Monday, August 19, 2013

Tentang MLM Talk Fusion

Iya, kali ini nggak pake sensor atau wildcard untuk menutupi nama MLM-nya.

Beberapa bulan lalu, saya ditawari MLM yang bernama Talk Fusion oleh rekan mahasiswa. Beberapa bulan berikutnya, rekan di Indonesia juga menawari produk ini - dengan message saya di FB. Saya waktu itu hanya membalas bahwa saya tidak punya cukup waktu untuk menjalankan MLM. Rekan tersebut lalu secara gencar mengirim email (spam) ke inbox saya yang menjelaskan tentang sistem dan produk MLM Talk Fusion - yang akhirnya email beliau saya filter sebagai spam.

Ada kemungkinan, posisi saya yang di Jepang dipandang sebagai hal yang menguntungkan untuk membuka lahan baru memasarkan MLM. Pasar Jepang pasti besaaarrr... (begitu mungkin yang dipikirkan oleh pemrospek MLM terhadap saya). Hampir tiga tahun di Jepang, TIDAK sekalipun saya mendengar tentang bisnis MLM - dan juga tidak pernah ada yang menawari (kecuali rekan dari Indonesia). Dugaan saya, bisnis MLM hanya bisa berkembang dengan pesat di negara yang penduduknya dengan mudah termakan dengan iming-iming "cepat-kaya" atau "cari-uang-dengan-cepat". Di Jepang, di mana kerja keras sangat dihargai, semua bisnis yang berbau "cari-uang-dengan-mudah" menjadi sangat tidak diminati.

Talk Fusion sepertinya booming sekali di Indonesia sejak dua atau tiga tahun lalu. Joining fee-nya cukup besar, yaitu $250 (untuk executive package) atau $700 (untuk elite package) atau $1,499 (untuk pro pak). Ditambah dengan monthly fee sebesar $35 (http://www.talkfusion.com/for/pricing/).

Join fee yang cukup besar mengindikasikan bahwa peluang income yang (bisa) diperoleh juga cukup besar. Sesuai dengan sifat alami sistem MLM, agar bisa mendapatkan profit, maka seorang member harus berusaha mencari member lain yang bersedia membayar join fee + monthly fee. Sebenarnya tidak terlalu "mengerikan" ketika suatu MLM menggunakan one-time-payment. Jika sistem tidak berjalan (baca: tidak mendapatkan member) maka besar kerugian member tersebut hanya sebesar joining fee-nya. Tapi ketika diberlakukan monthly fee (member diwajibkan membayar biaya tiap bulan), dia harus bekerja ekstra keras untuk mendapatkan member demi menutup monthly fee. Otherwise, kerugian akan semakin besar tiap bulan.

Bagaimana dengan produknya? Produk Talk Fusion adalah produk video conference (atau produk semacam itu) yang (menurut saya) bisa dengan mudah digantikan dengan software sejenis yang free (misal Skype untuk video conference atau Youtube untuk video hosting). Buat saya, nilai produk Talk Fusion tidak sebanding dengan harga joining fee dan monthly fee.

Dan yang perlu ditanyakan saat bergabung dengan MLM adalah:
Jika sudah tidak ada lagi yang mau join, lalu bagaimana nasib yang paling bawah (yang tidak bisa mendapatkan member)? Apakah member tersebut seuntung member yang di atasnya? Apakah produk MLM yang dibelinya bisa dimanfaatkan? Atau malah terus harus bayar demi memberi keuntungan member di atasnya? Jika memang harus terus bayar demi memberi keuntungan member di atas-nya, ya kasian member yang di bawah dong. Kalo member di atas masih punya hati nurani, ya mestinya nggak membiarkan yang di bawah terus menerus bayar demi keuntungan member di atasnya.

Saya pribadi tidak menganggap buruk semua MLM. Saya juga tidak keberatan menjadi anggota MLM selama memang saya bisa memanfaatkan produk MLM tersebut dan sepadan dengan biaya yang saya keluarkan.

Menjadi anggota MLM demi mengejar keuntungan dan tidak memedulikan member yang diprospeknya (loe rugi urusan loe, yang penting gue untung) ini yang saya kurang suka.



Monday, August 12, 2013

Tahun ke-3 kuliah di Jepang

Tahun ke-3 di Jepang.

Belum sekalipun saya kembali ke Indonesia - dan tidak berencana kembali dalam waktu dekat. Rasanya kurang nyaman berlibur ke Indonesia dalam kondisi "belum-pasti-kapan-lulus". Jadi saya nggak nyalahkan Bang Thoyib yang kondisinya sama seperti saya, 3 puasa dan 3 lebaran belum pulang. Bisa jadi Bang Thoyib belum mau pulang juga karena beliau tidak pasti kapan lulus...

Tiap periode punya tantangan tersendiri.

Di akhir tahun ke-3 ini tantangan yang sudah diperkirakan sejak sebelum keberangkatan akhirnya terjadi. Beasiswa dari DIKTI berakhir sementara studi belum selesai. Ada beberapa alternatif yang bisa dijadikan solusi. Pertama memohon perpanjangan beasiswa dari DIKTI. Kedua mencoba apply beasiswa di universitas/yayasan swasta Jepang. Ketiga mengajukan beasiswa dari institusi asal. Keempat membiayai studi dengan uang pribadi. Alternatif kelima adalah lain-lain (yang belum terpikirkan saat ini).

Alternatif pertama gagal. DIKTI tidak menyetujui permohonan perpanjangan beasiswa. Alasannya masuk akal. DIKTI hanya membiayai program doktor dan tidak membiayai research student, sementara saya masuk sebagai research student selama 1.5 tahun sebelum masuk di program doktor.

Saya mencoba alternatif kedua semester lalu, yaitu mengajukan beasiswa di universitas/yayasan swasta di Jepang. Namun ditolak karena secara status saya masih menerima beasiswa dari DIKTI yang dapat berakibat "double-funding". Jadi baru bisa mengajukan beasiswa lagi di semester di mana beasiswa DIKTI sudah benar-benar selesai.

Alternatif ketiga adalah alternatif yang tidak terlalu saya pertimbangkan. Institusi saya bukan institusi yang kaya raya dengan uang tidak terbatas untuk membiayai dosen studi lanjut. Jika ditawari bantuan, selama syarat dan ketentuannya tidak memberatkan tentu saya tidak menolak. Namun jika tidak ada bantuan-pun saya bisa maklum (dan secara pribadi, saya tidak ada niatan untuk meminta bantuan finansial dari institusi saya).

Alternatif keempat adalah alternatif yang paling masuk akal dan ini yang saat ini menjadi pilihan saya, yaitu menggunakan uang pribadi. I'm neither Bill Gates nor Warren Buffet. Jadi saya harus atur strategi baik-baik dalam mengelola uang untuk membiayai studi (yang mungkin masih 1-1.5 tahun lagi). Di Jepang pula!