Wednesday, April 30, 2014

E-G-O

Beberapa minggu (atau bulan) terakhir ini saya banyak diajar (atau belajar) mengendalikan pride (atau ego tepatnya). Ego itu suatu perasaan bahwa kita bener dan orang lain salah. Perasaan bahwa kita gak mau disalahkan. Perasaan bahwa kita yang paling berhak untuk menghakimi, menyalahkan (atau lebih parah, menjelek2kan) orang lain.

Salah satu manifestasi dari ego adalah ngeyel (dan ngotot). Orang lain ngomong apa, kita nggak mau terima, tetep ngeyel bahwa apa yang udah kita lakukan adalah yang paling bener dan orang lain yang salah. Pada titik yang ekstrim, manifestasinya adalah cuek - sak karepmu, aku gak urus.

Buat saya, mengendalikan ego itu sulit - karena prinsip "gak mau salah dan gak mau disalahkan" itu tertanam di benak saya... perasaan nggak enak kalo ada yang menyalahkan itu membuat saya sulit menerima tuduhan "you're wrong!".

Bener kalo ada yang bilang, "A man's greatest enemy is his own ego". Suami-suami sering berpikir bahwa mengakui kesalahan dan mau meminta maaf (ke istri atau anak) itu menunjukkan kelemahan sebagai seorang suami (iya, saya sering terjebak dengan pikiran semacam itu). Tapi kenyataannya sebaliknya. Sebaliknya.

Salah dan minta maaf itu suatu tindakan yang "manly". Saya belajar, if we can overcome our own ego, we can overcome basically ANYTHING in this life.

Trust me, ini pelajaran penting kehidupan yang gak ada mata kuliahnya, bahkan di tingkat S3 sekalipun.