Friday, September 16, 2016

Asisten Dosen

Sejak kembali ke Indonesia tahun lalu, semester ini pertama kali saya dapet mata kuliah yang bisa memilih asisten dosen untuk membantu dalam mengajar. Lowongan asisten dosen dibuka sebelum awal semester dimulai. Universitas tempat saya, bukanlah universitas yang di satu prodi ada ratusan mahasiswa seperti di universitas2 besar. Sampai saat ini, satu angkatan belum pernah mencapai 50 mahasiswa... rata-rata sekitar 20-30. Jadi bisa dibayangkan, kalau ada lowongan asisten dosen tidak akan ada banyak pelamar. Bahkan beberapa mata kuliah yang menawarkan lowongan asisten dosen, malah tidak ada yang melamar.

Nah, di mata kuliah ini, saya memutuskan untuk memilih seorang asdos. Sudah semester 7 dan sedang mengerjakan TA. Awalnya saya berpikir saya masih akan banyak mengurus kelas, membuat modul dan menugaskan asisten ini untuk hal-hal yang lebih administratif seperti grading dan presensi.

Modul pertama saya buat, dan saya serahkan ke asisten. Bayangan saya, nanti yang menjelaskan dan dia akan membantu untuk berkeliling atau troubleshooting kalau ada mahasiswa yang kurang jelas.

Pertemuan pertama praktikum. Saya membuka perkuliahan sebentar, lalu memberikan kesempatan asisten untuk berbicara di depan. Bagaimana performa asisten ini di pertemuan pertama akan menentukan tindakan saya di pertemuan-pertemuan berikutnya. Jika apa yang disampaikan kurang jelas, membuat mahasiswa malah bingung, semakin tidak mengerti... maka pertemuan mendatang, saya akan ambil porsi menjelaskan lebih banyak, dan tugas asisten lebih ke administratif. Saya nggak mau mahasiswa menjadi korban karena asisten yang kurang baik dalam menjelaskan.

Asisten ini mulai membuka presentasi. Berbicara dengan jelas dan tegas. Saya agak surprise karena apa yang disampaikan semuanya beyond my expectation. Lebih dari apa yang saya bayangkan sebelumnya. Hanya perlu waktu 3 menit bagi saya untuk tahu bahwa asisten ini bisa diandalkan. Bukan hanya sekedar grading atau presensi, bahkan sampai pada level menyusun modul, tugas, kuis dan UAS saya bisa mengandalkannya.

Di awal saya benar2 berpikir, sayalah nanti yang membantu asisten ini agar dia bisa dapet pengalaman mengajar melalui asistensi ini. Ya, surprise bahwa ternyata sayalah yang menjadi sangat terbantu karena dia sudah menyiapkan semuanya dengan baik. Baik sekali.



Monday, January 25, 2016

Sedikit pilihan

I only have one pair of shoes. Only one - dan belum berencana membeli sepatu yang lain.

Alasannya simple.

Ketika ada lebih dari 1 pasang sepatu, akan ada waktunya saya hendak pergi dan bertanya-tanya sepatu yang mana yang hendak saya pakai. Memikirkan hal-hal seperti itu, buat saya menyita waktu dan energi. Waktu dan energi yang seharusnya bisa saya gunakan utuk memikirkan hal lain yang lebih bermanfaat. Jika hanya ada 1 pasang sepatu, saya tidak akan membuang-buang waktu dan energi untuk sekedar memikirkan sepatu mana yang akan saya kenakan. Tidak ada pilihan lain dan saya akan pakai sepatu itu hingga masa pakainya benar-benar habis.

Semakin banyak pilihan, akan semakin membuang waktu dan energi. Dengan hanya ada satu pilihan, ke acara apapun yang perlu mengenakan sepatu, saya akan mengenakan sepatu tersebut. Tidak perlu bingung memilih mana yang akan dikenakan.

Hal yang sama saya berlakukan untuk pakaian. Saya tidak (mau) punya banyak pakaian. Yang penting nyaman dipakai baik ketika naik motor maupun naik mobil. Saya sedang kepikiran untuk membeli beberapa baju batik yang akan selalu saya pakai untuk kemanapun saya pergi, baik acara resmi maupun tak resmi, baik untuk kerja ataupun pelesiran. Pola batiknya harus netral, sehingga pergi ke manapun saya tidak perlu bingung memilih yang mana batik yang tepat.

Sounds good dan semoga bisa ketemu pola batik yang seperti itu.


Friday, January 22, 2016

Macbook Pro i5

Beberapa barang yang saya beli, telah berhasil mengubah cara saya bekerja dan menciptakan peluang-peluang yang belum pernah saya bayangkan sebelumnya.

Akhir tahun 2012, ketika pertama kali saya ke Amerika untuk mempresentasikan hasil penelitian di ajang RSNA, saya sedikit argue dengan diri saya ketika melihat promo Kindle Ebook Reader di bandara Minneapolis, tempat saya transit sebelum menuju ke Narita. Harganya promonya $99. Antara beli atau tidak. Saat itu saya belum punya gadget apapun. Bahkan HP di Jepang juga menggunakan hape flip untuk sekedar telepon dan sms. Hidup irit dengan beasiswa yang terbatas, apalagi ada keluarga.

Tapi akhirnya saya memutuskan untuk membeli Kindle tersebut dengan merelakan $99, dan saya nobatkan sebagai investasi terbaik tahun 2012 - atau mungkin sepanjang sejarah saya melakukan investasi.

Kindle seharga $99 itu - yang sekarang sudah nggak bisa berfungsi lagi, membawa saya untuk publish banyak buku lewat kdp.amazon.com... $1000 pertama yang saya dapatkan dari Internet, sedikit banyak karena device kecil yang saya beli seharga $99. (Di sini ada sedikit cerita tentang Kindle saya).

Keberhasilan menghasilkan $1000 pertama itu, mengubah cara pandang saya terhadap internet. Ada rantai supply and demand yang sangaaaat besar di Internet. Cari demand-nya, dan supply dengan baik, you'll get the loyal customer for the rest of your life.

Dari hasil publish buku lewat kdp.amazon.com, saya lebih punya "modal" untuk menjajaki model bisnis di internet yang lain. Buat saya, nothing to lose... Kalaupun "bangkrut", toh modalnya juga bukan dari uang pribadi. Many failed, some success and some brings HUGE success dengan terus-menerus memberikan income stream.

Saat itu, memutuskan membeli gadget atau PC untuk bekerja tidak lagi bergantung dari beasiswa... Prinsip saya apakah perangkat tersebut dapat menunjang produktivitas saya dalam bekerja? Apakah dalam beberapa bulan dengan saya bekerja pada perangkat tersebut, saya bisa bisa menghasilkan seharga perangkat tersebut? Jika bisa, saya akan beli.

Tahun 2014, untuk pertama kalinya saya beli Macbook Air. Saya beli second di Yahoo Auction Jepang seharga 50.000 yen. Sejak saat itu, saya bener2 jatuh cinta dengan produk-produk Apple. Ketika Macbook Air sudah dirasa kurang kuat untuk menunjang kerjaan bikin apps, tahun 2015 saya beralih ke Macbook Pro i5 hingga saat ini... dan sama sekali tidak ada keinginan untuk berganti ke Windows. Macbook Pro dan OS El Capitan benar2 membuat Windows nampak ketinggalan jaman.

Bahkan PC Windows yang disediakan di ruang kerja saya, saya pakai monitor-nya aja agar Macbook Pro saya bisa dapat tambahan layar. PC-nya sendiri jarang (nyaris tidak pernah) saya pakai.


Macbook Pro ini sudah menghasilkan lebiiih dari harga ketika saya beli - dan saya kira masih akan terus menghasilkan. Target berikutnya adalah iMac 27.

Thursday, December 24, 2015

Dosen Tersertifikasi

Pagi ini dapat kejutan. I am officially a ceritified lecturer. Saya resmi sebagai dosen yang tersertifikasi.



... dan saya melabeli posting ini dengan tag Professorship Journey. This is the first step of my professorship journey. More to come.

Anway, ada cerita behind the scene pengajuan sertifikasi dosen ini. Salah satu syarat untuk pengajuan sertifikasi dosen ini adalah membuat deskripsi diri. Kita diminta untuk menceritakan bagaimana sebagai dosen mengembangkan kualitas pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, manajemen institusi dan peningkatan kualitas kegiatan mahasiswa.

Ada total 24 poin yang harus di-deskripsikan dan setiap deskripsi wajib diisi minimal 50 kata. Saya bisa dan terbiasa menulis. Tapi tidak terbiasa menulis untuk melebai-lebaikan diri saya. Ada beberapa poin di mana deskripsi tersebut kurang dari 50 kata.

Ketika deskripsi diri itu di-review oleh pimpinan universitas (sebelum di-submit untuk proses review berikutnya), komentar dari para pimpinan universitas sama, "Ini deskripsinya pendek - bahkan yang paling pendek dari semua dosen yang sedang mengajukan sertifikasi dosen". Lalu saya diberikan saran-saran perbaikan, menambah ini dan itu.

Saya mengambil resiko. Alih-alih memanjangkan deskripsi diri, saya biarkan apa adanya. Tidak saya lakukan perubahan apapun. Saya merasa apa yang sudah saya lakukan selama ini sebagai dosen, sudah saya deskripsikan dengan baik. Tidak perlu ditambah atau dikurangi.


Puji Tuhan dengan deskripsi apa adanya itu, saya bisa dinyatakan lulus sertifikasi - mengawali 2016 sebagai dosen yang (telah) disertifikasi.


Tuesday, November 17, 2015

Jam Kerja

Jam kerja di tempat saya adalah jam 8 pagi sampai dengan jam 5 sore. Ada 8 jam kerja (dan 1 jam istirahat). Dalam seminggu ada 5 hari kerja, sehingga seorang pegawai bekerja setara dengan 40 jam seminggu.

Ketika Bulan Oktober lalu kembali setelah 5 tahun di Jepang, saya sempat kagok dengan jam kerja tersebut. Saya perlu waktu untuk menyesuaikan. Selama 5 tahun studi di Jepang, saya diperlakukan sebagai "karyawan" lab. Ada "jam kerja", yaitu dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore. Tapi suasana "kerja"-nya bisa membuat saya rileks.

Saya bisa masuk jam 10 pagi (misalnya karena paginya masih harus ke bank atau ke kantor kecamatan), bisa juga saya masuk jam 7 pagi, stay di lab sampai jam 9 malam atau bahkan hari itu nggak nongol sama sekali di lab... Semua bisa (dan pernah) saya lakukan tanpa feeling guilty. Yang penting, ketika presentasi progress report (seminggu sekali) saya bisa menunjukkan bahwa ada kemajuan/hasil dari penelitian yang dilakukan selama seminggu terakhir.

Kembali ke Indonesia, bulan pertama saya kagok. Saya harus absen finger print setiap kedatangan dan kepulangan. Kalau mau keluar di jam kerja, mau terlambat ataupun tidak masuk, harus ada izin - atau potong jatah cuti (begitu aturannya). Saya tiba-tiba merasa gerak-gerik saya terbatas sekali, dan sepertinya saya sedang diamati under the big lens (merasa BUKAN benar-benar diamati). Tapi perasaan itu tetep aja bikin saya gak nyaman - dan menjadi terikat.

This is not right.

Kenapa suasana kerjanya nggak bisa "senyaman" seperti waktu saya di Jepang. Sama-sama ada jam kerjanya, tapi kebebasannya berbeda.

Akhirnya saya memutuskan. It's not about the working hour. It's about how I finish tasks within specific timeframe. Saya merancang jam kerja saya sendiri dan apa-apa yang perlu diselesaikan dalam jam kerja tersebut. Untuk saat ini, saya merancang jam kerja sebanyak 32 jam seminggu untuk menyelesaikan tugas utama, yaitu penelitian dan pengajaran. Targetnya bisa 24 jam seminggu. Working hour is not an issue. It's about finishing the tasks within specific timeframe. Setelah tugas selesai, "jam kerja" sudah tidak bisa lagi mengikat saya. Nggak perlu lagi bengong di kantor nunggui jam pulang.

Saya nggak feeling guilty lagi kalau saya datang terlambat, pulang lebih awal atau bahkan nggak masuk kerja. Kenyamanan seperti ini lebih penting buat saya ketimbangan posisi atau jabatan tinggi.



Thursday, November 12, 2015

Posting 5 tahun yang lalu

Pagi ini ketika membuka Facebook, muncul di newsfeed posting saya 5 tahun yang lalu.


Lima tahun yang lalu, tanggal 12 Nov 2010, saya mendapatkan surat dari Curtin University (Australia) bahwa saya diterima untuk masuk di program Doctor. Beberapa bulan (atau tahun) sebelumnya saya secara sporadis mengirimkan research proposal ke beberapa universitas yang ingin saya tuju, jepang, australia dan amerika. Yang di Jepang terlebih dulu memberi kabar dan memberikan Letter of Acceptance - sehingga saya memilih untuk melanjutkan studi di Jepang.

Beberapa bulan setelah studi di Jepang, surat dari Curtin University ini saya terima. Ada dilema waktu itu, apakah pindah ke Curtin atau tetap di Jepang. Di Jepang, saya saat itu masih belum masuk program doktor, baru masuk research student. Mungkin sekali untuk berpindah ke negara lain dengan skema beasiswa yang sama.

Kalau saja saya memilih untuk pindah ke Curtin, ceritanya akan jauh berbeda.

Jauh sekali.

Hanya sebuah keputusan simple 5 tahun yang lalu, tapi bisa berdampak besar terhadap masa depan.


Monday, June 29, 2015

Terpilih sebagai featured articles di Journal of Medical Imaging

Kapan hari, saya submit artikel untuk jurnal medical imaging.  
Jurnalnya ini sebenernya jurnal baru. Current issue-nya aja baru Vol 2, yang artinya belum genap 2 tahun umurnya.  

Paper saya dimuat...
Dimuat setelah revisi 4 putaran yang memakan waktu 1 tahun lebih! Benar-benar menguras energi - dan berakibat studi molor 1 semester. 

Tapi saya jadi banyak belajar bagaimana mem-publish manuscript di jurnal internasional... setidaknya publikasi jurnal internasional jadi gak seserem yang dulu saya bayangkan. Ada strateginya. 

Kembali ke jurnal medical imaging tadi, alhasil artikel saya terpilih sebagai featured articles (http://medicalimaging.spiedigitallibrary.org/issues.aspx). Featured articles dipilih dari artikel-artikel yang ada dan redaksi menentukan 2 artikel yang menarik untuk dijadikan featured articles. 

Saya sebenernya juga baru tau kalo artikel saya terpilih sebagai featured article. Sensei yang kasih tau. Buru-buru saya screenshot sebagai salah satu kenang-kenangan studi S3. Kalau new issue udah publish, featured articles-nya juga udah beda... :)