redaksi menentukan 2 artikel yang menarik untuk dijadikan featured articles.  Saya sebenernya juga baru tau kalo artikel saya terpilih sebagai featured article. Sensei yang kasih tau. Buru-buru saya screenshot ...

Thesis defense

Tanggal 19 Mei kemarin, saya sidang tertutup untuk mempertahankan thesis. Kejadiannya agak unik, karena saya mengira - sesuai dengan informasi dari sensei, bahwa ini adalah pra-sidang (pre-defense). Bayangan saya, ini semacam reharsal sebelum final defense. Jadi setelah ini, bakal ada satu kali lagi sidang tertutup (final defense) - plus satu kali lagi sidang terbuka untuk mempresentasikan hasil penelitian kepada publik. Jadi, saya persiapannya juga biasa-biasa aja. Ada beberapa detail penelitian yang saya skip - karena saya malas mempelajari... Nantilah, kalau udah final defense baru bener-bener saya pelajari, toh ini masih persiapan juga... Benar juga. Pas pre-defense kemarin - yang dihadiri 3 profesor penguji, ada beberapa pertanyaan teknis dari satu profesor yang nggak bisa saya jawab. Dia menanyakan satu rumus yang saya pakai di perhitungan saya, dan saya nggak bisa jelaskan dengan detail (udah gak terlalu inget detailnya). Emang gak saya pelajari bagian itu. Nanti di presenta...

Akhirnya dapat tiket untuk maju Thesis Defense

Gambar
Sore ini adalah sore quantum leap untuk doctorate journey saya. Syarat untuk bisa maju thesis defense adalah sudah ada 2 publikasi di jurnal internasional. Semester kemarin gagal maju thesis defense karena baru ada 1 publikasi di jurnal internasional - sementara 1 publikasi yang lain tidak dihitung karena dipublikasikan sebelum masuk doctor course - yang berakibat saya harus extend satu semester! Sebenarnya ada 2 manuskrip yang sedang dalam "under review". Satu manuskrip baru saja di-submit minggu lalu karena harus melakukan major revision dan satu lagi... sore ini dapat notifikasinya, dan keputusannya adalah: ACCEPT. Praise God!!  Alhasil, syarat untuk maju thesis defense sudah terpenuhi, 2 publikasi. Kalau manuskrip yang satunya lagi bisa accepted, maka dapat bonus tambahan 1 publikasi lagi. 

Conference di Orlando, Florida (Part 1)

Gambar
Ikut international conference lagi. Nama conference-nya SPIE Medical Imaging yang diadakan di Orlando, Florida. Saya berangkat dari Tokyo Senin, 23 Februari menggunakan United Airlines - dan tiba di hari yang sama. Dapet tiket-nya cukup murah, $1.200 sekian PP dan sudah termasuk paket hotel 4 malam. Mungkin United Airlines termasuk salah satu LCC di Amerika, entahlah. Seperti biasa semua biaya selama saya di Orlando ditanggung oleh Lab. Kali ini conference-nya agak berbeda karena sensei tidak ikut dan dari lab, saya satu-satunya yang berangkat. Jadwal presentasi masih di hari Rabu sore sehingga saya punya banyak sekali waktu luang. Karena sensei nggak ikut, saya jadi agak lebih bebas mengatur jadwal jalan2. Hari Senin malam tiba di bandara international Orlando, lalu ke hotel naik taksi (karena nyari2 bus stop nggak ketemu). Hari Selasa pagi jadwalnya cuman masang poster aja, setelah itu free. Mau ikut sesi, agak-agak gak minat karena Venue conference-nya adalah pusat jalan2 d...

Minggu 19: Tamat (untuk sementara)

Loh, kok tamat? Ada situasi yang tidak terduga berkaitan dengan progress thesis. Thesis udah selesai ditulis, dibuat 3 kopi dan diserahkan ke para calon penguji. Kemarin pagi, sensei menemui saya. Lalu mengatakan, "This is bad news..." Menurut beliau, publikasi saya yang pertama tidak bisa dihitung sebagai publikasi karena di-publish bulan Maret 2012, sementara saya masuk sebagai mahasiswa doktor April 2012. Jadi publikasi yang bisa dihitung hanya 1 - dan 1 publikasi artinya tidak memenuhi syarat untuk thesis defense. Kesimpulannya saya belum bisa wisuda semester ini - kecuali ada mujizat. Sebenarnya ada 2 manuscript yang masih under review. Kalau ada keputusan dalam minggu ini bahwa manuscript tersebut bisa publish, ada kemungkinan saya bisa mengajukan thesis defense dan lulus semester ini. Tapi kalau memang tidak bisa ya sudahlah. Opsinya ada 2. Yang pertama saya memperpanjang 1-2 semester lagi di sini (yang artinya harus menunda kepulangan ke negara tercinta), y...

Minggu 20: Long Weekend

Hari Jumat, tanggal 31 Oktober kemaren mestinya draft thesis sudah harus selesai dan diserahkan ke sensei. Tapi karena sensei bilang minggu depan jg gak papa, jadinya baru saya serahkan hari ini (tanggal 4 Nov). Ternyata nggak enak nulis thesis sambil diburu-buru waktu - nggak bisa menikmati. Mestinya memang harus di-planning waktunya biar gak terlalu mepet kayak kemaren. Anyway, hari Senin kemarin (tgl 3 Nov) hari libur nasional di Jepang. Jadinya long-weekend... Sabtu, minggu dan senin bisa santai. Tiga hari itu saya juga (berusaha) santai walopun thesis-nya masih belum 100% selesai. Ada istri dan anak yang lebih berhak mendapatkan waktu libur saya ketimbang thesis. Hari ini saya bangun jam 3.30 pagi - dan mulai menyelesaikan thesis. Setelah nge-print thesis dan diserahkan ke sensei, rasanya udah ada lompatan besar menuju kelulusan. Tahap berikut yang harus disiapkan adalah pra-sidang yang sudah dijadwal tanggal 19 Nov ini... Pengujinya ada 3 profesor... Entah pra-sidang itu se...

Minggu 22: Diburu tenggat waktu

Hitungan mundur minggu ke-22 menjelang wisuda. Preliminary thesis review akan dilangsungkan akhir bulan ini. Saya harus menyerahkan draft thesis-nya ke sensei pembimbing sebelum 31 Oktober. Sebenarnya nggak perlu diburu-buru tenggat waktu karena saya punya banyak waktu untuk menyelesaikannya. Tapi minggu lalu saya "sengaja" bersantai. Saya biarkan sampe waktunya mepet sehingga saya terpaksa menulis. Apa efektif? Nggak tau juga. Saya ngikuti feeling saya aja... Yang mana yang saya rasakan nyaman untuk saya, saya lakukan. Syarat untuk boleh mengajukan preliminary review adalah telah memiliki 2 publikasi internasional. Publikasi jurnal, bukan prosiding ato conference. Kalo prosiding mah, mungkin ada lebih dari 10. Saat ini publikasi jurnal saya udah 2... yang pertama saya submit di jurnal Telkomnika, salah satu jurnal terakreditasi Indonesia (yang untungnya sama sensei itu diitung sebagai publikasi). Yang kedua di Jurnal "Computational and Mathematical Methods in Medi...

Minggu 24: (Mulai) Menulis Tesis

Saya hitung mundur. Kurang 24 minggu lagi jadwal wisuda. Minggu ini saya mulai menulis tesis. Saya pernah menulis tesis untuk S2, yang menurut saya, masih kurang lebih seperti menulis skripsi S1. Hanya bahasa dan struktur penulisannya lebih baik. Tesis yang saya tulis waktu di S2 masih bekutat pada coding - yang seharusnya nggak perlu. Tesis untuk S3 benar-benar lompatan besar dibandingkan dengan S2. Lompatan besar karena Tesis harus difokuskan pada keterbaruan konsep yang telah ditemukan selama melakukan penelitian, hasil apa yang telah diperoleh - dan seberapa besar dampak yang diberikan terhadap kemajuan ilmu pengetahun di bidang yang telah diteliti. Latar belakang harus jelas - bukan diada-adakan. Metode meneliti juga harus detail, sehingga ketika ada peneliti lain yang melakukan metode yang sama, hasil yang didapat tetap sama. Artikel yang telah dipublikasikan di jurnal akan menjadi bagian dari Tesis. Seharusnya saya senang karena bagi saya menulis Tesis tidaklah sesulit m...

Oral presentation @ CARS 2014

Gambar
Notifikasi ketika abstrak diterima di International conference itu selalu menyenangkan. Rasanya seperti hasil penelitian yang udah dilakukan berbulan-bulan itu nggak sia-sia. Diakui oleh (setidaknya) panitia reviewer dan dianggap cukup layak untuk dipresentasikan di hadapan rekan-rekan sejawat.  Hari ini saya mendapatkan notifikasi dari Computer Assisted Radiology and Surgery (CARS, http://www.cars-int.org/cars_2014.html ), konferensi internasional yang fokus pada penerapan komputer untuk meningkatkan akurasi medical treatment. Konferensi ini sudah berlangsung sejak 15 tahun yang lalu, dan (sayangnya) tahun ini diselenggarakan di Fukuoka, Jepang. Saya sebenarnya berharap CARS tahun ini diadakan di negara Eropa seperti tahun-tahun sebelumnya - jadi sembari conference, bisa jalan-jalan... Kalo diselenggarakan ke Jepang, ya... sudahlah.  Yang membuat saya terhibur dengan diselenggarakan di Fukuoka adalah bahwa rekan yang juga menempuh studi S3, Pak Romy, juga tinggal d...

Undangan menjadi reviewer

Gambar
Hari ini saya dapat email dari salah satu jurnal internasional yang sangat bergengsi, Journal of Biomechanics-nya Elsevier. Jurnal yang terkenal ketat dalam mereview paper yang masuk. Saya diundang untuk me-review salah satu manuscript yang diterima oleh mereka. Hasil review ini akan dipertimbangkan apakah manuscript tersebut akan dipublish atau tidak. Saya nggak tau bagaimana ceritanya bisa sampai diminta untuk me-review manuscript di jurnal bergengsi ini. Kemungkinan besar, mereka telah "mengamati" hasil penelitian yang telah saya publikasi. Mungkin juga rekam jajak penelitian saya (publikasi jurnal dan prosiding) telah masuk dalam database mereka. Saya yakin, undangan mereview manuscript ini hal yang sangat biasa bagi para peneliti atau guru besar. Tapi bagi saya, ini salah moment yang berharga dalam perjalanan saya sebagai mahasiswa doktor. Saya nggak terlalu pede untuk mereview manuscript tersebut. Saya memilih untuk mengklik link "If you are unable, plea...

Conference di Sapporo, Hokkaido

Gambar
Minggu lalu, hari Kamis dan Jumat saya mengikuti conference di Sapporo, Hokkaido, 6th Annual Meeting Japanese Society of Pulmonary Functional Imaging ( http://conv-s.com/jspfi6/index.html ). Ada dua alasan mengapa saya mengikuti conference ini - atau mengapa sensei ingin saya datang di conference ini. Pertama, karena sensei ditunjuk sebagai salah satu pembicaranya - dan topik yang disampaikan adalah hasil penelitian yang saya kerjakan dalam 4-5 bulan terakhir. Jadi sensei perlu saya untuk datang menemani agar kalau ada pertanyaan teknis, saya bisa membantu menjelaskan. Alasan kedua, karena saya juga submit abstrak di conference itu (lagi-lagi sensei yang meminta) dan lolos untuk dipresentasikan dalam sesi poster session. Conference-nya sendiri sebenernya nggak terlalu nyambung dengan engineering. Peserta dan pembicaranya lebih banyak yang berprofesi dokter dan... saya ngerasa kesasar. Setelah presentasi poster, beberapa memberikan komentar - dan saya nggak bisa paham apa maksud k...

Ngelab di Jepang

Katanya... orang Jepang itu workaholic. Katanya... orang Jepang itu pantang menyerah. Katanya... orang Jepang itu pekerja keras. Mau tau situasi sebenernya yang terjadi di lab? Hari ini kami mengawali dengan group meeting, jam 9 pagi tepat. Masing-masing anggota lab mempresentasikan progress researchnya dalam seminggu terakhir, apa-apa yang udah dikerjakan. Sensei akan memberikan komentar atau arahan untuk apa-apa yang perlu dikerjakan di minggu berikutnya. Hari ini, group meeting selesai lebih cepat, sekitar jam 10.30an. Masing-masing segera kembali ke meja komputer-nya. Ngobrol2 sebentar dan tidak lama kemudian lab jadi tenang. Hanya ada suara ketukan keyboard... Beberapa mulai keluar lab sekitar jam 12 siang - kembali dengan membawa bento atau makan siang. Sekarang udah jam 19.30. Teman-teman lab saya masih belum menampakkan tanda2 akan pulang... Setiap kali saya melirik layar komputer mereka, isinya adalah coding, bacaan journal, excel, atau situs science lain... (semen...

Kangen kelas

Untuk pertama kalinya sejak saya studi di Jepang 3 tahun lalu, saya ingin segera menyelesaikan studi. Selama ini, saya menikmati bisa studi di Jepang. Menikmati segala fasilitas lab yang serba terbaru, internet yang super cepat 24 jam sehari 7 hari seminggu, bisa mengikuti conference lokal dan internasional dengan segala akumodasi ditanggung lab, menikmati lingkungan di Jepang yang serba bersih, tertib, teratur, transportasi yang nyaman, orang-orang yang sopan... This is just awesome!  Tapi Indonesian will always be an Indonesian. I might call Japan as my second home, tapi tanah airku tetap Indonesia (dan Dangdut is the music of my country).  Saya kangen Indonesia.  Kangen dengan suasana kelas.  Kangen jadi dosen (lagi). Kangen mengajar. Kangen bikin soal yang unik untuk kuis.  Kangen ngasi tantangan untuk anak-anak. Kangen jadi mentor untuk anak-anak saya.

Tahun ke-3 kuliah di Jepang

Tahun ke-3 di Jepang. Belum sekalipun saya kembali ke Indonesia - dan tidak berencana kembali dalam waktu dekat. Rasanya kurang nyaman berlibur ke Indonesia dalam kondisi "belum-pasti-kapan-lulus". Jadi saya nggak nyalahkan Bang Thoyib yang kondisinya sama seperti saya, 3 puasa dan 3 lebaran belum pulang. Bisa jadi Bang Thoyib belum mau pulang juga karena beliau tidak pasti kapan lulus... Tiap periode punya tantangan tersendiri. Di akhir tahun ke-3 ini tantangan yang sudah diperkirakan sejak sebelum keberangkatan akhirnya terjadi. Beasiswa dari DIKTI berakhir sementara studi belum selesai. Ada beberapa alternatif yang bisa dijadikan solusi. Pertama memohon perpanjangan beasiswa dari DIKTI. Kedua mencoba apply beasiswa di universitas/yayasan swasta Jepang. Ketiga mengajukan beasiswa dari institusi asal. Keempat membiayai studi dengan uang pribadi. Alternatif kelima adalah lain-lain (yang belum terpikirkan saat ini). Alternatif pertama gagal. DIKTI tidak menyetujui perm...

Pindah ruang lab.

Gambar
Lab kami semakin padat dengan bergabungnya beberapa mahasiswa baru. Dengan semakin banyak anggota lab, maka ruangan lab yang lama sudah tidak lagi muat sehingga sensei mengambil alih sebuah ruang kosong yg tidak terpakai, yang kemudian dijadikan lab. Kemarin saya pindah ke lab baru ini. Di lab ini hanya ada 6 orang (termasuk saya) yang masuk dalam kategori penelitian tentang citra MRI (Magnetic Resonance Imaging). Dua orang mahasiswa master tahun ke-2, seorang mahasiswa master tahun pertama, dan dua orang mahasiswa bachelor tahun ke-4. Semuanya Japanese - which is good karena akan memaksa saya berinteraksi dengan mereka dalam bahasa Jepang. Kalo di lab sebelumnya, ada 2 orang mahasiswa internasional dari China. Seorang diantaranya cukup dekat dengan saya karena satu angkatan dan mejanya selalu bersebelahan dengan saya sejak saya bergabung di lab. Kami selalu berbicara dalam bahasa Inggris (yang tentunya kurang baik kalau memang ingin meningkatkan kemampuan bahasa jepang). Now, time...

Simposium di Osaka

Gambar
Osaka. Salah satu kota yang cukup terkenal di Jepang. Sebelum saya ke Jepang, saya mendengar Osaka berulang kali - entah di mana... Mungkin di pelajaran geografi, ekonomi atau membaca di koran. Minggu lalu, hari Jumat saya dan 3 orang rekan lab berangkat ke Osaka untuk menghadiri simposium ( The Fourth International Symposium on the Project "Computational Anatomy" ). Peserta simposium adalah universitas-universitas yang mendapatkan hibah dari kementerian pendidikan Jepang dan wajib menyampaikan capaian penelitian-nya. Karena lab kami termasuk salah satu penerima hibah, maka kami (atau sensei) berkewajiban mempresentasikan apa yang sudah dicapai pada tahun fiskal 2012 lalu. Kami berangkat ke Osaka hari Jumat dan kembali ke Tokyo hari Minggu. Jarak Tokyo-Osaka sekitar 510km (kurang lebih sama dengan jarak Jogja-Jakarta). Alih-alih naik pesawat, kami memilih transportasi  menggunakan shinkansen (kereta cepat). Harga tiket PP Tokyo-Osaka adalah 22rb yen (discount sebesar 20% ...

Conference di Okinawa

Gambar
Tanggal 24 dan 25 Januari lalu, saya ikut conference (lagi) untuk presentasi poster. Kali ini bertempat di Okinawa. Awalnya saya sedikit ogah2an ikut conference kali ini. Lah, minggu lalu baru dari Tokushima, sekarang berangkat lagi ke Okinawa. Mana harus meninggalkan keluarga 2 malam lagi... (tanggal 23 pagi berangkat dan 25 malam tiba di Tokyo). Tapi karena di Jepang menganut sensei's wish is our command, ya sudah. Saya dan seorang rekan lab berangkat menuju Okinawa. Saya baru 'ngeh' kalo Okinawa adalah tempat wisata favorit di Jepang. Seperti Bali di Indonesia, seperti Hawaii di Amerika. Ketika minggu-minggu ini di Tokyo suhunya 0 derajat, di Okinawa suhu berkisar 18-20 derajat... Gak kenal musim dingin, apalagi salju. Make sense, karena letaknya di ujung selatan Jepang, 1500 Km dari Tokyo. Lokasi conference-nya di jalan yang namanya "kokusai dori". Kokusai dori ini mirip dengan jalan Kute di Denpasar, Bali. Di kiri-kanan banyak toko2 asesoris dan selalu di...

Conference di Tokushima

Gambar
Hari Sabtu dan Minggu lalu (12-13 Jan), saya ke Tokushima untuk menghadiri The 5th Japanese Society Pulmonary Functional Imaging (JSPFI). Abstrak saya dengan topik rekonstruksi otomatis 4D-MRI untuk gerakan pernafasan diterima dan akan dipresentasikan dalam sesi poster. JSPFI ini sebenarnya nggak terlalu nyambung dengan bidang saya (pengolahan citra medis). Kebanyakan sesi oral dan poster-nya ke arah medis murni - bukan engineering... Peserta conference-nya 99.9999% adalah dokter spesialis bidang pulmonary. Jadi semacam kesasar. Menghadiri local conference semacam ini, saya lebih banyak sibuk sendiri (di depan laptop) ketimbang dengerin oral session ato special lecture-nya. Level bahasa Jepang saya masih jauh untuk bisa paham research kedokteran yang dipresentasikan (yang saya duga, seandainya diadakan dalam Bahasa Indonesia-pun, saya nggak nyambung). Conference-nya diadakan di Tokushima, 600Km dari Tokyo. Perjalanan dengan pesawat dari Tokyo butuh waktu 1 jam 10 menit. Ke...

Catatan akhir tahun

Gambar
Tahun 2012, tahun ke-2 saya di Jepang. Ada banyak (sekali) kejadian penting yang terjadi di tahun 2012 ini. Bulan September, the first Swastika family was born in Japan. Saya resmi menjadi seorang papa untuk Hideaki Joshua Swastika. Senang dan sangat sangat bersyukur karena itu artinya Tuhan mempercayai kami untuk merawat dan membesarkan Hideaki. Tuhan tentu bisa menaruh "Hideaki" di rahim siapapun yang Dia mau. Tapi dalam kedaulatanNya, Dia memilih kami untuk merawat dan membesarkan Hideaki. Suatu ketika, ibu gembala gereja lokal kami mengatakan ke saya, "...punya anak itu anugerah Tuhan. Walaupun berusaha, kalau memang belum waktuNya, ya nggak jadi." Saya setuju. Semoga kami yang sudah diberi anugerah ini, bisa senantiasa berhikmat dan punya kekuatan untuk merawat dan membesarkan Hideaki. Amin. Anyway, seperti kata istri saya bahwa masa kecil Hideaki hanya terjadi sekali, setiap hari (sejak hari pertama kelahiran Hideaki) saya (atau istri saya) selalu mengambil ...

Sekilas Korea

Gambar
Kemarin saya (dan dua rekan lab) tiba di Seoul, Korea - untuk pertama kalinya. Tujuan kami untuk mengikuti conference IFMIA di mana kami akan mempresentasikan hasil penelitian kami. Pengalaman buta-aksara kembali terulang, seperti saat pertama kali saya tiba di Jepang. Saya baru sadar, bahwa pengetahuan akan karakter Hangeul saya NOL BESAR. Tidak ada satu karakter-pun yang berhasil saya decode. Saya kira, negara2 Asia Timur seperti Jepang, Korea, Mongol, atau China, bisa bangga karena mereka punya karakter khusus dalam bahasanya. Mereka yg bisa membaca dalam alfabet mendadak buta huruf ketika berhadapan dengan karakter-karakter tersebut. Saya berandai-andai, kalau saja aksara jawa atau huruf palawa menjadi karakter sebagai identitas bahasa Indonesia... Ah, never mind. Karena saya berangkat dengan dua rekan lab - yang adalah Japanese -, maka saya ngikut aja rencana mereka. Jarak dari Incheon Airport ke hotel, cukup jauh. 140Km yang bisa ditempuh dengan bus atau kereta. Mereka sepak...