Friday, January 28, 2011

Bangga Jadi "Indonesian"?

Genap empat bulan saya tinggal di negara orang. Seumur2, saya belum pernah meninggalkan Indonesia sampe berbulan-bulan (bahkan berencana sampe bertahun2) untuk menetap di negara lain. Dan sekarang, status saya adalah orang asing, foreigner, gaikoku-jin (dalam bahasa Jepang). Some Japanese menyingkatnya menjadi "gaijin" untuk merendahkan status sosial orang2 asing yang tinggal di Jepang (sama seperti orang Malaysia yang memanggil orang Indonesia dengan sebutan "Indon" ato orang bule yang nyebut orang kulit hitam dengan "Nigger" - diskriminasi untuk menyebut status sosial yang lebih rendah dari dirinya).

Menjadi orang asing di negara lain bener2 pengalaman yang unik. Negara asal kita akan menentukan bagaimana orang asli memandang kita. Prejudice hampir tidak bisa dihindari saat kita menyebutkan asal negara kita. Ketika menyebutkan "I'm from Indonesia " ato "Indonesia-jin desu", kira2 bagaimana pandangan mereka?

Saya nyaris tidak bisa menghentikan fakta-fakta negatif yang muncul di kepala mereka ketika mendengar Indonesia, "Oh, negara miskin", "Oh, negara yang tingkat korupsinya tinggi", "Oh, negara yang nggak aman karena banyak kriminalitas", "Oh, negara yang penegakkan hukumnya kacau-balau", "Oh, negara yang kaya dengan sumber daya alam, tapi rakyatnya nggak produktif, nggak bisa memanfaatkan, nggak pinter mengelola"... Belum lagi kalo pas muncul issue terorisme.

Mungkin bagi seorang "Indonesian" yang sudah pernah tinggal di luar negeri selama beberapa bulan (atau tahun) dan berinteraksi dengan orang2 di sekelilingnya, akan tahu bagaimana pandangan sinis dan prejudice semacam itu (yang simply nggak bisa dirasakan orang-orang dari negara maju seperti Amerika atau China).

Pengalaman semacam ini yang menurut saya pengalaman unik yang nggak akan pernah dirasakan saat masih berada di Indonesia. Dari pengalaman semacam ini akan muncul 2 golongan. Yang pertama adalah mereka yang tergugah rasa nasionalisme-nya dan kemudian melakukan yang terbaik untuk membuktikan bahwa prejudice negatif yang ada adalah salah. Orang golongan ini berusaha untuk mengangkat martabat Bangsa Indonesia dengan bertingkah laku mematuhi aturan dan memiliki etos kerja disiplin.

Dan yang kedua adalah golongan yang kemudian malu untuk mengakui bahwa dirinya adalah seorang "Indonesian". Bagi golongan kedua ini, mengatakan "I'm Indonesian" adalah tabu dan memalukan. (Sebenarnya ada satu golongan lagi, yaitu golongan netral yang nggak peduli dengan nasionalisme - mau orang mikir Indonesia itu bobrok, mau mikir Indonesia itu keren, egp, emang gue pikirin).

Saya pinginnya jadi golongan pertama... Setidaknya membuktikan ke orang2 di sekeliling saya bahwa prejudice negatif tentang Indonesia nggak bisa digeneralisasi untuk semua orang Indonesia. Paling nggak, ada segelintir orang yang berpikir ulang bahwa Indonesia bukanlah negara bobrok seperti yang disangkanya. Paling nggak, ada pengaruh (entah kecil ato besar) yang bisa saya berikan untuk memperbaiki citra negatif Indonesia. Paling nggak, saya bisa berbuat sesuatu untuk negara kelahiran saya, Indonesia.

Kelak, generasi berikutnya, anak cucu kita akan bisa bangga mengatakan, "I'm Indonesian" karena kakek dan nenek moyang mereka yang telah memperbaiki citra Indonesia.

Tertantang untuk membuat Indonesia yang lebih baik?


Thursday, January 13, 2011

Kenapa Ph. D butuh 3 tahun (part 1)

Dulu saya bertanya2 (ke diri sendiri)... S3 itu belajar apa sih, kok sampe belajarnya minimal 3 taon? Apa nggak lebai belajar 1 bidang aja sampe butuh waktu 3 taon. Tiga minggu terakhir saya jadi sedikit "ngeh" kenapa S3 butuh waktu 3 taon (ato bisa jadi lebih).

Ceritanya, saya baru saja nyelesaikan paper pertama... Judulnya: "Compressed Sensing for MR Imaging of Respiratory Organ with Partial Random Circulant Matrices", abstraknya (yang nggak relevan buat ditulis di blog ini - tapi karena saya yg punya blog, jadi I'll write anyway) berbunyi kayak gini: "The use of Circulant matrix as the sensing matrix in compressed sensing (CS) scheme has recently been proposed to overcome the limitation of random or partial Fourier matrices. Aside from reducing the computational complexity, the use of circulant matrix for MR image offers the feasibility in hardware implementations. This paper presents the simulation of compressed sensing for MR imaging of respiratory organ with circulant matrix as the sensing matrix. The comparisons of reconstruction of three different type MR images using circulant matrix are investigated in term of number of sample, number of iteration and signal to noise ratio (SNR). The simulation results show that Circulant Matrix works efficient for encoding the MR image of respiratory organ, especially for smooth and sparse image in spatial domain."

Waktu yang dibutuhkan untuk bikin paper itu 3 minggu dengan supeeer-dupeeer-fokus (ato ekivalen dengan... 180 jam - asumsi seminggu 60jam). Selama 3 minggu itu dipenuhi dengan kegiatan membaca jurnal2 merk "sudah-dibaca-sampe-mata-pedes-tapi-msih-gak-jelas" (20 ato 30 jurnal?), baca chapter2 di beberapa ebook (yang didapat dengan membajak), diskusi dengan diri sendiri (karena saya nggak punya partner yg sama bidangnya di lab), membuat log penelitian, simulasi pake MatLab, dan nggak lupa nonton drama Jepang/film hollywood ketika suntuk. Akhirnya, siang ini jadilah paper 4 lembar (yg terdiri dari 2501 kata).

Bangga ya?
Nggak. Sama sekali.

Kalo dibandingkan paper yang muncul di international conference (ala IEEE ato Elsevier), masii jaooh banget... Jaooh di apanya? (1) Ketajaman latar belakang penelitian (2) Ke-solid-an dasar teori (3) Kematangan metode meneliti (4) Memberikan konklusi.

Jurnal2 yang dipublish secara internasional, latar belakangnya jelas dan nggak dipaksa ada (nggak di-ada2kan). Landasan teori yang ditulis juga solid - hasil dari teori2 yg sudah ada dari penelitian2 sebelumnya. Setiap rumus yg muncul, referensinya jelas dan nantinya akan dipakai untuk memecahkan masalah. Metode meneliti ato pemecahan masalahnya juga kreatif. Mereka menggunakan sesuatu yg blom pernah muncul/dipakai pada penelitian sebelumnya (ato kalopun pernah dipake, ada sesuatu yang baru yang disajikan). Jadi nggak sekedar mengulang dari yg sudah ada.

Untuk seorang Ph. D wanna-be (dan gonna-be) seperti saya, baca jurnal2 internasional kayak gitu bikin minder... Kalo ditanya, kenapa level saya nggak bisa (ato belum) sampe segitu. Simply karena fondasinya msih lemah. Teori yg dipunyai masih cetek. Ketika di jurnal itu muncul suatu istilah, saya nggak tau itu apa. Ketika ada rumus muncul, saya harus menelusuri di referensi/penelitian sebelumnya bagaimana rumus itu didapat (dan apa pengaruhnya). Ketika menelusuri referensi sebelumnya, muncul lagi rumus lain yang nggak saya mengerti - dan harus kembali menelusuri di referensi sebelumnya, yang lalu muncul istilah, rumus lain yang nggak saya mengerti dan begitu seterusnya (that's explain munculnya term "sudah-dibaca-sampe-mata-pedes-tapi-masih-gak-jelas"). Penelusuran referensi ini bisa sampe 3-4 level ke belakang... Kadang bisa mentok di rumus2 umum SMA ato Kalkulus dasar. Beberapa kali saya berkorespondesi dengan rekan dosen matematika, Pak Ferry yang lagi ngambil S2 di Belanda karena terbentur dengan term ato rumus yg membingungkan (later on I realized, term dan rumus2 yang saya tanyakan itu sebenernya dalam kategori basic math science).

Dengan fondasi teori saya yang msih terbatas, tentu sulit untuk bisa nulis paper sekelas jurnal internasional. Padahal agar bisa dapet Ph. D, HARUS nulis 2 paper yang diterbitkan oleh jurnal internasional. Di sinilah waktu 3 tahun itu menjadi penting... Dasar2 teori harus diperkuat. Berbagai bidang ilmu yang nyambung dengan topik penelitian, harus dikuasai basic-nya secara mandiri (karena kuliah S3 hanya dikasi 14 kredit - yang harus dimanfaatkan sebaik2nya untuk ngambil mata kuliah emang penting).

Kecuali orang yang bener2 brilian, menguasai berbagai basic ilmu ini akan nggak bisa sebulan dua bulan baca buku lalu langsung ngerti... Butuh ketekunan. Dan dari kasus inilah waktu 3 tahun itu berasal.


Wednesday, January 5, 2011

Skema Beasiswa DIKTI

Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (DIKTI) merupakan direktorat yang paling sakti untuk mengatur seluruh perguruan tinggi se-Indonesia Raya. Hidup-matinya suatu perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, ada di tangan DIKTI. Kalo misalnya tiba-tiba DIKTI mengeluarkan peraturan bahwa seluruh universitas yang berawalan "M" harus ditutup, maka detik itu juga saya jadi jobless. Tapi aturan semacam itu tidak pernah muncul...

Salah satu isu yang menjadi concern DIKTI adalah tentang sumber daya dosen. Sesuai dengan UU nomer [entah berapa] tentang pendidikan nasional, dosen diwajibkan memiliki strata pendidikan minimal satu tingkat lebih tinggi dari para mahasiswa yang diajarnya. Dosen yang ngajar mahasiswa S1 wajib memiliki gelar S2. Dosen yang ngajar mahasiswa S2 wajib memiliki gelar S3, dan dosen yang ngajar mahasiswa S3, wajib memiliki gelar S4.

Nah, mari berbicara fakta. Tahun 2009, dari 150rb dosen yang ada di Indonesia, ternyata yang memenuhi persyaratan tersebut hanya 57.4% (dari target 70% yang ditentukan DIKTI)... Saya include di dalamnya dua tahun yang lalu (masih bergelar S1 tapi nekat mengajar mahasiswa S1)...

Karena dosen adalah ujung tombak pendidikan tinggi, maka kualitas keilmuan-nya perlu ditingkatkan (agar berskala internasional). Sejak tahun 2000-an, pengiriman dosen untuk studi lanjut ke luar negeri lebih banyak dilakukan melalui skema pendanaan bantuan (beasiswa) luar negeri kepada individu atau melalui perguruan tingginya masing-masing. Kalo perguruan tinggi-nya super-duper kaya, ya nyekolah satu ato selusin dosennya ke luar negeri pasti nggak masalah. Tapi kenyataannya, nggak banyak perguruan tinggi yang mampu nyekolahkan dosennya ke luar negeri... Akibatnya, percepatan peningkatan kualitas dosen berjalan sangat lambat, dan critical mass dosen berpendidikan kualitas internasional sulit untuk dicapai (kalimat terakhir hasil ngutip dari website DIKTI, hihi2...).

Kalo ditotal2, biaya studi seorang dosen untuk bisa menyelesaikan S2 (selama 2 tahun) di luar negeri (seperti Australia, Amerika, ato Eropa) adalah 600jt, sementara untuk S3 sekitar 1M (1 dengan 9 buah angka nol).

Mari kita belajar matematika. Seorang dosen berusia 28 tahun baru lulus S2. Dia ingin melanjutkan S3 ke luar negeri. Untuk itu, ia menabung dari gajinya agar bisa terkumpul 1M untuk studi S3-nya. Jika dalam setahun dosen tersebut dapat mengumpulkan 50juta, berapa abad dosen tersebut bisa mengumpulkan uang untuk studi lanjut S3? Atau pertanyaan yang lebih relevan, siapakah dosen yang malang tersebut?

Jadilah DIKTI merancang skema beasiswa luar negeri untuk dosen sejak tahun 2008. Duitnya diambil dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) yang nilainya ratusan milyar. Target DIKTI adalah bisa membiayai 1000 dosen tiap tahun untuk studi ke luar negeri...

Bisa dibayangkan efek dari cita-cita mulia DIKTI ini. Dalam 5-10 tahun ke depan, akan ada ribuan dosen lulusan universitas ternama luar negeri (Eropa, Australia, Amerika, dan nggak ketinggalan Jepang), dengan kualifikasi internasional, mengajar dan mendidik puluhan ribu generasi muda Indonesia. Akan terjadi peningkatan kualitas pendidikan secara masif di banyak perguruan tinggi, mahasiswa akan mendapatkan kualitas pendidikan yang kurang lebih setara dengan apa yang dipelajari dosen saat dia menempuh studinya di luar negeri... Rencana yang brilian (ketimbang duit APBN terdistribusi di kantong2 koruptor).

Tapiii... apa yang terjadi di lapangan? Peminatnya bejibun-kah? Dosen2 terlalu antusias-kah sampe DIKTI kewalahan? Bukan... Malah sebaliknya. Target 1000 dosen nggak bisa terpenuhi. Tahun 2009, cuman ada 590 dosen yang berangkat studi ke 27 negara. Tahun 2010 turun jadi 460 dosen (saya harus diikutkan gelombang berikutnya karena di gelombang saya terlalu sedikit pelamar). Loh kok?? Apa yang salah? Syaratnya terlalu sulitkah? Seleksinya terlalu ketatkah?

Sepanjang pengetahuan saya NGGAK SULIT. Lah, kok terus nggak banyak yang dikirim? Nah itu... Saya juga tanya kenapa.

Jadi... untuk mahasiswa2 saya yang lulus tahun ini (ato taon2 depan), dan kepingin ngelanjutkan studi di luar negeri (Australia, Eropa, Jepang), dengan dibiayai penuh lewat skema beasiswa DIKTI (kalo msi ada) dari mulai tempat tinggal, sarapan, makan siang, makan malam, jalan2, belajar, asuransi kesehatan, buku, sampe tabungan setelah lulus, silahkan kontak saya japri.

Dengan catatan kecil, setelah lulus mau mengabdi jadi dosen selama 2 x masa studi + 1 tahun - (saya nggak ikut2 bikin aturan itu loh).