Monday, January 28, 2013

Conference di Okinawa

Tanggal 24 dan 25 Januari lalu, saya ikut conference (lagi) untuk presentasi poster. Kali ini bertempat di Okinawa. Awalnya saya sedikit ogah2an ikut conference kali ini. Lah, minggu lalu baru dari Tokushima, sekarang berangkat lagi ke Okinawa. Mana harus meninggalkan keluarga 2 malam lagi... (tanggal 23 pagi berangkat dan 25 malam tiba di Tokyo). Tapi karena di Jepang menganut sensei's wish is our command, ya sudah. Saya dan seorang rekan lab berangkat menuju Okinawa.

Saya baru 'ngeh' kalo Okinawa adalah tempat wisata favorit di Jepang. Seperti Bali di Indonesia, seperti Hawaii di Amerika. Ketika minggu-minggu ini di Tokyo suhunya 0 derajat, di Okinawa suhu berkisar 18-20 derajat... Gak kenal musim dingin, apalagi salju. Make sense, karena letaknya di ujung selatan Jepang, 1500 Km dari Tokyo.

Lokasi conference-nya di jalan yang namanya "kokusai dori". Kokusai dori ini mirip dengan jalan Kute di Denpasar, Bali. Di kiri-kanan banyak toko2 asesoris dan selalu dipenuhi turis domestik. Tentu ditambah dengan ciri khas utama Jepang, jalan yang (sangat) bersih dan lalu lintas yang (sangat) teratur. Kalo jalan2 di situ, atmosfernya bener2 atmosfer liburan...


Kokusai dori yang bersih, teratur dan TIDAK ada bunyi klakson
Sayangnya, di tempat conference, TIDAK ADA free wifi (what??). Mungkin biar pesertanya bisa konsentrasi penuh dengan conference-nya. Saya sih emang jadi bisa konsentrasi penuh... untuk nyelesaikan buku terbaru (yang gak perlu koneksi internet).

Seneng bisa ketemu salah satu peserta conference dari Indonesia, seorang mahasiswa doktor dari Tokyo Institute of Technology. Seumur-umur ikut conference di Jepang, baru kali ini bisa ketemu dengan orang Indonesia.

Catatan seputar perjalanan ke Okinawa:

  1. Kami terbang ke Okinawa dengan LCC (low cost carrier) Skymark. Harga tiket PP untuk Tokyo-Okinawa-Tokyo cukup murah (untuk ukuran Jepang), hanya 27.000.
  2. Waktu tempuh dari Tokyo ke Okinawa adalah 3 jam. Sementara dari Okinawa ke Tokyo hanya 2 jam. Kata teman saya, ini disebabkan "wind-factor". Entah apa maksudnya.
  3. Untuk ke Kokusai dori yang terkenal itu, dari Naha Airport station bisa naik monorail ke Miebashi station dengan tiket seharga 290 yen. 
  4. Kami menginap di hotel Rasso yang tarif per malam-nya juga cukup murah, yaitu 5rb per malam (sekali lagi menurut ukuran Jepang).
Salah satu tikungan di Kokusai dori

Salah satu tempat makan tradisional yang terkenal di Kokusai dori

Presentasi... (iya, sama kayak di Indonesia, peserta conference lebih milih duduk di belakang ketimbang di depan)

Friday, January 18, 2013

Conference di Tokushima

Hari Sabtu dan Minggu lalu (12-13 Jan), saya ke Tokushima untuk menghadiri The 5th Japanese Society Pulmonary Functional Imaging (JSPFI). Abstrak saya dengan topik rekonstruksi otomatis 4D-MRI untuk gerakan pernafasan diterima dan akan dipresentasikan dalam sesi poster. JSPFI ini sebenarnya nggak terlalu nyambung dengan bidang saya (pengolahan citra medis). Kebanyakan sesi oral dan poster-nya ke arah medis murni - bukan engineering... Peserta conference-nya 99.9999% adalah dokter spesialis bidang pulmonary. Jadi semacam kesasar.

Menghadiri local conference semacam ini, saya lebih banyak sibuk sendiri (di depan laptop) ketimbang dengerin oral session ato special lecture-nya. Level bahasa Jepang saya masih jauh untuk bisa paham research kedokteran yang dipresentasikan (yang saya duga, seandainya diadakan dalam Bahasa Indonesia-pun, saya nggak nyambung).

Conference-nya diadakan di Tokushima, 600Km dari Tokyo. Perjalanan dengan pesawat dari Tokyo butuh waktu 1 jam 10 menit. Kesan pertama saya mendarat di Tokushima, adalah kota yang tenang, nyaman, teratur, indah dan (seperti kota-kota di Jepang lainnya,) bersih. Ternyata nggak salah.

Tokushima berbeda dengan Tokyo yang sangat metropolis yang penuh dengan gedung2 tinggi, lalu lintas padat, ritme kerja orang2nya cepat (terkesan selalu sibuk tapi (herannya) selalu keluar dengan dandanan yg modis). Orang udik yg tumbuh dan besar di kota Malang yg damai kayak saya, selalu ngerasa nggak nyaman dengan keadaan kota metropolis yg besar, sibuk dan waktu yg rasanya berjalan lebih cepat. Bikin gampang stres.

Tokushima lebih didominasi dengan pemandangan alam. Udara segar dan bersih. Di pusat kota, nggak terlalu banyak gedung2 tinggi. Transportasi sangat nyaman dengan lalu lintas yang nggak terlalu padat. Begitu keluar dari bandara Tokushima, langsung ketemu dengan vending machine untuk membeli tiket bus menuju pusat kota. Petunjuk di vending machine disediakan dalam bahasa Jepang dan Inggris - yang ternyata hampir di setiap tempat umum, instruksi juga tertulis dalam 2 bahasa.

Saya mengambil beberapa brosur tempat wisata di Tokushima. Ternyata benar, spot-spot yang ditawarkan untuk menjelajahi Tokushima adalah pemandangan alam, musium budaya, taman, sungai, kereta gantung, rafting, diving, dan pertunjukan tari tradisional Tokushima, Awaodori (yg sangat khas dan terkenal di seluruh Jepang).

Saya cukup beruntung bisa menyaksikan Awaodori di Sabtu malam, saat jamuan makan malam di hotel tempat saya menginap. Ternyata tarian yg berusia 800 tahun itu memang keren. Musik dan geraknya sangat khas... Hotel Clement (tempat saya menginap), juga memberikan service yang memuaskan. Bersih, lengkap, ramah, teratur - dan makan paginya berlimpah dengan berbagai macam variasi.

Would really love to come back again to Tokushima!

----
Catatan seputar perjalanan ke Tokushima:
(1) Pemesanan paket tiket pesawat dan hotel, bisa dilakukan di website Rakuten.
(2) Saya booking paket tiket PP menggunakan JAL (Japanese Airlines) dan bermalam 1 malam di Hotel Clement. Totalnya (tiket pesawat dan hotel) sebesar 36.900 yen (yang tentu nggak terlalu saya pikirkan krn Lab yg bayar).
(3) Salah satu makanan khas di Tokushima adalah Tokushima ramen. Pastikan mencoba Tokushima ramen jika berkunjung ke Tokushima.
(4) Di hari terakhir conference, saya mendapat surprise...

Suasana kota Tokushima yang teratur. Jalur hijau untuk pejalan kaki dan jalur merah untuk sepeda.

Taman kota yang asri dan nyaman.

Masih di seputar taman kota

Tokushima ramen, yang terkenal. Sambel di sampingnya nggak gratis, harus nambah 50 yen untuk sesendok sambel. Namanya juga di Jepang.
Poster yang dipresentasikan

Surprise! Saya dapet penghargaan, yang saya juga kurang jelas penghargaan apa...

Berfoto bareng sensei.