Monday, August 8, 2011

Antara Nasushiobara dan Tokyo

Nasushiobara, tempat diadakannya JAMIT (The Japanese Society of Medical Imaging Technology) annual meeting 2011, adalah kota kecil. Jaraknya dari Tokyo sekitar 157 Km. Kota ini, kalau di Indonesia, mungkin seperti kota Batu. Suasana kota lengang, tidak banyak kendaraan lalu lalang. Populasi penduduk tercatat hanya 117ribu (bandingkan dengan Malang yang mencapai 800rb jiwa).

Sepanjang perjalanan ke tempat conference banyak keliatan sawah-sawah atau rumah-rumah tak bertingkat. Pemandangan semacam ini nyaris tidak bisa ditemukan di Tokyo. Gedung2 tinggi dan minimarket yg hampir ada di setiap blok kota Tokyo atau Chiba, jarang sekali ditemui di Nasushiobara. Baru ada 1 dalam jarak 2-3km. Ritme kehidupan rasanya berjalan dengan lambat. Saya suka kota kecil seperti ini, tenang, damai, dan masyarakatnya nampak bersahabat.

Ketika melihat hamparan sawah dalam perjalanan, saya ingat pelajaran geografi waktu SMP. Katanya, Jepang adalah negara dgn sumber daya alam terbatas. Waktu itu saya nggak bener2 ngerti apa arti kata "sumber daya alam yg terbatas". Kalau Singapura dikatakan sumber daya alamnya terbatas, ya make sense. Lah wong tanahnya cmn secuil gitu. Tapi Jepang kan luas?

Sekarang, kurang lebih saya bisa paham. Walaupun tanahnya luas, tp nggak ada yg bisa ditambang. Tanah digali jg bakalan dapet tanah doang. Nggak ada batubara kyk di Kalimantan, nggak ada emas dan tembaga kyk di Papua, nggak ada minyak bumi kyk di lepas pantai samudera pasifik. (Kemungkinan, duluuuu karena di Jepang ada musim dingin yg dinginnya menusuk tulang, dan musim panas yg panasnya amit2, maka dinosaurus ogah hidup di Jepang. Nggak ada dinosaurus, berarti nggak ada fosil. Nggak ada fosil, ya nggak ada minyak. Kl di Indonesia, cuaca hangat sepanjang tahun, sehingga banyak dinosaurus kerasan... Pas mati, mereka jadi fosil lalu jadi minyak bumi. Alhasil di Indonesia banyak minyak bumi).

Hasil alam juga nggak bisa melimpah karena adanya 4 musim ini. Bayangkan, enak2 nanem cabe, tau2 pas musim dingin bibitnya mati kedinginan. Nanem apel yg pas di udara dingin, eh, kering juga pas musim panas. Jadi serba repot. Nanem apapun, sebelum dipanen, pasti kebentur dgn musim2 yg ekstrim yg bikin taneman gak bisa tumbuh (mungkin itu sebabnya harga sebiji apel di sini Rp 10rb!). Karena alam yg nggak bersahabat ini, akhirnya teknologi yg jadi fokus mereka. Nah, make sense kenapa teknologi berkembang pesat di Jepang.

No comments:

Post a Comment