Friday, August 6, 2010

Prejudice and Judgement

Menurut KKWI (Kamus Kecil WIndra yang belum disempurnakan), prejudice berarti prasangka negatif yang dirasakan dalam hati seseorang kepada seorang lain. Atau kacamata yang kita letakkan pada hati kita untuk kita membuat penilaian terhadap orang lain (yang kita sendiri sebenarnya nggak tau apakah penilaian kita benar atau nggak). Dasar penilaiannya adalah "kata orang", "berita" atau "perasaan dalam hati".

Kasihan orang yang jadi korban prejudice orang lain. Apalagi kalo sampe si empunya prejudice menyebarkan prejudice-nya kepada teman-temannya... "Eh, si anu itu kayaknya sombong ya...", "Eh, si itu sifatnya jelek loh, jangan dideketi..." Yang jadi korban prejudice yang nggak tau apa-apa tiba-tiba jadi nggak disukai tanpa sebab yang jelas dan nggak punya kesempatan untuk explain apapun (padahal yang di-prejudice-kan belum tentu benar).

Tapi, sepertinya yang lebih kasian adalah yang orang yang punya (ato menyebarkan) prejudice itu. Betapa tersiksanya hidup dalam prejudice seperti itu. Tindakannya akan amaaaaattt sangat dibatasi oleh prejudice-nya sendiri. Dia akan kehilangan banyak kesempatan dalam hidupnya gara-gara prejudice dalam kepalanya toward someone, dia jadi tidak (berani) melakukan apa-apa karena prejudice yang ada dalam pikirannya... ato malah melakukan sesuatu yang negatif, misalnya memusuhi atau bahkan memutus komunikasi.

Lain prejudice, lain judgement. Judgement berarti nilai jelek yang kita berikan kepada seseorang karena suatu tindakan yang dia lakukan, dan penilaian tersebut berdasarkan apa yang ada dalam otak kita yang kecil dan terbatas ini (ngeyelan lagi). Kita sering memberi nilai jelek terhadap orang lain berdasarkan sesuatu yang dia lakukan. Misalnya, gara-gara berpapasan dengan rekan kerja, kemudian dia nggak nyapa maka kita langsung judge, "dasar sombong! kalo mau ngajak musuhan siapa takut?", ato ketika kita lagi asyik-asyik ngobrol kemudian ada seorang rekan yang tiba-tiba ngeloyor pergi, kita langsung judge, "nggak sopan! pasti dia nggak suka dengan apa yang kita bicarakan! kita musuhin aja dia...!", ato ketika pimpinan memberikan tugas yang rasanya terlalu banyak, kita langsung judge sebagai pimpinan yang mau enaknya aja, "Dasar pimpinan mau enaknya aja, yang berat-berat dikasi ke bawahannya, dia yang gajinya gedhe sendiri...", ato kalo kita pimpinan, kita dengan mudah membuat judgement terhadap bawahan yang kurang cekatan, "gitu aja kok nggak bisa? gitu aja kok sampe lama? gitu aja nggak selesai2...", ato kalo ada artis yang kena gosip video mesum, kita langsung judge, "..." (hayo ngaku, punya judgement apa sama si seleb itu?)

Percayalah, jika tidak ada dua kata ini, yaitu prejudice dan judgement, dunia akan menjadi jauuuuuhhh lebih baik. Bayangkan bahwa setiap orang menerima kita tanpa ada prasangka. Bayangkan ketika apapun yang kita lakukan dengan intensi yang baik, tidak disalahpahami oleh siapapun... I wish I met all people in that attitude... Tapi, ya itu... Ini kan bukan perfect world.

Bagaimana kalo kita mulai dari diri kita? Mari kita hilangkan kata "prejudice" dan "judgement" dalam kamus pertemanan. Pasti menyenangkan bisa berteman dengan seseorang yang nggak punya prejudice dan judgement...

(NB. Insipired dari aawmmh, yang nyaris tidak pernah punya prejudice ataupun menghakimi orang lain... Terima kasih sudah memberi contoh bahwa menghilangkan prejudice dan judgement itu bukan hal yang nggak mungkin)

Tuesday, August 3, 2010

How do you know if she's the one?

"How do you know if she's the one?" Tanya seorang teman setelah saya menikah (yang kemudian ternyata tambah banyak pertanyaan semacam itu dari teman-teman yang lain). Mereka curious, bagaimana saya bisa "tahu" bahwa dia, an-angel-who-melt-my-heart (aawmmh), adalah jodoh saya. Kenapa nggak milih the-girls yang lain (such as the-girl-who-still-remain).

"How do you know, Win...?" Well, let me answer strictly, "I don't know!". Iya, saya nggak benar-benar tahu apakah memang she's the one. Loh, lah terus kok nekat dinikahi? Ya, itulah iman... Sesuatu yang kita belom yakin 100%, tapi tetep kita lakukan.

Aneh ya? Iya.

"Kalo nanti ternyata salah gimana...?" Biasanya saya dikejar dengan pertanyaan seperti itu... Ditambah lagi, "Married kan cuman sekali... Kalo salah pilih jadi nyesel seumur hidup dong." Jawaban saya simple aja, "Nggak bisa salah selama kita punya iman bahwa dia adalah yang terbaik dari Tuhan".

"Dari mana munculnya iman itu?" Nah, ini yang a bit complicated. Saya rasa, it started from a small seed. Small seed itu kita bawa ke Tuhan (dalam doa). Ketika Tuhan liat bahwa itu yang terbaik buat kita, God will grow that seed. Saat benihnya tumbuh, iman kita juga akan tumbuh. Kemudian akan muncul tanda-tanda yang lebih meyakinkan sehingga iman kita jadi bertumbuh lebih lagi. (catatan: ini nggak bisa berlaku untuk mereka yang nggak percaya Tuhan, ato sekedar percaya2an, tapi nggak punya relasi dengan Tuhan).

In my case, it started with a small seed. Perasaan saya terhadap aawmmh biasa aja awalnya. Semakin saya kenal, muncullah a very small seed of faith bahwa dia akan jadi pasangan hidup saya kelak. Emm... Sejujurnya benih yang sama juga muncul untuk the-girls yang lain (well, you-know-who-you-are). Saya bawa semua seeds itu ke Tuhan lewat doa. Tapi somehow, seed-nya aawmmh ini adalah the-fastest-growing-seed dibandingkan yang lain. Sementara the other seeds, beberapa nggak tumbuh dan beberapa malah mati. (catatan: sekali lagi, tanpa adanya relasi dengan Tuhan, kemungkinan besar, seed yang bertumbuh adalah seed yang ditumbuhkan oleh emosi kita sendiri - semacam kita convince diri kita sendiri bahwa she's the one, padahal itu karena emosi ato romantisme terhadap dia).

Jadi dengan modal iman bahwa aawmmh adalah pasangan hidup terbaik yang disiapkan Tuhan, saya memutuskan untuk menikahinya. Episode berikutnya ini convince saya bahwa she's the one. Everything was sooooo smoooootthh... Mulai dari hal besar (pertunangan, pertemuan keluarga, persiapan pernikahan, keuangan, tempat tinggal) sampai yang hal yang kecil (undangan, susunan acara, tempat) semuanya smooooottthhh. Saya rasa, ketika Tuhan approve, semuanya jadi gampaaaaangg banget. Yang kadang bikin nggak smooth itu emosi-manusia saya. Saya masih bisa egois dan pengen menang sendiri sampe terjadi friksi. Tapi kalo inget "iman-bahwa-she's-the-one", saya bisa lebih menekan emosi saya.

Jadi, "How do I know if she's the one?". Well, I dont, but I have faith that she's the one. Where did I get the faith? It started from a small seed, lalu Tuhan yang menumbuhkan benih iman itu ketika saya berdoa. Saya kemudian bertindak berdasarkan benih-iman yang bertumbuh itu.

It's not that complicated kok dalam milih pasangan hidup.