Hari Jumat minggu lalu, saya merasa ada yang aneh dengan tubuh saya. Suhu badan meningkat dan beberapa anggota tubuh menjadi pegal2, serasa habis mengangkat beban puluhan kilo. Hari Sabtunya saya melihat ada bentol2 gak jelas di sekitar perut dan tangan. Feeling saya, ini cacar air. Saya segera surfing di Internet tentang gejala yang saya alami. Ternyata cocok dengan gejala terserang virus herpes, tepatnya Virus Varicella-zortex - atau cacar air.
Saya segera cari info pembasmiannya - dan ketemulah dengan antivirus Acyclovir. Hari Sabtu itu juga, saya segera beli Acyclovir krim 50mg, Acyclovir tablet 400mg, tujuannya untuk memperlambat pertumbuhan virus (bukan untuk mengobati). Untuk menghilangkan pegal2 di badan saya gunakan Ponstelax (Mefenamic Acid). Lalu bentol2nya diatasi dengan Ometilson tablet (metilprednisolon) - yang ini untuk anti-inflamasi atau mengatasi peradangan. (bapak/ibu dokter, correct me if i'm wrong, I got the information from the Internet).
Hari Minggunya, I'm totally fine! Thanks God for that, saya menjalani aktivitas hari Minggu seperti biasanya. Di hari Senin, waktu di kantor, bentolan mulai muncul secara sporadis di wajah, dada, perut dan punggung. Well, Varicella-zortex virus fights back. Saya ingat saya punya asuransi kesehatan dari tempat saya bekerja. Normally, I won't go to doctor. Doctor is my last option (sorry for the doctors). Tapi saya pikir, kenapa nggak dimanfaatkan aja... Ini kan fasilitas yang memang diberikan untuk karyawan. Dalam pikiran saya, mengingat tempat saya bekerja adalah organisasi yang terpandang (international-gonna-be), maka asuransi kesehatan yang diberikan adalah asuransi kesehatan yang... number one service. But I was wrong.
Pulang kantor saya segera ke dokter T*, dokter yang ditunjuk untuk menangani pasien asuransi kesehatan tempat saya bekerja. Di tempat prakteknya tidak ada pasien, hanya saya seorang. Saya sampai sekitar Pk. 17.10. Waktu saya bel, pembantunya yang membukakan pintu pagar, lalu dari seberang "majikannya" bertanya ke saya, "dari mana?!", saya bilang "dari M**", tempat saya bekerja.
Saya dipersilahkan masuk ke ruang tunggu. Lalu menunggu - yang perasaan saya mengatakan cukup lama. Saya bertanya2, sedang apa gerangan dokternya? Lalu pintu dibuka, dan saya dipersilahkan masuk oleh "sang majikan" tadi - yang ternyata adalah Ibu dokter T*. Beliau tidak berpakaian dokter, namun hanya mengenakan kaos sehari-hari yang biasa dipakai ibu2 kalo lagi masak, atau nonton sinetron di TV. Saya nyaris mengira beliau bukan dokter.
Tanpa menyapa dan memperkenalkan diri, beliau mempersilahkan saya duduk. Saya memperkenalkan diri, menyebut tempat kerja saya. Beliau mengiyakan, lalu sibuk menyiapkan kertas/alat tulis (bukan alat kedokteran) untuk mengisi form bahwa pasiennya dari asuransi kesehatan A*. Sambil sibuk menulis, beliau bertanya "Kenapa dik?". Saya menjawab, "Saya sepertinya kena cacar air...". Saya menggunakan kata "sepertinya" karena saya tidak berhak menegakkan diagnosa.
Beliau segera menghentikan kegiatan menulisnya (atau karena memang sudah selesai mengisi form-nya), lalu untuk pertama kalinya sejak kami bertemu, beliau memerhatikan saya dan berkomentar dengan pendek... "wah, iya..." That's it. No further question, no further diagnosis. Dia mengambil kertas resep. Saya berinisiatif untuk menceritakan kronologis kejadiannya dan obat yang sudah saya minum. Untuk kedua kalinya, sambil menulis resep, dia bertanya,
"sudah keluar semua (bentol2nya)?"
"sudah, di punggung dan di dada", jawab saya.
"bisa tidur?" Pertanyaan ketiga - masih sibuk menulis.
Saya merasa ada sedikit gangguan tidur karena suhu badan yang meningkat.
Dia menasihati agar saya minum air putih yang banyak, lalu menyerahkan resepnya. Ada 3 item di resepnya. Saya baca sekilas, lalu dia melanjutkan, "ditebus di apotek A*..." Sambil memberikan isyarat bahwa "case-closed". Saya tahu diri, segera mengucapkan terimakasih dan pamit. Waktu untuk menunggu lebih lama ketimbang waktu bertemu dengan dokternya.
Alih-alih ke Apotek A*, atas saran dari seorang rekan, saya ke apotek KF. Sampai di sana, perlakuan yang saya terima tidak jauh beda. Resep yang saya pegang adalah resep Askes - yang mana tempat pengambilan obatnya berbeda dengan resep dokter non-askes. "Di sana ambil obatnya!" Seorang wanita menginstruksikan ke saya waktu melihat resep yang pegang. "Di sana" yang dimaksud adalah tempat menebus obat askes untuk Rakin (rakyat miskin). Ada sebuah loket kecil dan diwajibkan membayar uang tiket sebesar Rp. 2000,-
Saya dilayani oleh siswa berseragam, yang dugaan saya adalah siswa SMK yang sedang magang kerja. Setelah menyerahkan resep di loket itu, saya menunggu bersama 3 pasien askes yang lain. Tidak ada yang salah dengan pelayanannya selain saya harus menunggu 30 menit untuk 3 item obat (non-racikan). Waktu hari Sabtu saya beli obat di Apotek, it took less than 5 minutes for 3 items.
Tiba-tiba saya ingat, saya belum minta surat keterangan istirahat dari dokter T* untuk meminta surat keterangan istirahat selama 4 hari. Karena ini birokrasi dari tempat kerja untuk izin tidak masuk, saya segera kembali ke dokter. Saya sampai sekitar pukul 6 lebih. Masih sepi seperti tadi. Saya mengebel, dan pembantunya (lagi) yang membukakan. Katanya, "Bu dokternya pergi... Malam biasanya kembali." Saya melirik papan namanya, "dr. T*, praktek 17.00-19.00". Hari itu saya tidak mendapatkan surat keterangan istirahat dari dokter...
Sekilas saya ingat aturan kepegawaian tempat saya bekerja "Cuti karena sakit lebih dari 2 (dua) hari wajib mendapat surat keterangan dari dokter yang ditunjuk oleh Universitas." Entah bagaimana urusannya dengan HCD nanti, karena "dokter-yang-ditunjuk-oleh-Universitas" sedang pergi entah ke mana (mungkin lain perlu menunjuk polisi tidur saja untuk meminta keterangan seperti itu, karena dia tidak akan pernah pergi dari tempatnya). Saya sejujurnya tidak suka dengan ikatan peraturan organisasi, tapi saya berusaha mengikutinya sesuai dengan prosedur. Sejujurnya, saya tidak keberatan untuk masuk dan mengajar (i'm perfectly fine to teach my students)... in fact, spirit untuk mengajar itu yang membuat saya totally fit. Tapi mengingat virus Varicella-zortex masih ada dalam tubuh saya, dan it is a highly contagious, saya merasa lebih baik kalau saya di rumah sementara waktu... Kalau mahasiswa saya tertular gara-gara saya, saya akan merasa sangat bersalah.
Hari itu saya mengerti bagaimana rasanya menjadi peserta askes, bagaimana dokter memperlakukan peserta askes dan bagaimana cara apotek melayani resep askes. Saya tidak tahu, apa semua kolega saya memegang kartu askes yang sama dengan saya pegang...