Friday, November 16, 2012

Logika negara pemberi beasiswa


Setiap tahun, Pemerintah Jepang memberikan beasiswa kepada pelajar Indonesia yang disebut beasiswa Monbukagakushou (atau biasa disingkat monbushou). Inti dari beasiswa ini adalah memberikan kesempatan kepada pelajar-pelajar terbaik di seluruh Indonesia untuk kuliah di Jepang dengan dana sepenuhnya dari pemerintah Jepang.

Sebagian besar alokasi beasiswa adalah untuk pelajar lulusan SMA yang akan lanjut studi diploma atau S1 di Jepang (sekitar 30 pelajar). Berapa beasiswa (atau uang) yang didapatkan? Biaya hidup diberikan kurang lebih 15jt tiap bulan yang diberikan sampai penerima beasiswa lulus (kurang lebih selama 4 tahun atau 60 bulan) atau total Rp. 900jt. Ditambah biaya masuk dan SPP selama studi, yg kurang lebih total 240jt. Jd untuk seorang penerima beasiswa, pemerintah Jepang harus menyediakan dana lebih dari 1M! Itu berlaku untuk 1 individu. Jika ada 30 pelajar yg mendapatkan beasiswa, maka Rp. 30M (atau 3jt dolar US) harus disiapkan oleh pemerintah Jepang!

Bagaimana logika pemerintah Jepang ketika harus memberikan uang sebesar 3jt dolar kepada pelajar2 Indonesia? Tidakkah lebih baik uang sebesar 3jt dolar dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat Jepang? Untuk membangun infrastruktur pembangkit listrik misalnya? Apa semata2 hanya untuk memperat hubungan bilateral antara Jepang-Indonesia?

Ini hipotesis saya.
Alasan terakhir, untuk meningkatkan hubungan bilateral antar kedua negara, sangat make sense. Tapi itu bukan satu-satunya alasan pemberian beasiswa. Ada motivasi politis dan ekonomis di balik itu semua.

Fakta pertama, beasiswa monbukagakushou diberikan kepada pelajar-pelajar dengan prestasi akademik yang EXTRAORDINARY. Tahap seleksinya cukup jelas, yaitu menguji kemampuan analitis, verbal dan aritmatik. Hanya pelajar yang SANGAT cerdas dan ber-IQ tinggi yang berhak mendapatkan beasiswa ini. Cerdas saja nggak cukup, harus SANGAT SANGAT CERDAS di verbal, analitis dan aritmatik.

Isn't that great? Jepang "mengambil" pelajar-pelajar terbaik Indonesia untuk kuliah di negerinya. Idealnya sih, setelah lulus, para pelajar JENIUS itu kembali ke Indonesia sebagai sumber daya manusia unggul yang akan ikut membangun dan mengembangkan Indonesia.

idealnya...

Tapi kenyataannya nggak seperti itu.

Setelah beberapa tahun kuliah di Jepang - kemudian lulus dari universitas terbaik di Jepang - , para pelajar itu punya beberapa pilihan. Pertama, kembali ke Indonesia. Kedua, lanjut kuliah di Jepang dan ketiga, bekerja di perusahaan Jepang. Menjadi pengangguran tentu bukan opsi mengingat mereka adalah pelajar2 SUPER JENIUS yang nggak akan bisa diam, bengong dan gak tau mesti ngapain.

Opsi pertama, kembali ke Indonesia sepertinya akan menjadi opsi terakhir bagi mereka. Kenapa? Karena ketika mereka meninggalkan Indonesia, 4 tahun yang lalu, mereka baru lulus SMA. Nggak tau (atau nggak mikir) dunia kerja. Why should they? Dan setelah 4 tahun berlalu, seberapa banyak mereka tahu tentang kondisi (kerja) di Indonesia? Seberapa besar network yang mereka punyai untuk bisa merintis karir atau bisnis di Indonesia? Tentu tahun-tahun selama mereka kuliah di Jepang telah menghapus berbagai kesempatan membangun network atau relasi di Indonesia. Teman2 Indonesia yang dipunyai, mungkin hanya teman lama SMA yang sudah jarang kontak - atau malah kehilangan kontak.
Juga, kalaupun mereka kembali ke Indonesia, seberapa mau mereka digaji dgn standard freshgraduate Indonesia yg nilainya mungkin hanya 1/5 dari beasiswa yang biasa mereka terima?

Nggak ada relasi, buta kondisi dunia kerja, rendahnya gaji, juga "nyamannya" keadaan negara maju yg selama ini sudah mereka rasakan, menjadikan opsi "pulang kampung" adalah opsi terakhir. Hanya mereka yg nekat (atau sudah punya planning jelas atau punya nasionalisme yang SANGAT TINGGI) yg akan kembali ke Indonesia.

Sisanya? Tetap di Jepang. Melanjutkan studi atau bekerja sebagai pegawai di perusahaan Jepang.

Jangan lupakan fakta bahwa mereka adalah pelajar pilihan YANG SANGAT SANGAT CERDAS. Sumber daya manusia yang berkualitas. Pada akhirnya, beasiswa 1M yang sudah diberikan ke setiap individu, akan kembali lagi ke Jepang. Nilai ekenomis dari produktivitas pelajar2 pilihan ini - ketika mereka bekerja di perusahaan Jepang - pasti jauh di atas 1M. Kalau mereka lanjut studi, maka penelitian2 yg mereka lakukan adalah penelitian yg SANGAT berkualitas. Yg pada akhirnya membawa nama universitas (Jepang) di kancah internasional yang berpotensi mendapatkan berbagai dana hibah jutaan dolar.

Jadi, sama sekali nggak rugi memberikan beasiswa kepada pelajar-pelajar itu. Nilai ekonomis yang kembali ke negara pemberi beasiswa, akan jauh lebih besar dari nilai beasiswa yang diberikan.




No comments:

Post a Comment