Friday, November 7, 2014

Minggu 19: Tamat (untuk sementara)

Loh, kok tamat?

Ada situasi yang tidak terduga berkaitan dengan progress thesis.

Thesis udah selesai ditulis, dibuat 3 kopi dan diserahkan ke para calon penguji.

Kemarin pagi, sensei menemui saya. Lalu mengatakan, "This is bad news..."
Menurut beliau, publikasi saya yang pertama tidak bisa dihitung sebagai publikasi karena di-publish bulan Maret 2012, sementara saya masuk sebagai mahasiswa doktor April 2012. Jadi publikasi yang bisa dihitung hanya 1 - dan 1 publikasi artinya tidak memenuhi syarat untuk thesis defense. Kesimpulannya saya belum bisa wisuda semester ini - kecuali ada mujizat.

Sebenarnya ada 2 manuscript yang masih under review. Kalau ada keputusan dalam minggu ini bahwa manuscript tersebut bisa publish, ada kemungkinan saya bisa mengajukan thesis defense dan lulus semester ini. Tapi kalau memang tidak bisa ya sudahlah.

Opsinya ada 2. Yang pertama saya memperpanjang 1-2 semester lagi di sini (yang artinya harus menunda kepulangan ke negara tercinta), yang kedua, saya dinyatakan telah selesai studi doktor, dan pulang akhir semester. Setelah resmi ada 2 publikasi, saya bisa mengajukan thesis defense dan datang ke Jepang khusus untuk thesis defense agar bisa resmi menyandang titel doktor.

Menambah 1-2 semester lagi di Jepang adalah pilihan TERAKHIR saya. Saya tau betul ada ratusan atau ribuan mahasiswa di Indonesia yang rela berkorban apapun demi bisa sekolah di Jepang (atau di luar negeri). But that's not my case. Empat tahun lalu saya juga berpikir sama. I would do anything so I can study abroad. Pengalaman 4 tahun studi di sini sudah mengubah pikiran saya. Seenak-enaknya hidup di Jepang, masih jauuuuhhh lebih enak hidup di negara sendiri.

-------- Behind the scene

Awalnya saya mengira sensei pembimbing saya sudah punya strategi khusus untuk membimbing mahasiswa agar bisa selesai tepat waktu. Saya menuruti apa yang dikatakan sensei. Tulis manuscript ini, revisi di sini, tambahkan itu, kirim ke jurnal A, B, C, dst.

Awal semester ini (atau sejak semester lalu), sensei sudah mengatakan bahwa 2 publikasi saya sudah memenuhi syarat untuk mengajukan thesis defense. Mungkin sudah 2-3 kali sensei mengatakan hal itu. Saya pegang kata2 beliau - beliau udah profesor senior di sini, (mestinya) tau persis kondisi akademik di sini. Ternyata keputusan rapat berkata lain, publikasi saya pertama nggak bisa dihitung sebagai publikasi yang berakibat thesis defense ditunda sampai ada resmi minimal 2 publikasi.

Seandainya beberapa bulan lalu saya sudah tau bahwa publikasi pertama nggak diitung, tentu strategi-nya harus diubah. Dua manuscript yang skrg masih under review itu harus diatur agar bisa accept. Misal, manuscript pertama karena sudah 6 bulan masih under review, mestinya bisa di-withdraw dan di-submit ke jurnal lain yang bisa memberikan fast decision. Saya gak terlalu paksakan karena pegang kata-kata sensei bahwa publikasi saya sudah 2 dan sudah bisa mengajukan thesis defense.

----------

Either dapet gelar doktor semester ini atau semester depan atau semester2 depannya lagi, saya serahkan sepenuhnya ke Tuhan. He knows, He cares and He's in control of my situation. Saya nggak terlalu kuatir.


Tuesday, November 4, 2014

Minggu 20: Long Weekend

Hari Jumat, tanggal 31 Oktober kemaren mestinya draft thesis sudah harus selesai dan diserahkan ke sensei. Tapi karena sensei bilang minggu depan jg gak papa, jadinya baru saya serahkan hari ini (tanggal 4 Nov). Ternyata nggak enak nulis thesis sambil diburu-buru waktu - nggak bisa menikmati. Mestinya memang harus di-planning waktunya biar gak terlalu mepet kayak kemaren.

Anyway, hari Senin kemarin (tgl 3 Nov) hari libur nasional di Jepang. Jadinya long-weekend... Sabtu, minggu dan senin bisa santai. Tiga hari itu saya juga (berusaha) santai walopun thesis-nya masih belum 100% selesai. Ada istri dan anak yang lebih berhak mendapatkan waktu libur saya ketimbang thesis.

Hari ini saya bangun jam 3.30 pagi - dan mulai menyelesaikan thesis.

Setelah nge-print thesis dan diserahkan ke sensei, rasanya udah ada lompatan besar menuju kelulusan. Tahap berikut yang harus disiapkan adalah pra-sidang yang sudah dijadwal tanggal 19 Nov ini... Pengujinya ada 3 profesor... Entah pra-sidang itu seperti apa dan harus ngapain. Yang pasti presentasi penelitian yang sudah dilakukan selama menjadi mahasiswa doktor. Tapi agenda persisnya pra-sidang itu ngapain aja saya nggak tau - dan nggak kepingin cari tau juga. Kuatirnya kalo udah tau seperti apa pra-sidang, ntar malah kepikiran.


Monday, October 20, 2014

Minggu 22: Diburu tenggat waktu

Hitungan mundur minggu ke-22 menjelang wisuda.

Preliminary thesis review akan dilangsungkan akhir bulan ini. Saya harus menyerahkan draft thesis-nya ke sensei pembimbing sebelum 31 Oktober. Sebenarnya nggak perlu diburu-buru tenggat waktu karena saya punya banyak waktu untuk menyelesaikannya.

Tapi minggu lalu saya "sengaja" bersantai. Saya biarkan sampe waktunya mepet sehingga saya terpaksa menulis. Apa efektif? Nggak tau juga. Saya ngikuti feeling saya aja... Yang mana yang saya rasakan nyaman untuk saya, saya lakukan.

Syarat untuk boleh mengajukan preliminary review adalah telah memiliki 2 publikasi internasional. Publikasi jurnal, bukan prosiding ato conference. Kalo prosiding mah, mungkin ada lebih dari 10. Saat ini publikasi jurnal saya udah 2... yang pertama saya submit di jurnal Telkomnika, salah satu jurnal terakreditasi Indonesia (yang untungnya sama sensei itu diitung sebagai publikasi). Yang kedua di Jurnal "Computational and Mathematical Methods in Medicine".

Lima bulan lalu, submit dua manuscript lagi di dua jurnal lain, yang pertama di Jurnal ITB (yang cuman dikasi status "Under review" sampe detik ini!! - sekali aja saya submit di jurnal itu), dan yang kedua submit di SPIE Medical Imaging. Yang kedua ini, minggu lalu baru keluar review-nya... hasilnya masih belum bisa publish dan perlu di-revisi sebelum 5 November. Mungkin minggu ini akan saya selesaikan revisinya... Dikerjakan bareng2 sama thesis yang masih aja bekutat di Bab I.

Ini baru namanya diburu tenggat waktu.



Monday, October 6, 2014

Minggu 24: (Mulai) Menulis Tesis

Saya hitung mundur. Kurang 24 minggu lagi jadwal wisuda.

Minggu ini saya mulai menulis tesis. Saya pernah menulis tesis untuk S2, yang menurut saya, masih kurang lebih seperti menulis skripsi S1. Hanya bahasa dan struktur penulisannya lebih baik. Tesis yang saya tulis waktu di S2 masih bekutat pada coding - yang seharusnya nggak perlu.

Tesis untuk S3 benar-benar lompatan besar dibandingkan dengan S2.

Lompatan besar karena Tesis harus difokuskan pada keterbaruan konsep yang telah ditemukan selama melakukan penelitian, hasil apa yang telah diperoleh - dan seberapa besar dampak yang diberikan terhadap kemajuan ilmu pengetahun di bidang yang telah diteliti. Latar belakang harus jelas - bukan diada-adakan. Metode meneliti juga harus detail, sehingga ketika ada peneliti lain yang melakukan metode yang sama, hasil yang didapat tetap sama. Artikel yang telah dipublikasikan di jurnal akan menjadi bagian dari Tesis.

Seharusnya saya senang karena bagi saya menulis Tesis tidaklah sesulit melakukan penelitian. Hanya tinggal menuliskan apa yang sudah ada. Tapi di bawah bimbingan seorang sensei yang perfeksionis, beliau bisa saja sewaktu-waktu meminta tambahan penelitian ini dan itu. Kalau sudah ditambah, maka Tesis harus dirombak - dan bakal melelahkan untuk melakukan tambahan penelitian dan merombak Tesis.

Akhir bulan ini, Tesis harus sudah kelar dan diserahkan ke sensei pembimbing untuk preliminary review. Semoga review-nya hanya yang remeh temeh yang tidak menyita waktu.

Wednesday, August 27, 2014

HOROR!

Tempat kerja itu sejatinya harus membuat siapapun yang di dalamnya merasa nyaman.

Perlakuan tertentu di tempat kerja bisa jadi membuat orang lain merasa nyaman, tapi tidak bisa disamaratakan. Dengan perlakuan yang sama, pegawai A bisa nyaman, tapi bisa menjadi sesuatu yang horor bagi pegawai B. 

Kalau perlakuan ini hanya semacam preferensi (bukan sesuatu yang esensial), ada baiknya tidak disamaratakan. Dibuat opsional - yang suka ya monggo, yang nggak suka, ya gak usah dipaksa suka. Toh karena ini preferensi (bukan aturan ketat yang harus dijalankan), kalau tidak dijalankan juga nggak akan membuat perusahaan bangkrut.

Ini salah satu contohnya, yang merupakan kejadian HOROR buat saya.

Ucapan selamat ulang tahun yang disebarkan ke se-jagad raya!!


... dan saya tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegah penyebarannya!

Buat saya, hari ulang tahun itu privasi. Semua ucapan selamat yang baik akan saya aminkan dan it'll be great if you do it in PRIVATE, not publicly.

Tidak perlu disebar-sebarkan karena itu sesuatu yang privasi buat saya. 
Sama horor-nya dengan orang gemuk yang kemudian disebar2kan berat badannya.
Sama horor-nya dengan wanita lajang yang kemudian diumumkan ke khalayak ramai berapa usianya.
Sama horor-nya dengan pegawai yang gaji per bulannya diberitahukan kepada para koleganya.

Itu kan cuman tanggal lahir? Kok sampai sehoror itu?
Ya sama juga, berat badan, usia, gaji kan cuman angka, kok jadi horor kalo disebar2kan?
Orang beda2. Saya nggak pernah horor kalo ada yang menyebarkan berat badan saya yang sejak 20 tahun lalu berkisar di antara 53-56Kg. Kalo saya nggak horor, kan bukan berarti orang lain jg sama. Berlaku juga sebaliknya.

Sayangnya perlakuan horor semacam ini BUKAN sesuatu yang opsional di tempat itu... "Kalau kamu anggota di sini, tidak ada pilihan lain selain hari ulang tahun kamu akan disebarkan ke SEMUA anggota, HUAHAHAHA....!!"

Saya bahkan belum kembali bekerja dan sudah dibuat nggak nyaman. Maksudnya baik, tapi malah bikin nggak nyaman saya.

Tempat kerja itu sejatinya harus membuat siapapun yang di dalamnya merasa nyaman.

-----
PS. hari ulang tahun saya BUKAN hari di mana posting ini di-publish.


Tuesday, August 19, 2014

MMM (mulai) kolaps?

Gatel juga pengen nulis tentang bisnis MMM.

Saya iseng-iseng liat closed grup MMM Indonesia di facebook. Saat blog ini ditulis ada 73 ribu lebih anggotanya. Entah itu anggota pasif, aktif (yg ikutan main di MMM) ato sekedar gabung untuk pengen tau tentang MMM. Itupun masih belum termasuk grup-grup kecil yang lain (yang jumlah anggotanya msih ribuan). Saya berharap sebagian besar di orang2 di grup itu (dan beberapa friends saya di dalamnya) cuman sekedar gabung grup dan tidak terlibat bisnis MMM semacam ini.



Sejak saya pertama kali dengar sistem MMM, saya sudah gak sreg. Keuntungan 30% yang (akan) didapatkan dengan terlebih dulu memberikan "keuntungan" kepada orang lain sudah cukup menjelaskan bahwa ini adalah model bisnis dengan skema Ponzi atau piramida. Bisnis akan terus berjalan selama ada anggota baru. Jika tidak ada anggota baru, bisnis berhenti - dan anggota-anggota terakhir akan menderita kerugian. Anggota terakhir yang sudah menransfer uang terlebih dulu, tidak akan bisa mendapatkan ganti karena tidak ada anggota lagi di bawahnya yang mau menransfer uang ke dirinya. Game over.

Ini yang bikin saya bener2 bener2 bener2 jengkel dengan bisnis semacam ini (atau dengan oknum yang menawari saya bisnis semacam ini).

Yang ikut model bisnis MMM ini pasti sudah paham betul resikonya - dan berharap-harap dia nggak jadi anggota terakhir. Dia akan "bekerja keras", gimana caranya agar gak jadi anggota terakhir. Menghasut, mengiming2i, mengajak siapapun yang berpotensi untuk dimasukkan ke sistem MMM - agar uangnya bisa selamat.

Di sini akan kelihatan benar sifat asli para pengikut bisnis model MMM ini, demi menyelamatkan uangnya (atau demi keuntungan yang mau diambil) "loe rugi itu urusan loe, yang penting duit gue selamet dulu...".

Kalo kata orang bule, model bisnis ini adalah model bisnis yang the low of the lowest. Berharap dirinya untung dengan memanfaatkan kerugian orang lain. Tentu model ini beda dengan berdagang, yang jual dapet untung, yang beli mendapatkan manfaat dari barang yang dibeli.

Saya menduga, bisnis ini muncul dengan subur dan bisa booming di Indonesia karena mental sebagian besar rakyat Indonesia yang ingin cepet kaya (ya, siapa juga sih yang nggak kepengen cepet kaya?). Latar belakang seperti sulit mendapatkan pekerjaan atau kecilnya gaji sebagai pegawai atau walopun sudah kerja keras, tapi tetep aja gak bisa ngumpulkan uang banyak mungkin memotivasi mereka untuk mengikuti model bisnis semacam ini.

Saya membayangkan, seandainya bisnis MMM ini dijalankan di Jepang lalu ditawarkan ke mahasiswa, "Eh, mau nggak, naruh 10rb yen, lalu dua ato tiga minggu lagi bisa jadi 13rb yen?". (Btw, 10rb yen (sekitar 1jt rupiah) di Jepang bisa dipake untuk jalan2 ke Disneyland seharian plus makan2 - atau bisa dibuat 5x makan mewah di restoran - atau setara dengan tiket pesawat sekali jalan Tokyo-Okinawa yang jd icon Hawaii-nya Jepang). Kemungkinan besar, jawaban yang akan saya dapatkan adalah, "ah, mending saya ganbatte kerja part-time 3-4 hari aja, bisa dapet 13rb dengan aman".

Beda mental. Beda lingkungan.

Di Indonesia nggak ada kerja part-time yang bisa dapetkan 1.3jt dlm 3-4 hari. Itu sebabnya, kalo ada model bisnis yang bisa mendapatkan uang dengan cepat, langsung booming di Indonesia... Yang ikut mata gelap, yang penting dirinya untung, persetan kalo yang di bawahnya rugi jutaan, puluhan atau ratusan juta. Yang penting dirinya profit sebesar2nya.

* ngomong-ngomong, kebayang nggak kalo misalnya bawahan yang setor uang itu:
- ternyata setor uang kuliahnya?
- ternyata menggadaikan motor yg dipake sehari2 buat kerja?
- ternyata utang dari bank atau renternir dengan jaminan sertifikat kendaraan atau rumah?
- ternyata itu uang untuk kebutuhan hidup sehari2? atau uang tabungan untuk biaya sekolah anak?

Apa jadinya klo uang yang sudah disetor itu gak pernah bisa balik karena mereka jadi anggota terakhir?

Ini Indonesia! It happens bro! Coba direnung2kan dulu sebelum ikutan bisnis MMM. Masih tega ikut? Masih tega bilang, "ya itu urusan mereka..."?

Saya salut untuk anak-anak muda yang walaupun punya kesempatan, tapi tidak terhasut untuk ikut2an bisnis MMM (atau semacamnya). Jangan biarkan bisnis semacam ini tumbuh subur dengan menjadi pesertanya. At the end of the day, bisnis semacam ini hanya akan menambah permasalahan ekonomi di Indonesia - sama sekali tidak meningkatkan pertumbuhan ekonomi.


Friday, July 18, 2014

Tawaran menjadi peneliti (di sini)

Saya sudah mendapatkan lampu hijau dari sensei untuk mulai menulis disertasi. Ini sesuatu yang sangat saya tunggu-tunggu. Tanpa ada kalimat "yes, you may start to write your thesis" dari sensei, saya harus terus menunggu (dan meneliti) tanpa ada kepastian kapan bisa lulus. Untungnya kalimat itu sudah terucap 2 bulan lalu sehingga saya (hampir) bisa memastikan untuk sidang thesis semester depan.

Kemarin, ada farewell party untuk salah seorang mahasiswi internasional yang magang selama 2 bulan di lab kami. Party-party semacam ini adalah acara informal yang bisa digunakan untuk melakukan lobi-lobi. Sensei melobi (menghasut) mahasiswa bimbingannya untuk meneliti topik ini-itu atau mengikuti conference ini-itu, sementara mahasiswa melobi sensei untuk melengkapi lab dengan ini-itu. Situasinya informal sehingga kedua pihak bisa tawar menawar dengan lebih nyaman. Kalau di situasi formal sehari-hari, apa yang diperintahkan sensei ya harus dilakukan (walopun sambil ngomel2 di belakang).

Kemarin waktu party, salah satu sensei yang juga pembimbing thesis saya, di luar dugaan saya melontarkan suatu tawaran. Awalnya beliau sekedar memastikan bahwa tahun depan saya akan segera lulus... Lalu setelah berbasa-basi, dia menawarkan ke saya setelah lulus bisa nggak kalo lanjut jadi peneliti di sini. Tentu ini tawaran informal - tapi jawaban saya akan menentukan apakah tawaran ini dapat berlanjut menjadi tawaran yang resmi atau kemudian berhenti sampai di sini.

Setelah 4 tahun ada di Jepang, rencana saya setelah lulus sudah bulat.

Saya akan kembali ke Indonesia untuk berkumpul dengan keluarga dan kembali mengajar.

Tinggal di luar negeri (yang katanya enak) sudah membuat saya sadar benar bahwa what is called home is always your home country. Nggak ada tempat yang bisa menggantikan dan saya juga nggak ada keinginan untuk menetap di negara lain. Indonesia is my home.

Mungkin, apa yang saya rasakan ini juga dirasakan oleh para master/doktor yang baru lulus dari luar negeri. Idealisme untuk kembali ke Indonesia dan berkontribusi untuk menjadikan Indonesia lebih baik. Namun keadaan di Indonesia, penghargaan yang kurang terhadap kerja mereka, fasilitas yang minim, birokrasi yang berbelit-belit, sulitnya mengembangkan keilmuan yang mereka, mungkin dengan segera mengikis idealisme dan nasionalisme mereka. Pilihannya kemudian adalah hengkang dari Indonesia dan menetap di tempat di mana mereka lebih dihargai.

Bisa jadi, itu akan terjadi di saya.

Tapi paling tidak, untuk saat ini, saya sudah bulat untuk kembali ke Indonesia setelah lulus.


Friday, June 27, 2014

Conference di Fukuoka

Tanggal 24-29 Juni saya ke Fukuoka untuk mengikuti CARS (http://www.cars-int.org/). Salah satu abstrak saya diterima dan dijadwalkan untuk oral presentation tanggal 25 Juni.

Format oral presentation adalah 12 menit presentasi dan 3 menit QA. Presentasi di international conference seperti ini  (dengan audience dari berbagai negara - mostly USA dan Europe)  lebih menarik ketimbang conference lokal yang pesertanya kebanyakan orang Jepang. Ada perbedaan mendasar model presentasi orang Jepang dengan model presentasi orang Amerika. Presentasi orang Jepang sangaaaattt TIME-ORIENTED. Jika waktu presentasi 12 menit, maka mereka akan memastikan bahwa dalam 12 menit, mereka akan selesai, dengan toleransi plus minus 30 detik. Cara mempresentasikan juga sangat "stick to the slide". Mereka dilatih untuk stick to the time dan stick to the slide. Nyaris tidak ada tambahan apapun selain dari apa yang telah disiapkan.

Presenter Amerika lebih "bebas" dan spontan. Mereka bisa secara spontan memberikan informasi2 kecil saat presentasi - atau bahkan berinteraksi dengan audience.

Itu sebabnya, bagi mahasiswa Jepang yang mempresentasikan risetnya di international conference seperti ini, yang paling dibenci adalah sesi tanya jawab. Mereka bisa saja berlatih presentasi selama 40 jam (sesuai prosedur standard mereka agar presentasi bisa lancar). Mereka bahkan bisa hafal di dalam otak apa yang hendak mereka presentasikan, tapi mereka tidak memiliki kontrol dan tidak bisa memprediksikan apa yang akan muncul di sesi QA. Pertanyaannya bisa apa pun dan yang menakutkan adalah ketika mereka tidak bisa menangkap apa yang ditanyakan.

Saya pribadi (kalo boleh menilai diri sendiri), melakukan presentasi dalam kombinasi dari model Jepang dan Amerika. Disiapkan oleh sensei  yg sangat sangat Japanese stye (bahkan concern untuk ukuran font dan warna grafik!), waktu benar2 diperhitungkan slide-by-slide - slide mana yang butuh waktu lama dan slide mana yang bisa dipercepat penjelasannya. Sayangnya saya tidak bisa stick to the slide. Tetap saja muncul informasi tambahan yang tidak disiapkan sebelumnya, terutama saat memerhatikan gestur dari audience - kalo feeling saya sebagian audience menunjukkan gestur kurang paham atau ucapan saya kurang bisa dipahami, saya akan berikan informasi tambahan atau mengulang penjelasan dengan bahasa yang lebih sederhana.



Tentang Fukuoka, kesan saya kota ini adalah kota cantik yang sedang berbenah untuk menjadi kota modern yang nyaman ditinggali. Gedung-gedung berjajar tanpa ada kesan angkuh seperti gedung di Tokyo, Jakarta atau Surabaya. Mal-mal ditata dengan rapi di pusat kota, dijajarkan dengan taman yang asri dan mudah dijangkau dengan transportasi bus atau kereta. Ongkos kereta dan bus lebih murah ketimbang di Tokyo. Fashion orang2nya modis, tapi tidak modis dalam level ekstrim seperti halnya Tokyo. Modis dalam level yang wajar.



Di Fukuoka ini saya ketemu dengan kolega UMC, Pak Romy yang seperjuangan menempuh studi S3. Pak Romy yang tinggal di Honjo, harus menempuh 1.5jam perjalanan kereta untuk bisa ke Fukuoka.



---
Akumodasi:
  1. Dari Tokyo ke Fukuoka memakan waktu 1 jam 25 menit menggunakan pesawat. Saya menggunakan maskapai ANA Air, yang seperti penerbangan lokal Jepang lainnya, servis-nya memuaskan - dan tepat waktu baik keberangkatan maupun ketibaan.
  2. Harga pesawat, sampai sekarang saya masih belum tahu. Teman lab yang juga ikut conference mengurus semua akumodasi sampai dengan hotel. 
  3. Kami bermalam di Hotel Solaria (http://www.solaria-h.jp/)- yang sekali lagi meyakinkan saya bahwa standard hotel Jepang adalah bersih, ramah, nyaman dan internet yang super cepat.
  4. Conference dari tanggal 25 sampai 28, tapi teman saya memutuskan untuk booking hotel selama 4 malam, dari tanggal 24 sampai 29 - agar punya kesempatan untuk jalan2. 



Makan malam hari kedua, all-you-can-eat
    Suasana malam di sekitar stasiun utama Fukuoka



    Tempat tunggu bus, lengkap dengan peta dan jadwal bus


    Suasana di salah satu sudut Fukuoka, jalur untuk pejalanan kaki dibuat sangaaat lebar


    Name tag

    Saturday, June 21, 2014

    Buku "200 Kanji Yang Paling Sering Digunakan"

    Bulan Maret lalu, tanpa saya sadari, buku Kanji yang saya tulis sudah tersedia di toko-toko buku. Buku ini diterbitkan oleh Andi Offset dan bisa dibeli online di http://andipublisher.com/produk-0114005030-200-kanji-yang-paling-sering-digunakan.html.


    Sejujurnya saya bukan ahli huruf Kanji. Di awal-awal belajar, saya benar-benar struggling untuk menghafal Kanji yang jumlahnya ribuan itu. Bagi anak-anak Jepang, mempelajari Kanji dasar dibutuhkan waktu 12 tahun, dari kelas 1 SD sampai 3 SMA. Jumlah huruf Kanji yang harus dipelajari di setiap tahun ajaran berbeda-beda. Misal, Kanji untuk kelas 1 SD sejumlah 80 karakter, 2 SD sejumlah 160, 3 SD sejumlah 200, dst.

    Bagi kami, mahasiswa asing yang ingin mempelajari Kanji (agar sekedar bisa memahami tanda atau membaca pengumuman) tentu tidak memiliki waktu sebanyak itu untuk menghafal Kanji. Saya mengamati, dari sekian banyak Kanji, ternyata hanya beberapa ratus saja yang sering muncul di koran atau majalah. Jika kita bisa fokus untuk mempelajari Kanji yang sering muncul ini, maka akan lebih mudah untuk memahami isi suatu artikel. Menghafal kanji-kanji tidak sering muncul, akan berpotensi untuk lupa (sesuatu yang jarang dipakai, maka cenderung untuk dilupakan).

    Saya coba cari-cari resource tentang Kanji-kanji yang paling sering muncul. Ada metode tertentu yang saya gunakan sehingga bisa menghasilkan 200 Kanji yang paling sering muncul. Di buku ini, setiap karakter Kanji diberikan arti dasar, arti ketika digabung dengan karakter Kanji lain, serta contoh kalimat. Contoh kalimat akan membantu pembaca untuk mendapatkan sense pada situasi apa karakter Kanji tersebut muncul.


    (Sumber gambar: http://languaddict.wordpress.com/2014/03/08/review-buku-200-kanji-yang-paling-sering-digunakan/)

    Bagi yang berencana untuk studi ke Jepang atau belajar Bahasa Jepang, saya merekomendasikan buku ini. Bukan karena saya penulisnya lalu mempromosikan buku ini. Seandainya ketika sebelum saya berangkat ke Jepang, saya punya buku semacam ini, saya akan sangat terbantu dalam mempelajari Kanji. Learning curve untuk belajar Kanji akan menjadi cepat dengan referensi semacam ini (yang setahu saya masih baru ini satu-satunya yang ada di Indonesia).


    Thursday, June 19, 2014

    Kunjungan tanpa visa ke Jepang!

    Kabar gembira bagi para traveller! Jepang resmi mengumumkan pembebasan visa warga negara Indonesia untuk kunjungan wisata selama 15 hari. Syaratnya hanya satu, yaitu memiliki e-passport. Bagi yang sudah punya e-passport, tinggal cari tiket murah AirAsia (yang kalo lg promo bisa dapet Rp. 3jt PP Indo-Jpn-Indo) lalu bisa nyelonong gitu aja bisa masuk di Haneda atau Narita. Gak pake visa-visa-an (yang kabarnya) sulit dikabulkan.

    Btw, e-passport berbeda dengan passport biasa. Di dalam e-passport ada informasi biometric yang unik sehingga kecil kemungkinan (mendekati tidak mungkin) untuk memalsukan passport. Kalo passport biasa, asal punya KTP, punya koneksi sama RT dan RW, bisa banget warga negara Indonesia punya lebih dari 1 passport.

    Kenapa sih kok harus pake e-passport segala? Ceritanya begini.

    Jepang ini kan lagi mendongkrak sektor pariwisata yang beberapa tahun ini menurun drastis karena issue radiasi nuklir. Tentu agar semakin banyak wisatawan berkunjung ke Jepang, prosedur masuknya perlu dipermudah. Bagi wisatawan Indonesia, Jepang termasuk negara yang "sulit" ditembus, karena syarat untuk mendapatkan visa wisata nggak semudah kalo pergi jalan2 ke Korea, Hongkong atau China.

    Salah satu syarat dokumen yang harus dipenuhi saat mengajukan visa adalah fotokopi rekening 3 bulan terakhir. Jika perputaran uang (atau saldo) di rekening bank tidak meyakinkan, kemungkinan besar visa akan ditolak. Nggak nyalahkan Jepang juga dengan aturan ketat semacam itu, karena sejak tahun 1990-an (atau sejak ekonomi Jepang yang mengalami kemajuan pesat), banyak "wisatawan" Indonesia datang ke Jepang, lalu menjadi pekerja ilegal. Di Jepang mudah sekali untuk bisa mendapatkan gaji 15-30jt per bulan dengan menjadi buruh. Kerja aja di pabrik ato gemba (konstruksi bangunan) 10-14 jam sehari. Ambil shift malem biar gaji per jam-nya tinggi. Dijamin dalam sebulan bisa ngumpulkan 15-30jt. Kalo mau hidup irit, sebulan bisa aja abis cmn 5jt. Jd bisa ngumpulkan bersih 10-25jt.

    Nah, pekerja-pekerja asing ilegal itu jadi masalah sosial tersendiri bagi Jepang. Lapangan pekerjaan bagi orang jepang-nya sendiri jd berkurang karena pabrik-pabrik yang "nakal" lebih suka menampung dan mempekerjakan pekerja asing. Lebih murah dan... lebih bisa disuruh kerja apa aja. Kalo pekerja resmi, pabrik harus bayar pajak, ngasi asuransi kesehatan, uang pensiun, dll. Jauh lebih murah mempekerjakan pekerja asing.

    Saya kenal dengan beberapa orang Indonesia yang menjadi pekerja ilegal di Jepang. Ada yang "baru" 2 tahun, ada yang sudah 10 tahun (visa dan passport udah kadaluarsa), ada yang setahun bekerja, lalu tiba2 menghilang gitu aja karena dideportasi, ada juga yang kemudian menikah dengan org Jepang - dan bisa mendapatkan visa yang resmi.

    Masalah-masalah sosial ini yang berusaha ditekan oleh Jepang dengan memperketat aplikasi visa. Kasarnya, dulu Jepang ini mau bilang ke negara-negara berkembang, "gue mau mastikan dulu loe punya duit buat wisata ke Jepang, kalo loe gak punya duit, jangan2 nanti mau kerja ilegal lagi".

    Sekarang, dengan menurunnya sektor pariwisata, Jepang seolah2 dalam buah simalakama. Di satu sisi, wisatawan asing didorong untuk wisata ke Jepang, di sisi lain, masalah pekerja ilegal harus ditekan. Bagaimana solusinya?

    E-passport adalah salah jalan tengah.

    Mereka yang masuk dengan e-passport, biodatanya akan tercatat dengan detail. Nama, tanggal lahir, track record bepergian ke negara mana saja, informasi biometrik (sidik jari), semua lengkap. Boleh aja pemegang e-passport masuk ke Jepang tanpa visa, tapi seandainya nanti ybs nggak mau balik dan menjadi pekerja ilegal di Jepang, datanya sudah akan terekam. Kalau nanti ybs dideportasi, namanya akan di-blacklist dan tidak bisa kembali ke Jepang dengan passport yang sama. Termasuk ketika ybs akan mengajukan visa ke negara-negara lain, rekam jajak bahwa ybs pernah tinggal secara ilegal di Jepang ini tidak akan bisa dihapus.

    Jadi yang memang niatnya murni untuk wisata ke Jepang ato sekedar backpack traveling... Welcome to Japan. Enjoy Japan!!

    Kalo saya pribadi ya tetep, "sek enak urip neng negoro dewe".


    Wednesday, April 30, 2014

    E-G-O

    Beberapa minggu (atau bulan) terakhir ini saya banyak diajar (atau belajar) mengendalikan pride (atau ego tepatnya). Ego itu suatu perasaan bahwa kita bener dan orang lain salah. Perasaan bahwa kita gak mau disalahkan. Perasaan bahwa kita yang paling berhak untuk menghakimi, menyalahkan (atau lebih parah, menjelek2kan) orang lain.

    Salah satu manifestasi dari ego adalah ngeyel (dan ngotot). Orang lain ngomong apa, kita nggak mau terima, tetep ngeyel bahwa apa yang udah kita lakukan adalah yang paling bener dan orang lain yang salah. Pada titik yang ekstrim, manifestasinya adalah cuek - sak karepmu, aku gak urus.

    Buat saya, mengendalikan ego itu sulit - karena prinsip "gak mau salah dan gak mau disalahkan" itu tertanam di benak saya... perasaan nggak enak kalo ada yang menyalahkan itu membuat saya sulit menerima tuduhan "you're wrong!".

    Bener kalo ada yang bilang, "A man's greatest enemy is his own ego". Suami-suami sering berpikir bahwa mengakui kesalahan dan mau meminta maaf (ke istri atau anak) itu menunjukkan kelemahan sebagai seorang suami (iya, saya sering terjebak dengan pikiran semacam itu). Tapi kenyataannya sebaliknya. Sebaliknya.

    Salah dan minta maaf itu suatu tindakan yang "manly". Saya belajar, if we can overcome our own ego, we can overcome basically ANYTHING in this life.

    Trust me, ini pelajaran penting kehidupan yang gak ada mata kuliahnya, bahkan di tingkat S3 sekalipun.


    Saturday, March 22, 2014

    Menantikan Musim Dingin

    Musim dingin segera berakhir, berganti dengan musim semi yang ditandai dengan semakin murahnya harga sayur. Sepanjang tahun, musim dingin adalah musim yang paling tidak pernah saya nanti2kan. Panas 35 derajat saat musim panas sekitar bulan Juli-Agustus, masih bisa saya nikmati. Tapi dingin di bawah 5 derajat benar-benar bisa memengaruhi mood, terutama mood untuk beranjak dari tempat tidur di pagi hari... Saya jadi paham bener perasaan beruang kutub yang males keluar saat musim dingin... Sedingin-dinginnya Malang (atau Batu), dinginnya baru menusuk kulit. Di sini, dinginnya menusuk tulang dalam arti yang sesungguhnya.

    Jadi inget seorang profesor di tempat saya yang lulusan Australia pernah bilang, "Kalau saya disuruh ke sana (Australia) lagi, nggak mau saya... nggak kuat dinginnya". Waktu itu saya nggak benar-benar paham maksudnya. Saya pikir, "ah, kalo cuman ngadepin dingin aja, apa beratnya? Saya mau ke Australia walopun harus ngadepin dingin..." Itu dulu. Sekarang lain. Sepulang ke Indonesia, saya juga akan mengatakan hal yang sama dengan pak profesor itu.

    Tapi tahun 2014 ini adalah tahun yang  khusus. Musim dingin tahun 2014 ini adalah musim yang paling saya nanti-nantikan lebih dari musim apapun selama saya tinggal di Jepang. Sepanjang tahun ini saya akan menantikan datangnya musim dingin. Saya akan menyambut dengan hati gembira datangnya musim dingin tahun ini.

    Kenapa?

    Satu alasan. Datangnya musim dingin tahun ini artinya saya akan segera lulus - dengan seizin Illahi tentunya. Lulus dan menyandang gelar Doktor (lulusan Jepang). Datangnya musim dingin berarti saya akan segera kembali ke tanah air tercinta, Indonesia. Berkumpul dengan keluarga tercinta dan kembali mengajar.

    Harapan itu yang membuat saya menanti-nantikan musim dingin tahun ini.



    Wednesday, February 19, 2014

    Hujan Salju

    Dua minggu lalu dan minggu lalu, Tokyo (termasuk di dalamnya Chiba) diguyur hujan salju dengan lebat. Hari itu hari Sabtu, dan saya somehow mesti nge-lab.

    Kalo hujan salju lebat begitu, naek sepeda mesti sangat hati-hati... Nggak cuman naik sepeda, jalan kaki aja mesti hati2. Jalan dipenuhi salju dan licin. Kesannya seperti jalan di antara es serut. Bedanya, es serut sepanjang jalan dan setebel 20-30 cm. Saya sempat mengabadikan foto dashyatnya hujan salju (yang lengkap dengan hawa dingin dan angin kencang) di kampus hari Sabtu lalu.


    Kalo ini bisa saya generate jadi meme picture, saya akan kasih tulisan:

    "PIYE KABARE, LE? SEK ENAK URIP NENG NEGORO DEWE TO???"

    Thursday, February 13, 2014

    Oral presentation @ CARS 2014

    Notifikasi ketika abstrak diterima di International conference itu selalu menyenangkan. Rasanya seperti hasil penelitian yang udah dilakukan berbulan-bulan itu nggak sia-sia. Diakui oleh (setidaknya) panitia reviewer dan dianggap cukup layak untuk dipresentasikan di hadapan rekan-rekan sejawat. 

    Hari ini saya mendapatkan notifikasi dari Computer Assisted Radiology and Surgery (CARS, http://www.cars-int.org/cars_2014.html), konferensi internasional yang fokus pada penerapan komputer untuk meningkatkan akurasi medical treatment. Konferensi ini sudah berlangsung sejak 15 tahun yang lalu, dan (sayangnya) tahun ini diselenggarakan di Fukuoka, Jepang. Saya sebenarnya berharap CARS tahun ini diadakan di negara Eropa seperti tahun-tahun sebelumnya - jadi sembari conference, bisa jalan-jalan... Kalo diselenggarakan ke Jepang, ya... sudahlah. 


    Yang membuat saya terhibur dengan diselenggarakan di Fukuoka adalah bahwa rekan yang juga menempuh studi S3, Pak Romy, juga tinggal di Fukuoka. Jadi saya akan sempatkan untuk bisa bertemu dengan beliau.

    NB. Setelah saya lulus dari Chiba University ini, alamat email @chiba ini mungkin sudah nggak bisa dipake lagi dan email-email semacam ini mungkin sudah nggak bisa diakses. Jadi, saya mengabadikan email-email penting di blog ini, sebagai kenangan masa-masa menempuh studi untuk mendapatkan gelar doktor. Bisa jadi juga, anak(-anak) saya kelak akan membaca posting blog ini dan bisa merasakan spirit yang dirasakan ayahnya saat ini.


    Saturday, February 1, 2014

    Undangan menjadi reviewer

    Hari ini saya dapat email dari salah satu jurnal internasional yang sangat bergengsi, Journal of Biomechanics-nya Elsevier. Jurnal yang terkenal ketat dalam mereview paper yang masuk.

    Saya diundang untuk me-review salah satu manuscript yang diterima oleh mereka. Hasil review ini akan dipertimbangkan apakah manuscript tersebut akan dipublish atau tidak.

    Saya nggak tau bagaimana ceritanya bisa sampai diminta untuk me-review manuscript di jurnal bergengsi ini. Kemungkinan besar, mereka telah "mengamati" hasil penelitian yang telah saya publikasi. Mungkin juga rekam jajak penelitian saya (publikasi jurnal dan prosiding) telah masuk dalam database mereka. Saya yakin, undangan mereview manuscript ini hal yang sangat biasa bagi para peneliti atau guru besar. Tapi bagi saya, ini salah moment yang berharga dalam perjalanan saya sebagai mahasiswa doktor.


    Saya nggak terlalu pede untuk mereview manuscript tersebut. Saya memilih untuk mengklik link "If you are unable, please click..."

    Wednesday, January 29, 2014

    Dokter gigi di Jepang



    Kartu di atas adalah kartu klinik gigi saya.

    Total sudah 10 kali ke klinik gigi - dan kunjungan berikutnya dua bulan lagi (bulan Maret). Dari kunjungan di atas, coba tebak, ada berapa gigi saya yang bermasalah? Empat? Lima?

    Faktanya, ke-10 kunjungan di klinik gigi itu, hanya untuk merawat sebuah gigi geraham bawah. Iya, merawat SATU gigi geraham yang ada sedikit masalah dengan tambalannya.

    Ceritanya, gigi geraham no 31 saya pernah lubang dan ditambal di Indonesia, kurang lebih 5-6 tahun yang lalu. Bulan Oktober lalu, saya merasa ada yang nggak beres dengan tambalannya - agak sakit kalau digunakan untuk mengunyah makanan yang keras. Waktu saya sempat balik ke Indonesia, saya coba cek ke dokter gigi, dan dicek selama 2 menit, lalu dibilang tidak ada masalah dengan tambalannya.

    Sekembalinya ke Jepang, saya masih ngerasa ada yang nggak beres dengan tambalannya. Sakitnya seperti gigi yang berlubang kalau dibuat menguyah makanan yang keras. Saya kontrol ke klinik gigi Suzuki (http://0432558847.jp/) yang ditangani oleh dokter Suzuki - seorang dokter gigi muda lulusan Amerika.

    Kunjungan pertama, semua gigi saya diperiksa satu per satu, diukur kedalaman kantungnya (entah apa maksudnya - mungkin yang dokter gigi tahu itu untuk apa). Lalu difoto X-Ray kesuluruhan gigi. Dengan mengacu pada X-Ray, dokternya menjelaskan beberapa kemungkinan sebab rasa sakit yang akhir-akhir ini muncul dan solusinya.

    Solusinya dengan membongkar tambalan gigi yang lama, lalu diganti dengan yang baru.

    Sounds good. Let's do it.

    Saya diberi resep obat antibiotik dan pain killer, lalu disuruh pulang. What? That's it?
    Minggu depan diminta untuk mengatur jadwal pertemuan lagi.

    Minggu berikutnya, barulah tambalan gigi lama dibongkar. Diganti dengan tambalan yang saya pikir, tambalan permanen. Wrong. Tambalannya non-permanen - dan minggu berikutnya saya disuruh datang lagi. Minggu depannya, tambalan non-permanen dibongkar - dan ditambal dengan tambalan yang non-permanen (lagi). Dugaan saya, dokter ini ingin memastikan bahwa gigi geraham saya tidak bermasalah ketika nanti ditambal secara permanen.

    Minggu-minggu berikutnya, ada beberapa kali sesi foto X-Ray, cetak anatomi gigi, shaping/polishing bentuk gigi geraham atas dan bawah, menambal permanen, dan terakhir finishing gigi geraham itu dengan memberikan crown. Sepuluh kali untuk merawat SATU buah gigi geraham yang berlobang!

    Biayanya tentu standard biaya perawatan Jepang - yang untungnya 70% dicover oleh asuransi kesehatan. Total keseluruhan dari 10 kali perawatan itu sekitar 10rb yen (atau 1jt rupiah) - seandainya nggak pake asuransi kesehatan, maka biayanya sekitar 40rb yen (atau 4jt rupiah) .

    Kalau di Indonesia, ini disebut dokter-kurang-kerjaan-yang-pengennya-morotin-pasien.

    Kalau di Jepang, ini disebut presisi.


    Tuesday, January 28, 2014

    Conference di Sapporo, Hokkaido

    Minggu lalu, hari Kamis dan Jumat saya mengikuti conference di Sapporo, Hokkaido, 6th Annual Meeting Japanese Society of Pulmonary Functional Imaging (http://conv-s.com/jspfi6/index.html). Ada dua alasan mengapa saya mengikuti conference ini - atau mengapa sensei ingin saya datang di conference ini.

    Pertama, karena sensei ditunjuk sebagai salah satu pembicaranya - dan topik yang disampaikan adalah hasil penelitian yang saya kerjakan dalam 4-5 bulan terakhir. Jadi sensei perlu saya untuk datang menemani agar kalau ada pertanyaan teknis, saya bisa membantu menjelaskan.

    Alasan kedua, karena saya juga submit abstrak di conference itu (lagi-lagi sensei yang meminta) dan lolos untuk dipresentasikan dalam sesi poster session.

    Conference-nya sendiri sebenernya nggak terlalu nyambung dengan engineering. Peserta dan pembicaranya lebih banyak yang berprofesi dokter dan... saya ngerasa kesasar. Setelah presentasi poster, beberapa memberikan komentar - dan saya nggak bisa paham apa maksud komentarnya. Mereka menggunakan istilah medis yang menyebabkan saya gagal paham.

    Anyway, tentang tempatnya, kota Sapporo. Sapporo adalah kota yang terletak di Hokkaido, pulau di bagian utara Jepang. Karena letaknya di utara, maka sepanjang tahun Sapporo selalu bersalju. Saya datang di Sapporo ketika musim dingin sedang dingin-dinginnya. Suhu udara -3 sampai -9 derajat celcius. Hampir setiap saat turun salju sehingga gedung dan jalan-jalan tertutup salju.

    Siang hari di Sapporo, 23 Januari 2014
    Pemandangan yang tidak biasa buat saya - bahkan bagi sebagian besar orang Jepang yang tinggal di daerah Kanto (Tokyo) atau daerah selatan (Fukuoka, Okinawa)

    Conference diadakan di Hokkaido University yang juga tertutup salju tebal - saya sempatkan mengambil gambar selfie dengan background Hokkaido University.

    Hokkaido University, 24 Januari 2014
    Saljunya yang nampak di foto tersebut, sangat lembut... seperti es pasrah yang ada di es campur. Nggak mencair kalau dipegang karena mungkin karena suhu sekitarnya minus.

    Catatan perjalanan: (just in case saya ke Sapporo, saya bisa mengingat kembali rute perjalanannya)

    1. Walaupun semua biaya perjalanan dan akumodasi ditanggung oleh lab, saya memilih naik pesawat LCC, Jetstar. Biaya pesawat PP dari Narita - Sapporo adalah 15.580 yen (sekitar 1.6jt rupiah).
    2. Saya tinggal 2 hari 1 malam di Sapporo, dan memilih hotel Aspen (http://www.aspen-hotel.co.jp/english/). Tarif per malamnya 6700 yen (atau sekitar 700rb rupiah). Pelayanan hotelnya standard hotel Jepang (which is awesome!) - no tips, kamar yang super bersih, internet super cepat, resepsionis yang (kelewat) ramah, buffet breakfast. Mestinya saya bisa stay lebih lama untuk jalan-jalan menikmati suasana Sapporo, tapi nggak tau saya kok selalu ingin pulang cepet2 dan ingin segera tidur di kamar sendiri.
    3. Saya berangkat hari Kamis dengan pesawat paling pagi (jam 7) dan tiba di Bandara Sapporo jam 8.40. 
    4. Hari Jumat malam saya kembali dengan pesawat paling malam (jam 21) dan tiba di Narita jam 22 lebih. Perjalanan dari Narita ke Chiba memakan waktu 40 menit... Sempat was-was bakal kelewatan episode Indonesian Idol (yang mulai tayang jam 21.00 WIB atau 23.00 waktu Jepang). Ternyata benar, saya kelewatan beberapa sesi Indonesian Idol (yang waktu itu sedang audisi terakhir di Jakarta).
    5. ... setiba di kampus, waktu hendak kembali ke apartemen, sepeda saya hilang (tepatnya diangkut petugas karena parkir sembarangan). Sepeda saya ke-3 yang missing in action. Ya, sudahlah... saya masih punya stok 1 sepeda di apartemen. Saya jalan kaki dari kampus ke apartemen.


    Wednesday, January 15, 2014

    Ngelab di Jepang

    Katanya... orang Jepang itu workaholic.
    Katanya... orang Jepang itu pantang menyerah.
    Katanya... orang Jepang itu pekerja keras.

    Mau tau situasi sebenernya yang terjadi di lab?

    Hari ini kami mengawali dengan group meeting, jam 9 pagi tepat.
    Masing-masing anggota lab mempresentasikan progress researchnya dalam seminggu terakhir, apa-apa yang udah dikerjakan. Sensei akan memberikan komentar atau arahan untuk apa-apa yang perlu dikerjakan di minggu berikutnya.

    Hari ini, group meeting selesai lebih cepat, sekitar jam 10.30an.
    Masing-masing segera kembali ke meja komputer-nya. Ngobrol2 sebentar dan tidak lama kemudian lab jadi tenang. Hanya ada suara ketukan keyboard... Beberapa mulai keluar lab sekitar jam 12 siang - kembali dengan membawa bento atau makan siang.

    Sekarang udah jam 19.30. Teman-teman lab saya masih belum menampakkan tanda2 akan pulang... Setiap kali saya melirik layar komputer mereka, isinya adalah coding, bacaan journal, excel, atau situs science lain... (sementara di browser saya lebih sering nampak halaman Facebook, twitter, gmail, atau kompas ketimbang coding atau bacaan journal).

    Apa yang terjadi hari ini adalah representasi selama 3 tahun saya bergabung dengan lab ini. Kurang lebih seperti itu setiap hari. Padahal teman-teman lab saya bukan calon doktor. Beberapa dari mereka adalah mahasiswa S1 tahun ke-4. Beberapa mahasiswa master tahun pertama atau ke-2.

    Setiap hari belajar... membaca jurnal... buat program... eksperimen... belajar... membaca jurnal... dst. Pagi tiba di lab, dan ketika saya pulang jam sekitar jam 20.00, beberapa masih tetap ada di lab. Padahal, sekali lagi, mereka BUKAN calon doktor atau peneliti. Hanya mahasiswa biasa yang usianya baru 19 atau 20. Nggak heran, kalo para mahasiswa yang belum lulus S1 itu udah bisa masukkan hasil penelitiannya di international conference... sesuatu yang bahkan nggak bisa lakukan setelah saya lulus S2. Beda spirit.

    Saya harus mengakui bahwa semangat saya untuk belajar KALAH jauh dibandingkan dengan mereka. Sekarang saya lebih semangat bikin apps ketimbang research.