Friday, September 28, 2012

Pengurusan dokumen melahirkan di Jepang

[Catatan pribadi berkenaan dengan dokumen-dokumen setelah melahirkan di Jepang]

Sebenarnya prosedurnya nggak terlalu rumit kalau sudah tahu prosedurnya. Semua prosedur sudah tercatat dengan jelas. Hanya saja seringkali bahasa menjadi kendala. Berikut adalah catatan pengurusan dokumen kelahiran anak di Jepang (based on true story).

Ketika bayi dari orang tua berwarga negara Indonesia lahir di Jepang, maka passport, visa dan KTP Jepang mutlak diperlukan. Apa bisa bayi bisa memiliki passport? Bisa dan memang wajib memiliki jika bayi tersebut tinggal di luar negeri.

Prosedur untuk mengurus passport adalah:

  1. Terlebih dulu melaporkan kelahiran di kantor kota (区役所/kuyakusho) atau kantor kecamatan (市役所/shiyakusho) paling lambat 14 hari sesudah kelahiran anak. Tentunya nggak bisa ujug-ujug datang dan bilang bahwa anak sudah lahir. Laporan kelahiran membutuhkan dokumen yang disebut Surat keterangan lahir (出生届/shusei todoke) yang diberikan oleh rumah sakit atau klinik di mana anak lahir. Ketika surat keterangan lahir diserahkan ke kantor kota atau kecamatan, maka kantor akan mencatat identitas bayi dan memberikan dua buah formulir. Formulir pertama adalah formulir untuk asuransi kesehatan dan formulir kedua adalah formulir untuk mendapatkan tunjangan anak dari pemerintah setempat. Dapat langsung diisi hari itu juga.
  2. Sebagai salah satu syarat pembuatan passport, kita perlu meminta sertifikat kelahiran anak (出生証明書/shusei shomesho) di kantor kota atau kantor kecamatan dengan membayar sebesar 350 yen. Sertifikat ini BERBEDA dengan Surat keterangan lahir (出生届/shusei todoke) yang dikeluarkan oleh rumah sakit (surat keterangan lahir akan disimpan oleh kantor kota atau kecamatan).  
  3. Sebelum membuat passport, kita perlu mengurus surat keterangan lahir di kantor KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia). Surat keterangan lahir ini adalah surat PENTING yang hanya diterbitkan SEKALI oleh KBRI. Surat ini harus ada saat anak kembali ke Indonesia dan mengurus akte kelahiran. Untuk mendapatkan surat keterangan lahir, orang tua perlu mengisi formulir yang ada di KBRI dengan membawa sertifikat kelahiran anak (出生証明書/shusei shoumeisho), kopi passport ortu, kopi alien card ortu, surat pernikahan ortu dan kopi boshitecho. Lama pengurusan adalah 1-2 hari kerja dengan membayar 1200 yen.
  4. Setelah surat keterangan lahir jadi, berikutnya adalah membuat passport (yang juga dilakukan di kantor KBRI). Selain surat keterangan lahir, dokumen lain yang dibutuhkan yaitu kopi passport, alien card, surat nikah, 4 lembar foto anak 3×4 dengan latar belakang putih. Agar tidak perlu kembali ke KBRI untuk mengambil passport yang sudah jadi, gunakan amplop Letter Pack 500 (re-tta-pa-ku go-hyaku) agar passport dapat dikirim ke alamat rumah setelah selesai. Biaya pembuatan passport 2.500 yen.
Setelah passport si anak selesai, berikutnya adalah mendapatkan visa untuk izin tinggal selama di Jepang. Permohonan visa untuk anak diajukan di kantor imigrasi Jepang dalam waktu maksimal 30 hari setelah kelahiran anak. Formulir yang diisi adalah formulir khusus untuk mendapatkan status tinggal anak (bukan formulir dependent atau COE). Dokumen yang dibutuhkan antara lain, kopi passport anak dan ortu, kopu alien card ortu, student card (kalau ortu adalah pelajar), dan rekening tabungan. Visa tidak dapat langsung diberikan di hari H pengajuan. Pihak imigrasi akan mengirimkan surat ketika visa sudah dapat diambil.

Catatan:
  1. Sesuai aturan keimigrasian yang terbaru (Juli 2012), pihak kantor kota atau kecamatan tidak lagi menerbitkan KTP  (外国人登録証/gaikokujin torokushou) untuk anak yang baru lahir. KTP dapat diurus di imigrasi setelah anak memiliki passport dan visa Jepang.
  2. Semua dokumen sebaiknya segera diurus tanpa ditunda-tunda begitu anak lahir. Tanpa adanya surat keterangan lahir, passport, visa, dll, maka si anak dapat masuk dalam kategori ilegal yang bisa sewaktu-waktu di-deportasi.




Wednesday, September 5, 2012

Takjub!

4 September 2012
05.30
Pagi itu, kami bangun pagi sekali. Buru-buru menelepon taksi untuk pergi ke klinik. Ketuban sudah pecah, airnya membasahi celana dan baju tidur yang dipakai istri saya. Jarak dari tempat tinggal kami ke klinik hanya 5 menit naik taksi.

3 September 2012, hari H-1
21.30
Sebenarnya tidak ada tanda-tanda akan melahirkan. Sama sekali. Tapi toh, setelah selesai makan malam saya tetap mengatakan ke istri apa yg saya rasakan selama ini. "Besok lahir...", kata saya pendek. Istri cuman senyum, antara yakin dan kurang yakin. "Besok ato kalo nggak ya lusa...", kata saya lagi.

4 September 2012
08.00
Di ruang bersalin itu, ada sebuah tempat tidur yang memang didesain untuk persiapan melahirkan. Di samping2nya ada tempat untuk meletakkan telapak kaki, yang dapat memudahkan untuk dijejak saat mengejan. Tuas di samping2nya juga bisa disetel agar pas dengan jangkauan kedua tangan dan bisa digenggam ketika kontraksi terjadi.



Saya berada di ruang bersalin itu. Mendampingi istri dan melihat proses kelahiran normal anak pertama kami, proses luar biasa yang saya anggap adalah salah satu keajaiban Tuhan untuk manusia.

** alert: tiga paragraf di bawah akan menceritakan apa yang terjadi selama proses kelahiran normal. Nggak perlu dibaca kalo takut menghadapi proses melahirkan.

Pada dasarnya, saat akan melahirkan, kontraksi terjadi secara periodik setiap 5 menit sekali dan semakin lama semakin pendek periodenya. Satu atau dua menit sekali. Saya tentu nggak tau gimana rasanya mengalami kontraksi. Tapi saya bisa menduga rasanya seperti kram dan nyeri perut. Reaksi alami saat terjadi kontraksi semacam ini adalah mengejan. Ini adalah momentum yang tepat agar bayi di dalam bisa didorong keluar. Tanpa ada kontraksi, tenaga untuk mengejan tidak akan cukup besar untuk bisa mendorong bayi. Itu dugaan saya.

Tiga jam lebih istri saya harus mengalami proses kontraksi... berusaha mengejan untuk mendorong bayi keluar. Tuas pegangan yang seharusnya digenggam seringkali berganti jd tangan saya. Genggaman yg kuat meninggalkan banyak bekas 'cakaran' di tangan saya. Untuk menambah serunya proses melahirkan normal, sebelum bayi keluar, ada event yang disebut dengan "bloody show". Darah segar keluar dan membuat proses melahirkan nampak mengerikan, terutama bagi mereka yang tidak tahan melihat darah.

Ketika kepala bayi sudah berada dalam jangkauan, maka bidan akan membantu menarik kepala tersebut dengan kedua telapak tangannya. Saya berdiri tepat samping istri dan mengamati prosesnya. Takjub melihat anak kami keluar untuk menghirup udara bumi untuk pertama kalinya. Darah dan cairan ketuban yang kental masih ada di tubuhnya. Dengan sigap bidan segera memotong tali pusar dan membersihkan dengan handuk. Terjawab sudah pertanyaan "aku keluar dari mana?" yang saya tanyakan ke mami, 30 tahun yang lalu.

Saya bersyukur bahwa putra kami lahir dengan sehat pukul 11.12 waktu Jepang. Berada di persentil 50, dengan berat 3kg dan panjang 49cm. Setelah proses kelahiran, istri saya berbisik ke saya, "kita punya anak satu aja ya...". Saya tersenyum, dan dalam hati yakin seyakin2nya bahwa jutaan ibu juga mengatakan hal yang sama ke suaminya, lalu beberapa waktu kemudian "nggak kapok" untuk punya anak ke-2, 3, 4, 5 dst.

***

Dengan proses kelahiran normal seperti itu, saya bisa pastikan akan ada "emotional bond" antara ibu dan anak yang nggak pernah bisa dipunyai oleh ayah. Anak itu akan disayangi dengan sepenuh hati setelah apa yang dialami selama mengandung dan puncaknya saat proses melahirkan. Si ibu akan merasakan sakit yang sama ketika si anak disakiti, akan selalu dibela dan dibanggakan. Kasih itu akan bertahan selamanya di hati sang ibu, no matter what.

Made in heaven, assembled in Japan: Hideaki Joshua Swastika,
September, 4th 2012