Monday, June 18, 2012

Nge-lab di Jepang, seperti apa?

* Posting ini ditujukan khususnya bagi  mereka yang berencana melanjutkan studi lanjut (Master atau Doctor) di Jepang. *

Waktu saya dinyatakan diterima di Lab RCFME (Research center for frontier medical engineering), Chiba University tahun 2010 lalu, sejujurnya saya tidak punya bayangan bagaimana keadaan yang akan saya alami di sana. Hanya bisa menebak2...

Sampai saya mengalami sendiri.

Tidak seperti di Indonesia, di Jepang setiap graduate student (entah master atau doctor student) pasti akan tergabung dalam sebuah lab yang dikelola oleh seorang profesor (atau associate professor). Di lab inilah, penelitian dikerjakan. Si mahasiswa setiap hari datang ke lab seperti halnya pegawai yang harus datang di jam kerja. Tapi di Jepang, di mana mental kerja keras benar-benar dihargai, jadwal nge-lab mahasiswa bisa dari jam 9 pagi sampai jam 10 malam. Menginap di lab juga bukan hal yang luar biasa. Lab akan menjadi rumah pertama (bukan lagi rumah kedua) bagi si mahasiswa. "Aturan" semacam ini berlaku untuk semua anggota lab, tanpa memandang umur, jenis kelamin atau kebangsaan. (Mungkin untuk bidang-bidang sosial, kegiatan nge-lab bisa jadi lebih sering di lapangan ketimbang berhadapan dengan komputer seperti mahasiswa teknik umumnya)

Hampir 2 tahun saya resmi menjadi mahasiswa di Jepang (atau bagian dari lab RCFME). Apa yang saya alami, tidak semuanya menyenangkan. Ada hal-hal yang bisa membuat tertekan. Hanya saja, prinsip saya, semua hal yang terjadi (baik atau buruk) pada akhirnya akan mendatangkan kebaikan bagi saya (dan menjadikan saya lebih baik). Jadi ya, apapun yang terjadi, saya tetap enjoy.

Bagi yang berencana untuk melanjutkan studi, menjadi graduate student (master atau doctor) di Jepang, ada baiknya mengetahui hal-hal berikut.

Sebelum berangkat ke Jepang, maksimalkan waktu untuk belajar bahasa Jepang. Setidaknya pada level conversation... Ketika sudah menjadi bagian dari suatu Lab, terutama jika sebagian besar anggota lab adalah orang Jepang, maka ketidakmampuan berkomunikasi akan menjadi halangan yang tidak dapat dianggap enteng.

Ketika ada mahasiswa asing, umumnya mahasiswa Jepang tidak mau repot-repot "berlatih" Bahasa Inggris dengan mahasiswa asing. Jaim... Saya menduga, mereka tidak ingin ketauan kalo "nggak bisa bahasa Inggris". Keengganan untuk berbicara dengan bahasa inggris ini berlaku baik bagi yang bahasa inggrisnya jago, maupun yang nggak bisa bahasa inggris beneran.

Kondisi semacam ini akan berlanjut di dalam lab. Mahasiswa asing yang baru datang, nggak bisa bahasa Jepang, bisa merasa benar-benar kesepian karena "dibiarkan" begitu saja. Semacam nggak dianggep. Tapi bukan berarti mereka jahat ato nggak mau bergaul. Kalo si mahasiswa asing butuh bantuan, mereka dengan sigap membantu.

Saran saya untuk mereka yang ingin melanjutkan studi di Jepang (dan menjadi bagian dari suatu lab) proaktif-lah mendekati mereka kalau ingin menjadi bagian dari lab. Mengajak mereka ngobrol (entah dengan bahasa Jepang seadanya, atau bahasa inggris) di waktu yang tepat sehingga tidak merepotkan dan mengganggu waktu. Tanpa pro-aktif untuk mengajak mereka ngobrol, mereka juga nggak akan "repot" nyamperin mahasiswa asing untuk diajak ngobrol. Sehari di lab bisa2 mahasiswa asing hanya mengucapkan 3 kata, "Ohayou gozaimasu" ketika datang pagi hari dan "Tsukaresamadesu" ketika pulang. 

Lepas dari fasilitas lab yang serba canggih, buku-buku terbaru, kebutuhan software apapun bisa dipenuhi,  alat yang rusak diganti tanpa banyak birokrasi, koneksi internet yang super cepat, ada tantangan lain yang mesti dihadapi mahasiswa asing, yaitu tantangan suasana lab. Menjadi pro-aktif untuk dapat benar-benar menjadi bagian dari lab yang mana tempat yang setiap hari dikunjungi.


That's the way it is.

Sunday, June 17, 2012

Teologi Kemakmuran, pro? kontra?

# Personal opinion about Christian Theology called "Prosperity Theology".

Sejak tahun 1950an, teologi kemakmuran telah menjadi perdebatan (dan perpecahan) di kalangan umat Kristen. Mereka yang pro mengklaim bahwa Allah menginginkan umatnya hidup berkelimpahan, tidak hanya secara rohani tapi juga secara jiwani dan jasmani. Artinya Allah menghendaki kemakmuran secara penuh. Let's make it straight forward: financial blessing is the will of God for Christians.

Tentu saja, klaim Teologi kemakmuran dapat dikonfrontasi dengan Alkitab. Seperti di Mal 3:10 yang memberikan pernyataan bahwa Allah akan mencurahkan berkat untuk umatNya yang membawa persembahan perpuluhan ke rumah Tuhan, Yoh 10:10, yang menuliskan tentang bahwa Yesus  datang agar umatNya dapat memperoleh hidup dalam kelimpahan, 3Yoh 2 yang merupakan doa agar umat Tuhan mengalami kebaikan dalam segala sesuatu, termasuk dalam jiwa. Juga fakta bahwa tokoh-tokoh iman  seperti Abraham, Ishak dan Yakub merupakan orang-orang yang SANGAT kaya di jamannya. Banyak penginjil-penginjil kenamaan yang mendukung Teologi kemakmuran ini sepert Oral Robert (menulis buku: "God's Formula for Success and Prosperity"), Gordon Lindsay (menulis buku: "God's Master Key to Prosperity"), dan Joel Osteen (menulis"Your best life now" yang menjadi New York Times best seller di tahun 2005).

Konflik dan kritikan muncul ketika mereka yang kontra dengan Teologi Kemakmuran mengklaim bahwa pengajaran ini membuat umat Kristen menjadikan uang sebagai "idola". Bahkan Rick Warren (yang juga salah satu penulis buku New York Times best seller, "Driven Purpose Life") menyatakan bahwa  Yesus tidak pernah memberikan pengajaran tentang bagaimana menjadi kaya. Sitasi dari ucapan Yesus bahwa lebih mudah seekor unta masuk dalam lubang jarum ketimbang orang kaya masuk sorga, juga merupakan indikasi bahwa Yesus tidak mendukung teologi kemakmuran.

Yang menarik adalah seorang penginjil, Jim Baker, yang pada awalnya mendukung (dan mengajarkan) Teologi Kemakmuran dengan menyatakan "God wants you to be rich", kemudian berubah haluan dan menentang habis-habisan Teologi Kemakmuran dengan menuliskan buku, "I was wrong" sebagai pernyataan bahwa Teologi kemakmuran yang diajarkan dulu, adalah suatu kesalahan.

Perdebatan-perdebatan semacam ini, dapat dengan mudah membuat umat Tuhan tergoncang imannya. Siapa yang benar? Siapa yang harus diturut? Kedua pihak seolah-olah benar dan keduanya menghasilkan buah-buah yang baik.

Saya pribadi, tidak akan secara eksplisit menyatakan bahwa saya pendukung teologi kemakmuran atau menentangnya. Bagi saya Allah adalah Allah yang luar biasa Besar. Tidak akan pernah bisa manusia memahami dan mengetahui bagaimana karakter Allah dengan lengkap. Seperti kisah orang buta yang ingin mengetahui bagaimana rupa gajah, seperti itulah usaha manusia memandang dan mengetahui Allah. Tidak dapat secara penuh memahami Allah. Tidak mengherankan jika terjadi perbedaan pendapat.

Bagi saya, hubungan pribadi dengan Allah lewat doa, mempelajari firmanNya dan pengalaman iman yang akan membawa saya pada pengenalan Allah. Kembali ke teologi kemakmuran, sejauh ini saya mendapati dan mengalami Allah sebagai Jehovah Jireh, Allah yang menyediakan, Allah yang memberkati bukan hanya rohani, jiwani, tapi juga jasmani termasuk financial blessing.

Saya juga tidak akan menentang seandainya ada umat Tuhan yang mendapatkan pengalaman iman atau pewahyuan bahwa Teologi kemakmuran bukanlah kehendak Allah. Itu cara mereka memandang Allah.

Sama seperti orang buta yang memegang gajah, dan memegang tepat pada ekor gajah. Sementara orang buta yang lain memegang pada gadingnya. Pendapat keduanya akan berbeda ketika ditanya bagaimana rupa gajah. Demikian pula tindakan kedua orang buta tersebut terhadap gajah akan sangat berbeda, bergantung dari persepsi masing-masing. Itulah sebabnya, penting untuk setiap hari kita mengenal dan lebih kenal lagi karakter Allah lewat doa, mempelajari Firman dan mengalami pengalaman iman denganNya.