Friday, November 16, 2012

Sekilas Korea


Kemarin saya (dan dua rekan lab) tiba di Seoul, Korea - untuk pertama kalinya. Tujuan kami untuk mengikuti conference IFMIA di mana kami akan mempresentasikan hasil penelitian kami.

Pengalaman buta-aksara kembali terulang, seperti saat pertama kali saya tiba di Jepang. Saya baru sadar, bahwa pengetahuan akan karakter Hangeul saya NOL BESAR. Tidak ada satu karakter-pun yang berhasil saya decode. Saya kira, negara2 Asia Timur seperti Jepang, Korea, Mongol, atau China, bisa bangga karena mereka punya karakter khusus dalam bahasanya. Mereka yg bisa membaca dalam alfabet mendadak buta huruf ketika berhadapan dengan karakter-karakter tersebut. Saya berandai-andai, kalau saja aksara jawa atau huruf palawa menjadi karakter sebagai identitas bahasa Indonesia... Ah, never mind.

Karena saya berangkat dengan dua rekan lab - yang adalah Japanese -, maka saya ngikut aja rencana mereka. Jarak dari Incheon Airport ke hotel, cukup jauh. 140Km yang bisa ditempuh dengan bus atau kereta. Mereka sepakat untuk menempuh perjalanan dengan cara yg nggak seru (menurut saya), yaitu naik limosine bus yang tinggal-duduk-tidur-lalu-tau-tau-sampai-hotel. Kalo saja saya sendirian, saya pasti sudah memilih untuk naik kereta yang paling nggak 3 kali ganti kereta. Dengan cara seperti itu, saya merasa bisa benar-benar menikmati perjalanan, ketimbang tinggal-duduk-tau-tau-sampai.

Yang saya agak surprise adalah ketika melihat banyaknya bangunan gereja di sepanjang perjalanan ke hotel. Hampir 3-4 Km nampak bangunan gereja. Kurang lebih sama seperti bangunan masjid yang banyak ditemui di Indonesia. Sepertinya, seperti yang sering saya dengar, pertumbuhan kekristenan di Korea beberapa puluh tahun terakhir, memang meningkat dengan signifikan.

Malam hari, ketika kami berjalan2 di sekitar kompleks hotel untuk makan malam, kami sekali lagi kesulitan mengartikan apa yang tertera di menu makanan. Tidak ada foto makanan, hanya tulisan dalam Hangeul beserta harga. Bahkan untuk berkomunikasi dengan pelayan, tidak satu kata dalam bahasa Korea-pun yang berhasil kami ucapkan dan dipahami oleh pelayan. Mencoba berbicara dalam Bahasa Jepang dan Inggris, semuanya sia-sia. Lalu? Ya, sudah... Kami secara acak menunjuk menu makanan dalam menu bertuliskan Hangeul itu. We have NO IDEA what kind of food we're going to eat. Just order by faith.

Hasilnya? Kami, atau setidaknya saya, tidak bisa menikmati makanan yang kami pesan. Dalam 1 jam, saya sudah lupa rasa makanannya yang entah-namanya-apa. Sesampai di hotel, saya membuka bekal makanan dan snack yang sudah disiapkan istri sebelum saya berangkat ke Korea. Jauh lebiiih enaaak ketimbang makanan Korea yang tadi saya makan.

----
Beberapa catatan penting saat di Jepang:

Akses kereta dari Chiba (atau Tokyo) ke bandara Narita ternyata SANGAT terbatas. Kereta hanya jalan satu jam sekali. Artinya, kalo kelewatan satu kereta, maka kita baru bisa sampai ke Narita satu jam berikutnya! Pastikan berangkat lebih 3-4 jam sebelum waktu departure. Lain dengan jalur kereta ke bandara Haneda yang ada hampir tiap 5 menit sekali.

Saya naik Asiana Airlines yang checkin di terminal 1, pintu gerbang selatan, counter G. Tidak ada fasilitas self-checkin. Artinya, harus ANTRI yang cukup panjang sebelum mendapatkan boarding pass. Lebih baik tiba awal untuk checkin, daripada harus terburu2 kuatir ketinggalan pesawat.

"unknown dinner"
kampus KAIST yang artistik



plakat ajakan untuk doa bersama/fellowship  yang banyak ditemukan di papan pengumuman universitas


Logika negara pemberi beasiswa


Setiap tahun, Pemerintah Jepang memberikan beasiswa kepada pelajar Indonesia yang disebut beasiswa Monbukagakushou (atau biasa disingkat monbushou). Inti dari beasiswa ini adalah memberikan kesempatan kepada pelajar-pelajar terbaik di seluruh Indonesia untuk kuliah di Jepang dengan dana sepenuhnya dari pemerintah Jepang.

Sebagian besar alokasi beasiswa adalah untuk pelajar lulusan SMA yang akan lanjut studi diploma atau S1 di Jepang (sekitar 30 pelajar). Berapa beasiswa (atau uang) yang didapatkan? Biaya hidup diberikan kurang lebih 15jt tiap bulan yang diberikan sampai penerima beasiswa lulus (kurang lebih selama 4 tahun atau 60 bulan) atau total Rp. 900jt. Ditambah biaya masuk dan SPP selama studi, yg kurang lebih total 240jt. Jd untuk seorang penerima beasiswa, pemerintah Jepang harus menyediakan dana lebih dari 1M! Itu berlaku untuk 1 individu. Jika ada 30 pelajar yg mendapatkan beasiswa, maka Rp. 30M (atau 3jt dolar US) harus disiapkan oleh pemerintah Jepang!

Bagaimana logika pemerintah Jepang ketika harus memberikan uang sebesar 3jt dolar kepada pelajar2 Indonesia? Tidakkah lebih baik uang sebesar 3jt dolar dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat Jepang? Untuk membangun infrastruktur pembangkit listrik misalnya? Apa semata2 hanya untuk memperat hubungan bilateral antara Jepang-Indonesia?

Ini hipotesis saya.
Alasan terakhir, untuk meningkatkan hubungan bilateral antar kedua negara, sangat make sense. Tapi itu bukan satu-satunya alasan pemberian beasiswa. Ada motivasi politis dan ekonomis di balik itu semua.

Fakta pertama, beasiswa monbukagakushou diberikan kepada pelajar-pelajar dengan prestasi akademik yang EXTRAORDINARY. Tahap seleksinya cukup jelas, yaitu menguji kemampuan analitis, verbal dan aritmatik. Hanya pelajar yang SANGAT cerdas dan ber-IQ tinggi yang berhak mendapatkan beasiswa ini. Cerdas saja nggak cukup, harus SANGAT SANGAT CERDAS di verbal, analitis dan aritmatik.

Isn't that great? Jepang "mengambil" pelajar-pelajar terbaik Indonesia untuk kuliah di negerinya. Idealnya sih, setelah lulus, para pelajar JENIUS itu kembali ke Indonesia sebagai sumber daya manusia unggul yang akan ikut membangun dan mengembangkan Indonesia.

idealnya...

Tapi kenyataannya nggak seperti itu.

Setelah beberapa tahun kuliah di Jepang - kemudian lulus dari universitas terbaik di Jepang - , para pelajar itu punya beberapa pilihan. Pertama, kembali ke Indonesia. Kedua, lanjut kuliah di Jepang dan ketiga, bekerja di perusahaan Jepang. Menjadi pengangguran tentu bukan opsi mengingat mereka adalah pelajar2 SUPER JENIUS yang nggak akan bisa diam, bengong dan gak tau mesti ngapain.

Opsi pertama, kembali ke Indonesia sepertinya akan menjadi opsi terakhir bagi mereka. Kenapa? Karena ketika mereka meninggalkan Indonesia, 4 tahun yang lalu, mereka baru lulus SMA. Nggak tau (atau nggak mikir) dunia kerja. Why should they? Dan setelah 4 tahun berlalu, seberapa banyak mereka tahu tentang kondisi (kerja) di Indonesia? Seberapa besar network yang mereka punyai untuk bisa merintis karir atau bisnis di Indonesia? Tentu tahun-tahun selama mereka kuliah di Jepang telah menghapus berbagai kesempatan membangun network atau relasi di Indonesia. Teman2 Indonesia yang dipunyai, mungkin hanya teman lama SMA yang sudah jarang kontak - atau malah kehilangan kontak.
Juga, kalaupun mereka kembali ke Indonesia, seberapa mau mereka digaji dgn standard freshgraduate Indonesia yg nilainya mungkin hanya 1/5 dari beasiswa yang biasa mereka terima?

Nggak ada relasi, buta kondisi dunia kerja, rendahnya gaji, juga "nyamannya" keadaan negara maju yg selama ini sudah mereka rasakan, menjadikan opsi "pulang kampung" adalah opsi terakhir. Hanya mereka yg nekat (atau sudah punya planning jelas atau punya nasionalisme yang SANGAT TINGGI) yg akan kembali ke Indonesia.

Sisanya? Tetap di Jepang. Melanjutkan studi atau bekerja sebagai pegawai di perusahaan Jepang.

Jangan lupakan fakta bahwa mereka adalah pelajar pilihan YANG SANGAT SANGAT CERDAS. Sumber daya manusia yang berkualitas. Pada akhirnya, beasiswa 1M yang sudah diberikan ke setiap individu, akan kembali lagi ke Jepang. Nilai ekenomis dari produktivitas pelajar2 pilihan ini - ketika mereka bekerja di perusahaan Jepang - pasti jauh di atas 1M. Kalau mereka lanjut studi, maka penelitian2 yg mereka lakukan adalah penelitian yg SANGAT berkualitas. Yg pada akhirnya membawa nama universitas (Jepang) di kancah internasional yang berpotensi mendapatkan berbagai dana hibah jutaan dolar.

Jadi, sama sekali nggak rugi memberikan beasiswa kepada pelajar-pelajar itu. Nilai ekonomis yang kembali ke negara pemberi beasiswa, akan jauh lebih besar dari nilai beasiswa yang diberikan.




Tuesday, November 13, 2012

Kindle di Jepang

Menurut saya, the best book reader device in the world adalah Amazon Kindle. Jenis Kindle yang saya punya adalah Kindle Keyboard 3G+WiFi - yang bisa mengunduh ebook di Amazon dan dikirim langsung ke device selama ada koneksi WiFi.


Teknologi e-ink (elektronic ink) membuat kualitas display di Kindle persis sama seperti kualitas cetak di buku atau koran. Nggak bikin lelah saat baca dan nggak tetap readable walo baca di bawah terik matahari (emang ngapain baca buku di bawah terik matahari?). Bandingkan dengan iPad ato iPhone yang menggunakan LED untuk display-nya.

Bulan Oktober lalu, Kindle Family resmi masuk Jepang. Satu ebook reader, yaitu Kindle Paperwhite tanpa wifi yang dibandrol 7,980 yen (atau kurang dari 1jt), sementara untuk yang ber-wifi harganya 12,980 yen (1.5jt). Dua tablet juga dirilis untuk pasar Jepang bulan Oktober lalu, Kindle Fire HD (19,800 yen) dan Kindle Fire.


Kindle Paperwhite

Di Indonesia, Kindle masih belum masuk. Saya bisa paham, karena statistik minat baca di Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan Amerika atau Jepang. Hasil survei UNESCO di tahun 2011, menunjukkan minat baca masyarakat Indonesia paling rendah di ASEAN. Indeks minat baca di Indonesia adalah sebesar 0,001, artinya dari seribu penduduk, hanya ada satu orang yang memiliki minat baca tinggi. Bandingkan dengan Singapura yang mencapai 0,45 (450 dari 1000 memiliki minat baca yang tinggi). Tentu menjual ebook reader device di Indonesia bukan strategi bisnis yang menguntungkan.

Anyway, untuk temen-temen di Indo yang punya minat baca tinggi, pingin banget untuk punya Kindle, bisa PM saya dan dengan senang hati bisa saya pesankan Kindle lewat Amazon.co.jp. :)


Monday, November 12, 2012

Mengurus Visa Korea di Jepang

Minggu ini, saya akan ke Korea (selatan) untuk presentasi poster di IFMIA (International Forum on Medical Imaging in Asia), tepatnya di Daejeon. Bagi warga negara Jepang, pergi ke Korea tidak memerlukan visa karena ada kerja sama bilateral. Sama seperti WNI yang pergi ke negara-negara ASEAN.

Awalnya saya pikir saya juga nggak perlu visa untuk ke Korea. Beberapa forum menyebutkan bahwa WNI bisa masuk ke Korea TANPA perlu visa. Namun itu hanya berlaku untuk pemegang passport biru (passport dinas). Sementara untuk rakyat biasa (seperti saya), visa Korea mutlak diperlukan untuk bisa masuk ke Korea.

Minggu lalu, saya mengurus visa Korea. Situasinya agak unik karena saya warga negara Indonesia, tinggal di Jepang dan mengurus visa untuk pergi Korea. Pengurusannya ternyata sederhana - tidak serumit ketika mengurus visa ke Amerika dulu. Cukup mengunduh formulir aplikasi visa di sini, isi dan bawa ke Embassy of South Korea di Tokyo. Biaya pembuatan visa sebesar 2400 yen dan jadi dalam waktu 2-3 hari kerja.

[Rute Embassy of South Korea]
Paragraf berikut ini sekedar catatan - just in case saya perlu mengurus visa ke Korea lagi, saya bisa membaca ulang bagian ini (dan semoga lokasinya nggak pindah2).

Stasiun terdekat dengan Embassy of South Korea adalah stasiun Azabu-juban (Tokyo Metro Uedo line atau Namboku line). Sesampai di Azabu-juban, cari exit gate #2. Dari exit gate #2, jalan lurus sekitar 700 meter. Bangunan yang dapat dijadikan patokan adalah Hotel Olympic Inn - dapat dilacak di peta yang terpampang di sekitar stasiun. Lokasi Kedutaan besar Korea sekitar 3 bangunan dari Hotel Olympic Inn. Bagian pengurusan visa ada di Lt. 3.

Untuk pengisian formulir, pastikan menyertakan alamat tujuan dan no. telpon dari alamat tujuan. Passport, foto ukuran passport dan Kopi registration card (KTP) juga dibutuhkan sebagai lampiran dari aplikasi pengajuan visa. Karena tujuan saya ke Korea untuk conference, maka lampiran email undangan untuk conference juga perlu disertakan. Pertanyaan standard seperti tanggal berapa berangkat, dalam rangka apa ke Korea, berapa lama ke Korea akan diajukan saat pengajuan aplikasi visa.

Setelah passport dan aplikasi diserahkan, petugas akan memberikan secarik kertas yang berisi kapan passport beserta visa dapat diambil. Sayangnya di kedutaan besar Korea ini nggak menyediakan layanan pengiriman untuk passport seperti di kedutaan Amerika.

Hari ini saya ke kedutaan besar Korea lagi, untuk mengambil passport yang telah ditempel visa Korea.

Capek di jalan.