Thursday, September 22, 2011

Sarasehan ala Jepang

Minggu lalu, di lab ada acara training camp ato istilah aslinya adalah Gassyuku (合宿). Kalo dicari di kamus, arti yg muncul adalah training camp. Tapi nggak bener2 pas, karena yg kami lakukan bukan camp atau kemah di hutan. Mungkin istilah yang paling mendekati dalam bahasa Indonesia adalah "sarasehan".

Kami, seluruh anggota lab, pergi ke Nagoya, 4 jam perjalanan dari Tokyo. Menginap selama 3 hari 2 malam di sebuah penginapan tradisional. Penginapannya sangat alami. Di depan penginapan, ada danau yg luas dan disekeliling nampak hijaunya pengunungan.

Seperti budaya orang Jepang pada umumnya, acaranya tentu nggak cuman duduk2 menikmati pemandangan alam ato main2 sepanjang hari. Anggota lab (yang berjumlah 14 orang) dibagi jadi 3 tim yg diberikan suatu topik untuk dipresentasikan dan didiskusikan dalam 2 sesi. Tapi never mind tentang presentasi dan diskusi itu...

Ada banyak pelajaran yang saya dapatkan selama Gasyuku, yang merupakan acara tahunan lab ini:
  1. Untuk pertama kalinya saya berendam di onzen. Yg disebut onzen adalah kolam air panas di mana orang2 yg berendam di dalamnya harus TELANJANG bulat. Benar-benar bulat, nggak boleh lonjong atau oval. Butuh nyali besar untuk melakukannya - karena dari tempat melepas baju sampai ke kolam onzen, jaraknya sekitar 20 meter. Sebelum masuk ke kolam onzen, diwajibkan mandi di public bath. Sekali lagi, dibutuhkan nyali untuk mandi bersama dengan orang-orang yang tidak dikenal dalam keadaan telanjang. 
  2. Salah satu sesi di Gasyuku ini adalah sesi olahraga. Di jadwalnya tertulis olahraga Tenis. Sebagai orang Indonesia, saya membayangkan acara sport ini adalah acara santai. Mungkin sebagian pegang raket. Sebagian lagi duduk-duduk sambil ngobrol. Sebagian lari-lari ngejar bola, mukul bola nggak jelas arahnya. Lalu bola akan berterbangan ke sana kemari.  Ternyata nggak begitu. Jadwal pertandingan tenis sudah disusun dengan rapi. Siapa berpasangan dengan siapa dan siapa berhadapan dengan siapa. Sistem kompetisi diterapkan, masing-masing pasangan akan berhadapan dengan setiap pasangan yang lain tepat sekali. Jadi setiap tim akan bermain sebanyak 6 kali (berhadapan dengan pasangan yang berbeda). Detail dan sangat terencana. 
  3. Semua jadwal yang tertulis, dilaksanakan dengan sangat tepat waktu. Sesi diskusi pertama dimulai pukul 9, maka tepat pukul 9 semua telah berada di ruangan dan moderator mulai membuka acara. Demikian juga selesainya. Makan malam mulai pukul 18, maka tepat pukul 18 semua tiba di ruang makan. Acara party pukul 20, maka tepat pukul 20 semua telah tiba di tempat dan party dimulai. 
Saya membayangkan kalau orang Jepang tinggal di Indonesia, mungkin akan stress. Dapet undangan rapat RT yang tertulis jam 18.00, tapi bapak-bapaknya baru muncul pk. 19.00 - itupun mungkin masih belum dimulai. Masih ngobrol ngalor ngidul. Kalo di undangan ditulis waktu: 18.00-selesai, maka "selesai" itu suatu variabel yang nggak bisa dipastikan. 

Ada pemeo yang bilang, "Orang Jepang itu menulis apa yang akan dikerjakan dan mengerjakan apa yang ditulis." Sisi positifnya adalah pekerjaan akan menjadi rapi dan masing-masing tahu apa yang menjadi tugasnya. Tapi ketika ada hal di luar jangkauan, ada kasus yang belum tertulis, maka spontanitas untuk mengatasi masalah yang belum tertulis tersebut jelas jadi masalah besar bagi mereka. 

Di Indonesia? Apa aja bisa. Mau tertulis, mau nggak tertulis, mau detail, mau nggak detail, orang-orangnya akan cukup fleksibel.

Wednesday, September 21, 2011

Perjalanan Menempuh Ph. D

Bukan, bukan kisah tentang saya.

Ini tentang kolega saya. Di dunia akademik, beliau lebih senior dari saya - dan tentu lebih bijak dibandingkan saya yang seringkali emosional. Dari beliau saya banyak belajar tentang dunia akademik.

"(Dosen) Kalau sudah (lulus) S3, sudah tenang Pak..." - begitu nasihat beliau yang sering disampaikan untuk memotivasi saya studi lanjut. Tentu tenang yang dimaksud adalah bisa mengajar dan melakukan penelitian serta publikasi - sehingga cepat atau lambat, akan mencapai jenjang guru besar atau profesor (yang merupakan jenjang tertinggi para akademisi). Sesuai undang-undang kependidikan yang berlaku, salah satu syarat untuk mendapatkan jabatan guru besar adalah memiliki gelar S3.

Beliau akan segera meninggalkan Indonesia untuk melanjutkan studi ke luar negeri, mengejar gelar Ph. D.  Meninggalkan istri dan anak-anaknya yang masih kecil. Waktu 36 bulan untuk studi lanjut bukan waktu yang pendek.

Saya membayangkan, seandainya saya berada di posisinya. Tidak mudah.

Selamat jalan Pak. Selamat datang sebagai mahasiswa Doktor.

Saat ini pasti terasa berat harus meninggalkan keluarga. Tapi kelak semuanya pasti akan berbuah indah, baik untuk karir pribadi maupun untuk keluarga (istri beserta anak-anak). Kelak, istri dan anak-anak akan bangga memiliki ayah dengan gelar Ph. D, bahkan Profesor.

Gambarimashou!

NB. Untuk seorang kolega yang hari ini meninggalkan Indonesia dan melanjutkan studi.

Monday, September 12, 2011

Asosiasi 500 yen

Posting twitter hari ini: "Gaikokujin toroku shoumeisho「外国人登録証明書」- how difficult to read or even pronounce it last year."

Facebook memiliki fitur untuk menampilkan status yang kita tulis tahun lalu. Somehow, status tahun lalu ini muncul. It said: "Gaikokujin toroku shoumeisho「外国人登録証明書」 = Alien Registration Card. We simply call it, "KTP"".

Saya ingat kenapa menuliskan status ini.

Saat itu saya baru beberapa hari tiba di Jepang. Sedang mengurus Alien registration card di kantor kecamatan setempat. Nama resminya adalah gaikokujin touroku shoumeisho. Waktu itu, boro-boro baca... Nginget namanya aja susah banget. Nggak ada asosiasi sama sekali di otak apa arti kata itu.

Setahun kemudian, kata itu mudah sekali dilafalkan, bahkan bisa membaca dengan lancar. Banyak asosiasi yang membuat saya dengan mudah mengingat dan membaca karakter-karakter itu. Kata pertama "Gaikokujin" terdiri dari 3 kata, yaitu 外 (gai), 国 (koku), dan 人 (jin). Kata "gai" artinya "luar", "koku" berarti "negara" dan "jin" berarti "orang". Secara harfiah dapat diartikan "orang luar negeri". Beberapa orang Jepang menyingkat menjadi "gaijin" - yang bagi sebagian orang merupakan salah satu bentuk diskriminasi. Sama seperti ketika orang Indonesia memanggil orang luar negeri dengan sebutan "bule".

Kata kedua adalah "touroku". Kata ini terdiri dari dua karakter kanji, "登" (tou) dan "録" (roku) yang artinya adalah pendaftaran. Kata ketiga adalah "shoumeisho" yang berarti sertifikat (atau dokumen resmi untuk menyatakan sesuatu), seperti ketika saya dinyatakan lulus sebagai mahasiswa doktor periode April 2012, saya dikirimi "shoumeisho" yang menyatakan saya diterima. Jadi, ada beberapa asosiasi kata "shoumeisho" yang saya dapatkan lewat pengalaman sehari-hari - sehingga ketika kata tersebut muncul, setidaknya muncul juga asosiasi yang pernah saya alami terhadap kata tersebut.

Jadi berbahasa adalah tentang asosiasi.

Asosiasi ini diperoleh lewat cara yang bermacam-macam. Mendengar, membaca, diberi tahu, mengalami, atau melihat. Semakin "mahal" mendapatkan asosiasi tersebut, biasanya kata-kata akan semakin tertancap. Begitu juga sebaliknya, semakin "murah" (atau mudah) mendapatkan asosiasi tersebut, kata akan cenderung dilupakan.

Ngomong2, saya mendapatkan asosiasi kata 入ります ("hairimasu") - yang berarti masuk/bergabung dengan cara yang cukup "mahal". Ketika membeli sepeda di supermarket tahun lalu, si penjual menunjukkan "kartu" yang saya sama sekali nggak punya asosiasi terhadap huruf kanji di dalamnya. Si penjual bertanya sambil menyodorkan kartu, "hairimasuka?" Kata "ka" di belakang adalah kata tanya yang bisa dijawab dengan "ya" atau "tidak". Somehow, saya memilih menjawab dengan "ya". Lalu saya diminta untuk membayar 500 yen (setara dengan 5 kaleng minum/soft drink)

Tanpa banyak tanya (karena belum bisa ngomong), saya membayar tanpa tahu apa yang sedang saya bayar. Terakhir saya tahu bahwa "hairimasu" berarti masuk/bergabung. Kartu yang disodorkan adalah asuransi kehilangan. Jadi si penjual bertanya apakah mau ikut asuransi kehilangan dengan membayar 500 yen? Jika waktu itu saya menjawab "tidak", saya nggak kehilangan 500 yen. Tapi, sebagai gantinya, "hairimasu" tidak akan berasosiasi apapun di otak saya.

Sekarang, uang 500 yen yang saya keluarkan, membuat saya ingat betul dengan arti kata "hairimasu".


Friday, September 2, 2011

Antara jenius dan idiot

Kemarin, ‎saya meletakkan salah satu quotation dari Albert Einstein di status Facebook, "Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid." Artinya kira-kira, "Setiap orang adalah jenius. Tapi kalau Anda menilai ikan dari kemampuannya memanjat pohon, tentu ikan itu akan dianggap sebagai ikan yang bodoh seumur hidupnya."

Einstein benar.

Semua dari kita adalah jenius pada bidang tertentu. Dan dengan rendah hati, mari kita akui bahwa kita juga idiot pada bidang tertentu.