Friday, April 27, 2012

[Movie] The Raid Redemption vs. Soegija

Ini tentang film.

Saya suka nonton film. Tapi sangat pilih2. Banget. Suka sebel kalo menghabiskan waktu 1.5-2jam nonton film, tapi ternyata film-nya gak bermutu, gak menginspirasi, ato gak jelas.

The Raid Redemption adalah salah satu film Indonesia yang beberapa pekan terakhir ini ditayangkan di Amerika. Memenangi beberapa awards international sebagai film terbaik. Film-nya "bagus". Tapi saya sangat NGGAK rekomendasikan untuk ditonton anak-anak ato cewek. Nggak sama sekali. Terlalu sadis dan vulgar. Ceritanya tentang penyerbuan tim khusus ke sebuah apartemen yang di dalamnya ada puluhan penjahat beringas yang dipimpin oleh seorang gembong narkoba sadis. Kisahnya jadi menegangkan karena satu per satu anggota tim khusus ini dibantai oleh penjahat-penjahat di dalam apartemen itu. Bagaimana perjuangan beberapa gelintir anggota tim khusus yang masih tersisa untuk bertahan hidup (atau malah sampe berhasil mengalahkan semua penjahat dalam apartemen) itu yang mungkin menjadikan film ini menarik. Adegan pertarungan disajikan secara keras, baik menggunakan senjata berapi, pisau, golok, atau tangan kosong. Jangan ditonton kalau tidak tahan melihat darah atau melihat adegan penyiksaan. Dan, film ini menjadi box-office top 20 di Amerika beberapa minggu terakhir ini. Beberapa negara seperti Australia, Singapore, Kanada, Jerman (dan juga Jepang)  membeli hak distribusi film ini untuk masuk dan ditayangkan di bioskop. (Film dengan adegan vulgar, tapi jadi box-office... What kind of society we live in? #wondering)

Film Soegija adalah film Indonesia yang saya rekomendasikan untuk SEMUA. Kisahnya mengambil setting tahun 1940-an, tentang Romo Mgr. Soegijapranata, seorang pribumi asli yang ditahbiskan menjadi Romo dan kemudian menjadi uskup agung (Anyway, Presiden Soekarno memberikan anugerah kepada beliau sebagai pahlawan nasional atas perjuangan kemanusiaan yang telah beliau lakukan selama pendudukan Belanda dan Jepang di Indonesia). 

Note that film Soegija BUKAN film dakwah yang bertujuan agar menyebarkan agama Katholik. Jauh dari itu. Sang sutradara, Garin Nugroho, bertujuan agar film ini bisa menjadi pendidikan karakter bagi bangsa Indonesia yang multi-kultur... Ada cerita tentang seorang tentara Belanda yang jatuh cinta dengan gadis pribumi, seorang gadis keturunan Tionghoa yang menjadi korban kerusuhan dan terpisah dengan keluarganya, dan banyak nilai-nilai kemanusiaan yang ditunjukkan di film ini. Teaser film Soegija yang berdurasi 6 menit lebih bisa dilihat di sini: http://www.youtube.com/watch?v=MWSdt3paIw8

Saya akan lebih bangga seandainya film Soegija ini yang menjadi box office di USA ketimbang The Raid Redemption yang sadis itu.

* image credit: http://filmindonesia.or.id/


Wednesday, April 18, 2012

Rektor "Jaim" (Tentang Jaga Image)

Bukan... Saya nggak lagi nggosip tentang rektor universitas X yang ini itu. Ini tentang kutipan yang sangat menginspirasi dari twitter Frater Aris (@arismsc), seorang Frater dari Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC) yang ditugaskan di Nagoya, Jepang.
  • Punya mobil di Jepang bukanlah hal yg terlalu muluk dan mewah. Kecuali jika mobil itu Ferrari #JagaImage
  • Misalnya, kepala sekolah di TK sebelah rumah kami di sini mengendarai mobil Subaru sekelas Innova keluaran terbaru #JagaImage
  • Atau, ibu yang membantu menyiapkan hidangan untuk kami mengendarai Toyota Harrier (versi lama) #JagaImage
  • Karena itu, saya heran melihat Rektor Universitas kami setiap hari mengendarai sepeda ke kampus #JagaImage
  • Tidak mampu beli mobil? Bukan alasan. Kepala Sekolah TK saja punya mobil kinclong. Ibu yg masak utk kami punya Harrier tua #JagaIMage
  • Alasannya apa? Ini: "Jika terjadi kecelakaan yg melibatkan saya, nama universitas akan tercemar dengan sendirinya". #JagaImage
  • Utk kepentingan ribuan mahasiswa dan stafnya dan lembaganya, Rektor Universitas kami memilih menyimpan gengsi dan ego-nya #JagaImage
  • Itulah #JagaImage yang sesungguhnya. Hebat ya?
Saya merenung cukup lama setelah membaca twit ini karena saya juga seorang pengajar di bawah lembaga universitas. Ingin menuliskan sesuatu, tapi jadi speechless. Mungkin nanti...

Terima kasih untuk Frater Aris yang sudah memberi izin share kutipan ini di blog saya. Bagi yang punya account twitter saya highly recommend untuk follow beliau (@arismsc), atau kunjungi blog-nya di http://aruibab.blogspot.com/, it simply recharges your life.

Monday, April 16, 2012

Extraordinary friend (1)

Kalo suatu hari saya mau balik ke Indo karena kangen dengan suasana Indo, wajar banget kalo ada temen di sini yang bilang, "eh, kalo balik Jepang jangan lupa oleh2nya ya!". Saya nganggep itu hal yang biasa. Wajar juga kalo ada yang nitip sesuatu... Misalnya nitip Indomie ato bumbu masakan Indonesia yang memang jarang ditemui di Jepang. Wajar. Nggak ada yang salah dengan hal itu.

Tapi, temen yang satu ini nggak begitu.
Si A, bulan depan mau balik ke negara asalnya, untuk beberapa bulan.

"Eh, kamu mau balik ya?" tanyanya.
"Iya, tanggal xx bulan depan..." Jawab A.
"Udah beli oleh2, buat keluarga?"
"Udah... Kapan hari udah mulai nyicil beli oleh2." Jawab A
"Ooo... Minggu depan, ya aku bawakan oleh2..."
"..."

Minggu depannya, temen itu bawa oleh2 buat si A. Satu tas penuh.
Dia bilang, "Ini oleh2 buat keluarga ya... Moga2 keluarga suka."

Isinya memang oleh2. Si A yang mau balik, bukannya ditagih oleh2, bukannya dititipi yang macem2, malah diberi oleh2. Bermacam2 oleh2, dan bukan yang murahan.

Saya terkesan. Jujur, belum pernah saya melakukan hal seperti itu. Paling banter, saya ngasih ucapan selamat jalan yang tulus dan doa agar selamat sampai tujuan, bisa seneng2 dan ketemu keluarga. Nggak terpikir ngasih oleh2 untuk mereka yang mau balik ato bepergian jauh.

Temen saya yang satu itu punya giving lifestyle. Saya yakin dia adalah orang yang bahagia dan nggak akan merasa berkekurangan dalam hidupnya. Diam-diam saya janji pada diri saya untuk belajar punya giving lifestyle seperti itu. Nggak cuma bawa oleh2 kalo habis bepergian, tapi juga bisa ngasih oleh2 untuk temen yang AKAN bepergian.


Friday, April 13, 2012

Hal-hal unik di Jepang (3)

Posting "Hal-hal unik di Jepang (1)" dan "Hal-hal unik di Jepang (2)", di luar dugaan saya, sangat, sangat populer. Lebih dari 300 total hits dalam sebulan! Here we go, the 3rd trilogy of "Hal-hal unik di Jepang".

  1. Anjing adalah hewan peliharaan yang tidak boleh dibiarkan berkeliaran. Setiap pagi, sore atau malam, sang majikan akan mengantar anjingnya untuk berjalan-jalan. Uniknya, ketika si anjing buang kotoran, sang majikan akan segera MENGAMBIL kotoran2 itu dan memasukkan ke dalam plastik yang sudah disiapkan. Iya, betul... Pemilik anjing di Jepang TIDAK membiarkan kotoran anjingnya tercecer di jalan.  Sampai di level itulah taraf mereka menjaga kebersihan lingkungannya. Saya kira di Indonesia, pemilik anjing malah senang kalau anjing peliharaannya buang kotoran di jalan instead of di rumahnya sendiri.
  2. Di toko swalayan (baik yang besar maupun kecil) tidak ada tempat penitipan barang seperti halnya di Indonesia. Pengunjung bebas membawa tasnya masuk ke dalam tempat belanja. Tidak ada juga pramuniaga yang secara khusus menjaga barang. Bahkan di beberapa toko swalayan yang besar, ada counter khusus di mana pengunjung bisa menghitung sendiri barang2 yang dibeli, membayar dengan kartu debit atau kredit dan membawa pulang barang belanjaannya TANPA ADA kasir! (Saya tidak berani membayangkan kalau sistem semacam itu diterapkan di Indonesia).
  3. Inilah bahan makanan pokok yang termurah yang ada: (a) Susu 1 liter 98 yen. (b) Roti tawar 8 slices 87 yen (c) Telor 10 biji 78 yen (d) Beras 5kg 1.270 yen (e) Cabe kering 100gram 200 yen (f) 5 pack mie instant 198 yen (g) Teh kaleng 200ml 28 yen (h) Minyak goreng 1500gr 348 yen (i) Air mineral 2lt 76 yen (j) Gula 1kg 168yen (k) Burger McD 100yen. Semua harga di atas merupakan harga reguler, bukan harga discount yang hanya sewaktu2 ada. Jadi bahan makanan dengan harga itu bisa dibeli kapan saja. Kalau ada yang punya informasi harga lebih murah, bisa dibagi infonya. :) 
  4. Ketika mahasiswa asing (atau pekerja asing) yang ada di Jepang hendak kembali ke negaranya, maka semua barang-barang elektronik, akan dihibahkan secara GRATIS kepada siapapun yang bersedia menerima. Situasi ini adalah win-win solution, di mana pihak yang hendak kembali tidak perlu membayar untuk biaya pembuangan sampah, dan pihak yang dihibahi tidak perlu membeli barang elektronik baru.  Ini merupakan "transaksi" yang sangat2 umum. Bahkan, mahasiswa asing yang baru tiba di Jepang, jika bisa ketemu dengan orang-orang yang tepat, tidak perlu lagi repot membeli peralatan baru. 
  5. Tidak salah kalau sistem perkereta-apian di Jepang adalah yang terbaik di dunia. Setiap hari minggu, saya beribadah di Gereja Indonesia yang ada di Tokyo (1.5jam dari Chiba) dengan naik kereta. Ada tiga kali transfer. Rute pertama kereta berangkat pk. 13.04 tepat dan tiba Pk. 13.25. Jalan kaki 1 menit untuk pindah ke rute kedua. Di rute ke dua, kereta berangkat Pk. 13.27 tepat dan tiba Pk. 13.56, lalu jalan kaki 3 menit untuk ke rute berikutnya yang keretanya berangkat pk. 13.59 dan tiba Pk. 14.25. Dalam satu setengah tahun terakhir ini, semua kereta berangkat dan tiba dengan tepat, belum pernah ada jadwal kereta yang meleset barang semenit-pun! * keretanya memang nggak telat, saya aja yang bisa telat sampe di stasiun.
  6. Semua Film Amerika (atau film asing) yang masuk dan ditayangkan di televisi (atau bioskop) akan di-dubbing ke dalam Bahasa Jepang. Namun beberapa stasiun televisi (atau gedung bioskop) yang menyediakan fitur bi-lingual sehingga bagi mereka yang merasa nggak seru ndengerkan film asing berbahasa Jepang (seperti saya), tetap bisa menikmati dalam bahasa aslinya.
  7. Di toko-toko buku dan minimarket (yang hampir ada di setiap sudut jalan), selalu ada majalah yang menampilkan pose-pose cewek setengah telanjang (baik asli maupun kartun). Majalah atau komik semacam itu dijual bebas begitu saja. Anak kecil yang diajak orang tuanya berbelanja, juga dapat melihat-lihatnya... 
[End]

Wednesday, April 11, 2012

Amazon Kindle dan garansinya

Sejak dibeli bulan Desember lalu, saya masih nggak bisa lepas dengan produk ini, Amazon Kindle Keyboard 3G. Fungsi utamanya sebenernya untuk baca buku. Apa bedanya ma aplikasi ebook reader di smartphone? Beda... Kindle ini pake teknologi e-ink (tinta elektronik) yang displaynya nggak bikin mata gampang capek. Beda dengan aplikasi ebook reader yang di smartphone (kayak iPhone, iPad ato smartphone lain) yang memancarkan cahaya (layar LCD)... Mata akan gampang capek kalo dibuat baca buku (gimana nggak capek, kalo mata terus2an diadu dengan pendaran cahaya yang keluar dari layarnya). Kalo baca buku di Kindle mah, serasa kayak baca buku cetak, plus ukuran font, paragraf, ketebalan bisa diganti-ganti... - bonus lain dari Kindle ini, ada pemutar MP3, browser untuk internet-an, dan...text-to-voice feature! (* iya, saya sedang promosi Amazon Kindle *)

Kindle saya isinya macem2 ebook - mulai jurnal-jurnal yang berhubungan dengan penelitian, buku pengembangan diri, buku untuk belajar Bahasa Jepang, kamus, novel, peta tempat-tempat wisata, jalur kereta dan tak lupa, Holy Bible. Kalo ada informasi di website yang masuk dalam "daftar-wajib-baca", saya akan simpan ke pdf, dan masukkan ke Kindle. Anytime ada waktu, bisa segera dibaca. Praktis! Serasa bawa perpustakaan dalam kantong jaket saya (iya, nggak perlu ditaruh di tas, muat kok di kantong jaket). Nggak ada lagi waktu terbuang dengan bengong gak jelas dan nggak tau mesti ngapain. 

Harganya? Saya dulu beli nggak sampe sejuta ($99). Seriously! Untuk siapapun yang suka baca buku, saya highly recommend untuk punya gadget yang satu ini. Ato kalo nggak suka baca buku, bisa juga jadi hadiah untuk mereka yang suka baca buku. Trust me, book-lovers will reallllllyyyy appreciate this kind of gift (termasuk saya).

Nah, ceritanya gini... 
Kindle ini kan praktis kalo dibuat baca sambil tidur2an. Suatu ketika, waktu Kindle-nya saya taroh di kasur, tanpa sengaja saya mengadu lutut saya dengan layar Kindle. Namanya juga barang tipis, ditaroh di kasur empuk, dan kena tekan lutut dari badan yang beratnya 60kg... Muncullah bunyi krraaak... Layarnya nggak pecah. Masih utuh. Tapi tulisan di layar jadi kacau. Somehow, feature text-to-voice-nya menyala (mungkin ini fungsi darurat ketika terdeteksi situasi di mana layar tidak berfungsi). Saya mencoba mengakses menu (dengan petunjuk text-to-voice), semuanya masih berjalan normal. Hanya saja tampilan layarnya kacau kayak gini: 


Saya langsung kepikiran beli baru... Beli online dan nanti dikirim ke Jepang. Eh, tapi terus saya inget ada garansi 1 tahun. Kalo beli barang di toko Indo, mungkin saya masih pikir2 mau klaim garansinya... Karena bisa makan ati, barang diambil (dan janji diperbaiki, yang entah kapan selesainya). Berminggu-minggu kemudian baru dikasi tau kalo ada yang rusak (lah kalo nggak rusak, ya ngapain di bawa ke situ?), dibilang nggak bisa diperbaiki, spare part harus diganti di kantor pusat di Timbuktu, dan sebagainya. 

Tapi ini kan Amazon? Toko online terbesar di dunia. Siapa tau garansi masih bisa dimanfaatkan. Saya kontak dengan bagian customer support. Kita chatting dan saya menceritakan kejadiannya. Tanpa banyak prosedur, mereka segera membuatkan saya replacement. Artinya mereka akan mengganti Kindle saya yang rusak itu dengan Kindle baru. Mereka memberikan nomer tracking barang yang diperkirakan akan sampai 5 hari kerja, dan meminta saya untuk mengirimkan balik Kindle yang udah nggak berfungsi itu SETELAH saya menerima Kindle yang baru.

Tiga hari, Kindle replacement itu sampai di tempat saya. Komplit dengan box seperti kayak kalo beli baru. 



Bahkan untuk pengiriman balik Kindle yang udah nggak berfungsi itu, mereka menyiapkan form pengiriman lewat UPS yang mana tinggal saya print, lalu ditempelkan di kardus Kindle, dan masukkan ke drop-box UPS terdekat. GRATIS! Nggak ada biaya perangko, biaya pengiriman, jasa perbaikan, ongkos transport, ato whatsoever.

Saya dapet Kindle baru tanpa keluar biaya se-yen-pun.

Nah, nggak heran kan kalo saya promosikan Amazon Kindle Keyboard 3G ini.