Friday, December 30, 2011

Bikin tempe

Sejak meninggalkan Indonesia bulan September tahun lalu, saya nggak bisa makan tempe. Pertama, karena tempe nggak gampang didapetkan di Jepang. Kalopun ada, harganya mahal... Beberapa potong tempe di Jepang setara dengan harga 1 paket pizza hut ukuran large di Indonesia. Jadi, di Jepang, kalo di meja makan  setiap hari masakah dengan bahan utama tempe, berarti si empunya rumah boleh dibilang orang kaya.

Kami agak nggak tega kalo mau beli tempe di Jepang (ya nggak tega belinya, ya nggak tega makannya).

Hingga beberapa minggu lalu (yang bertepatan dengan musim dingin), saya kepikiran bikin tempe sendiri. Masak ya orang Indonesia nggak bisa bikin tempe. Saya sempet surfing di Internet, nyari info gimana cara bikin tempe. Inti pembuatan tempe rata-rata sama.
  1. Bahan utama adalah kedelai kering (bukan jagung).
  2. Kedelai harus ditelanjangi dan dibelah dua. Cara paling gampang untuk menelanjangi kedelai adalah direbus terlebih duu sampe empuk. Cara tradisional adalah dengan direndam di air 24 jam. 
  3. Setelah kedelai telanjang dan terbelah dua, kedelai-kedelai itu mesti dikukus sampe empuk. Kalo nggak ada kukusan, ya direbus di dalam air. 
  4. Dalam keadaan telanjang, terbelah dua, dan dikukus, penderitaan kedelai nggak berhenti sampe situ. Kedelai-kedelai itu harus ditiriskan lalu ditelentangkan agar kering. Kalo mau dikeringkan dengan cara dihanduki satu-satu juga boleh. Saya memilih cara praktis dengan meng-hair-dryer kedelai-kedelai telanjang yang bergelimpangan di atas baki beralaskan tissue itu. 
  5. Setelah kedelai2 itu agak kering, taburkan ragi tempe (bukan ragi tape karena saya nggak pengen makan tempe rasa tape). Menurut informasi, takaran untuk 1kg kedelai, ragi yang ditabur seberat 2gram. Saya nggak bisa percaya. Masak kedelai 1kg cuman dapet jatah ragi 2 gram?? Saya mencoba menaburi ragi sesuai feeling saya. Jadi jujur saya nggak tau berapa banyak ragi yang saya tabur di kedelai (kalo ini penelitian di lab, maka tempe-nya nggak qualified untuk dipublikasikan... dalam penelitian, semua parameter harus tercatat dengan jelas dan detail, nggak boleh pake feeling - buat saya cooking is an art, not science). Anyway, saya dapet kiriman sample ragi gratis dari situs tempeh.info, dikirim dari Belgia.
  6. Kedelai yang sudah ditaburi ragi, segera dimasukkan ke dalam plastik (atau kabarnya lebih baik daun pisang). Ditutup rapat dan padat, kemudian di permukaan plastik diberi lobang-lobang secara sporadis. Intinya agar ada udara masuk sehingga jamur bisa tumbuh.
  7. Menurut informasi berikutnya, kedelai dalam plastik itu mesti didiamkan di tempat kering dengan suhu kamar (di Indonesia). Karena musim dingin, suhu kamar kami mencapai 5 derajat, yang kabarnya nggak ideal untuk menumbuhkan jamur tempe. Peduli amat dengan suhu. Kami meletakkan kedelai yang telah bercampur ragi itu di tempat kering dalam suhu sesuai dengan suhu kamar kami. 
  8. Teorinya, setelah 36 jam akan muncul serabut2 tipis berwarna putih yang melekatkan kedelai tadi - ato dengan kata lain, kedelai berubah jadi tempe. Tapi, kami menunggu, kedelai masih tetaplah kedelai. Tidak ada tanda2 akan jadi tempe.
  9. Kalau sudah seperti ini, ucapkanlah mantra tempe yang bunyinya, "Hai kedelai! Besok kamu harus jadi tempe... jadi tempe... jadi tempe...!" (Diucapkan beberapa kali di depan kedelai dengan suara keras)
  10. Keesokan harinya, pop...! Jadilah tempe.
Catatan:
  • Tempe itu  kami goreng, lalu kami makan untuk makan malam.
  • Rasa tempe sangat dipengaruhi oleh rasa kedelai. Rasa kedelai di Jepang, lebih manis (dan lembut) dari kedelai di Indonesia, sehingga rasa tempe juga lebih manis.


Wednesday, December 28, 2011

Chicago Trip

Chicago, 27 Nov - 4 Des 2011.

Just a simple note about my first trip to the US.

First of all, saya sengaja memilih tinggal di hotel yg jauuuh dr tempat seminar. Hari pertama tiba di bandara O'Hare, Chicago, saya memutuskan beli tiket kereta + bus terusan (Pass card) yang valid selama 7 hari seharga $28. Artinya saya bisa kemanapun di pelosok Chicago menggunakan tiket ini. Keputusan yang saya nobatkan sebagai keputusan terbaik sepanjang perjalanan saya di Amerika.

Dari hotel ke tempat seminar, berjarak 2 jam (yg ternyata takes 3.5hrs on the first day)... Rutenya 2 kali pindah kereta dan 1 kali naik bus (plus jalan kaki beberapa puluh meter). Kok milih yang jauh gitu?

Perjalanan yg jauh (saat naik kereta ato bus), membuat saya bisa lbh paham budaya org2 lokal (walopun artinya saya harus bangun jam 5 pagi untuk bisa tiba di tempat seminar tepat waktu). Pengalaman berinteraksi dgn org2 lokal, tidak akan bisa saya dapatkan seandainya jarak hotel ke tempat seminar bs ditempuh dgn jalan kaki.

Amerika, yang biasanya cuma saya tonton dari film-film Hollywood, ternyata beda kalo kita berada langsung di sana (setidaknya menurut saya). Nggak seperti Jepang yang cenderung homogen (satu ras dengan tipikal orang2 yang nyaris sama di seluruh Jepang), Amerika negara yang memiliki banyak keragaman (dan menghargai keragaman). Di kereta mudah sekali ditemukan orang asia dari berbagai bangsa, amerika latin, ato kulit hitam... Sesekali  terdengar bahasa Inggris dengan berbagai logat. Di kereta atau di bus, ketika sedang menerima telepon, mereka akan berbicara dengan suara normal, sehingga siapapun bisa mendengarkan apa yang dibicarakan. Di Jepang, tidak banyak orang yang menelepon ato menerima telepon di kereta/bus. Kalopun harus menerima telepon di bus atau di kereta, mereka akan bicara dengan suara yang nyaris tak terdengar agar orang di sebelahnya tidak merasa terganggu.

Karena banyak orang dari berbagai ras, maka sulit membedakan apakah seseorang warga negara amerika ato orang asing. Dan sepertinya orang2 Amerika sudah terbiasa dengan keberagaman semacam itu. Saya tidak terlalu merasakan adanya diskriminasi karena wajah Asia saya atau karena saya berbicara dengan Bahasa Inggris dengan entah-aksen-apa (orang Amerika juga tidak terlalu peduli dengan aksen sejauh dia bisa memahami). Saat naik bus, kereta, atau di supermarket, saya diperlakukan sama seperti orang2 yang lain, tidak ada perbedaan. Beda dengan di Jepang. Orang Jepang sedikit jaim ketika berhadapan dengan orang asing... Either terlalu ramah atau terlalu menjaga jarak.

Buat saya, Chicago adalah tempat yang menarik. Menarik untuk dikunjungi, tapi (setidaknya sampe sekarang) bukan tempat yang cocok (bagi saya) untuk dijadikan tempat tinggal tetap. My home will always be in Indonesia.


Friday, December 23, 2011

First fruit

Jadwal nge-lab itu sama kayak jam kerja, standardnya 8 jam sehari, 5 hari seminggu. Tapi bisa sibuk banget sehingga seringkali lebih dari 40 jam per minggu (you know, this is Japan, where hardworking is valued more than anything). Contoh kesibukan yang sampe bikin menyita waktu misalnya surfing internet, nyari2 film baru, facebook-an, twitter-an, ato nge-blog. Ah, nevermind, those activities do really time consuming...

Ketika mau berangkat ke Jepang, saya selalu mikir kepingin bisa punya part-time job di Jepang. Simply karena beasiswa yang saya dapetkan nggak cukup... Nggak cukup buat beli mansion, BMW, dan bangun pabrik. That's why saya pingin dapet part-time job.

Unfortunately, karena kesibukan di lab tadi, selama setahun di Jepang saya nggak (bisa) punya part-time job walopun banyak tawaran part-time diiklankan di majalah2. Mulai dari kerja yang butuh sedikit tenaga seperti di restoran, supermarket sampe kerjaan yang butuh tenaga besar seperti di konstruksi, pabrik, angkat2 barang, laundry atau house cleaning.  Upah kerja 8 jam sehari bisa dipakai buat makan2, jalan2 Tokyo Disneyland plus belanja2, sementara kalo kerja selama setahun penuh, 7 hari seminggu, gaji yang dikumpulkan either bisa dipake buat beli BMW ato mondok di rumah sakit karena jatuh sakit gara-gara kecapekan.

I was not lucky enough (or lucky enough?) not to have one of them... until couple days ago. Couple days ago, I saw a flyers at International student division about Teaching assistant vacancy. It is a program for senior high school students that conduct a science experiment. All the instruction of the experiment will be conducted in English and some teaching assistants who speak English are urgently needed to accompany the students during the experiment.

(Ini merupakan proyek dari Fakultas Pendidikan Universitas Chiba untuk mengajar para siswa SMA agar nggak takut dengan science experiment sekaligus bahasa Inggris - yang mana mata pelajaran Bahasa Inggris menjadi momok bagi sebagian besar siswa SMA di Jepang - Tujuan jangka panjangnya adalah mencetak ilmuwan-ilmuwan kelas dunia yang fasih dengan Bahasa Inggris)

Soon, I applied for the teaching assistant vacancy and got interviewed by one of the professor who is in charge for the project. Saya diterima dan hari ini (yang mana adalah hari libur) resmi menjadi teaching assistant menemani mereka dalam eksperimen tentang ekstraksi minyak (fat) pada makanan.


Yay, kerja paruh waktu pertama saya di Jepang adalah teaching assistant. I love it! Back in Indonesia, I'm a teacher anyway. My dad was a teacher, my mom was a teacher, my sister (also) used to teach. Even my wife, was a teacher! Well, I guess,teaching is our family business.


I'm glad that my first fruit in Japan comes from teaching stuffs!



Thank you Lord...  Thank you for leading me to the path You want me to do... Strengthen me to always stay faithful to Your calling. Amen.


* first fruit is a specific term in the Bible. Since this posting is not Bible study, you may find the explanation somewhere else.

Wednesday, December 21, 2011

Saintis vs artis

Suatu ketika, seorang peraih nobel Fisika dari Jepang, Prof. Koshiba, diinterview oleh NHK. Salah satu pertanyaan yang menarik adalah ketika beliau ditanya, mana yang lebih jenius, fisikawan Albert Eintein atau musisi Mozart.

Setelah berpikir sejenak, Prof. Koshiba menjawab bahwa yang lebih jenius adalah musisi Mozart. Alasannya  Albert Einstein hanya merumuskan apa yang sudah ada di alam. Seandainya relativitas tidak ditemukan oleh Albert Einstein, maka somehow, fisikawan lainlah yang akan merumuskan... begitu menurutnya. Saya setuju. It's just a matter of time. Sama halnya dengan penemuan bola lampu oleh Thoma Alva Edison. Saya sering mendengar kelakar bahwa kalau tidak ada Thomas Alva Edison, maka dunia saat ini akan menjadi dunia yang gelap... Mungkin juga, tapi saya lebih cenderung pada kemungkinan bahwa orang lain lah yang akan menemukannya lampu pijar seandainya Edison menyerah pada kegagalannya.

Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh musisi Mozart yang mengkomposisi puluhan musik klasik. Jika Mozart tidak pernah lahir, puluhan atau ratusan tahun kemudian, belum tentu (secara statistik sangat kecil kemungkinan) akan muncul komposisi musik seperti yang diciptakan oleh Mozart... It's an art. It's unique.

Saya senang dengan sains. Saya senang mempelajari hal-hal yang masih belum tersingkapkan oleh pengetahuan saat ini. Saya bangga, seandainya menjadi orang  pertama yang berhasil merumuskan salah satu "rahasia" alam lewat penelitian yang saya lakukan... Tapi, benar apa yang diungkapkan Prof. Koshiba... Alam terbuka untuk diselidiki oleh semua orang. It's just a matter of time. Siapa lebih dulu menemukan apa.

***

Manusia adalah karya seni dari Tuhan. It's unique. Jika kita nggak pernah muncul di bumi, maka sampai kapanpun, kita akan pernah "ditemukan". Semua karya kita, apa yang kita pikirkan, lakukan, ucapkan selama hidup di bumi juga unik - dan somehow memengaruhi orang lain.

Saya sangat yakin, bahwa ketika Tuhan menciptakan manusia, adalah kehendakNya agar apa yang kita pikirkan, lakukan, ucapkan, dan kerjakan membuat dunia menjadi lebih berwarna. Warna-warna itu, pada waktunya, seharusnya membuat dunia semakin terang - bukan sebaliknya malah membuat dunia tambah gelap.


Tuesday, December 6, 2011

Pak Dengklek dan mimpinya


Pak Dengklek dulu adalah peternak bebek. Bebeknya ratusan. Sekarang, Pak Dengklek bukan lagi peternak bebek. Tahun lalu, Pak Dengklek melanjutkan studinya di Jepang, dia mengambil riset tentang teknologi medis bebek (kelak, sekembalinya dari Jepang, Pak Dengklek berharap agar tidak banyak bebek yang mati sia2 karena peralatan medis yang tidak menunjang).

Setahun di Jepang, Pak Dengklek merasa terkagum2 dgn budaya, lingkungan, kehidupan sosial, dan teknologi yang ada.

Sebagian besar masyrakat yg ditemui Pak Dengklek selama ini benar2 ramah dan sopan. Kata2 seperti "maaf merepotkan", "tolong ya...", "terima kasih", "ah, tidak apa2" sangat sering terdengar dlm percakapan sehari2, bahkan untuk hal yg remeh-temeh. Bahasa tubuh menganggukkan kepala dan tersenyum tanda respek antar kolega juga menjadi bagian yg umum dlm kehidupan sehari2.

Transportasi begitu teratur. Selama hidup di Jepang, Pak Dengklek hanya 2 kali mendengar suara klakson mobil dibunyikan. Kereta yang menjadi salah satu media transportasi utama, nyaris tidak pernah terlambat. Ketika tertulis kereta akan tiba pk 10.24, maka ketika menit sudah tertulis "24" (pada jam stasiun), kereta bisa dipastikan muncul. Kereta tidak akan muncul di menit "23" atau "25". Iya, the trains are neither earlier nor late even for a minute. Disiplin tepat waktu ini nampak terlihat di kehidupan sehari2 masyarakatnya.

Semangat untuk kerja keras dan tidak mudah menyerah juga jadi bagian dari masyarakatnya. Dan hebatnya, semangat ini tidak hanya berlaku untuk golongan tertentu. Jika ada orang yg sdh kaya, bukan berarti dia  berhenti kerja keras. Jika sudah dapat gelar profesor, bukan berarti terus gak ganbarimasu dlm meneliti dan menulis. Jika sudah jd pejabat ato dewan perwakilan rakyat, bukan berarti bisa males2an. Jika sudah disebut "sensei" (dokter, dosen, senior) bukan berarti main perintah semena2 sementara dia sendiri nggak kerja. Semangat kerja keras dan tidak mudah menyerah ditanamkan sejak di TK dan berlanjut sampe perguruan tinggi.

Tentu, semua hal2 positif yg dialami Pak Dengklek selama di Jepang, nantinya akan diterapkan sekembalinya Pak Dengklek ke kampung halamannya. Pak Dengklek ingin memajukan kampung halamannya agar menjadi kampung yang beradab. Selama ini kampung Pak Dengklek sering mendapat reputasi negatif, yang korupsi, yg masyarakatnya nggak disiplin, yg nggak tepat waktu, yg malas, yg lbh mementingkan kepentingan pribadi ato kelompoknya ketimbang kepentingan umum, yg hukumnya carut marut, dan sebagainya. Padahal, kampungnya sangaaaat kaya akan sumber daya alam. Tapi, tetap dalam kekayaannya, masih belum bisa semaju kampung-kampung tetangganya, in term of pendapatan per kapita. Padahal kampung2 tetangga tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah. Anyway, dalam semua hal positif dan negatif dari kampung halamannya, Pak Dengklek nggak malu mengakui bahwa dia berasal dari kampung halaman tersebut.

Malahan, dgn berbagai hal negatif itu, semakin mantaplah niat Pak Dengklek untuk bisa menerapkan ilmu yg didapatkan, serta menerapkan berbagai hal positif yg telah dipelajarinya selama di Jepang. Pasti kampungnya akan jadi lebih baik, pikir Pak Dengklek.

Tapi, tunggu dulu! Tiba2 Pak Dengklek ingat sesuatu.

Berapa banyak mereka yg juga sekolah di luar negeri, lulus lalu kembali ke kampung halamannya? Ratusan ribu kepala!  Bukannya mereka jg mengalami apa yg dialami pak Dengklek selama studi? Bukannya mereka tahu persis bagaimana nyamannya hidup ketika sistem ekonomi sudah stabil? Bukannya mereka jg mendapat gemblengan disiplin dan tepat waktu selama studi di sini? Bukannya mereka adalah orang2 pintar yang dididik lalu kembali ke kampung halamannya?

Tapi kenapa kampung halaman yg dipenuhi ratusan ribu lulusan luar negeri tetap jd kampung yang terbelakang? Yang masyarakatnya kacau? Yang banyak koruptor? Ke mana gerangan orang2 pintar itu? Kenapa tidak banyak pengaruh yang bisa diberikan oleh orang2 pintar lulusan luar negeri tersebut?

Mungkin... pikir Pak Dengklek, ...mereka meninggalkan kampung halaman itu untuk bekerja di kampung lain. Di kampung lain, orang2 pintar itu digaji lebih tinggi, diberikan berbagai fasilitas, dan  di-orang-kan. Setidaknya, mreka masih membawa identitas kampung halamannya. Mungkin orang2 pintar itu akhirnya menyerah dgn idealisme mereka karena tidak pernah bisa berhasil mengubah kondisi sekitarnya untuk menjadi lebih baik... akhirnya acuh, gak lagi peduli dengan apa yg terjadi. Yg lbh parah, org2 pintar lulusan luar negeri itu terbawa arus, dan mengikuti budaya buruk yg sudah begitu kuat mengakar.

Dalam idealismenya, Pak Dengklek menjadi kuatir.

(Minneapolis, Nov, 28 1.05pm, saat menunggu penerbangan transfer ke Chicago... Just a thought tentang issue yang dilontarkan seorang kolega tentang "lulusan luar negeri, yang akhirnya memutuskan untuk kerja di luar negeri")