Tuesday, August 3, 2010

How do you know if she's the one?

"How do you know if she's the one?" Tanya seorang teman setelah saya menikah (yang kemudian ternyata tambah banyak pertanyaan semacam itu dari teman-teman yang lain). Mereka curious, bagaimana saya bisa "tahu" bahwa dia, an-angel-who-melt-my-heart (aawmmh), adalah jodoh saya. Kenapa nggak milih the-girls yang lain (such as the-girl-who-still-remain).

"How do you know, Win...?" Well, let me answer strictly, "I don't know!". Iya, saya nggak benar-benar tahu apakah memang she's the one. Loh, lah terus kok nekat dinikahi? Ya, itulah iman... Sesuatu yang kita belom yakin 100%, tapi tetep kita lakukan.

Aneh ya? Iya.

"Kalo nanti ternyata salah gimana...?" Biasanya saya dikejar dengan pertanyaan seperti itu... Ditambah lagi, "Married kan cuman sekali... Kalo salah pilih jadi nyesel seumur hidup dong." Jawaban saya simple aja, "Nggak bisa salah selama kita punya iman bahwa dia adalah yang terbaik dari Tuhan".

"Dari mana munculnya iman itu?" Nah, ini yang a bit complicated. Saya rasa, it started from a small seed. Small seed itu kita bawa ke Tuhan (dalam doa). Ketika Tuhan liat bahwa itu yang terbaik buat kita, God will grow that seed. Saat benihnya tumbuh, iman kita juga akan tumbuh. Kemudian akan muncul tanda-tanda yang lebih meyakinkan sehingga iman kita jadi bertumbuh lebih lagi. (catatan: ini nggak bisa berlaku untuk mereka yang nggak percaya Tuhan, ato sekedar percaya2an, tapi nggak punya relasi dengan Tuhan).

In my case, it started with a small seed. Perasaan saya terhadap aawmmh biasa aja awalnya. Semakin saya kenal, muncullah a very small seed of faith bahwa dia akan jadi pasangan hidup saya kelak. Emm... Sejujurnya benih yang sama juga muncul untuk the-girls yang lain (well, you-know-who-you-are). Saya bawa semua seeds itu ke Tuhan lewat doa. Tapi somehow, seed-nya aawmmh ini adalah the-fastest-growing-seed dibandingkan yang lain. Sementara the other seeds, beberapa nggak tumbuh dan beberapa malah mati. (catatan: sekali lagi, tanpa adanya relasi dengan Tuhan, kemungkinan besar, seed yang bertumbuh adalah seed yang ditumbuhkan oleh emosi kita sendiri - semacam kita convince diri kita sendiri bahwa she's the one, padahal itu karena emosi ato romantisme terhadap dia).

Jadi dengan modal iman bahwa aawmmh adalah pasangan hidup terbaik yang disiapkan Tuhan, saya memutuskan untuk menikahinya. Episode berikutnya ini convince saya bahwa she's the one. Everything was sooooo smoooootthh... Mulai dari hal besar (pertunangan, pertemuan keluarga, persiapan pernikahan, keuangan, tempat tinggal) sampai yang hal yang kecil (undangan, susunan acara, tempat) semuanya smooooottthhh. Saya rasa, ketika Tuhan approve, semuanya jadi gampaaaaangg banget. Yang kadang bikin nggak smooth itu emosi-manusia saya. Saya masih bisa egois dan pengen menang sendiri sampe terjadi friksi. Tapi kalo inget "iman-bahwa-she's-the-one", saya bisa lebih menekan emosi saya.

Jadi, "How do I know if she's the one?". Well, I dont, but I have faith that she's the one. Where did I get the faith? It started from a small seed, lalu Tuhan yang menumbuhkan benih iman itu ketika saya berdoa. Saya kemudian bertindak berdasarkan benih-iman yang bertumbuh itu.

It's not that complicated kok dalam milih pasangan hidup.


2 comments:

  1. so if it seems so difficult and the path looks so rough, it can't be the one?

    ReplyDelete
  2. nggak gitu juga j,
    awalnya juga gak gampang2 amat. tapi faith-nya itu grow, dan growing faith itu yg kyknya mempermudah kita.

    ReplyDelete