Thursday, February 24, 2011

Kenapa Ph. D butuh 3 tahun (part 2)

Saya ralat judulnya. Judul "Kenapa Ph. D butuh 3 tahun" kurang tepat. Lebih tepat kalau diberi judul "Kenapa Ph. D (di UCNJ) butuh (minimal) 3 tahun".

Catatan kecil:
  • UCNJ: Universitas Chiba Nusantara Jaya.

Ceritanya, dua minggu lalu saya ujian masuk doktoral. Kata profesor pembimbing saya, ujian masuk ini sifatnya formalitas aja, jadi nggak perlu terlalu kuatir karena selama ini hampir semua bisa lulus ujian. Kalau lulus ujian, berarti saya resmi menjadi Ph. D student. Lah selama ini emang bukan Ph. D student? Bukan. Selama ini status saya adalah research student. Bedanya kalo Ph. D student bisa dapet gelar Ph. D sementara kalo research student nggak akan pernah dapet gelar Ph. D.

Materi ujian masuknya adalah presentasi penelitian yang akan dikerjakan plus oral interview. Tentu komunikasi harus dilakukan dengan menggunakan bahasa yang dipahami oleh baik yang diuji maupun ke-4 penguji yang bergelar Ph. D dengan embel2 Profesor. Pilihannya jatuh pada Bahasa Inggris, secara para profesor penguji itu nggak bisa Bahasa Indonesia blas.

Jadilah 20 menit presentasi dan 20 menit tanya jawab. Gimana rasanya? Yang sulit di 5 menit pertama... Nervous, mengatur suara dan gesture agar terbiasa dengan suasana dan tatapan para penguji. Setelah lewat 5 menit... keringat dingin, berdebar2, mendadak gagap, speechless sampe akhirnya pingsan di tempat. :) Hehe2... Presentasi berjalan dengan lancar. Semua pertanyaan bisa saya jawab dengan lancar karena semua yang dipresentasikan "tidak mengada-ada".

Hasilnya? Berdasarkan fakta bahwa presentasi dan oral interview berjalan dengan lancar, plus informasi dari profesor pembimbing bahwa selama ini ujian masuk cuman sekedar formalitas belaka, maka minggu depannya saya mendapatkan kabar yang menggembirakan (nggak perlu dikasi selamat). Setelah melewati masa research student selama 1 semester, resmilah saya pada awal semester ganjil yang baru, yaitu April 2011 sebagai... Research Student untuk satu tahun ke depan! Iya, jadi research student lagi.

Ternyata saya dinyatakan nggak bisa diloloskan untuk menjadi Ph. D student. Menurut profesor pembimbing saya, tahun ini ada policy baru dari dekan fakultas teknik UCNJ untuk membatasi jumlah Ph. D student. Saya menengarai policy ini diberlakukan untuk international student. Teman lab saya, international student dari China yang sudah 7 tahun tinggal di Jepang, lulusan S2 dari UCNJ, dan sudah menjadi research student selama 1 tahun, juga dinyatakan nggak lulus dan harus jadi research student selama 1 tahun ke depan. Kemungkinan prioritas Ph. D student diberikan kepada mahasiswa Jepang.

Awalnya kabar ini kabar yang nggak enak buat saya. Tapi setelah saya pikir2, lah, emang nggak enak di apanya? Justru ini kabar menggembirakan...

Kalo saya research student sampe 1 tahun ke depan, berarti saya akan berada di Jepang sampe setidaknya 4 tahun ke depan. Karena saya termasuk orang yang suka belajar, maka kalo ada kesempatan belajar dan memperdalam ilmu (yang saya minati) ya pasti menyenangkan... Saya jadi bisa lebih lamaaa meneliti (dengan tenang) di laboratorium dengan fasilitas super lengkap. Kalo semakin lama di sini, tentu ilmu yang didapat akan lebih banyak, pengalaman meneliti di bawah bimbingan profesor yang kompeten juga bertambah, kemampuan bahasa Jepang akan semakin canggih (yang mana saya juga suka belajar bahasa)... Dan tantangan yang menarik adalah mengatasi situasi di mana beasiswa hanya diberikan selama 36 bulan (yang sudah berjalan 5 bulan). Situasi ini akan membuat kami jadi punya kesempatan untuk mengasah kreativitas dan daya juang. So exciting! Orang Jepang bilang, omoshiroiii...! (dan plus bonus bisa lebih lamaaaa menikmati indahnya negara Jepang).

What a journey... a doctorate journey.

(to be continued...)


Tuesday, February 15, 2011

Televisi

Dibandingkan dengan Indonesia, saya merasa acara televisi di Jepang lebih menarik. Setiap acara dikemas dengan kreatif, sebagian diberi subtitle dalam Kanji (mungkin untuk memudahkan mereka yang tuna rungu atau bisa juga untuk melatih anak2 SD dan orang asing seperti saya agar lebih lancar membaca kanji), diberikan animasi dan warna2 yang segar agar penonton betah menonton berjam2, dan tak lupa menampilkan pembawa acara yang cantik atau keren atau konyol agar lebih menghibur.

Nggak di Indonesia, nggak di Jepang, para produser acara TV berusaha bikin acara yang penonton sampe betah di depan TV selama berjam2. Waktu di Indonesia, saya sering kali ketemu dengan anak2 muda (dan orang tua) yang masuk dalam kategori "pecandu TV". Dalam sehari, waktu yang dihabiskan di depan TV bisa 5-10 jam. Kalo ketemu dengan "pecandu TV" semacam ini, saya kemudian berhitung2... Kalau 1 hari menghabiskan 5 jam di depan TV, maka dalam 1 minggu dia menghabiskan 35 jam di depan TV. Dalam 1 bulan dia menghabiskan 140 jam. Dalam 1 tahun dia menghabiskan lebih dari 1500 jam. Kemudian saya membayangkan beberapa skenario lagi...
  • Seandainya si anak muda pecandu TV ini punya bakat bermain musik atau menyanyi, dan dia mengganti 1500 jam menonton TV dengan berlatih memainkan alat musik atau menyanyi, maka pasti permainan musik/teknik menyanyi yang dimilikinya akan meningkat dengan drastis. Dia sangat mungkin jadi profesional, diundang di berbagai event atau malah sudah menghasilkan album. Tapi kotak televisi telah membuat semua hal itu tidak terwujud.
  • Seandainya si anak muda pecandu TV ini punya jiwa seni melukis, dan dia mengganti 1500 jam menonton TV dengan berkreasi dan mencipta karya seni, maka kemungkinan besar si anak muda ini telah menghasilkan karya lukisan yang benilai jual tinggi. Karyanya mungkin akan dipamerkan dan membuat banyak orang berdecak kagum. Tapi karya2 itu menguap begitu saja di depan kotak televisi.
  • Seandainya si anak muda pecandu TV ini punya bakat menulis, dan dia mengganti 1500 jam menonton TV dengan membaca/menulis novel, maka hampir dipastikan akan ada 2 atau 3 novel berkualitas yang dihasilkan. Namun, novel2 itu terkubur dalam otaknya begitu saja tanpa pernah dibaca siapapun karena kotak televisi.
  • Seandainya si anak muda pecandu TV ini punya potensi sebagai seorang ilmuwan, dan dia menggantikan 1500 jam menonton TV dengan melakukan berbagai penelitian di Lab, pasti akan muncul penemuan-penemuan canggih yang membuat hidup manusia lebih baik. Namun penemuan2 itu nggak pernah muncul karena terhalang oleh sebuah kotak hitam bernama TV.
  • Seandainya si pecandu TV adalah bapak rumah tangga, tentu hubungannya dengan istri akan jauh lebih baik baik ketika si bapak mau menemani istri yang berangkat tidur duluan karena lelah mengurus rumah tangga seharian ketimbang waktunya dihabiskan di depan TV dan membiarkan istrinya tidur sendirian. Atau hubungannya dengan anak2nya akan lebih harmonis ketika si bapak mau menemani ngobrol anaknya yang hendak berangkat tidur ketimbang si bapak berkonsentrasi nggak jelas di depan TV.
Tapi ya, bukan berarti nonton TV itu jelek. Kalo di Jepang, saya nonton TV untuk melatih listening dan reading (kanji). Istri saya nonton TV untuk mengamati/belajar mode, fashion, dan karya2 seni kreatif di Jepang dan dipraktekkan - juga melihat acara memasak untuk menambah pengetahuan. Di Indonesia, Mami saya termasuk golongan yang suka nonton TV sampe berjam2 dan saya nggak pernah memprotes mami dengan alasan2 di atas. Kenapa? Ya karena alasan di atas sudah nggak valid dikenakan ke mami. Usia mami saya udah 60, tahun ini akan pensiun sebagai guru SD setelah mengajar hampir 40 tahun lamanya (dan ehm... saya bercita2 untuk mengajak mami jalan2 ke Jepang, menikmati masa pensiun-nya).

Dalam 40 tahun mengajar, sudah ribuan siswa dihadapi. Teknik mengajar yang dipunyai sudah benar2 teruji. Sudah hafal benar kata per kata yang hendak diucapkan ketika hendak mengajar. Sudah tau persis di mana muridnya akan kesulitan dan bagaimana mengatasinya. Materi matematika, Bahasa indonesia, PpKN, IPA, dan IPS sudah hafal benar tanpa melihat buku teks, menerangkan ke murid2 sudah semudah membalikkan tangan. Jam mengajarnya sudah lebih dari 30.000 jam. Jadi, ketika sudah tidak lagi perlu menyiapkan bahan mengajar untuk keesokan harinya (karena sudah hafal), ya hiburannya adalah nonton TV. Saya jelas nggak bisa protes ke mami kalo mami menghabiskan waktu berjam2 di depan TV menggunakan alasan2 di atas tadi.

Alasan di atas hanya bisa di-validasi untuk mereka2 yang merasa usianya adalah usia produktif, di mana masih banyak karya2 yang bisa dihasilkan. Di mana waktu perlu dimanfaatkan untuk memperdalam skill, mengembangkan talenta - dalam bidang apapun - ketimbang waktunya habis begitu saja di depan TV.

Tentu Sang-pemberi-talenta berharap agar talenta yang sudah di-deposit-kan dalam diri masing2 nggak ngendon gitu aja tanpa hasil apapun gara2 terlalu sering melototi kotak hitam bernama televisi.


Monday, February 14, 2011

Selesai...

Awal November 1975

Dia masih muda, baru berusia 25 tahun. Sore itu ia menyusuri jalan dengan berjalan kaki, lambat2. Pikirannya kalut, tidak tenang memikirkan kelahiran anak pertamanya. Tipikal keluarga muda yang baru berumah tangga, belum mapan bekerja dan nggak punya banyak uang. Yang ada di dalam pikirannya adalah Bagaimana membiayai kelahiran anak pertamanya.

Tanggal 27 November 1975, anak pertamanya lahir normal di sebuah rumah sakit kecil. Perempuan. Nggak ada banyak uang untuk membawa istrinya melahirkan di rumah sakit yang mewah. Dia menangis bahagia memandang anaknya. Sekarang ia punya semangat lebih, ia harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya.

Dua tahun berikutnya, anak keduanya lahir. Perempuan lagi. Keadaannya masih belum baik, dia masih nggak punya banyak uang. Tapi setidaknya sekarang sudah punya sepeda motor bekas yang dibelinya secara kredit. Sepeda motor itu yang mengantarkan dia bekerja, mengantarkan istrinya atau anaknya ke dokter.

Sepeda motor itu lunas ketika anak ketiganya lahir. Ia puas, walaupun tetap nggak punya banyak uang.

Februari 2007

Anak perempuan pertamanya, menjadi seorang arsitek, menangani proyek resort dan hotel di Pulau Bintan. Berkeluarga dan punya seorang anak perempuan, cucu pertamanya. Bakat menggambar yang dimiliki sang anak, didapat dari dia. Dia nggak pernah bisa jadi arsitek seperti anak pertamanya, tapi dia bangga dengan anak perempuan pertamanya, anak pertama yang dulu bahkan dia nggak tau harus membayar biaya kelahirannya dengan cara apa. Tapi dia bangga.

Anak keduanya lulus Cumlaude dari ITB dan menyelesaikan pasca sarjana di University of Queensland dengan predikat cumlaude (lagi). Saat itu, anak keduanya menjadi seorang peneliti dan pengajar di UBAYA. Lelaki itu bangga dengan anak keduanya, anak yang waktu masih kecil sering sakit2an, yang harus dibawa ke dokter dengan mengendarai sepeda motor, cemas2 kalau ia nggak bisa menebus resep obat karena ia nggak punya banyak uang.

Cita2nya untuk menulis buku diselesaikan anak ketiganya. Anak ketiganya menjadi penulis, pengajar, sama seperti dia dulu waktu masih muda. Dia dulu mengajar di SD dan SMP, anaknya mengajar di perguruan tinggi. Dia begitu mencintai pendidikan, mengabdikan dirinya untuk menjadi guru dan tetep mengajar walaupun tahu bahwa dia nggak akan bisa punya banyak uang untuk anak2nya.

Dia menangis bahagia ketika menghadiri pernikahan anak pertamanya. Ia senang ketika dia bisa menggendong2 cucu pertamanya. Dia bahagia menghadiri pernikahan anak keduanya, lalu sekali lagi bisa melihat kelahiran cucu keduanya. Ia bangga dengan anak ketiganya yang melanjutkan kuliah S2 di tahun 2006. Ia ingat bagaimana dia harus bekerja keras untuk membesarkan anak2nya yang masih kecil, ketika dia kebingungan mencari uang untuk membiayai biaya kuliah anak keduanya yang diterima di ITB, ketika dia memberikan sepeda motornya ke anak lelakinya agar anak lelakinya bisa kuliah dengan nyaman tanpa harus naek angkot. Tapi semuanya sudah terbayar. Semua kesusahan yang dia hadapi di masa lalu sudah selesai ketika melihat anak2nya berhasil.

Dan bulan Februari 2007, tugasnya di bumi sudah selesai. Ia selalu bekerja dengan efisien, nggak suka membuang2 waktu. Mengerjakan semuanya dengan benar dan se-efisien mungkin, dan dia melakukannya. Dia menyelesaikan tugasnya dalam waktu 57 tahun. Menyelesaikan tugasnya untuk membesarkan anak2nya. Dia mendidik anak2nya dengan nilai2 yang bener. Lalu Tuhan memanggil lelaki itu. "Anak-Ku, tugasmu sudah selesai. Kamu sudah melakukan tugasmu dengan baik. Mari, saatnya kembali ke surga bersama-Ku, Aku sudah menyiapkan tempat tinggal untukmu."

Dia lelaki yang though, nggak gampang nyerah. Ia menawar. "Tuhan, bolehkah aku kembali setelah melihat anak pertamaku? Anak pertamaku akan datang bulan Februari ini dengan membawa cucu pertamaku. Aku ingin melihat anak2ku dan cucu2ku terakhir kali sebelum aku kembali."

Tuhan mengabulkan.

Tuhan memperpanjang umurnya beberapa hari agar dia bisa melihat anak pertama dan cucu pertamanya terakhir kali. Semua anak2nya menemani dia di hari2 terakhir. Tugas terakhirnya pun diselesaikan dengan baik, ia memegang tangan istrinya, menggenggamnya dengan sisa2 tenaganya lalu meletakkannya di perutnya sebelum ia pergi. Semua tugasnya sudah selesai.

Selamat jalan papi. I'm proud to be your son, I love you.

[Buat Papi, in loving memoriam, 17 Februari 2007... Sampe ketemu di surga, Pi.]

Thursday, February 10, 2011

Plice

Plice, come to Katsina Barber shop. We have reasonable plice for you.
And if you're pliced with our service, do tell you friends.

Image captured at a barbershop in Inage-Ku, Chiba-Shi.

Thursday, February 3, 2011

Dosen ala "Simon Cowell"

American Idol. Siapa yang belom pernah nonton?

Acara ini, menurut saya menarik karena memberi kesempatan yang sama untuk jadi penyanyi kelas dunia bagi jutaan penyanyi yang merasa dirinya berbakat. Pada proses audisi, mereka akan diberi waktu untuk menunjukkan "bakat" menyanyinya di depan 3 orang juri. Ketiga orang juri tersebut yang menentukan apakah peserta audisi lolos di babak selanjutnya atau tidak. Di American Idol, ada 3 juri legendaris yang mempunyai ciri khas masing-masing, yaitu Randy Jackson, Paula Abdul dan Simon Cowell. Setelah selesai perform, para juri akan memberikan komentar terhadap penampilan masing-masing kontestan. Saya pribadi selalu menantikan komentar dari Simon Cowell (yang mungkin juga dinantikan oleh jutaan penggemar acara American Idol).

Kenapa dinantikan? Karena dari komentarnya akan nampak siapa2 yang memang punya potensi menjadi bintang. Tapi tidak sedikit kontestan yang sakit hati dan benci setengah mati dengan Simon Cowell karena komentar pedasnya (yang sering dianggap penghinaan oleh kontestan yang dikomentari).

Bisa dibayangkan betapa "sebel"nya para kontestan, setelah berlatih dengan keras untuk perform, kemudian dengan logat British-nya yang kental muncul komentar-komentar seperti "Who's your singing teacher? Get a lawyer and sue her.", "I presume there was no mirror in your dressing room tonight.", "You have just invented a new form of torture", "Did you really believe you could become the American Idol? Well, then, you're deaf.", "What do you think we are looking for – a two-year-old who can't sing?", "Can I ask you a question? Do you and your girlfriend sing together at home? Have the police ever called?", "I'm tempted to ask if you sang that the night before your wife left you.", "That sounded like Stevie Wonder... with a really bad cold.", "It would be a challenge to find someone to sing worse than you.", "If you were a horse they'd shoot you."

Komentar2 negatif yang sangat ekstrim itu pasti menyakitkan hati bagi yang dikomentari (yang mungkin jadi salah satu faktor kenapa acara American Idol begitu populer). Namun, komentar positif dari Simon Cowell dapat menunjukkan kualitas seorang bintang. Dalam acara British Got Talent tahun 2010, seorang kontestan bernama Liam McNally yang berusia 14 tahun, setelah perform lagu "Danny Boy" dengan indahnya di babak audisi, mendapatkan komentar dari Simon Cowell:
"I wouldn't call you a good singer..." katanya dengan enteng. "I wouldn't." sambungnya. Penonton tersentak. Raut muka Liam McNally yang masih SMP itu langsung tegang mendengar komentar tersebut. Namun kemudian Simon melanjutkan, "I will call you a FANTASTIC singer!". Dan Liam McNally memang akhirnya melaju hingga babak final. Susan Boyle di tahun sebelumnya, dengan penampilannya yang nampak udik pada babak audisi, mendapatkan komentar dari Simon "'I knew the minute you walked out that we were going to hear something extraordinary, and I was right." Walaupun kalimat tersebut dimaksudkan untuk bercanda, namun penilaian Simon benar. Susan Boyle melaju ke babak final Britain Got Talent, dan popularitasnya meroket ketika video klip audisinya di Youtube ditonton lebih dari 58 juta kali.

Simon Cowell adalah orang jenius di bidang musik. Dari pengalamannya bertahun2 di bidang musik dan entertainment, dia bisa easily spotting whether someone has music talent or not, dengan mudah bisa membedakan mana suara yang berkualitas, tahu jenis2 suara seperti apa yang nanti akan digemari audience, dapat memprediksi apakah seseorang perlu meneruskan karir di bidang tarik suara atau berhenti sama sekali, mengerti bagaimana suara tertentu perlu dipoles untuk menjadi suara emas dan sebagainya.

Di dunia akademik, saya pernah bertemu dengan beberapa dosen ala "Simon Cowell". Mahasiswa memberikan predikat dosen seperti ini dengan sebutan "Dosen killer" karena cara mengajarnya yang ketus dan tidak bersahabat. Materi yang diajarkan berat dan sangat to the point tanpa diberi variasi apapun sehingga mahasiswa lebih banyak yang bingung daripada yang mengerti. Kala memberi nilai terhadap hasil ujian juga super pelit dan menerapkan standard nilai yang tinggi. Nilai ujian di bawah 40 (grade D dan E) bertebaran tanpa ampun. Jika ada mahasiswa yang kurang jelas lalu bertanya tentang materi yang diajarkan, alih-alih menjelaskan dengan clear, dia malah akan berbelit-belit - menjawab dengan pertanyaan, menyuruh mahasiswa membuka buku ini, mencari di sumber itu sampai menuduh bahwa mahasiswa tersebut tidak mendengarkan saat dia menerangkan.

Walaupun nggak se-ekstrim Simon Cowell, komentarnya terhadap mahasiswa lebih banyak menghina ketimbang memuji... "Mahasiswa sekarang tidak bisa menganalisa dengan baik, sudah kuliah tapi budaya belajarnya sama kayak anak SMP/SMA.", "Cara belajar mahasiswa sekarang cenderung mau instan seperti yang diajarkan oleh banyak bimbingan belajar", "Mahasiswa sekarang manja, maunya cuman yang gampang2, kalo dikasih yang sulit, dosen disalahkan.", "Mahasiswa sekarang belajar hanya agar nilainya bagus dan lulus ujian, tidak peduli dengan filosofi ilmu." dan sebagainya.

Sakit hati? Pasti. Dosen2 ala "Simon Cowell" tidak akan menjadi dosen yang populer, apalagi disukai mahasiswa, tidak peduli sepintar atau setinggi apapun gelar yang dimilikinya. Dimusuhi yang iya. Dihujat dengan keras (dan siap2 dipecat kalo nggak punya power, jenjang akademik yang bagus ato berkontribusi terhadap universitas). Dan saya yakin, dosen2 ala "Simon Cowell" ini tahu persis bahwa dirinya akan dimusuhi dengan cara mengajar yang kritis dan nilai pelit seperti itu. Dia tentu bukan orang bodoh dan pasti dengan sadar mengambil resiko tersebut.- Dia jelas mempunyai arah dan tujuan ketika mengambil resiko untuk memilih menjadi dosen semacam itu. Idealnya, tentu dosen2 ala "Simon Cowell" ini ingin membentuk mahasiswa yang diajarkan menjadi mahasiswa yang tangguh, cerdas, dapat belajar mandiri, dan memiliki skill yang bagus sehingga dapat digunakan di dunia kerja. Tidak disangsikan, tujuannya mulia.

Lain Simon Cowell, lain Paula Abdul. Sebagai sesama juri di American Idol, penilaian Paula Abdul, cenderung lembek dan tidak (mau) menyakitkan hati kontenstan. "You're not ready yet, dear..." komentarnya dengan lembut ketika seorang kontestan wanita bernyanyi dengan buruk sementara Simon tanpa sungkan menambahkan, "...and you will never be ready!" Dosen ala "Paula Abdul" lebih populer dan digemari. Memberi nilai dengan murah dan mengajar dengan berbagai variasi agar tidak membosankan di mata mahasiswa. "Asal mahasiswa senang" menjadi motonya dalam mengajar. Dan memang mahasiswa menjadi senang. Lulus dengan nilai A di kelas dosen ala "Paula Abdul" adalah biasa, sementara lulus dengan nilai "A" di kelas dosen ala "Simon Cowell" akan sangat prestisius bagi si mahasiswa.

Lalu sebaiknya dosen harus jadi siapa? Jadi "Simon Cowell", "Paula Abdul" atau "Simon Abdul"?

Saya percaya setiap mahasiswa adalah unik dan harus diperlakukan secara khusus. Mahasiswa yang cemerlang, harus ditarik sedemikian rupa agar potensinya berkembang. Berikan proyek2 yang membuat dia berpikir, belajar, bekerja dan mendapatkan skill yang sesuai dengan potensinya. Kalo harus dikecam karena teledor, lakukan. Kalo harus dipuji, pujilah. Kalo harus sudah waktunya dilepas, lepaskan. Saat harus jadi Simon Cowell, for their own good, ya kenapa nggak.

Sementara untuk mahasiswa yang "kesasar", "salah jurusan", lemah secara akademik, nggak punya passion terhadap apa yang dipelajari, harus perlakukan dengan berbeda. Menjadi dosen ala "Simon Cowell" untuk mahasiswa semacam ini malah akan membuat mahasiswa tersebut sakit hati, kecewa atau malah memilih berhenti jadi mahasiswa. Di sini dosen perlu jeli menemukan potensi dari si mahasiswa. Seringkali perlu "iman" dan "harap" untuk menyadari potensi tersembunyi tersebut dan menyemangatinya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.

Tentu ini jadi tantangan menarik bagi mereka yang berkeinginan untuk berprofesi sebagai dosen. Tapi harus siap dengan penghargaan "pahlawan tanda jasa" dan tetap berbangga ketika si mahasiswa sukses di kemudian hari namun sudah nggak pernah ingat dengan guru2 atau dosen2nya lagi.

NB. Posting ini untuk menjawab pertanyaan beberapa mahasiswa (calon dosen?) tentang seperti apakah profesi dosen itu.