Tuesday, January 24, 2012

Prayer and science


Science is interesting topic indeed.

Kalo saat ini kita bisa menikmati televisi, hape, mobil, rumah, pakaian, komputer, internet, ... semua karena ada para ilmuwan yang dengan tekun bekerja di laboratorium, merumuskan konsep sains, dan kemudian menerapkan konsep-konsep sains tersebut dalam industri.

Tapi, somehow tetap ada banyak hal yang sampe sekarang nggak bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan.

Doa, misalnya.

Belum pernah ada saintis yang merumuskan tentang cara kerja doa. Bagaimana doa dapat menyembuhkan penyakit. Bagaimana doa dapat mengubah suatu keadaan. Misalnya, seseorang sedang berdoa untuk kondisinya yang sedang kesulitan, lalu setelah berdoa, kondisinya berangsur-angsur baik... Well, Praise God! The prayer was answered! Tapi tidak semua orang mengalami hal yang sama. Orang lain dengan kondisi yang sama, dengan ucapan doa yang sama, bisa jadi tidak menjadi lebih baik. Itu sebabnya, doa tidak dapat dijadikan sains. Ketika diterapkan pada orang lain, walaupun dengan kondisi yang sama dan metode berdoa yang sama, namun hasilnya dapat berbeda.

Doa bukan sains.

Tidak dapat dipelajari. Tidak dapat diteliti. Tidak ada metode ilmiah yang bisa diterapkan agar sebuah doa menjadi lebih ampuh. Tidak juga dapat dioptimasi agar memiliki efisiensi yang tinggi.

Doa adalah pernyataan iman.

Walaupun tidak dapat diteliti, tapi hasil dari doa dapat diteliti secara ilmiah.

Koran Chicago Sun-Times edisi Januari 1986, menuliskan tentang seorang kardiolog (ahli jantung) yang meneliti efektifitas doa terhadap pasien di sebuah rumah sakit.

Randy Byrd, kardiolog itu, membuat dua buah grup pasien. Grup yang pertama adalah grup pasien yang didoakan, berisi daftar dari 192 pasien yang dipilih secara acak. Grup kedua adalah grup yang tidak didoakan, berisi 201 pasien yang (juga) secara acak dipilih. Kesemua pasien tersebut dirawat di ICU dan memiliki penyakit seperti serangan jantung, gagal jantung, dan berbagai penyakit jantung lain.

Para pendoa diberikan daftar nama grup pertama, yang kemudian secara konsisten mendoakan untuk kesembuhan mereka. Anyway, para pendoa itu nggak kenal dengan para pasien.

Dan hasilnya sangat menarik. Pasien di grup pertama memiliki komplikasi penyakit yang lebih sedikit dibandingkan pasien di grup kedua. Pasien di grup pertama juga lebih sedikit yang meninggal dunia. Sementara, pasien di grup kedua 5 kali lebih rentan terhadap infeksi (sehingga membutuhkan antibiotik) dan tiga kali lebih rentan mengalami gagal jantung. Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal American Heart Association (Byrd R. C., Positive therapeutic effects of intercessory prayer in a coronary care unit population. South Med J 1988;81:826-9. PMID 3393937 - original article can be found here: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/3393937)

Prayer is not science.
It  is something beyond the science.
It is the faith in a prayer that matters.

Saturday, January 21, 2012

Sphere, a novel by Michael Crichton


Ketika ke Chicago bulan lalu, saya sempetkan membeli ebook reader yang nggak bisa masuk Jepang, yaitu Amazon Kindle. Harganya nggak terlalu mahal untuk ukuran gadget, $99 (bagi para penggemar buku, saya strongly suggest untuk punya ebook reader semacam ini,  ringan, mudah dibawa dan dapat menikmati membaca buku di mana pun).

Anyway, berkat Kindle itu, saya bisa menyelesaikan baca novel Sphere karya Michael Crichton - yang saya baca dalam perjalanan naik kereta setiap minggu ke gereja. Ini novel berbahasa Inggris pertama yang berhasil saya tuntaskan.

(* warning, the paragraph below may contain spoiler *)
Ceritanya menarik, tentang pesawat dari masa depan yang somehow kesasar di masa sekarang dan terdampar di bawah lautan. Beberapa ilmuwan (matematikawan, ahli biologi, ahli geologi, dan psikolog) dibawa masuk ke dalam pesawat itu untuk melakukan penyelidikan. Bagaimana para ilmuwan melakukan penyelidikan di dalam pesawat tersebut tentu sangat dipengaruhi oleh latar belakang ilmu yang mereka punyai.  Karena ilmu yang mereka punyai adalah ilmu di abad 20, maka teknologi pesawat masa depan tersebut, tentu masih merupakan tanda tanya besar bagi mereka - tidak peduli seberapa pakar mereka.

Novel fiksi ilmiah yang menarik. Dilengkapi dengan dialog-dialog cerdas tentang sains. Cocok dibaca oleh  mereka yang suka dengan sains dan fiksi ilmiah. Michael Crichton, si pengarang adalah novelis yang juga merupakan akademisi di bidang kedokteran. Lulusan dari Harvard College dengan predikat summa-cumlaude. Jadi dosen di beberapa universitas seperti Cambridge University dan MIT. Nggak heran kalo dia tau banyak tentang dunia akademik seperti jurnal, publikasi, professorship dan lainnya. Selain Sphere, karya Michael Crichton yang cukup populer adalah Jurasic Park, The Lost World, Congo, Timeline, dan yang paling baru (tapi belum sempat diselesaikan karena beliau keburu meninggal) adalah Micro.

Definitely he's a genius in his field. Scientist, lecturer and best-seller novelist. Kombinasi profesi yang someday... sangat ingin saya tekuni.

Windra Swastika, best-seller novelist wanna-gonna-be.

image credit: http://www.amazon.com