Saturday, June 25, 2011

Kisah Rujak Petis

Bulan depan, genap 10 bulan saya di Jepang. Most likely, masih ada 40 bulan lagi yang akan saya lewati di sini. So exciting...dan mulai terbiasa dengan gaya hidup di Jepang yang serba tepat waktu. Ngerti rasanya ditinggal ditinggal kereta gara-gara telat beberapa detik. Kalo di Indonesia, ada angkot yang mau jalan, kita masih bisa lari2 ngejar angkotnya... Dan, para penumpang di dalamnya biasanya akan ber-baik hati untuk menyuruh sopir berhenti agar kita bisa naik. Juga pas angkot nggak mau jalan2 karena nunggu penuh, penumpang juga nggak protes. That's the way it is... Kalo mau ya monggo naek, kalo nggak... ya beli aja kendaraan pribadi.

Di sini, makan di depot ato restoran harus mengikuti aturan baku yang ditetapkan. Sebagian restoran, di dekat pintu masuk dilengkapi dengan vending machine yang ada gambar2 makanan yang siap dipilih. Pembeli tinggal masukkan uang, dan pencet gambar/tombol sesuai dengan makanan yang mau dibeli. Vending machine akan mengeluarkan selembar tiket yang kemudian diberikan ke mbak/mas penjaganya. Kita tinggal duduk dan nunggu. Makanan yang ada bener2 baku sesuai dengan gambar... mulai dari berat, jumlah kalori, panjang dan diameter mie, volume kuah sampe jumlah daun bawang. Next time kita makan dan pesen yang sama, kita akan dapet exactly the same. Nggak ada sistem kekeluargaan kayak di Indonesia... "Mas, mie-nya yang asin ya, nggak pake daun bawang, terus bawang gorengnya yang banyak..." Mas-nya pasti bingung karena mie semacam itu nggak ada di menu.

Kalo restoran nggak vending machine, mas/mbaknya pasti bawa alat pencatat pesanan kayak di Pizza hut Indonesia (nggak pake kertas). Pesanan pelanggan udah ada di menu alatnya. Mas/mbaknya tinggal pencet sesuai pesanan, dan bill akan dicetak saat itu juga. Kita tinggal nunggu. Sekali lagi, kita nggak bisa seenak udel minta customize... "Minta tambah kuah ya", "dagingnya nggak mau, diganti telor ceplok", "mie-nya nyemek2 ya". Nggak bisa kayak gitu, karena nggak ada di menu...

Kalo Indonesia, penjualnya jenius... Bapak yang jual soto di Jl Sempu, bisa ngelayani belasan tipe soto yang berbeda dalam satu waktu, tanpa pake catetan sama sekali! Sekali pesen ada puluhan kemungkinan... Soto biasa nggak pake gubis, soto biasa nasinya separuh, soto jerohan nggak seledri, soto telor saja nggak pake nasi, soto jerohan pake lontong, belum lagi kombinasi untuk porsi separuh dengan add-on/fitur yang berbeda2.

Beli rujak di Indonesia, juga bisa customize. Rujak cabe 5, nggak pake cingur, buahnya timun saja. Rujak nggak pedes, asin, minta tambah kacang, tapi nggak mau sayur, rujak petisnya dikit, nggak mau tahu tapi ganti tempe, rujak nggak pake lontong minta tambah sayur, dan puluhan kombinasi lain. Ajaibnya, penjual di Indonesia, sanggup melayani berbagai kombinasi pesanan pembeli tersebut. Sistemnya juga sistem kekeluargaan, tanpa ada charge tambahan.

Hal yang sama juga berlaku untuk penjual pangsit mie, nasi goreng, pecel, chinese food, atau juice.

Saya bayangkan, kalo sistem ini diterapkan di Jepang.
Warung Rujak Petis Makoto.
Di dekat pintu masuk ada sedikitnya 2 vending machine. Agar mempermudah untuk orang2 yang nggak mau repot, diberikan menu "Rujak petis default 1 (pedas)" dengan komponen standard: cabe 5 biji, tempe 3 potong, tahu 3 potong, menjes 3 potong, lontong 5 potong, cingur 3 potong, "Rujak petis default 2 (sedang)" dengan komponen standard sama seperti default 1, kecuali jumlah cabe jadi 2 biji dan "Rujak petis default 3 (tidak pedas)" yang tanpa cabe. Harga rujak default adalah 300 yen (setara 30ribu) - yang mana bisa dianggap makanan yang sangat murah.

Rujak petis Makoto juga bisa customize. Untuk yang customize, ada tombol cabe (dalam satuan biji, per biji 15 yen - setara dengan dengan Rp. 1500 - iya emang cabe mahal di sini), tombol tempe (dalam satuan potong, per potong 10 yen), tombol tahu (dalam satuan potong, per potong 10 yen), tombol menjes (dalam satuan potong, per potong 10 yen), tombol cingur (dalam satuan potong, per potong 25 yen), tombol sayur (dalam satuan 20 gram, per 20 gram 15 yen), tombol cambah (dalam satuan 10 gram, per gram 5 yen), tombol lontong (dalam satuan potong, per potong 5 yen), tombol timun (dalam satuan potong, per potong 5 yen), tombol kacang plus - untuk rujak dengan tambahan kacang (dalam satuan 10 gram, per 10 gram 10 yen).

Jadi, sekarang pembeli bisa beli rujak cabe 5 (75 yen), tempe 5 potong (50yen), menjes 3 potong (30yen), tahu 3 potong (30yen), cingur 1 potong (25yen), sayur 60gram (45yen), cambah 30gram (15yen), lontong 20 potong - biar kenyang (100yen). Totalnya adalah 370 yen (sekitar Rp. 37ribu).

Yang gawat, kalo ada pembeli bilang... "Mas, saya cuman punya uang 300 yen, tapi pengen makan rujak yang pedes... Tolong diaturkan dong, rujak yang paling pas..."

* Solusi: di vending maching perlu ditambah fitur kecerdasan buatan untuk menentukan pesanan yang optimal berdasarkan konstrain jumlah uang tertentu *




Tuesday, June 21, 2011

(Kisah) Belajar Bahasa (Jepang) - part 5

Suatu hari, ketika belajar Bahasa Jepang, saya dapet pewahyuan. Bukan pewahyuan tentang akhir jaman. Bukan juga pewahyuan tentang siapa presiden Indonesia 2014. Pewahyuan-nya simple, belajar bahasa Jepang tanpa belajar Kanji, ibarat makan rawon tanpa kuah. Ada yang kurang. Tapi sebaliknya, kalo belajar Kanji doang tanpa belajar (grammar) bahasa Jepang, ibarat makan rawon tapi kuah doang. Masih enak - apalagi kalo kuahnya kuah rawon Nguling.

Pewahyuan ini, bikin saya memutuskan untuk secara serius belajar Kanji.

Jumlah karakter Kanji standard yang dipakai di Jepang ada 2.136 biji (joyo Kanji istilahnya). Artinya 99% tulisan dalam Bahasa Jepang, dapat dipastikan menggunakan karakter yang termasuk dalam 2.136 itu. Kalo kita hafal/ngerti arti 2.136 kanji tersebut, berarti mau baca tulisan apapun, pasti secara garis besar bisa ngerti. Tapi kalo nggak hafal satupun, walopun grammar Bahasa Jepang-nya udah tingkat dewa-dewi, baca tulisan apapun dijamin nggak bisa.

Jadilah 5 bulan lalu, saya memutuskan untuk serius belajar membaca Kanji. Kalo di Jepang, 1.006 kanji pertama dipelajari selama SD (6 tahun), dan 1.130 sisanya dipelajari waktu SMP dan SMA. Kalo saya pake metode itu untuk belajar kanji, kelamaan... keburu kanji udah nggak laku... Jadi saya pake metode mnemonic dan spaced repetition system (SRS) - nggak tau kapan bisa saya jelaskan metode yang super duper efektif ini.

Karakter kanji ternyata sangat unik.
  • Sebuah kanji memiliki satu, dua atau lebih arti dasar yang nggak saling berhubungan. Misalnya karakter "長" bisa berarti "panjang", bisa juga berarti "pimpinan". Padahal kata "panjang" dan "pimpinan" nggak ada hubungannya.
  • Sebuah kanji dengan arti yang sama, dapat memiliki satu, dua atau tiga cara baca yang berbeda sama sekali. Kanji "速" (cepat), ketika muncul sebagai kata sifat dibaca "hayai", ketika muncul bersama karakter lain (misalnya pada kata bola yang melesat dengan cepat), karakter "速" dibaca "soku". Dalam pembacaan Kanji, tidak berlaku hubungan "satu-dan-satu" (satu-kanji-satu-cara-baca) - satu kanji dapat memiliki 2-3 cara baca yang berbeda.
  • Satu kata dapat dibentuk dari satu kanji atau gabungan dua, tiga atau empat kanji. Misalnya kata cuaca dibentuk oleh karakter 天 (langit) dan 気 (atmosfir). Kata kompas dibentuk oleh tiga karakter kanji, yaitu"羅" (?), "針" (jarum) dan "盤" (papan). Kabarnya ada satu kata yang terbentuk dari 4 karakter kanji, cuma saya belum pernah ketemu (dan berharap nggak sering2 ketemu).
  • Cara baca sebuah kanji, dapat overlap dengan kanji yang lain. Misalnya cara baca "bun" dimiliki oleh karakter "文" (sastra), "分" (menit), dan "聞" (kabar). Dalam ilmu bahasa, ini diistilahkan dengan homofon (bunyi sama, memiliki arti yang berbeda). Yang gawat, overlap ini sering terjadi dalam Bahasa Jepang, misalnya jumlah karakter yang dapat dibaca sebagai "gi" ada lebih dari 10 karakter, dapat dibaca sebagai "hi" lebih dari 20 karakter, dan karakter yang dapat dibaca "choo"ada lebih dari 30! Jadi kalo tiba2, nggak ada angin nggak ada hujan, ada orang Jepang bilang "choo", kita nggak pernah tau apa maksudnya.
Dan banyak lagi hal lain yang menarik tentang Kanji.

Hasil serius belajar kanji sejak 5 bulan lalu (dengan metode mnemonic dan SRS), telah membuahkan hasil. Kurang lebih 600 kanji sudah bisa saya baca dengan tidak lancar (karena adanya perbedaan cara baca tadi). Setidaknya saya berani diadu lomba baca Kanji dengan anak kelas 3 SD... Semoga di tahun ini lancar jaya bisa baca 1.000 kanji.

Nggak gampang memang belajar Kanji. Butuh waktu dan butuh metode yang tepat. Saya kagum juga dengan orang2 asing yang berhasil menguasai (dan bisa membaca) 2000 lebih kanji. Mereka kemungkinan adalah orang2 yang tekun/nggak gampang nyerah dalam belajar sesuatu, atau sudah terlalu lama di Jepang.

Seandainya saya cuman di Jepang 1 ato 2 tahun, saya nggak akan repot2 belajar Kanji... Tapi karena most likely saya masih di sini 3-4 tahun ke depan, jadi saya perlu belajar Kanji. Hidup di Jepang bisa lebih dinikmati ketika bisa membaca Kanji. Tapi... kayaknya tetep lebih nikmat rawon Nguling.


Thursday, June 9, 2011

Seminar dan Bahasa Inggris

Saya baru saja selesai seminar di Lab. Sebagai peserta, bukan pembicara.

Seminar kali ini, somehow, interesting.

Ceritanya, acara seminar ini rutin diadakan setiap hari Kamis. Pesertanya adalah anggota lab (yang terdiri 3 orang mahasiswa S1 tahun akhir, 4 orang mahasiswa S2 tahun pertama, 3 orang mahasiswa S2 tahun kedua, 2 orang mahasiswa doktor tahun ke-2 dan 2 research student). Setiap anggota lab dapet giliran presentasi sekali atau 2 kali dalam 1 semester.

Topik presentasi bebas, tapi HARUS bersumber dari jurnal internasional berbahasa Inggris dan yang berhubungan dengan topik yang sedang diteliti. Jadi, kalo lagi neliti dengan citra MRI untuk organ pernafasan, nggak relevan banget kalo di seminar membahas tentang perjalanan ke Gunung Bromo. Juga nggak boleh kalo topik presentasinya diambil dari majalah Trubus ato koran Surya, apalagi kalo sampe kopi-paste thread di kaskus. HARUS jurnal internasional. Tujuannya, agar si presenter belajar memahami bagaimana si penulis jurnal melakukan penelitian, dan menarik kesimpulan. Jadi si presenter harus menempatkan diri seolah-olah sebagai penulis jurnal tersebut, sebisa mungkin, juga ngalami gimana stress-nya si penulis jurnal ketika melakukan research. Isi jurnal harus benar2 dimengerti sampe titik komanya.

Walopun presentasi bersumber dari jurnal internasional, tapi selama ini presentasi selalu diadakan dalam bahasa Jepang. Hari ini, untuk pertama kalinya seminar diselenggarakan dalam Bahasa Inggris.

Sangat melegakan! Akhirnya saya bisa menikmati diskusi ilmiah dalam seminar. Membahas tentang topik terbaru penelitian di bidang medical engineering dalam bahasa yang bisa saya pahami.

Hari ini. si presenter adalah mahasiswa doktoral tahun ke-2. Topik pembahasannya adalah tentang knee joint (iya bener, dengkul-pun bisa dijadikan topik penelitian dan jadi disertasi doktoral). Tapi ya nggak membahas tentang hubungan antara dengkul dan otak. Judulnya, "Assessment of effect of braces on knee joint of OA patients with 3D CT and bi-plane dynamic fluoroscopy images" (tentang bagaimana pengaruh sendi lutut yang dipasang braces pada pasien yang menderita ostheoartritis).

Seminar jadi lebih menarik ketika profesor pembimbing menginstruksikan kepada SEMUA peserta seminar untuk bertanya dalam Bahasa Inggris (dan tentunya dijawab oleh presenter dalam bahasa Inggris juga). Dan, inilah hasil pengamatan saya sepanjang seminar:

Pertama, jelas bahasa Inggris bukan bahasa populer di Jepang (setidaknya di Universitas Chiba... oke, tepatnya di Lab saya). Pengucapan dan intonasi sangat dipengaruhi logat Jepang (mungkin sama seperti Singlish di Singapore ato logat Inggris medok yang sering saya dengar di Jawa)

Kedua, ketika sesi tanya jawab, hampir semua peserta membuka kamus dan mulai mencatat pertanyaan yang akan diajukan. Mungkin karena bukan bahasa asli mereka, jadi nggak bisa bertanya secara spontan.

Ketiga, nampaknya speaking dan listening bukanlah fokus utama ketika mereka belajar Bahasa Inggris di high school. Bahasa Inggris untuk percakapan sepertinya jauh di awang2 bagi mereka. Tapi bukan berarti Bahasa Inggris mereka o'on. In term of writing, reading, dan grammar, mereka sangat terlatih. Dari pertanyaan yang diajukan (walaupun dengan membaca), nampak bahwa mereka menyusun grammar dengan baik dan benar, tahu bagaimana meletakkan subject, verb, adjective, atau adverb di tempat yang benar. Kemungkinan grammar jadi fokus utama pelajaran bahasa Inggris di high school.

Ini kebalikan dengan Indonesia. Saya sering dengar bahasa Inggris yang asal njeplak. Nggak peduli grammar salah, tapi njeplak sekenanya, nulis sekenanya... Asal kedengaran cas-cis-cus, nggak dipikir lagi bener salahnya. Nulis status di Facebook juga asal nulis, pokoknya bahasa Inggris.

Tentu semua ada sisi negatif dan positifnya. Mahasiswa Jepang lebih terlatih dalam memahami bacaan dan menulis. Tapi tidak untuk percakapan. Sementara mahasiswa Indonesia lebih spontan dalam berbicara, bercakap-cakap, tapi kurang terampil dalam pemahaman bacaan ataupun menulis. Entah apa ada penelitian untuk menunjang hipotesis ini atau tidak.

Kalo diadakan lomba presentasi ato debat dalam Bahasa Inggris antara mahasiswa Indonesia dan Jepang, saya pasti jagokan mahasiswa Indonesia. Tapi kalo lomba pemahaman bacaan dan menulis, saya sudah pasti akan mendukung... ... ...

ya jelas mahasiswa Indonesia, lah wong saya orang Indonesia kok.