Friday, June 27, 2014

Conference di Fukuoka

Tanggal 24-29 Juni saya ke Fukuoka untuk mengikuti CARS (http://www.cars-int.org/). Salah satu abstrak saya diterima dan dijadwalkan untuk oral presentation tanggal 25 Juni.

Format oral presentation adalah 12 menit presentasi dan 3 menit QA. Presentasi di international conference seperti ini  (dengan audience dari berbagai negara - mostly USA dan Europe)  lebih menarik ketimbang conference lokal yang pesertanya kebanyakan orang Jepang. Ada perbedaan mendasar model presentasi orang Jepang dengan model presentasi orang Amerika. Presentasi orang Jepang sangaaaattt TIME-ORIENTED. Jika waktu presentasi 12 menit, maka mereka akan memastikan bahwa dalam 12 menit, mereka akan selesai, dengan toleransi plus minus 30 detik. Cara mempresentasikan juga sangat "stick to the slide". Mereka dilatih untuk stick to the time dan stick to the slide. Nyaris tidak ada tambahan apapun selain dari apa yang telah disiapkan.

Presenter Amerika lebih "bebas" dan spontan. Mereka bisa secara spontan memberikan informasi2 kecil saat presentasi - atau bahkan berinteraksi dengan audience.

Itu sebabnya, bagi mahasiswa Jepang yang mempresentasikan risetnya di international conference seperti ini, yang paling dibenci adalah sesi tanya jawab. Mereka bisa saja berlatih presentasi selama 40 jam (sesuai prosedur standard mereka agar presentasi bisa lancar). Mereka bahkan bisa hafal di dalam otak apa yang hendak mereka presentasikan, tapi mereka tidak memiliki kontrol dan tidak bisa memprediksikan apa yang akan muncul di sesi QA. Pertanyaannya bisa apa pun dan yang menakutkan adalah ketika mereka tidak bisa menangkap apa yang ditanyakan.

Saya pribadi (kalo boleh menilai diri sendiri), melakukan presentasi dalam kombinasi dari model Jepang dan Amerika. Disiapkan oleh sensei  yg sangat sangat Japanese stye (bahkan concern untuk ukuran font dan warna grafik!), waktu benar2 diperhitungkan slide-by-slide - slide mana yang butuh waktu lama dan slide mana yang bisa dipercepat penjelasannya. Sayangnya saya tidak bisa stick to the slide. Tetap saja muncul informasi tambahan yang tidak disiapkan sebelumnya, terutama saat memerhatikan gestur dari audience - kalo feeling saya sebagian audience menunjukkan gestur kurang paham atau ucapan saya kurang bisa dipahami, saya akan berikan informasi tambahan atau mengulang penjelasan dengan bahasa yang lebih sederhana.



Tentang Fukuoka, kesan saya kota ini adalah kota cantik yang sedang berbenah untuk menjadi kota modern yang nyaman ditinggali. Gedung-gedung berjajar tanpa ada kesan angkuh seperti gedung di Tokyo, Jakarta atau Surabaya. Mal-mal ditata dengan rapi di pusat kota, dijajarkan dengan taman yang asri dan mudah dijangkau dengan transportasi bus atau kereta. Ongkos kereta dan bus lebih murah ketimbang di Tokyo. Fashion orang2nya modis, tapi tidak modis dalam level ekstrim seperti halnya Tokyo. Modis dalam level yang wajar.



Di Fukuoka ini saya ketemu dengan kolega UMC, Pak Romy yang seperjuangan menempuh studi S3. Pak Romy yang tinggal di Honjo, harus menempuh 1.5jam perjalanan kereta untuk bisa ke Fukuoka.



---
Akumodasi:
  1. Dari Tokyo ke Fukuoka memakan waktu 1 jam 25 menit menggunakan pesawat. Saya menggunakan maskapai ANA Air, yang seperti penerbangan lokal Jepang lainnya, servis-nya memuaskan - dan tepat waktu baik keberangkatan maupun ketibaan.
  2. Harga pesawat, sampai sekarang saya masih belum tahu. Teman lab yang juga ikut conference mengurus semua akumodasi sampai dengan hotel. 
  3. Kami bermalam di Hotel Solaria (http://www.solaria-h.jp/)- yang sekali lagi meyakinkan saya bahwa standard hotel Jepang adalah bersih, ramah, nyaman dan internet yang super cepat.
  4. Conference dari tanggal 25 sampai 28, tapi teman saya memutuskan untuk booking hotel selama 4 malam, dari tanggal 24 sampai 29 - agar punya kesempatan untuk jalan2. 



Makan malam hari kedua, all-you-can-eat
    Suasana malam di sekitar stasiun utama Fukuoka



    Tempat tunggu bus, lengkap dengan peta dan jadwal bus


    Suasana di salah satu sudut Fukuoka, jalur untuk pejalanan kaki dibuat sangaaat lebar


    Name tag

    Saturday, June 21, 2014

    Buku "200 Kanji Yang Paling Sering Digunakan"

    Bulan Maret lalu, tanpa saya sadari, buku Kanji yang saya tulis sudah tersedia di toko-toko buku. Buku ini diterbitkan oleh Andi Offset dan bisa dibeli online di http://andipublisher.com/produk-0114005030-200-kanji-yang-paling-sering-digunakan.html.


    Sejujurnya saya bukan ahli huruf Kanji. Di awal-awal belajar, saya benar-benar struggling untuk menghafal Kanji yang jumlahnya ribuan itu. Bagi anak-anak Jepang, mempelajari Kanji dasar dibutuhkan waktu 12 tahun, dari kelas 1 SD sampai 3 SMA. Jumlah huruf Kanji yang harus dipelajari di setiap tahun ajaran berbeda-beda. Misal, Kanji untuk kelas 1 SD sejumlah 80 karakter, 2 SD sejumlah 160, 3 SD sejumlah 200, dst.

    Bagi kami, mahasiswa asing yang ingin mempelajari Kanji (agar sekedar bisa memahami tanda atau membaca pengumuman) tentu tidak memiliki waktu sebanyak itu untuk menghafal Kanji. Saya mengamati, dari sekian banyak Kanji, ternyata hanya beberapa ratus saja yang sering muncul di koran atau majalah. Jika kita bisa fokus untuk mempelajari Kanji yang sering muncul ini, maka akan lebih mudah untuk memahami isi suatu artikel. Menghafal kanji-kanji tidak sering muncul, akan berpotensi untuk lupa (sesuatu yang jarang dipakai, maka cenderung untuk dilupakan).

    Saya coba cari-cari resource tentang Kanji-kanji yang paling sering muncul. Ada metode tertentu yang saya gunakan sehingga bisa menghasilkan 200 Kanji yang paling sering muncul. Di buku ini, setiap karakter Kanji diberikan arti dasar, arti ketika digabung dengan karakter Kanji lain, serta contoh kalimat. Contoh kalimat akan membantu pembaca untuk mendapatkan sense pada situasi apa karakter Kanji tersebut muncul.


    (Sumber gambar: http://languaddict.wordpress.com/2014/03/08/review-buku-200-kanji-yang-paling-sering-digunakan/)

    Bagi yang berencana untuk studi ke Jepang atau belajar Bahasa Jepang, saya merekomendasikan buku ini. Bukan karena saya penulisnya lalu mempromosikan buku ini. Seandainya ketika sebelum saya berangkat ke Jepang, saya punya buku semacam ini, saya akan sangat terbantu dalam mempelajari Kanji. Learning curve untuk belajar Kanji akan menjadi cepat dengan referensi semacam ini (yang setahu saya masih baru ini satu-satunya yang ada di Indonesia).


    Thursday, June 19, 2014

    Kunjungan tanpa visa ke Jepang!

    Kabar gembira bagi para traveller! Jepang resmi mengumumkan pembebasan visa warga negara Indonesia untuk kunjungan wisata selama 15 hari. Syaratnya hanya satu, yaitu memiliki e-passport. Bagi yang sudah punya e-passport, tinggal cari tiket murah AirAsia (yang kalo lg promo bisa dapet Rp. 3jt PP Indo-Jpn-Indo) lalu bisa nyelonong gitu aja bisa masuk di Haneda atau Narita. Gak pake visa-visa-an (yang kabarnya) sulit dikabulkan.

    Btw, e-passport berbeda dengan passport biasa. Di dalam e-passport ada informasi biometric yang unik sehingga kecil kemungkinan (mendekati tidak mungkin) untuk memalsukan passport. Kalo passport biasa, asal punya KTP, punya koneksi sama RT dan RW, bisa banget warga negara Indonesia punya lebih dari 1 passport.

    Kenapa sih kok harus pake e-passport segala? Ceritanya begini.

    Jepang ini kan lagi mendongkrak sektor pariwisata yang beberapa tahun ini menurun drastis karena issue radiasi nuklir. Tentu agar semakin banyak wisatawan berkunjung ke Jepang, prosedur masuknya perlu dipermudah. Bagi wisatawan Indonesia, Jepang termasuk negara yang "sulit" ditembus, karena syarat untuk mendapatkan visa wisata nggak semudah kalo pergi jalan2 ke Korea, Hongkong atau China.

    Salah satu syarat dokumen yang harus dipenuhi saat mengajukan visa adalah fotokopi rekening 3 bulan terakhir. Jika perputaran uang (atau saldo) di rekening bank tidak meyakinkan, kemungkinan besar visa akan ditolak. Nggak nyalahkan Jepang juga dengan aturan ketat semacam itu, karena sejak tahun 1990-an (atau sejak ekonomi Jepang yang mengalami kemajuan pesat), banyak "wisatawan" Indonesia datang ke Jepang, lalu menjadi pekerja ilegal. Di Jepang mudah sekali untuk bisa mendapatkan gaji 15-30jt per bulan dengan menjadi buruh. Kerja aja di pabrik ato gemba (konstruksi bangunan) 10-14 jam sehari. Ambil shift malem biar gaji per jam-nya tinggi. Dijamin dalam sebulan bisa ngumpulkan 15-30jt. Kalo mau hidup irit, sebulan bisa aja abis cmn 5jt. Jd bisa ngumpulkan bersih 10-25jt.

    Nah, pekerja-pekerja asing ilegal itu jadi masalah sosial tersendiri bagi Jepang. Lapangan pekerjaan bagi orang jepang-nya sendiri jd berkurang karena pabrik-pabrik yang "nakal" lebih suka menampung dan mempekerjakan pekerja asing. Lebih murah dan... lebih bisa disuruh kerja apa aja. Kalo pekerja resmi, pabrik harus bayar pajak, ngasi asuransi kesehatan, uang pensiun, dll. Jauh lebih murah mempekerjakan pekerja asing.

    Saya kenal dengan beberapa orang Indonesia yang menjadi pekerja ilegal di Jepang. Ada yang "baru" 2 tahun, ada yang sudah 10 tahun (visa dan passport udah kadaluarsa), ada yang setahun bekerja, lalu tiba2 menghilang gitu aja karena dideportasi, ada juga yang kemudian menikah dengan org Jepang - dan bisa mendapatkan visa yang resmi.

    Masalah-masalah sosial ini yang berusaha ditekan oleh Jepang dengan memperketat aplikasi visa. Kasarnya, dulu Jepang ini mau bilang ke negara-negara berkembang, "gue mau mastikan dulu loe punya duit buat wisata ke Jepang, kalo loe gak punya duit, jangan2 nanti mau kerja ilegal lagi".

    Sekarang, dengan menurunnya sektor pariwisata, Jepang seolah2 dalam buah simalakama. Di satu sisi, wisatawan asing didorong untuk wisata ke Jepang, di sisi lain, masalah pekerja ilegal harus ditekan. Bagaimana solusinya?

    E-passport adalah salah jalan tengah.

    Mereka yang masuk dengan e-passport, biodatanya akan tercatat dengan detail. Nama, tanggal lahir, track record bepergian ke negara mana saja, informasi biometrik (sidik jari), semua lengkap. Boleh aja pemegang e-passport masuk ke Jepang tanpa visa, tapi seandainya nanti ybs nggak mau balik dan menjadi pekerja ilegal di Jepang, datanya sudah akan terekam. Kalau nanti ybs dideportasi, namanya akan di-blacklist dan tidak bisa kembali ke Jepang dengan passport yang sama. Termasuk ketika ybs akan mengajukan visa ke negara-negara lain, rekam jajak bahwa ybs pernah tinggal secara ilegal di Jepang ini tidak akan bisa dihapus.

    Jadi yang memang niatnya murni untuk wisata ke Jepang ato sekedar backpack traveling... Welcome to Japan. Enjoy Japan!!

    Kalo saya pribadi ya tetep, "sek enak urip neng negoro dewe".