Tuesday, August 9, 2011

Pergi ke kolam renang

Semakin lama tinggal di Jepang, semakin saya menyadari betapa hidup di Indonesia harus disyukuri.

Barusan kami pergi ke kolam renang. Untuk berenang tentunya, bukan untuk mendaki gunung. Yang disebut sebagai kolam renang di Jepang (pool atau dalam lidah jepang menjadi pu-ru) nggak sama dengan kolam renang di Indonesia. Di Indonesia, kita bisa ke kolam renang anytime sepanjang tahun, 7 hari seminggu buka terus. Kalo seneng dengan suasana yang rame2, ya pergi di musim liburan pas hari raya Idul Fitri (yang sebentar lagi dirayakan) ato akhir tahun. Kalo kayak saya, tipe yang seneng suasana yg sepi, lengang, nggak banyak orang, ya pergi pas hari kerja di luar musim liburan.

Di Jepang, mengingat fakta bahwa berenang jelas bukan ide yang baik ketika musim dingin atau ketika suhu mencapai 5 derajat celcius, maka membuka kolam renang untuk publik di musim dingin, jelas hanya menghabiskan biaya operasional. Nggak kebayang para life-guard bercelana renang merah dengan perut six-pack yg berjaga di sudut2 kolam renang, harus pake jaket tebel dan menggigil kedinginan ketika tugas jaga di musim dingin, sementara yg renang cmn ada beberapa gelintir orang yg kurang waras.

Kira2 beginilah percakapan (imajinatif) dua orang life-guard yg kena tugas jaga di musim dingin.
"Buset, gue kena tugas jaga besok, euy... Di prakiraan cuaca, besok 4 derajat... Arghh... Loe kapan, Matsuo?"
"Weee... Gue juga besok. Jangan lupa bawa balsem yak..."
"Ho-oh, bawa kopi ma teh juga ya... Biar rada angetan."
Keesokan harinya, mereka berdua duduk saling rapat di sudut kolam, memandang kolam dengan pandangan kosong. Kopi di depan mereka sudah hampir jadi es kopi. Tubuh mereka dibungkus selimut menyembunyikan perut six-pack nya, sementara di punggung nampak guratan2 merah bekas kerokan karena masuk angin.

Anyway, kejadian itu nggak bener2 terjadi. Kolam renang di Jepang hanya dibuka di musim panas, petengahan bulan Juli sampai akhir Agustus (ketika summer holiday). That's all. Selain hari2 itu, kolam renang tutup. Habis perkara.

Nah, kolam renang di dekat tempat kami, namanya Inage Kaihin Kouen Pu-ru (稲毛海浜公園プール). Kolam renang ini selevel dengan waterboom di Bali atau Ciputra water park. Banyak spot2 yg menarik, lorong sliding sepanjang 80meter, slider dr ketinggian 50meter, kolam renang tertutup, ombak buatan, air terjun buatan, dan macam2 spot lain. Tiket masuknya cukup murah untuk ukuran Jepang, 1000 yen (atau setara dengan harga dua piring ramen - mungkin di Indonesia setara dengan 2 piring pangsit mie).

Catatan kecil:
  1. Walaupun Jepang disebut sbg negara timur dengan budaya timur yang kuat, namun di kolam renang, cewek2nya nggak nampak canggung berenang dengan pakaian renang atau bikini. Banyak pasangan yg juga tanpa canggung saling berpelukan di dalam kolam renang. Nampaknya pengaruh budaya barat sudah mulai nampak di kalangan anak2 muda Jepang.
  2. Ruang loker atau tempat penyimpanan barang juga berfungsi sebagai ruang ganti baju. Hebatnya, ruang loker ini nggak membedakan ruang loker pria dan wanita. Semua jadi satu. Beberapa pria dengan tanpa sungkan telanjang untuk ganti celana renang. Sementara wanitanya juga nampak biasa dengan pemandangan semacam itu.


No comments:

Post a Comment