Postingan

Tentang MLM Talk Fusion

Iya, kali ini nggak pake sensor atau wildcard untuk menutupi nama MLM-nya. Beberapa bulan lalu, saya ditawari MLM yang bernama Talk Fusion oleh rekan mahasiswa. Beberapa bulan berikutnya, rekan di Indonesia juga menawari produk ini - dengan message saya di FB. Saya waktu itu hanya membalas bahwa saya tidak punya cukup waktu untuk menjalankan MLM. Rekan tersebut lalu secara gencar mengirim email (spam) ke inbox saya yang menjelaskan tentang sistem dan produk MLM Talk Fusion - yang akhirnya email beliau saya filter sebagai spam. Ada kemungkinan, posisi saya yang di Jepang dipandang sebagai hal yang menguntungkan untuk membuka lahan baru memasarkan MLM. Pasar Jepang pasti besaaarrr... (begitu mungkin yang dipikirkan oleh pemrospek MLM terhadap saya). Hampir tiga tahun di Jepang, TIDAK sekalipun saya mendengar tentang bisnis MLM - dan juga tidak pernah ada yang menawari (kecuali rekan dari Indonesia). Dugaan saya, bisnis MLM hanya bisa berkembang dengan pesat di negara yang penduduknya...

Tahun ke-3 kuliah di Jepang

Tahun ke-3 di Jepang. Belum sekalipun saya kembali ke Indonesia - dan tidak berencana kembali dalam waktu dekat. Rasanya kurang nyaman berlibur ke Indonesia dalam kondisi "belum-pasti-kapan-lulus". Jadi saya nggak nyalahkan Bang Thoyib yang kondisinya sama seperti saya, 3 puasa dan 3 lebaran belum pulang. Bisa jadi Bang Thoyib belum mau pulang juga karena beliau tidak pasti kapan lulus... Tiap periode punya tantangan tersendiri. Di akhir tahun ke-3 ini tantangan yang sudah diperkirakan sejak sebelum keberangkatan akhirnya terjadi. Beasiswa dari DIKTI berakhir sementara studi belum selesai. Ada beberapa alternatif yang bisa dijadikan solusi. Pertama memohon perpanjangan beasiswa dari DIKTI. Kedua mencoba apply beasiswa di universitas/yayasan swasta Jepang. Ketiga mengajukan beasiswa dari institusi asal. Keempat membiayai studi dengan uang pribadi. Alternatif kelima adalah lain-lain (yang belum terpikirkan saat ini). Alternatif pertama gagal. DIKTI tidak menyetujui perm...

Dear 17-years-ago-Windra,

Halo Windra yang masih berusia 17 tahun... It's me, Windra who lives several years longer than your current age now. Yeah, I know. Sounds weird. I just wanted to send a letter to let you know that you've been doing good in the last several years. Kalo aku nggak salah ingat, kamu tentu baru mendapatkan surat pengumuman lulus SMA. So excited untuk bisa masuk perguruan tinggi dengan jurusan Teknik Informatika dan lagi persiapan UMPTN untuk bisa nembus Teknik Informatika ITS. Keep studying. I won't spoil whether you're going to pass UMPTN or not. Whatever the result is, just don't regret... it's the best result. Pesan pertama. Seriusi pemrograman komputer yang kamu tekuni saat ini. Terus belajar. Skill programming yang kamu miliki, kelak akan bisa bawa kamu untuk studi di negara yang bahkan nggak pernah kamu bayangkan untuk bisa studi di sana... It was really fun experience! Apalagi ketika kamu studi ditemani keluarga... (yeah, kita - atau tepatnya aku di masa...

'Ohana means family (3rd year)

Gambar
'Ohana means family, family means nobody gets left behind. Or forgotten. (Lilo and Sticth, 2002) Tahun ketiga pernikahan kami dan dalam kedaulatan-Nya, Tuhan berkenan untuk menitipkan seorang anak di keluarga kami. Kami menamainya Hideaki Joshua Swastika (Hide). Saya dan istri punya tanggung jawab baru, yaitu menjaga, mendidik, dan merawat sebaik-baiknya apa yang sudah Tuhan percayakan kepada kami. Tanggung jawab yang baru ini membuat kami belajar dan mengalami banyak hal baru. Hal-hal yang sebelumnya belum pernah kami alami - atau tidak akan pernah kami alami seandainya Hideaki tidak terlahir. Kami sudah lupa bagaimana rasanya tidur 5 jam non-stop tanpa terbangun karena tangisan Hide.  Usia Hide sudah hampir 10 bulan dan masih minum ASI. Tiap 2 jam (atau kapanpun saat Hide perlu minum ASI), dia akan nangis. Saat kami tidur, tangisan Hide akan membuat kami terbangun. Istri saya segera menyusuinya (dan saya kembali tertidur).  Karena kami tinggal di Jepang, kami harus be...

Mami di Jepang

Gambar
Kalau di TV era lama sering ada drama tentang guru SD yang mengabdi dan mengajar sampai puluhan tahun, saya kira itu nggak berlebihan (sekarang sih, sinetron yang mengangkat kisah semacam itu, mungkin kurang laku). Mami saya adalah living proof seorang ibu yang mengabdi sebagai guru SD selama lebih dari 30 tahun, sejak tahun 1970-an. Tiga puluh tahun bukan waktu yang singkat. Kalau dalam setahun akademik ada 250 hari dan setiap hari mengajar selama 6 jam, maka jam terbang mengajar mami sudah mencapai 45.000 jam! Kalo gelar doktor bisa diraih dalam 3 tahun, dalam rentang waktu 30 tahun mengajar, mami mestinya sudah punya 10 gelar doktor di bidang "guru SD"!   Anyway, mami tahun lalu sudah masuk masa pensiun karena sudah memasuki usia 60. Mami sekarang sudah bisa menikmati masa pensiun dengan tenang. Semua kerja keras yang dilakukan selama 30 tahun terakhir, terbayar sudah. Kerja keras ketika harus bangun pagi, menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya, berangkat mengajar...

Happy birthday, Mrs. Swastika.

Gambar
We celebrated it in a simple way. I bought a cake, with "ママ" (mama) written on a white chocolate. Simply emphasizing that this year is the first time she celebrates her birthday as a mom. I ordered a wallet as a gift to replace her 5-year wallet. Happy birthday, Mrs. Swastika. Our 7-months old son also enjoyed the ocassion. He grabbed the cake, and ate it. Innocently. Enjoy the cake, son?

Pindah ruang lab.

Gambar
Lab kami semakin padat dengan bergabungnya beberapa mahasiswa baru. Dengan semakin banyak anggota lab, maka ruangan lab yang lama sudah tidak lagi muat sehingga sensei mengambil alih sebuah ruang kosong yg tidak terpakai, yang kemudian dijadikan lab. Kemarin saya pindah ke lab baru ini. Di lab ini hanya ada 6 orang (termasuk saya) yang masuk dalam kategori penelitian tentang citra MRI (Magnetic Resonance Imaging). Dua orang mahasiswa master tahun ke-2, seorang mahasiswa master tahun pertama, dan dua orang mahasiswa bachelor tahun ke-4. Semuanya Japanese - which is good karena akan memaksa saya berinteraksi dengan mereka dalam bahasa Jepang. Kalo di lab sebelumnya, ada 2 orang mahasiswa internasional dari China. Seorang diantaranya cukup dekat dengan saya karena satu angkatan dan mejanya selalu bersebelahan dengan saya sejak saya bergabung di lab. Kami selalu berbicara dalam bahasa Inggris (yang tentunya kurang baik kalau memang ingin meningkatkan kemampuan bahasa jepang). Now, time...