Wednesday, May 30, 2012

Internet dan pekerjaan yang manusiawi (Part 1)

Episode: Pipi dan Pipa

Menurut saya, pekerjaan yang manusiawi adalah pekerjaan yang nggak mengeksplotasi manusia. Mengeksplotasi maksudnya memeras tenaga (atau uang) orang lain demi menguntungkan segelintir pihak. Pihak yang diuntungkan bisa individu, bisa juga perusahaan.

Saya ingat dulu pernah diprospek MLM oleh teman yang bergabung di N*21, salah satu MLM terbesar dengan inisial A*W*. Saat mem-prospek, teman saya ngasih suatu cerita yang sampe sekarang saya ingat. Kurang lebih begini ceritanya. Alkisah, jaman dahulu kala di sebuah desa tersebutlah dua orang bernama Pipi dan Pipa. Suatu ketika, desa tersebut mengalami kekeringan sehingga seluruh desa membutuhkan air. Air bisa didapat di sumber mata air yang jaraknya dari desa tersebut cukup jauh. Setelah berembug, kepala desa menyerahkan tender pengadaan air untuk seluruh warga desa ini kepada Pipi dan Pipa.

Pipi segera mengambil tender ini, dengan membeli dua buah timba besar dan membangun bak penampung air. Pagi-pagi benar, Pipi segera bangun, lalu dengan dua buah timba tersebut, dia bolak-balik untuk mengambil air dan mengisi bak penampung hingga penuh. Pagi hari, orang2 desa akan datang untuk membeli air ke Pipi. Good job, Pipi!

Cara Pipa bekerja berbeda dengan Pipi. Alih-alih membeli timba, Pipa membangun sebuah saluran air dari sumber mata air sampai ke desa. Tentu selama proses membangun saluran air ini, Pipa nggak bisa menghasilkan uang. Lah, kalo airnya nggak ada, apanya yang dijual? Sementara Pipi sudah menghasilkan uang, Pipa masih sibuk membangun saluran air.

Apa yang terjadi ketika saluran air yang dibuat Pipa selesai? Air dapat mengalir dari sumber air ke desa tanpa perlu bolak-balik diambil menggunakan timba. Seberapa banyak orang desa memerlukan air, stok akan selalu ada. Sementara Pipi masih tetap melakukan pekerjaan rutin-nya dengan setiap hari bangun pagi, mengambil air dari sumber mata air dan memenuhi bak penampung untuk memastikan stok air selalu tersedia.

Jelas, tenaga yang dikeluarkan Pipi lebih besar, dengan penghasilan yang terbatas. Pipi menukar waktu dan tenaganya dengan imbalan uang. Sementara Pipa, tinggal menikmati hasil tanpa perlu lagi bekerja. Saluran air yang dibuatnya telah bekerja untuknya. Dengan waktu luangnya, mungkin Pipa bisa membuat sistem saluran air untuk desa yang lain... [Tamat]

Waktu denger cerita ini, saya mikir... ah, gitu aja ya saya udah tau. Seandainya saya yang ada di desa itu, saya juga akan melakukan hal yang sama... Sama seperti Pipa maksudnya. Semua orang juga paham bener bahwa cara yang dilakukan Pipi sama sekali nggak efisien dan membuang tenaga... Tapi, dalam dunia yang sebenernya, sebagian besar orang bekerja dengan cara seperti Pipi bekerja.

Bekerja dari jam 9 pagi (ato jam 8 kalo di institusi saya) sampai jam 5 sore, seminggu 5 hari kerja. Terikat dengan jam dan aturan kantor. Tenaga, waktu dan pikiran yang dikeluarkan akan ditukar dengan gaji di akhir bulan (yang bisa memuaskan, bisa juga membuat dongkol). Tentu ini bukan sesuatu yang jelek. Bagi mereka yang memang menikmati pekerjaan-nya (karena merasa udah terpanggil dengan profesi tersebut), apa yang dilakukan adalah suatu anugerah yang akan disyukurinya setiap hari. Bekerja tidak seperti bekerja karena dia menikmati. Tentu, bagi yang sudah menikmati pekerjaannya dan merasa dapat mengaktualisasikan diri karena pekerjaan 8-jam-sehari-5-hari-seminggu-nya, nggak perlu repot-repot mikirkan cara seperti yang Pipa lakukan. Keep Pipi-ing and be happy!

Bagi yang tidak puas, atau ingin menjadi seperti Pipa, maka perlu untuk mulai memikirkan bagaimana membuat "saluran air" seperti yang Pipa lakukan. Membangun "saluran air" ini yang saya sebut  pekerjaan yang manusiawi sekali. Tidak ada unsur eksploitasi manusia demi keuntungan orang lain. Sekali pekerjaan selesai, "sistem" itu yang akan bekerja, bukan manusia lagi yang bekerja (pada kasus Pipi, manusia tetap bekerja).

Tentu pertanyaannya adalah seperti apa "saluran air"-nya? dan siapa "orang desa" yang akan membeli "air"nya.

Saya nggak lagi promo money game, get-rich-quick-scheme, MLM ato semacam itu. Nggak sama sekali. Buat saya, ketika MLM dilakukan dengan cara mengeksploitasi down-line-nya, agar up-line mendapatkan keuntungan adalah cara yang tidak manusiawi. Ada eksploitasi manusia di dalamnya untuk menguntungkan segelintir orang. ONggak adil banget kan, ketika orang keluar uang untuk memperkaya atasannya, dan dia akan melakukan hal yang sama ke bawahannya agar uang yang dikeluarkannya bisa kembali. Yang di bawah dieksplotasi (dan kalo nggak mau ter-eksplotasi, go ahead, exploit other people as well). Banyak orang sangat nggak bisa melakukan pekerjaan semacam ini. Tentu saya nggak menyangkal bahwa ada juga MLM yang sehat jasmani dan rohani. Ah, never mind.

Pada cerita Pipa, semua orang diuntungkan lewat saluran air yang dibuat. Nggak ada yang dieksplotasi. Pipa untung. Orang desa-pun untung.

Jadi "saluran air"-nya apa? Siapa "orang desa"nya?

Salah satu alternatifnya adalah Internet.

"Orang-orang desa" adalah pengguna internet. "
Air" adalah informasi yang dicari/dibutuhkan.

Setiap hari PULUHAN JUTA orang mengakses internet untuk mencari informasi. Kalau kita bisa menyediakan informasi yang dibutuhkan dengan akurat, dan "menukar" informasi tersebut dengan Rp. 100 rupiah, maka bisa dihitung berapa yang dihasilkan jika ada seribu orang per hari yang dengan senang hati mendapatkan informasi tersebut dan menukarnya dengan Rp. 100 rupiah. Prinsip menyediakan "saluran air" untuk yang membutuhkan "air". Tidak ada eksploitasi manusia di dalamnya, dan semua pihak diuntungkan.

Am I talking about money game? NO!! (with capital "N", "O", and two exclamation marks)
Am I talking about arisan berantai? NO!!
Am I talking about creating Google-like-website? No.
Am I talking about complicated-Internet-technology-that-only-a-PhD-can-do? No.

[Bersambung]

Catatan: dalam semua seri posting ini, TIDAK ADA AJAKAN untuk mengikuti program tertentu, TIDAK ADA promosi untuk membeli produk tertentu, TIDAK ADA PEMALAKAN TERSELUBUNG demi keuntungan saya pribadi. Tujuan posting ini adalah untuk berbagi pengetahuan dan (jika memungkinkan) saling berkolaborasi dan sinergi untuk kemajuan bersama.

Please leave comment and let me know what you think.
I won't continue the series unless I know this information is needed.

Thursday, May 24, 2012

Buku belajar kanji berbahasa Inggris

Yay, buku pertama saya yang bisa terbit secara internasional. Dirilis di Amazon.com, dan link-nya ada di: http://www.amazon.com/dp/B00856D3LE.



(Klik di www.belajarkanji.com untuk versi dalam Bahasa Indonesia.)

Topiknya tentang metode belajar Kanji yang selama ini saya gunakan. Sejauh ini, saya merasa metode ini cukup efektif membantu saya memahami (dan membaca) Kanji dalam waktu yang relatif singkat. Caranya adalah dengan fokus pada Kanji yang paling sering muncul pada artikel di koran, majalah atau Internet.

Jadi prosesnya, pertama dari ratusan artikel yang ada (dari berbagai bidang, mulai politik, ekonomi, olahraga, dan sastra), frekuensi kemunculan dari masing-masing Kanji pada artikel itu dihitung. Setelah dapat setiap frekuensinya, Kanji diurutkan dari yang paling sering muncul sampai yang paling jarang muncul. Dari sini, akan didapatkan daftar Kanji berdasarkan frekuensi kemunculan. Sebagai contoh, sepuluh Kanji yang paling sering muncul adalah 日、一、国、十、大、会、人、年、二、dan 本. Artinya pada sebuah artikel, kanji "日" (peringkat 1) akan lebih banyak muncul ketimbang kanji "餡" misalnya.

Nah, logikanya, kalo kita bisa hafal, katakan, 1000 kanji yang paling sering muncul ini, maka kemampuan dalam memahami artikel juga semakin baik. Metode ini, lebih baik ketimbang belajar menghafal Kanji secara sporadis tanpa urutan tertentu. Dengan menghafal kanji berdasarkan frekuensi kemunculan, maka ingatan terhadap Kanji tersebut akan semakin baik karena Kanji tersebut sering dijumpai. Kalo kanji-nya jarang dijumpai, ya otak kita cenderung untuk melupakan. Analoginya, kita pasti inget bener nama temen2 yang sering kita panggil. Tapi kita cenderung bisa lupa nama temen yang jarang kita panggil. Analogi sederhana, tapi it's true.

Metode inilah yang saya pakai untuk belajar Kanji, sampai sekarang dan hasilnya bagus (setidaknya untuk saya). Jadi, mengapa nggak dibuat buku yang mungkin bisa bermanfaat untuk orang lain yang juga struggling dalam belajar Kanji.

Di dalam buku itu, selain berisi 200 Kanji yang paling sering muncul, saya kasih juga compound (atau gabungan kanji) dan 3 contoh kalimat untuk masing-masing kanji. Dengan adanya contoh kalimat yang mengandung Kanji tersebut, pembaca bisa lebih mendapatkan sense arti dari suatu Kanji. Misalnya kanji "出" yang arti dasarnya adalah "keluar". Kata "keluar" seperti apa yang bisa dipakai untuk Kanji "出" ini? Contoh compound atau gabungan dari Kanji ini antara lain: 出す(dasu):  to take out; to get out, 出発(shuppatsu): departure, 出席(shusseki): attendance; presence. Untuk contoh kalimat yang menggunakan "出" di buku ini adalah:

1. 彼は怒ってレストランを出て行った。
(I saw her leaving the restaurant in anger.)
2. 出口に立っていました。
(Standing at the exit door.)
3. 原料の輸出する。
(Exporting raw material.)

Lewat contoh kalimat ini, arti "出" bisa lebih terasa... "Keluar dari restoran", "pintu keluar", dan "mengekspor". (Apalagi kalo ditambah fakta bahwa kanji 出sebenarnya berasal dari gambar tanaman yang muncul dari dalam tanah) - anyway, kanji "出" berada di peringkat ke-14 untuk kanji yang paling sering muncul.

Dan jadilah buku Kanji ini, setebal 90 halaman lebih (untuk 50 kanji pertama), total sekitar 300 halaman untuk keseluruhan 200 kanji.

Credit for this book goes to my ex-student William Prathama Nugraha. Saya berterima kasih untuk kerja kerasnya dan waktu yang diluangkan untuk membantu saya dalam mengolah ribuan data Kanji... Termasuk kesediaannya untuk sama-sama mengurus website (semi-profit) belajarkanji.com.

Tapi, sejujurnya... membuat buku Kanji dan merilis di Amazon.com, bukan hal yang utama. Seandainya berenang, rilis buku lewat Amazon.com ini hanya mencelupkan jari ke kolam renang. Bukan berenang yang sebenarnya. Tapi namanya berenang ya perlu tau airnya dulu...

I'll share more on this in the coming posting.