Wednesday, April 8, 2015

Day care di Jepang dan keadilan sosial

Day care adalah fasilitas publik yang umum dijumpai di Jepang. Di Indonesia mungkin istilah yang sepadan adalah penitipan anak (dalam Bahasa Jepang disebut 保育園 - hoikuen). Orang tua (ayah dan ibu) yang sibuk bekerja bisa menitipkan anaknya yang masih usia 0-2 tahun di day care dari jam 7.30-18.00, baik day care yang dikelola pemerintah, ataupun day care swasta.

Ada kebijakan khusus per daerah tentang bisa atau tidaknya orang tua menitipkan anak ke day care. Yang umum, jika kedua orang tua bekerja, maka anak yang berusia 0-2 tahun bisa dititipkan di day care. Aturan umum lain, jika ayah bekerja dan ibu sedang sakit atau hamil, anak usia 0-2 tahun juga bisa dititipkan di day care. Tapi jika hanya ayah yang bekerja, dan ibu di rumah, anak tidak bisa begitu saja dititipkan di day care.

Biaya penitipan day care tidak murah. Standard-nya untuk anak usia 2 tahun, biaya penitipan berkisar antara 50-70rb yen (atau sekitar 5-7jt) per bulan. Sedang untuk anak usia 0-1 tahun separuh harga itu.

Orang tua tidak bisa mendatangi day care lalu mendaftarkan anaknya untuk masuk begitu saja. Masuk di day care diatur oleh pemerintah kota, dan pendaftaran juga harus lewat kantor kota setempat (kuyakushou atau shiyakushou). Pendaftaran dibuka sepanjang tahun, tapi tidak bisa hari ini daftar, lalu besok bisa langsung masuk. Biasanya dalam rentang 2-3 bulan baru bisa masuk - itupun dengan catatan kalau memang ada day care yang pas ada slot kosong.

Yang menarik, setelah si anak mendapatkan tempat untuk bisa masuk di day care tertentu, pemerintah kota-lah yang menentukan berapa harga bulanan yang harus dibayar oleh orang tua. Day care memang mematok harga yang fix - perbulan harus bayar sekian yen untuk 1 anak, namun pembayaran akan dilakukan oleh pemerintah kota - bukan oleh orang tuanya. Harga yang harus dibayar adalah sesuai dengan pendapatan orang tua (yang dibuktikan melalui laporan pembayaran pajak). Semakin besar pendapatan orang tua, maka jumlah yang harus dibayarkan juga akan besar. Sementara jika pendapatan orang tua 0, maka biaya penitipan anak juga menjadi 0.

Ini mungkin yang disebut keadilan sosial.

Yang kaya sedikit mendapatkan subsidi pemerintah, sementara yang berpendapatan rendah banyak mendapatkan subsidi.

Saya yang adalah mahasiswa dianggap berpenghasilan 0. Sehingga ketika kami menitipkan anak-anak di day care, biaya yang harus kami bayar juga 0 (alias gratis). Kalau tidak ada subsidi dari pemerintah, kami harus membayar sekitar 100rb yen (atau 10 juta) tiap bulannya demi menitipkan anak dari jam 9.00-17.00.

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat ...

No comments:

Post a Comment