Friday, July 8, 2011

Ber-asosiasi

Ketika belajar bahasa (Jepang), saya menemukan bahwa bahasa adalah tentang asosiasi. Kalo kita baca/lihat suatu kata yang nggak kita ketahui, artinya dalam otak kita kata tersebut nggak punya asosiasi apapun. Akibatnya kita nggak ngerti.

Misalnya, ada kata karakter 船. Bagi yang belom pernah belajar kanji (ato Hanzi) sama sekali, pasti nggak ada sebuah asosiasi pun yang muncul dalam pikirannya. Tapi, bagi yang udah pernah belajar karakter kanji (ato hanzi), paling nggak akan punya asosiasi, ada karakter angka "8" (八), ada karakter "mulut" (口) dan ada karakter "wadah" (舟). Arti karakter itu adalah "kapal/bahtera" (kemungkinan karakter ini diambil dari kisah banjir besar jaman Nabi Nuh, ketika hanya ada 8 orang dalam satu bahtera, nabi Nuh dan istrinya, dan 3 orang anaknya beserta istrinya).

Di Jepang, karakter tersebut dibaca "fune". Waktu pertama dengar kata "fune" tidak ada asosiasi apapun dalam otak saya. Blank sama sekali. Tapi ketika tahu bahwa arti "fune" adalah "kapal", maka kata "fune" sudah berasosiasi dengan "kapal" dalam otak saya.

Itulah berbahasa... tentang asosiasi apa yang muncul ketika membaca/mendengar orang berbicara. Bagaimana asosiasi terbentuk di kepala kita? Lewat pengalaman berbicara, membaca, mendengar, dan menulis.

Apa asosiasi yang muncul ketika kata "kapal" diucapkan ke kita? Beberapa mungkin punya pengalaman buruk ketika naik kapal sehingga kata "kapal" punya asosiasi yang jelek di pikirannya, beberapa mungkin bercita-cita ingin naik "kapal pesiar" sehingga kata "kapal" memiliki asosiasi yang indah dalam pikirannya, beberapa lagi mungkin melihat "kapal" dan mengasosiasikan dengan "kapal terbang" karena rumahnya deket dengan bandara, beberapa akan langsung mengasosiasikan dengan "kapal untuk melaut" karena profesinya sebagai nelayan, bagi yang studi di bidang perkapalan pasti akan memiliki asosiasi secara mekanis dan fisik terhadap kata "kapal".

Itulah uniknya berbahasa... Kata yang sama, bahasa yang sama, namun memiliki asosiasi yang berbeda-beda, bisa positif, bisa negatif tergantung dari pengalaman masing-masing.

Ternyata asosiasi tidak berlaku untuk kata saja. Untuk nama seseorang pun, kita akan mempunyai asosiasi tersendiri, yang terbentuk lewat pengalaman kita. Asosiasi apa yang muncul ketika nama "Ariel Peter Pan" kita dengar? Kira-kira, kalo kita denger nama dia setahun yang lalu, apa asosiasi yang sama muncul? Kayaknya nggak.

Bagaimana dengan nama "Gayus Tambunan" ato "Nazaruddin"? Asosiasi apa yang muncul dalam pikiran kita? Mengapa muncul asosiasi itu?

Ternyata, lewat pengalaman membaca dan mendengar kita mengasosiasikan orang seenak udel kita. Entah betul entah salah. Entah memang orang itu demikian, entah tidak.

Seandainya... seandainya sajaaa... ada koran (ato televisi/website) yang isinya membuat kita nggak meng-asosiasikan pribadi seseorang dengan hal-hal yang negatif, saya pasti akan berlangganan koran itu. Bayangkan, sebuah koran (ato apapun yang bisa dibaca/dilihat), ketika dibaca membuat otak kita senantiasa berasosiasi positif terhadap berita-berita di dalamnya, pasti menarik!

Well, at least itu akan jadi misi saat saya memposting artikel apapun di blog ini.


No comments:

Post a Comment