Postingan

Menampilkan postingan dengan label Japan

Thesis defense

Tanggal 19 Mei kemarin, saya sidang tertutup untuk mempertahankan thesis. Kejadiannya agak unik, karena saya mengira - sesuai dengan informasi dari sensei, bahwa ini adalah pra-sidang (pre-defense). Bayangan saya, ini semacam reharsal sebelum final defense. Jadi setelah ini, bakal ada satu kali lagi sidang tertutup (final defense) - plus satu kali lagi sidang terbuka untuk mempresentasikan hasil penelitian kepada publik. Jadi, saya persiapannya juga biasa-biasa aja. Ada beberapa detail penelitian yang saya skip - karena saya malas mempelajari... Nantilah, kalau udah final defense baru bener-bener saya pelajari, toh ini masih persiapan juga... Benar juga. Pas pre-defense kemarin - yang dihadiri 3 profesor penguji, ada beberapa pertanyaan teknis dari satu profesor yang nggak bisa saya jawab. Dia menanyakan satu rumus yang saya pakai di perhitungan saya, dan saya nggak bisa jelaskan dengan detail (udah gak terlalu inget detailnya). Emang gak saya pelajari bagian itu. Nanti di presenta...

Day care di Jepang dan keadilan sosial

Day care adalah fasilitas publik yang umum dijumpai di Jepang. Di Indonesia mungkin istilah yang sepadan adalah penitipan anak (dalam Bahasa Jepang disebut 保育園 - hoikuen). Orang tua (ayah dan ibu) yang sibuk bekerja bisa menitipkan anaknya yang masih usia 0-2 tahun di day care dari jam 7.30-18.00, baik day care yang dikelola pemerintah, ataupun day care swasta. Ada kebijakan khusus per daerah tentang bisa atau tidaknya orang tua menitipkan anak ke day care. Yang umum, jika kedua orang tua bekerja, maka anak yang berusia 0-2 tahun bisa dititipkan di day care. Aturan umum lain, jika ayah bekerja dan ibu sedang sakit atau hamil, anak usia 0-2 tahun juga bisa dititipkan di day care. Tapi jika hanya ayah yang bekerja, dan ibu di rumah, anak tidak bisa begitu saja dititipkan di day care. Biaya penitipan day care tidak murah. Standard-nya untuk anak usia 2 tahun, biaya penitipan berkisar antara 50-70rb yen (atau sekitar 5-7jt) per bulan. Sedang untuk anak usia 0-1 tahun separuh harga itu....

[Family trip] End Year Trip: Hakone

Gambar
Akhir tahun 2014 kemarin, kami memutuskan untuk family trip. Pertama kalinya kami family trip full-team, saya, istri dan kedua anak. Kami pergi ke Hakone, salah satu tempat wisata yang katanya punya pemandangan alam yang indah. Hakone berjarak 2 jam naik kereta dari Shinjuku (Tokyo). Ada dua jenis kereta yang bisa dipilih,  kereta biasa atau kereta khusus yang disebut Romance Car. Kereta Romance Car lebih nyaman dibandingkan kereta biasa. Kursinya dan interior-nya didesain seperti layaknya kursi dan interior di pesawat, dilengkapi dengan toilet serta makanan yang bisa dibeli di dalam kereta.   Pemerintah daerah Hakone paham betul bahwa daerahnya memiliki potensi wisata yang akan mengundang banyak wisatawan dalam dan luar negeri. Karena itu infrastrukturnya benar-benar diperhatikan. Di Shinjuku, sebagai salah satu pintu gerbang akses menuju Hakone, disediakan FREEPASS atau tiket terusan seharga ¥5.040 yang bebas digunakan untuk naik kereta dan bus ke manapun di daer...

Tawaran menjadi peneliti (di sini)

Saya sudah mendapatkan lampu hijau dari sensei untuk mulai menulis disertasi. Ini sesuatu yang sangat saya tunggu-tunggu. Tanpa ada kalimat "yes, you may start to write your thesis" dari sensei, saya harus terus menunggu (dan meneliti) tanpa ada kepastian kapan bisa lulus. Untungnya kalimat itu sudah terucap 2 bulan lalu sehingga saya (hampir) bisa memastikan untuk sidang thesis semester depan. Kemarin, ada farewell party untuk salah seorang mahasiswi internasional yang magang selama 2 bulan di lab kami. Party-party semacam ini adalah acara informal yang bisa digunakan untuk melakukan lobi-lobi. Sensei melobi (menghasut) mahasiswa bimbingannya untuk meneliti topik ini-itu atau mengikuti conference ini-itu, sementara mahasiswa melobi sensei untuk melengkapi lab dengan ini-itu. Situasinya informal sehingga kedua pihak bisa tawar menawar dengan lebih nyaman. Kalau di situasi formal sehari-hari, apa yang diperintahkan sensei ya harus dilakukan (walopun sambil ngomel2 di belakan...

Buku "200 Kanji Yang Paling Sering Digunakan"

Gambar
Bulan Maret lalu, tanpa saya sadari, buku Kanji yang saya tulis sudah tersedia di toko-toko buku. Buku ini diterbitkan oleh Andi Offset dan bisa dibeli online di  http://andipublisher.com/produk-0114005030-200-kanji-yang-paling-sering-digunakan.html . Sejujurnya saya bukan ahli huruf Kanji. Di awal-awal belajar, saya benar-benar struggling untuk menghafal Kanji yang jumlahnya ribuan itu. Bagi anak-anak Jepang, mempelajari Kanji dasar dibutuhkan waktu 12 tahun, dari kelas 1 SD sampai 3 SMA. Jumlah huruf Kanji yang harus dipelajari di setiap tahun ajaran berbeda-beda. Misal, Kanji untuk kelas 1 SD sejumlah 80 karakter, 2 SD sejumlah 160, 3 SD sejumlah 200, dst. Bagi kami, mahasiswa asing yang ingin mempelajari Kanji (agar sekedar bisa memahami tanda atau membaca pengumuman) tentu tidak memiliki waktu sebanyak itu untuk menghafal Kanji. Saya mengamati, dari sekian banyak Kanji, ternyata hanya beberapa ratus saja yang sering muncul di koran atau majalah. Jika kita bisa fokus unt...

Kunjungan tanpa visa ke Jepang!

Kabar gembira bagi para traveller! Jepang resmi mengumumkan pembebasan visa warga negara Indonesia untuk kunjungan wisata selama 15 hari. Syaratnya hanya satu, yaitu memiliki e-passport. Bagi yang sudah punya e-passport, tinggal cari tiket murah AirAsia (yang kalo lg promo bisa dapet Rp. 3jt PP Indo-Jpn-Indo) lalu bisa nyelonong gitu aja bisa masuk di Haneda atau Narita. Gak pake visa-visa-an (yang kabarnya) sulit dikabulkan. Btw, e-passport berbeda dengan passport biasa. Di dalam e-passport ada informasi biometric yang unik sehingga kecil kemungkinan (mendekati tidak mungkin) untuk memalsukan passport. Kalo passport biasa, asal punya KTP, punya koneksi sama RT dan RW, bisa banget warga negara Indonesia punya lebih dari 1 passport. Kenapa sih kok harus pake e-passport segala? Ceritanya begini. Jepang ini kan lagi mendongkrak sektor pariwisata yang beberapa tahun ini menurun drastis karena issue radiasi nuklir. Tentu agar semakin banyak wisatawan berkunjung ke Jepang, prosedur mas...

Hujan Salju

Gambar
Dua minggu lalu dan minggu lalu, Tokyo (termasuk di dalamnya Chiba) diguyur hujan salju dengan lebat. Hari itu hari Sabtu, dan saya somehow mesti nge-lab. Kalo hujan salju lebat begitu, naek sepeda mesti sangat hati-hati... Nggak cuman naik sepeda, jalan kaki aja mesti hati2. Jalan dipenuhi salju dan licin. Kesannya seperti jalan di antara es serut. Bedanya, es serut sepanjang jalan dan setebel 20-30 cm. Saya sempat mengabadikan foto dashyatnya hujan salju (yang lengkap dengan hawa dingin dan angin kencang) di kampus hari Sabtu lalu. Kalo ini bisa saya generate jadi meme picture, saya akan kasih tulisan: "PIYE KABARE, LE? SEK ENAK URIP NENG NEGORO DEWE TO???"

Oral presentation @ CARS 2014

Gambar
Notifikasi ketika abstrak diterima di International conference itu selalu menyenangkan. Rasanya seperti hasil penelitian yang udah dilakukan berbulan-bulan itu nggak sia-sia. Diakui oleh (setidaknya) panitia reviewer dan dianggap cukup layak untuk dipresentasikan di hadapan rekan-rekan sejawat.  Hari ini saya mendapatkan notifikasi dari Computer Assisted Radiology and Surgery (CARS, http://www.cars-int.org/cars_2014.html ), konferensi internasional yang fokus pada penerapan komputer untuk meningkatkan akurasi medical treatment. Konferensi ini sudah berlangsung sejak 15 tahun yang lalu, dan (sayangnya) tahun ini diselenggarakan di Fukuoka, Jepang. Saya sebenarnya berharap CARS tahun ini diadakan di negara Eropa seperti tahun-tahun sebelumnya - jadi sembari conference, bisa jalan-jalan... Kalo diselenggarakan ke Jepang, ya... sudahlah.  Yang membuat saya terhibur dengan diselenggarakan di Fukuoka adalah bahwa rekan yang juga menempuh studi S3, Pak Romy, juga tinggal d...

Dokter gigi di Jepang

Gambar
Kartu di atas adalah kartu klinik gigi saya. Total sudah 10 kali ke klinik gigi - dan kunjungan berikutnya dua bulan lagi (bulan Maret). Dari kunjungan di atas, coba tebak, ada berapa gigi saya yang bermasalah? Empat? Lima? Faktanya, ke-10 kunjungan di klinik gigi itu, hanya untuk merawat sebuah gigi geraham bawah. Iya, merawat SATU gigi geraham yang ada sedikit masalah dengan tambalannya. Ceritanya, gigi geraham no 31 saya pernah lubang dan ditambal di Indonesia, kurang lebih 5-6 tahun yang lalu. Bulan Oktober lalu, saya merasa ada yang nggak beres dengan tambalannya - agak sakit kalau digunakan untuk mengunyah makanan yang keras. Waktu saya sempat balik ke Indonesia, saya coba cek ke dokter gigi, dan dicek selama 2 menit, lalu dibilang tidak ada masalah dengan tambalannya. Sekembalinya ke Jepang, saya masih ngerasa ada yang nggak beres dengan tambalannya. Sakitnya seperti gigi yang berlubang kalau dibuat menguyah makanan yang keras. Saya kontrol ke klinik gigi Suzuki ( ht...

Mami di Jepang

Gambar
Kalau di TV era lama sering ada drama tentang guru SD yang mengabdi dan mengajar sampai puluhan tahun, saya kira itu nggak berlebihan (sekarang sih, sinetron yang mengangkat kisah semacam itu, mungkin kurang laku). Mami saya adalah living proof seorang ibu yang mengabdi sebagai guru SD selama lebih dari 30 tahun, sejak tahun 1970-an. Tiga puluh tahun bukan waktu yang singkat. Kalau dalam setahun akademik ada 250 hari dan setiap hari mengajar selama 6 jam, maka jam terbang mengajar mami sudah mencapai 45.000 jam! Kalo gelar doktor bisa diraih dalam 3 tahun, dalam rentang waktu 30 tahun mengajar, mami mestinya sudah punya 10 gelar doktor di bidang "guru SD"!   Anyway, mami tahun lalu sudah masuk masa pensiun karena sudah memasuki usia 60. Mami sekarang sudah bisa menikmati masa pensiun dengan tenang. Semua kerja keras yang dilakukan selama 30 tahun terakhir, terbayar sudah. Kerja keras ketika harus bangun pagi, menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya, berangkat mengajar...

Pindah ruang lab.

Gambar
Lab kami semakin padat dengan bergabungnya beberapa mahasiswa baru. Dengan semakin banyak anggota lab, maka ruangan lab yang lama sudah tidak lagi muat sehingga sensei mengambil alih sebuah ruang kosong yg tidak terpakai, yang kemudian dijadikan lab. Kemarin saya pindah ke lab baru ini. Di lab ini hanya ada 6 orang (termasuk saya) yang masuk dalam kategori penelitian tentang citra MRI (Magnetic Resonance Imaging). Dua orang mahasiswa master tahun ke-2, seorang mahasiswa master tahun pertama, dan dua orang mahasiswa bachelor tahun ke-4. Semuanya Japanese - which is good karena akan memaksa saya berinteraksi dengan mereka dalam bahasa Jepang. Kalo di lab sebelumnya, ada 2 orang mahasiswa internasional dari China. Seorang diantaranya cukup dekat dengan saya karena satu angkatan dan mejanya selalu bersebelahan dengan saya sejak saya bergabung di lab. Kami selalu berbicara dalam bahasa Inggris (yang tentunya kurang baik kalau memang ingin meningkatkan kemampuan bahasa jepang). Now, time...

Simposium di Osaka

Gambar
Osaka. Salah satu kota yang cukup terkenal di Jepang. Sebelum saya ke Jepang, saya mendengar Osaka berulang kali - entah di mana... Mungkin di pelajaran geografi, ekonomi atau membaca di koran. Minggu lalu, hari Jumat saya dan 3 orang rekan lab berangkat ke Osaka untuk menghadiri simposium ( The Fourth International Symposium on the Project "Computational Anatomy" ). Peserta simposium adalah universitas-universitas yang mendapatkan hibah dari kementerian pendidikan Jepang dan wajib menyampaikan capaian penelitian-nya. Karena lab kami termasuk salah satu penerima hibah, maka kami (atau sensei) berkewajiban mempresentasikan apa yang sudah dicapai pada tahun fiskal 2012 lalu. Kami berangkat ke Osaka hari Jumat dan kembali ke Tokyo hari Minggu. Jarak Tokyo-Osaka sekitar 510km (kurang lebih sama dengan jarak Jogja-Jakarta). Alih-alih naik pesawat, kami memilih transportasi  menggunakan shinkansen (kereta cepat). Harga tiket PP Tokyo-Osaka adalah 22rb yen (discount sebesar 20% ...

Conference di Okinawa

Gambar
Tanggal 24 dan 25 Januari lalu, saya ikut conference (lagi) untuk presentasi poster. Kali ini bertempat di Okinawa. Awalnya saya sedikit ogah2an ikut conference kali ini. Lah, minggu lalu baru dari Tokushima, sekarang berangkat lagi ke Okinawa. Mana harus meninggalkan keluarga 2 malam lagi... (tanggal 23 pagi berangkat dan 25 malam tiba di Tokyo). Tapi karena di Jepang menganut sensei's wish is our command, ya sudah. Saya dan seorang rekan lab berangkat menuju Okinawa. Saya baru 'ngeh' kalo Okinawa adalah tempat wisata favorit di Jepang. Seperti Bali di Indonesia, seperti Hawaii di Amerika. Ketika minggu-minggu ini di Tokyo suhunya 0 derajat, di Okinawa suhu berkisar 18-20 derajat... Gak kenal musim dingin, apalagi salju. Make sense, karena letaknya di ujung selatan Jepang, 1500 Km dari Tokyo. Lokasi conference-nya di jalan yang namanya "kokusai dori". Kokusai dori ini mirip dengan jalan Kute di Denpasar, Bali. Di kiri-kanan banyak toko2 asesoris dan selalu di...

Conference di Tokushima

Gambar
Hari Sabtu dan Minggu lalu (12-13 Jan), saya ke Tokushima untuk menghadiri The 5th Japanese Society Pulmonary Functional Imaging (JSPFI). Abstrak saya dengan topik rekonstruksi otomatis 4D-MRI untuk gerakan pernafasan diterima dan akan dipresentasikan dalam sesi poster. JSPFI ini sebenarnya nggak terlalu nyambung dengan bidang saya (pengolahan citra medis). Kebanyakan sesi oral dan poster-nya ke arah medis murni - bukan engineering... Peserta conference-nya 99.9999% adalah dokter spesialis bidang pulmonary. Jadi semacam kesasar. Menghadiri local conference semacam ini, saya lebih banyak sibuk sendiri (di depan laptop) ketimbang dengerin oral session ato special lecture-nya. Level bahasa Jepang saya masih jauh untuk bisa paham research kedokteran yang dipresentasikan (yang saya duga, seandainya diadakan dalam Bahasa Indonesia-pun, saya nggak nyambung). Conference-nya diadakan di Tokushima, 600Km dari Tokyo. Perjalanan dengan pesawat dari Tokyo butuh waktu 1 jam 10 menit. Ke...

Sekilas Korea

Gambar
Kemarin saya (dan dua rekan lab) tiba di Seoul, Korea - untuk pertama kalinya. Tujuan kami untuk mengikuti conference IFMIA di mana kami akan mempresentasikan hasil penelitian kami. Pengalaman buta-aksara kembali terulang, seperti saat pertama kali saya tiba di Jepang. Saya baru sadar, bahwa pengetahuan akan karakter Hangeul saya NOL BESAR. Tidak ada satu karakter-pun yang berhasil saya decode. Saya kira, negara2 Asia Timur seperti Jepang, Korea, Mongol, atau China, bisa bangga karena mereka punya karakter khusus dalam bahasanya. Mereka yg bisa membaca dalam alfabet mendadak buta huruf ketika berhadapan dengan karakter-karakter tersebut. Saya berandai-andai, kalau saja aksara jawa atau huruf palawa menjadi karakter sebagai identitas bahasa Indonesia... Ah, never mind. Karena saya berangkat dengan dua rekan lab - yang adalah Japanese -, maka saya ngikut aja rencana mereka. Jarak dari Incheon Airport ke hotel, cukup jauh. 140Km yang bisa ditempuh dengan bus atau kereta. Mereka sepak...

Mengurus Visa Korea di Jepang

Minggu ini, saya akan ke Korea (selatan) untuk presentasi poster di IFMIA (International Forum on Medical Imaging in Asia), tepatnya di Daejeon. Bagi warga negara Jepang, pergi ke Korea tidak memerlukan visa karena ada kerja sama bilateral. Sama seperti WNI yang pergi ke negara-negara ASEAN. Awalnya saya pikir saya juga nggak perlu visa untuk ke Korea. Beberapa forum menyebutkan bahwa WNI bisa masuk ke Korea TANPA perlu visa. Namun itu hanya berlaku untuk pemegang passport biru (passport dinas). Sementara untuk rakyat biasa (seperti saya), visa Korea mutlak diperlukan untuk bisa masuk ke Korea. Minggu lalu, saya mengurus visa Korea. Situasinya agak unik karena saya warga negara Indonesia, tinggal di Jepang dan mengurus visa untuk pergi Korea. Pengurusannya ternyata sederhana - tidak serumit ketika mengurus visa ke Amerika dulu. Cukup mengunduh formulir aplikasi visa di sini , isi dan bawa ke Embassy of South Korea di Tokyo. Biaya pembuatan visa sebesar 2400 yen dan jadi dalam wakt...

Hectic month of the year

Bulan September kemarin adalah bulan yang hectic. Ada banyak hal yang harus diselesaikan - dan semuanya pertama kali saya lakukan. Nggak ada pengalaman sebelumnya. Pertama, kami harus pindah dari asrama ke private apartment. Ada batas maksimum untuk dapat tinggal di asrama bagi mahasiswa internasional. Untuk kami, bulan September adalah bulan terakhir untuk bisa tinggal di asrama. Jadi kami harus mencari apartemen. Mencari dan menyewa apartemen di Jepang, nggak semudah mencari kos-kos-an di Indonesia yang hari ini ketemu ma ibu kos-nya, negosiasi dan hari itu juga bisa langsung masuk dengan modal KTP.  Di Jepang, menyewa apartemen ribetnya kayak beli rumah. Identitas harus jelas, mesti ada penjamin, mesti meng-asuransi-kan apartemen dari bencana alam, tanda tangan kontrak dengan berbagai macam aturan... ribet. Fakta bahwa kami adalah orang asing, sedikit banyak menambah faktor kesulitan dalam mendapatkan apartemen. Dari sekian banyak apartemen yang kami kunjungi, kami akhirnya me...

Pengurusan dokumen melahirkan di Jepang

[Catatan pribadi berkenaan dengan dokumen-dokumen setelah melahirkan di Jepang] Sebenarnya prosedurnya nggak terlalu rumit kalau sudah tahu prosedurnya. Semua prosedur sudah tercatat dengan jelas. Hanya saja seringkali bahasa menjadi kendala. Berikut adalah catatan pengurusan dokumen kelahiran anak di Jepang (based on true story). Ketika bayi dari orang tua berwarga negara Indonesia lahir di Jepang, maka passport, visa dan KTP Jepang mutlak diperlukan. Apa bisa bayi bisa memiliki passport? Bisa dan memang wajib memiliki jika bayi tersebut tinggal di luar negeri. Prosedur untuk mengurus passport adalah: Terlebih dulu melaporkan kelahiran di kantor kota (区役所/kuyakusho) atau kantor kecamatan (市役所/shiyakusho) paling lambat 14 hari sesudah kelahiran anak. Tentunya nggak bisa ujug-ujug datang dan bilang bahwa anak sudah lahir. Laporan kelahiran membutuhkan dokumen yang disebut Surat keterangan lahir (出生届/shusei todoke) yang diberikan oleh rumah sakit atau klinik di mana ana...

Takjub!

Gambar
4 September 2012 05.30 Pagi itu, kami bangun pagi sekali. Buru-buru menelepon taksi untuk pergi ke klinik. Ketuban sudah pecah, airnya membasahi celana dan baju tidur yang dipakai istri saya. Jarak dari tempat tinggal kami ke klinik hanya 5 menit naik taksi. 3 September 2012, hari H-1 21.30 Sebenarnya tidak ada tanda-tanda akan melahirkan. Sama sekali. Tapi toh, setelah selesai makan malam saya tetap mengatakan ke istri apa yg saya rasakan selama ini. "Besok lahir...", kata saya pendek. Istri cuman senyum, antara yakin dan kurang yakin. "Besok ato kalo nggak ya lusa...", kata saya lagi. 4 September 2012 08.00 Di ruang bersalin itu, ada sebuah tempat tidur yang memang didesain untuk persiapan melahirkan. Di samping2nya ada tempat untuk meletakkan telapak kaki, yang dapat memudahkan untuk dijejak saat mengejan. Tuas di samping2nya juga bisa disetel agar pas dengan jangkauan kedua tangan dan bisa digenggam ketika kontraksi terjadi. Saya berada di ruang ...

Mana yang dipriotaskan? Keluarga atau karir?

Gambar
Saya menuliskan sebuah kalimat di salah satu posting tanggal 3 Juli bulan lalu, 'Ohana means family, family means nobody gets left behind. Or forgotten.' Quote yang saya ambil dari film Lilo and Stitch, film produksi Disney sepuluh tahun yang lalu, yang somehow, quotenya masih saya ingat sampai sekarang. Kalo para ayah diberikan pertanyaan "Mana yang dipriotaskan? Keluarga atau karir?", saya yakin sembilan dari sepuluh ayah yang normal pasti akan menjawab, "Keluarga saya lebih penting ketimbang karir..." Soal yang tentu terlalu gampang bagi para ayah.  Menjawab berbeda dengan praktek. Dua minggu lalu, waktu saya dan istri ke dokter untuk mengontrol kandungan yang masuk di minggu ke-33 (atau bulan ke-8), dokter mengatakan bahwa bayi kami sehat dan semua normal. Puji Tuhan. Senang mendengar apa yg disampaikan oleh dokter itu. Namun  hal yg dikhawatirkan oleh dokter yang nggak mau berbicara pake Inggris itu adalah cervix insufficiency istri yang be...