Wednesday, August 27, 2008

I would do...

Maybe, love is the greatest things in the world after all. Many people would do anything, even die in the name of love. Many creative great poets, musics, inventions and discoveries are found because of things called love. Many people willing to leave his family and working hard for his lovely family. It's quite amazed that this simple LOVE word can make people maximize their potential, do many things that he can't do before.
You can call it sentimental, overly emotional, over-romantic... But, would you do this to your girl... in the name of love...? (inspired from a bulletin board)

  • give her one of your t-shirts to sleep in.
  • leave her cute text notes.
  • tell her she looks beautiful.
  • look into her eyes when you talk to her.
  • let her mess with your hair.
  • touch her hair.
  • just walk around with her.
  • FORGIVE her for her MISTAKES.
  • look at her like she's the only girl you see.
  • tickle her even when she says stop.
  • hold her hand when you are around your friends.
  • be the one to take her hand, not to make her reach for me
  • be the one to call her, not to make her always call you
  • when she starts swearing at me, tell her you love her.
  • let her fall asleep in your arms.
  • get her mad, then kiss her.
  • tease her and let her tease me back.
  • stay up all night with her when she's sick.
  • watch her favorite movie with her.
  • kiss her forehead.
  • give her the world.
  • write her letters.
  • let her wear your clothes.
  • when she's sad, hang out with her.
  • let her know she's important.
  • let her take all the photos she wants of you.
  • when you tell her you love her, you'll love her like you've never loved someone before.
You may think that these things only happen in a perfect world, not in the world we lived in. But, I still believe that true love does exist. And I'll try my best to give that true love to a girl I love... (So sweeeettt...)

Sunday, August 24, 2008

Quantum Leap - Offering Preaching

Inspired from this Quantum Leap Posting by Pak Patris, I felt like having my own Quantum Leap on last Saturday Evening.

... and there he goes, stands in a luxurious well-decorated stage before the church musical drama "Gembel Jadi Pangeran" start. His job is to preach what-so-called "Offering Preaching" - a short preaching before offering time... It was easy thou actually, very easy for him if done in front of 10-15 youths - like he usually does in cell group. But this time, 500 people are coming to see the musical drama, 1000 eyes will stare at him and 1000 ears will listen to what he said. And... one more fact, preaching in front of hundreds people is realyyyy reallyyy not his natural ability...

So, when I was standing at the pulpit, in front of those foreigners to preach, I felt like having my Quantum Leap. Yesterday, I was Windra, an IT lecturer that usually lecturing 40-50 young college students. In a very short time, I change and leap in into this character. A character that must complete its mission: "do offering-preaching in front of 500 foreigners".

Well then, I accomplished the mission... But I know it wasn't my best. If Simon Cowell, one of the American Idols judges, was there, definitely he will say, "That was so forgettable-performance, Win. People will going home without even remember what you talking." Then with his strong british English, he'll continue, "You're not qualified to be in that glotious stage, Win. Go back and teach small class, you're lucky enough if your student know what you talking about..." Then the audience will "booo" him.

Well, whatever Simon said, I've set new record for my own, speaking in front of 500 foreigners - something that I've never done before. But, that's not the point. The point is that you'll surprise if you knew me 10 years ago.

A very sarcastic and selfish boy, solitaire and living in his own world, doesn't really care to people. Yet, deep inside his heart, he felt inferior, felt nothing but ordinary un-important and not-so-likable boy. He couldn't even speak clearly to other people, 5 words is enough to answer a very long question. In his 22, he found and encounter God's true love through Jesus and his life never be the same again. He started to speak and preach confidently in front of 10 people, 20 people, 50 people, 100 people, 200 people and yesterday 500 people. He's no longer feel inferior. He found his vision and destiny. God is not finish dealing with him, many great things are prepared and waiting to be done. That Saturday evening, definitely is one of God's preparation for him.

God... you always "wow" me with Your surprises.

Thursday, August 21, 2008

Bulan-bulan Tesis: Final Episode

In M* C** Uni, we have so-called "mentorship" program or "mentoring" if you prefer gerund or "discipleship" is also acceptable. Whatever it called, the purpose of this mentorship is transfering life values from the mentor to the mentees (those who are being mentored). This program is expected to shape their attitude during their 4 years study at M* C**, make them learn how to be a mature, wise, responsible, and successful people in marketplace, whereever they are. (I bet this program makes M* C** Uni different from other uni)
So, every student will have one (wise) mentor and at least one co-mentor. They are periodically gather and do some activities. They always have the opportunity to share their (personal) problems and asking for advice to their mentor. Having 15 mentees, our mentorship group is quite lucky to have three mentors, me, the rector of the university (yes, the rector willing to be a mentor and spend her time to do mentorship program) and one of math lecturer.

As a mentor, I'm thinking to share my struggling when I pursuing my Master. I wrote and sent an email
soon after I finish my Master Final Exams (August 13) to all my mentees. Then I decided to make it an open-letter to all. Wish the other students can learn something from I've experienced.

----
Dear all,
Saya hari ini baru menyelesaikan ujian tesis sebagai syarat akhir untuk
mendapatkan gelar Magister (Master). Ada beberapa hal yang ingin saya bagikan
khusus untuk adik-adik saya di Group Ole Johan Dahl ini. Semoga apa yang saya bagikan ini bisa berguna saat kalian nanti mengerjakan tugas akhir sebagai syarat kelulusan Sarjana.
Satu bulan yang lalu, saya sudah hampir menyerah saat melakukan
penelitian. Saya meneliti tentang pengembangan teori Jaringan Syaraf Tiruan yang melibatkan banyak perhitungan matematika. Hasilnya harus dimodelkan dalam program komputer untuk diuji dengan berbagai macam data. Hingga bulan lalu, program komputer yang saya buat tidak berjalan sebagaimana seharusnya. Menurut teori semuanya benar, tapi ketika program tersebut dijalankan dan diuji dengan data, hasilnya tidak sesuai dengan perhitungan. Pagi, siang, malam saya menelusuri ribuan baris program komputer itu untuk mencari di mana salahnya.

Tapi tidak berhasil menemukan, sampai di suatu titik, saya menyerah. Saat itu
saya sudah memutuskan untuk memperpanjang 1 semester lagi.
Tapi titik baliknya terjadi pada suatu Sabtu. Saya masih ingat, saya sampai di kantor Pk. 9 pagi, berencana untuk membuat materi pelajaran semester mendatang (jadi terbengkalai gara-gara fokus di tesis). Alih-alih membuat materi pelajaran, saya malah membuka-buka program komputer yang sebenarnya sudah saya rencanakan untuk saya diamkan beberapa minggu (karena saya sudah menyerah dan berencana memperpanjang masa studi). Tiba-tiba pandangan mata saya terfokus pada beberapa baris program di depan saya. Saya merasakan ada sesuatu yang salah di situ. Dari ribuan baris program, puluhan modul, “somehow” saya terfokus pada baris-baris itu. Lalu saya menurunkan ulang perhitungan matematikanya, mencocokkan dengan pemodelan di baris-baris program itu. Ternyata benar, di beberapa baris itu ada kesalahan yang fatal, tidak sinkron antara hasil perhitungan matematika dengan penerapan di program komputer. Rasanya seperti mendapat pencerahan. Saya melakukan perbaikan pada beberapa baris itu, lalu mulai menguji dengan data. Hasilnya sesuai dengan apa yang diperkirakan.
Setelah program dan pengujian data selesai, saya segera berkonsultasi
dengan pembimbing untuk menyusun laporan hasilnya, mengadakan seminar hasil untuk men-diseminasi (menyebarkan) hasil dari penelitian yang telah dilakukan. Lalu mengurus administrasi untuk ujian. Hasil penelitian itu harus
dipertanggungjawabkan dan diuji di hadapan 2 orang penguji dan 2 dua pembimbing. Saya lulus dengan nilai A.
Pengalaman selama saya melakukan penelitian ini telah membuat saya
belajar 2 buah pelajaran yang sangat penting dalam hidup.
Otak kita bukanlah segalanya, tapi Tuhanlah segalanya. Setiap malam,
saya senantiasa berdoa dan berharap penuh kepada Tuhan untuk tesis saya. Saya tidak pernah ragu dengan kekuasaan Tuhan. Di saat saya menyerah, Tuhan menunjukkan kasihNya untuk saya. Saya yakin, jika saya TIDAK pernah berdoa dan berharap kepada Tuhan, hari Sabtu itu akan jadi hari yang biasa, dan saya tidak akan pernah menemukan kesalahan programnya. Hari ini, sangat mungkin saya masih mencari-cari di mana kesalahannya. Otak kita sangat terbatas, tapi kuasa Tuhan
yang tidak terbatas. Masalah apapun yang kita hadapi, senantiasa berdoa dan berharap kepada Tuhan. Kita tidak pernah tahu kapan Tuhan menjawab doa kita dan dengan cara apa.
Pelajaran yang kedua adalah: jika untuk meraih sukses dapat dirangkum
dengan satu kata, saya akan merangkumnya dengan kata “Persistence” (ketekunan, keteguhan, kegigihan, kekuatan untuk terus mencoba). Jangan mudah menyerah. Kita tidak pernah tahu betapa dekatnya kita dengan kesuksesan yang kita inginkan saat kita menyerah. Saat ini, saya bisa mengukur bahwa ketika saya menyerah waktu itu, sebenarnya saya sudah sangat dekat dengan tujuan yang ingin saya capai, jaraknya hanya terpaut beberapa baris program. Saya bersyukur bahwa Tuhan yang
menolong.
Berdoa, berharap kepada Tuhan dan punyai ketekunan. Pelajaran penting
dalam hidup yang sudah saya alami untuk sukses mencapai tujuan. Semoga berguna.
Terimakasih juga untuk dukungannya selama ini (khusus kepada Bu S*** yang
senantiasa menaruh keyakinan kepada saya dan mendukung penuh saya, kepada Pak F*** yang banyak membantu dalam perhitungan matematisnya dan untuk semuanya!).
-windra
----
So, this posting will be the final episode of "Bulan-bulan Tesis" Series. Now I'm thinking to create another Series... I already have the name, it called "My Doctorate Journey" Series. Will be launched soon.

Saturday, August 16, 2008

Endonesha - Story behind independence day

This is a story of great country named United State of Endonesha. An independent and beautiful archipelago country located somewhere in Timbuktu. Hit almost 200million population, this country becomes a living legend. True living legend till now, but very few people know the history behind independence day of this great country. Many blood (and sweat) were shed at that moment.

Here's the story.

Endonesha - What the United State of Endonesha's historian never tell you

Part I - Rapat Penculikan

Jam 10 pagi, 14 Agustus 1945 TW (Tahun Timbuktu).
Lokasi: Rengasdengklek, Kerawang

Prolog: Saat itu Endonesha masih terjajah dan belum menjadi United State. Kondisi ekonomi morat marit, tiga tahun bangsa itu dijajah bangsa Jpang. Dalam tiga tahun itu, Sekarno, pemimpin bangsa itu, telah melakukan banyak negosiasi dengan bangsa Jpang agar Endonesha bisa mengatur sendiri kehidupan bernegaranya. Bangsa Jpang menjanjikan bahwa Endonesha segera diberi kemerdekaan. Bahkan agar lebih meyakinkan, Bangsa Jpang membentuk PPKE (Panita Persiapan Kemerdekaan Endonesha) atau Dokuritzu Zyunbi IInkei dan menunjuk Sekarno sebagai ketuanya.

Mereka rapat, 8 orang pemuda jomblo yang sudah ngebet pengen segera merdeka (dan kawin).

"Kita culik saja Sekarno!" Usul Melik, salah satu pemuda yang bersumpah akan menjomblo seumur hidupnya sebelum bangsa tercintanya merdeka.

Saleh, dengan kecerdasan setingkat di atas protozoa berusaha menganalisa ide itu. "Diculik? Untuk apa? Minta tebusan ya?" Jawabnya nggak nyambung, minggu lalu dia mengalami masa kelam hidupnya, yaitu ditinggal selingkuh Tina, pacarnya dengan seorang prajurit Jpang.

"YA UNTUK KITA PAKSA MEMPROKLAMASIKAN KEMERDEKAAN, DODOLLL...!!! Masak untuk kita ajak jalan2 ke Taman Ria..." Jawab Melik, emosi.

"Demi negara ini, gue rela nemenin Sekarno ke Taman Ria..." Jawabnya pragmatis, masih nggak nyambung. Beberapa pemuda di ruangan itu menoleh ke arahnya, memandang dengan iba.

"Culik, lalu paksa dia olang baca-ken ploklamasi...!" Timpal Oei Bun. "Ini waktu... pas buat kita olang untuk ploklamasiken kemeldekaan..."

"Proklamasi kemerdekaan..." Ralat Melik

"Iya, ploklamasi kemeldekaan maksud gwa... kmalen gwa dengel di ladio BBC kalo Sekutu sudah ngebom hilosima..." Sambung Oei Bun.

"Hirosima..." Ralat Melik

"Iya, hilosima maksud gua... Jadi kita atul skenalio penculikannya!!" Kata Oei Bun bersemangat.

"Skenario..." Ralat Melik

Para pemuda itu segera berunding...

"...."
"Loe bawa pentungan..."
"... andongnya mesti disiapin..."
"... iya, jgn lupa karung..."
"... sampe taman Ria..." Bletak! Sebelum Saleh melanjutkan idenya, sebuah jitakan mendarat dengan telak di kepalanya.
"... kudanya ada..."
"... jangan lupa salapan..."
"16 agustus, jam 4 pagi di jalan menteng..."
"... tapi taman Ria blom buka..." Protes Saleh. Kali ini para pemuda segera mengikat Saleh, menyekapnya, dan membuangnya di jalan.
"..."
"... oke, deal or no deal?"
"DEAL...!" Jawab mereka kompak. Kelak salah satu televisi swasta mencuplik kata "Deal or no deal" hari itu sebagai nama kuis.

***

Part II - Peristiwa Penculikan

Dini hari, Pk. 03.00 16 Agustus 1945 TW
Sepanjang jalan Menteng, Rengasdengklek, Kerawang

Segerombolan pemuda itu mengendap2 di Jalan menteng. Melik segera mengambil alih komando.
"Kainnya udah ada?"
"Sip, warnanya merah muda, 1x2 meter, cukup untuk bikin 2 potong baju" Jawab Adam Malich
"Andongnya?"
"Oke!"
"Karung?"
"Ada!"
"Pentungan siap?" Tanya Melik
Bletak...! "Aoowww..." Teriak Saleh, spontan. Kepalanya jadi korban pembuktian bahwa pentungan sudah disiapkan dengan baik.

Tepat di depan rumah no. 31...
"Pagelnya ditutup..." Komentar Oei Bun dengan tampang kecewa. Ia berharap pagar yang setinggi 4 meter itu dibuka lebar lalu mereka disambut dengan umbul2 bertuliskan "Selamat Datang Para Penculik Sekarno... Silahkan Masuk" lengkap dengan petunjuk arah lokasi plus tarian Lenong.
"Jadi kita manjat ya?" Tanya saleh
"YA, IYA LAH KITA MANJAT, DODOLLLL...! Masak kita mo ngetok2 dan bilang kalo kita mo nyulik Sekarno?" Melik emosi.

Mereka segera memanjat dengan susah payah pagar setinggi 4 meter itu. Setelah sukses memanjat pagar, mereka segera masuk ke dalam rumah. Di dalam, Sekarno masih terjaga, berbincang2 dengan Vatmawati, istrinya yang sedang menimang Petir anak mereka yang berusia 1 tahun (kelak, 55 tahun kemudian adik Petir, Awanwati menjadi presiden United State of Endonesha). Mereka sedang berbincang2 dalam ruangan yang diterangi cahaya lilin (karena lampu mati) mengenai masa depan negara Endonesha sambil ngemil kerupuk. Ke-8 pemuda itu bersembunyi dan mendengarkan perbincangan itu.

"... kekuatan yang segelintir ini tidak cukup untuk melawan kekuatan bersenjata dan kesiapan total. Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat..."

Bletakk... Melik mengayunkan pentungan dan memukul sebentuk kepala di depannya yang diharapkan itu adalah kepala Sekarno. Tapi yang muncul malah erangan dari Saleh.

"Adduuuhh..." Saleh mengaduh sebelum akhirnya pingsan dengan posisi tertelungkup memegang kepalanya yang dalam waktu dekat akan benjol. Karung yang mereka bawa, segera digunakan untuk menutup obyek kepala yang mengaduh tersebut. Dengan menggunakan andong, mereka membawa objek kepala yang benjol dan tubuhnya ke Jaharta, ibukota negara Endonesha. Sementara Sekarno menyaksikan kejadian tersebut dengan terenyuh dan bertanya2 nasib Bangsa Endonesha ke depan. Demi mendukung terlaksananya rencana mereka, Sekarno ikut naik andong tersebut, bersama Vatmawati dan anaknya, Petir. Lalu bersama2 mereka menyanyikan sebuah lagu yang akan dikenang oleh anak2 Endonesha sepanjang masa.

"Pada hari minggu, kuturut ayah ke kota,
Naik delman istimewa kududuk di muka..."

***

Part III - Proklamasi Kemerdekaan

17 Agustus 1945 (TW)
Jl. Pegangsaan Timur 56, Jaharta
06.00 WT

Setelah 14 jam perjalanan menggunakan andong dari Kerawang menuju Jaharta, tibalah mereka di Jl. Pegangsaan Timur 56. Beberapa pemuda lain sudah menunggu tibanya mereka.

Sementara Saleh sudah tersadar dari pingsannya, dan bertanya apakah mereka sudah sampai di Taman Ria. Pertanyaan itu disambut dengan pentungan untuk kedua kalinya yang membuat Saleh tak sadar dengan durasi pingsan dua kali lipat lebih lama dari sebelumnya.

Mereka mendudukkan Sekarno dan memaksanya untuk menuliskan naskah proklamasi. Sekarno meminta waktu dan ingin merapatkan dahulu dengan golongan tua, terutama Bung Bhatta yang saat itu menjadi wakil negara.

Para pemuda itu memaksa Sekarno untuk memproklamasikan kemerdekaan dengan cara2 premanisme (kelak, premanisme menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan United State of Endonesha, kemungkinan para preman2 itu meneladani apa yang telah dilakukan pemuda2 itu).

Tidak ada pilihan, Sekarno dan Bhatta segera berunding untuk menuliskan naskah proklamasi kemerdekaan.

Kami bangsa Endonesha dengan ini menjatakan kemerdekaan Endonesha.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
Semoea peristiwa sebeloem proklamasi dan saat proklamasi ini, harap
dikenang setiap tahoennja.

Djaharta, hari 17 boelan 8 tahoen 45
Atas nama bangsa Endonesha.
Sekarno/Bhatta

Tulisan tangan itu segera diketik oleh Melik dengan menggunakan mesin ketik qwerty yang dibeli dari pedagang kelontong tetangga, Jl. Pegangsaan Timur 58. Tepat pk. 10.00, Sekarno mengenakan peci hitam yang dipinjam dari Bung Bhatta, membacakan teks proklamasi itu.

***

Catatan sejarah yang tertinggal:
Setiap tahun sejak proklamasi kemerdekaan tahun 1945 itu, bangsa Endonesha merayakannya dengan cara yang tidak dilakukan bangsa lain, yaitu mengadakan lomba2. Lomba2 itu sebenarnya merupakan cerminan peristiwa yang terjadi menjelang proklamasi kemerdekaan.

Lomba makan krupuk untuk memperingati bahwa saat Sekarno diculik, beliau sedang ngemil krupuk bersama istrinya.
Lomba panjat pinang untuk memperingati ke-8 pemuda tersebut memanjat pagar setinggi 4 meter dalam tragedi penculikan Sekarno.
Lomba pukul bendok dengan kepala tertutup untuk memperingati bagaimana kepala Saleh terkena pentungan Melik saat terjadi tragedi penculikan Sekarno. Bendok (kendi) digunakan sebagai pengganti kepala, mengingat akan banyak korban yang akan berjatuhan jika lomba diadakan dalam versi aslinya, yaitu memukul kepala.
Lomba balap karung, untuk memperingati bagaimana kepala Sekarno ditutup karung saat diculik, walaupun ternyata sebenarnya kepala Saleh yang masuk ke dalam karung. Panitia memodifikasi lomba itu menjadi balap karung yang kita kenal saat ini, mengingat banyak korban tercebur sungai, nyasar ke RT tetangga, menabrak kerumunan penonton bahkan menabrak pagar tetangga ketika mereka berlomba dengan kepala tertutup.
Karnaval andong, untuk memperingati bahwa mereka dibawa menggunakan andong dari Jln. Menteng 31 ke Jl. Pegangsaan Timur 56.
***
Happy 63 Anniversary to my country, Indonesia...!
I'm proud to be an Indonesian.

Friday, August 8, 2008

Ikuti perkembangan atau mati mengenaskan!

Dunia IT (Information Technology) adalah dunia yang kejam... Di balik semua kemudahan yang bisa kamu nikmati so far (your gadget, computer, internet), ada kekejaman di dalamnya. Bahkan dulu saya sempat berpikir untuk ganti haluan dan quit berkarir di dunia IT, saking kejamnya dunia IT. Bagi seorang ITer, berlaku un-avoid-able law: ikuti perkembangan atau mati mengenaskan!

Saya bayangkan, seandainya saya nggak pernah ngikuti perkembangan IT setelah saya lulus kuliah S1 10 tahun yang lalu, most likely saya saat ini end up menjadi clerk / juru ketik / petugas administrasi somewhere in a small office with 6 digits salary (less than a million).

Bahkan sekarang-pun, setelah saya merasa telah memeras otak habis2an dalam 10 tahun terakhir, membaca puluhan bahkan artikel, buku IT setiap bulannya, belajar newest internet technology, programming setiap harinya, saya tetap masih merasa ketinggalan.

I'll give you the example how cruel IT field is.

Saya pernah membuat program aplikasi 3-5 tahun yang lalu (Payroll system with Finger print, Point of sales, Trading, etc).
At that time, aplikasi itu sangat berharga, orang mau keluar duit sebesar 7-8 digit untuk aplikasi itu. Tapi aplikasi itu sekarang udah nggak ada nilainya, tergantikan dengan teknologi yang
lebih baru. Padahal dulu bikinnya spend waktu months (dan berpikir
bahwa aplikasi tersebut bisa di-package lalu dilempar ke pasar - lalu bisa menikmati hasilnya lewat penjualan package tersebut).
Sekarang? Aplikasi itu udah jadi sekumpulan file usang di komputer yang nggak pernah
diakses lagi. Nilainya ter-depresiasi menjadi Rp. 0.

Tahun lalu, saya punya ide untuk membuat website e-commerce. Saya merasa telah menguasai semua teknologinya, dari product sampe payment system (hasil 1 tahun research) - saya bahkan sampai membuat 2 seri buku tentang e-commerce. Hari ini, ide yang nggak pernah saya realisasi itu sudah usang. Ide itu sudah bukan ide brilian lagi. Sekelompok "netpreneur" di Malang menjalankan ide tersebut dan menghasilkan omset ratusan juta per bulan. Saya hampir bisa memastikan, di kota besar lain (Surabaya, Jakarta), ada puluhan grup netpreneur yang melakukan hal yang sama. Ide e-commerce sudah usang. Kalau saya merealisasikan ide saya, kompetisi-nya sudah sangat mengerikan. I need something fresh and be pioneer. Saat ini ada puluhan ide di otak saya untuk IT ini, yang saya yakin, kalau nggak segera saya wujudkan dalam 3 bulan ke depan, nasibnya akan sama dengan ide e-commerce. Worthless.

Setiap hari, saya memaksa diri saya untuk meng-generate ide2 kreatif. Lalu mengevaluasi, melihat pasar, melihat tren IT yang sedang berkembang. Lalu segera secepat mungkin belajar untuk menguasai teknologinya. Tanpa itu semua, saya nggak akan survive. Saya akan tertinggal... Kalau sudah tertinggal, apa lagi yang bisa saya berikan untuk mahasiswa2 saya? Mau tetap mengajarkan ilmu usang yang worthless dan gak bisa mereka pakai nantinya? I'd better quit.

Dari apa yang saya alami dalam 4 tahun terakhir ini sebagai ITer, saya sungguh menjadi buta. Jarak pandang prediksi untuk IT di masa mendatang sudah sangat pendek karena drastisnya kecepatan perubahannya. Saya nggak berani "keukeuh" stick pada rencana2 saya. Pasti babak belur kalo dipaksa. Hukum: "Ikuti perkembangan atau mati mengenaskan!"sangat berlaku di sini. Lalu saya menemukan pola yang sama di dunia IT dalam tahun2 terakhir ini (dan kayaknya berlaku hampir di semua area):

In the coming years there'll be more changes than ever before
In the coming years there'll be more competitions in your field than ever before
In the coming years there'll be more opportunities than ever before
Nah, those who do not adjust to the rapid rate changes, growth, competition and different opportunity available will be out of their field within couple months. What do we expect kalo udah tertinggal? High Income? Success? Promotion? No way, Jose! The world won't give its treasure for those who out of their field. The world only give its treasure for those who excel in their field.

Dan tugas saya sebagai pendidik di dunia IT untuk mengingatkan, memotivasi, mengajar calon-calon ITer Indonesia di Universitas M* C** ini agar selalu mewaspadai un-avoid-able IT law: "ikuti perkembangan atau mati mengenaskan!".

Tuesday, August 5, 2008

Persetongkolan

Saya bukan ahli bahasa, tapi kalau saya diberi hak untuk membuat vocabulary baru, saya akan menambahkan kata: setongkol.

Arti kata "setongkol" (tm) menurut Kamus Kecil Windra Swastika (KKWS):
Setongkol: 1. (adj) sebesar ikan tongkol. 2. (n) usaha-usaha dari sekelompok orang atau individu untuk menjatuhkan (nama) seekor tongkol.
Bersetongkol: (v) berkomplot atau bersepakat untuk melakukan setongkol.
Persetongkolan: (n) hal bersetongkol.

Contoh kalimat:

  • Luka di kepalanya membuat pipinya bengkak setongkol (artinya bengkak di pipinya sebesar ikan tongkol).
  • Adanya persetongkolan di tempat ini telah berhasil diendus oleh seekor kucing.
  • Mereka yang telah bersetongkol akhirnya berhasil mendapatkan tongkol dengan harga murah.
Never mind tentang persetongkolan dan tongkol-tongkol itu. Basically, kalo ada orang yang bersetongkol dan melakukan persetongkolan terhadap kamu (mungkin karena kamu mendapatkan sesuatu, mungkin karena dia suka makan tongkol, mungkin karena harga tongkol sedang mahal di pasar, atau mungkin juga karena wajahnya mirip tongkol) kamu akan segera aware, bisa mengendus bahwa ada oknum-tongkol di sekitar kamu. Oknum-tongkol tersebut biasanya akan mencari tongkol-tongkol di masa lalu kamu, karena dia adalah kolektor tongkol sejati. Tapi kalau berhadapan dengan kamu, dia akan tetap manis, kamu boleh kategorikan dia sebagai frenemy (friend tapi enemy).

Nah, kalau ada persetongkolan yang dilakukan terhadap saya, sekali lagi, saya akan berusaha untuk punya meekness. Tidak membela diri atau balik melempari balik oknum-tongkol itu dengan tongkol. Karena seberapa kuat sih, saya bisa melempari oknum-tongkol itu dengan tongkol? Lagian saya nggak punya banyak tongkol. Maksut saya, seberapa kuat saya bisa membela diri? In fact, the more I defense my self, the more tongkol i'll get.

Tapi saya yakin satu hal.

Saya yakin, DIA adalah tempat perlindungan saya.

HE said, "Because you hath set your love upon ME, therefore will I deliver you: I will set you on high, because you hath known MY name. You shall call upon ME, and I will answer you: I will be with you in trouble; I will deliver you, and honour you." (Psalm 91)

I have set my love upon HIM, saya mengasihiNYA, dan saya tidak pernah meragukanNYA karena saya mengenalNYA... dan sungguh, saya tenang dengan semua janji perlindunganNYA. Saya tidak terintimidasi dengan segala jenis persetongkolan yang dilakukan ke saya, karena saya kenal sekali SIAPA yang membela saya. I don't have to say even a word for self-defense karena DIA yang membela saya.

Tell me, persetongkolan jenis apa yang saya takutkan kalau DIA ada untuk membela saya?

Friday, August 1, 2008

Bulan-bulan Tesis: Hamil

Pilih jawaban yang benar.
Apa hubungan antara membuat tesis dengan hamil?
a. Wanita hamil dilarang membuat tesis.
b. Mengerjakan tesis dapat membuat hamil.
c. Membuat tesis dapat menunda kehamilan.
d. Untuk mengerjakan tesis, perlu hamil terlebih dulu.

Silahkan dijawab. But, if can't find the answer, that's fine. You may think that I'm just kidding. But, in a VERY serious note, one of those options are the answer. IT HAPPENED TO ME! Masa...? YEP! It DOES happen to me. Read the options and guess which one is happenning to me. You may keep your answer and see whether we have same thought.

Bagi yang menjawab dengan opsi a:
Wanita hamil dilarang membuat tesis
Mungkin kamu mikir bahwa saat ngadakan penelitian, kita bakalan butuh keseriusan, butuh ketekunan, butuh kerja keras, harus meras otak dan kerja siang malem. Jelas kondisi kayak gini nggak kondusif bagi wanita hamil. Jadi, kalo sedang hamil, ya jangan bikin tesis, demi keselamatan bayi. Hei, siapa tahu nanti bayi itu akan jadi seorang peneliti besar...? Bayangkan, lha wong sejak di kandungan DNA peneliti-nya udah di-ON-kan oleh si ibu yang siang malem meneliti. Who knows?

Bagi yang menjawab dengan opsi b:
Mengerjakan tesis dapat membuat hamil
I'm a bit confused for those who choose this one. Mengerjakan tesis dapat membuat hamil? Hamil darimana? Ketika bikin tesis, saya jelas nggak berencana untuk hamil dan nggak kepingin hamil. Even istri saya kelak, nggak saya hamili dengan cara membuat tesis. Cara yang nggak manusiawi... menghamili dengan membuat tesis. Duh, gak kebayang (dan please, nggak usah diterus2kan bayangkan).

Bagi yang menjawab dengan opsi c:
Membuat tesis dapat menunda kehamilan
Hmmm... Make sense ya? Gara2 sibuk bikin tesis, jadi nggak punya waktu selain ngurus tesisnya. Jadinya kuper, nggak gaul (*)... (dan akhirnya nggak sempet meng-*-i). Jadi nggak salah juga kalo tesis dapat menunda kehamilan... Tapi, this option didn't happen to me. Unless I already have a wife, then, probably this option could have been happened to me. But, I promise this won't happen... Family comes first.

Jadi jawabannya tinggal d.
Untuk mengerjakan tesis, perlu hamil terlebih dulu.
Loh kok? Jadi? Sebelum kerja tesis sebaiknya hamil? Emang knapa kok harus hamil? Nggak bisa emang kalo nggak hamil? Lah, kalo cowok gimana bisa hamil? Kok aneh?

Jawabnya adalah d. Untuk mengerjakan tesis, perlu hamil terlebih dulu.

It's true. Saya hamil. Hamil tua malah. Itu hasil percintaan saya dengan the-girl-who-..., eh, bukan2... maksut saya dengan JST, Jaringan Syaraf Tiruan, topik tesis saya. You may notice in last couple postings that I'm so in love with this JST. I've been working with her for the last 2 month, day and night we spent time together in either good or bad times. Even the food I ate tastes like JST. Dan minggu2 ini, saya sedang menunggu kelahiran bayi ini. Saat lahir, bayi itu akan segera punya nama, yaitu... "MAGISTER TEKNIK (MT)".

So, opsi d. Untuk mengerjakan tesis, sebaiknya hamil terlebih dulu, jadi make sense kan? Sebenernya, it works bukan cmn dalam pengerjaan tesis. It does work in every aspect of our life.

Let me explain, as we already know, kehamilan secara fisik itu bisa terjadi ketika sperma bertemu dengan sel telur, lalu terjadi pembuahan. Butuh inkubator, wadah, container untuk menyimpan dan melindungi hasil pembuahan tersebut. God already designed a womb as the container to protect it. Dan sebelum bayi hasil pembuahan itu keluar, bisa dilihat (dan bisa ditimang2), ada yang namanya proses kehamilan. It's not instantaneous. Kehamilan manusia takes 9 months before the baby born.

And what is true in physical realm, also true in spirit realm, except that physical realm limitted by space and time, and spirit realm has are not limitted by either space or time.

Pikiran kita ini menjadi wadah untuk hasil pembuahan... (Gosh, I'm trembling when got this revelation, WHAT A GREAT GOD!). Pikiran kita ini menjadi wadah untuk hasil pembuahan "sperma" dan "sel telur". Yang jadi "sperma" adalah ide, visi, gagasan, intuisi... Dan yang menjadi "sel telur" adalah mindset kita. Jutaan "sperma" memborbadir pikiran kita setiap hari. Jutaan "sperma" itu menembus dan siap membuahi "sel telur" yang ada. Tapi ketika "sperma" itu masuk, the critical question will be, apakah ada "sel telur" yang siap dibuahi? If the egg-cell is ready to be fertilized, then POP! you're "pregnant"... Tapi kalo nggak ada sel telur yang siap dibuahi, then the sperms will die (what is true in physical realm, also true in spirit realm, wow!).

How do we get HIGH QUALITY SPERM? Simple, if you have intimacy with God, you spend time with HIM daily, read HIS Words, and pray, then you'll notice that HE gives you millions of HIS "sperms" (ideas, visions, intuition). HE gives through what? He gives through HIS Words or through our prayer. And I've experienced for the last 6 years... The "sperms" ARE REALLLYYY HIGH QUALITY. It DOES change my life dramatically to be MUCH-MUCH better person.I'm the living proof.

But, once again, if HE already gives HIS "sperms", the critical question, "Apakah "sel telur"-nya siap dibuahi oleh "sperma2" itu?" "Apakah pikiran kita siap membuahinya?" Kalo nggak siap, the "sperm" will soon die. Kalo siap, akan terjadi pembuahan lalu terjadi kehamilan. Jika kehamilan itu dijaga dengan baik, dalam beberapa waktu ke depan, si "bayi"-nya akan lahir. Guess, bagaimana bentuk "bayi"-nya? Bentuk dan karakter "bayi"-nya akan mewarisi DNA dari pemberi "sperm" (what is true in physical realm, also true in spirit realm). That's why buah yang kita hasilkan beda satu sama lain walopun it comes from the same sperms. Wow...!! Ckckck... So amazed bahwa kita adalah mempelaiNYA!

God, I don't want to be barren. I want to have many "babies" from YOU...

PS: you should aware of "LOW QUALITY sperms" that spread by the devil. Just let they go, and die...! No need to be fertilized, because the "baby" definitely is very ugly.