Wednesday, January 29, 2014

Dokter gigi di Jepang



Kartu di atas adalah kartu klinik gigi saya.

Total sudah 10 kali ke klinik gigi - dan kunjungan berikutnya dua bulan lagi (bulan Maret). Dari kunjungan di atas, coba tebak, ada berapa gigi saya yang bermasalah? Empat? Lima?

Faktanya, ke-10 kunjungan di klinik gigi itu, hanya untuk merawat sebuah gigi geraham bawah. Iya, merawat SATU gigi geraham yang ada sedikit masalah dengan tambalannya.

Ceritanya, gigi geraham no 31 saya pernah lubang dan ditambal di Indonesia, kurang lebih 5-6 tahun yang lalu. Bulan Oktober lalu, saya merasa ada yang nggak beres dengan tambalannya - agak sakit kalau digunakan untuk mengunyah makanan yang keras. Waktu saya sempat balik ke Indonesia, saya coba cek ke dokter gigi, dan dicek selama 2 menit, lalu dibilang tidak ada masalah dengan tambalannya.

Sekembalinya ke Jepang, saya masih ngerasa ada yang nggak beres dengan tambalannya. Sakitnya seperti gigi yang berlubang kalau dibuat menguyah makanan yang keras. Saya kontrol ke klinik gigi Suzuki (http://0432558847.jp/) yang ditangani oleh dokter Suzuki - seorang dokter gigi muda lulusan Amerika.

Kunjungan pertama, semua gigi saya diperiksa satu per satu, diukur kedalaman kantungnya (entah apa maksudnya - mungkin yang dokter gigi tahu itu untuk apa). Lalu difoto X-Ray kesuluruhan gigi. Dengan mengacu pada X-Ray, dokternya menjelaskan beberapa kemungkinan sebab rasa sakit yang akhir-akhir ini muncul dan solusinya.

Solusinya dengan membongkar tambalan gigi yang lama, lalu diganti dengan yang baru.

Sounds good. Let's do it.

Saya diberi resep obat antibiotik dan pain killer, lalu disuruh pulang. What? That's it?
Minggu depan diminta untuk mengatur jadwal pertemuan lagi.

Minggu berikutnya, barulah tambalan gigi lama dibongkar. Diganti dengan tambalan yang saya pikir, tambalan permanen. Wrong. Tambalannya non-permanen - dan minggu berikutnya saya disuruh datang lagi. Minggu depannya, tambalan non-permanen dibongkar - dan ditambal dengan tambalan yang non-permanen (lagi). Dugaan saya, dokter ini ingin memastikan bahwa gigi geraham saya tidak bermasalah ketika nanti ditambal secara permanen.

Minggu-minggu berikutnya, ada beberapa kali sesi foto X-Ray, cetak anatomi gigi, shaping/polishing bentuk gigi geraham atas dan bawah, menambal permanen, dan terakhir finishing gigi geraham itu dengan memberikan crown. Sepuluh kali untuk merawat SATU buah gigi geraham yang berlobang!

Biayanya tentu standard biaya perawatan Jepang - yang untungnya 70% dicover oleh asuransi kesehatan. Total keseluruhan dari 10 kali perawatan itu sekitar 10rb yen (atau 1jt rupiah) - seandainya nggak pake asuransi kesehatan, maka biayanya sekitar 40rb yen (atau 4jt rupiah) .

Kalau di Indonesia, ini disebut dokter-kurang-kerjaan-yang-pengennya-morotin-pasien.

Kalau di Jepang, ini disebut presisi.


2 comments:

  1. karena mbak memang seharusnya seorang dokter gigi itu merawat gigi pasiennya dengan sungguh2, sampai benar2 sembuh (hal ini terus diwanti2 sama dosen saya)... dan rata2 setiap perawatan yg dilakukan dokter gigi memang memerlukan kunjungan beberapa kali :")

    ReplyDelete
  2. Kalo cabut gigi di Jepang berapa kira-kira biayanya ya?

    ReplyDelete