Wednesday, March 23, 2011

Radiasi dan Hati

Posting untuk rekan-rekan sebangsa dan setanah air di Jepang yang sedang (1) menimba ilmu (baik yang rajin maupun yang malas) (2) bekerja (baik yang legal maupun ilegal) (3) bengong (nggak tau mesti ngapain di Jepang):

Isu radiasi sudah nggak asing lagi sejak gempa dan tsunami 2 minggu lalu. Efek radiasi memang nggak seperti makan cabe, yang langsung kerasa pedasnya ketika bersentuhan dengan lidah. Efeknya baru kerasa setelah beberapa atau puluhan tahun kemudian (begitu kabarnya). Di Tokyo, ketakutan akan radiasi dengan cepat menyebar. Kota megapolitan yang terletak 200Km dari Fukushima (lokasi meledaknya reaktor Nuklir), mulai ditinggalkan ratusan (atau ribuan?) warga negara asing. Minggu lalu, televisi meliput bagaimana antrian di bandara Narita dan Haneda yang dipenuhi orang2 asing yang akan pulang ke negaranya karena kuatir dengan keadaan di Jepang (entah kuatir dengan gempa susulan ataupun radiasi).

Saya?

Tetap tinggal di sini bersama istri tercinta.

Nggak lebih baik balik Indo aja kayak temen2 laen?

Masalah balik ato nggak adalah masalah hati. Kalau dengan tinggal di Jepang, hati jadi nggak damai, kuatir terus2an, takut dengan radiasi atau gempa2 susulan, jalan yang terbaik adalah kembali pulang negara masing-masing (seperti yang dilakukan ribuan warga asing hari-hari ini). Ngapain tetap di Jepang kalo tersiksa dalam keadaan gelisah dan takut terus menerus. Yang lebih parah, gara2 rasa takut, apa yang ditakutkan itu malah terjadi... Seperti efek obat plasebo, sesuatu yang seharusnya tidak memberikan efek apa-apa, tapi karena dipercaya dapat memberikan efek tertentu, maka efek tersebut terjadi persis seperti yang dipercaya. Efek plasebo juga dapat berlaku secara negatif, yang seharusnya nggak ada apa-apa, gara2 dikuatirkan terus2an, malah bisa terjadi persis seperti yang dikuatirkan.

Jadi, yang terpenting, tinggal di tempat di mana hati kita bisa ngerasa tenang, damai dan nggak kuatir. Saat ini, saya nggak terlalu kuatir dengan isu radiasi. Di Chiba (dan Tokyo), setahu saya, sebaran radiasi dari Fukushima masih sangat rendah. Isu tentang kontaminasi sayuran, susu atau air yang sampai membahayakan kesehatan juga masih sayup-sayup (radiasi memang ada, tapi masih dalam batas wajar). Jadi saya nggak begitu kuatir tinggal di Chiba.

Kalo dipikir lagi, sebenernya semua tempat tinggal juga beresiko. Kalo ada yang bilang tinggal di Indonesia lebih aman, ya... Selamat datang di Indonesia. Tempat di mana listrik dapat padam seenak udel yang memadamkan tanpa tahu kapan menyala kembali, tempat di mana angkot dapat menaikkan dan menurunkan penumpang seenak udel pengemudinya, tempat di mana ketika terjadi kecelakaan lalu lintas, dia yang berotot, ngotot (dan punya udel) adalah yang benar, tempat di mana uang dapat membuat urusan menjadi lancar jaya, tempat di mana gaji pegawai (kecil) yang nggak korupsi hanya numpang lewat di rekening tabungan, sementara pegawai yang korupsi dapat pelesir dan bersenang2, tempat di mana kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin jadi pemandangan umum sehari2, tempat di mana buku dapat berubah menjadi bom... Nah kan?

Tapi, bagi sodara-sodara sebangsa dan setanah air yang sedang di Jepang, kalo di Indonesia bisa membuat hidup tenang dan damai dibandingkan tetap tinggal di Jepang, ya monggooo... Silahkan balik ke Indonesia. Ke manapun pindahnya, yang penting hati tenang, daripada hidup dalam kekuatiran... Inget kata2 bijak, "Hati yang gembira adalah obat yang mujarab." Jadi sekali lagi, yang penting tinggal di tempat di mana hati bisa tenang, damai dan gembira, karena itu yang bikin hidup jadi bisa dinikmati (sehat, bahagia, kaya raya sampai lanjut usia dan menutup mata lalu masuk surga, amin). Kalo suatu saat kelak hati saya nggak tenang karena tinggal di Jepang, saya juga pasti akan balik ke tanah kelahiran saya, Indonesia.

Nah, bagi yang mau balik Indonesia, jangan lupa beli tiket pesawat, karena kalo berenang kejauhan... Bisa2 tenggelam di tengah2 perjalanan. Kalo mau gak beli tiket ya nunggu di laut, siapa tau pas ada tsunami jurusan Indonesia, bisa ikutan numpang di atasnya. Lumayan, hemat tiket pesawat. Awas, jangan salah naik tsunami jurusan Hawai, karena nanti jadi tambah jauh dari Indonesia.


Saturday, March 12, 2011

Gempa dan teknologi di Jepang

Menjelang jam 3 kemarin, ada getaran2 kecil yang saya rasakan ketika saya makan siang di Lab (walaupun tinggal di Jepang, perut saya masih ikut Waktu Indonesia). Rekan2 di lab (yang mana labnya di Lt. 4) nampak tenang sambil berkomentar dengan kata kunci jishin (地震). Selama ini juga begitu. Kalau ada getaran akibat gempa (yang sdh saya rasakan 6 kali sejak saya tiba di Jepang), mereka tenang2 aja, kadang malah sambil ketawa2.

Kali ini gempanya beda. Bukannya berhenti, tapi getarannya makin besar sampai membuat buku, alat2 tulis dan dokumen2 yang ada di atas meja meja jatuh ke lantai. Itu baru awalnya. Beberapa rekan berdiri. Saya menghentikan makan, ikut berdiri, memegangi monitor flat komputer saya agar tidak jatuh. Beberapa monitor dan CPU mulai terlihat jatuh dari meja saking kerasnya getaran. Buku2 dan barang2 kecil sudah berserakan tak karuan di lantai, berguncang2 karena getaran gempa. Lab nampak berantakan. Tangan saya yang satu memegang monitor lain yang nyaris jatuh. Seorang rekan nampak sudah berlindung di bawah kolong meja komputer. Walaupun getaran sudah di luar batas kewajaran gempa yang biasa terjadi, tidak terdengar teriakan panik atau berebut keluar dari gedung.

Saya juga merasa tidak alasan untuk panik. Gedung2 di Jepang dirancang tahan gempa. Saya melihat di luar jendela, getarannya membuat mobil2 juga bergoyang2... Beberapa orang terlihat keluar dari gedung. Tidak ada tanda2 kepanikan atau teriakan histeris. Tertib, teratur, dan tidak berhamburan.

Kami di Lab, memutuskan untuk keluar setelah gempa tidak juga segera berhenti. Guncangan yang ditimbulkan sudah di luar batas kewajaran. Rekan lab yang paling senior segera memberikan instruksi untuk keluar dari lab. Saya memperhatikan, setelah semua keluar dari lab, barulah dia menutup pintu lab, dan mengikuti kami turun tangga. Getaran masih mengguncang2 kami ketika kami turun dari tangga.

-----
Hingga malam hari, gempa susulan masih terasa. Semua program televisi dihentikan, digantikan dengan laporan langsung dari lokasi gempa dan tsunami. Suara helikopter yang menderu-deru sesekali masih terdengar.
-----

Tahun 2004 silam, Aceh diguncang gempa berkekuatan 8.5, dan diikuti tsunami setinggi kurang lebih 10 meter yang menyapu sampai 9 km dari pesisir pantai. Diperkirakan 150rb korban jiwa meniggal karena tsunami aceh. Infrastruktur rusak parah dan pemulihan butuh waktu berbulan2.

Di Jepang, dicatat gempa kali ini berkekuatan 8.8 - lebih besar dari gempa Aceh, dan diikuti dengan tsunami setinggi 10 meter, menyapu sampai 24 km dari pesisir pantai dan masuk ke kota Miyagi (hampir 3 kali lebih panjang dari sapuan Aceh). Pagi ini, update berita menunjukkan jumlah korban jiwa mencapai 400 orang meninggal, sementara 650 lainnya belum diketahui.

Dari apa yang saya lihat, teknologi pendeteksian dini tsunami dan gempa di Jepang telah membuat perbedaan besar korban jiwa. Seratus lima puluh ribu berbanding dengan seribu (update terakhir 25 Maret 2011: sepuluh ribu meninggal dunia). Penelitian saya nggak ada kena mengenanya dengan teknologi gempa... Tapi, dampak teknologi yang diterapkan untuk menanggulangi gempa benar2 membuat saya sadar bagaimana peranan teknologi untuk menyelamatkan nyawa manusia ketika harus berhadapan dengan alam. Seandainya teknologi yang sama diterapkan 6 tahun silam untuk mendeteksi tsunami aceh, puluhan ribu nyawa akan dapat diselamatkan. Sebagai (calon) ilmuwan, saya berharap teknologi yang saat ini saya pelajari (Medical engineering), kelak dapat saya terapkan di Indonesia, dapat saya tularkan untuk generasi muda negara saya, Indonesia - dan memberikan dampak yang sama seperti halnya dampak penerapan teknologi pendeteksian dini tsunami.


Wednesday, March 9, 2011

Harapan datangnya musim semi

Seorang bijak pernah mengatakan, "Untuk segala sesuatu ada saatnya." So true.

Sejak bulan Desember tahun lalu, saya mengalami musim dingin, yang mana pengalaman baru bagi saya. Pengalaman baru, karena sejak lahir, saya tinggal di negara tropis dengan cuaca yang sangat bersahabat dan suhu berkisar antara 21-24 derajat celcius sepanjang tahun. Hangat, menyenangkan dan wajib disyukuri.

Dalam 3 bulan terakhir, untuk pertama kalinya saya hidup di lingkungan bersuhu di bawah 10 derajat (beberapa hari berturut-turut di bulan Februari sempat berkisar 0-4 derajat), total sudah 4x melihat hujan salju dengan salju yang jatuh sebesar kelereng (walopun pas jatuh nggak seberat kelereng). Tanaman lombok yang saya tanam sejak bulan November, nyaris tidak menunjukkan adanya pertumbuhan di musim dingin ini. Dua di antaranya ada tanda2 akan mati.

Hari-hari ini, suhu sudah mulai bersahabat walaupun masih di bawah 10. Prakiraan cuaca meramalkan minggu depan suhu sudah di atas 10 derajat dan mulai memasuki musim terbaik sepanjang tahun, yaitu musim semi.

Gimana rasanya hidup di lingkungan dengan suhu di bawah 10 derajat? Dingin... Serasa masuk kulkas tiap hari. Tapi saya tetap menikmati... Setiap hari, bersepeda 15 menit untuk menikmati "sejuk"nya pagi hari di musim dingin ketika berangkat ke kampus dan another 15 minutes saat pulang. Kecepatan angin dingin-nan-lembab yang menerpa bisa mencapai 25km/jam (yang membutuhkan ekstra tenaga untuk mengayuh sepeda ketika angin datang dari arah berlawanan), kadang harus menerjang hujan (air) atau salju sepanjang perjalanan pergi atau pulang ke kampus. (btw, di jepang, sepeda adalah sarana transportasi utama mahasiswa... Sejak menginjakkan kaki di kampus, saya nggak pernah liat ada mahasiswa yang naek sepeda motor apalagi bawa mobil pribadi ke kampus... hampir semua naek sepeda ato jalan kaki). Yet, I enjoy winter... It is enjoyable. Nggak perlu dikeluhkan, disesali apalagi sampe disumpahi mandul 7 turunan. Dinikmati aja.

Kenapa musim dingin bisa dinikmati? Karena musim dingin nggak akan berlangsung selamanya... Ada saatnya musim dingin berakhir dan digantikan oleh musim semi. Sekarang, saat-saat musim dingin akan segera berakhir. Saat-saat musim semi akan segera dimulai. "Untuk segala sesuatu ada saatnya." So true.

Harapan datangnya musim semi, membuat saya bisa menikmati musim dingin.

So is life. Saat kita punya harapan akan sesuatu, kita akan menikmati hidup. Tanpa ada harapan, semua yang kita kerjakan akan nampak membosankan atau bahkan menyiksa.
  • Mahasiswa yang punya harapan untuk lulus akan bisa menikmati "asyiknya" kuliah. Sementara yang nggak punya harapan untuk lulus, masuk kuliah pun malas dan nggak berdaya ketika ada tugas yang menyulitkan.
  • Pegawai yang punya harapan bahwa tempat kerjanya akan memberikan penghidupan yang lebih baik, akan bergairah datang ke kantor, mengerjakan tugas2nya dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab, sementara pegawai yang nggak punya harapan terhadap tempat kerjanya, nggak akan menikmati pekerjaannya... ato malah komplain ketika diberi pekerjaan.
  • Seorang yang berharap punya bisnis sendiri, nggak akan bosan untuk terus belajar tentang perbankan, investasi, pajak, properti atau bidang wirausaha lain, sementara yang nggak punya harapan untuk punya bisnis, nggak akan repot2 belajar hal2 itu.
  • Seseorang yang punya harapan menjadi penyanyi top, olahragawan terbaik, dokter spesialis, nggak akan lelah belajar di bidang yang digelutinya.
  • Pengusaha yang berharap bisnisnya akan menjadi besar, pasti bersemangat untuk mencari macam2 peluang untuk ekspansi usahanya, sementara pengusaha yang putus harapan untuk melunasi utang2nya, akan stres, depresi dan mungkin bunuh diri.
  • Orang tua yang punya harapan besar untuk anaknya, akan berusaha memenuhi kebutuhan anak2nya dengan apapun yang dipunyainya, akan memberikan pendidikan terbaik untuk anaknya. Sementara orang tua yang sudah hopeless terhadap anaknya, akan menganggap mengurus anak hanya hal yang merepotkan.
  • Pengajar yang punya harapan bahwa suatu saat anak didiknya akan menguasai apa yang diajarkannya, akan dengan penuh semangat mengajar dan memotivasi anak didiknya untuk terus belajar. Sementara dosen yang hopeless terhadap mahasiswa yang diajar, nggak akan repot2 memberi tugas, nggak akan repot2 mengoreksi kuis, nggak akan repot2 bikin soal uas dan nggak akan repot2 mengajar tepat waktu.
Punya atau tidaknya harapan, sangat memengaruhi tindakan. Tanpa harapan, semua jadi nggak bisa dinikmati. Sama seperti seandainya saya nggak tau kapan musim dingin akan berakhir, pasti musim dingin akan sangat menyiksa. Harapan datangnya musim semi, sungguh membuat musim dingin bisa dijalani tanpa keluhan.

Have hope... Akan ada saatnya "musim dingin" berubah menjadi "musim semi". Karena untuk segala sesuatu ada saatnya.

So true.