Thursday, August 16, 2012

Mana yang dipriotaskan? Keluarga atau karir?

Saya menuliskan sebuah kalimat di salah satu posting tanggal 3 Juli bulan lalu, 'Ohana means family, family means nobody gets left behind. Or forgotten.' Quote yang saya ambil dari film Lilo and Stitch, film produksi Disney sepuluh tahun yang lalu, yang somehow, quotenya masih saya ingat sampai sekarang.

Kalo para ayah diberikan pertanyaan "Mana yang dipriotaskan? Keluarga atau karir?", saya yakin sembilan dari sepuluh ayah yang normal pasti akan menjawab, "Keluarga saya lebih penting ketimbang karir..." Soal yang tentu terlalu gampang bagi para ayah. 

Menjawab berbeda dengan praktek.

Dua minggu lalu, waktu saya dan istri ke dokter untuk mengontrol kandungan yang masuk di minggu ke-33 (atau bulan ke-8), dokter mengatakan bahwa bayi kami sehat dan semua normal. Puji Tuhan. Senang mendengar apa yg disampaikan oleh dokter itu. Namun  hal yg dikhawatirkan oleh dokter yang nggak mau berbicara pake Inggris itu adalah cervix insufficiency istri yang berpotensi bayi lahir lebih cepat. Dokter itu memberikan rujukan ke RS kota yg lebih besar agar diperiksa lebih detail dan segera dilakukan tindakan medis kalau memang diperlukan.

Di rumah sakit, dokter memutuskan agar istri bed-rest selama 2 minggu dan diberikan obat yang dapat mengurangi ketegangan pada perut. Tujuannya agar tidak sampai terjadi kelahiran dini. Dan mulailah, ujian praktek pertanyaan, "Mana yang dipriotaskan? Keluarga atau karir?"

Di minggu itu, saya dijadwalkan untuk presentasi hasil penelitian di Hokkaido - selama 4 hari 3 malam. Jadwal presentasi sudah diputuskan sejak abstract paper saya accepted 3 bulan lalu. Tiket dan hotel juga sudah dipesan jauh-jauh hari. Minggu itu pula, istri harus bed-rest di rumah sakit selama 2 minggu. Mana yang dipilih? Tetap berangkat ke Hokkaido yang cmn 4 hari atau membatalkan presentasi dan menunggui istri di rumah sakit?

Logika orang Jepang, sedikit terbalik dengan logika orang Indonesia. Bagi orang Jepang, bed-rest di rumah sakit adalah kondisi yang paling ideal. Di rumah sakit, pasien pasti aman, mendapat perawatan yang terbaik, dokter yang berdedikasi dan suster yang senantiasa mengontrol kondisi pasien. Ini Jepang. Nothing to be worried. Pasien pasti terurus dan terjamin. Tidak ada perbedaan kasta pasien seperti di Indonesia. Di sini semua akan dimonitor dengan detail dan segera mendapat tindakan medis kalau diperlukan. Justru kalau tetap berada di rumah, itu malah berbahaya.  

Jadi saya bisa memakai logika ini untuk tetap berangkat ke Hokkaido. Toh, hanya 4 hari kan? Setelah pulang dari Hokkaido masih ada 10 hari lagi. 

Saya tahu, situasi ini semacam turning point bagaimana saya kelak bersikap terhadap keluarga. Mengutamakan karir atau keluarga. Saya merasa, ini seperti bukan one-time-decision yang setelah diputuskan lalu selesai. Dampak keputusan yang akan saya ambil, jauh lebih panjang drpada sekedar memutuskan pergi ikut conference ato nggak. 

Saya memutuskan untuk tetap tinggal dan menyampaikan ke pak prof bahwa saya tidak bisa pergi ke Hokkaido untuk presentasi. Gimana respon pak prof, nasib tiket pesawat, hotel, dan presentasi nggak perlu diceritakan karena bukan bagian penting dari posting ini.

Saya tinggal. Selama 2 minggu, setiap hari setelah pulang dari lab saya akan segera ke RS. 

Hari ini istri telah keluar dari RS. Bayi kami memang belum lahir, tapi semuanya baik dan istri bisa melanjutkan bed-rest-nya di rumah. Home-sweet-home. I don't regret my decision. Ujian pertama untuk Ph. D candidate dengan pertanyaan, "Mana yang dipriotaskan? Keluarga atau karir?" sudah saya lewati.
I'm a Ph. D (Perfect Husband and Daddy) candidate.


Anyway, my wife stayed at the 7th floor, where the sea can be clearly seen from the window. I should have taken some pics before leaving the hospital today. Image credit: http://www.city.chiba.jp/byoin/kaihin/kaihintop.html

NB. kejadian ini merupakan latar belakang tweet "家族のために、未来のために。。。" (kazoku no tame ni, mirai no tame ni) yang artinya, "demi keluarga, demi masa depan..."

3 comments:

  1. Bapak rajin juga posting blog di FB. Saya yg notabene stalker veteran di FB, liat post bapak, ga bisa kalo ga ngeklik link dari Pak Windra.
    Selamat, sekarang saya resmi jadi pembaca setia blog Anda!

    Yang menggelitik saya di postingan ini adalah: kok bisa2nya inget dialog inggris yg panjang dan itupun 10 tahun yg lalu. Hebat! Prestasi mengingat dialog saya sejauh ini hanya "Hasta la Vista, Baby"-nya Terminator.

    Well, semua comment saya ini ga penting. Yang penting saya mau mengucapkan selamat untuk kehamilan anak pertamanya. Semoga sehat, pinter, dan cakep.
    Sehat kayak ibunya. Pinter kayak bapaknya. Cakep kayak saya.

    ReplyDelete
  2. Haha2... kalimat yg terakhir itu, semacam ada yg nggak pas.

    ReplyDelete
  3. karir yg hancur bisa dibuat baru. keluarga yg hancur?

    ReplyDelete