Sunday, January 3, 2010

Story of Roller Coaster

Do you know roller coaster? Have you ever tried it before?

I've tried it before, the short one... Perhaps only 500m length in track... I notice that people loves riding roller coaster. It's probably because of its unpredictable speed and track. Sometime, it goes straight and all of sudden makes a sharp curve with high speed. Sometimes it goes slow and all of sudden the rail twist to turns the rider briefly upside down. Yet, people loves to ride roller coaster.

Well, my life is NOT like roller coaster. It's more like riding a-flat-rail-train. No sharp curve, no vertical loops, no upside-down turning, no low-speed and turn to high-speed in one second. Everything's just fine. The journey of my life has always been good (or great?) so far. I have a great family (only my mom left in our family... tell me, what could have been easier staying with one mom only in one house?), I have excellent job and carreer (I do love writing and teaching, and they pay me big bucks for that job... even if they don't pay me, I still love to do it), I have good education (got my Master degree in the right time and have pretty good chance to continue study overseas with full scholarship), I have excellent fiancee-and-wife-gonna-be (love God, skillful, creative, likeable, great helper, pretty... what else you can expect from a woman?). The list goes on and on...

I thank God for that kind of life! It's trully a great blessing.

But, honestly it's like riding a-flat-rail-train... You pay the ticket for certain destination, sit on your seat, relax, the train will move, wait for some time while you can enjoy the snack... and within couple hours, there you are, safely arrive to your destination. The train is not designed to make people screaming because of the high speed, it's not designed to make people scared because of the vertical loops, it's not designed to pump the adrenalin-hormone because of the bend in the track... The train is designed as comfort as possible... and the excitment is lessss faaaarrrr from roller coaster.

So, one day I met this "Young-Amazing-Nice-Girl" (Yang). Then something popped in my mind that actually I have a chance to change my flat-rail-train-life into a roller-coaster. Stopped by at the nearest station, leaving all those-nice-comfortable-life I have... And pay the ticket to ride the roller coaster. I'm really tempted to do that... Starting a brand-new-life that nobody has never thought of, moving and living in a big city overseas (like Tokyo, NY or DC), facing new challenges without any network, surviving with all skill and knowledge I've learned... That's roller-coaster-live all about.

The big question will be: "Is someone gonna stand in my back and give her true love to support me?" It's really tough to do it alone.

Really tough.

Tuesday, December 29, 2009

Going into perfection

Spirit manusia itu terkontaminasi dengan "kotoran" begitu dia dilahirkan di dunia ini. Orang beragama menyebutnya "dosa" - yang diturunkan turun-temurun dan gak pernah habis. Jadi sejak manusia lahir, walaupun physically keliatan bersih, tapi spirit-nya udah terkontaminasi. That's explain kenapa anak kecil cenderung self-centered, bisa bohong walopun nggak pernah ada yang ngajarin. Simply karena spiritnya terkontaminasi dari orang tuanya yang imperfect.

Spirit ini memengaruhi pikiran, dan pikiran memengaruhi tindakan. Tindakan yang dilakukan, juga akan memengaruhi spirit. Jadi seperti mata rantai, spirit yang kotor - memengaruhi pikiran untuk menghasilkan ide2 yang busuk - dan ketika ide busuk itu dilakukan, maka spirit akan semakin terkontaminasi, lalu kembali memengaruhi pikiran, kemudian dilakukan... begitu seterusnya... (Lalu muncullah istilah "ikatan dosa"... Tapi never mind tentang "ikatan dosa")

I came to conclusion that nobody's perfect, kecuali dia dilahirkan dari Perfect-seed (Perfect-spirit) dan dia mampu maintain his-clean-spirit.

So, here we are... Living in an imperfect world and interact with imperfect people... Hasilnya? Konflik, permusuhan, perselisihan, prasangka buruk, negative judgement... Semua karena satu alasan, we're imperfect people. Kalo ada konflik, lalu di-trace back apa penyebabnya, pasti ketemunya karena ekspektasi seseorang terhadap orang lain nggak sebanding. Yang satu expect "A", yang lain melakukan "B".

I have to admit:
  • As a friend, I'm an imperfect friend... (saya bisa cuek dengan teman saya, saya bisa nggak ramah ke teman saya ketika mood saya jelek, i can't maintain my smile all the time, saya bisa egois, saya bisa jengkel, walaupun saya mati2an menahan diri untuk nggak ngomong jelek, saya bisa keceplosan ngomong jelek tentang orang lain).
  • As a husband-gonna-be, I'm also imperfect... (saya bisa nggak care, perkataan saya bisa menyakitkan hati, i can't maintain romantic situation all the time)
  • As a lecturer, I'm reallllyy... realllly imperfect lecturer... (saya bisa dan berpotensi berbuat tidak adil dalam memperlakukan mahasiswa saya, tindakan dan kata2 saya bisa membuat jengkel mahasiswa saya, apa yang saya ajarkan juga bisa banyak kekurangannya karena kebodohan dan ketidak-tahuan saya, cara mengajar saya bisa membuat mahasiswa terkantuk-kantuk karena bosan setengah mati - atau muak, dan saya juga bisa nggak suka dengan mahasiswa yang melakukan tindakan2 tertentu - lalu secara jelas menunjukkan hal itu kepada mahasiswa tersebut)
  • As a part of an (imperfect) organization, I'm imperfect staff... (saya bisa datang terlambat dari jam seharusnya, saya bisa membuat sakit hati rekan saya, saya kesulitan maintain good relationship with all-my-colleagues all the time, saya bisa menyalahi prosedur yang ditetapkan).
Tapi imperfection ini nggak bisa jadi alasan untuk kita melakukan hal2 yang nggak bener. Dunia akan rusak jika kita menggunakan alasan ketidaksempurnaan untuk melakukan hal2 negatif. All we have to do is going into perfection... Sedikit demi sedikit (atau langsung banyak) mengurangi kontaminasi spirit of imperfection... That's human being is all about... Selalu belajar untuk menjadi semakin baik.

Closing part
Sebagai apapun, saya manusia yang tidak sempurna - dan nggak akan pernah sempurna (karena spirit yang terkontaminasi tadi). Jika kata maaf dapat mewakili untuk menebus ketidaksempurnaan saya, saya akan katakan dengan tulus: maaf kepada teman-teman saya, maaf kepada my wife-gonna-be, maaf kepada mahasiswa saya, maaf kepada rekan2 kerja saya, maaf kepada orang tua saya.



Friday, December 18, 2009

Fulbright vs. Dikti

Last week, I was interviewed for my Ph. D scholarship application by Dikti (Indonesian Ministry for Higher Education). I knew the interview schedule last minute before the D-Day - Friday evening, one of my colleague texted me - and Saturday morning, 8.30am, I was in Surabaya for an interview.

I'd love to compare - head to head - about my first experience interviewed by Fulbright (that conducted by AMINEF/American Indonesian Exchange Foundation) and my second experience interviewed by Dikti. For those who pursue scholarship, you're gonna love it!
  1. Fulbright dengan sopan mengirim surat undangan resmi kepada para kandidatnya, baik melalui email maupun mengirim langsung surat undangan ke alamat kandidatnya. They also phoned me, asking for confirmation either the I could attend the interview or not. Pengiriman surat dilakukan 1 bulan sebelum hari-H interview, lengkap dengan alamat dan jadwal interview. Meanwhile, Dikti memberikan pengumuman melalui website resminya H-4 dalam format Ms-Excel. Tidak ada surat undangan baik melalui email, surat langsung ataupun telepon. Jika kolega saya tidak meng-SMS saya, most probably I'll miss the interview.
  2. I noticed only 5 candidates interviewed by the Fulbright comittee at that time, while Dikti got 46 candidates attend the interview (out of 67 candidates), baik dari S2 maupun S3 khusus dosen.
  3. Fulbright memberikan jadwal interview Pk. 10.30 - 11.00 dan tepat Pk 10.30, I'm called to go into the interview room and the interview starts. Exactly at 11.00, interview ends. Dikti scheduled the interview at 8.30am, and I go into the interview room at 3.30pm. Cuma selisih 7 jam - dan trust me... mereka (para dosen) yang menunggu giliran interview, "ngentang", doing nothing but chit-chat with others... Padahal ini orang2 pintar yang kalau waktu menunggunya dibuat untuk research atau publikasi, pasti udah menghasilkan karya-karya yang bisa dibanggakan Indonesia. Saya juga terjebak ngentang di sana selama 7 jam (beruntung saya bawa buku untuk bisa saya baca).
  4. Interviewer Fulbright adalah 2 orang bule dan 1 orang Indonesia. Mereka bertanya tentang topik research dan rencana ke depan setelah saya menyelesaikan studi. Interviewer Dikti ada 2 orang Indonesia yang lebih cenderung menanyakan seberapa siap (both mentally and intellectually) saya berangkat. They're very nice people, not so intimidating... I think I'm just lucky, because in the other tables, the interviewer quite intimidating.
  5. Interviewer Fulbright said nothing about my chance to get the scholarship, while Dikti's interviewers said, "in this table, you're the best among the others" in the end.
  6. After interview, Fulbright gave some money to cover the transportation cost, while Dikti provided some snacks to make sure we're not faint during the long-waiting-time.
  7. Fulbright program tidak mensyaratkan ikatan kerja, sementara untuk aplikasi beasiswa Dikti, ada syarat ikatan kerja di Universitas asal selama 2N+1 (N adalah lama studi). Jadi jika berhasil menyelesaikan studi 3.5 tahun, maka ikatan kerja di Universitas asal adalah 8 tahun. Saya siap melepaskan beasiswanya jika ikatan 2N+1 diberlakukan secara ketat untuk bekerja Senin-Jumat, 08.00-17.00 (mending beasiswa dilepas dan jadi dosen LB).
Jadi, begitulah... My Doctorate Journey still going to take looooonggg time.




Thursday, November 19, 2009

Menjadi Peserta Askes

Hari Jumat minggu lalu, saya merasa ada yang aneh dengan tubuh saya. Suhu badan meningkat dan beberapa anggota tubuh menjadi pegal2, serasa habis mengangkat beban puluhan kilo. Hari Sabtunya saya melihat ada bentol2 gak jelas di sekitar perut dan tangan. Feeling saya, ini cacar air. Saya segera surfing di Internet tentang gejala yang saya alami. Ternyata cocok dengan gejala terserang virus herpes, tepatnya Virus Varicella-zortex - atau cacar air.

Saya segera cari info pembasmiannya - dan ketemulah dengan antivirus Acyclovir. Hari Sabtu itu juga, saya segera beli Acyclovir krim 50mg, Acyclovir tablet 400mg, tujuannya untuk memperlambat pertumbuhan virus (bukan untuk mengobati). Untuk menghilangkan pegal2 di badan saya gunakan Ponstelax (Mefenamic Acid). Lalu bentol2nya diatasi dengan Ometilson tablet (metilprednisolon) - yang ini untuk anti-inflamasi atau mengatasi peradangan. (bapak/ibu dokter, correct me if i'm wrong, I got the information from the Internet).

Hari Minggunya, I'm totally fine! Thanks God for that, saya menjalani aktivitas hari Minggu seperti biasanya. Di hari Senin, waktu di kantor, bentolan mulai muncul secara sporadis di wajah, dada, perut dan punggung. Well, Varicella-zortex virus fights back. Saya ingat saya punya asuransi kesehatan dari tempat saya bekerja. Normally, I won't go to doctor. Doctor is my last option (sorry for the doctors). Tapi saya pikir, kenapa nggak dimanfaatkan aja... Ini kan fasilitas yang memang diberikan untuk karyawan. Dalam pikiran saya, mengingat tempat saya bekerja adalah organisasi yang terpandang (international-gonna-be), maka asuransi kesehatan yang diberikan adalah asuransi kesehatan yang... number one service. But I was wrong.

Pulang kantor saya segera ke dokter T*, dokter yang ditunjuk untuk menangani pasien asuransi kesehatan tempat saya bekerja. Di tempat prakteknya tidak ada pasien, hanya saya seorang. Saya sampai sekitar Pk. 17.10. Waktu saya bel, pembantunya yang membukakan pintu pagar, lalu dari seberang "majikannya" bertanya ke saya, "dari mana?!", saya bilang "dari M**", tempat saya bekerja.

Saya dipersilahkan masuk ke ruang tunggu. Lalu menunggu - yang perasaan saya mengatakan cukup lama. Saya bertanya2, sedang apa gerangan dokternya? Lalu pintu dibuka, dan saya dipersilahkan masuk oleh "sang majikan" tadi - yang ternyata adalah Ibu dokter T*. Beliau tidak berpakaian dokter, namun hanya mengenakan kaos sehari-hari yang biasa dipakai ibu2 kalo lagi masak, atau nonton sinetron di TV. Saya nyaris mengira beliau bukan dokter.

Tanpa menyapa dan memperkenalkan diri, beliau mempersilahkan saya duduk. Saya memperkenalkan diri, menyebut tempat kerja saya. Beliau mengiyakan, lalu sibuk menyiapkan kertas/alat tulis (bukan alat kedokteran) untuk mengisi form bahwa pasiennya dari asuransi kesehatan A*. Sambil sibuk menulis, beliau bertanya "Kenapa dik?". Saya menjawab, "Saya sepertinya kena cacar air...". Saya menggunakan kata "sepertinya" karena saya tidak berhak menegakkan diagnosa.

Beliau segera menghentikan kegiatan menulisnya (atau karena memang sudah selesai mengisi form-nya), lalu untuk pertama kalinya sejak kami bertemu, beliau memerhatikan saya dan berkomentar dengan pendek... "wah, iya..." That's it. No further question, no further diagnosis. Dia mengambil kertas resep. Saya berinisiatif untuk menceritakan kronologis kejadiannya dan obat yang sudah saya minum. Untuk kedua kalinya, sambil menulis resep, dia bertanya,
"sudah keluar semua (bentol2nya)?"
"sudah, di punggung dan di dada", jawab saya.
"bisa tidur?" Pertanyaan ketiga - masih sibuk menulis.
Saya merasa ada sedikit gangguan tidur karena suhu badan yang meningkat.
Dia menasihati agar saya minum air putih yang banyak, lalu menyerahkan resepnya. Ada 3 item di resepnya. Saya baca sekilas, lalu dia melanjutkan, "ditebus di apotek A*..." Sambil memberikan isyarat bahwa "case-closed". Saya tahu diri, segera mengucapkan terimakasih dan pamit. Waktu untuk menunggu lebih lama ketimbang waktu bertemu dengan dokternya.

Alih-alih ke Apotek A*, atas saran dari seorang rekan, saya ke apotek KF. Sampai di sana, perlakuan yang saya terima tidak jauh beda. Resep yang saya pegang adalah resep Askes - yang mana tempat pengambilan obatnya berbeda dengan resep dokter non-askes. "Di sana ambil obatnya!" Seorang wanita menginstruksikan ke saya waktu melihat resep yang pegang. "Di sana" yang dimaksud adalah tempat menebus obat askes untuk Rakin (rakyat miskin). Ada sebuah loket kecil dan diwajibkan membayar uang tiket sebesar Rp. 2000,-

Saya dilayani oleh siswa berseragam, yang dugaan saya adalah siswa SMK yang sedang magang kerja. Setelah menyerahkan resep di loket itu, saya menunggu bersama 3 pasien askes yang lain. Tidak ada yang salah dengan pelayanannya selain saya harus menunggu 30 menit untuk 3 item obat (non-racikan). Waktu hari Sabtu saya beli obat di Apotek, it took less than 5 minutes for 3 items.

Tiba-tiba saya ingat, saya belum minta surat keterangan istirahat dari dokter T* untuk meminta surat keterangan istirahat selama 4 hari. Karena ini birokrasi dari tempat kerja untuk izin tidak masuk, saya segera kembali ke dokter. Saya sampai sekitar pukul 6 lebih. Masih sepi seperti tadi. Saya mengebel, dan pembantunya (lagi) yang membukakan. Katanya, "Bu dokternya pergi... Malam biasanya kembali." Saya melirik papan namanya, "dr. T*, praktek 17.00-19.00". Hari itu saya tidak mendapatkan surat keterangan istirahat dari dokter...

Sekilas saya ingat aturan kepegawaian tempat saya bekerja "Cuti karena sakit lebih dari 2 (dua) hari wajib mendapat surat keterangan dari dokter yang ditunjuk oleh Universitas." Entah bagaimana urusannya dengan HCD nanti, karena "dokter-yang-ditunjuk-oleh-Universitas" sedang pergi entah ke mana (mungkin lain perlu menunjuk polisi tidur saja untuk meminta keterangan seperti itu, karena dia tidak akan pernah pergi dari tempatnya). Saya sejujurnya tidak suka dengan ikatan peraturan organisasi, tapi saya berusaha mengikutinya sesuai dengan prosedur. Sejujurnya, saya tidak keberatan untuk masuk dan mengajar (i'm perfectly fine to teach my students)... in fact, spirit untuk mengajar itu yang membuat saya totally fit. Tapi mengingat virus Varicella-zortex masih ada dalam tubuh saya, dan it is a highly contagious, saya merasa lebih baik kalau saya di rumah sementara waktu... Kalau mahasiswa saya tertular gara-gara saya, saya akan merasa sangat bersalah.

Hari itu saya mengerti bagaimana rasanya menjadi peserta askes, bagaimana dokter memperlakukan peserta askes dan bagaimana cara apotek melayani resep askes. Saya tidak tahu, apa semua kolega saya memegang kartu askes yang sama dengan saya pegang...


Monday, November 9, 2009

Golden Cage

My last posting was dazzlingly commented by Umi, one of (talented) UMC students. Her comment about "a bird in a golden cage" simply makes me realize one thing. The bird can fly, but so limited, depends on size of the cage... No matter how huge the cage is, it's still a cage though it's made from gold.

It has boundaries that the bird will never pass trough the boundaries. He'll also deal with the other birds inside the cage... Get scold, gossiped, intrigue, politics is their daily bread. However, the golden cage's owner simply provides whatever the birds want. And for some birds, living in a golden cage is really really a dream. It's a beautiful cage, provided with many facilities and it's so prestigious! They are willing to trade of their freedom with that beautiful cage.

But, indeed there are birds that not meant to be in that cage. Yes, itu jenis burung liar yang terbiasa bebas. Dia nggak bisa tinggal di sangkar sekalipun sangkarnya dari emas. Kebebasan lebih penting ketimbang hidup nyaman di sangkar emas. Kalau terlalu lama dikurung, burung itu akan membuka sangkar dan terbang bebas... Mungkin sesekali, burung ini akan kembali, tapi pasti akan terbang lagi.

Saya tahu seekor burung dalam sangkar itu. Burung yang pingin bebas... Tapi belum berani untuk keluar. Dia tahu, kalau dia memaksa untuk berada di sangkar tersebut, dia akan menyesal... Lima sampai sepuluh tahun kemudian, ketika dia menoleh ke belakang dan melihat apa yang telah dilakukannya, dia akan sedih dan menyesal... "Oh, what I've been done? I spent 5-10 years in this cage... I should have fly away 5-10 years ago..." But it's too late. The bird is old already, too weak to spread the wings and fly away. Most probably he'll spend the rest of their life in the cage and finally die in the cage. No one, but the birds in the cage, will notice his name. So sad... so tragic.

That bird must flies away or he will regret.


Friday, October 30, 2009

Get fired

Wallace E. Johnson - kalo disearch di Internet, maka namanya akan muncul bebarengan dengan Holiday Inn, jaringan hotel berbintang 5 kelas dunia (sekelas dengan Hilton, JW. Marriot, atau Shangrila). Wallace adalah salah satu co-founder dari hotel Holiday Inn.

Ketika berusia 40 tahun, Wallace dipecat dari tempat kerjanya, yaitu perusahaan di bidang perkayuan. Pada tahun itu, dunia sedang mengalami resesi akibat perang dunia ke-2 sehingga banyak terjadi PHK. Upah bekerja di perusahaan itu telah menopang hidup Wallace dan istrinya selama berpuluh-puluh tahun. Agar dapat bertahan hidup, Wallace tidak punya pilihan selain menjaminkan rumahnya dan membuka usaha di bidang konstruksi perkayuan (sebagai satu2nya ketrampilan yang dipunyainya). Lagi pula, apa yang bisa dilakukannya ketika tidak ada perusahaan yang bisa menampung dia bekerja. Proyek pertamanya adalah membangun dua buah bangunan kecil, dan lima tahun kemudian, di usia 45 tahun, dia menjadi seorang jutawan!

Dalam suatu wawancara dia mengatakan, "Today, if I could locate the man who fired me, I would sincerely thank him for what he did..."

Sure, jika dia nggak pernah dipecat, dia akan tetap hidup dalam sebuah rumah kecil dengan upah sebagai tukang kayu yang pas2an. Namanya nggak akan tercatat di sejarah sebagai seorang multi-millionaire dan co-founder Holiday Inn Hotel.

Hidup ini aneh ya? Seringkali masalah besar dalam hidup itu jadi titik balik untuk mencetak sejarah. Wallace, masalahnya saat itu sangat besar, dipecat tanpa uang pesangon, dalam keadaan miskin - dan antara hidup dan mati... Tapi justru dari situ, 5 tahun kemudian, malah jadi multi-millionaire.

Kita, termasuk saya, sering berhadapan dengan pilihan yang sama-sama enak... Di kerjaan, ada banyak pilihan... dan semuanya tinggal milih. Kalo keluar dari sini, tempat di situ pasti mau nerima, kalo nggak di situ, di sana juga ada yang mau nerima... Pilihannya nothing to lose semua, semua kemungkinannya baik... Nggak ada pilihan antara hidup dan mati kayak Wallace tadi... (atau tepatnya, saya tidak berani memposisikan diri saya dalam posisi Wallace). Mungkin itu sebabnya saya sampe sekarang blom tercatat dalam sejarah dunia.

Kadang (ato seringkali) saya berpikir agar saya dipecat saja dan nggak punya kerjaan. Jadi pengangguran, sehingga maksa saya untuk memeras semua tenaga, ketrampilan dan otak saya, fokus sepanjang waktu untuk mengerjakan satu hal yang membuat saya pada akhirnya bisa berkontribusi bagi masyarakat dunia dan tercatat dalam sejarah dunia (and of course, become a multi-millionaire). Tapi harapan dipecat itu sepertinya jauh di awang-awang. Alih-alih dipecat, saya malah diberi tanggung jawab yang menurut saya, akan membuat jarak yang lebih jaauuuhhh lagi untuk bisa dicatat dalam sejarah dunia. Kontribusi yang diberikan hanya berdampak lokal dan untuk sebuah organisasi lokal.

Ya mungkin memang semua harus diawali dari yang kecil.

Tapi ketika suatu hari ada email dari atasan saya, "Windra, you are FIRED!" - Then, I will smile and thank him/her, simply because sejarah dunia sedang dicetak hari itu. (And for my students, - if I really get fired - you might lose one lecturer, but I can promise you one thing: I'll make greater contribution for the society that you, your children or your grandchildren will have the benefit from that contribution...)

(I really respect of those people: Mbak Lily, Bu Titiek and Astrid... Jangan sia2kan kesempatan untuk mencetak sejarah dunia, semoga suatu hari saya bisa membaca atau mendengar seperti apa yang dikatakan Wallace, "I would sincerely thank to the organization for what they did...")

Thursday, September 10, 2009

Fulbright

My Fulbright application failed. Hiks...

I won't give up...
Ph. D before 35.
Professor before 40.
 

FCT#26 log © 2008. Chaotic Soul :: Converted by Randomness