Postingan

Posisi

Saya nggak pernah bisa cocok dengan dunia kerja yang penuh politik. Saya nggak bisa tahan di sebuah organisasi di mana persetongkolan dan intrik terjadi demi keamanan dan keselamatan posisi masing-masing. Ada yang berani menjegal teman sendiri agar dia bisa dipromosikan. Kalo emang perlu difitnah ya go ahead... Dia ngatur strategi dengan manis agar dianya looks good dan temennya looks bad di depan bos. (semoga saya nggak ketemu dengan orang jenis ini atopun kalo sampe ketemu, semoga saya nggak nyadar bahwa dia sedang ngelakukan itu, daripada saya ilfeel seumur hidup dengan dia). Mari kita sebut orang ini dengan sebutan Jenis Licik . Ada yang mau enaknya sendiri. Karena ngerasa sudah punya pangkat dan posisi, jadi nggak mau repot... " Lah buat apa juga repot, lah wong yang bawah bisa disuruh-suruh. Kalo nggak mau disuruh-suruh ya jangan jadi bawahan..." Kira-kira gitu prinsipnya. Mari kita sebut dia sebagai Jenis MohRepot . Ada yang merangkak dari bawah. Mulainya dari 0, lalu...

Compassionate, Loving and Caring

For years, I've doubted if there's someone that has those 3 characters naturally. I, myself, must struggle very hard to guard my heart, control myself when tempted to gossiping or saying something bad about other people, I must discipline myself to sincerely help other people even if they gives no benefit for me. Why? Ya, simply because those characters are not my nature. That's why I must discipline myself. For most of us, loving someone is easy when s/he gives benefit for us. Caring for other people looks fun when those people are our (future) client (that most probably give future benefit for us). Or when we care about other people, if we really ask our heart, may be we'll find that actually we seek praise for ourself. We easily love and care to other people if we think that what we do for them is worth and we know that we will have greater benefit from it. I called it: "unsincerity". I almost believe that only angel that can love and help sincerely... unfo...

How it feels to be a genius?

Saya tidak dapat menahan diri saya untuk bertanya dalam hati bagaimana rasanya menjadi jenius? Bagaimana rasanya menjadi seseorang yang multi-talenta? Bagaimana rasanya punya otak yang kecepatan berhitung dan analisanya di atas normal sekaligus mampu mengkoordinasi jari-jari tangan untuk bermain piano, biola atau gitar dan menghasilkan nada yang indah? Bagaimana jika dalam otak sama itu juga mampu merangkai kata-kata menjadi sebuah tulisan yang sangat memikat? Lalu bagaimana jika melalui otak yang sama, mampu dihasilkan karya seni seperti lukisan, fotografi, dan masakan yang lezat (ya, "dan", bukan "atau")? Otak yang sama tersebut, juga mampu mengkoordinasi gerakan tubuh dengan sempurna sehingga gerakan-gerakan tubuh seperti lari, senam, ataupun berenang yang dilakukan adalah gerakan-gerakan yang nyaris sempurna tanpa cacat. I know few of them. Saya pernah menanyakan ke yang bersangkutan, bagaimana rasanya menjadi jenius seperti itu. Tapi saya tidak mendapatkan jaw...

Yes, I am waiting

It's been a while since I posted my last posting. Yes, I am waiting for something. Sending 3 scholarship applications makes my daily life a bit out-of-normal-pace. It goes up and down. Sometimes I am quite sure that one of them will put my name as one of the grantee - it's just a matter of time. But another time, I'm afraid that I failed, then must start everything from scratch... many times I feel so desperately waiting for the result (I'm curious, why do they need months to do the preliminary selection). The result will shape the future... and I am waiting.

Nggak Selalu Mulus

They announced the scholarship nominees... And my name was not there. It was my 2nd strike after failed in ADS Application. Iya, getting scholarship for doctorate is not as easy as flipping hand. I failed in Depkominfo scholarship Application (but, still thanks to mBak Lily who gave the Depkominfo Scholarship information in the first place - kalo ada info lagi, bagi2 ya Mbak). In the next 6 weeks, I will try to apply the Dikti and Fulbright scholarship. Nggak selalu mulus emang... Tapi I'll keep PUSH-ing -- (P)ray (U)ntil (S)omething (H)appen...

Just Beat It, beibeh...!

Gambar
Menunggu itu nggak enak. Saya dua minggu ini nunggui hasil test iBT TOEFL saya. Setiap kali buka personal page saya, selalu deg2an. Soalnya pas test itu saya ngerasa nggak well perform. Ada banyak missed bukan karena nggak bisa, tapi karena nervous ato nggak konsen - trust me, the situation when you're taking the test is totally different with your daily study. Especially the pressure! The energy to overcome the pressure makes you can't concentrate well (terutama kalo inget udah bayar $150). Selama 2 minggu, saya rajin buka personal page saya... Tapi score-nya masih not avalaible. Padahal, buka halamannya itu sambil merem2... Ngeri liatnya... Ngeri kalo nggak bisa sampe syarat minimum buat ngajukan beasiswa. Buat bisa ngajukan aplikasi beasiswa Ph. D-nya Fulbright, syarat pertama TOEFL-nya 575 (Paper Based TOEFL). Uni di Aussie juga sama, syarat jadi Ph. D students-nya adalah dapet skor International TOEFL 575. Mereka nggak mau nerima yang TOEFL2-an. Mereka hanya mau terim...

Pengalaman test iBT TOEFL

I believe this posting will be useful for those who want to take iBT TOEFL... And since you want to take iBT TOEFL, I assume that you already overloaded, loathe/sick with all the iBT TOEFL English materials. So, I'm not going to make vomit in front of computer. I will make it easier by writing it in Bahasa. Pertama , kenapa orang repot-repot ambil iBT TOEFL dan rela ngeluarin duit $150 (mana dolar naek terus lagi) lalu sampe di ruang test, mereka di-plokoto, mesti melototin monitor dengan headset terpasang lalu disiksa ngerjakan soal2 yang jelas2 bukan bahasanya sendiri selama 3.5 jam non-stop dengan resiko kencing batu karena nahan pipis? Motivasi orang beda2. Ada yang rencana mau sekolah di luar, dan sekolanya mensyaratkan nilai TOEFL-nya sekian ratus. Tapi sekolah itu nggak mau TOEFL yang TOEFL-TOEFLan, maunya TOEFL yang asli, yang namanya iBT ato internet Based TOEFL. Jadi dia terpaksa mau disiksa di ruang test iBT TOEFL. Kalo saya, laen lagi. Demi mengajukan aplikasi beasiswa ...