Wednesday, August 27, 2014

HOROR!

Tempat kerja itu sejatinya harus membuat siapapun yang di dalamnya merasa nyaman.

Perlakuan tertentu di tempat kerja bisa jadi membuat orang lain merasa nyaman, tapi tidak bisa disamaratakan. Dengan perlakuan yang sama, pegawai A bisa nyaman, tapi bisa menjadi sesuatu yang horor bagi pegawai B. 

Kalau perlakuan ini hanya semacam preferensi (bukan sesuatu yang esensial), ada baiknya tidak disamaratakan. Dibuat opsional - yang suka ya monggo, yang nggak suka, ya gak usah dipaksa suka. Toh karena ini preferensi (bukan aturan ketat yang harus dijalankan), kalau tidak dijalankan juga nggak akan membuat perusahaan bangkrut.

Ini salah satu contohnya, yang merupakan kejadian HOROR buat saya.

Ucapan selamat ulang tahun yang disebarkan ke se-jagad raya!!


... dan saya tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegah penyebarannya!

Buat saya, hari ulang tahun itu privasi. Semua ucapan selamat yang baik akan saya aminkan dan it'll be great if you do it in PRIVATE, not publicly.

Tidak perlu disebar-sebarkan karena itu sesuatu yang privasi buat saya. 
Sama horor-nya dengan orang gemuk yang kemudian disebar2kan berat badannya.
Sama horor-nya dengan wanita lajang yang kemudian diumumkan ke khalayak ramai berapa usianya.
Sama horor-nya dengan pegawai yang gaji per bulannya diberitahukan kepada para koleganya.

Itu kan cuman tanggal lahir? Kok sampai sehoror itu?
Ya sama juga, berat badan, usia, gaji kan cuman angka, kok jadi horor kalo disebar2kan?
Orang beda2. Saya nggak pernah horor kalo ada yang menyebarkan berat badan saya yang sejak 20 tahun lalu berkisar di antara 53-56Kg. Kalo saya nggak horor, kan bukan berarti orang lain jg sama. Berlaku juga sebaliknya.

Sayangnya perlakuan horor semacam ini BUKAN sesuatu yang opsional di tempat itu... "Kalau kamu anggota di sini, tidak ada pilihan lain selain hari ulang tahun kamu akan disebarkan ke SEMUA anggota, HUAHAHAHA....!!"

Saya bahkan belum kembali bekerja dan sudah dibuat nggak nyaman. Maksudnya baik, tapi malah bikin nggak nyaman saya.

Tempat kerja itu sejatinya harus membuat siapapun yang di dalamnya merasa nyaman.

-----
PS. hari ulang tahun saya BUKAN hari di mana posting ini di-publish.


Tuesday, August 19, 2014

MMM (mulai) kolaps?

Gatel juga pengen nulis tentang bisnis MMM.

Saya iseng-iseng liat closed grup MMM Indonesia di facebook. Saat blog ini ditulis ada 73 ribu lebih anggotanya. Entah itu anggota pasif, aktif (yg ikutan main di MMM) ato sekedar gabung untuk pengen tau tentang MMM. Itupun masih belum termasuk grup-grup kecil yang lain (yang jumlah anggotanya msih ribuan). Saya berharap sebagian besar di orang2 di grup itu (dan beberapa friends saya di dalamnya) cuman sekedar gabung grup dan tidak terlibat bisnis MMM semacam ini.



Sejak saya pertama kali dengar sistem MMM, saya sudah gak sreg. Keuntungan 30% yang (akan) didapatkan dengan terlebih dulu memberikan "keuntungan" kepada orang lain sudah cukup menjelaskan bahwa ini adalah model bisnis dengan skema Ponzi atau piramida. Bisnis akan terus berjalan selama ada anggota baru. Jika tidak ada anggota baru, bisnis berhenti - dan anggota-anggota terakhir akan menderita kerugian. Anggota terakhir yang sudah menransfer uang terlebih dulu, tidak akan bisa mendapatkan ganti karena tidak ada anggota lagi di bawahnya yang mau menransfer uang ke dirinya. Game over.

Ini yang bikin saya bener2 bener2 bener2 jengkel dengan bisnis semacam ini (atau dengan oknum yang menawari saya bisnis semacam ini).

Yang ikut model bisnis MMM ini pasti sudah paham betul resikonya - dan berharap-harap dia nggak jadi anggota terakhir. Dia akan "bekerja keras", gimana caranya agar gak jadi anggota terakhir. Menghasut, mengiming2i, mengajak siapapun yang berpotensi untuk dimasukkan ke sistem MMM - agar uangnya bisa selamat.

Di sini akan kelihatan benar sifat asli para pengikut bisnis model MMM ini, demi menyelamatkan uangnya (atau demi keuntungan yang mau diambil) "loe rugi itu urusan loe, yang penting duit gue selamet dulu...".

Kalo kata orang bule, model bisnis ini adalah model bisnis yang the low of the lowest. Berharap dirinya untung dengan memanfaatkan kerugian orang lain. Tentu model ini beda dengan berdagang, yang jual dapet untung, yang beli mendapatkan manfaat dari barang yang dibeli.

Saya menduga, bisnis ini muncul dengan subur dan bisa booming di Indonesia karena mental sebagian besar rakyat Indonesia yang ingin cepet kaya (ya, siapa juga sih yang nggak kepengen cepet kaya?). Latar belakang seperti sulit mendapatkan pekerjaan atau kecilnya gaji sebagai pegawai atau walopun sudah kerja keras, tapi tetep aja gak bisa ngumpulkan uang banyak mungkin memotivasi mereka untuk mengikuti model bisnis semacam ini.

Saya membayangkan, seandainya bisnis MMM ini dijalankan di Jepang lalu ditawarkan ke mahasiswa, "Eh, mau nggak, naruh 10rb yen, lalu dua ato tiga minggu lagi bisa jadi 13rb yen?". (Btw, 10rb yen (sekitar 1jt rupiah) di Jepang bisa dipake untuk jalan2 ke Disneyland seharian plus makan2 - atau bisa dibuat 5x makan mewah di restoran - atau setara dengan tiket pesawat sekali jalan Tokyo-Okinawa yang jd icon Hawaii-nya Jepang). Kemungkinan besar, jawaban yang akan saya dapatkan adalah, "ah, mending saya ganbatte kerja part-time 3-4 hari aja, bisa dapet 13rb dengan aman".

Beda mental. Beda lingkungan.

Di Indonesia nggak ada kerja part-time yang bisa dapetkan 1.3jt dlm 3-4 hari. Itu sebabnya, kalo ada model bisnis yang bisa mendapatkan uang dengan cepat, langsung booming di Indonesia... Yang ikut mata gelap, yang penting dirinya untung, persetan kalo yang di bawahnya rugi jutaan, puluhan atau ratusan juta. Yang penting dirinya profit sebesar2nya.

* ngomong-ngomong, kebayang nggak kalo misalnya bawahan yang setor uang itu:
- ternyata setor uang kuliahnya?
- ternyata menggadaikan motor yg dipake sehari2 buat kerja?
- ternyata utang dari bank atau renternir dengan jaminan sertifikat kendaraan atau rumah?
- ternyata itu uang untuk kebutuhan hidup sehari2? atau uang tabungan untuk biaya sekolah anak?

Apa jadinya klo uang yang sudah disetor itu gak pernah bisa balik karena mereka jadi anggota terakhir?

Ini Indonesia! It happens bro! Coba direnung2kan dulu sebelum ikutan bisnis MMM. Masih tega ikut? Masih tega bilang, "ya itu urusan mereka..."?

Saya salut untuk anak-anak muda yang walaupun punya kesempatan, tapi tidak terhasut untuk ikut2an bisnis MMM (atau semacamnya). Jangan biarkan bisnis semacam ini tumbuh subur dengan menjadi pesertanya. At the end of the day, bisnis semacam ini hanya akan menambah permasalahan ekonomi di Indonesia - sama sekali tidak meningkatkan pertumbuhan ekonomi.