Friday, July 15, 2011

Bukan bintang pelajar

Ada anak-anak yang memang terlahir sebagai bintang pelajar. You know, sejak TK mereka sudah menunjukkan ke-"bintang-pelajaran"nya. Mampu menggunting dan melipat kertas dengan rapi, mampu menulis angka dan huruf dengan baik, makan tanpa cemot, baju nampak rapi, bisa mengeja abjad dengan jelas dsb.

Pas SD mereka adalah anak-anak yang selalu mengerjakan pe-er dengan lengkap, mendengarkan guru dengan baik, rata-rata nilai ulangannya 8, 9 atau 10, selalu menjadi contoh bapak dan ibu guru ketika membahas bagaimana seorang siswa yang baik...

Waktu SMP atau SMA mereka selalu berada di peringkat 5 besar, pe-ernya selalu jadi bahan contekan anak-anak lain, jawaban ulangan sering dijadikan kunci jawaban oleh bapak/ibu guru, dsb.

Pas kuliah, dia seolah-olah tahu persis apa yang dimaui oleh si dosen, memberikan jawaban yang jelas, mengerjakan dan mengumpulkan tugas dengan tepat waktu (no matter semepet apapun deadline-nya), lulus dengan IPK di atas 3.5 lebih atau malah cumlaude...

Pendeknya, mereka ini cemerlang secara akademik. Belajar demi nilai raport yang baik. Pernah kenalkan dengan anak-anak semacam itu? Yang kadang2 sering ditanya, kok bisa sih pinter gitu? Tiap hari makan apa?

Iya, ada emang anak-anak yang terlahir sebagai bintang pelajar. Cuman saya nggak termasuk di dalamnya. Saya bukan tipe bintang pelajar yang pe-er selalu dikerjakan dengan rapi, tugas-tugas dikumpulkan tepat waktu, ulangan selalu di atas rata-rata, dijadikan contoh bapak/ibu guru... Nggak sejak SD, SMP, SMA, ataupun kuliah.

Bahkan saat kuliah S3. Di kelas bahasa Jepang, nilai-nilai vocab dan grammar saya ya gitu deh...(sering di bawah rata-rata). Lain dengan pelajar Mongolia yang satu itu... Yang selalu menjawab pertanyaan dosen dengan baik, yang selalu mengerjakan pe-er dengan rapi, yang ulangan vocab dan grammar nggak pernah dapet di bawah 7, yang selalu masuk kelas tepat waktu, jarang absen, yang datang ke ruangan dosen kalo ada yang nggak dimengerti, yang... yang... yang... Well, you know... tipe bintang pelajar.

Saya biasa aja. Kalo pas mood bagus, ya pe-er dikerjakan. Kalo pas ada yang nggak ngerti ya belajar sekenanya. Belajar buat quiz vocab ya pas kalo nggak lagi sibuk baca kompas.com, nyari film2 baru, ato ngeblog... kalo pas rada capek paginya ya istirahat dipanjangin terus dateng ke kelas rada-rata telat. Hasilnya? Ya gitu deh.

Tapi bukan berarti saya males2an. Metode belajar yang dikasi si dosen (ato guru2 itu) dirancang untuk si bintang pelajar - nggak cocok untuk yang nggak terlahir sebagai bintang pelajar. Jadi saya milih metode belajar yang suka2 saya. Misalnya, karena tertarik dengan Kanji, saya self-study belajar Kanji. Setiap hari, 1-2 jam. Hasilnya? Sementara si bintang pelajar baru tahu sekitar 300 kanji, saya sudah bisa baca 600 kanji. Dibandingkan dengan si bintang pelajar itu, I know Kanji and vocabulary more than she knows! Pas ada karakter Kanji yang blom pernah muncul di textbook, saya udah tau dan bisa baca, sementara si bintang pelajar bengong nggak jelas. Nah lo!

Jadi, si bintang pelajar itu boleh selalu rajin masuk kelas, selalu bikin pe-er, selalu dapet baik kalo quiz, selalu bisa jawab pertanyaan dosen... Tapi in term of Kanji, I successfully knocked her down. :)

Kesimpulannya? Ya, karena nggak semua dari kita terlahir sebagai bintang pelajar, jadi nggak perlu maksa jadi bintang pelajar, nggak perlu dibela2in belajar sampe nyaris gila demi nilai yang baik, nggak perlu saingan dengan mereka2 yang sejak orok memang ditakdirkan jadi bintang pelajar. Ambil satu bidang yang disukai, dan perdalam bidang itu... Sedalam-dalamnya. Buat si bintang pelajar itu tau, walopun di nilai-nilai akademik dia lebih baik, tapi untuk bidang yang satu itu, kamu jagonya.

Coba tebak, kalo misal ada proyek, kerjaan, ato lowongan pekerjaan di bidang yang sudah kamu perdalam itu, siapakah yang akan dipilih? Si bintang pelajar atau kamu?


Friday, July 8, 2011

Ber-asosiasi

Ketika belajar bahasa (Jepang), saya menemukan bahwa bahasa adalah tentang asosiasi. Kalo kita baca/lihat suatu kata yang nggak kita ketahui, artinya dalam otak kita kata tersebut nggak punya asosiasi apapun. Akibatnya kita nggak ngerti.

Misalnya, ada kata karakter 船. Bagi yang belom pernah belajar kanji (ato Hanzi) sama sekali, pasti nggak ada sebuah asosiasi pun yang muncul dalam pikirannya. Tapi, bagi yang udah pernah belajar karakter kanji (ato hanzi), paling nggak akan punya asosiasi, ada karakter angka "8" (八), ada karakter "mulut" (口) dan ada karakter "wadah" (舟). Arti karakter itu adalah "kapal/bahtera" (kemungkinan karakter ini diambil dari kisah banjir besar jaman Nabi Nuh, ketika hanya ada 8 orang dalam satu bahtera, nabi Nuh dan istrinya, dan 3 orang anaknya beserta istrinya).

Di Jepang, karakter tersebut dibaca "fune". Waktu pertama dengar kata "fune" tidak ada asosiasi apapun dalam otak saya. Blank sama sekali. Tapi ketika tahu bahwa arti "fune" adalah "kapal", maka kata "fune" sudah berasosiasi dengan "kapal" dalam otak saya.

Itulah berbahasa... tentang asosiasi apa yang muncul ketika membaca/mendengar orang berbicara. Bagaimana asosiasi terbentuk di kepala kita? Lewat pengalaman berbicara, membaca, mendengar, dan menulis.

Apa asosiasi yang muncul ketika kata "kapal" diucapkan ke kita? Beberapa mungkin punya pengalaman buruk ketika naik kapal sehingga kata "kapal" punya asosiasi yang jelek di pikirannya, beberapa mungkin bercita-cita ingin naik "kapal pesiar" sehingga kata "kapal" memiliki asosiasi yang indah dalam pikirannya, beberapa lagi mungkin melihat "kapal" dan mengasosiasikan dengan "kapal terbang" karena rumahnya deket dengan bandara, beberapa akan langsung mengasosiasikan dengan "kapal untuk melaut" karena profesinya sebagai nelayan, bagi yang studi di bidang perkapalan pasti akan memiliki asosiasi secara mekanis dan fisik terhadap kata "kapal".

Itulah uniknya berbahasa... Kata yang sama, bahasa yang sama, namun memiliki asosiasi yang berbeda-beda, bisa positif, bisa negatif tergantung dari pengalaman masing-masing.

Ternyata asosiasi tidak berlaku untuk kata saja. Untuk nama seseorang pun, kita akan mempunyai asosiasi tersendiri, yang terbentuk lewat pengalaman kita. Asosiasi apa yang muncul ketika nama "Ariel Peter Pan" kita dengar? Kira-kira, kalo kita denger nama dia setahun yang lalu, apa asosiasi yang sama muncul? Kayaknya nggak.

Bagaimana dengan nama "Gayus Tambunan" ato "Nazaruddin"? Asosiasi apa yang muncul dalam pikiran kita? Mengapa muncul asosiasi itu?

Ternyata, lewat pengalaman membaca dan mendengar kita mengasosiasikan orang seenak udel kita. Entah betul entah salah. Entah memang orang itu demikian, entah tidak.

Seandainya... seandainya sajaaa... ada koran (ato televisi/website) yang isinya membuat kita nggak meng-asosiasikan pribadi seseorang dengan hal-hal yang negatif, saya pasti akan berlangganan koran itu. Bayangkan, sebuah koran (ato apapun yang bisa dibaca/dilihat), ketika dibaca membuat otak kita senantiasa berasosiasi positif terhadap berita-berita di dalamnya, pasti menarik!

Well, at least itu akan jadi misi saat saya memposting artikel apapun di blog ini.


Wednesday, July 6, 2011

Makanya...

Kata "makanya..." sering diucapkan tidak pada tempatnya.
  • Ma(ng)kanya, lah wong naruh hape kok sembarangan. Ilang kan sekarang.
  • Ma(ng)kanya, kerja itu yang bener. Kalo udah diomelin sama bos kek gini baru tau rasa kan.
  • Ma(ng)kanya, kalo disuruh makan ya mbok nurut. Kalo sakit gini, sapa juga yang repot.
  • Ma(ng)kanya, belajaaaar yang rajin pas kuliah... ditolak perusahaan baru tau rasa.
  • Ma(ng)kanya, jadi orang jangan bego-bego. Tuh, ditipu orang kan kalo bego.
  • dan berbagai versi "ma(ng)kanya" yang lain yang lebih kejam.
Logikanya, kalo orang sampe bilang "makanya..." ke kita (dalam berbagai versi), situasinya adalah kita tertimpa musibah, lalu diolok-olok dan disalah-salahkan karena yang mengolok-olok itu (merasa) paling bener sejagat raya...

Dulu, saya sering (ato pernah?) dapet teguran versi "makanya" semacam ini. Entah dari orang tua, kakak, sahabat, teman ato bahkan orang asing. Kalo dapet "makanya" dari orang tua ato sodara, saya masih bisa dengar dengan hati yang terbuka (walopun nggak kepingin juga mereka sering-sering ngucapkan). Tapi yang menyebalkan kalo dapet "makanya" dari orang laen. Mereka nggak tau urusannya, tau2 ikut nimbrung pake "makanya...". Biar keliatan orang bijak kali. Padahal di mata orang yang menerima "makanya" itu, dia adalah orang yang paling menyebalkan.

Kalo dunia ini bisa bersih dari kata "makanya" yang berkonotasi negatif, yang digunakan untuk semakin menambah dalam penyesalan orang yang tertimpa musibah, yang digunakan untuk menunjukkan betapa benarnya orang yang mengucapkan "makanya", yang digunakan untuk mengolok-olok si objek penderita (yang sudah menderita itu), pasti dunia ini lebih indah.

Oke lah, kalau ada yang mau berkomitmen untuk mulai nggak mengatakan "makanya..." terhadap orang yang tertimpa musibah, selamat datang di club "say-no-to-makanya".

Versi lain "makanya":
"Wes tak kandani biyen..."
"I told you..."
"Muangkane..."
"Gue bilang juga apa..."
"Yo to? Wes a..."

Sunday, July 3, 2011

'Ohana means family (1st year)

'Ohana means family, family means nobody gets left behind. Or forgotten. (Lilo and Sticth, 2002)

3 Juli 2010 tahun lalu, kami menikah - untuk pertama kalinya. Masing-masing dari kami nggak punya pengalaman seperti apa menikah itu. Melihat (bagaimana kehidupan pernikahan kedua orang tua) sudah. Tapi mengalami sendiri seperti apa menjadi suami dan seperti apa menjadi istri, belum.

Setiap hari menjadi hari pembelajaran. Menjadi hari untuk lebih menerima dan adjust.

Senang menjalani kehidupan pernikahan? Ya, senang. Saya bahagia.

Loh, bukannya dengan menikah saya jadi kehilangan (1) kebebasan untuk kelayapan ke mana pun yang saya mau dan pulang jam berapa pun yang saya suka? (2) kebebasan untuk memakai uang seenak udel dan memberi kepada siapapun yang saya mau? (3) kebebasan untuk melakukan apa pun yang saya suka, seperti internet-an seharian penuh, nonton film, menulis apapun, baca buku/belajar sampe dini hari dalam suasana tenang?

Iya, hilang.

Tapi sudah digantikan dengan sesuatu yang lebih berarti, lebih indah, lebih bermakna ketimbang semua kebebasan itu. Nama pengganti untuk semuanya itu: cinta. Mencintai dan dicintai. That's what marriage is all about.




Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Rm 8:28)