Wednesday, March 14, 2012

Hal-hal unik di Jepang (2)

Hal-hal biasa bagi orang Jepang atau yang sudah lama tinggal di Jepang. Tapi tetap saja menjadi hal yang tidak biasa bagi saya - setidaknya sampai saat ini.
  1. Rata-rata harga sebuah apel di supermarket adalah 10rb rupiah (iya, satu biji bukan satu kilo). Harga apel yang di bawah 10rb kemungkinan adalah apel yang memiliki cacat, kotor atau bentuknya kurang baik. Pembelian apel (atau buah lain seperti jeruk, apokat, atau mangga) BUKAN dalam satuan kilogram  seperti  halnya di Indonesia, melainkan dijual per buah. Harganya juga dalam kisaran 10rb rupiah per buah.
  2. Kebanyakan pengisian tanggal pada dokumen resmi menggunakan penanggalan berdasarkan pemerintahan kaisar. Setiap kaisar baru yang memerintah, maka tahun akan direset menjadi 1. Tahun 2012 adalah tahun Heisei 24, yang berarti kaisar saat ini (Kaisar Akihito) telah menjadi kaisar selama 24 tahun. 
  3. Kaisar di Jepang tidak menentukan kebijakan ataupun menjalankan roda pemerintahan. Kaisar dihormati sebagai figur pemersatu Bangsa Jepang. Rakyat Jepang bisa punya pandangan politik yang berbeda, keyakinan yang berbeda, kesukaan atau ketidaksukaan terhadap pemerintah saat ini, namun tetap memiliki respek yang sama terhadap kaisar yang memerintah saat itu. Kaisar adalah faktor penting yang membuat rakyat Jepang bersatu. Ulang tahun kaisar-pun dijadikan hari libur nasional sehingga semua orang Jepang tahun kapan ulang tahun kaisar mereka. (anyway, pak SBY kapan ultahnya?)
  4. Di setiap gerbong kereta atau bus, selalu ada priority seats yang diperuntukkan bagi lansia, ibu hamil, ibu dengan balita atau orang-orang yang menggunakan kursi roda. Bagi ibu-ibu yang sedang hamil, akan diberikan gantungan kunci khusus yang berlogo ibu hamil dari kantor kelurahan. Saat jam sibuk di mana kereta penuh sesak, akan ada orang2 yang mau merelakan tempat duduknya bagi pemegang gantungan kunci ibu hamil. Tip untuk selalu dapat tempat duduk di kereta: bawalah selalu gantungan kunci berlogo ib... ah, sudahlah.
  5. Di setiap tempat umum (stasiun, supermarket, universitas, kantor layanan publik, rumah sakit) akan selalu ada akses untuk orang2 yang disable (cacat). Selalu ada jalan di mana mereka, yang menggunakan kursi roda, akan dapat pergi ke sudut manapun dari gedung tersebut. (di universitas "international-wanna-be" MC, mahasiswa (atau dosen) dengan kursi roda apa bisa mengikuti kuliah (atau mengajar) di lt. 4? *wondering*)
  6. Kalau di Indonesia mabuk dianggap hal yang jelek, negatif, tidak sopan, hanya dilakukan oleh oknum yg kurang berpendidikan, maka tidak demikian dengan di Jepang. Sensei (yang adalah profesor atau setidaknya dosen dengan latar belakang pendidikan S3) bisa mabuk bersama dengan siswa2nya kala party seperti party akhir tahun, party menyambut siswa baru, atau party perpisahan. Siswa2nya juga bisa dengan bebas mabuk di depan senseinya. Mungkin karena manifestasi dari mabuk di Jepang hanya sebatas terpengaruh alkohol sehingga kurang dapat mengontrol kata-kata yang dikeluarkan. Sementara manifestasi mabuk di Indonesia mulai dari mengeluarkan kata2 kotor sampai merusak properti orang lain atau melakukan penganiayaan terhadap orang lain.
[Bersambung - Lanjut ke part 3]

Monday, March 12, 2012

Hal-hal unik di Jepang (1)

Ini tentang hal-hal unik di Jepang menurut ukuran saya. Saya cukup yakin, bagi orang Jepang sendiri (atau mereka yang sudah lama tinggal di Jepang), hal2 ini adalah hal yang biasa.
  1. Kendaraan utama mahasiswa adalah sepeda, bukan sepeda motor, bukan pula mobil. Walaupun di Indonesia sepeda motor Jepang sangat terkenal dan dipakai sebagian besar mahasiswa, ternyata di Jepang, para mahasiswa malah menggunakan sepeda atau berjalan kaki. Adalah sangat tidak biasa apabila seorang mahasiswa ke kampus dengan mengendarai kendaraan bermotor (apalagi mobil). Saya kira pemerintah Jepang telah menganalisa dengan hati-hati tentang dampak penggunaan kendaraan bermotor dari sisi polusi, resiko kecelakaan dan konsumsi BBM. Kendaraan bermotor Jepang pun akhirnya hanya dijadikan komoditas di negara-negara berkembang ketimbang di Jepang sendiri.
  2. TIDAK ADA sama sekali iklan rokok di televisi, di jalan-jalan ataupun sebagai sponsor kegiatan. Rokok hanya untuk mereka yang berusia 17 tahun ke atas dan HANYA diperbolehkan merokok di tempat yang bertanda khusus. Berbeda dengan Indonesia, yang  anak SD pun bisa dengan mudah mendapatkan rokok di warung dan area merokok yang relatif bebas.
  3. Setahun sebelum lulus, mahasiswa di Jepang akan mulai berburu pekerjaan dengan mengirimkan lamaran ke berbagai perusahaan. Di bulan pertama setelah mereka lulus (biasanya bulan April), mereka segera berpindah status dari mahasiswa menjadi pegawai/salary man. Di Indonesia, mengirimkan lamaran pekerjaan dilakukan setelah mendapatkan ijasah. Ada periode "stres" bagi sarjana yang setelah lulus, namun masih belum mendapatkan panggilan kerja. Ijasah - yang menjadi syarat melamar pekerjaan di Indonesia - membuat mahasiswa di Indonesia tidak punya banyak pilihan selain mencari pekerjaan setelah lulus (menerima ijasah).
  4. Naik eskalator (atau disebut "lift" di Indonesia) memiliki aturan tertentu, yaitu: sisi kiri untuk mereka yang "diam" dan sisi kanan untuk mereka yang bergerak/berjalan naik atau turun. Aturan ini dibuat agar mereka yang butuh untuk cepat/ingin segera tiba (di atas atau di bawah), dapat menggunakan sisi kanan. Di Indonesia, mereka yang pacaran bisa dengan santai bergandengan di lift dan memonopoli baik sisi kiri maupun kanan sehingga mengakibatkan lift menjadi "buntu". Orang di belakangnya tidak punya banyak pilihan lain selain ikut berdiri di belakangnya. 
  5. Sampah dipisahkan menurut jenis (1) sampah terurai (2) plastik (3) botol plastik (4) botol gelas/kaca (5) kertas dan karton (6) barang besar dan (7) barang berbahan kimia. Setiap jenis harus diletakkan dalam plastik sampah yang berbeda. Orang Jepang sejak kecil di sekolah telah dilatih melakukan klasifikasi sampah sehingga menjadi kebiasaan - dan negaranya menjadi negara yang sangat bersih. Level mereka bukan himbauan "membuang sampah pada tempatnya", tapi "membuang sampah sesuai dengan jenisnya". Kami, orang asing yang tinggal di asrama, sangat sulit melakukan klasifikasi sampah semacam itu, sehingga pihak asrama harus mempekerjakan 2 pegawai khusus yang mengklasifikasikan sampah setiap pagi. Saya sulit memprediksikan kapan Indonesia bisa sampai pada tahap pengelolaan sampah seperti di Jepang. Ah, eniwei, di Indonesia ada tukang loak yang bisa menerima (bahkan membeli) barang elektronik bekas seperti televisi, kulkas, mesin cuci, atau microwave. Di Jepang nggak ada tukang loak, dan buang sampah elektronik HARUS BAYAR (yang bisa sampe 1jt rupiah ongkos buangnya)!
  6. Kemampuan menulis karakter kanji orang Jepang masih kalah dengan orang China. Walaupun kanji adalah aksara utama yang digunakan di Jepang, namun ada banyak karakter yang bisa-dibaca tapi kesulitan (lupa) ketika disuruh menuliskan. Beberapa kali saya mendapati guru kelas Bahasa Jepang kami, mengucapkan suatu karakter, namun kesulitan untuk menuliskannya. Mahasiswa dari China atau Taiwan dengan santainya menuliskan karakter yang dimaksud.

Friday, March 9, 2012

Berapa harga ketenangan?

Ketenangan itu mahal.

Setidaknya itu yang saya pelajari minggu lalu.

Dua minggu lalu, saya baru selesai memperbaiki sebuah hitungan di research saya (tentang gerakan diafragma). Analisa menggunakan metode terdahulu, ternyata memiliki margin kesalahan yang cukup signifikan. Artinya, ketika gerakan diafragma dimodelkan dengan menggunakan metode yang lama tersebut, beberapa titik dapat meleset sampai 12mm - yang mana cukup berbahaya ketika diterapkan untuk aplikasi klinis seperti radioterapi pada tumor.

Sebuah paper memberikan ide bahwa pemodelan yang lebih baik dapat dilakukan dengan metode "tensor-based decomposition". Paper ini tidak secara eksplisit menuliskan bahwa metode ini juga dapat diterapkan untuk memodelkan gerakan (diafragma). Tapi, namanya juga research. Semuanya masih meraba-raba. Kalo sudah pasti hasilnya, bukan lagi disebut research, tapi sains.

Hasilnya menggembirakan. Margin kesalahan dari model gerakan diafragma menggunakan metode yang baru ini dapat diperkecil hingga di bawah 1mm. Artinya pemodelan gerakan diafragma menggunakan metode ini cukup akurat. Untuk aplikasi klinis-nya, para radiolog dapat mengamati gerakan diafragma menggunakan model tersebut karena model tersebut cukup representatif dalam mewakili gerakan diafragma secara umum.

Tentu sensei senang dengan hasil yang jauh lebih baik ketimbang pemodelan menggunakan metode terdahulu. Segera sensei meminta saya untuk menuliskan full paper  yang akan segera disubmit ke jurnal tertentu, termasuk membuat poster untuk poster session-nya.

Nah, hari itu hari Jumat, sore hari. Sensei mengunjungi Lab dan bertanya2 tentang metode "tensor-based" yang diterapkan untuk pemodelan gerakan diafragma itu.

Beliau menyampaikan bahwa  besok ada simposium di Kyushu dan akan mempresentasikan poster hasil penelitian terbaru dari labnya (termasuk pemodelan gerakan diafragma menggunakan metode terbaru yang baru aja kelar). Ini simposium tahunan yang akan dihadiri oleh akademisi di bidang medical imaging yang mendapatkan dana penelitian dari pemerintah. Semacam laporan pertanggungjawaban terhadap dana penelitian yang telah didapatkan.

Oh, itu sebabnya hari Jumat sore gini sensei ke lab dan nanya2 tentang metode terbaru itu, pikir saya. Tapi nggak sampe di situ...

"Gimana kalo kamu besok ikut saya ke Kyushu?" tanya sensei dengan santai... "Jadi kalau nanti ada yang bertanya tentang metode ini, nanti kamu yang jelaskan. Secara garis besar saya bisa paham metode ini, tapi nanti kalau ada yang nanya perhitungannya secara detail, bisa kamu jelaskan..."

"Jauh ya sensei?" tanya saya - masih buta posisi geografis di Jepang.

"Emm... 2 jam perjalanan... Dengan pesawat."

Great! Sama kayak Malang-Jakarta - kurang lebih 900 km. Saya kira, sistem akademik di Jepang menganut "apa yang diinginkan oleh sensei, itu adalah suatu perintah yang wajib dilakukan".

"Jangan kuatir dengan tiket (dan hotel). Lab akan ganti..."

Saya sebenernya nggak kuatir dengan tiket. Saya lebih kuatir hari Minggunya nggak bisa sampai ke Tokyo untuk ibadah.

Setelah saya yakin bahwa hanya menemani di poster session hari Sabtu sore, dan minggu pagi sudah bisa kembali ke Tokyo, segera tiket pesawat dipesan secara online. Harga normal tiket pesawat Tokyo-Fukuoka (Kyushu) adalah sekitar 20rb yen. Tapi karena pesan hari H-1, maka harga tiket lebih mahal 3x lipat, yaitu 67rb yen (yang setara dengan tiket pesawat Tokyo-Jakarta).

Itulah harga sebuah ketenangan menurut versi seorang profesor di Jepang. Ketenangan mengikuti simposium yang dihadiri oleh akademisi di bidang medical imaging dari seluruh Jepang... Dengan memastikan bahwa di poster session ada yang bisa memahami dengan detail apa yang tertulis di situ.

Catatan kecil:
Setelah poster session berakhir di hari Sabtu sore, saya masih belum tahu akan tinggal di hotel mana karena memang belum mem-booking hotel. Saya memutuskan untuk bertemu dengan seorang teman, sesama kolega dosen di Malang yang tempat tinggalnya 1 jam dari Fukuoka. Kami sama2 mengajar di tempat yang sama. Hampir 1.5 tahun kami nggak pernah bertemu. Hotel saya malam itu adalah apartment beliau, di mana kami bisa ngobrol2 santai sampai dini hari. Senang sekali bisa bertemu dengan beliau.