Friday, September 27, 2019

Jabatan Kaprodi 2019-2023

Periode baru di institusi kami baru saja dimulai.

Dimulai sejak terpilihnya rektor di bulan Juli lalu yang disusul dengan perombakan konfigurasi wakil rektor. Para wakil rektor diberikan wewenang sepenuhnya untuk menyusun konfigurasi unit-unit di bawahnya... Semacam pelatih sepak bola yang menyusun komposisi pemain, siapa kapten, siapa striker, siapa gelandang, siapa bek dan siapa kiper.

Di prodi saya, Teknik Informatika (TIF) juga kebagian perombakan kepala program studi (Kaprodi). Kaprodi yang lama, sejak beberapa waktu lalu sudah memberi signal untuk tidak melanjutkan menjabat. Lalu muncullah pertanyaan, kalau begitu siapa yang kira-kira potensial untuk menggantikan?

Ini pertanyaan yang mudah dijawab.

Dosen TIF ada 7 orang. Saya dan seorang rekan lagi adalah dosen TIF yang ada sejak TIF berdiri tahun 2007 (dan sama-sama sudah menyelesaikan studi S3). Rekan saya tersebut sudah disiapkan untuk jabatan lain. Rekan-rekan lain di TIF, belum ada yang menyelesaikan studi S3 dan baru bergabung antara tahun 2008-2012. Jadi pertanyaan siapa calon potensial untuk menjadi kaprodi TIF dapat dengan mudah dijawab.

WR I bidang akademik (dan mungkin dengan pertimbangan dari PSDM) juga dapat melihat hal tersebut. Saya dipanggil WR I dan ditanya kesediaan untuk menjabat sebagai kaprodi TIF.

Saya belum pernah menjabat sebagai kaprodi. Jika tawaran ini disampaikan 4 tahun lalu, saat saya baru kembali dari Jepang, saya akan menolak. Perlu waktu untuk melihat kondisi sebelum terjun di tanggung jawab yang baru... dan masa observasi itu sudah lewat. Dalam 4 tahun terakhir, saya (diam-diam) memetakan strategi. Saya (berkali-kali) memberikan usul, tapi banyak mental dan menguap begitu saja... hingga sampai pada level tunggu-aja-dulu-sampai-ada-perubahan. Saya maklum karena saya tidak di posisi untuk menentukan kebijakan.

Saya bukan orang yang mengejar jabatan atau berambisi untuk duduk dalam jabatan tertentu. Tapi untuk prodi TIF, saya merasa sudah waktunya untuk berbuat sesuatu. Ini prodi yang ibarat orang tua, saya melihat bagaimana kelahirannya dan ikut membesarkan di tahun-tahun pertama berdirinya. Jika diberi kesempatan untuk membuat kebijakan, memimpin dan memajukan, hell yeah! Saya sangat tertantang bisa mengoordinasi rekan-rekan dosen TIF (yang punya etos kerja yang sangat baik) demi kemajuan prodi.

Tentu tawaran jabatan prodi TIF periode ini tidak saya tolak. Tapi...

Agar terbuka di depan, saya menunjukkan sebuah surat perjanjian yang ditandatangan rektor pertama. Isinya tentang jam kerja saya. Duluuuu... ceritanya, ah sudahlah. Intinya di surat itu ada jam minimal kerja saya di kampus sebanyak 24 jam / minggu. Jadi, saya secara legal formal bisa hanya masuk 3 hari dalam seminggu. Tapi kenyataannya sejak sekembalinya saya dari Jepang, jam kerja saya belum pernah kurang dari 40 jam / minggu... Malah jatah cuti saya sering hangus sia-sia nggak dipakai.

Sesudah saya sampaikan surat itu, saya menunggu. 1 minggu.

Menunggu... Menunggu... 2 minggu.

Menunggu. Menunggu lagi. 3 minggu.

Tidak ada konfirmasi apapun (atau memang tidak ada kewajiban untuk memberikan konfirmasi?)

Sampai tanggal 26 September kemarin muncul pengumuman.

Yang terpilih sebagai Kaprodi TIF adalah... saya. Oh, bukan. Yang dipilih adalah rekan saya yang lain.



Wednesday, September 4, 2019

Ngoceh

Nah, ini video dari Shena yang lagi ngoceh. Sudah 2 bulan lebih seminggu, dan kalau pas gak lagi tidur, dia ngoceh sendiri dan gerak-gerakkan badan, tangan dan kaki. 



Ini kalau kata orang Jepang, "面倒臭いですが、楽しいです" (mendokusai desu ga, tanoshi desu) - walaupun repot tapi menyenangkan. Repotnya misal waktu ditaruh nangis, digendong tapi gak mau tidur-tidur... Jadi tidak banyak pilihan buat papa mamanya selain menggendong yang entah sampai kapan dia akan tidur.

Kakak-kakaknya sudah cukup mengerti untuk menyayangi adik bayinya. Dipeluk, dicium, diajak ngobrol kalau lagi bangun. Tapi kalau lagi tidur juga gak diganggu.




Saturday, August 10, 2019

Dealing with uncertainties

Having a baby simply means dealing with uncertainties. Banyak hal yang tidak dapat dipastikan. Tidak bisa dipastikan kapan baby akan BAK dan BAB. Mau BAB ya BAB aja. Gak peduli papa mamanya lagi tidur, lagi makan, lagi mandi... bisa anytime. Juga tidak bisa dijadwalkan kapan harus diberi susu. Kalau lapar ya nangis minta diberi susu, bisa pagi hari, bisa siang hari atau subuh... Kapan aja sesuai dengan nalurinya. Abis diberi susu, suka-sukanya sendiri, mau melek atau tidur atau terus pipis.

Uncertainties.

Bagi papa mama yang sudah life-rythm-nya sudah settle sebelum baby lahir, pasti ngerasakan seperti naik roller-coaster setelah kelahiran baby. Tiba-tiba semua berubah. Dari jalan datar, tiba-tiba naik, turun dengan drastis, berkelok dengan kecepatan tinggi, lalu datar beberapa saat sebelum berputar 360 derajat...

Seru.

Baby Shena tepat berusia 7 minggu.

Kepala sudah mulai diangkat dan sudah lebih sering digendong dengan posisi kepala di pundak yang gendong. Imunisasi terakhir yang diberikan adalah BCG yang diberikan lewat dokter di RSIA Mardi Waloeja, Kauman. Ada biaya dokter dan tindakan medis yang menghabiskan biaya sekitar 300K (semestinya bisa gratis kalau dilakukan di Puskesma atau Posyandu). ASI eksklusif masih tetap diberikan dengan pertimbangan ASI eksklusif lebih sehat ketimbang dicampur susu formula.

Here's the snapshot of her pic.






Monday, July 29, 2019

Minggu ke-5

Minggu ke-5 dari Baby Shena.

Hingga minggu ke-5, Baby Shena dalam kondisi yang perfectly healthy. Jarang menangis yang sampai kita kebingungan harus diapakan. Menangisnya  karena memang waktunya minum ASI atau tidak nyaman karena popok penuh (atau karena di-isengi kakak-kakaknya). Kepala sudah mulai diangkat.

Kemarin, hari minggu 28 Juli, pertama kalinya digundul. Awalnya saya gak kebayang harus digundul dengan cara apa. Pakai pisau cukur seperti terlalu tajam, pakai gunting apalagi. Ternyata solusinya pakai trimmer yang electric. Dulu kami beli trimmer waktu di Jepang, yang rencananya bisa digunakan untuk menghemat biaya potong rambut... Harga trimmernya sekitar ¥6000, sementara ongkos potong rambut termurah ¥1000. Perhitungannya biaya potong rambut akan lebih irit kalau membeli trimmer... Tapi ternyata trimmer jarang kepake dan saya  lebih nyaman potong rambut di salon ketimbang potong rambut sendiri. Alhasil sekarang jadi terpakai untuk menggundul Baby Shena. Hasilnya bagus dan rapi.







Wednesday, July 17, 2019

Being a Father of Three

How hard to be a father of three adorable kids?

Para orang tua yang sanggup membesarkan anak-anaknya tanpa bantuan baby sitter, nanny atau asisten rumah tangga itu orang tua yang super. We are on the journey of being a super parents. Little Shena sleeps most of the time. But she has to taken care of. Mengganti popok, cebokin, mandi, breast milking, gendong waktu nangis.

Perkembangan Little Shena hingga minggu ke-3: bisa mengangkat tangan dan menggenggam objek. Sedikit mengangkat kepala saat tengkurap.




PS. Baru saja selesai mengganti popok karena BAB. Harus dilakukan berdua dengan istri karena masih sulit untuk bisa cebokin sendiri. Posting ini selesai sampai di sini karena ada kerjaan lain menunggu.


Tuesday, July 9, 2019

How it feels to be a genius?

Dulu, waktu masih membina OSN Bidang Komputer, saya sering dealing with the gifted students. Gifted maksudnya punya dianugerahi kecerdasan di atas rata-rata. Ada beberapa yang perempuan... Dan saya sering bertanya-tanya, gimana rasanya menjadi orang jenius?

Hari ini saya dapat jawabnya, setelah membaca buku dari Audrey Yu Jia Hui (terlahir dengan nama Maria Audrey Loekita). Audrey seorang yang multitalenta. Prestasi akademiknya mencengangkan. Menyelesaikan studi S1 dengan major Fisika di The College of William and Mary (Virginia), salah satu dari top 30 universitas di Amerika. Lulusnya summa cum laude (karena IPK di atas 3.9). Oh iya dia lulus saat berusia 16 tahun (saat anak-anak seumurnya masih galau milih antara mengidolakan K-Pop atau nonton J-Drama).

Buku yang saya baca adalah Mellow Yellow Drama yang ditulis tahun 2016. Saya baca via Google Play Book (beli dengan harga Rp. 30K) dan ini satu-satunya buku yang berhasil saya selesaikan dalam one-sit-reading dalam 4-5 tahun terakhir, buku-buku sebelumnya selesai dalam beberapa kali baca atau belum selesai sampai sekarang.

Kenapa bisa selesai? Karena bukunya menarik dari awal sampai akhir (perkecualian di bagian akhir tentang kebijaksanaan konfusius, bukannya tidak bagus, namun saya kurang tertarik).

Bukunya ini ditulis dalam gaya memorabilia. Cerita yang diawali dari masa kecil Audrey yang sudah punya pemikiran berbeda dengan anak-anak seumurnya. Usia 3 tahun sudah bertanya, "Apa tujuan hidupku?" - dan membuat orang-orang di sekelilingnya (termasuk orang tuanya) takut dan was was.

Audrey ini jenius dalam arti yang sebenarnya. Menguasai bahasa Inggris, Perancis, dan Mandarin dengan fasih plus Bahasa Ibrani. Mengambil jurusan Fisika hanya karena di Fisika semuanya objektif dan eksak, benar adalah benar dan salah adalah salah. Berbeda dengan ilmu sosial yang subjektif (Audrey pernah kecewa karena diberi nilai A- pada salah satu esai bahasa perancis, lalu ketika dosen ditanya apa kekurangan dari tulisannya, dosen menjawab "A minus itu sudah bagus sekali. Aku jarang memberi nilai A").

Ini adalah cover dari memorabilia yang ditulisnya, "Mellow Yellow Drama".

Image result for mellow yellow drama pdf download

Setelah membaca buku ini, saya tahu ternyata menjadi jenius ternyata tidak seenak yang saya bayangkan. Orang jenius ibarat pesawat terbang supersonik, sementara yang lain adalah sepeda atau mobil. Ketika pesawat terbang supersonik ini rusak, tidak ada (atau sedikit) montir ahli yang sanggup memperbaiki. Ketika kerusakannya diserahkan kepada montir sepeda atau mobil, yang ada malah pesawat tidak mampu terbang dengan optimal, atau yang lebih parah menjadi semakin rusak. Itulah yang dialami oleh Audrey.

Saya berharap sekali Audrey bisa mengisi mata kuliah Kewarganegaraan di kampus saya yang sangat multiculture, Universitas Ma Chung.




Sunday, July 7, 2019

Meet Shena Elisha Lin

Posting pertama sejak... tahun 2016 lalu.
Really? After 3 years? Ngapain aja selama ini? Saya menulis, di media yang lain.

Meet my new baby girl. Shena Elisha Lin. Lahir 22 Juni 2019, 07.15. Proses kelahirannya agak dramatis (siapa sih yang kelahirannya nggak dramatis?). Subuh sekitar jam setengah 5 udah terasa kontraksi (perut mulas dan terasa agak pegal di punggung). Entah apakah kata mulas adalah kata yang tepat. Saya tidak tahu karena tidak bisa merasakan. Kontraksinya datang secara periodik. Karena penasaran, saya pegang stopwatch dan menghitung periodenya.

10 menit sekali.

Lalu jam 6, menjadi 7 menit sekali - dan beberapa kali lebih cepat jadi 3-5 menit sekali. Saya masih belum yakin ini kontraksi asli karena air ketuban tidak pecah dan tidak ada bercak darah yang keluar.
Jam 6.30 berangkat ke RSIA Mardi Waloeja, Kauman. Sampai di RSIA, istri sudah kehabisan tenaga. Lemas. Tidak bisa mengatur nafas dengan baik. Beberapa kali meminta agar proses persalinan diselesaikan dengan sectio.

Turun, lalu masuk IGD karena kondisi lemas. Dibaringkan di bed. Dokter jaga melihat sekilas lalu menggali informasi lewat saya.

Bidan datang. Bersiap-siap meng-USG untuk melihat posisi bayi. Kontraksi semakin intens. Saya di samping (berusaha) menenangkan, walaupun tidak berhasil (siapa sih yang bisa tenang dalam kondisi kontraksi hendak melahirkan?).

Baby mulai keluar. Saya melihat secara langsung, untuk ke-2 kalinya, bagaimana proses kelahiran bayi (yang pertama kokonya, anak ke-2 belum sempat lihat sudah keburu lahir, ini yang ke-2 kalinya dan mungkin yang terakhir kali). Diawali dari kepala. Bidan dengan sigap menarik kepalanya sampai keluar semua dengan komplit. Begitu keluar langsung ditutup dengan perlak, dan baby menangis dengan kencang.

Waktu tahu saya punya anak, banyak yang bingung? Loh, kapan hamilnya? Kok tiba-tiba punya anak.
Istri saya kalau hamil memang gak keliatan, tahu-tahu ngelahirkan.



Ini Shena usia 2 minggu.

Usia 2 minggu masih belum banyak perubahan dibandingkan saat pertama lahir. Metabolisme tubuh sudah berlangsung dalam bentuk BAK dan BAB. BAB belum padat, masih encer berwarna kekuningan (which is normal). Waktu tidur mungkin sekitar 20-22 jam per hari. Mamanya bilang minum ASI-nya gak sekencang kokonya. Mungkin ada faktor jenis kelamin.

Kalau pas bangun biasanya gerak-gerakkan tangan, kaki, sedikit memutar kepala (karena masih belum bisa tegak kepalanya). Biasanya saya iseng lalu gulung-gulungkan dan bolak balik badannya. Dia gak berdaya, hanya bisa pasrah.