Thursday, December 24, 2015

Dosen Tersertifikasi

Pagi ini dapat kejutan. I am officially a ceritified lecturer. Saya resmi sebagai dosen yang tersertifikasi.



... dan saya melabeli posting ini dengan tag Professorship Journey. This is the first step of my professorship journey. More to come.

Anway, ada cerita behind the scene pengajuan sertifikasi dosen ini. Salah satu syarat untuk pengajuan sertifikasi dosen ini adalah membuat deskripsi diri. Kita diminta untuk menceritakan bagaimana sebagai dosen mengembangkan kualitas pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, manajemen institusi dan peningkatan kualitas kegiatan mahasiswa.

Ada total 24 poin yang harus di-deskripsikan dan setiap deskripsi wajib diisi minimal 50 kata. Saya bisa dan terbiasa menulis. Tapi tidak terbiasa menulis untuk melebai-lebaikan diri saya. Ada beberapa poin di mana deskripsi tersebut kurang dari 50 kata.

Ketika deskripsi diri itu di-review oleh pimpinan universitas (sebelum di-submit untuk proses review berikutnya), komentar dari para pimpinan universitas sama, "Ini deskripsinya pendek - bahkan yang paling pendek dari semua dosen yang sedang mengajukan sertifikasi dosen". Lalu saya diberikan saran-saran perbaikan, menambah ini dan itu.

Saya mengambil resiko. Alih-alih memanjangkan deskripsi diri, saya biarkan apa adanya. Tidak saya lakukan perubahan apapun. Saya merasa apa yang sudah saya lakukan selama ini sebagai dosen, sudah saya deskripsikan dengan baik. Tidak perlu ditambah atau dikurangi.


Puji Tuhan dengan deskripsi apa adanya itu, saya bisa dinyatakan lulus sertifikasi - mengawali 2016 sebagai dosen yang (telah) disertifikasi.


Tuesday, November 17, 2015

Jam Kerja

Jam kerja di tempat saya adalah jam 8 pagi sampai dengan jam 5 sore. Ada 8 jam kerja (dan 1 jam istirahat). Dalam seminggu ada 5 hari kerja, sehingga seorang pegawai bekerja setara dengan 40 jam seminggu.

Ketika Bulan Oktober lalu kembali setelah 5 tahun di Jepang, saya sempat kagok dengan jam kerja tersebut. Saya perlu waktu untuk menyesuaikan. Selama 5 tahun studi di Jepang, saya diperlakukan sebagai "karyawan" lab. Ada "jam kerja", yaitu dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore. Tapi suasana "kerja"-nya bisa membuat saya rileks.

Saya bisa masuk jam 10 pagi (misalnya karena paginya masih harus ke bank atau ke kantor kecamatan), bisa juga saya masuk jam 7 pagi, stay di lab sampai jam 9 malam atau bahkan hari itu nggak nongol sama sekali di lab... Semua bisa (dan pernah) saya lakukan tanpa feeling guilty. Yang penting, ketika presentasi progress report (seminggu sekali) saya bisa menunjukkan bahwa ada kemajuan/hasil dari penelitian yang dilakukan selama seminggu terakhir.

Kembali ke Indonesia, bulan pertama saya kagok. Saya harus absen finger print setiap kedatangan dan kepulangan. Kalau mau keluar di jam kerja, mau terlambat ataupun tidak masuk, harus ada izin - atau potong jatah cuti (begitu aturannya). Saya tiba-tiba merasa gerak-gerik saya terbatas sekali, dan sepertinya saya sedang diamati under the big lens (merasa BUKAN benar-benar diamati). Tapi perasaan itu tetep aja bikin saya gak nyaman - dan menjadi terikat.

This is not right.

Kenapa suasana kerjanya nggak bisa "senyaman" seperti waktu saya di Jepang. Sama-sama ada jam kerjanya, tapi kebebasannya berbeda.

Akhirnya saya memutuskan. It's not about the working hour. It's about how I finish tasks within specific timeframe. Saya merancang jam kerja saya sendiri dan apa-apa yang perlu diselesaikan dalam jam kerja tersebut. Untuk saat ini, saya merancang jam kerja sebanyak 32 jam seminggu untuk menyelesaikan tugas utama, yaitu penelitian dan pengajaran. Targetnya bisa 24 jam seminggu. Working hour is not an issue. It's about finishing the tasks within specific timeframe. Setelah tugas selesai, "jam kerja" sudah tidak bisa lagi mengikat saya. Nggak perlu lagi bengong di kantor nunggui jam pulang.

Saya nggak feeling guilty lagi kalau saya datang terlambat, pulang lebih awal atau bahkan nggak masuk kerja. Kenyamanan seperti ini lebih penting buat saya ketimbangan posisi atau jabatan tinggi.



Thursday, November 12, 2015

Posting 5 tahun yang lalu

Pagi ini ketika membuka Facebook, muncul di newsfeed posting saya 5 tahun yang lalu.


Lima tahun yang lalu, tanggal 12 Nov 2010, saya mendapatkan surat dari Curtin University (Australia) bahwa saya diterima untuk masuk di program Doctor. Beberapa bulan (atau tahun) sebelumnya saya secara sporadis mengirimkan research proposal ke beberapa universitas yang ingin saya tuju, jepang, australia dan amerika. Yang di Jepang terlebih dulu memberi kabar dan memberikan Letter of Acceptance - sehingga saya memilih untuk melanjutkan studi di Jepang.

Beberapa bulan setelah studi di Jepang, surat dari Curtin University ini saya terima. Ada dilema waktu itu, apakah pindah ke Curtin atau tetap di Jepang. Di Jepang, saya saat itu masih belum masuk program doktor, baru masuk research student. Mungkin sekali untuk berpindah ke negara lain dengan skema beasiswa yang sama.

Kalau saja saya memilih untuk pindah ke Curtin, ceritanya akan jauh berbeda.

Jauh sekali.

Hanya sebuah keputusan simple 5 tahun yang lalu, tapi bisa berdampak besar terhadap masa depan.


Monday, June 29, 2015

Terpilih sebagai featured articles di Journal of Medical Imaging

Kapan hari, saya submit artikel untuk jurnal medical imaging.  
Jurnalnya ini sebenernya jurnal baru. Current issue-nya aja baru Vol 2, yang artinya belum genap 2 tahun umurnya.  

Paper saya dimuat...
Dimuat setelah revisi 4 putaran yang memakan waktu 1 tahun lebih! Benar-benar menguras energi - dan berakibat studi molor 1 semester. 

Tapi saya jadi banyak belajar bagaimana mem-publish manuscript di jurnal internasional... setidaknya publikasi jurnal internasional jadi gak seserem yang dulu saya bayangkan. Ada strateginya. 

Kembali ke jurnal medical imaging tadi, alhasil artikel saya terpilih sebagai featured articles (http://medicalimaging.spiedigitallibrary.org/issues.aspx). Featured articles dipilih dari artikel-artikel yang ada dan redaksi menentukan 2 artikel yang menarik untuk dijadikan featured articles. 

Saya sebenernya juga baru tau kalo artikel saya terpilih sebagai featured article. Sensei yang kasih tau. Buru-buru saya screenshot sebagai salah satu kenang-kenangan studi S3. Kalau new issue udah publish, featured articles-nya juga udah beda... :)




Tuesday, May 26, 2015

Thesis defense

Tanggal 19 Mei kemarin, saya sidang tertutup untuk mempertahankan thesis.

Kejadiannya agak unik, karena saya mengira - sesuai dengan informasi dari sensei, bahwa ini adalah pra-sidang (pre-defense). Bayangan saya, ini semacam reharsal sebelum final defense. Jadi setelah ini, bakal ada satu kali lagi sidang tertutup (final defense) - plus satu kali lagi sidang terbuka untuk mempresentasikan hasil penelitian kepada publik. Jadi, saya persiapannya juga biasa-biasa aja. Ada beberapa detail penelitian yang saya skip - karena saya malas mempelajari... Nantilah, kalau udah final defense baru bener-bener saya pelajari, toh ini masih persiapan juga...

Benar juga. Pas pre-defense kemarin - yang dihadiri 3 profesor penguji, ada beberapa pertanyaan teknis dari satu profesor yang nggak bisa saya jawab. Dia menanyakan satu rumus yang saya pakai di perhitungan saya, dan saya nggak bisa jelaskan dengan detail (udah gak terlalu inget detailnya). Emang gak saya pelajari bagian itu. Nanti di presentasi final, saya akan pastikan untuk menjelaskan bagian itu dengan detail - pikir saya.

Ternyata saya keliru - dan saya juga tahu belakangan ini.

Yang disebut sensei sebagai pre-defense, sebenarnya adalah final defense. Jadi yang tanggal 19 mei kemarin adalah sidang tertutup untuk mempertahankan thesis. Tidak ada lagi sidang tertutup setelah ini. Yang ada adalah presentasi hasil penelitian yang boleh dihadiri oleh siapa saja. Dan itu adalah final presentation as a doctoral student.

Ada baiknya juga saya salah paham. Pressure jadi lebih ringan ketika saya tahu bahwa ini adalah pre-defense ketimbang kalau tahu bahwa ini adalah final defense.

Seperti sidang thesis pada umumnya, setelah selesai presentasi dan tanya jawab, saya dipersilahkan keluar dan para penguji mengadakan rapat untuk memutuskan apakah saya dinyatakan lulus atau tidak.

Dan saya dinyatakan lulus.

Waktu sensei mengatakan saya dinyatakan lulus, respon saya biasa-biasa aja. Nanti kan ada final defense yang lebih menentukan, pikir saya.

Eh, ternyata itu adalah final defense. Mungkin sensei-nya agak keki juga, dikasi tau lulus, kok tanpa ekspresi gitu.


Wednesday, April 8, 2015

Akhirnya dapat tiket untuk maju Thesis Defense

Sore ini adalah sore quantum leap untuk doctorate journey saya.

Syarat untuk bisa maju thesis defense adalah sudah ada 2 publikasi di jurnal internasional. Semester kemarin gagal maju thesis defense karena baru ada 1 publikasi di jurnal internasional - sementara 1 publikasi yang lain tidak dihitung karena dipublikasikan sebelum masuk doctor course - yang berakibat saya harus extend satu semester!

Sebenarnya ada 2 manuskrip yang sedang dalam "under review". Satu manuskrip baru saja di-submit minggu lalu karena harus melakukan major revision dan satu lagi... sore ini dapat notifikasinya, dan keputusannya adalah: ACCEPT. Praise God!! 


Alhasil, syarat untuk maju thesis defense sudah terpenuhi, 2 publikasi. Kalau manuskrip yang satunya lagi bisa accepted, maka dapat bonus tambahan 1 publikasi lagi. 



Day care di Jepang dan keadilan sosial

Day care adalah fasilitas publik yang umum dijumpai di Jepang. Di Indonesia mungkin istilah yang sepadan adalah penitipan anak (dalam Bahasa Jepang disebut 保育園 - hoikuen). Orang tua (ayah dan ibu) yang sibuk bekerja bisa menitipkan anaknya yang masih usia 0-2 tahun di day care dari jam 7.30-18.00, baik day care yang dikelola pemerintah, ataupun day care swasta.

Ada kebijakan khusus per daerah tentang bisa atau tidaknya orang tua menitipkan anak ke day care. Yang umum, jika kedua orang tua bekerja, maka anak yang berusia 0-2 tahun bisa dititipkan di day care. Aturan umum lain, jika ayah bekerja dan ibu sedang sakit atau hamil, anak usia 0-2 tahun juga bisa dititipkan di day care. Tapi jika hanya ayah yang bekerja, dan ibu di rumah, anak tidak bisa begitu saja dititipkan di day care.

Biaya penitipan day care tidak murah. Standard-nya untuk anak usia 2 tahun, biaya penitipan berkisar antara 50-70rb yen (atau sekitar 5-7jt) per bulan. Sedang untuk anak usia 0-1 tahun separuh harga itu.

Orang tua tidak bisa mendatangi day care lalu mendaftarkan anaknya untuk masuk begitu saja. Masuk di day care diatur oleh pemerintah kota, dan pendaftaran juga harus lewat kantor kota setempat (kuyakushou atau shiyakushou). Pendaftaran dibuka sepanjang tahun, tapi tidak bisa hari ini daftar, lalu besok bisa langsung masuk. Biasanya dalam rentang 2-3 bulan baru bisa masuk - itupun dengan catatan kalau memang ada day care yang pas ada slot kosong.

Yang menarik, setelah si anak mendapatkan tempat untuk bisa masuk di day care tertentu, pemerintah kota-lah yang menentukan berapa harga bulanan yang harus dibayar oleh orang tua. Day care memang mematok harga yang fix - perbulan harus bayar sekian yen untuk 1 anak, namun pembayaran akan dilakukan oleh pemerintah kota - bukan oleh orang tuanya. Harga yang harus dibayar adalah sesuai dengan pendapatan orang tua (yang dibuktikan melalui laporan pembayaran pajak). Semakin besar pendapatan orang tua, maka jumlah yang harus dibayarkan juga akan besar. Sementara jika pendapatan orang tua 0, maka biaya penitipan anak juga menjadi 0.

Ini mungkin yang disebut keadilan sosial.

Yang kaya sedikit mendapatkan subsidi pemerintah, sementara yang berpendapatan rendah banyak mendapatkan subsidi.

Saya yang adalah mahasiswa dianggap berpenghasilan 0. Sehingga ketika kami menitipkan anak-anak di day care, biaya yang harus kami bayar juga 0 (alias gratis). Kalau tidak ada subsidi dari pemerintah, kami harus membayar sekitar 100rb yen (atau 10 juta) tiap bulannya demi menitipkan anak dari jam 9.00-17.00.

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat ...

Thursday, February 26, 2015

Conference di Orlando, Florida (Part 1)

Ikut international conference lagi.

Nama conference-nya SPIE Medical Imaging yang diadakan di Orlando, Florida.

Saya berangkat dari Tokyo Senin, 23 Februari menggunakan United Airlines - dan tiba di hari yang sama. Dapet tiket-nya cukup murah, $1.200 sekian PP dan sudah termasuk paket hotel 4 malam. Mungkin United Airlines termasuk salah satu LCC di Amerika, entahlah. Seperti biasa semua biaya selama saya di Orlando ditanggung oleh Lab.

Kali ini conference-nya agak berbeda karena sensei tidak ikut dan dari lab, saya satu-satunya yang berangkat. Jadwal presentasi masih di hari Rabu sore sehingga saya punya banyak sekali waktu luang. Karena sensei nggak ikut, saya jadi agak lebih bebas mengatur jadwal jalan2.

Hari Senin malam tiba di bandara international Orlando, lalu ke hotel naik taksi (karena nyari2 bus stop nggak ketemu). Hari Selasa pagi jadwalnya cuman masang poster aja, setelah itu free. Mau ikut sesi, agak-agak gak minat karena Venue conference-nya adalah pusat jalan2 di Orlando (di International drive, di mana sepanjang jalan ada Disney Seaworld, Universal Studio, dan berbagai macam mall)







 Saya sempetkan beli tiket terusan (7 days bus passes) seharga $20 agar bisa bebas berkeliling.




Wednesday, January 7, 2015

[Family trip] End Year Trip: Hakone

Akhir tahun 2014 kemarin, kami memutuskan untuk family trip. Pertama kalinya kami family trip full-team, saya, istri dan kedua anak.

Kami pergi ke Hakone, salah satu tempat wisata yang katanya punya pemandangan alam yang indah. Hakone berjarak 2 jam naik kereta dari Shinjuku (Tokyo). Ada dua jenis kereta yang bisa dipilih,  kereta biasa atau kereta khusus yang disebut Romance Car.

Kereta Romance Car lebih nyaman dibandingkan kereta biasa. Kursinya dan interior-nya didesain seperti layaknya kursi dan interior di pesawat, dilengkapi dengan toilet serta makanan yang bisa dibeli di dalam kereta.

 


Pemerintah daerah Hakone paham betul bahwa daerahnya memiliki potensi wisata yang akan mengundang banyak wisatawan dalam dan luar negeri. Karena itu infrastrukturnya benar-benar diperhatikan.

Di Shinjuku, sebagai salah satu pintu gerbang akses menuju Hakone, disediakan FREEPASS atau tiket terusan seharga ¥5.040 yang bebas digunakan untuk naik kereta dan bus ke manapun di daerah Hakone (dalam periode 2 hari).



Pengalaman saya ketika ke Amrik dulu, model tiket FREEPASS seperti ini lebih menguntungkan bagi mereka yang pertama kali berkunjung ke suatu daerah wisata. Peluang nyasar atau salah memilih rute amat besar, sehingga akan banyak membuang ongkos transport yang nggak perlu. Jadi kami memilih untuk membeli Freepass.

Pemandangan alam Hakone memang indah. Rute yang kami kunjungi adalah rute standard wisatawan. Melihat taman di Gora, naik kereta gantung di Sounzan, wisata cruise di Togendai dan ditutup dengan berendam di onzen.

Perjalanan menuju Sounzan menggunakan Hakone Tozan Train

Gunung Fuji yang nampak dari kereta gantung (ropeway) di Sounzan

Berpose sebelum naik cruise
Objek foto di dalam cruise

Pemandangan luar saat di dalam cruise

Pemandangan alam Hakone jadi indah karena tidak banyak ditemui pemandangan seperti itu di Jepang. Kalau di Indonesia, pemandangan alam yang semacam itu sangat-sangat biasa. Perjalanan dari Malang ke Batu aja bisa puas liat hijaunya bukit dan sejuknya hawa gunung. Sayang infrastruktur wisata di Indonesia masih kalah jauh dengan Jepang. Di Jepang, gak ada ceritanya wisatawan di-palak harga makanan, di-palak harga taksi, diserobot antriannya atau tempat duduk, kecopetan, nunggu transportasi publik tanpa tahu jadwal pastinya... Di Jepang semua serba tertib dan teratur. Kereta dan bus akan berangkat dan tiba sesuai jadwal yang tertulis... Semua calon penumpang mengantri dengan teratur. Restoran2 mencantumkan harga makanan secara wajar. Taksi dilengkapi dengan display peta digital sehingga penumpang tahu di mana lokasi saat ini dan akan menuju ke mana.

Mungkin itu sebabnya para guru-guru bahasa Jepang yang mengajar mahasiswa asing memiliki topik favorit yang selalu dijadi pe-er untuk murid-muridnya, yaitu topik presentasi traveling di Jepang. Para guru itu tahu persis bahwa mahasiswa2nya akan memuji2 betapa tertib dan teraturnya tempat wisata di Jepang - karena memang seperti itulah kondisi yang sebenarnya.

Saya membayangkan guru bahasa Indonesia yang mengajar mahasiswa asing memberikan tugas yang serupa, yaitu presentasi traveling di Indonesia. Most likely, kisah yang diceritakan akan sangat beragam dan berbeda2 satu dengan yang lain.

Catatan seputar perjalanan:
  1. Harga tiket Freepass selama 2 hari adalah ¥5.040. Bisa digunakan baik untuk naik kereta maupun bus. 
  2. Kami menginap di hotel Rembrandt. Pelayanan hotel sangat nyaman... Seperti standard hotel Jepang lainnya. Sayangnya lokasi hotel ini di Hon-Atsugi yang agak jauh dari pusat wisata Hakone (sekitar 30Km). 
  3. Dua hari di Hakone tidak akan cukup untuk menjelajah tempat-tempat wisatanya. Hanya sebagian kecil tempat wisata yang dapat dikunjungi.
  4. Ada jasa pengiriman koper di stasiun Hakone-Yumoto. Pengiriman koper bisa dilakukan hingga 12.30pm dan dapat dikirimkan ke hotel manapun di Hakone. Harga pengiriman adalah ¥700. Alternatif lain untuk menyimpan koper agar tidak perlu dibawa2 saat bepergian adalah coin locker seharga ¥600.