Postingan

Kisah Rujak Petis

Gambar
Bulan depan, genap 10 bulan saya di Jepang. Most likely, masih ada 40 bulan lagi yang akan saya lewati di sini. So exciting...dan mulai terbiasa dengan gaya hidup di Jepang yang serba tepat waktu. Ngerti rasanya ditinggal ditinggal kereta gara-gara telat beberapa detik. Kalo di Indonesia, ada angkot yang mau jalan, kita masih bisa lari2 ngejar angkotnya... Dan, para penumpang di dalamnya biasanya akan ber-baik hati untuk menyuruh sopir berhenti agar kita bisa naik. Juga pas angkot nggak mau jalan2 karena nunggu penuh, penumpang juga nggak protes. That's the way it is... Kalo mau ya monggo naek, kalo nggak... ya beli aja kendaraan pribadi. Di sini, makan di depot ato restoran harus mengikuti aturan baku yang ditetapkan. Sebagian restoran, di dekat pintu masuk dilengkapi dengan vending machine yang ada gambar2 makanan yang siap dipilih. Pembeli tinggal masukkan uang, dan pencet gambar/tombol sesuai dengan makanan yang mau dibeli. Vending machine akan mengeluarkan selembar tiket yang ...

(Kisah) Belajar Bahasa (Jepang) - part 5

Suatu hari, ketika belajar Bahasa Jepang, saya dapet pewahyuan. Bukan pewahyuan tentang akhir jaman. Bukan juga pewahyuan tentang siapa presiden Indonesia 2014. Pewahyuan-nya simple, belajar bahasa Jepang tanpa belajar Kanji, ibarat makan rawon tanpa kuah. Ada yang kurang. Tapi sebaliknya, kalo belajar Kanji doang tanpa belajar (grammar) bahasa Jepang, ibarat makan rawon tapi kuah doang. Masih enak - apalagi kalo kuahnya kuah rawon Nguling. Pewahyuan ini, bikin saya memutuskan untuk secara serius belajar Kanji. Jumlah karakter Kanji standard yang dipakai di Jepang ada 2.136 biji (joyo Kanji istilahnya). Artinya 99% tulisan dalam Bahasa Jepang, dapat dipastikan menggunakan karakter yang termasuk dalam 2.136 itu. Kalo kita hafal/ngerti arti 2.136 kanji tersebut, berarti mau baca tulisan apapun, pasti secara garis besar bisa ngerti. Tapi kalo nggak hafal satupun, walopun grammar Bahasa Jepang-nya udah tingkat dewa-dewi, baca tulisan apapun dijamin nggak bisa. Jadilah 5 bulan lalu, saya me...

Seminar dan Bahasa Inggris

Saya baru saja selesai seminar di Lab. Sebagai peserta, bukan pembicara. Seminar kali ini, somehow, interesting. Ceritanya, acara seminar ini rutin diadakan setiap hari Kamis. Pesertanya adalah anggota lab (yang terdiri 3 orang mahasiswa S1 tahun akhir, 4 orang mahasiswa S2 tahun pertama, 3 orang mahasiswa S2 tahun kedua, 2 orang mahasiswa doktor tahun ke-2 dan 2 research student). Setiap anggota lab dapet giliran presentasi sekali atau 2 kali dalam 1 semester. Topik presentasi bebas, tapi HARUS bersumber dari jurnal internasional berbahasa Inggris dan yang berhubungan dengan topik yang sedang diteliti. Jadi, kalo lagi neliti dengan citra MRI untuk organ pernafasan, nggak relevan banget kalo di seminar membahas tentang perjalanan ke Gunung Bromo. Juga nggak boleh kalo topik presentasinya diambil dari majalah Trubus ato koran Surya, apalagi kalo sampe kopi-paste thread di kaskus. HARUS jurnal internasional. Tujuannya, agar si presenter belajar memahami bagaimana si penulis jurnal melaku...

(Kisah) Belajar Bahasa (Jepang) - part 4

Nggak ada bahasa di dunia ini yang gampang. Setiap bahasa memiliki kesulitan tersendiri. Kalo ada yang bilang Bahasa Indonesia gampang, pasti yang ngomong adalah orang Indonesia yang sejak orok udah diajak ngomong pake Bahasa Indonesia, sekolah pake Bahasa Indonesia, nggosip dengan temen pake Bahasa Indonesia, baca koran yang isinya kisah-kisah seputar Indonesia, bahkan dalam mimpi pun, Bahasa Indonesia yang digunakan. Jadi nggak heran, kalo bagi orang semacam ini, Bahasa Indonesia itu gampang. Saya nggak lahir di Jepang. Sejak orok nggak pernah diajak ngomong Jepang. Pas sekolah juga nggak ada Bahasa Jepangnya (kecuali pas belajar PSPB tentang pembentukan PPKI yang disebut Dokuritsu Junbi Inkai - my first Japanese language encounter). Selama ini baca koran juga pake alfabet yang nggak ada mirip2nya dengan Kanji. Pas mimpi, juga nggak pernah ketemu orang Jepang yang ngajak ngomong Jepang. Semua serba Bahasa Indonesia. Jadilah, ketika di Jepang ngerasakan sulitnya (belajar) Bahasa Jepan...

Iman kepada Tuhan

Nggak tau udah berapa kali saya pingin posting topik ini, tapi nggak kesampaian terus karena ngerasa ada yang lebih penting untuk dikerjakan. Judulnya rada-rada garing. Yang nggak percaya Tuhan, tetep boleh baca - sapa tau nanti jadi beriman. Yang sudah beriman, semoga bisa lebih beriman. Saran saya, bacanya sampe selesai, karena kalo dibaca hanya separuh nanti bisa menimbulkan salah persepsi. Ceritanya, sudah hampir 8 bulan saya tinggal di Jepang, negara yang memberikan kebebasan seluas-luasnya untuk beribadah, tapi 85% lebih warganya malah tidak memeluk agama apapun. Statistik menunjukkan bahwa kurang dari 15% warga Jepang yang memiliki dan menjalankan ibadah agama (sumber http://en.wikipedia.org/wiki/Religion_in_Japan ). Saya juga ngerasa kayak gitu, jaraaaaanng sekali muncul issue tentang keagamaan atau Tuhan (lah wong orang2nya nggak beragama, ya ngapain juga debat ato sampe berselisih tentang agama). Hampir nggak ada acara religi di televisi (sapa juga yang mau nonton?). Nggak ad...

Enjoying Golden Week (part 1)

Gambar
Enjoying Golden Week Part 1, episode: Golden week is coming Bayangkan, dalam 7 hari ada 4 hari besar (libur) berturut-turut! Empat hari besar yang jatuh di minggu pertama bulan Mei (musim semi, musim terbaik sepanjang tahun dengan suhu yang hangat, cuaca yang cerah dan bunga2 mekar dengan indahnya di sepanjang jalan). Orang-orang Jepang menyebut minggu tersebut sebagai Golden week. Di Indonesia, libur semacam ini mirip dengan libur Lebaran di mana hampir semua aktivitas kantor diliburkan selama seminggu penuh, sekolah diliburkan, dan sebagian besar warga menghabiskan waktunya untuk pulang kampung atau berlibur bersama keluarga. Di Amerika atau Eropa, Golden week setara dengan libur natal dan tahun baru yang juga merupakan hari libur berturut-turut. Tahun ini adalah tahun pertama kami menikmati Golden week di Jepang. Saya meliburkan diri, menghentikan total kegiatan research. Tempat istri saya belajar bahasa Jepang, Ichikawa Language Institute, juga diliburkan selama seminggu penuh. Wak...

Selamat ulang tahun, Mrs. Swastika

Hari ini, 25 April 2011, istri saya berulang tahun. Di ulang tahunnya yang ke-26 ini, untuk pertama kalinya dia berulang tahun di Jepang, sekaligus pertama kalinya berulang tahun sebagai Mrs. Swastika. Officially, kami sudah tinggal di Jepang selama 4 bulan. Kami baru saja menikah ketika berangkat ke Jepang. Waktu itu, teman-teman di Indonesia banyak yang bilang, "wah, enak ya... baru nikah langung honeymoon ke Jepang". Saya setengah setuju dengan term "Honeymoon" yang digunakan. Kalo ini honeymoon, setelah 1 atau 2 minggu, kami segera balik ke Indonesia. Menikmati kembali indahnya mentari Indonesia dan keramah-tamahan warganya. Menikmati kembali enaknya soto ayam dan pedesnya tempe penyet yang bisa dibeli dengan harga kurang dari 100yen (sementara kalo di Jepang, sudah untung kalo bisa dapet cabe doang dengan harga 100 yen). Kami berencana tinggal di sini sampai 4 tahun ke depan. Dalam 4 tahun, fase honeymoon akan sudah lewat, dan digantikan dengan fase membangun k...