Friday, May 27, 2011

(Kisah) Belajar Bahasa (Jepang) - part 4

Nggak ada bahasa di dunia ini yang gampang. Setiap bahasa memiliki kesulitan tersendiri. Kalo ada yang bilang Bahasa Indonesia gampang, pasti yang ngomong adalah orang Indonesia yang sejak orok udah diajak ngomong pake Bahasa Indonesia, sekolah pake Bahasa Indonesia, nggosip dengan temen pake Bahasa Indonesia, baca koran yang isinya kisah-kisah seputar Indonesia, bahkan dalam mimpi pun, Bahasa Indonesia yang digunakan. Jadi nggak heran, kalo bagi orang semacam ini, Bahasa Indonesia itu gampang.

Saya nggak lahir di Jepang. Sejak orok nggak pernah diajak ngomong Jepang. Pas sekolah juga nggak ada Bahasa Jepangnya (kecuali pas belajar PSPB tentang pembentukan PPKI yang disebut Dokuritsu Junbi Inkai - my first Japanese language encounter). Selama ini baca koran juga pake alfabet yang nggak ada mirip2nya dengan Kanji. Pas mimpi, juga nggak pernah ketemu orang Jepang yang ngajak ngomong Jepang. Semua serba Bahasa Indonesia. Jadilah, ketika di Jepang ngerasakan sulitnya (belajar) Bahasa Jepang.

Saya nyoba banding-bandingkan sulitnya belajar bahasa Indonesia, Inggris, dan Jepang.

Bahasa Indonesia:
Bahasa Indonesia menggunakan prefiks (awalan), sufiks (akhiran) atau keduanya. Kata dasar, ketika diberikan prefiks atau sufiks, maknanya jadi berbeda. Misalnya kata dasar "paksa". Dengan memberikan prefiks atau sufiks seperti "dipaksa", "paksakan", "terpaksa", "memaksa", "memaksakan" maka maknanya menjadi berbeda dengan kata dasarnya. Saya bayangkan, kalo ada orang asing yang sedang belajar Bahasa Indonesia, pasti akan mengalami kesulitan memahami prefiks dan sufiks ini (apalagi seringkali muncul ketidakkonsistenan). Menyusun kalimat dengan prefiks dan sufiks yang tepat, juga bukan hal yang gampang. Bagi petutur asli (native speaker) Indonesia, semuanya sudah tersimpan dengan rapi di alam bawah sadar sebagai hasil akumulasi karena mendengar dan berinteraksi menggunakan Bahasa Indonesia sejak kecil. Sehingga ketika berbicara, mendengarkan, membaca, atau menulis, seolah-olah keluar secara otomatis.

Nah, seandainya pun si orang asing sudah menguasai Bahasa Indonesia, saya jamin ketika mendengarkan orang Jakarta ngomong ala "loe" dan "gue", kata "siapa" jadi "siape", "gila" jadi "gile", "tidak" jadi "kagak" dsb, pasti serasa mendengarkan bahasa yang berbeda. Belum lagi kalo tinggal di Jawa kemudian denger kata-kata seperti, "lah wong koyok ngono kok ditanggepi... Gendheng a...?" Menjelaskan di mana letak kesamaan dan hubungan kalimat tersebut dengan dengan Bahasa Indonesai akan susah (walaupun somehow it's related).

Jadi, bagi yang sudah bisa baca posting ini dan mengerti apa yang tertulis di dalamnya, selamat! Hampir dapat dipastikan Anda sudah menguasai salah satu bahasa yang punya tingkat kesulitan yang tinggi, yaitu Bahasa Indonesia. :)

Bahasa Inggris
Saya belajar Bahasa Inggris sejak SMP kelas 1. Mulai dengan menghafal kata kerja sederhana seperti run, walk, write, read, dan semacamnya. Mulai belajar tenses yang paling sederhana, yaitu simple present tense. Bagi yang sedang belajar Bahasa Inggris, salah satu bagian yang sulit adalah perubahan pada kata kerja. Ada kata kerja bentuk dasar, bentuk lampau, dan bentuk -ing (yang nggak ditemui dalam Bahasa Indonesia). Misalnya kata "minum" adalah "drink" ketika dilakukan saat ini (mengacu pada suatu aktivitas). Ketika sedang dilakukan menjadi "drinking", sedangkan ketika sudah dilakukan di masa lalu, menjadi "drank" atau "drunk". Dalam Bahasa Indonesia, we simply use "sedang minum" atau "telah minum". Nggak ada perubahan kata kerja.
Nah, kapan mengubah kata kerja dan berubah menjadi apa, tentu bukan hal yang mudah bagi yang sedang awal-awal belajar Inggris. Bagi yang sudah terbiasa, sekali lagi, semua aturan itu sudah ada di alam bawah sadar sehingga ketika berbicara, nyaris tidak perlu berpikir.

Hal lain yang menyulitkan dalam Bahasa Inggris adalah pengucapan. Bagaimana melafalkan "one", "caught", "measure", "island", "pronounciation" dan sebagainya tentu bukan hal mudah bagi yang sedang belajar bahasa Inggris. Sampai sekarang pun, salah kaprah pengucapan kata sering terjadi seperti kata "determine". Kata "-mine" yang seharusnya dilafalkan seperti pada kata "mint", lebih sering dilafalkan seperti pada "mind" - jadinya sering terdengar "dɪˈtɜːmain", padahal seharusnya "dɪˈtɜːmɪn".

Bahasa Jepang
Somehow, muncul mitos untuk petutur asli Bahasa Inggris, ketika sedang belajar bahasa Jepang akan terasa sulit, sementara bagi yang telah belajar (atau petutur asli) Chinese atau Korea, bahasa Jepang terasa mudah. That's true for some reasons. Karakter Kanji pada Bahasa Jepang mengadopsi karakter kanji dari Bahasa Chinese (中文, zhongwen). Sementara struktur bahasa pada Bahasa Korea mirip dengan Bahasa Jepang. Jadi bagi Korean yang belajar Bahasa Jepang, modal utamanya adalah vocab dalam Bahasa Jepang kemudian tinggal setiap kata dalam Bahasa Korea tinggal di-replace dengan kata dalam Bahasa Jepang. Perubahan grammar dari Bahasa Korea ke dalam Bahasa Jepang tidak begitu terasa.

Bahasa Jepang sulit bagi mereka yang bahasa aslinya menggunakan pola Subjek-Predikat-Objek. Misalnya, "Ibu (S) menggoreng (P) Ikan (O)". Dalam Bahasa Jepang, predikat akan muncul di akhir, sehingga kalimat akan menjadi: "Ibu - ikan - menggoreng". Lebih sulit lagi karena di sela-sela subjek atau predikat harus ditambahkan partikel penyambung yang sesuai. Kesalahan memilih partikel yang tepat akan mengubah arti kalimat.

Kesulitan berikutnya adalah perubahan kata kerja (seperti pada Bahasa Inggris). Kata kerja bentuk sekarang, bentuk sedang dan bentuk lampau dibedakan menggunakan aturan tertentu. Karakter Kanji-nya sama, namun muncul tambahan karakter hiragana yang membedakan apakah kata kerja tersebut adalah kata kerja bentuk dasar, bentuk sedang, atau bentuk lampau. Mengubah menjadi bentuk negatif juga nggak semudah menambahkan "tidak" di awal kerja. Misalnya kata "pergi" memiliki bentuk dasar kanji "行く" (dibaca "iku"). Ketika muncul di kalimat bentuk lampau, menjadi "行きました" (dibaca "ikimashita") dengan bentuk negatif "行きません" (dibaca "ikimasen"). Perubahan akan terjadi lagi untuk pola-pola kalimat negatif lampau ("ikimasendeshita"), bentuk sedang ("itte"), bentuk potensial/kemungkinan ("ikeru"), bentuk kondisi ("ikeba"), bentuk imperatif ("ike"), bentuk pasif ("ikareru"), bentuk kausatif ("ikaseru"), bentuk kausatif pasif ("ikasareru"), bentuk biasa percakapan sehari-hari ("ikinai", "itta", "ikinakatta"). Setidaknya ada lebih dari 10 perubahan untuk sebuah kata kerja, yang harus diletakkan pada kalimat dengan konteks yang tepat.

Bentuk-bentuk ini lebih sulit ketimbang Bahasa Inggris yang menggunakan hanya melakukan perubahan kata kerja menjadi V2, V3 atau bentuk -ing. Perubahan tersebut tidak hanya berlaku untuk kata kerja saja. Tapi kata sifat-pun mengalami perubahan bentuk. Misalnya kata sifat "panas" (暑い-"atsui") akan perubahan ketika digunakan dalam bentuk lampau (menjadi "atsukatta"), berubah ketika digunakan dalam bentuk lampau negatif (menjadi "atsukunakatta"), dan masih memiliki aturan-aturan lain ketika diletakkan dalam pola kalimat tertentu.

Membaca karakter kanji yang jumlahnya 10 ribu lebih, tentu juga merupakan kesulitan tersendiri bagi yang sedang belajar Jepang. Bagi yang sejak kecil tinggal di Jepang dan berinteraksi dengan Bahasa Jepang, perubahan dengan aturan yang bejibun banyaknya ini, pasti bukan masalah. Dilakukan nyaris tanpa berpikir seperti halnya orang Indonesia menambahkan prefiks dan sufiks pada bentuk dasar. Tapi ceritanya lain ketika dipelajari oleh non-japanese-speaker.

Kesimpulan (garingnya), setiap bahasa memiliki kesulitan sendiri-sendiri. Butuh pengalaman untuk dapat menguasai bahasa asing dengan baik. Rush is not the nature way to master foreign language.

-windra
A polyglot wanna-be.

Related posts:

Tuesday, May 10, 2011

Iman kepada Tuhan

Nggak tau udah berapa kali saya pingin posting topik ini, tapi nggak kesampaian terus karena ngerasa ada yang lebih penting untuk dikerjakan. Judulnya rada-rada garing. Yang nggak percaya Tuhan, tetep boleh baca - sapa tau nanti jadi beriman. Yang sudah beriman, semoga bisa lebih beriman. Saran saya, bacanya sampe selesai, karena kalo dibaca hanya separuh nanti bisa menimbulkan salah persepsi.

Ceritanya, sudah hampir 8 bulan saya tinggal di Jepang, negara yang memberikan kebebasan seluas-luasnya untuk beribadah, tapi 85% lebih warganya malah tidak memeluk agama apapun. Statistik menunjukkan bahwa kurang dari 15% warga Jepang yang memiliki dan menjalankan ibadah agama (sumber http://en.wikipedia.org/wiki/Religion_in_Japan). Saya juga ngerasa kayak gitu, jaraaaaanng sekali muncul issue tentang keagamaan atau Tuhan (lah wong orang2nya nggak beragama, ya ngapain juga debat ato sampe berselisih tentang agama). Hampir nggak ada acara religi di televisi (sapa juga yang mau nonton?). Nggak ada hari libur karena hari besar suatu agama. Hari liburnya ya hari ulang tahun kaisar, hari anak, hari konstitusi, dan lain2. Agama sepertinya bukan bagian dari kehidupan sosial.

Nah, di sini muncul titik crucial yang menantang iman orang2 beragama.

Menurut klaim orang beragama, seharusnya mereka yang nggak percaya Tuhan (ato diistilahkan sebagai orang kafir ato fasik ato whatever istilah orang beragama), hidupnya akan susah. Akan muncul berbagai kesulitan karena mereka nggak dekat dengan Tuhan, nggak doa, dan cuman mengandalkan diri sendiri. Kutipan ayat-ayat di Kitab Suci banyak yang menuliskan hal itu. Dan... bicara tentang fakta, Jepang bukan negara yang ecek-ecek. Bukan negara miskin. Etos kerja penduduknya (yang nggak percaya Tuhan itu) sudah diakui dunia bahwa mereka adalah orang-orang yang disiplin, pekerja keras, tidak mudah menyerah, menjunjung tinggi nasionalisme (plus negara yang tercatat memiliki angka harapan hidup yang terpanjang). Teknologi yang dihasilkan oleh perusahaan Jepang (yang kemungkinan besar dikelola oleh orang2 yang nggak percaya Tuhan) juga tersebar ke seluruh dunia - dan diakui sebagai teknologi yang berkualitas. Tiap tahun muncul teknologi terbaru yang lebih canggih, lebih efisien, lebih murah dan membuat hidup lebih nyaman. Dunia mencatat bahwa kekuatan ekonomi terbesar setelah Amerika adalah Jepang (yang 85% penduduknya nggak percaya Tuhan). Pemerintahan dari yang paling tinggi sampe jajaran terendah, bersih dari korupsi dengan penduduk yang well-mannered. Semacam kontradiksi dengan klaim orang2 beragama yang mengatakan bahwa mereka yang nggak percaya Tuhan akan menjadi sengsara.

Keadaan tersebut, sedikit (atau banyak) berlawanan dengan Indonesia, yang mewajibkan penduduknya memeluk agama. Begitu bayi lahir di Indonesia, orang tua harus memberi si anak agama. Sejak masuk SD, anak diwajibkan untuk mendapatkan pendidikan agama - dan berlangsung sampai kuliah! (Iya, W-A-J-I-B...!!). Jadi sejak SD, anak Indonesia sudah kenal Tuhan. Diajarkan nilai-nilai Tuhan dalam agama yang dipeluknya. Hasilnya?

Seharusnya, orang-orang yang kenal Tuhan sejak kecil, lebih berbudi-pekerti, lebih mempraktekkan kasih, lebih mengenal toleransi, dan... lebih diberkati. Tapi kenyataannya nggak seperti itu. Sumber daya manusia Indonesia masih belum diakui seperti halnya orang Jepang (masalah korupsi dan penegakkan hukum yang nggak jalan lebih terdengar ketimbang prestasi yang dihasilkan). Dari segi kekayaan (pendapatan per kapita warga), Indonesia masih kalah jauh dengan Jepang. Apalagi untuk urusan penguasaan teknologi, sepertinya masih jaauuuhh tertinggal... Issue2 keagamaan masih sering muncul, jadi perdebatan, permasalahan sampe sumber pertikaian.

Ada apa ini? Negara (Jepang) yang nggak bertuhan kok malah nampak lebih baik ketimbang negara (Indonesia) yang bertuhan? Apa yang salah?

Saya nggak bisa jawab pertanyaan itu (emangnya siapa saya kok berani2nya menghakimi negara mana yang lebih baik? Siapa saya kok berani2nya mempertanyakan wisdom-nya Allah).

Saya berkesimpulan, bahwa kaya atau miskin, kelakuan baik atau buruk, mampu berinovasi ato nggak, kerja keras atau malas, sehat atau sakit, nggak ada hubungannya dengan agama. Agama nggak bikin seseorang jadi kaya. Agama nggak bikin seseorang jadi pekerja keras. Agama juga nggak bikin seseorang menjadi selalu sehat.

Lalu?

Bagi orang2 yang nggak beragama dan nggak percaya Tuhan, mereka hanya fokus pada apa yang ada di dunia sekarang. Setelah mati, selesai. Mati seperti tidur lelap yang nggak pernah bangun. Nggak ada pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan saat masih hidup. Kalo mereka di dunia melakukan hal-hal yang baik, punya etos kerja yang baik, disiplin, malu untuk melakukan korupsi, dll, itu dilakukan bukan termotivasi oleh takut karena adanya penghakiman setelah kematian. Bukan takut dengan dosa, tapi simply karena mereka punya harga diri untuk nggak dipandang jelek oleh orang lain. Mereka yang nggak disiplin akan dipandang rendah oleh komunitas di sekelilingnya. Orang yang ketauan korupsi (atau berbuat curang) akan dikucilkan. Orang yang gampang nyerah, nggak akan dianggap "orang" oleh teman2nya. Mereka yang ringan tangan, mau membantu orang lain, mau memberi orang lain yang kesusahan akan dianggap sebagai gaya hidup yang lebih dipandang baik oleh masyarakat. Takut dosa atau penghakiman setelah mati, sama sekali bukan motivasi melakukan hal-hal yang baik tersebut.

Bagi orang2 beriman dan percaya Tuhan, segala macam perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan setelah mati. Perbuatan baik yang dilakukan, dalam iman saya, adalah karena saya sudah menerima keselamatan dari Tuhan. Keselamatan tersebut saya terima karena iman saya kepada Kristus bahwa penebusan dosa telah dilakukanNya di atas salib. Bukti bahwa keselamatan (setelah mati) yang sudah saya terima adalah perubahan gaya hidup yang diekspresikan dalam tindakan sehari-hari, yaitu menjauhi (dan berusaha untuk tidak melakukan) tindakan dosa. Dengan motivasi ini (atau motivasi mempertanggungjawabkan segala perbuatan di bumi setelah mati), seseorang tentu bisa menjadi lebih baik, lebih disiplin dalam bekerja, nggak berbuat curang atau korupsi, nggak gampang menyerah, bisa berbagi kasih dengan orang lain... Dan saya cukup yakin, bahwa jika gaya hidup seperti itu diterapkan, cepat atau lambat pasti akan sukses.

Kesimpulannya?

Kalau mau sekedar sukses, punya banyak uang, punya banyak teman di dunia, menikmati hidup, nggak perlu repot2 beragama (atau percaya Tuhan). Dengan gaya hidup yang tepat (disiplin, kerja keras, fokus, punya positive attitude, mau terus belajar, menjaga kesehatan, memberi), akan bisa membuat seseorang sukses.

Tapi apa yang terjadi jika penghakiman setelah kematian benar2 ada? Apa yang terjadi, jika setelah mati, kita dihadapkan dengan hanya 2 pilihan, yaitu hidup kekal di sorga atau menderita di neraka? Mereka yang nggak percaya Tuhan, sedang menghadapi resiko kehidupan dengan taruhan "kekekalan". Penyesalan yang tak pernah berakhir... "Seandainya dulu aku di dunia punya iman kepada Tuhan yang bisa memberikan keselamatan setelah mati..."

Tanpa iman yang menyelamatkan, setelah mati semua sudah terlambat. Tidak ada tombol Ctrl-Z untuk meng-"undo" kehidupan dan memulai dari awal.

Wednesday, May 4, 2011

Enjoying Golden Week (part 1)

Enjoying Golden Week
Part 1, episode: Golden week is coming


Bayangkan, dalam 7 hari ada 4 hari besar (libur) berturut-turut! Empat hari besar yang jatuh di minggu pertama bulan Mei (musim semi, musim terbaik sepanjang tahun dengan suhu yang hangat, cuaca yang cerah dan bunga2 mekar dengan indahnya di sepanjang jalan). Orang-orang Jepang menyebut minggu tersebut sebagai Golden week. Di Indonesia, libur semacam ini mirip dengan libur Lebaran di mana hampir semua aktivitas kantor diliburkan selama seminggu penuh, sekolah diliburkan, dan sebagian besar warga menghabiskan waktunya untuk pulang kampung atau berlibur bersama keluarga. Di Amerika atau Eropa, Golden week setara dengan libur natal dan tahun baru yang juga merupakan hari libur berturut-turut.

Tahun ini adalah tahun pertama kami menikmati Golden week di Jepang. Saya meliburkan diri, menghentikan total kegiatan research. Tempat istri saya belajar bahasa Jepang, Ichikawa Language Institute, juga diliburkan selama seminggu penuh. Waktu yang sempurna untuk berlibur panjang!

Beberapa hari sebelum Golden week, kami mulai memikirkan untuk mengisi waktu selama Golden Week. Bagaimana kalau travelling? Sounds great! Golden week memang banyak dimanfaatkan untuk berlibur ke luar negeri. Bagi sebagian besar orang Indonesia, liburan ke luar negeri, kelihatannya borju, menghambur2kan uang dan hanya dapat dinikmati oleh orang2 kaya...

Di Jepang, biaya liburan ke luar negeri malah lebih murah ketimbang stay di negaranya. Kalau mereka berlibur ke Australia, biaya hidup (makan, transportasi, tempat tinggal) bisa lebih murah sampai 10-20% dibandingkan kalau berlibur di Jepang sendiri. Kalau mereka berlibur ke negara tetangga, Taiwan, Korea atau China, biaya hidup bisa lebih murah sampai 40%. Sementara kalau berlibur ke Indonesia, biaya hidup bahkan bisa 70% lebih murah (dan resiko kecopetan di terminal bus atau dipalak ketika sampai di bea cukai meningkat sampai 80%).

Tiket pesawat juga tidak terlalu mahal menurut ukuran seorang pegawai biasa ataupun mahasiswa yang punya kerja part-time. Dengan 50rb yen (yang setara dengan upah kerja part-time selama seminggu), bisa dapet tiket ke Eropa. Dengan 25rb-30rb yen (atau setara dengan 1/10 gaji pegawai biasa di Jepang), mereka bisa mendapatkan tiket pesawat PP ke Taiwan, Korea atau China. Bahkan maskapai penerbangan Australia (Jetstar) memberikan promo penerbangan selama Golden Week untuk keberangkatan dari Tokyo - Sydney hanya 9800 yen! (sekitar 1jt rupiah) - murah banget... Lah wong tiket kereta Shinkansen untuk jarak 300Km bisa sampe 13.000 yen.

Jadi Golden week kali ini tidak kami sia-siakan. Kami travelling!
Tujuannya?

Korea? Bagus juga walopun kami sama-sama tidak mengerti bahasa Korea. Taiwan atau China? Istri saya tidak akan kesulitan berkomunikasi di sana. Australia? Emm... Bisa dipertimbangkan. Eropa? Keliatannya keren! Eh, bagaimana kalau pulang ke Indonesia, menikmati soto ayam lombok atau tempe penyet? Aha!

Dan berdasarkan meeting Swastika's Family di bulan April lalu, liburan Golden week di awal Mei 2011 ini kami sepakat untuk travelling ke...

Kami sepakat untuk ke Ishinomaki, propinsi Miyagi. Salah satu kota terparah yang dihancurkan oleh tsunami setinggi 6 meter pada 11 Maret 2011 lalu. Kami akan menjadi sukarelawan di sana.

-----


Ishinomaki adalah sebuah kota kecil yang tenang dengan pemandangan laut yang indah. Jumlah penduduk hanya 160rb jiwa (jauh lebih sedikit dibandingkan populasi kota Malang yang mencapai 800rb jiwa atau Tokyo yang mencapai lebih dari 12juta jiwa). Pemandangan hijaunya pohon-pohon yang berjajar dengan rapi, indahnya bukit dan gunung di kejauhan, birunya laut menjadi pemandangan alami yang indah sepanjang perjalanan menuju kota Ishinomaki. Gedung-gedung tinggi, mall, hiruk pikuk manusia yang berlalu lalang dan keramaian yang dirasakan di Tokyo, nyaris tidak terasa. Tipikal kota kecil di mana penduduknya hidup berdampingan dengan damai dan ramah satu dengan lain.

Tanggal 11 Maret 2011, kota kecil yang indah, tenang, dan damai ini berubah jadi mimpi buruk bagi 160 ribu penduduknya. Pukul 14:55, beberapa menit setelah gempa 9.0 skala richter, sirine di pantai meraung-raung dan tak henti2nya memberikan pengumuman bagi warganya, "Pukul 15.00, tsunami setinggi 6 meter akan masuk ke kota, segera pergi menuju daratan tinggi.". Waktu 5 menit bukan waktu yang lama untuk packing. Bukan waktu yang lama untuk memberi kabar kepada teman/keluarga yang masih belum tahu apa yang terjadi. Bukan waktu yang lama untuk menyelamatkan diri menuju daratan tinggi. Tsunami setinggi 6 meter itu benar-benar datang. Tidak ada yang bisa mencegah. Teknologi yang ada baru sebatas memberikan peringatan, bukan menghalangi ombak tsunami dengan kecepatan 800km/jam itu untuk "berkunjung" ke kota Ishinomaki.

Malam hari , Tsunami sudah mulai kembali ke laut. Menyisakan ribuan mayat yang tergantung di gedung-gedung yang hancur ataupun bergelimpangan di sekitar pesisir pantai karena terseret tsunami. Sepuluh ribu orang lebih meninggal. Ratusan ribu orang kehilangan keluarga dan harta benda. Pasokan makanan sangat terbatas. Tidak ada listrik dan air bersih bagi korban tsunami yang harus tinggal di tempat-tempat penampungan darurat.

Kota Ishinomaki yang tenang dan indah itu telah berubah total dalam satu hari. Hancur lebur dengan bau amis laut yang menyengat.


----
Kami sudah tiba kembali dengan selamat di Chiba. Apa yang kami lihat, alami, dan lakukan di kota Ishinomaki selama 2 hari 2 malam sebagai sukarelawan adalah pengalaman yang tak terlupakan. Pengalaman kehidupan yang berharga, membuat kami semakin menghargai nafas kehidupan yang masih Tuhan percayakan untuk diberikan kepada kami hari ini.

(bersambung)

  • Foto 1, sumber: http://img.4travel.jp/img/tcs/t/album/lrg/10/32/74/lrg_10327417.jpg?20101005193513
  • Foto 2 dan 3 diambil dengan menggunakan kamera Blackberry 8520.