Friday, July 18, 2014

Tawaran menjadi peneliti (di sini)

Saya sudah mendapatkan lampu hijau dari sensei untuk mulai menulis disertasi. Ini sesuatu yang sangat saya tunggu-tunggu. Tanpa ada kalimat "yes, you may start to write your thesis" dari sensei, saya harus terus menunggu (dan meneliti) tanpa ada kepastian kapan bisa lulus. Untungnya kalimat itu sudah terucap 2 bulan lalu sehingga saya (hampir) bisa memastikan untuk sidang thesis semester depan.

Kemarin, ada farewell party untuk salah seorang mahasiswi internasional yang magang selama 2 bulan di lab kami. Party-party semacam ini adalah acara informal yang bisa digunakan untuk melakukan lobi-lobi. Sensei melobi (menghasut) mahasiswa bimbingannya untuk meneliti topik ini-itu atau mengikuti conference ini-itu, sementara mahasiswa melobi sensei untuk melengkapi lab dengan ini-itu. Situasinya informal sehingga kedua pihak bisa tawar menawar dengan lebih nyaman. Kalau di situasi formal sehari-hari, apa yang diperintahkan sensei ya harus dilakukan (walopun sambil ngomel2 di belakang).

Kemarin waktu party, salah satu sensei yang juga pembimbing thesis saya, di luar dugaan saya melontarkan suatu tawaran. Awalnya beliau sekedar memastikan bahwa tahun depan saya akan segera lulus... Lalu setelah berbasa-basi, dia menawarkan ke saya setelah lulus bisa nggak kalo lanjut jadi peneliti di sini. Tentu ini tawaran informal - tapi jawaban saya akan menentukan apakah tawaran ini dapat berlanjut menjadi tawaran yang resmi atau kemudian berhenti sampai di sini.

Setelah 4 tahun ada di Jepang, rencana saya setelah lulus sudah bulat.

Saya akan kembali ke Indonesia untuk berkumpul dengan keluarga dan kembali mengajar.

Tinggal di luar negeri (yang katanya enak) sudah membuat saya sadar benar bahwa what is called home is always your home country. Nggak ada tempat yang bisa menggantikan dan saya juga nggak ada keinginan untuk menetap di negara lain. Indonesia is my home.

Mungkin, apa yang saya rasakan ini juga dirasakan oleh para master/doktor yang baru lulus dari luar negeri. Idealisme untuk kembali ke Indonesia dan berkontribusi untuk menjadikan Indonesia lebih baik. Namun keadaan di Indonesia, penghargaan yang kurang terhadap kerja mereka, fasilitas yang minim, birokrasi yang berbelit-belit, sulitnya mengembangkan keilmuan yang mereka, mungkin dengan segera mengikis idealisme dan nasionalisme mereka. Pilihannya kemudian adalah hengkang dari Indonesia dan menetap di tempat di mana mereka lebih dihargai.

Bisa jadi, itu akan terjadi di saya.

Tapi paling tidak, untuk saat ini, saya sudah bulat untuk kembali ke Indonesia setelah lulus.