Friday, December 20, 2013

Seni mempertahankan pegawai

Semua yang saya tulis ini sebenarnya teoritis dan imajiner. Saya nggak punya perusahaan dan nggak punya pegawai... Jadi ya... (disclaimer section) bisa jadi saya salah. Bisa jadi nggak pas. Bisa jadi keliatan sok keminter padahal nggak tau apa-apa... bisa jadi muncul komentar, "nggak semudah itu...".

Anyway, di suatu perusahaan dengan jumlah pegawai lebih dari 50, pasti berlaku yang namanya sebaran normal Gaussian.

image credit: http://hyperphysics.phy-astr.gsu.edu/hbase/math/immath/gauds.gif

Ada pegawai yang kinerjanya sangat excellent, ada pegawai yang kinerjanya biasa saja (sekedar menjalankan tugas yang diberikan), ada pegawai yang kerjanya hanya menggerutu kalo diberi kerjaan. Kurva sebaran normal kualitas pegawai ini berlaku... Artinya jumlah pegawai dengan kinerja biasa saja akan menduduki persentase tertinggi - sedangkan pegawai yang ekstrem (punya kinerja excellent atau kinerja yang buruk) ada di sisi kiri dan kanan (jumlahnya lebih sedikit daripada pegawai dengan kinerja biasa saja). - Sebaran normal semacam ini juga berlaku di kelas (ada mahasiswa excellent, banyak mahasiswa yang biasa saja, dan ada pula mahasiswa yang tidak berada di dua kategori sebelumnya).

Pegawai yang excellent (yang jumlahnya nggak banyak itu), perlu dipertahankan agar perusahaan bisa memiliki kinerja yang baik dan nama perusahaan semakin dikenal (kalo perusahaannya belum terkenal). Otherwise, perusahaan akan jalan di tempat (kalo nggak malah jadi mundur).

Mempertahankan pegawai yang excellent (atau yang berpotensi untuk menjadi excellent) itu butuh "seni". Bukan ilmu, tapi seni. Simply karena pegawai itu manusia - bukan mesin. Punya kebutuhan personal yang berbeda antara satu dengan yang lain. Nggak bisa disamakan... Nggak bisa dibilang, "lah, si A diberikan perlakuan seperti dia udah loyal kok ma perusahaan... kalo gitu si B yang excellent ini jg akan kita perlakukan sama kayak si A agar bisa loyal." Belum tentu hasilnya sama. Si B bisa jadi harus diperlakukan yang bertolak belakang dengan si A agar bisa loyal. Ini yang saya bilang seni - nggak bisa di-samaratakan...

Gawatnya, pegawai seperti si B yang excellent ini, punya bargaining power yang besar yang dengan gampang bisa mengucapkan, "saya perlu ini... kalo perusahaan memang nggak mau (ato nggak bisa, ato keberatan) ya nggak papa sih... saya bisa resign daripada membenani perusahaan." - tentu kalau pihak perusahaan juga punya bargaining power, akan dengan mudah bilang, "resign-resign-o, karepmu... ora patheken aku duwe pegawai koyok kowe! sek akeh pegawai seng gelem kerjo ndek kene...", ato "onok kowe opo nggak onok kowe, perusahaan iki tetep mlaku... metu-metu o sak karepmu, aku golek seng liyane... weeeekkk!!!", ato "lek njaluk e macem2 yo golek o kerjo ndek mars kono lo, sopo eruh diterimo...", ato dengan singkat pihak perusahaan mengatakan, "kate metu? yo metu o..."

Ini yang saya bilang butuh seni untuk mempertahankan orang-orang terbaik di perusahaan. Sayang kan kalau pimpinan suatu perusahaan harus kehilangan orang-orang terbaiknya karena nggak paham seni mempertahankan pegawai. Kalo perusahaan memang perlu, si pegawai bisa dipertahankan dan terbukti bisa meningkatkan kinerja perusahaan, ya kenapa harus kehilangan? Perhatikan secara personal apa yang menjadi kebutuhannya. Pimpinan perlu peka terhadap apa yang menjadi passion dari si-pegawai - dan memastikan bahwa passion-nya tersebut bisa dimanifestasikan di perusahaan ini.

Atau skenario lain, mungkin pimpinan mengerti benar tentang seni mempertahankan pegawai yang excellent... tapi ada rule perusahaan yang mengganjal sehingga pegawai yang punya kinerja excellent tidak dapat dipenuhi kebutuhannya. Kalau memang berbenturan dengan rule perusahaan sehingga kebutuhan si pegawai tadi nggak bisa terpenuhi, maka kemungkinan perusahaan tersebut memang bukan tempat yang cocok untuk si pegawai...atau si pegawai yang memang nggak cocok kerja di lingkungan perusahaan tersebut...

Monday, December 9, 2013

Seminar Third Culture Kids

Third Culture Kids - istilah yang baru pertama kali saya dengar 1 bulan terakhir. Yang dimaksud dengan TCK adalah anak-anak yang tumbuh di lingkungan dengan budaya yang berbeda dengan budaya asli orang tuanya. Contoh konkritnya adalah anak yang memiliki orang tua Indonesia, lalu anak tersebut tumbuh di luar negeri (semisal Jepang). Anak-anak yang demikian akan membentuk budaya baru yang mengadopsi sebagian budaya orang tua dan sebagian lagi budaya di mana dia tumbuh.

Budaya baru yang terbentuk inilah yang disebut dengan Third Culture (budaya ketiga).
Si anak yang memiliki third culture ini disebut TCK.

Hari minggu kemarin, gereja kami mengadakan seminar tentang Third Culture Kids (TCK). Tujuannya tentu agar para orang tua (yang sebagian besar adalah orang Indonesia yang tinggal di Jepang dan memiliki anak yang sekolah dan (akan/sedang) menyerap budaya Jepang) dapat paham tentang kebutuhan khusus dari anak mereka.

Seminar ini menarik karena pembicaranya adalah ibu gembala kami - yang memiliki first hand experience dalam membesarkan kedua anaknya yang mengadopsi Third Culture. Ibu gembala kami memiliki dua anak lelaki yang saat ini baru lulus SMA dan satu lagi akan segera lulus SMA. First language kedua anaknya adalah Inggris dan Jepang.

Saya belajar banyak hal tentang TCK kemarin (yang nggak pernah terpikir sebelumnya). Kalau nggak lewat seminar ini, tentu akan banyak kesalahan yang akan kami lakukan (seandainya kami nanti membesarkan anak di luar negeri).

Contoh praktis:
Anak yang lahir atau tumbuh di luar negeri dengan bahasa yang berbeda, HARUS(!) dipaksa untuk menguasai bahasa asli orang tuanya. Bahasa asli orang tuanya HARUS menjadi first language dari si anak! Saya sendiri dulu  mikir, keren kalo anak saya punya first language bahasa Inggris. Kalo Bahasa Indonesia, nanti kan bisa sendiri. Keliatannya keren. Tapi akan jadi masalah ketika si anak sudah beranjak dewasa di mana first language si anak berbeda dengan first language orang tua.

Ambil contoh konkrit, misal seorang gadis yang beranjak dewasa memiliki first language Inggris dan first language orang tuanya bahasa Indonesia. Kemudian si anak bertanya, "Mom, I think I just got my first period... I don't know mom, but somehow I feel so embarrassed... What should I do?". Kalau si mama punya kemampuan Bahasa Inggris level wahid, tentu si mama akan dapat menenangkan putrinya dengan mudah, "Don't worry honey, it's normal... You will have it every month. All you have to do is ... bla bla bla...". Kalo si anak terus nanya, "kenapa sih kita harus ngalami haid tiap bulan?" - ato, "gimana sih ma, proses haid bisa sampe terjadi?". Repot kan kalau si mama nggak bisa njelaskan dengan clear karena first language-nya nggak sama dengan putrinya. Walopun bukan ahli biologi, tapi si mama akan bisa menjelaskan dengan jauuuh lebih baik dalam bahasa Indonesia ketimbang harus menjelaskan dalam Bahasa Inggris.

Demikian juga anak cowok. Saat masih kecil, tentu pertanyaan-nya masih sederhana dan orang tua masih dapat dengan mudah menjelaskan apa yang ditanyakan si anak... Pertanyaan, "Dad, where I come from?", tentu dapat dengan mudah dijelaskan, "You are created by God... bla bla bla..." (tuh kan, saya pikir gampang, tapi ternyata agak bingung juga menjawab pertanyaan tersebut dalam bahasa Inggris).

Ketika beranjak dewasa, pertanyaannya akan meluas ke ranah politik, ekonomi, keyakinan, atau mendiskusikan tentang datingnya dengan cewek lain, misal "Kenapa aku harus percaya Tuhan yang nggak bisa aku lihat?", "Aku suka sama si cewek itu, kalau menurut papa/mama gimana?", "Pa, aku pingin jadi astronot, enaknya ambil kuliah apa...?", dll.   Kalau orang tua nggak bisa nyaman menjelaskan dengan bahasa yang dimiliki si anak, tentu si anak akan stress, ngerasa bahwa jawaban orang tuanya ngambang - dan akibatnya si anak akan mencari informasi dari sumber lain yang bisa membuat dia lebih lega. Si orang tua juga akan stress karena ngerasa nggak bisa deliver message dengan baik.

Menentukan first language adalah keputusan orang tua. Sekali first language anak terbentuk, maka first language itu nggak bisa di-undo (dan akan menjadi milik si anak seumur hidupnya!).

Dulu saya nggak pernah mikir sejauh itu... Tapi sekarang jadi bisa memperkirakan bahwa ini adalah sesuatu yang memang serius dan harus benar-benar bijak untuk memutuskannya. Sama seperti first language yang kita punyai saat ini. Nggak peduli seberapa pinternya kita menguasai second language, kita tetap akan merasa lebih enak dan nyaman menjelaskan dalam first language kita.

Thank you buat ibu gembala yang sudah deliver seminarnya dengan baik dan menambah pengetahuan kami. Semoga segera menjadi kebijakan/hikmat saat kami mendidik anak).


Friday, November 1, 2013

Bayi dan prosedur rumah sakit

Saya sebenarnya bukan tipe orang yang suka komentar panjang lebar terhadap suatu berita.
Tapi berita yang satu ini menarik perhatian saya.

Di Kompas.com kemarin ada berita bertajuk, "Ditolak di RS, Bayi Ini Meninggal di Depan Loket". Kejadiannya di Sulawesi Selatan. Kronologisnya, si bayi (usia 2 bulan) yang sedang sakit, dibawa ke puskesmas oleh orang tuanya. Puskesmas merujuk ke rumah sakit agar si bayi bisa ditangani di sana. Namun ketika sampai rumah sakit, pihak rumah sakit menjalankan prosedur pelayanan untuk warga miskin, yaitu menyerahkan KTP, surat rujukan dari puskesma serta meminta surat keterangan lahir. Karena tidak membawa surat keterangan lahir, sang ayah meminta agar bayi dapat dilayani terlebih dulu. Saat sang ayah berdebat dengan pegawai di loket rumah sakit agar bayi dapat ditangani lebih dulu, bayi dalam gendongan ibunya itu meninggal.

Miris dengar beritanya. Apalagi saya juga punya seorang anak yang masih bayi. Saya masih belum ingin berkomentar panjang lebar. Saya menunggu berita bagaimana pihak rumah sakit mengomentari kejadian ini. Perlu untuk mendengar dari dua pihak sebelum kita bisa benar-benar paham situasinya sehingga tidak terjebak mengadili si itu yang salah atau si ini yang benar.

Hari ini berita tersebut dilanjutkan, "Bayi Meninggal di Depan Loket, Ini Jawaban Pejabat RS"
Jawaban dari pihak rumah sakit, yang diwakili oleh kepala bidang pelayanan, adalah, "Kami melayani pasien sesuai prosedur." Prosedur yang dimaksud adalah: (1) pelayanan untuk warga miskin wajib menunjukkan KK, KTP dan surat keterangan lahir untuk pelayanan bayi. (2) bayi tersebut dirujuk ke poli anak, dan bukan UGD. Karena pasien (bayi) tidak membawa surat keterangan lahir, maka bayi tersebut tidak dapat diberi pelayanan sebelum menunjukkan surat keterangan lahir.

Benar. Saya setuju pelayanan rumah sakit tersebut sesuai dengan prosedur.

Prosedur memang harus dijalankan dengan baik agar sistem dapat berjalan dengan baik.

Namun di luar prosedur ada yang namanya kebijakan. Butuh orang-orang yang bijaksana untuk memutuskan kapan prosedur tetap dijalankan, dan kapan prosedur bisa disesuaikan (atau dilanggar) demi kepentingan yang lebih urgent. Ini bukan lagi tentang kepandaian. Bukan lagi tentang gelar yang berderet-deret. Bukan lagi tentang berapa lama sudah menempuh pendidikan. Ini tentang bertindak dengan bijaksana (yang sayangnya, nggak pernah ada mata pelajaran atau mata kuliah "Kebijaksanaan" di sekolah dan universitas manapun di dunia).

Orang pandai dengan gelar berderet-deret nggak selalu bijak, dan berlaku sebaliknya.

Kalau semua pejabat, manager, direktur menjalankan prosedur tanpa ada kebijakan, lalu apa gunanya jabatan yang lebih tinggi? Apa gunanya kuliah? Cukup lulusan SMP atau SMA, kemudian diberi tahu prosedurnya, jalankan ini, ini, dan itu. Selesai. Itu sebabnya di Jepang, nggak perlu lulusan S1 untuk bisa kerja part-time menjadi kasir di supermarket, pelayan di rumah makan atau pengantar koran. Anak SMA-pun bisa karena prosedur sudah ada dan tercatat. Tinggal dieksekusi.

Ada banyak kasus, di tengah-tengah melakukan eksekusi yang sesuai prosedur tersebut, seringkali perlu kebijakan demi hal yang lebih penting. Di sini peran manajer atau direktur nampak. Mereka digaji tinggi bukan untuk menjalankan prosedur, tapi bisa berlaku bijak pada kondisi yang memang perlu.

Menjadi bijaksana adalah hal yang penting dalam hidup. Itu sebabnya kita berdoa "Ajarlah kami menghitung hari-hari  kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.", bukan "Ajarkan kami menghitung kalkulus dengan benar, hingga kami beroleh gelar doktor."

Thursday, October 31, 2013

[Exploit Internet] Publish apps di App Store

Setelah beberapa bulan bermain-main dengan publish Android app di Google Play, kemarin saya coba untuk publish aplikasi yang katanya lebih elit, yaitu iOS app di Apple store.

Publish aplikasinya ternyata ribet banget. Pain in the ass, kalo kata orang sana.

Untuk app store saya udah punya akun developer-nya. Bulan lalu daftar.
Lumayan mahal, $99 per tahun - dibandingkan dengan akun developer di Google Play yang "cuma" $25 per tahun.

Aplikasi untuk iOS dibuat menggunakan Xcode yang cuman bisa running di komputer Mac. Nggak bisa running di Windows dan nggak ada emulator yang bisa njalankan Xcode di Windows. Mau nggak mau, untuk jadi developer aplikasi iOS, memang mutlak harus punya komputer Mac.

Jadi ceritanya, kemarin aplikasinya udah tested di simulator. Running smooth.
Lalu saatnya publish di app store. Untuk publish di app store, ada beberapa keruwetan yang harus dibereskan. Ruwet karena memang saya belum paham benar prosedur untuk publish app di App Store.

Keruwetan pertama, saat membuat iOS provisioning profile. Ruwet karena saat ini saya nggak ada iOS device (adanya iPad di Indo dan dipakai istri saya). Saya nyaris putus asa dan sudah berniat untuk mencari iOS device yang murah untuk sekedar bisa bikin iOS provisioning profile. Kepikiran beli iPod touch generasi pertama... Tapi untung setelah beberapa jam googling, akhirnya iOS provisioning profile problem ini solved tanpa harus beli iOS device.

Setelah punya iOS provisioning profile, logikanya tinggal connect-kan profile tersebut dengan Xcode. Lalu dari Xcode, app yang sudah error-free itu, tinggal di-upload ke app store. Tapi nggak semudah itu. Saat aplikasi di-validasi (langkah terakhir untuk submit app), muncul error icon tidak ditemukan. Padahal jelas-jelas semua icon telah ada. Problem solved dengan menghapus semua icon yang "katanya" tidak ada, kemudian kopi ulang icon-nya.

Build dan validasi kembali.

Masih belum berhasil. Error sudah berubah dari icon tidak ditemukan, jadi aplikasi tidak dapat disubmit karena melakukan request UDID. Saya googling lagi. Berjam-jam. Dan akhirnya menemukan solusi bahwa semua library yang melakukan request UDID harus diupdate, karena request UDID sudah tidak diizinkan di iOS 7.0. Memperbaikinya nggak semudah itu. Berkali-kali diperbaiki, tapi masih juga gagal validasi.

Akhirnya ketauan, ada satu library, yaitu cocoslive, yang nggak kentara kalo dia melakukan request UDID - dan itu harus dihapus! Nggak ada update-nya.

Total waktu ngulik untuk submit app ini, dari jam 8 pagi sampai hampir jam 6 sore - hanya untuk submit 1 app!! Mungkin karena memang masih belum pengalaman, jadi banyak trial and error.

Setelah semua diperbaiki, akhirnya submitted juga. My first app on Apple store. Yeaaah...


(Sengaja saya samarkan nama aplikasinya...)

Alhasil, hari ini saya cmn 1 ato 2 jam ngurusi resesarch. Sisanya ngulik aplikasi.

------------
Catatan:
Kenapa saya kepikiran untuk publish app di App store? Google play nggak cukup baik emang?
Ada filosofinya. Para developer Google play saat ini sedang masuk dalam musim gold rush. Mudah banget dapetkan earning dari publish aplikasi di Google play. Saat ini, beberapa aplikasi yang saya submit di Google play masih terus stabil menghasilkan earning walaupun sudah nggak saya utak-atik lagi. Konsisten sejak 3 bulan terakhir.



Saya prediksikan sampai 2 tahun ke depan, musim gold rush di Google Play akan masih berlangsung.

Karena session gold rush ini, para "penambang emas" terus berdatangan dan menjadi developer dadakan (sejujurnya, saya juga termasuk developer dadakan). Sama seperti sebidang tanah yang ditambang oleh banyak banyak orang. Semakin banyak orang yang menambang, tentu semakin "kacau".

Saya melihat untuk App store, masih belum se"kacau" lahan di Google play. Dan untuk pasar Indonesia, ibaratnya seperti tanah satu hektar penuh dengan emas, sementara penambangnya bisa dihitung dengan jari. Untuk menambang lahan App store, butuh modal dan skill memang...

Tuesday, October 22, 2013

Kunjungan singkat di Indonesia

Dua minggu lalu, saya berkunjung ke Indonesia.
Singkat.
Hari Kamis (10 Okt) tiba siang hari di Juanda, dan hari Minggu pagi (13 Okt) dijemput travel dari rumah menuju Juanda.

Kunjungan ini mendadak. Direncanakan 2 minggu sebelum hari keberangkatan. Nggak ada bagasi, nggak ada barang bawaan, dan bawa oleh2 juga secukupnya. Saya bahkan nggak bawa baju ganti. Mohon maaf untuk rekan-rekan yang nggak sempat saya kunjungi ato nggak kebagian oleh2.

Ketika tiba di Juanda, saya merasakan benar beda bandara internasional Haneda dan bandara internasional Juanda - atau tepatnya merasakan perbedaan karakter orang-orangnya. Untuk keluar dari gate di Juanda, saya (istri dan anak) harus bersabar dengan orang-orang yang dengan perasaan tanpa dosa menerombol antrian yang panjang.

Saya merasakan harga barang jauh lebih mahal ketimbang saat 3 tahun lalu saya meninggalkan Indonesia. Mungkin yang tinggal di Indonesia nggak terlalu merasakan kenaikan yang signifikan (karena naiknya dikit-dikit). Harga bakso "S" 3 tahun lalu , 5rb seporsi... Sekarang sudah 10rb. Harga sepiring soto yang dulu 3500, sekarang sudah jadi 7rb. Harga-harga yang lainnya juga sama. Naik signifikan dibandingkan 3 tahun lalu. Ini yang disebut tingkat inflasi yang tinggi. Beda dengan di Jepang. Sejak 3 tahun lalu, harga sekaleng softdrink di vending machine, masih tetap sama, 100 yen. Kabarnya harga 100 yen itu belum berubah sejak 20 tahun yang lalu!! Demikian juga dengan angkutan umum. Ongkos kereta jarak terpendek (pindah 1 stasiun) masih tetap sama 130 yen sejak 3 tahun lalu. Harga makanan juga relatif sama sejak saya tiba 3 tahun yang lalu. Harga sepiring ramen di kisaran 700 yen, harga sepiring udon di kisaran 300 yen, harga burger termurah di McD juga masih 100 yen. Ini yang disebut tingkat inflasi yang (sangat) rendah.

Nggak heran kalau mata uang rupiah bukan mata uang yang seksi. Nilainya mudah sekali termakan inflasi. Uang Rp. 5rb yang dipegang 3 tahun lalu, kalau tetap disimpan, maka nilainya sudah hilang separuh saat ini. Kalau 3 tahun lalu Rp. 5rb bisa dapat 1 porsi bakso, sekarang Rp. 5rb hanya dapet setengah porsi (atau bisa juga seporsi dengan catatan, volume baksonya udah berkurang 50%).

Jadi dari kunjungan singkat kemarin saya belajar. Kalau ada mata uang rupiah berlebih, sebaiknya segera dimasukkan ke instrumen yang tidak akan termakan inflasi, seperti properti, emas - atau dalam skala kecil, ditukar ke mata uang yang nilainya stabil atau masuk di unit link asuransi (ini juga sebenarnya beresiko). Bagaimana dengan deposito? Saya belum hitung2an dengan detail, tapi kemungkinan besar bunga yang diperoleh lewat deposito tidak sebanding dengan tingkat inflasi. Setidaknya deposito lebih baik ketimbang uang disimpan di bank dalam bentuk tabungan.

Ngeri juga untuk (calon) pegawai seperti saya.
Dapet kenaikan gaji itu sebenarnya hanya kamuflase untuk mengimbangi inflasi.
Gajinya nggak bener2 naik...
Kecuali... kalau gaji dinaikkan 30% setiap tahun, itu baru benar-benar naik!

Tuesday, September 24, 2013

BBM yang heboh

BBM for Android dan iOS bener2 heboh. Yang punya Android ato iPhone segera buru2 download aplikasinya, biar bisa selalu terhubung (katanya)... padahal slogan BBM yang paling pas menurut saya "mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat"...

Saya sendiri di Jepang bukan pengguna smartphone. Seriously.

Hape saya (dan hape istri) di Jepang adalah hape flip yang (cuma) bisa dipake untuk telepon dan sms. Belum ganti sejak pertama kami tiba di Jepang 3 tahun yang lalu. Kemungkinan, saya satu di antara sedikit mahasiswa (atau jangan2 satu2nya) yang masih menggunakan teknologi SMS untuk berkirim pesan (dengan panjang pesan maksimum 160 karakter). Seorang rekan lab pernah komplain ke saya kenapa dia selalu nggak pernah berhasil kalo mengirim pesan yang panjang ke nomor saya... Ya, karena hape saya cmn bisa nerima pesan dalam bentuk SMS. Jadi kalo mau kirim pesan ke saya ya jangan panjang2.

Ada waktu2 ketika hape saya ketinggalan di rumah. Dan saya juga terlalu malas untuk pulang mengambil hape walaupun jarak kampus-rumah hanya 10 menit bersepeda. Tapi saya tetap baik-baik saja. Tidak merasa ketinggalan apapun.

Di rumah ada 2 tablet. Yang pertama iPad, yang kami gunakan untuk menelepon keluarga di Indonesia menggunakan Skype, untuk menyimpan/mengupload foto-foto ke dropbox - dan sekali-kali streaming acara TV Indonesia.  Di iPad tersebut, terinstall aplikasi Line dan WeChat yang most of the time, digunakan oleh istri saya. Istri saya sendiri bukan tipe orang yang bentar-bentar ngecek Line atau FB di tablet. Pesan yang dikirim hari ini, bisa jadi baru terbaca 2 hari kemudian... Itupun belum tentu dibalas. FB juga belum tentu sebulan sekali dicek. Yang nelepon di Skype, kalo nggak janjian jam dulu, kemungkinan besar nggak terangkat. Bukan karena malas ngangkat, tapi karena memang nggak terlalu sering berinteraksi lewat tablet.

Tablet yang kedua, Kindle Fire. Ini saya yang "maksa" beli karena pengen bereksperimen membuat aplikasi Android... Dan memang kegunaan utama so far adalah (1) mencoba aplikasi yang telah selesai dibuat (2) check email dan (3) cek earning dari aplikasi yang sudah dirilis. Itu aja. Nggak ada Line, WeChat, Kakao ato BBM for Android.

Entah apa yang kami lewatkan dengan tidak menginstall aplikasi BBM atau mengganti hape dengan smartphone.

Tapi kami merasa tidak ada yang terlewatkan. Semua baik-baik saja.

Friday, September 13, 2013

Happy Bday, Hide-kun (one year journey)

Jadi, dari ribuan tahun peradaban manusia, kemungkinan dari sinilah asal muasal ucapan selamat ulang tahun...

Dari sekian ratus juta sel sperma, ia satu-satunya yang berhasil menembus sel telur lalu membuahinya. Reaksi kimia yang kompleks terjadi, membentuk serangkaian DNA yang belum pernah ada sepanjang sejarah manusia - dan tidak akan pernah ada lagi. Seorang pribadi sedang dibentuk di rahim seorang ibu. Dari rahim itu pula, supply makanan diberikan lewat plasenta - selama 9 bulan... tidak satupun teknologi kedokteran buatan manusia yang dapat memberikan life support untuk nyawa manusia secanggih sistem di rahim seorang ibu yang memberikan life support untuk anaknya.

Terlahir dan mulai menghirup udara. Merasakan suhu yang berubah-ubah. Mendengar suara. Melihat objek di sekelilingnya. Makanan mulai masuk lewat mulut dan mengalami metabolisme.

Satu bulan dilewati. Dua bulan, tiga bulan... Hingga satu tahun.

Setelah satu tahun ada di dunia ini - dengan sehat, tentu itu sesuatu yang patut disyukuri. Patut diberikan ucapan selamat.

Selamat ulang tahun Hide-kun.

4 September 2013
-----------

Selama satu tahun terakhir ini, kami ditemani anggota baru keluarga, Hideaki Joshua Swastika... Part of our family. Mengganti popok, terbangun di pagi buta karena mendengar tangisan, memandikan di pagi hari, mengawasi saat ia merangkak, berdiri dan berjalan, menyiapkan makanan, menidurkan, menggendong saat ia rewel menjadi aktivitas baru kami.

Melelahkan. Tidak ada orang tua yang bisa dititipi agar kami bisa beristirahat sejenak. Tidak ada juga pembantu yang bisa diminta bantuan untuk mengganti popok, menyiapkan makanan atau membersihkan rumah.

Tapi kami tahu bahwa itu semua harus dilalui saat ini. Akan ada waktunya popok tidak lagi dipakai. Akan ada waktunya tangisan tengah malam karena lapar tidak lagi terdengar. Akan ada waktunya kami tidak lagi bisa menimang-nimang agar dia dapat segera tertidur.

Selagi kami harus melewati itu semua, kami akan menikmatinya (sehingga tidak menyesal ketika masa-masa tersebut sudah lewat).

Selama setahun ini, setiap hari kami mengambil foto Hide dari sejak hari pertama lahir sampai sekarang. Kami bisa melihat perkembangannya hari demi demi hari...  Saya kompilasi foto-foto tersebut menjadi video... It's amazing seeing a baby grows day-by-day, especially if it's your own child...







Friday, September 6, 2013

Kangen kelas

Untuk pertama kalinya sejak saya studi di Jepang 3 tahun lalu, saya ingin segera menyelesaikan studi. Selama ini, saya menikmati bisa studi di Jepang. Menikmati segala fasilitas lab yang serba terbaru, internet yang super cepat 24 jam sehari 7 hari seminggu, bisa mengikuti conference lokal dan internasional dengan segala akumodasi ditanggung lab, menikmati lingkungan di Jepang yang serba bersih, tertib, teratur, transportasi yang nyaman, orang-orang yang sopan...

This is just awesome! 

Tapi Indonesian will always be an Indonesian. I might call Japan as my second home, tapi tanah airku tetap Indonesia (dan Dangdut is the music of my country). 

Saya kangen Indonesia. 
Kangen dengan suasana kelas. 
Kangen jadi dosen (lagi).
Kangen mengajar. Kangen bikin soal yang unik untuk kuis. 
Kangen ngasi tantangan untuk anak-anak.
Kangen jadi mentor untuk anak-anak saya.


Monday, August 19, 2013

Tentang MLM Talk Fusion

Iya, kali ini nggak pake sensor atau wildcard untuk menutupi nama MLM-nya.

Beberapa bulan lalu, saya ditawari MLM yang bernama Talk Fusion oleh rekan mahasiswa. Beberapa bulan berikutnya, rekan di Indonesia juga menawari produk ini - dengan message saya di FB. Saya waktu itu hanya membalas bahwa saya tidak punya cukup waktu untuk menjalankan MLM. Rekan tersebut lalu secara gencar mengirim email (spam) ke inbox saya yang menjelaskan tentang sistem dan produk MLM Talk Fusion - yang akhirnya email beliau saya filter sebagai spam.

Ada kemungkinan, posisi saya yang di Jepang dipandang sebagai hal yang menguntungkan untuk membuka lahan baru memasarkan MLM. Pasar Jepang pasti besaaarrr... (begitu mungkin yang dipikirkan oleh pemrospek MLM terhadap saya). Hampir tiga tahun di Jepang, TIDAK sekalipun saya mendengar tentang bisnis MLM - dan juga tidak pernah ada yang menawari (kecuali rekan dari Indonesia). Dugaan saya, bisnis MLM hanya bisa berkembang dengan pesat di negara yang penduduknya dengan mudah termakan dengan iming-iming "cepat-kaya" atau "cari-uang-dengan-cepat". Di Jepang, di mana kerja keras sangat dihargai, semua bisnis yang berbau "cari-uang-dengan-mudah" menjadi sangat tidak diminati.

Talk Fusion sepertinya booming sekali di Indonesia sejak dua atau tiga tahun lalu. Joining fee-nya cukup besar, yaitu $250 (untuk executive package) atau $700 (untuk elite package) atau $1,499 (untuk pro pak). Ditambah dengan monthly fee sebesar $35 (http://www.talkfusion.com/for/pricing/).

Join fee yang cukup besar mengindikasikan bahwa peluang income yang (bisa) diperoleh juga cukup besar. Sesuai dengan sifat alami sistem MLM, agar bisa mendapatkan profit, maka seorang member harus berusaha mencari member lain yang bersedia membayar join fee + monthly fee. Sebenarnya tidak terlalu "mengerikan" ketika suatu MLM menggunakan one-time-payment. Jika sistem tidak berjalan (baca: tidak mendapatkan member) maka besar kerugian member tersebut hanya sebesar joining fee-nya. Tapi ketika diberlakukan monthly fee (member diwajibkan membayar biaya tiap bulan), dia harus bekerja ekstra keras untuk mendapatkan member demi menutup monthly fee. Otherwise, kerugian akan semakin besar tiap bulan.

Bagaimana dengan produknya? Produk Talk Fusion adalah produk video conference (atau produk semacam itu) yang (menurut saya) bisa dengan mudah digantikan dengan software sejenis yang free (misal Skype untuk video conference atau Youtube untuk video hosting). Buat saya, nilai produk Talk Fusion tidak sebanding dengan harga joining fee dan monthly fee.

Dan yang perlu ditanyakan saat bergabung dengan MLM adalah:
Jika sudah tidak ada lagi yang mau join, lalu bagaimana nasib yang paling bawah (yang tidak bisa mendapatkan member)? Apakah member tersebut seuntung member yang di atasnya? Apakah produk MLM yang dibelinya bisa dimanfaatkan? Atau malah terus harus bayar demi memberi keuntungan member di atasnya? Jika memang harus terus bayar demi memberi keuntungan member di atas-nya, ya kasian member yang di bawah dong. Kalo member di atas masih punya hati nurani, ya mestinya nggak membiarkan yang di bawah terus menerus bayar demi keuntungan member di atasnya.

Saya pribadi tidak menganggap buruk semua MLM. Saya juga tidak keberatan menjadi anggota MLM selama memang saya bisa memanfaatkan produk MLM tersebut dan sepadan dengan biaya yang saya keluarkan.

Menjadi anggota MLM demi mengejar keuntungan dan tidak memedulikan member yang diprospeknya (loe rugi urusan loe, yang penting gue untung) ini yang saya kurang suka.



Monday, August 12, 2013

Tahun ke-3 kuliah di Jepang

Tahun ke-3 di Jepang.

Belum sekalipun saya kembali ke Indonesia - dan tidak berencana kembali dalam waktu dekat. Rasanya kurang nyaman berlibur ke Indonesia dalam kondisi "belum-pasti-kapan-lulus". Jadi saya nggak nyalahkan Bang Thoyib yang kondisinya sama seperti saya, 3 puasa dan 3 lebaran belum pulang. Bisa jadi Bang Thoyib belum mau pulang juga karena beliau tidak pasti kapan lulus...

Tiap periode punya tantangan tersendiri.

Di akhir tahun ke-3 ini tantangan yang sudah diperkirakan sejak sebelum keberangkatan akhirnya terjadi. Beasiswa dari DIKTI berakhir sementara studi belum selesai. Ada beberapa alternatif yang bisa dijadikan solusi. Pertama memohon perpanjangan beasiswa dari DIKTI. Kedua mencoba apply beasiswa di universitas/yayasan swasta Jepang. Ketiga mengajukan beasiswa dari institusi asal. Keempat membiayai studi dengan uang pribadi. Alternatif kelima adalah lain-lain (yang belum terpikirkan saat ini).

Alternatif pertama gagal. DIKTI tidak menyetujui permohonan perpanjangan beasiswa. Alasannya masuk akal. DIKTI hanya membiayai program doktor dan tidak membiayai research student, sementara saya masuk sebagai research student selama 1.5 tahun sebelum masuk di program doktor.

Saya mencoba alternatif kedua semester lalu, yaitu mengajukan beasiswa di universitas/yayasan swasta di Jepang. Namun ditolak karena secara status saya masih menerima beasiswa dari DIKTI yang dapat berakibat "double-funding". Jadi baru bisa mengajukan beasiswa lagi di semester di mana beasiswa DIKTI sudah benar-benar selesai.

Alternatif ketiga adalah alternatif yang tidak terlalu saya pertimbangkan. Institusi saya bukan institusi yang kaya raya dengan uang tidak terbatas untuk membiayai dosen studi lanjut. Jika ditawari bantuan, selama syarat dan ketentuannya tidak memberatkan tentu saya tidak menolak. Namun jika tidak ada bantuan-pun saya bisa maklum (dan secara pribadi, saya tidak ada niatan untuk meminta bantuan finansial dari institusi saya).

Alternatif keempat adalah alternatif yang paling masuk akal dan ini yang saat ini menjadi pilihan saya, yaitu menggunakan uang pribadi. I'm neither Bill Gates nor Warren Buffet. Jadi saya harus atur strategi baik-baik dalam mengelola uang untuk membiayai studi (yang mungkin masih 1-1.5 tahun lagi). Di Jepang pula!




Monday, July 22, 2013

Dear 17-years-ago-Windra,

Halo Windra yang masih berusia 17 tahun...
It's me, Windra who lives several years longer than your current age now.
Yeah, I know. Sounds weird. I just wanted to send a letter to let you know that you've been doing good in the last several years.

Kalo aku nggak salah ingat, kamu tentu baru mendapatkan surat pengumuman lulus SMA. So excited untuk bisa masuk perguruan tinggi dengan jurusan Teknik Informatika dan lagi persiapan UMPTN untuk bisa nembus Teknik Informatika ITS. Keep studying. I won't spoil whether you're going to pass UMPTN or not. Whatever the result is, just don't regret... it's the best result.

Pesan pertama. Seriusi pemrograman komputer yang kamu tekuni saat ini. Terus belajar. Skill programming yang kamu miliki, kelak akan bisa bawa kamu untuk studi di negara yang bahkan nggak pernah kamu bayangkan untuk bisa studi di sana... It was really fun experience! Apalagi ketika kamu studi ditemani keluarga... (yeah, kita - atau tepatnya aku di masa ini, sudah memiliki keluarga saat ini dan guess what, anak pertamamu akan lahir di negara ini...). Tapi don't be too excited. Ada jalan yang panjang yang mesti kamu lewati.  Ada banyak hal yang harus kamu kerjakan untuk bisa sampai pada situasi ini. Ada harga yang harus dibayar.

Pesan kedua. English! English! English! You know what that means. Sharpen your English. Daily.

Pesan ketiga. Ambil perhatian khusus pada apa yang disebut dengan "internet". Saat kamu baca surat ini, istilah "internet" tentu masih belum populer (atau jangan2 kamu baru dengar untuk pertama kalinya?). Pasti akan membingungkan kalau aku bilang bahwa saat ini pesan bisa dikirim secara elektronik melalui internet dan sampai ke penerima tanpa dipengaruhi jarak. Bukan cuma itu, kami di sini bisa dengan mudah menikmati teknologi tatap muka dan bercakap-cakap dengan orang-orang yang berjarak ribuan kilometer melalui Internet. Iya, kayaknya mustahil... tapi hal-hal semacam ini sudah bukan hal aneh... Bahkan sudah menjadi gaya hidup sehari-hari. Itu sebabnya, ikuti perkembangan internet. Serap sebanyak mungkin teknologi dan informasi tentang Internet. Got that?

Pesan keempat. I remember vividly, that you don't believe in God at this moment. Tanpa bermaksud memaksa atau menyalahkan... Akan ada waktunya kamu kenal Tuhan, percaya, dan mengimani. Jangan keraskan hati dan kepala ketika Dia datang dan menyampaikan pesanNya lewat orang-orang di sekelilingmu. Terima dengan hati terbuka. Pengalaman iman bersama Dia akan banyak membawa kamu ke hal-hal besar yang bahkan nggak pernah kamu impikan.

Ok, sampe di sini. Enjoy your journey and take care!

----------------------

It's me. Present time.

Email di atas, mungkin nggak akan pernah diterima oleh diri saya yang berusia 17 tahun. Saya lagi membayangkan seandainya saya bisa mengirim email ke diri saya yang berusia 17 tahun, kira-kira apa yang akan saya sampaikan? Email yang disampaikan, harus se-general mungkin tanpa membuka banyak hal-hal di masa depan. Jika hal-hal di masa depan dibuka dan diketahui, maka besar kemungkinan garis sejarah yang saya jalani saat ini akan berubah - dan menimbulkan kehidupan lain yang berjalan secara paralel dengan hidup yang saat ini. Artinya ada dua saya yang menjalani hidup di dunia yang berbeda. Masing-masing menuliskan garis sejarahnya sendiri-sendiri.

Saat ini, saya sedang menuliskan garis sejarah saya. Keputusan kecil yang saya ambil hari ini dapat mendatangkan konsekuensi besar di masa mendatang. Sejauh yang saya tahu, hanya ada satu garis sejarah yang bisa kita tulis - dan kita yang bertanggung jawab untuk menuliskannya dengan baik.


Wednesday, July 3, 2013

'Ohana means family (3rd year)

'Ohana means family, family means nobody gets left behind. Or forgotten. (Lilo and Sticth, 2002)

Tahun ketiga pernikahan kami dan dalam kedaulatan-Nya, Tuhan berkenan untuk menitipkan seorang anak di keluarga kami. Kami menamainya Hideaki Joshua Swastika (Hide). Saya dan istri punya tanggung jawab baru, yaitu menjaga, mendidik, dan merawat sebaik-baiknya apa yang sudah Tuhan percayakan kepada kami.

Tanggung jawab yang baru ini membuat kami belajar dan mengalami banyak hal baru. Hal-hal yang sebelumnya belum pernah kami alami - atau tidak akan pernah kami alami seandainya Hideaki tidak terlahir.
  • Kami sudah lupa bagaimana rasanya tidur 5 jam non-stop tanpa terbangun karena tangisan Hide.  Usia Hide sudah hampir 10 bulan dan masih minum ASI. Tiap 2 jam (atau kapanpun saat Hide perlu minum ASI), dia akan nangis. Saat kami tidur, tangisan Hide akan membuat kami terbangun. Istri saya segera menyusuinya (dan saya kembali tertidur). 
  • Karena kami tinggal di Jepang, kami harus belajar bagaimana memperlakukan anak dengan "cara" yang sesuai dengan lingkungan di sini. Kami belajar bagaimana menghadapi cuaca dingin agar bayi bisa tetap nyaman. Bagaimana mengatasi udara yang terlalu lembab atau kering. Bagaimana prosedur imunisasi yang hampir tiap dua minggu sekali dilakukan di klinik terdekat. 
  • Tidak ada pembantu rumah tangga. You know what that means.
  • Di usia yang ke-7 bulan, untuk pertama kalinya Hide demam dan pilek. Seharusnya nggak perlu terlalu dikuatirkan kalau dalam 1 atau 2 hari bisa reda. Tapi ketika hari ke-3 masih belum juga membaik ditambah nggak mau makan - maka untuk pertama kalinya kami ke UGD dan berhadapan dengan prosedur pendaftaran pasien UGD di Jepang yang sangat-sangat tertatur dan memprioritaskan pasien. Kami banyak belajar hal baru di sana.
  • Siklus tidur Hide masih belum teratur.  Pagi dimandikan jam 8. Siang tidur 1-2 jam. Yang gawat kalau jam 7 atau 8 malam sudah tertidur. Dia akan bangun jam 10 atau jam 11 malam dalam keadaan segar bugar dan siap untuk bermain-main. Kami harus menemaninya bermain hingga jam 1-2 pagi...
Apapun yang kami alami, akan semakin mempersatukan kami sebagai satu keluarga... The Swastika Family.



Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Rm 8:28)

Past year:

Tuesday, May 14, 2013

Mami di Jepang

Kalau di TV era lama sering ada drama tentang guru SD yang mengabdi dan mengajar sampai puluhan tahun, saya kira itu nggak berlebihan (sekarang sih, sinetron yang mengangkat kisah semacam itu, mungkin kurang laku). Mami saya adalah living proof seorang ibu yang mengabdi sebagai guru SD selama lebih dari 30 tahun, sejak tahun 1970-an.

Tiga puluh tahun bukan waktu yang singkat. Kalau dalam setahun akademik ada 250 hari dan setiap hari mengajar selama 6 jam, maka jam terbang mengajar mami sudah mencapai 45.000 jam! Kalo gelar doktor bisa diraih dalam 3 tahun, dalam rentang waktu 30 tahun mengajar, mami mestinya sudah punya 10 gelar doktor di bidang "guru SD"!  

Anyway, mami tahun lalu sudah masuk masa pensiun karena sudah memasuki usia 60. Mami sekarang sudah bisa menikmati masa pensiun dengan tenang. Semua kerja keras yang dilakukan selama 30 tahun terakhir, terbayar sudah. Kerja keras ketika harus bangun pagi, menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya, berangkat mengajar, pulang mengajar menyiapkan makan siang, lalu memberi les untuk anak-anak SD sampai malam, menyiapkan makan malam, mengurus rumah. Tidak ada pembantu, dan semua dikerjakan sendiri. Jarang sekali mami berlibur atau jalan-jalan ke luar kota... Bekerja, bekerja dan bekerja agar anak-anaknya bisa mendapat pendidikan yang baik.

Bulan Maret lalu, saya mengundang mami ke Jepang selama 2 bulan untuk menengok cucunya. Saya memaksa untuk membelikan mami tiket Sby-Tokyo PP walaopun akhirnya uang tiket tersebut dikembalikan ke saya. I know, mami adalah tipe orang tua yang nggak mau merepotkan anaknya... Semua lebih baik dikerjakan sendiri. 

Kalau dulu waktu mami masih jadi guru, bisa ke Jepang mungkin hanya mimpi di siang bolong. Negara Jepang bisanya cuman diajarkan di mata pelajaran IPS ketika masuk bab "Penjajahan Jepang di Indonesia", "Perang dunia II", atau bab "Negara-negara Asia". Nggak kebayang bisa lihat secara langsung Jepang.  Logika saya mengatakan mestinya mami bisa enjoy ada di Jepang.

Saya nggak sepenuhnya benar. 

Apa yang menjadi impian dan kesenangan di masa lalu, sudah berubah. Mungkin karena usia. Bagi mami, bisa jalan-jalan ke luar negeri tentu menyenangkan. Tapi jalan-jalan ke luar negeri sudah bukan lagi hal yang utama. Nggak kemaruk kata orang Jawa. Jauh lebih menyenangkan ketika bisa melihat rumah tangga anak-anaknya yang rukun dan cucunya yang sehat... Nggak peduli di Jepang atau di bulan sekalipun. 

Itu yang lebih berarti buat mami ketimbang bisa jalan-jalan ke luar negeri.







Friday, April 26, 2013

Happy birthday, Mrs. Swastika.

We celebrated it in a simple way.
I bought a cake, with "ママ" (mama) written on a white chocolate. Simply emphasizing that this year is the first time she celebrates her birthday as a mom. I ordered a wallet as a gift to replace her 5-year wallet.

Happy birthday, Mrs. Swastika.

Our 7-months old son also enjoyed the ocassion.
He grabbed the cake, and ate it. Innocently.
Enjoy the cake, son?


Friday, April 5, 2013

Pindah ruang lab.

Lab kami semakin padat dengan bergabungnya beberapa mahasiswa baru. Dengan semakin banyak anggota lab, maka ruangan lab yang lama sudah tidak lagi muat sehingga sensei mengambil alih sebuah ruang kosong yg tidak terpakai, yang kemudian dijadikan lab.

Kemarin saya pindah ke lab baru ini. Di lab ini hanya ada 6 orang (termasuk saya) yang masuk dalam kategori penelitian tentang citra MRI (Magnetic Resonance Imaging). Dua orang mahasiswa master tahun ke-2, seorang mahasiswa master tahun pertama, dan dua orang mahasiswa bachelor tahun ke-4. Semuanya Japanese - which is good karena akan memaksa saya berinteraksi dengan mereka dalam bahasa Jepang.

Kalo di lab sebelumnya, ada 2 orang mahasiswa internasional dari China. Seorang diantaranya cukup dekat dengan saya karena satu angkatan dan mejanya selalu bersebelahan dengan saya sejak saya bergabung di lab. Kami selalu berbicara dalam bahasa Inggris (yang tentunya kurang baik kalau memang ingin meningkatkan kemampuan bahasa jepang). Now, time to boost my Japanese.

Anyway, this is the picture of our lab member, taken after the graduation ceremony.

Where am I?





Tuesday, February 26, 2013

Simposium di Osaka

Osaka. Salah satu kota yang cukup terkenal di Jepang. Sebelum saya ke Jepang, saya mendengar Osaka berulang kali - entah di mana... Mungkin di pelajaran geografi, ekonomi atau membaca di koran.

Minggu lalu, hari Jumat saya dan 3 orang rekan lab berangkat ke Osaka untuk menghadiri simposium (The Fourth International Symposium on the Project "Computational Anatomy"). Peserta simposium adalah universitas-universitas yang mendapatkan hibah dari kementerian pendidikan Jepang dan wajib menyampaikan capaian penelitian-nya. Karena lab kami termasuk salah satu penerima hibah, maka kami (atau sensei) berkewajiban mempresentasikan apa yang sudah dicapai pada tahun fiskal 2012 lalu.

Kami berangkat ke Osaka hari Jumat dan kembali ke Tokyo hari Minggu. Jarak Tokyo-Osaka sekitar 510km (kurang lebih sama dengan jarak Jogja-Jakarta). Alih-alih naik pesawat, kami memilih transportasi  menggunakan shinkansen (kereta cepat). Harga tiket PP Tokyo-Osaka adalah 22rb yen (discount sebesar 20% untuk student) dan ditempuh hanya dalam waktu 2,5jam. Tentu saja jarak 510km dalam waktu 2,5jam adalah sangaaaat sangaaat cepat. Tapi buat saya, tetap saja lama. Mungkin karena saya sebelumnya nggak pernah merasakan perjalanan Tokyo-Osaka, jadi di kereta rasanya lamaaa dan nggak sampe2.

Setibanya di Osaka, saya somehow nggak nyaman dengan situasi kota-nya. Beda jauh dengan pengalaman di Tokushima dan Okinawa bulan lalu - yang saya begitu enjoy. Osaka kota besar, namun tata kotanya kurang nyaman - setidaknya itu yg saya rasakan 3 hari berada di Osaka. Hotel SS** yang kami tinggali juga kurang nyaman. I literally had a nightmare in the first night!!

Catatan seputar perjalanan ke Osaka:

  1. Untuk pelajar, ada student discount (学割 atau gakuwari) sebesar 20% yang dapat digunakan untuk membeli tiket shinkasen. Dokumen gakuwari bisa dicetak lewat mesin pencetak dokumen yang ada di kantor graduate school of engineering.
  2. Untuk pembelian tiket menggunakan gakuwari, pembelian HARUS dilakukan di travel center stasiun (midori no madoguchi) dan TIDAK bisa menggunakan vending machine. 
  3. Ada dua lembar tiket untuk keberangkatan dan dua lembar untuk kepulangan. Total 4 lembar tiket. 
  4. Gerbong 1-3 adalah gerbong untuk free-seat. Artinya, bisa memilih tempat duduk dengan bebas. Gerbong-gerbong yang lain adalah green-sha (tempat duduk yang lebih nyaman dengan tambahan 5000 yen) dan  gerbong reserved seat (nomer tempat duduk telah ditentukan sesuai dengan tiket - juga ada tambahan beberapa ribu yen untuk reserved seat). 
  5. Untuk free-seat, pastikan tiba seawal mungkin agar bisa mendapatkan tempat duduk. Saat penumpang banyak, ada kemungkinan TIDAK dapat tempat duduk, dan terpaksa harus berdiri sepanjang perjalanan.
Nozomi shinkansen - image credit: fr.wikipedia.org

Monday, January 28, 2013

Conference di Okinawa

Tanggal 24 dan 25 Januari lalu, saya ikut conference (lagi) untuk presentasi poster. Kali ini bertempat di Okinawa. Awalnya saya sedikit ogah2an ikut conference kali ini. Lah, minggu lalu baru dari Tokushima, sekarang berangkat lagi ke Okinawa. Mana harus meninggalkan keluarga 2 malam lagi... (tanggal 23 pagi berangkat dan 25 malam tiba di Tokyo). Tapi karena di Jepang menganut sensei's wish is our command, ya sudah. Saya dan seorang rekan lab berangkat menuju Okinawa.

Saya baru 'ngeh' kalo Okinawa adalah tempat wisata favorit di Jepang. Seperti Bali di Indonesia, seperti Hawaii di Amerika. Ketika minggu-minggu ini di Tokyo suhunya 0 derajat, di Okinawa suhu berkisar 18-20 derajat... Gak kenal musim dingin, apalagi salju. Make sense, karena letaknya di ujung selatan Jepang, 1500 Km dari Tokyo.

Lokasi conference-nya di jalan yang namanya "kokusai dori". Kokusai dori ini mirip dengan jalan Kute di Denpasar, Bali. Di kiri-kanan banyak toko2 asesoris dan selalu dipenuhi turis domestik. Tentu ditambah dengan ciri khas utama Jepang, jalan yang (sangat) bersih dan lalu lintas yang (sangat) teratur. Kalo jalan2 di situ, atmosfernya bener2 atmosfer liburan...


Kokusai dori yang bersih, teratur dan TIDAK ada bunyi klakson
Sayangnya, di tempat conference, TIDAK ADA free wifi (what??). Mungkin biar pesertanya bisa konsentrasi penuh dengan conference-nya. Saya sih emang jadi bisa konsentrasi penuh... untuk nyelesaikan buku terbaru (yang gak perlu koneksi internet).

Seneng bisa ketemu salah satu peserta conference dari Indonesia, seorang mahasiswa doktor dari Tokyo Institute of Technology. Seumur-umur ikut conference di Jepang, baru kali ini bisa ketemu dengan orang Indonesia.

Catatan seputar perjalanan ke Okinawa:

  1. Kami terbang ke Okinawa dengan LCC (low cost carrier) Skymark. Harga tiket PP untuk Tokyo-Okinawa-Tokyo cukup murah (untuk ukuran Jepang), hanya 27.000.
  2. Waktu tempuh dari Tokyo ke Okinawa adalah 3 jam. Sementara dari Okinawa ke Tokyo hanya 2 jam. Kata teman saya, ini disebabkan "wind-factor". Entah apa maksudnya.
  3. Untuk ke Kokusai dori yang terkenal itu, dari Naha Airport station bisa naik monorail ke Miebashi station dengan tiket seharga 290 yen. 
  4. Kami menginap di hotel Rasso yang tarif per malam-nya juga cukup murah, yaitu 5rb per malam (sekali lagi menurut ukuran Jepang).
Salah satu tikungan di Kokusai dori

Salah satu tempat makan tradisional yang terkenal di Kokusai dori

Presentasi... (iya, sama kayak di Indonesia, peserta conference lebih milih duduk di belakang ketimbang di depan)

Friday, January 18, 2013

Conference di Tokushima

Hari Sabtu dan Minggu lalu (12-13 Jan), saya ke Tokushima untuk menghadiri The 5th Japanese Society Pulmonary Functional Imaging (JSPFI). Abstrak saya dengan topik rekonstruksi otomatis 4D-MRI untuk gerakan pernafasan diterima dan akan dipresentasikan dalam sesi poster. JSPFI ini sebenarnya nggak terlalu nyambung dengan bidang saya (pengolahan citra medis). Kebanyakan sesi oral dan poster-nya ke arah medis murni - bukan engineering... Peserta conference-nya 99.9999% adalah dokter spesialis bidang pulmonary. Jadi semacam kesasar.

Menghadiri local conference semacam ini, saya lebih banyak sibuk sendiri (di depan laptop) ketimbang dengerin oral session ato special lecture-nya. Level bahasa Jepang saya masih jauh untuk bisa paham research kedokteran yang dipresentasikan (yang saya duga, seandainya diadakan dalam Bahasa Indonesia-pun, saya nggak nyambung).

Conference-nya diadakan di Tokushima, 600Km dari Tokyo. Perjalanan dengan pesawat dari Tokyo butuh waktu 1 jam 10 menit. Kesan pertama saya mendarat di Tokushima, adalah kota yang tenang, nyaman, teratur, indah dan (seperti kota-kota di Jepang lainnya,) bersih. Ternyata nggak salah.

Tokushima berbeda dengan Tokyo yang sangat metropolis yang penuh dengan gedung2 tinggi, lalu lintas padat, ritme kerja orang2nya cepat (terkesan selalu sibuk tapi (herannya) selalu keluar dengan dandanan yg modis). Orang udik yg tumbuh dan besar di kota Malang yg damai kayak saya, selalu ngerasa nggak nyaman dengan keadaan kota metropolis yg besar, sibuk dan waktu yg rasanya berjalan lebih cepat. Bikin gampang stres.

Tokushima lebih didominasi dengan pemandangan alam. Udara segar dan bersih. Di pusat kota, nggak terlalu banyak gedung2 tinggi. Transportasi sangat nyaman dengan lalu lintas yang nggak terlalu padat. Begitu keluar dari bandara Tokushima, langsung ketemu dengan vending machine untuk membeli tiket bus menuju pusat kota. Petunjuk di vending machine disediakan dalam bahasa Jepang dan Inggris - yang ternyata hampir di setiap tempat umum, instruksi juga tertulis dalam 2 bahasa.

Saya mengambil beberapa brosur tempat wisata di Tokushima. Ternyata benar, spot-spot yang ditawarkan untuk menjelajahi Tokushima adalah pemandangan alam, musium budaya, taman, sungai, kereta gantung, rafting, diving, dan pertunjukan tari tradisional Tokushima, Awaodori (yg sangat khas dan terkenal di seluruh Jepang).

Saya cukup beruntung bisa menyaksikan Awaodori di Sabtu malam, saat jamuan makan malam di hotel tempat saya menginap. Ternyata tarian yg berusia 800 tahun itu memang keren. Musik dan geraknya sangat khas... Hotel Clement (tempat saya menginap), juga memberikan service yang memuaskan. Bersih, lengkap, ramah, teratur - dan makan paginya berlimpah dengan berbagai macam variasi.

Would really love to come back again to Tokushima!

----
Catatan seputar perjalanan ke Tokushima:
(1) Pemesanan paket tiket pesawat dan hotel, bisa dilakukan di website Rakuten.
(2) Saya booking paket tiket PP menggunakan JAL (Japanese Airlines) dan bermalam 1 malam di Hotel Clement. Totalnya (tiket pesawat dan hotel) sebesar 36.900 yen (yang tentu nggak terlalu saya pikirkan krn Lab yg bayar).
(3) Salah satu makanan khas di Tokushima adalah Tokushima ramen. Pastikan mencoba Tokushima ramen jika berkunjung ke Tokushima.
(4) Di hari terakhir conference, saya mendapat surprise...

Suasana kota Tokushima yang teratur. Jalur hijau untuk pejalan kaki dan jalur merah untuk sepeda.

Taman kota yang asri dan nyaman.

Masih di seputar taman kota

Tokushima ramen, yang terkenal. Sambel di sampingnya nggak gratis, harus nambah 50 yen untuk sesendok sambel. Namanya juga di Jepang.
Poster yang dipresentasikan

Surprise! Saya dapet penghargaan, yang saya juga kurang jelas penghargaan apa...

Berfoto bareng sensei.