Saturday, August 27, 2011

Ulang tahun

Usianya sudah nggak muda lagi untuk sekedar mengingat-ingat sebuah tanggal ulang tahun. Memanfaatkan teknologi untuk membuat sebuah reminder tanggal ulang tahun juga bukan hal yang mudah baginya.

Mungkin tanggal ulang tahun saya dicatatnya di sebuah notes. Atau buku catatan tempat beliau mencatat hal-hal yang penting. Atau bisa juga ditulis di kalender - diberikan tanda tebal supaya tidak lupa ketika hari H itu tiba.

Entah bagaimana caranya.

Hari itu, pagi-pagi benar beliau menelepon untuk memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada saya. Saya tahu sekali, ucapan ulang tahun itu diberikan dengan cinta. Dengan doa tulus supaya saya berhasil. Setulus ketika beliau berdoa untuk anak-anaknya.

Terima kasih mama. Terima kasih papa. Terima kasih sudah menjadi teladan dan membimbing Theresia sehingga bisa menjadi istri yang baik untuk saya. Terima kasih sudah senantiasa mendoakan kami di sini. Saya bersyukur bisa menjadi bagian dari keluarga besar papa dan mama.

Kiranya Tuhan yang senantiasa melimpahkan rahmatNya untuk kita semua.
Amin.

NB. Terima kasih juga untuk semua yang sudah memberikan ucapan selamat ulang tahun - baik pada saat ulang tahun maupun pada tanggal yang berbeda (karena mengira saya ulang tahun di tanggal itu). Saya tetap berterima kasih untuk perhatian dan doa-doanya... (dan ngomong2, bukan hari ini ulang tahunnya).

Thursday, August 25, 2011

Nikmatilah pagi

Hari ini, isi twitter saya adalah: "Pukul 7 adalah batas psikologis antara pagi dan siang."
Quote-nya saya dapet dari seorang dosen di Indonesia, Pak A. S. Nugroho. Yang dimaksud tentu pukul 7 pagi, bukan pukul 7 malam.

Implikasinya, kalau masih pukul 6.59 berarti masih pagi, sedangkan pukul 7.01 sudah disebut siang. Bangun setelah lewat pukul 7, artinya kesiangan.

Buat saya, pagi hari selalu menyenangkan (perkecualian ketika malamnya harus lembur sampai dini hari). Udara pagi selalu bersih dan segar. Di manapun saya berada, pagi hari selalu berhasil menampilkan pemandangan terbaik tempat tersebut. Siang hari, pemandangan cenderung nampak panas/terik, sedangkan malam hari cenderung nampak gelap. Pagi harilah yang selalu berhasil memberikan pemandangan terbaik - entah di pantai, di gunung, di kebun ataupun di rumah.

Nikmatilah pagi selagi bisa. Nikmatilah selama dan sebanyak mungkin. Karena sekali terlewat, kita harus menunggu keesokan hari untuk bisa kembali menikmatinya. Sayang jika dilewatkan begitu saja.

Banyak inspirasi yang bisa muncul pada saat kita menikmati keindahan pagi.

Wednesday, August 24, 2011

#nunggupengumuman

Hari ini isi twitter saya: "you are doing okay..." kata sensei setelah ujian masuk program doktor. #nunggupengumuman

Ceritanya, saya kemarin ujian masuk program doktor untuk periode April 2012. Ujiannya, sama seperti sebelumnya, oral interview dan presentasi proposal penelitian. Karena sifat ujiannya formal, diuji di depan 4 orang profesor, maka saya harus mengenakan pakaian formal abad 21, yaitu jas (itulah sebabnya saya mengenakan sabuk sehingga tahu bahwa saya mengenakan sabuk di lobang yang sama sejak pertama beli membeli sabuk 15 tahun yang lalu). Secara nggak pantes kalo pake jas tapi nggak bersabuk.

Presentasi 20 menit. Lalu sesi tanya jawab. Seorang profesor yang masih (nampak sangat) muda memberikan pertanyaan pertama. Bahasa Inggris-nya bagus banget. Nyaris tanpa aksen Jepang. Jarang sekali ketemu langsung dengan orang Jepang yang Bahasa Inggrisnya bagus (mungkin dia lulusan dari English speaking country). Sensei saya aja, kalo ngomong Inggris masih beraksen Jepang - tapi understandable. Inggris saya juga masih beraksen Indonesia (ato Jawa?) - berkali-kali waktu presentasi saya mengucapkan "the" dengan "dhee". Ah, harus terus dilatih...

Pengumuman resmi lulus ato nggaknya baru tanggal 2 September bulan depan. Cuman setelah ujian masuk, sensei dateng ke lab dan ngasih tau kalo kali ini ujiannya "oke". Saya menangkap "oke" yang dimaksud adalah saya berpeluang besar untuk bisa masuk di program doktor periode April 2012.

Kalo beneran jadi mahasiswa Doktor bulan April 2012, berarti normalnya saya akan lulus 3 tahun kemudian, yaitu Maret 2015. Sementara, beasiswa yang diberikan hanya sampai Agustus 2013 (yang kabarnya bisa di-extend 6 bulan ke depan). Artinya, di tahun terakhir (periode 2014-2015), saya harus mandiri membiayai studi tanpa tergantung dari beasiswa. Gimana caranya? Belum tau. Mungkin ini yang disebut dengan "live by faith". Yang jelas, keadaan ini akan membuat kami untuk terus berpikir kreatif dan jeli melihat peluang.

Sepertinya akan jadi episode yang seru dalam perjalanan menempuh studi doktor.


Tuesday, August 23, 2011

Lobang yang sama

Hari ini isi twitter saya: "mengenakan sabuk di lobang yang sama sejak 15 tahun yang lalu. #bodyfit #sabuknyaJadulAmat"

Iya. Sejak pertama beli sabuk 15 tahun yang lalu sampai sekarang, saya mengenakan sabuk di lobang yang sama. Sebuah lobang tambahan karena memang lobang terakhir masih terasa longgar. Harga sabuknya bisa ditebak dengan sedikit petunjuk bahwa saat membeli sabuk itu saya masih kuliah di tahun ke-2 (seberapa mahal sih harga sabuk yang bisa dibeli oleh mahasiswa tahun kedua?)

Dari isi twit itu, ada banyak konklusi yang bisa muncul. Pertama, issue metabolisme tubuh. Fluktuasi berat badan saya sejak 15 tahun yang lalu, nggak banyak berubah. Entah pola makan apapun yang saya terapkan, fluktuasi berat badan nggak lebih dari +/- 3Kg - yang berakibat pada lingkar perut yang (kurang lebih) selalu sama. Saya bisa makan sebanyak yang saya mau (atau nggak makan selama yang saya mau) tanpa harus repot memikirkan berat badan. (Berani bertaruh, pasti most of the girls will do anything to have such kind of metabolism).

Konklusi kedua adalah sabuknya luar biasa awet. Dan konklusi ketiga adalah si pemilik yang terlalu pelit untuk membeli sabuk baru. Sebenarnya, konklusi kedua lebih tepat, karena memang sabuknya masih nyaman untuk dipakai. Lagipula, saya bukan tipe cowok yang terlalu memperhatikan fashion. Selama masih nyaman untuk dikenakan (apapun itu), kenapa harus beli baru? Pelit? Ya depends. Prioritas saya sama sekali bukan untuk membeli fashion yang kayak gitu. Saya jauuuuhhh lebih sering (dan lebih bahagia saat) beli buku ketimbang baju, sabuk atau sepatu. Sekali lagi karena prioritas. Saya merasa nilai diri saya nggak ditentukan oleh fashion yang saya kenakan. Selama masih nyaman dipakai, ya dipakai aja... Simple.

Untungnya, istri saya punya sense of fashion yang jauh lebih baik ketimbang saya. Jadi, masalah fashion, serahkan saja ke yang berwajib. Lalu tentang metobolisme itu... well, let's see. :)

Wednesday, August 17, 2011

Endonesha - Story behind independence day

This is a story of great country named The Republic of Endonesha. A beautiful country located somewhere in Timbuktu. Hit almost 200million population, this country becomes a living legend. True living legend till now, but very few people know the history behind the independence day of this great country. Many blood (and sweat) were shed at that moment.

Here's the story.

Endonesha - What the Endonesha's historian never tell you.

Part I - Rapat Penculikan

Jam 10 pagi, 14 Agustus 1945 TW (Tahun Timbuktu).
Lokasi: Rengasdengklek, Kerawang

Prolog: Saat itu Endonesha masih terjajah dan belum menjadi Republik. Kondisi ekonomi morat marit, tiga tahun bangsa itu dijajah bangsa Jpang. Dalam tiga tahun itu, Sekarno, pemimpin bangsa itu, telah melakukan banyak negosiasi dengan bangsa Jpang agar Endonesha bisa mengatur sendiri kehidupan bernegaranya. Bangsa Jpang menjanjikan bahwa Endonesha segera diberi kemerdekaan. Bahkan agar lebih meyakinkan, Bangsa Jpang membentuk PPKE (Panita Persiapan Kemerdekaan Endonesha) atau Dokuritzu Zyunbi IInkei dan menunjuk Sekarno sebagai ketuanya.

Mereka rapat, 8 orang pemuda jomblo yang sudah ngebet pengen segera merdeka (dan kawin).

"Kita culik saja Sekarno!" Usul Melik, salah satu pemuda yang bersumpah akan menjomblo seumur hidupnya sebelum bangsa tercintanya merdeka.

Saleh, dengan kecerdasan setingkat di atas protozoa berusaha menganalisa ide itu. "Diculik? Untuk apa? Minta tebusan ya?" Jawabnya nggak nyambung, minggu lalu dia mengalami masa kelam hidupnya, yaitu ditinggal selingkuh Tina, pacarnya dengan seorang prajurit Jpang.

"YA UNTUK KITA PAKSA MEMPROKLAMASIKAN KEMERDEKAAN, DODOLLL...!!! Masak untuk kita ajak jalan2 ke Taman Ria..." Jawab Melik, emosi.

"Demi negara ini, gue rela nemenin Sekarno ke Taman Ria..." Jawabnya pragmatis, masih nggak nyambung. Beberapa pemuda di ruangan itu menoleh ke arahnya, memandang dengan iba.

"Culik, lalu paksa dia olang baca-ken ploklamasi...!" Timpal Oei Bun. "Ini waktu... pas buat kita olang untuk ploklamasiken kemeldekaan..."

"Proklamasi kemerdekaan..." Ralat Melik

"Iya, ploklamasi kemeldekaan maksud gwa... kmalen gwa dengel di ladio BBC kalo Sekutu sudah ngebom hilosima..." Sambung Oei Bun.

"Hirosima..." Ralat Melik

"Iya, hilosima maksud gua... Jadi kita atul skenalio penculikannya!!" Kata Oei Bun bersemangat.

"Skenario..." Ralat Melik

Para pemuda itu segera berunding...

"...."
"Loe bawa pentungan..."
"... andongnya mesti disiapin..."
"... iya, jgn lupa karung..."
"... sampe taman Ria..." Bletak! Sebelum Saleh melanjutkan idenya, sebuah jitakan mendarat dengan telak di kepalanya.
"... kudanya ada..."
"... jangan lupa salapan..."
"16 agustus, jam 4 pagi di jalan menteng..."
"... tapi taman Ria blom buka..." Protes Saleh. Kali ini para pemuda segera mengikat Saleh, menyekapnya, dan membuangnya di jalan.
"..."
"... oke, deal or no deal?"
"DEAL...!" Jawab mereka kompak. Kelak salah satu televisi swasta mencuplik kata "Deal or no deal" hari itu sebagai nama kuis.

***

Part II - Peristiwa Penculikan

Dini hari, Pk. 03.00 16 Agustus 1945 TW
Sepanjang jalan Menteng, Rengasdengklek, Kerawang

Segerombolan pemuda itu mengendap2 di Jalan menteng. Melik segera mengambil alih komando.
"Kainnya udah ada?"
"Sip, warnanya merah muda, 1x2 meter, cukup untuk bikin 2 potong baju" Jawab Adam Malich
"Andongnya?"
"Oke!"
"Karung?"
"Ada!"
"Pentungan siap?" Tanya Melik
Bletak...! "Aoowww..." Teriak Saleh, spontan. Kepalanya jadi korban pembuktian bahwa pentungan sudah disiapkan dengan baik.

Tepat di depan rumah no. 31...
"Pagelnya ditutup..." Komentar Oei Bun dengan tampang kecewa. Ia berharap pagar yang setinggi 4 meter itu dibuka lebar lalu mereka disambut dengan umbul2 bertuliskan "Selamat Datang Para Penculik Sekarno... Silahkan Masuk" lengkap dengan petunjuk arah lokasi plus tarian Lenong.
"Jadi kita manjat ya?" Tanya saleh
"YA, IYA LAH KITA MANJAT, DODOLLLL...! Masak kita mo ngetok2 dan bilang kalo kita mo nyulik Sekarno?" Melik emosi.

Mereka segera memanjat dengan susah payah pagar setinggi 4 meter itu. Setelah sukses memanjat pagar, mereka segera masuk ke dalam rumah. Di dalam, Sekarno masih terjaga, berbincang2 dengan Vatmawati, istrinya yang sedang menimang Guntur anak mereka yang berusia 1 tahun (kelak, 55 tahun kemudian adik Guntur, Megahwati menjadi presiden ke-5 Republic of Endonesha). Mereka sedang berbincang2 dalam ruangan yang diterangi cahaya lilin (karena kena pemadaman lampu bergilir) mengenai masa depan negara Endonesha sambil ngemil kerupuk. Ke-8 pemuda itu bersembunyi dan mendengarkan perbincangan itu.

"... kekuatan yang segelintir ini tidak cukup untuk melawan kekuatan bersenjata dan kesiapan total. Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat..."

Bletakk... Melik mengayunkan pentungan dan memukul sebentuk kepala di depannya yang diharapkan itu adalah kepala Sekarno. Tapi yang muncul malah erangan dari Saleh.

"Adduuuhh..." Saleh mengaduh sebelum akhirnya pingsan dengan posisi tertelungkup memegang kepalanya yang dalam waktu dekat akan benjol. Karung yang mereka bawa, segera digunakan untuk menutup obyek kepala yang mengaduh tersebut. Dengan menggunakan andong, mereka membawa objek kepala yang benjol dan tubuhnya ke Jaharta, ibukota negara Endonesha. Sementara Sekarno menyaksikan kejadian tersebut dengan terenyuh dan bertanya2 nasib Bangsa Endonesha ke depan. Demi mendukung terlaksananya rencana mereka, Sekarno ikut naik andong tersebut, bersama Vatmawati dan anaknya, Guntur. Lalu bersama2 mereka menyanyikan sebuah lagu yang akan dikenang oleh anak2 Endonesha sepanjang masa.

"Pada hari minggu, kuturut ayah ke kota,
Naik delman istimewa kududuk di muka..."

***

Part III - Proklamasi Kemerdekaan

17 Agustus 1945 (TW)
Jl. Pegangsaan Timur 56, Jaharta
06.00 WT

Setelah 14 jam perjalanan menggunakan andong dari Kerawang menuju Jaharta, tibalah mereka di Jl. Pegangsaan Timur 56. Beberapa pemuda lain sudah menunggu tibanya mereka.

Sementara Saleh sudah tersadar dari pingsannya, dan bertanya apakah mereka sudah sampai di Taman Ria. Pertanyaan itu disambut dengan pentungan untuk kedua kalinya yang membuat Saleh tak sadar dengan durasi pingsan dua kali lipat lebih lama dari sebelumnya.

Mereka mendudukkan Sekarno dan memaksanya untuk menuliskan naskah proklamasi. Sekarno meminta waktu dan ingin merapatkan dahulu dengan golongan tua, terutama Bung Bhatta yang saat itu menjadi wakil negara.

Para pemuda itu memaksa Sekarno untuk memproklamasikan kemerdekaan dengan cara2 premanisme (kelak, premanisme menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan Republic of Endonesha, kemungkinan para preman2 itu meneladani apa yang telah dilakukan pemuda2 itu).

Tidak ada pilihan, Sekarno dan Bhatta segera berunding untuk menuliskan naskah proklamasi kemerdekaan.

Kami bangsa Endonesha dengan ini menjatakan kemerdekaan Endonesha.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
Semoea peristiwa sebeloem proklamasi dan saat proklamasi ini, harap
dikenang setiap tahoennja.

Djaharta, hari 17 boelan 8 tahoen 45
Atas nama bangsa Endonesha.
Sekarno/Bhatta

Tulisan tangan itu segera diketik oleh Melik dengan menggunakan mesin ketik qwerty yang dibeli dari pedagang kelontong tetangga, Jl. Pegangsaan Timur 58. Tepat pk. 10.00, Sekarno mengenakan peci hitam yang dipinjam dari Bung Bhatta, membacakan teks proklamasi itu.

***

Catatan sejarah yang tertinggal:
Setiap tahun sejak proklamasi kemerdekaan tahun 1945 itu, bangsa Endonesha merayakannya dengan cara yang tidak dilakukan bangsa lain, yaitu mengadakan lomba2. Lomba2 itu sebenarnya merupakan cerminan peristiwa yang terjadi menjelang proklamasi kemerdekaan.
  • Lomba makan krupuk untuk memperingati bahwa saat Sekarno diculik, beliau sedang ngemil krupuk bersama istrinya.
  • Lomba panjat pinang untuk memperingati ke-8 pemuda tersebut memanjat pagar setinggi 4 meter dalam tragedi penculikan Sekarno.
  • Lomba pukul bendok dengan kepala tertutup untuk memperingati bagaimana kepala Saleh terkena pentungan Melik saat terjadi tragedi penculikan Sekarno. Bendok (kendi) digunakan sebagai pengganti kepala, mengingat akan banyak korban yang akan berjatuhan jika lomba diadakan dalam versi aslinya, yaitu memukul kepala.
  • Lomba balap karung, untuk memperingati bagaimana kepala Sekarno ditutup karung saat diculik, walaupun ternyata sebenarnya kepala Saleh yang masuk ke dalam karung. Panitia memodifikasi lomba itu menjadi balap karung yang kita kenal saat ini, mengingat banyak korban tercebur sungai, nyasar ke RT tetangga, menabrak kerumunan penonton bahkan menabrak pagar tetangga ketika mereka berlomba dengan kepala tertutup.
  • Karnaval andong, untuk memperingati bahwa mereka dibawa menggunakan andong dari Jln. Menteng 31 ke Jl. Pegangsaan Timur 56.
***
Happy 66 Anniversary to my country, Indonesia...!
I'm proud to be an Indonesian.

Tuesday, August 9, 2011

Pergi ke kolam renang

Semakin lama tinggal di Jepang, semakin saya menyadari betapa hidup di Indonesia harus disyukuri.

Barusan kami pergi ke kolam renang. Untuk berenang tentunya, bukan untuk mendaki gunung. Yang disebut sebagai kolam renang di Jepang (pool atau dalam lidah jepang menjadi pu-ru) nggak sama dengan kolam renang di Indonesia. Di Indonesia, kita bisa ke kolam renang anytime sepanjang tahun, 7 hari seminggu buka terus. Kalo seneng dengan suasana yang rame2, ya pergi di musim liburan pas hari raya Idul Fitri (yang sebentar lagi dirayakan) ato akhir tahun. Kalo kayak saya, tipe yang seneng suasana yg sepi, lengang, nggak banyak orang, ya pergi pas hari kerja di luar musim liburan.

Di Jepang, mengingat fakta bahwa berenang jelas bukan ide yang baik ketika musim dingin atau ketika suhu mencapai 5 derajat celcius, maka membuka kolam renang untuk publik di musim dingin, jelas hanya menghabiskan biaya operasional. Nggak kebayang para life-guard bercelana renang merah dengan perut six-pack yg berjaga di sudut2 kolam renang, harus pake jaket tebel dan menggigil kedinginan ketika tugas jaga di musim dingin, sementara yg renang cmn ada beberapa gelintir orang yg kurang waras.

Kira2 beginilah percakapan (imajinatif) dua orang life-guard yg kena tugas jaga di musim dingin.
"Buset, gue kena tugas jaga besok, euy... Di prakiraan cuaca, besok 4 derajat... Arghh... Loe kapan, Matsuo?"
"Weee... Gue juga besok. Jangan lupa bawa balsem yak..."
"Ho-oh, bawa kopi ma teh juga ya... Biar rada angetan."
Keesokan harinya, mereka berdua duduk saling rapat di sudut kolam, memandang kolam dengan pandangan kosong. Kopi di depan mereka sudah hampir jadi es kopi. Tubuh mereka dibungkus selimut menyembunyikan perut six-pack nya, sementara di punggung nampak guratan2 merah bekas kerokan karena masuk angin.

Anyway, kejadian itu nggak bener2 terjadi. Kolam renang di Jepang hanya dibuka di musim panas, petengahan bulan Juli sampai akhir Agustus (ketika summer holiday). That's all. Selain hari2 itu, kolam renang tutup. Habis perkara.

Nah, kolam renang di dekat tempat kami, namanya Inage Kaihin Kouen Pu-ru (稲毛海浜公園プール). Kolam renang ini selevel dengan waterboom di Bali atau Ciputra water park. Banyak spot2 yg menarik, lorong sliding sepanjang 80meter, slider dr ketinggian 50meter, kolam renang tertutup, ombak buatan, air terjun buatan, dan macam2 spot lain. Tiket masuknya cukup murah untuk ukuran Jepang, 1000 yen (atau setara dengan harga dua piring ramen - mungkin di Indonesia setara dengan 2 piring pangsit mie).

Catatan kecil:
  1. Walaupun Jepang disebut sbg negara timur dengan budaya timur yang kuat, namun di kolam renang, cewek2nya nggak nampak canggung berenang dengan pakaian renang atau bikini. Banyak pasangan yg juga tanpa canggung saling berpelukan di dalam kolam renang. Nampaknya pengaruh budaya barat sudah mulai nampak di kalangan anak2 muda Jepang.
  2. Ruang loker atau tempat penyimpanan barang juga berfungsi sebagai ruang ganti baju. Hebatnya, ruang loker ini nggak membedakan ruang loker pria dan wanita. Semua jadi satu. Beberapa pria dengan tanpa sungkan telanjang untuk ganti celana renang. Sementara wanitanya juga nampak biasa dengan pemandangan semacam itu.


Nenek dan Jam di stasiun

Jam di stasiun Inage (stasiun kereta terdekat dari tempat kami) adalah jam analog, ada jarum pendek dan jarum panjang, warna angkanya hitam dan tebal-tebal (mirip dengan jam2 kuno di stasiun2 Indonesia). Tergantung di atas platform stasiun. Setiap penumpang yang masuk ke dalam platform, dapat melihat dengan jelas jam tersebut. Setahu saya, jam tersebut tidak pernah berhenti, jarumnya selalu berada di angka yang tepat. (Di stasiun kota Malang, saya beberapa kali mendapati jamnya stasiun mati)

Kemarin saya berjalan di sekitar stasiun untuk naik bis ke kolam renang. Istri saya sedang menuju kantor stasiun dan menanyakan kepada petugas bis mana yang mesti dinaiki.

Di tengah hiruk pikuknya stasiun, tiba-tiba seorang nenek memanggil saya. Saya adalah orang paling dekat. Nenek itu agak bungkuk, membawa tongkat untuk membantunya berjalan, rambutnya sudah memutih. Tas hitam yg dibawanya sudah nampak kumal. Saya menghentikan langkah saya. Lalu berkonsentrasi dengan apa yg ditanyakan. "kono tokei, ima nanji?" (Jam itu, sekarang jam berapa?) Nenek itu menunjuk jam di atas platform. Saya nyaris mengira dia bertanya jalur Tozei berangkat jam berapa (karena jalur-jalur keberangkatan kereta tertulis di papan2 digital yg tidak begitu besar). Tapi saya segera sadar bahwa yang ditanyakan adalah jam saat sekarang.

"Jyu ichi han" (setengah dua belas) jawab saya sambil memeragakan angka 11 dengan kedua telunjuk saya. Dia mengulangi untuk memastikan. Kemudian dia berusaha untuk membungkuk lebih lagi sambil mengucapkan "arigatou gozaimasu..." Saya ikut membungkuk2kan badan sebagai isyarat bahwa saya sama sekali tidak terganggu dengan pertanyaannya. Nenek itu kemudian menyambung, "Gomen neh, me ga warui... tokei ga mienai..." (maaf ya nak, mata tua, sudah nggak bisa liat jam dengan jelas...), "oh iya2... Tidak apa2 kok."

Nenek itu melanjutkan perjalanannya dengan tertatih2. Entah apa yang ada di pikirannya setelah tahu sekarang jam setengah duabelas. Saya melihat kembali jam di stasiun itu. Jarum panjang dan jarum pendek yang berwarna hitam nampak dengan kontras dengan warna kuning jamnya. Saya merenung sebentar, kemudian mengucap syukur untuk mata yang sehat.

Saya segera menyusul istri saya yang nampaknya sudah mendapat jawaban rute bis menuju kolam renang.

Jika tulisan di blog ini masih bisa dibaca dengan baik, tanpa kesulitan, bukankah itu juga sesuatu yang patut disyukuri?


Monday, August 8, 2011

Pertama kali

Ada banyak pertama kali yang saya alami dalam minggu ini.
  1. Pertama kali naik shinkansen (kereta cepat). Tujuannya tokyo-nasushiobara yang jaraknya 157 km dan ditempuh dalam waktu kurang dari 1 jam. Seperti halnya kereta di Jepang, shinkansen juga super tepat waktu. Di tiket tertulis jam 11.20 berangkat, dan tepat jam 11.20 (waktu stasiun) kereta bener2 jalan. Karena nggak ada pedagang asongan yg jual tahu sumedang, nasi campur, ato the kotak, maka penumpang bisa beli bento sblm masuk kereta untuk dimakan di dalam kereta. Istilahnya eki-ben. Harga sekotak bento rata2 1000 yen (nggak perlu diitung kursnya dlm rupiah, karena nafsu makan bisa tiba2 ilang).
  2. Pertama kali melakukan kunjungan ke pabrik Toshiba cabang Nasushiobara yg khusus memproduksi alat2 medis, seperti CT scan, MRI, dan kawan2nya. Saya berkesempatan ngeliat dapurnya pabrik, bagaimana alat2 medis dirakit, mulai dr produksi komponen yg kecil2 sampe yg gede2. Dari sinilah alat2 medis bermerk Toshiba di-shipping ke seluruh dunia. Pabriknya gede, bersih, dan rapi. Bener2 ngerasa jadi mahasiswa jurusan biomedical engineering.
  3. Pertama kali ngerasakan makan (malam) besar ala Japanese style di restoran Jepang. Satu2nya makanan yg saya inget namanya adalah sashimi (ikan mentah). Semua makanan khas jepang, dan saya nggak kepingin nanya itu apa, ato cara masaknya gimana. Karena kl saya tau apa bahan makanannya ato bagaimana makanan itu diolah, saya bisa muntah saat itu juga. Jadi saya makan dgn iman. Just eat them. Makan bersama 8 org lain habis 44rb yen. Jumlah uang itu setara dgn rata2 gaji pegawai di Indo selama 2 bulan.
  4. Pertama kali naik taksi di Jepang. Jarak 3km total yg dibayar adalah 170rb rupiah.
  5. Pertama kali ikut konferensi sebagai pemakalah. Walopun dosen, jujur aja, saya blom pernah sekalipun jd pemakalah pas indonesia. Sebagai peserta pernah, tp mempresentasikan hasil penelitian di konferensi nasional sama sekali blom pernah. Dosen cupu kata orang. Dan disaksikan skitar 80 mahasiswa, dosen, peneliti di bidang biomedical, kedokteran, dan komputer, saya mempresentasikan hasil penelitian ttg pemodelan gerakan diafragma. Dapet pertanyaan yg rada2 nyesek dr seorang dosen dr yamaguchi univ. Kmungkinan antara chiba univ dan yamaguchi univ adalah musuh bebuyutan di bidang biomedical eng, seperti ITS dan UGM yg jd musuh bebuyutan di bidang robotika.
-----
Jadi, ceritanya hasil penelitian saya dan 3 rekan di lab, diterima dan dipresentasikan dalam JAMIT (The Japanese Society of Medical Imaging Technology) annual meeting yg tahun ini diadakan di International University of Health and Welfare di Nasushiobara.

Karena jarak kota Chiba ke Nasushiobara nggak bisa ditempuh dgn sepeda, maka kami berangkat hari Kamis lalu dengan naik shinkansen. Sesampai di Nasushiobara, kami disambut panitia dan acara awalnya adalah kunjungan ke pabrik Toshiba bersama peserta JAMIT lainnya. Sehabis kunjungan pabrik, kami (termasuk sensei dan kolega2nya) makan malam bersama. Karena makan malam baru selesai jam 21.30, kami ke hotel dgn naik taksi. Keesokan harinya, saya presentasi...

Asyik jg ikut conference di Jepang. Hasil2 penelitiannya bener2 fresh dan baru. Perusahaan medis yg jadi sponsor dlm conference spt Toshiba, pasti udah siap nggelontorkan dana penelitian jutaan yen kalo ada penelitian yg berpotensi untuk diterapkan di industri medis mereka. Kecanggihan peralatan medis mereka ditopang oleh penelitian yg dikembangkan di universitas2. Senang saya bisa jadi bagian di dalamnya. Semoga kelak hasil penelitian saya diterapkan di perangkat medis yg bisa berdampak untuk kesehatan jutaan pasien di dunia. Amin.

Antara Nasushiobara dan Tokyo

Nasushiobara, tempat diadakannya JAMIT (The Japanese Society of Medical Imaging Technology) annual meeting 2011, adalah kota kecil. Jaraknya dari Tokyo sekitar 157 Km. Kota ini, kalau di Indonesia, mungkin seperti kota Batu. Suasana kota lengang, tidak banyak kendaraan lalu lalang. Populasi penduduk tercatat hanya 117ribu (bandingkan dengan Malang yang mencapai 800rb jiwa).

Sepanjang perjalanan ke tempat conference banyak keliatan sawah-sawah atau rumah-rumah tak bertingkat. Pemandangan semacam ini nyaris tidak bisa ditemukan di Tokyo. Gedung2 tinggi dan minimarket yg hampir ada di setiap blok kota Tokyo atau Chiba, jarang sekali ditemui di Nasushiobara. Baru ada 1 dalam jarak 2-3km. Ritme kehidupan rasanya berjalan dengan lambat. Saya suka kota kecil seperti ini, tenang, damai, dan masyarakatnya nampak bersahabat.

Ketika melihat hamparan sawah dalam perjalanan, saya ingat pelajaran geografi waktu SMP. Katanya, Jepang adalah negara dgn sumber daya alam terbatas. Waktu itu saya nggak bener2 ngerti apa arti kata "sumber daya alam yg terbatas". Kalau Singapura dikatakan sumber daya alamnya terbatas, ya make sense. Lah wong tanahnya cmn secuil gitu. Tapi Jepang kan luas?

Sekarang, kurang lebih saya bisa paham. Walaupun tanahnya luas, tp nggak ada yg bisa ditambang. Tanah digali jg bakalan dapet tanah doang. Nggak ada batubara kyk di Kalimantan, nggak ada emas dan tembaga kyk di Papua, nggak ada minyak bumi kyk di lepas pantai samudera pasifik. (Kemungkinan, duluuuu karena di Jepang ada musim dingin yg dinginnya menusuk tulang, dan musim panas yg panasnya amit2, maka dinosaurus ogah hidup di Jepang. Nggak ada dinosaurus, berarti nggak ada fosil. Nggak ada fosil, ya nggak ada minyak. Kl di Indonesia, cuaca hangat sepanjang tahun, sehingga banyak dinosaurus kerasan... Pas mati, mereka jadi fosil lalu jadi minyak bumi. Alhasil di Indonesia banyak minyak bumi).

Hasil alam juga nggak bisa melimpah karena adanya 4 musim ini. Bayangkan, enak2 nanem cabe, tau2 pas musim dingin bibitnya mati kedinginan. Nanem apel yg pas di udara dingin, eh, kering juga pas musim panas. Jadi serba repot. Nanem apapun, sebelum dipanen, pasti kebentur dgn musim2 yg ekstrim yg bikin taneman gak bisa tumbuh (mungkin itu sebabnya harga sebiji apel di sini Rp 10rb!). Karena alam yg nggak bersahabat ini, akhirnya teknologi yg jadi fokus mereka. Nah, make sense kenapa teknologi berkembang pesat di Jepang.

Monday, August 1, 2011

Ngomong-ngomong tentang Kanji... (Part 1)


Nah, ngomong-ngomong tentang karakter Kanji... saya terobsesi dengan karakter-karakter itu. Dulu, (pas masih nggak kepikiran bakal sekolah di Jepang), saya sudah tertarik. Gara-garanya sederhana. Beberapa karakter itu ternyata mewakili gambar. Misalnya karakter "gunung" (山) yang dibaca "yama", karakter itu sebenernya adalah gambar gunung yang disederhanakan (3 buah gunung, lalu dari puncaknya ditarik garis vertikal), karakter "pohon" (木) dibaca "ki", juga adalah gambar pohon... Garis horisontal mewakili tanah, di bawah tanah ada akarnya - dan tentu batang pohon muncul di atas tanah. Karakter "manusia" (人) dibuat simple, tubuh dan dua kaki.

Nah, yang lebih menarik lagi, ketika dua karakter kanji disatukan untuk membentuk karakter baru. Misalnya karakter "manusia" (人) + "pohon" (木) = 休. Kira-kira ngapain kalo manusia deket2 dengan pohon? Kalo karakter ini ditulis di Indonesia, mungkin artinya adalah pipis (karena di Indonesia, orang yang deket pohon identik karena mau pipis). Kalo di India, mungkin artinya adalah menari (karena di India, orang nari2 di belakang pohon). Tapi di China, artinya adalah "istirahat" (yasumi). Di duduk di bawah pohon untuk istirahat. Make sense!

Karakter "sungai" (川) - dibaca "kawa" juga mirip dengan gambar sungai yang keliatan arusnya (diwakili dengan 3 buah vertikal). Ketika karakter sungai itu "diikat" jadi sehingga jadi karakter "水", kira-kira apa artinya? Let's think. Sungai terdiri dari air. Kalo sungai-nya di-kompres (squeezed), ditekan apa yang tersisa? Air! Yup, karakter sungai yang diikat tengahnya (水 - dibaca "mizu") adalah karakter air. Brilian!

Karakter "matahari" (yang juga berarti "hari") "日" - dibaca "hi" juga merupakan gambar matahari. Cuman stroke (ato radikal) berbentuk lingkaran nggak dikenal, jadilah matahari digambar dalam bentuk kotak. Tapi, tunggu... karakter kotak polos (口) sudah lebih dulu dipakai untuk karakter "mulut". Untuk membedakan, karakter matahari diberikan garis horisontal di tengah. (Jangan tanya saya kenapa kok nggak garis vertikal aja... Saya dulu nggak ikut pas mereka rapat untuk bikin kesepakatannya).

Karakter matahari (日) di belakang pohon (木) jadi karakter (東) juga mewakili arti tertentu. Ngapain coba matahari ada di belakang pohon? Tebak, di arah manakah matahari ketika baru muncul (sehingga cuman kelihatan di belakang pohon?). Arah timur. Makanya karakter matahari yang keliatan di belakang pohon (東) adalah karakter untuk arah mata angin Timur (dibaca "higashi").

Cerita bagaimana karakter "kuil" (寺 - dibaca "tera") dibentuk juga make sense. Karakter itu terdiri dari dua karakter pembentuk yaitu karakter tanah/bumi (土 - dibaca tsuchi yang mewakili dari tanah, muncul tanaman) dan karakter ukuran ("寸" - dibaca "sun" mewakili gambar tangan yang sedang mengukur). Ceritanya, jaman dulu, satu-satunya organisasi di China yang paling berhak menentukan ukuran/hukum adalah... well, you know, kuil. Jadilah karakter "寺" berarti kuil. Ketika karakter matahari (日) ditambahkan di sebelah kuil (寺) menjadi karakter "時", maka artinya adalah waktu (dibaca "toki"). Faktanya, di kuil-lah waktu ditentukan (dengan cara memukul lonceng kuil). Nah, make sense kan?

Bagaimana kalau karakter "sapi" (牛 - dibaca "gyuu") diletakkan di dekat kuil (jadi karakter 特)? Pasti itu adalah sapi yang spesial. Yup! Arti karakter "特" (dibaca "toku") adalah spesial. Kalau karakter tangan "手" diletakkan di sebelah kuil ("寺") menjadi jadi karakter "持"? Artinya jadi "memiliki" - di jaman itu, kuil-lah yang berhak memiliki barang-barang persembahan dari rakyat... Make sense.

Ada sekitar 300 karakter yang artinya dapat dinalar dengan cara ini. Tapi tahu artinya baru separuh dari perjuangan belajar Kanji. Cara baca dan gabungan karakter-karakter yang membentuk arti baru nggak bisa diabaikan. Ada ribuan karakter yang nggak ada ceritanya... Mnemonic merupakan salah satu cara untuk menghafal karakter kanji. Misalnya karakter "横" (yang artinya "sebelah/sisi horisontal"). Karena ada dua karakter utama pembentuknya, yaitu karakter pohon ("木") dan kuning ("黄"), maka mnemonic yang bisa dibentuk adalah, "di sebelah pohon itu banyak daun-daun kering yang berwarna kuning berjatuhan". Jadi setiap kali muncul karakter "横" (dibaca "yoko"), asosiasi yang muncul adalah "pohon", "kuning" ... jadi "daun-daun warna kuning pada berjatuhan di sebelah pohon" - aha! artinya adalah "sebelah"!

Lama kelamaan, ketika karakter ini sering muncul, mnemonic (atau jembatan pengingat) nggak lagi diperlukan. Secara otomatis karakter "横" akan berasosiasi dengan arti "sebelah" atau "sisi horisontal".

Very Interesting! Itu sebabnya saya terobsesi untuk menghafalkan 2000 joyo kanji (karakter yang paling sering digunakan)... T.e.r.o.b.s.e.s.i. Sekarang, approaching 700... :)

[bersambung]

Note:
  • karena sekarang saya tinggal di Jepang, maka semua cara pembacaan di atas adalah cara pembacaan kanji di Jepang, bukan cara baca Hanzi di China.
  • Gambar diambil dari http://www.nymphusa.com/kanji-imagesdf1j/samurai.jpg. Gambar orang yang menjaga kuil... Artinya adalah seorang samurai (warrior).