Saturday, October 22, 2011

The X Factor Judges

Saya bukan TV junkie - yang menghabiskan puluhan jam per minggu di depan TV. Tapi ada beberapa TV show yang (sekarang) saya gemari. Bukan cuma suka, tapi really... really love.

Untuk acara TV Indonesia, saya suka Stand up comedy. Ada beberapa comedian favorit saya yang joke-nya cerdas, nggak lebai atopun maksa. Ernest Prakasa dan Raditya Dika adalah beberapa di antaranya.

Dulunya saya suka American Idol, tapi sejak juri eksentrik, Simon Cowel, nggak lagi jadi juri di American Idol, saya jadi kurang mengikuti American Idol. Daya tariknya jauh berkurang. Sebagai gantinya adalah The X Factor (US), yang mana si Simon is (finally) back. The show was broadcasted last September. It's just like what I've expected! Great show!

Inti acaranya tetap singing competition, tapi The X Factor dikemas berbeda dengan American Idol. Siapapun boleh ikut. Pria, wanita, usia 17 tahun ato 71 tahun, solo, ato group. Nggak ada batasan sama sekali seperti di American Idol. Jurinya ada 4 orang, si "L.A" Ried, Paula Abdul, Simon Cowel dan juri baru Nicole Scherzinger. Audisi dimulai di depan ke-4 juri dan ribuan penonton. Untuk dapat lolos ke babak berikutnya (boot camp), peserta audisi harus mendapatkan setidaknya 3 yes dari juri. Faktanya, nggak ada penyanyi yang hanya mendapatkan 2 yes (atau 1 yes). It is either 3-4yeses ato 4nos. Mutlak diterima atau mutlak ditolak. Definitely, para juri bener2 bisa spotting the talented one.

Setelah babak boot camp, peserta diseleksi lagi untuk masuk di babak "mentoring". Ke-empat juri akan "mementor" satu kategori. Simon mementor 8 peserta dalam kategori girls, Paula mementor 8 peserta dalam kategori group. L.A Ried mementor 8 peserta dalam boys dan si cantik Nicole mementor 8 peserta dalam kategori above 30 (untuk mereka yang telah berusia di atas 30).

Grand prize kontrak menyanyi 5 juta dolar adalah salah satu daya tarik acara ini. Kisah-kisah latar belakang pesertanya membuat acara ini menjadi semakin emosional. Go watch by yourself (at youtube) if want to watch a good quality TV show.

Anyway, saya ingin menjadi seperti para juri itu. Bukan pada bagian menilai kualitas suara karena jelas saya nggak kompeten. Tapi pada bagian bahwa para juri ini melakukan sesuatu yang sangat mereka nikmati. Saya yakin sekali mereka menikmati apa yang mereka lakukan dan bukan terpaksa. Kalo kita bener2 suka nyanyi, lalu mementor penyanyi2 muda yang sangat berbakat, melihat performa mereka, memberikan komentar, mengajarkan teknik2 menyanyi yang telah kita peroleh lewat pengalaman, tentu kegiatan itu  benar2 mengasyikkan.

Kalo kita punya passion di bidang desain atau seni, kemudian kita diminta "bekerja" untuk melihat desain, lukisan, atau karya2 seni dari seniman muda yang berbakat, mengajar mereka, mengasah mereka agar menjadi semakin cemerlang dalam bakat mereka, tentu it's reallllly fun!

Kalo kita seorang pengarang, bener2 suka nulis (dan baca), kemudian diminta untuk melakukan seleksi terhadap ratusan naskah, most likely dalam 1-2 halaman, kita bisa easily spotting whether someone is talented or not. Dan tentu, pekerjaan semacam itu, bisa amat... amat... kita nikmati.  It doesn't look like a hard work at all.

As for me, to be a researcher is my passion (as well as a lecturer and a writer). Berada di Jepang untuk studi, meneliti, kemudian mempublikasikan hasilnya kepada  publik lewat conference ato journal, bener2 saya nikmati... Moreover, setelah lulus, saya akan kembali untuk mengajar. Perfect! Setiap pagi ketika berangkat ke lab, saya tidak merasa sedang "bekerja".  Saya merasa sedang bersenang-senang. Mungkin ini yang dirasakan oleh juri-juri The X Factor itu. They're not working. They're having fun and they're highly paid for something that love to do.

Dan pertanyaan 5 juta dolar-nya adalah: what's your passion? And the most important is, are you living in that passion?


Tuesday, October 18, 2011

Kehilangan muka

Kehilangan muka adalah istilah untuk malu.

Entah kenapa bisa diistilahkan dengan "kehilangan muka". Mungkin ketika seseorang begitu malu terhadap terhadap suatu kejadian atau terhadap orang lain, dia jadi tidak berani menatap atau berhadapan face-to-face dengan orang yang bikin dia malu. Karena muka-nya tidak berani dihadapkan, maka dia disebut "kehilangan muka".... Whatever.

Di sini, saya menemukan bahwa orang-orang Jepang, sangat... sangat... tidak mau menghilangkan muka orang lain - dan sebaliknya.

Minggu lalu, saya mengantar istri ke dokter gigi. Dokternya masih (nampak) sangat muda dan ramah. Ketika menjalani perawatan, dia memberikan kepada kami secarik kertas dengan gambar dan tulisan kanji di dalamnya... Isinya kurang lebih menjelaskan bakteri-bakteri yang ada di dalam mulut/gigi dalam bahasa orang awam. Tahu bahwa kami adalah orang asing, beliau berusaha menjelaskan kondisi gigi secara perlahan-lahan dalam bahasa Jepang yang sederhana. Namun tetap saja, kami "miss" beberapa istilah yang disebutkan oleh dokter gigi yang ramah itu. Dia berusaha menerjemahkan beberapa kata yang tidak kami mengerti dalam bahasa Inggris.

Sampai pada suatu waktu di tengah penjelasannya, dia bertanya, "Eigo daijobu?" (pakai bahasa Inggris oke?). Saya menjawab "haik, daijobu desu..." - sedikit kuatir kalau-kalau nanti kami kesulitan memahami bahasa Inggris dokter muda ini. Dalam pikiran saya, kalau memang dia bisa berbahasa Inggris, mengapa dari pertama dia harus repot-repot menjelaskan kepada kami dalam Bahasa Jepang?

Dia mulai menjelaskan dengan Bahasa Inggris perlahan-lahan, dengan grammar yang baik dan benar - seperti berbicara kepada seorang anak. Ketika dia melihat respon kami yang lebih paham Bahasa Inggris ketimbang Bahasa Jepang, maka tanpa sungkan lagi dia berbicara dalam Bahasa Inggris as if it were his first language! Bahasa Inggrisnya luar biasa bagus. Tidak ada aksen Jepang sama sekali. Saya menduga dia lulusan Amerika. Komunikasi kami menjadi sangat lancar, dan istri saya jadi tahu persis kondisi giginya.

Kenapa sejak pertama si dokter muda itu tidak menggunakan Bahasa Inggris kepada kami walaupun Bahasa Inggrisnya sangat fasih? Saya menduga... Pertama, dia rendah hati, tidak mau menyombongkan diri (seperti kebanyakan orang Jepang). Kedua dia tidak mau membuat kami kehilangan muka. Seandainya dia menggunakan Bahasa Inggris, lalu kami malah tambah nggak nyambung (karena nggak ngerti bahasa Inggris), maka keadaan jadi nggak nyaman bagi kami (si pasien). Si pasien akan merasa kehilangan muka... merasa malu karena tidak bisa berbahasa Inggris.

Ketika kami pulang, saya sempat memperhatikan beberapa sertifikasi dari si dokter muda, yang dipajang di ruang tunggunya.

Ada gelar Ph.D di belakang nama si dokter itu. Most probably, he graduated from the US University.


Monday, October 17, 2011

Indonesia negara berkembang, so what?

Dulu (entah saya masih SMP atau SMA), di pelajaran geografi, sering disebut-sebut bahwa Indonesia adalah negara berkembang, sedangkan Amerika adalah negara maju. Tentu, saat itu saya tidak bisa benar-benar membayangkan apa beda negara berkembang dengan negara maju. Dalam kerangka pikir seorang anak yang berusia belasan tahun, negara maju adalah negara yang teknologinya maju. Banyak mobil, banyak pabrik, banyak barang-barang canggih.

Sekarang, saya tahu bedanya dengan lebih jelas (setelah merasakan hidup di negara maju).

Salah satu beda yang menarik antara negara berkembang dengan negara maju adalah sistem ekonomi. Saya bukan ahli ekonomi. Tapi saya mengamati, di negara maju, sistem ekonomi sudah stabil, sehingga siapapun yang mau bekerja keras, maka standard kehidupannya akan meningkat. Dia dapat menikmati apa yang bisa dinikmati "orang kaya". Contoh, di Jepang banyak sekali lowongan kerja part-time. Di stasiun, majalah yang memuat ratusan lowongan kerja part-time (ataupun full-time) bisa diambil dengan cuma-cuma. Pekerjaan mulai dari yang gampang (seperti menjadi kasir, menata barang di supermarket, mencuci piring di restoran, pengantar susu/makanan), yang butuh tenaga (bongkar bangunan, konstruksi, mengolah makanan, atau melakukan sortir  barang2), yang butuh skill (desain, operator komputer, menjadi guru les, merangkai bunga), yang berhubungan dengan entertainment dan sebagainya. Intinya, siapapun dia (entah anak SMA, mahasiswa, ibu rumah tangga ataupun bapak rumah tangga) pasti akan ada pekerjaan yang bisa dilakukan.

Berapa upahnya? Upah rata-rata adalah 1.000 yen (atau setara Rp. 100rb) per jam. Kalau mau kerja keras, misalnya pagi kerja di supermarket selama 8 jam, lalu malamnya kerja di konstruksi selama 6-8 jam (karena sebagian besar konstruksi dikerjakan saat malam hari - agar tidak terlalu mengganggu lalu lintas), maka dalam sehari dia bisa mendapatkan 16rb yen. Untuk makan 3x sehari, kira-kira menghabiskan 2rb yen (masih sangat surplus). Jika dalam sebulan bekerja 25 hari (sabtu-minggu istirahat), maka dalam sebulan kurang lebih bisa mendapatkan 400rb yen (16rb perhari kali 25 hari). Untuk sewa apartemen dan biaya bulanan (gas, listrik, dan air), kurang lebih 50rb yen. Untuk makan kurang lebih 60rb yen. Dengan kerja keras, kebutuhan pokok (makan, rumah dan pakaian) bisa dipenuhi tanpa kekurangan. Malah, bisa saving 200-250rb yen setiap bulannya.

Dari saving tersebut, kalau dia ingin membeli mobil city car baru (yang harganya 1jt yen), maka dia cukup saving selama 5 bulan dan sudah dapat menikmati mobil baru gresss. Kalau dia ingin jalan2 ke luar negeri (yang kurang lebih menghabiskan 300rb yen untuk 1 minggu pelesir di Bali), dia cukup saving selama 2 bulan. Kalau dia ingin Ipad2 ato Iphone 4s (yang harganya kira-kira 50rb yen), kurang dari setengah bulan dia sudah bisa membeli. Teknologi seperti laptop, hp, tablet bukan impian yang susah diraih. Asal mau kerja keras dengan gaya hidup yang tidak konsumtif, maka dalam beberapa bulan, barang-barang itu bisa terbeli (dan tentu kebutuhan pokoknya tetap dapat terpenuhi).

Ini kontras dengan keadaan di negara berkembang. Di Indonesia, saya banyak menemui orang-orang yang bekerja dengan sangat keras (dari pagi sampe malem, kaki jadi kepala dan kepala jadi kaki), tapi penghasilannya pas-pasan. Jangankan beli mobil, untuk kebutuhan pokok-pun sudah untung kalo bisa dipenuhi tanpa berhutang. Anak-anak mereka diusahakan untuk sekolah, namun ketika biaya sekolah semakin membebani, maka tidak banyak pilihan... Kemungkinan tidak melanjutkan sekolah - dan anak-anak tersebut, mulai terjebak untuk mengikuti pola kerja orang tuanya. Bekerja keras, namun penghasilan yang didapatkan pas-pasan.

Saya yakin, orang-orang ini bukan orang yang malas. Mungkin karena tidak memiliki skill atau kepandaian (gara-gara tidak dapat melanjutkan sekolah), maka dia tidak bisa kerja dengan penghasilan layak. Walaupun mereka nggak kepingin seperti itu, tapi tidak banyak yang bisa dilakukan selain tetap bekerja dari pagi sampai malam. Sekedar melanjutkan hidup. Barang-barang kebutuhan sekunder, seperti hp canggih, laptop, komputer, mobil atau bepelesir ke luar negeri hanyalah impian di siang bolong.

Entah sampai kapan. Atau lebih tepat entah sampai generasi ke berapa pola hidup kerja-keras-tapi-hasil-pas-pasan akan dialami.

Indonesia sekarang adalah negara berkembang. Kerja keras bukan jaminan mendapatkan hidup layak.
Tapi suatu saat harus jadi negara maju... Sehingga siapa pun yang mau kerja keras, harus bisa mendapat standard hidup yang layak.



Wednesday, October 12, 2011

Going to Chicago

Not a really good time for blogging, tough.... but I blog anyway.

Hal apa yang menyenangkan bagi seorang saintis? Buat saya, hal yang menyenangkan ketika hasil penelitiannya diakui oleh komunitas ilmuwan di bidang yang sama. Dapet pengakuan bahwa memang hasil penelitian tersebut penting, berguna, dan perlu disebarkan agar dapat disitasi (atau dipakai sebagai landasan penelitian berikutnya). Dengan demikian, ilmu pengetahuan akan semakin berkembang dan semakin lengkap (walopun saya nggak yakin juga apa bisa manusia melengkapi seluruh ilmu pengetahuan yang ada).

Nah, beberapa bulan lalu (iya, sudah agak lama), saya dapet konfirmasi bahwa hasil penelitian kami (jamak, saya nggak berani mengklaim hasil penelitian "saya") diterima dan kami diundang untuk mempresentasikan di RSNA 2011 annual meeting bulan November mendatang yang kali ini diadakan di Chicago. RSNA kepanjangan dari Radiology Society of North America, atau komunitas radiolog amerika (walopun ada kata radio, tapi mereka bukan peneliti atau tukang servis radio). Radiolog mengacu pada radiologist - yaitu mereka yang memiliki spesialisasi untuk mendiagnosa atau memberikan treatment terhadap suatu penyakit berdasarkan citra medis (seperti X-Ray, CT-Scan atau MRI). Seneng juga, mereka (para radiolog Amerika itu) menganggap hasil penelitian kami cukup layak untuk dipresentasikan di acara tahunan mereka (yang akan dihadiri oleh ribuan peneliti, akademisi, radiolog, dokter dari lebih dari 100 negara - http://rsna2011.rsna.org). Awesome!

Lebih seneng lagi, ketika tau bahwa lab (atau kampus?) di tempat saya, cukup berduit untuk membiayai seluruh akomodasi di Chicago. Presentasinya cuman 30 menit, tapi karena international conference, tentu ada macem-macem workshop/kelas yang bisa diikuti pesertanya (plus jalan-jalan). Sensei pembimbing dengan sangat pengertian mengatakan, "I only stay for three days, but of course you can extend if you want to... This is a chance for you to see America." Tau aja Pak Sensei kalo saya baru pertama kali travelling ke Amerika. Jadilah saya akan stay selama 6 hari di Chicago dari 28 Nov sampai 3 Des, dari hari Senin sampai Sabtu. Hari Kamis, conference sudah berakhir, dan hari Jumat-nya saya bisa bebas berpetualang di Chicago.

So excited! Dulu nggak pernah kebayang bisa jalan2 ke Chicago. Dibayarin pula.