Thursday, October 31, 2013

[Exploit Internet] Publish apps di App Store

Setelah beberapa bulan bermain-main dengan publish Android app di Google Play, kemarin saya coba untuk publish aplikasi yang katanya lebih elit, yaitu iOS app di Apple store.

Publish aplikasinya ternyata ribet banget. Pain in the ass, kalo kata orang sana.

Untuk app store saya udah punya akun developer-nya. Bulan lalu daftar.
Lumayan mahal, $99 per tahun - dibandingkan dengan akun developer di Google Play yang "cuma" $25 per tahun.

Aplikasi untuk iOS dibuat menggunakan Xcode yang cuman bisa running di komputer Mac. Nggak bisa running di Windows dan nggak ada emulator yang bisa njalankan Xcode di Windows. Mau nggak mau, untuk jadi developer aplikasi iOS, memang mutlak harus punya komputer Mac.

Jadi ceritanya, kemarin aplikasinya udah tested di simulator. Running smooth.
Lalu saatnya publish di app store. Untuk publish di app store, ada beberapa keruwetan yang harus dibereskan. Ruwet karena memang saya belum paham benar prosedur untuk publish app di App Store.

Keruwetan pertama, saat membuat iOS provisioning profile. Ruwet karena saat ini saya nggak ada iOS device (adanya iPad di Indo dan dipakai istri saya). Saya nyaris putus asa dan sudah berniat untuk mencari iOS device yang murah untuk sekedar bisa bikin iOS provisioning profile. Kepikiran beli iPod touch generasi pertama... Tapi untung setelah beberapa jam googling, akhirnya iOS provisioning profile problem ini solved tanpa harus beli iOS device.

Setelah punya iOS provisioning profile, logikanya tinggal connect-kan profile tersebut dengan Xcode. Lalu dari Xcode, app yang sudah error-free itu, tinggal di-upload ke app store. Tapi nggak semudah itu. Saat aplikasi di-validasi (langkah terakhir untuk submit app), muncul error icon tidak ditemukan. Padahal jelas-jelas semua icon telah ada. Problem solved dengan menghapus semua icon yang "katanya" tidak ada, kemudian kopi ulang icon-nya.

Build dan validasi kembali.

Masih belum berhasil. Error sudah berubah dari icon tidak ditemukan, jadi aplikasi tidak dapat disubmit karena melakukan request UDID. Saya googling lagi. Berjam-jam. Dan akhirnya menemukan solusi bahwa semua library yang melakukan request UDID harus diupdate, karena request UDID sudah tidak diizinkan di iOS 7.0. Memperbaikinya nggak semudah itu. Berkali-kali diperbaiki, tapi masih juga gagal validasi.

Akhirnya ketauan, ada satu library, yaitu cocoslive, yang nggak kentara kalo dia melakukan request UDID - dan itu harus dihapus! Nggak ada update-nya.

Total waktu ngulik untuk submit app ini, dari jam 8 pagi sampai hampir jam 6 sore - hanya untuk submit 1 app!! Mungkin karena memang masih belum pengalaman, jadi banyak trial and error.

Setelah semua diperbaiki, akhirnya submitted juga. My first app on Apple store. Yeaaah...


(Sengaja saya samarkan nama aplikasinya...)

Alhasil, hari ini saya cmn 1 ato 2 jam ngurusi resesarch. Sisanya ngulik aplikasi.

------------
Catatan:
Kenapa saya kepikiran untuk publish app di App store? Google play nggak cukup baik emang?
Ada filosofinya. Para developer Google play saat ini sedang masuk dalam musim gold rush. Mudah banget dapetkan earning dari publish aplikasi di Google play. Saat ini, beberapa aplikasi yang saya submit di Google play masih terus stabil menghasilkan earning walaupun sudah nggak saya utak-atik lagi. Konsisten sejak 3 bulan terakhir.



Saya prediksikan sampai 2 tahun ke depan, musim gold rush di Google Play akan masih berlangsung.

Karena session gold rush ini, para "penambang emas" terus berdatangan dan menjadi developer dadakan (sejujurnya, saya juga termasuk developer dadakan). Sama seperti sebidang tanah yang ditambang oleh banyak banyak orang. Semakin banyak orang yang menambang, tentu semakin "kacau".

Saya melihat untuk App store, masih belum se"kacau" lahan di Google play. Dan untuk pasar Indonesia, ibaratnya seperti tanah satu hektar penuh dengan emas, sementara penambangnya bisa dihitung dengan jari. Untuk menambang lahan App store, butuh modal dan skill memang...

Tuesday, October 22, 2013

Kunjungan singkat di Indonesia

Dua minggu lalu, saya berkunjung ke Indonesia.
Singkat.
Hari Kamis (10 Okt) tiba siang hari di Juanda, dan hari Minggu pagi (13 Okt) dijemput travel dari rumah menuju Juanda.

Kunjungan ini mendadak. Direncanakan 2 minggu sebelum hari keberangkatan. Nggak ada bagasi, nggak ada barang bawaan, dan bawa oleh2 juga secukupnya. Saya bahkan nggak bawa baju ganti. Mohon maaf untuk rekan-rekan yang nggak sempat saya kunjungi ato nggak kebagian oleh2.

Ketika tiba di Juanda, saya merasakan benar beda bandara internasional Haneda dan bandara internasional Juanda - atau tepatnya merasakan perbedaan karakter orang-orangnya. Untuk keluar dari gate di Juanda, saya (istri dan anak) harus bersabar dengan orang-orang yang dengan perasaan tanpa dosa menerombol antrian yang panjang.

Saya merasakan harga barang jauh lebih mahal ketimbang saat 3 tahun lalu saya meninggalkan Indonesia. Mungkin yang tinggal di Indonesia nggak terlalu merasakan kenaikan yang signifikan (karena naiknya dikit-dikit). Harga bakso "S" 3 tahun lalu , 5rb seporsi... Sekarang sudah 10rb. Harga sepiring soto yang dulu 3500, sekarang sudah jadi 7rb. Harga-harga yang lainnya juga sama. Naik signifikan dibandingkan 3 tahun lalu. Ini yang disebut tingkat inflasi yang tinggi. Beda dengan di Jepang. Sejak 3 tahun lalu, harga sekaleng softdrink di vending machine, masih tetap sama, 100 yen. Kabarnya harga 100 yen itu belum berubah sejak 20 tahun yang lalu!! Demikian juga dengan angkutan umum. Ongkos kereta jarak terpendek (pindah 1 stasiun) masih tetap sama 130 yen sejak 3 tahun lalu. Harga makanan juga relatif sama sejak saya tiba 3 tahun yang lalu. Harga sepiring ramen di kisaran 700 yen, harga sepiring udon di kisaran 300 yen, harga burger termurah di McD juga masih 100 yen. Ini yang disebut tingkat inflasi yang (sangat) rendah.

Nggak heran kalau mata uang rupiah bukan mata uang yang seksi. Nilainya mudah sekali termakan inflasi. Uang Rp. 5rb yang dipegang 3 tahun lalu, kalau tetap disimpan, maka nilainya sudah hilang separuh saat ini. Kalau 3 tahun lalu Rp. 5rb bisa dapat 1 porsi bakso, sekarang Rp. 5rb hanya dapet setengah porsi (atau bisa juga seporsi dengan catatan, volume baksonya udah berkurang 50%).

Jadi dari kunjungan singkat kemarin saya belajar. Kalau ada mata uang rupiah berlebih, sebaiknya segera dimasukkan ke instrumen yang tidak akan termakan inflasi, seperti properti, emas - atau dalam skala kecil, ditukar ke mata uang yang nilainya stabil atau masuk di unit link asuransi (ini juga sebenarnya beresiko). Bagaimana dengan deposito? Saya belum hitung2an dengan detail, tapi kemungkinan besar bunga yang diperoleh lewat deposito tidak sebanding dengan tingkat inflasi. Setidaknya deposito lebih baik ketimbang uang disimpan di bank dalam bentuk tabungan.

Ngeri juga untuk (calon) pegawai seperti saya.
Dapet kenaikan gaji itu sebenarnya hanya kamuflase untuk mengimbangi inflasi.
Gajinya nggak bener2 naik...
Kecuali... kalau gaji dinaikkan 30% setiap tahun, itu baru benar-benar naik!