Friday, December 30, 2011

Bikin tempe

Sejak meninggalkan Indonesia bulan September tahun lalu, saya nggak bisa makan tempe. Pertama, karena tempe nggak gampang didapetkan di Jepang. Kalopun ada, harganya mahal... Beberapa potong tempe di Jepang setara dengan harga 1 paket pizza hut ukuran large di Indonesia. Jadi, di Jepang, kalo di meja makan  setiap hari masakah dengan bahan utama tempe, berarti si empunya rumah boleh dibilang orang kaya.

Kami agak nggak tega kalo mau beli tempe di Jepang (ya nggak tega belinya, ya nggak tega makannya).

Hingga beberapa minggu lalu (yang bertepatan dengan musim dingin), saya kepikiran bikin tempe sendiri. Masak ya orang Indonesia nggak bisa bikin tempe. Saya sempet surfing di Internet, nyari info gimana cara bikin tempe. Inti pembuatan tempe rata-rata sama.
  1. Bahan utama adalah kedelai kering (bukan jagung).
  2. Kedelai harus ditelanjangi dan dibelah dua. Cara paling gampang untuk menelanjangi kedelai adalah direbus terlebih duu sampe empuk. Cara tradisional adalah dengan direndam di air 24 jam. 
  3. Setelah kedelai telanjang dan terbelah dua, kedelai-kedelai itu mesti dikukus sampe empuk. Kalo nggak ada kukusan, ya direbus di dalam air. 
  4. Dalam keadaan telanjang, terbelah dua, dan dikukus, penderitaan kedelai nggak berhenti sampe situ. Kedelai-kedelai itu harus ditiriskan lalu ditelentangkan agar kering. Kalo mau dikeringkan dengan cara dihanduki satu-satu juga boleh. Saya memilih cara praktis dengan meng-hair-dryer kedelai-kedelai telanjang yang bergelimpangan di atas baki beralaskan tissue itu. 
  5. Setelah kedelai2 itu agak kering, taburkan ragi tempe (bukan ragi tape karena saya nggak pengen makan tempe rasa tape). Menurut informasi, takaran untuk 1kg kedelai, ragi yang ditabur seberat 2gram. Saya nggak bisa percaya. Masak kedelai 1kg cuman dapet jatah ragi 2 gram?? Saya mencoba menaburi ragi sesuai feeling saya. Jadi jujur saya nggak tau berapa banyak ragi yang saya tabur di kedelai (kalo ini penelitian di lab, maka tempe-nya nggak qualified untuk dipublikasikan... dalam penelitian, semua parameter harus tercatat dengan jelas dan detail, nggak boleh pake feeling - buat saya cooking is an art, not science). Anyway, saya dapet kiriman sample ragi gratis dari situs tempeh.info, dikirim dari Belgia.
  6. Kedelai yang sudah ditaburi ragi, segera dimasukkan ke dalam plastik (atau kabarnya lebih baik daun pisang). Ditutup rapat dan padat, kemudian di permukaan plastik diberi lobang-lobang secara sporadis. Intinya agar ada udara masuk sehingga jamur bisa tumbuh.
  7. Menurut informasi berikutnya, kedelai dalam plastik itu mesti didiamkan di tempat kering dengan suhu kamar (di Indonesia). Karena musim dingin, suhu kamar kami mencapai 5 derajat, yang kabarnya nggak ideal untuk menumbuhkan jamur tempe. Peduli amat dengan suhu. Kami meletakkan kedelai yang telah bercampur ragi itu di tempat kering dalam suhu sesuai dengan suhu kamar kami. 
  8. Teorinya, setelah 36 jam akan muncul serabut2 tipis berwarna putih yang melekatkan kedelai tadi - ato dengan kata lain, kedelai berubah jadi tempe. Tapi, kami menunggu, kedelai masih tetaplah kedelai. Tidak ada tanda2 akan jadi tempe.
  9. Kalau sudah seperti ini, ucapkanlah mantra tempe yang bunyinya, "Hai kedelai! Besok kamu harus jadi tempe... jadi tempe... jadi tempe...!" (Diucapkan beberapa kali di depan kedelai dengan suara keras)
  10. Keesokan harinya, pop...! Jadilah tempe.
Catatan:
  • Tempe itu  kami goreng, lalu kami makan untuk makan malam.
  • Rasa tempe sangat dipengaruhi oleh rasa kedelai. Rasa kedelai di Jepang, lebih manis (dan lembut) dari kedelai di Indonesia, sehingga rasa tempe juga lebih manis.


Wednesday, December 28, 2011

Chicago Trip

Chicago, 27 Nov - 4 Des 2011.

Just a simple note about my first trip to the US.

First of all, saya sengaja memilih tinggal di hotel yg jauuuh dr tempat seminar. Hari pertama tiba di bandara O'Hare, Chicago, saya memutuskan beli tiket kereta + bus terusan (Pass card) yang valid selama 7 hari seharga $28. Artinya saya bisa kemanapun di pelosok Chicago menggunakan tiket ini. Keputusan yang saya nobatkan sebagai keputusan terbaik sepanjang perjalanan saya di Amerika.

Dari hotel ke tempat seminar, berjarak 2 jam (yg ternyata takes 3.5hrs on the first day)... Rutenya 2 kali pindah kereta dan 1 kali naik bus (plus jalan kaki beberapa puluh meter). Kok milih yang jauh gitu?

Perjalanan yg jauh (saat naik kereta ato bus), membuat saya bisa lbh paham budaya org2 lokal (walopun artinya saya harus bangun jam 5 pagi untuk bisa tiba di tempat seminar tepat waktu). Pengalaman berinteraksi dgn org2 lokal, tidak akan bisa saya dapatkan seandainya jarak hotel ke tempat seminar bs ditempuh dgn jalan kaki.

Amerika, yang biasanya cuma saya tonton dari film-film Hollywood, ternyata beda kalo kita berada langsung di sana (setidaknya menurut saya). Nggak seperti Jepang yang cenderung homogen (satu ras dengan tipikal orang2 yang nyaris sama di seluruh Jepang), Amerika negara yang memiliki banyak keragaman (dan menghargai keragaman). Di kereta mudah sekali ditemukan orang asia dari berbagai bangsa, amerika latin, ato kulit hitam... Sesekali  terdengar bahasa Inggris dengan berbagai logat. Di kereta atau di bus, ketika sedang menerima telepon, mereka akan berbicara dengan suara normal, sehingga siapapun bisa mendengarkan apa yang dibicarakan. Di Jepang, tidak banyak orang yang menelepon ato menerima telepon di kereta/bus. Kalopun harus menerima telepon di bus atau di kereta, mereka akan bicara dengan suara yang nyaris tak terdengar agar orang di sebelahnya tidak merasa terganggu.

Karena banyak orang dari berbagai ras, maka sulit membedakan apakah seseorang warga negara amerika ato orang asing. Dan sepertinya orang2 Amerika sudah terbiasa dengan keberagaman semacam itu. Saya tidak terlalu merasakan adanya diskriminasi karena wajah Asia saya atau karena saya berbicara dengan Bahasa Inggris dengan entah-aksen-apa (orang Amerika juga tidak terlalu peduli dengan aksen sejauh dia bisa memahami). Saat naik bus, kereta, atau di supermarket, saya diperlakukan sama seperti orang2 yang lain, tidak ada perbedaan. Beda dengan di Jepang. Orang Jepang sedikit jaim ketika berhadapan dengan orang asing... Either terlalu ramah atau terlalu menjaga jarak.

Buat saya, Chicago adalah tempat yang menarik. Menarik untuk dikunjungi, tapi (setidaknya sampe sekarang) bukan tempat yang cocok (bagi saya) untuk dijadikan tempat tinggal tetap. My home will always be in Indonesia.


Friday, December 23, 2011

First fruit

Jadwal nge-lab itu sama kayak jam kerja, standardnya 8 jam sehari, 5 hari seminggu. Tapi bisa sibuk banget sehingga seringkali lebih dari 40 jam per minggu (you know, this is Japan, where hardworking is valued more than anything). Contoh kesibukan yang sampe bikin menyita waktu misalnya surfing internet, nyari2 film baru, facebook-an, twitter-an, ato nge-blog. Ah, nevermind, those activities do really time consuming...

Ketika mau berangkat ke Jepang, saya selalu mikir kepingin bisa punya part-time job di Jepang. Simply karena beasiswa yang saya dapetkan nggak cukup... Nggak cukup buat beli mansion, BMW, dan bangun pabrik. That's why saya pingin dapet part-time job.

Unfortunately, karena kesibukan di lab tadi, selama setahun di Jepang saya nggak (bisa) punya part-time job walopun banyak tawaran part-time diiklankan di majalah2. Mulai dari kerja yang butuh sedikit tenaga seperti di restoran, supermarket sampe kerjaan yang butuh tenaga besar seperti di konstruksi, pabrik, angkat2 barang, laundry atau house cleaning.  Upah kerja 8 jam sehari bisa dipakai buat makan2, jalan2 Tokyo Disneyland plus belanja2, sementara kalo kerja selama setahun penuh, 7 hari seminggu, gaji yang dikumpulkan either bisa dipake buat beli BMW ato mondok di rumah sakit karena jatuh sakit gara-gara kecapekan.

I was not lucky enough (or lucky enough?) not to have one of them... until couple days ago. Couple days ago, I saw a flyers at International student division about Teaching assistant vacancy. It is a program for senior high school students that conduct a science experiment. All the instruction of the experiment will be conducted in English and some teaching assistants who speak English are urgently needed to accompany the students during the experiment.

(Ini merupakan proyek dari Fakultas Pendidikan Universitas Chiba untuk mengajar para siswa SMA agar nggak takut dengan science experiment sekaligus bahasa Inggris - yang mana mata pelajaran Bahasa Inggris menjadi momok bagi sebagian besar siswa SMA di Jepang - Tujuan jangka panjangnya adalah mencetak ilmuwan-ilmuwan kelas dunia yang fasih dengan Bahasa Inggris)

Soon, I applied for the teaching assistant vacancy and got interviewed by one of the professor who is in charge for the project. Saya diterima dan hari ini (yang mana adalah hari libur) resmi menjadi teaching assistant menemani mereka dalam eksperimen tentang ekstraksi minyak (fat) pada makanan.


Yay, kerja paruh waktu pertama saya di Jepang adalah teaching assistant. I love it! Back in Indonesia, I'm a teacher anyway. My dad was a teacher, my mom was a teacher, my sister (also) used to teach. Even my wife, was a teacher! Well, I guess,teaching is our family business.


I'm glad that my first fruit in Japan comes from teaching stuffs!



Thank you Lord...  Thank you for leading me to the path You want me to do... Strengthen me to always stay faithful to Your calling. Amen.


* first fruit is a specific term in the Bible. Since this posting is not Bible study, you may find the explanation somewhere else.

Wednesday, December 21, 2011

Saintis vs artis

Suatu ketika, seorang peraih nobel Fisika dari Jepang, Prof. Koshiba, diinterview oleh NHK. Salah satu pertanyaan yang menarik adalah ketika beliau ditanya, mana yang lebih jenius, fisikawan Albert Eintein atau musisi Mozart.

Setelah berpikir sejenak, Prof. Koshiba menjawab bahwa yang lebih jenius adalah musisi Mozart. Alasannya  Albert Einstein hanya merumuskan apa yang sudah ada di alam. Seandainya relativitas tidak ditemukan oleh Albert Einstein, maka somehow, fisikawan lainlah yang akan merumuskan... begitu menurutnya. Saya setuju. It's just a matter of time. Sama halnya dengan penemuan bola lampu oleh Thoma Alva Edison. Saya sering mendengar kelakar bahwa kalau tidak ada Thomas Alva Edison, maka dunia saat ini akan menjadi dunia yang gelap... Mungkin juga, tapi saya lebih cenderung pada kemungkinan bahwa orang lain lah yang akan menemukannya lampu pijar seandainya Edison menyerah pada kegagalannya.

Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh musisi Mozart yang mengkomposisi puluhan musik klasik. Jika Mozart tidak pernah lahir, puluhan atau ratusan tahun kemudian, belum tentu (secara statistik sangat kecil kemungkinan) akan muncul komposisi musik seperti yang diciptakan oleh Mozart... It's an art. It's unique.

Saya senang dengan sains. Saya senang mempelajari hal-hal yang masih belum tersingkapkan oleh pengetahuan saat ini. Saya bangga, seandainya menjadi orang  pertama yang berhasil merumuskan salah satu "rahasia" alam lewat penelitian yang saya lakukan... Tapi, benar apa yang diungkapkan Prof. Koshiba... Alam terbuka untuk diselidiki oleh semua orang. It's just a matter of time. Siapa lebih dulu menemukan apa.

***

Manusia adalah karya seni dari Tuhan. It's unique. Jika kita nggak pernah muncul di bumi, maka sampai kapanpun, kita akan pernah "ditemukan". Semua karya kita, apa yang kita pikirkan, lakukan, ucapkan selama hidup di bumi juga unik - dan somehow memengaruhi orang lain.

Saya sangat yakin, bahwa ketika Tuhan menciptakan manusia, adalah kehendakNya agar apa yang kita pikirkan, lakukan, ucapkan, dan kerjakan membuat dunia menjadi lebih berwarna. Warna-warna itu, pada waktunya, seharusnya membuat dunia semakin terang - bukan sebaliknya malah membuat dunia tambah gelap.


Tuesday, December 6, 2011

Pak Dengklek dan mimpinya


Pak Dengklek dulu adalah peternak bebek. Bebeknya ratusan. Sekarang, Pak Dengklek bukan lagi peternak bebek. Tahun lalu, Pak Dengklek melanjutkan studinya di Jepang, dia mengambil riset tentang teknologi medis bebek (kelak, sekembalinya dari Jepang, Pak Dengklek berharap agar tidak banyak bebek yang mati sia2 karena peralatan medis yang tidak menunjang).

Setahun di Jepang, Pak Dengklek merasa terkagum2 dgn budaya, lingkungan, kehidupan sosial, dan teknologi yang ada.

Sebagian besar masyrakat yg ditemui Pak Dengklek selama ini benar2 ramah dan sopan. Kata2 seperti "maaf merepotkan", "tolong ya...", "terima kasih", "ah, tidak apa2" sangat sering terdengar dlm percakapan sehari2, bahkan untuk hal yg remeh-temeh. Bahasa tubuh menganggukkan kepala dan tersenyum tanda respek antar kolega juga menjadi bagian yg umum dlm kehidupan sehari2.

Transportasi begitu teratur. Selama hidup di Jepang, Pak Dengklek hanya 2 kali mendengar suara klakson mobil dibunyikan. Kereta yang menjadi salah satu media transportasi utama, nyaris tidak pernah terlambat. Ketika tertulis kereta akan tiba pk 10.24, maka ketika menit sudah tertulis "24" (pada jam stasiun), kereta bisa dipastikan muncul. Kereta tidak akan muncul di menit "23" atau "25". Iya, the trains are neither earlier nor late even for a minute. Disiplin tepat waktu ini nampak terlihat di kehidupan sehari2 masyarakatnya.

Semangat untuk kerja keras dan tidak mudah menyerah juga jadi bagian dari masyarakatnya. Dan hebatnya, semangat ini tidak hanya berlaku untuk golongan tertentu. Jika ada orang yg sdh kaya, bukan berarti dia  berhenti kerja keras. Jika sudah dapat gelar profesor, bukan berarti terus gak ganbarimasu dlm meneliti dan menulis. Jika sudah jd pejabat ato dewan perwakilan rakyat, bukan berarti bisa males2an. Jika sudah disebut "sensei" (dokter, dosen, senior) bukan berarti main perintah semena2 sementara dia sendiri nggak kerja. Semangat kerja keras dan tidak mudah menyerah ditanamkan sejak di TK dan berlanjut sampe perguruan tinggi.

Tentu, semua hal2 positif yg dialami Pak Dengklek selama di Jepang, nantinya akan diterapkan sekembalinya Pak Dengklek ke kampung halamannya. Pak Dengklek ingin memajukan kampung halamannya agar menjadi kampung yang beradab. Selama ini kampung Pak Dengklek sering mendapat reputasi negatif, yang korupsi, yg masyarakatnya nggak disiplin, yg nggak tepat waktu, yg malas, yg lbh mementingkan kepentingan pribadi ato kelompoknya ketimbang kepentingan umum, yg hukumnya carut marut, dan sebagainya. Padahal, kampungnya sangaaaat kaya akan sumber daya alam. Tapi, tetap dalam kekayaannya, masih belum bisa semaju kampung-kampung tetangganya, in term of pendapatan per kapita. Padahal kampung2 tetangga tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah. Anyway, dalam semua hal positif dan negatif dari kampung halamannya, Pak Dengklek nggak malu mengakui bahwa dia berasal dari kampung halaman tersebut.

Malahan, dgn berbagai hal negatif itu, semakin mantaplah niat Pak Dengklek untuk bisa menerapkan ilmu yg didapatkan, serta menerapkan berbagai hal positif yg telah dipelajarinya selama di Jepang. Pasti kampungnya akan jadi lebih baik, pikir Pak Dengklek.

Tapi, tunggu dulu! Tiba2 Pak Dengklek ingat sesuatu.

Berapa banyak mereka yg juga sekolah di luar negeri, lulus lalu kembali ke kampung halamannya? Ratusan ribu kepala!  Bukannya mereka jg mengalami apa yg dialami pak Dengklek selama studi? Bukannya mereka tahu persis bagaimana nyamannya hidup ketika sistem ekonomi sudah stabil? Bukannya mereka jg mendapat gemblengan disiplin dan tepat waktu selama studi di sini? Bukannya mereka adalah orang2 pintar yang dididik lalu kembali ke kampung halamannya?

Tapi kenapa kampung halaman yg dipenuhi ratusan ribu lulusan luar negeri tetap jd kampung yang terbelakang? Yang masyarakatnya kacau? Yang banyak koruptor? Ke mana gerangan orang2 pintar itu? Kenapa tidak banyak pengaruh yang bisa diberikan oleh orang2 pintar lulusan luar negeri tersebut?

Mungkin... pikir Pak Dengklek, ...mereka meninggalkan kampung halaman itu untuk bekerja di kampung lain. Di kampung lain, orang2 pintar itu digaji lebih tinggi, diberikan berbagai fasilitas, dan  di-orang-kan. Setidaknya, mreka masih membawa identitas kampung halamannya. Mungkin orang2 pintar itu akhirnya menyerah dgn idealisme mereka karena tidak pernah bisa berhasil mengubah kondisi sekitarnya untuk menjadi lebih baik... akhirnya acuh, gak lagi peduli dengan apa yg terjadi. Yg lbh parah, org2 pintar lulusan luar negeri itu terbawa arus, dan mengikuti budaya buruk yg sudah begitu kuat mengakar.

Dalam idealismenya, Pak Dengklek menjadi kuatir.

(Minneapolis, Nov, 28 1.05pm, saat menunggu penerbangan transfer ke Chicago... Just a thought tentang issue yang dilontarkan seorang kolega tentang "lulusan luar negeri, yang akhirnya memutuskan untuk kerja di luar negeri")

Monday, November 7, 2011

Gurauan (nggak) lucu

Ada pelajaran penting yang saya dapatkan ketika masih kelas 2 SMP. Waktu itu pelajaran Bahasa Indonesia. Topiknya pantun. Di buku teks ada sebuah contoh pantun jenaka yang sampai sekarang saya ingat:


Elok rupanya pohon belimbing
Tumbuh dekat pohon mangga
Elok rupanya berbini sumbing
Biar marah tertawa juga


Bapak guru kami, (Alm) Pak To, mengatakan bahwa pantun ini contoh yang jelek. Karena saya suka dengan bahasa, saya tertantang untuk mengamat-amati di mana letak jelek-nya pantun ini. Secara aturan, pantun di atas mengikuti kaidah pantun yang berlaku, 2 sampiran dan 2 isi serta memiliki rima a-b-a-b. Sepertinya tidak ada masalah dengan pantun itu.

Ternyata masalahnya bukan pada kaidah pantun-nya, tapi pada isi pantun-nya. Bapak guru kami mengatakan bahwa isi pantun ini tidak sopan karena menghina orang sumbing. Beliau mengatakan, orang memiliki kekurangan, tapi malah dijadikan bahan gurauan itu tidak sopan.

Saya setuju. Hari itu saya belajar pelajaran penting - dan berjanji dalam hati untuk tidak membuat  gurauan yang mengeksploitasi kekurangan/cacat yang dimilliki orang lain.

Tapi ada waktu ketika secara nggak sengaja saya melontarkan gurauan semacam itu... Saya pernah melontarkan gurauan ke teman dekat saya (yang punya berat badan di atas normal) dengan mengatakan bahwa produk jamu penambah berat badan akan laku keras kalo dia bintang iklannya. Yang mendengar bisa tertawa terbahak-bahak, termasuk teman saya itu... tapi  kemudian saya menyesal kenapa sampai terlontar gurauan dengan menjadikan kekurangannya sebagai objek kelucuan. Saya yakin bahwa sebenernya dia juga nggak kepingin punya berat badan yang berlebihan... Apalagi kalau sampai hal itu dijadikan bahan olok-olok. Saya menyesal.

Ketika Blackberry menjadi populer di Indonesia, saya banyak mendengar olok-olok serupa terhadap pengguna Blackberry yang terlalu sibuk ber-BBM-an. Istilahnya adalah, "BB bikin orang autis", atau sering terlontar "Oh sekarang udah pake HP autis itu?". Mungkin iya bahwa pengguna BB jadi sibuk ber-BBM-an (chatting/surfing internet/dll) sehingga kurang memperhatikan dunia sekitarnya. Tapi menggunakan kata "autis" adalah gurauan yang tidak sopan. Si pencetus gurauan "BB bikin orang autis" tentu tidak akan berani sembarangan menggunakan kata "autis" sebagai gurauan kalau dia tahu persis betapa sulit,  betapa besar waktu, tenaga, dan uang yang harus dikorbankan oleh orang tua yang memiliki anak autis.

Biarkan istilah "autis" (atau cacat-cacat lain, termasuk gemuk, hitam, pendek, kurus, tinggi, putih) dipergunakan pada tempat yang tepat. Bukan muncul sebagai bahan olok-olok.

Saturday, October 22, 2011

The X Factor Judges

Saya bukan TV junkie - yang menghabiskan puluhan jam per minggu di depan TV. Tapi ada beberapa TV show yang (sekarang) saya gemari. Bukan cuma suka, tapi really... really love.

Untuk acara TV Indonesia, saya suka Stand up comedy. Ada beberapa comedian favorit saya yang joke-nya cerdas, nggak lebai atopun maksa. Ernest Prakasa dan Raditya Dika adalah beberapa di antaranya.

Dulunya saya suka American Idol, tapi sejak juri eksentrik, Simon Cowel, nggak lagi jadi juri di American Idol, saya jadi kurang mengikuti American Idol. Daya tariknya jauh berkurang. Sebagai gantinya adalah The X Factor (US), yang mana si Simon is (finally) back. The show was broadcasted last September. It's just like what I've expected! Great show!

Inti acaranya tetap singing competition, tapi The X Factor dikemas berbeda dengan American Idol. Siapapun boleh ikut. Pria, wanita, usia 17 tahun ato 71 tahun, solo, ato group. Nggak ada batasan sama sekali seperti di American Idol. Jurinya ada 4 orang, si "L.A" Ried, Paula Abdul, Simon Cowel dan juri baru Nicole Scherzinger. Audisi dimulai di depan ke-4 juri dan ribuan penonton. Untuk dapat lolos ke babak berikutnya (boot camp), peserta audisi harus mendapatkan setidaknya 3 yes dari juri. Faktanya, nggak ada penyanyi yang hanya mendapatkan 2 yes (atau 1 yes). It is either 3-4yeses ato 4nos. Mutlak diterima atau mutlak ditolak. Definitely, para juri bener2 bisa spotting the talented one.

Setelah babak boot camp, peserta diseleksi lagi untuk masuk di babak "mentoring". Ke-empat juri akan "mementor" satu kategori. Simon mementor 8 peserta dalam kategori girls, Paula mementor 8 peserta dalam kategori group. L.A Ried mementor 8 peserta dalam boys dan si cantik Nicole mementor 8 peserta dalam kategori above 30 (untuk mereka yang telah berusia di atas 30).

Grand prize kontrak menyanyi 5 juta dolar adalah salah satu daya tarik acara ini. Kisah-kisah latar belakang pesertanya membuat acara ini menjadi semakin emosional. Go watch by yourself (at youtube) if want to watch a good quality TV show.

Anyway, saya ingin menjadi seperti para juri itu. Bukan pada bagian menilai kualitas suara karena jelas saya nggak kompeten. Tapi pada bagian bahwa para juri ini melakukan sesuatu yang sangat mereka nikmati. Saya yakin sekali mereka menikmati apa yang mereka lakukan dan bukan terpaksa. Kalo kita bener2 suka nyanyi, lalu mementor penyanyi2 muda yang sangat berbakat, melihat performa mereka, memberikan komentar, mengajarkan teknik2 menyanyi yang telah kita peroleh lewat pengalaman, tentu kegiatan itu  benar2 mengasyikkan.

Kalo kita punya passion di bidang desain atau seni, kemudian kita diminta "bekerja" untuk melihat desain, lukisan, atau karya2 seni dari seniman muda yang berbakat, mengajar mereka, mengasah mereka agar menjadi semakin cemerlang dalam bakat mereka, tentu it's reallllly fun!

Kalo kita seorang pengarang, bener2 suka nulis (dan baca), kemudian diminta untuk melakukan seleksi terhadap ratusan naskah, most likely dalam 1-2 halaman, kita bisa easily spotting whether someone is talented or not. Dan tentu, pekerjaan semacam itu, bisa amat... amat... kita nikmati.  It doesn't look like a hard work at all.

As for me, to be a researcher is my passion (as well as a lecturer and a writer). Berada di Jepang untuk studi, meneliti, kemudian mempublikasikan hasilnya kepada  publik lewat conference ato journal, bener2 saya nikmati... Moreover, setelah lulus, saya akan kembali untuk mengajar. Perfect! Setiap pagi ketika berangkat ke lab, saya tidak merasa sedang "bekerja".  Saya merasa sedang bersenang-senang. Mungkin ini yang dirasakan oleh juri-juri The X Factor itu. They're not working. They're having fun and they're highly paid for something that love to do.

Dan pertanyaan 5 juta dolar-nya adalah: what's your passion? And the most important is, are you living in that passion?


Tuesday, October 18, 2011

Kehilangan muka

Kehilangan muka adalah istilah untuk malu.

Entah kenapa bisa diistilahkan dengan "kehilangan muka". Mungkin ketika seseorang begitu malu terhadap terhadap suatu kejadian atau terhadap orang lain, dia jadi tidak berani menatap atau berhadapan face-to-face dengan orang yang bikin dia malu. Karena muka-nya tidak berani dihadapkan, maka dia disebut "kehilangan muka".... Whatever.

Di sini, saya menemukan bahwa orang-orang Jepang, sangat... sangat... tidak mau menghilangkan muka orang lain - dan sebaliknya.

Minggu lalu, saya mengantar istri ke dokter gigi. Dokternya masih (nampak) sangat muda dan ramah. Ketika menjalani perawatan, dia memberikan kepada kami secarik kertas dengan gambar dan tulisan kanji di dalamnya... Isinya kurang lebih menjelaskan bakteri-bakteri yang ada di dalam mulut/gigi dalam bahasa orang awam. Tahu bahwa kami adalah orang asing, beliau berusaha menjelaskan kondisi gigi secara perlahan-lahan dalam bahasa Jepang yang sederhana. Namun tetap saja, kami "miss" beberapa istilah yang disebutkan oleh dokter gigi yang ramah itu. Dia berusaha menerjemahkan beberapa kata yang tidak kami mengerti dalam bahasa Inggris.

Sampai pada suatu waktu di tengah penjelasannya, dia bertanya, "Eigo daijobu?" (pakai bahasa Inggris oke?). Saya menjawab "haik, daijobu desu..." - sedikit kuatir kalau-kalau nanti kami kesulitan memahami bahasa Inggris dokter muda ini. Dalam pikiran saya, kalau memang dia bisa berbahasa Inggris, mengapa dari pertama dia harus repot-repot menjelaskan kepada kami dalam Bahasa Jepang?

Dia mulai menjelaskan dengan Bahasa Inggris perlahan-lahan, dengan grammar yang baik dan benar - seperti berbicara kepada seorang anak. Ketika dia melihat respon kami yang lebih paham Bahasa Inggris ketimbang Bahasa Jepang, maka tanpa sungkan lagi dia berbicara dalam Bahasa Inggris as if it were his first language! Bahasa Inggrisnya luar biasa bagus. Tidak ada aksen Jepang sama sekali. Saya menduga dia lulusan Amerika. Komunikasi kami menjadi sangat lancar, dan istri saya jadi tahu persis kondisi giginya.

Kenapa sejak pertama si dokter muda itu tidak menggunakan Bahasa Inggris kepada kami walaupun Bahasa Inggrisnya sangat fasih? Saya menduga... Pertama, dia rendah hati, tidak mau menyombongkan diri (seperti kebanyakan orang Jepang). Kedua dia tidak mau membuat kami kehilangan muka. Seandainya dia menggunakan Bahasa Inggris, lalu kami malah tambah nggak nyambung (karena nggak ngerti bahasa Inggris), maka keadaan jadi nggak nyaman bagi kami (si pasien). Si pasien akan merasa kehilangan muka... merasa malu karena tidak bisa berbahasa Inggris.

Ketika kami pulang, saya sempat memperhatikan beberapa sertifikasi dari si dokter muda, yang dipajang di ruang tunggunya.

Ada gelar Ph.D di belakang nama si dokter itu. Most probably, he graduated from the US University.


Monday, October 17, 2011

Indonesia negara berkembang, so what?

Dulu (entah saya masih SMP atau SMA), di pelajaran geografi, sering disebut-sebut bahwa Indonesia adalah negara berkembang, sedangkan Amerika adalah negara maju. Tentu, saat itu saya tidak bisa benar-benar membayangkan apa beda negara berkembang dengan negara maju. Dalam kerangka pikir seorang anak yang berusia belasan tahun, negara maju adalah negara yang teknologinya maju. Banyak mobil, banyak pabrik, banyak barang-barang canggih.

Sekarang, saya tahu bedanya dengan lebih jelas (setelah merasakan hidup di negara maju).

Salah satu beda yang menarik antara negara berkembang dengan negara maju adalah sistem ekonomi. Saya bukan ahli ekonomi. Tapi saya mengamati, di negara maju, sistem ekonomi sudah stabil, sehingga siapapun yang mau bekerja keras, maka standard kehidupannya akan meningkat. Dia dapat menikmati apa yang bisa dinikmati "orang kaya". Contoh, di Jepang banyak sekali lowongan kerja part-time. Di stasiun, majalah yang memuat ratusan lowongan kerja part-time (ataupun full-time) bisa diambil dengan cuma-cuma. Pekerjaan mulai dari yang gampang (seperti menjadi kasir, menata barang di supermarket, mencuci piring di restoran, pengantar susu/makanan), yang butuh tenaga (bongkar bangunan, konstruksi, mengolah makanan, atau melakukan sortir  barang2), yang butuh skill (desain, operator komputer, menjadi guru les, merangkai bunga), yang berhubungan dengan entertainment dan sebagainya. Intinya, siapapun dia (entah anak SMA, mahasiswa, ibu rumah tangga ataupun bapak rumah tangga) pasti akan ada pekerjaan yang bisa dilakukan.

Berapa upahnya? Upah rata-rata adalah 1.000 yen (atau setara Rp. 100rb) per jam. Kalau mau kerja keras, misalnya pagi kerja di supermarket selama 8 jam, lalu malamnya kerja di konstruksi selama 6-8 jam (karena sebagian besar konstruksi dikerjakan saat malam hari - agar tidak terlalu mengganggu lalu lintas), maka dalam sehari dia bisa mendapatkan 16rb yen. Untuk makan 3x sehari, kira-kira menghabiskan 2rb yen (masih sangat surplus). Jika dalam sebulan bekerja 25 hari (sabtu-minggu istirahat), maka dalam sebulan kurang lebih bisa mendapatkan 400rb yen (16rb perhari kali 25 hari). Untuk sewa apartemen dan biaya bulanan (gas, listrik, dan air), kurang lebih 50rb yen. Untuk makan kurang lebih 60rb yen. Dengan kerja keras, kebutuhan pokok (makan, rumah dan pakaian) bisa dipenuhi tanpa kekurangan. Malah, bisa saving 200-250rb yen setiap bulannya.

Dari saving tersebut, kalau dia ingin membeli mobil city car baru (yang harganya 1jt yen), maka dia cukup saving selama 5 bulan dan sudah dapat menikmati mobil baru gresss. Kalau dia ingin jalan2 ke luar negeri (yang kurang lebih menghabiskan 300rb yen untuk 1 minggu pelesir di Bali), dia cukup saving selama 2 bulan. Kalau dia ingin Ipad2 ato Iphone 4s (yang harganya kira-kira 50rb yen), kurang dari setengah bulan dia sudah bisa membeli. Teknologi seperti laptop, hp, tablet bukan impian yang susah diraih. Asal mau kerja keras dengan gaya hidup yang tidak konsumtif, maka dalam beberapa bulan, barang-barang itu bisa terbeli (dan tentu kebutuhan pokoknya tetap dapat terpenuhi).

Ini kontras dengan keadaan di negara berkembang. Di Indonesia, saya banyak menemui orang-orang yang bekerja dengan sangat keras (dari pagi sampe malem, kaki jadi kepala dan kepala jadi kaki), tapi penghasilannya pas-pasan. Jangankan beli mobil, untuk kebutuhan pokok-pun sudah untung kalo bisa dipenuhi tanpa berhutang. Anak-anak mereka diusahakan untuk sekolah, namun ketika biaya sekolah semakin membebani, maka tidak banyak pilihan... Kemungkinan tidak melanjutkan sekolah - dan anak-anak tersebut, mulai terjebak untuk mengikuti pola kerja orang tuanya. Bekerja keras, namun penghasilan yang didapatkan pas-pasan.

Saya yakin, orang-orang ini bukan orang yang malas. Mungkin karena tidak memiliki skill atau kepandaian (gara-gara tidak dapat melanjutkan sekolah), maka dia tidak bisa kerja dengan penghasilan layak. Walaupun mereka nggak kepingin seperti itu, tapi tidak banyak yang bisa dilakukan selain tetap bekerja dari pagi sampai malam. Sekedar melanjutkan hidup. Barang-barang kebutuhan sekunder, seperti hp canggih, laptop, komputer, mobil atau bepelesir ke luar negeri hanyalah impian di siang bolong.

Entah sampai kapan. Atau lebih tepat entah sampai generasi ke berapa pola hidup kerja-keras-tapi-hasil-pas-pasan akan dialami.

Indonesia sekarang adalah negara berkembang. Kerja keras bukan jaminan mendapatkan hidup layak.
Tapi suatu saat harus jadi negara maju... Sehingga siapa pun yang mau kerja keras, harus bisa mendapat standard hidup yang layak.



Wednesday, October 12, 2011

Going to Chicago

Not a really good time for blogging, tough.... but I blog anyway.

Hal apa yang menyenangkan bagi seorang saintis? Buat saya, hal yang menyenangkan ketika hasil penelitiannya diakui oleh komunitas ilmuwan di bidang yang sama. Dapet pengakuan bahwa memang hasil penelitian tersebut penting, berguna, dan perlu disebarkan agar dapat disitasi (atau dipakai sebagai landasan penelitian berikutnya). Dengan demikian, ilmu pengetahuan akan semakin berkembang dan semakin lengkap (walopun saya nggak yakin juga apa bisa manusia melengkapi seluruh ilmu pengetahuan yang ada).

Nah, beberapa bulan lalu (iya, sudah agak lama), saya dapet konfirmasi bahwa hasil penelitian kami (jamak, saya nggak berani mengklaim hasil penelitian "saya") diterima dan kami diundang untuk mempresentasikan di RSNA 2011 annual meeting bulan November mendatang yang kali ini diadakan di Chicago. RSNA kepanjangan dari Radiology Society of North America, atau komunitas radiolog amerika (walopun ada kata radio, tapi mereka bukan peneliti atau tukang servis radio). Radiolog mengacu pada radiologist - yaitu mereka yang memiliki spesialisasi untuk mendiagnosa atau memberikan treatment terhadap suatu penyakit berdasarkan citra medis (seperti X-Ray, CT-Scan atau MRI). Seneng juga, mereka (para radiolog Amerika itu) menganggap hasil penelitian kami cukup layak untuk dipresentasikan di acara tahunan mereka (yang akan dihadiri oleh ribuan peneliti, akademisi, radiolog, dokter dari lebih dari 100 negara - http://rsna2011.rsna.org). Awesome!

Lebih seneng lagi, ketika tau bahwa lab (atau kampus?) di tempat saya, cukup berduit untuk membiayai seluruh akomodasi di Chicago. Presentasinya cuman 30 menit, tapi karena international conference, tentu ada macem-macem workshop/kelas yang bisa diikuti pesertanya (plus jalan-jalan). Sensei pembimbing dengan sangat pengertian mengatakan, "I only stay for three days, but of course you can extend if you want to... This is a chance for you to see America." Tau aja Pak Sensei kalo saya baru pertama kali travelling ke Amerika. Jadilah saya akan stay selama 6 hari di Chicago dari 28 Nov sampai 3 Des, dari hari Senin sampai Sabtu. Hari Kamis, conference sudah berakhir, dan hari Jumat-nya saya bisa bebas berpetualang di Chicago.

So excited! Dulu nggak pernah kebayang bisa jalan2 ke Chicago. Dibayarin pula.


Thursday, September 22, 2011

Sarasehan ala Jepang

Minggu lalu, di lab ada acara training camp ato istilah aslinya adalah Gassyuku (合宿). Kalo dicari di kamus, arti yg muncul adalah training camp. Tapi nggak bener2 pas, karena yg kami lakukan bukan camp atau kemah di hutan. Mungkin istilah yang paling mendekati dalam bahasa Indonesia adalah "sarasehan".

Kami, seluruh anggota lab, pergi ke Nagoya, 4 jam perjalanan dari Tokyo. Menginap selama 3 hari 2 malam di sebuah penginapan tradisional. Penginapannya sangat alami. Di depan penginapan, ada danau yg luas dan disekeliling nampak hijaunya pengunungan.

Seperti budaya orang Jepang pada umumnya, acaranya tentu nggak cuman duduk2 menikmati pemandangan alam ato main2 sepanjang hari. Anggota lab (yang berjumlah 14 orang) dibagi jadi 3 tim yg diberikan suatu topik untuk dipresentasikan dan didiskusikan dalam 2 sesi. Tapi never mind tentang presentasi dan diskusi itu...

Ada banyak pelajaran yang saya dapatkan selama Gasyuku, yang merupakan acara tahunan lab ini:
  1. Untuk pertama kalinya saya berendam di onzen. Yg disebut onzen adalah kolam air panas di mana orang2 yg berendam di dalamnya harus TELANJANG bulat. Benar-benar bulat, nggak boleh lonjong atau oval. Butuh nyali besar untuk melakukannya - karena dari tempat melepas baju sampai ke kolam onzen, jaraknya sekitar 20 meter. Sebelum masuk ke kolam onzen, diwajibkan mandi di public bath. Sekali lagi, dibutuhkan nyali untuk mandi bersama dengan orang-orang yang tidak dikenal dalam keadaan telanjang. 
  2. Salah satu sesi di Gasyuku ini adalah sesi olahraga. Di jadwalnya tertulis olahraga Tenis. Sebagai orang Indonesia, saya membayangkan acara sport ini adalah acara santai. Mungkin sebagian pegang raket. Sebagian lagi duduk-duduk sambil ngobrol. Sebagian lari-lari ngejar bola, mukul bola nggak jelas arahnya. Lalu bola akan berterbangan ke sana kemari.  Ternyata nggak begitu. Jadwal pertandingan tenis sudah disusun dengan rapi. Siapa berpasangan dengan siapa dan siapa berhadapan dengan siapa. Sistem kompetisi diterapkan, masing-masing pasangan akan berhadapan dengan setiap pasangan yang lain tepat sekali. Jadi setiap tim akan bermain sebanyak 6 kali (berhadapan dengan pasangan yang berbeda). Detail dan sangat terencana. 
  3. Semua jadwal yang tertulis, dilaksanakan dengan sangat tepat waktu. Sesi diskusi pertama dimulai pukul 9, maka tepat pukul 9 semua telah berada di ruangan dan moderator mulai membuka acara. Demikian juga selesainya. Makan malam mulai pukul 18, maka tepat pukul 18 semua tiba di ruang makan. Acara party pukul 20, maka tepat pukul 20 semua telah tiba di tempat dan party dimulai. 
Saya membayangkan kalau orang Jepang tinggal di Indonesia, mungkin akan stress. Dapet undangan rapat RT yang tertulis jam 18.00, tapi bapak-bapaknya baru muncul pk. 19.00 - itupun mungkin masih belum dimulai. Masih ngobrol ngalor ngidul. Kalo di undangan ditulis waktu: 18.00-selesai, maka "selesai" itu suatu variabel yang nggak bisa dipastikan. 

Ada pemeo yang bilang, "Orang Jepang itu menulis apa yang akan dikerjakan dan mengerjakan apa yang ditulis." Sisi positifnya adalah pekerjaan akan menjadi rapi dan masing-masing tahu apa yang menjadi tugasnya. Tapi ketika ada hal di luar jangkauan, ada kasus yang belum tertulis, maka spontanitas untuk mengatasi masalah yang belum tertulis tersebut jelas jadi masalah besar bagi mereka. 

Di Indonesia? Apa aja bisa. Mau tertulis, mau nggak tertulis, mau detail, mau nggak detail, orang-orangnya akan cukup fleksibel.

Wednesday, September 21, 2011

Perjalanan Menempuh Ph. D

Bukan, bukan kisah tentang saya.

Ini tentang kolega saya. Di dunia akademik, beliau lebih senior dari saya - dan tentu lebih bijak dibandingkan saya yang seringkali emosional. Dari beliau saya banyak belajar tentang dunia akademik.

"(Dosen) Kalau sudah (lulus) S3, sudah tenang Pak..." - begitu nasihat beliau yang sering disampaikan untuk memotivasi saya studi lanjut. Tentu tenang yang dimaksud adalah bisa mengajar dan melakukan penelitian serta publikasi - sehingga cepat atau lambat, akan mencapai jenjang guru besar atau profesor (yang merupakan jenjang tertinggi para akademisi). Sesuai undang-undang kependidikan yang berlaku, salah satu syarat untuk mendapatkan jabatan guru besar adalah memiliki gelar S3.

Beliau akan segera meninggalkan Indonesia untuk melanjutkan studi ke luar negeri, mengejar gelar Ph. D.  Meninggalkan istri dan anak-anaknya yang masih kecil. Waktu 36 bulan untuk studi lanjut bukan waktu yang pendek.

Saya membayangkan, seandainya saya berada di posisinya. Tidak mudah.

Selamat jalan Pak. Selamat datang sebagai mahasiswa Doktor.

Saat ini pasti terasa berat harus meninggalkan keluarga. Tapi kelak semuanya pasti akan berbuah indah, baik untuk karir pribadi maupun untuk keluarga (istri beserta anak-anak). Kelak, istri dan anak-anak akan bangga memiliki ayah dengan gelar Ph. D, bahkan Profesor.

Gambarimashou!

NB. Untuk seorang kolega yang hari ini meninggalkan Indonesia dan melanjutkan studi.

Monday, September 12, 2011

Asosiasi 500 yen

Posting twitter hari ini: "Gaikokujin toroku shoumeisho「外国人登録証明書」- how difficult to read or even pronounce it last year."

Facebook memiliki fitur untuk menampilkan status yang kita tulis tahun lalu. Somehow, status tahun lalu ini muncul. It said: "Gaikokujin toroku shoumeisho「外国人登録証明書」 = Alien Registration Card. We simply call it, "KTP"".

Saya ingat kenapa menuliskan status ini.

Saat itu saya baru beberapa hari tiba di Jepang. Sedang mengurus Alien registration card di kantor kecamatan setempat. Nama resminya adalah gaikokujin touroku shoumeisho. Waktu itu, boro-boro baca... Nginget namanya aja susah banget. Nggak ada asosiasi sama sekali di otak apa arti kata itu.

Setahun kemudian, kata itu mudah sekali dilafalkan, bahkan bisa membaca dengan lancar. Banyak asosiasi yang membuat saya dengan mudah mengingat dan membaca karakter-karakter itu. Kata pertama "Gaikokujin" terdiri dari 3 kata, yaitu 外 (gai), 国 (koku), dan 人 (jin). Kata "gai" artinya "luar", "koku" berarti "negara" dan "jin" berarti "orang". Secara harfiah dapat diartikan "orang luar negeri". Beberapa orang Jepang menyingkat menjadi "gaijin" - yang bagi sebagian orang merupakan salah satu bentuk diskriminasi. Sama seperti ketika orang Indonesia memanggil orang luar negeri dengan sebutan "bule".

Kata kedua adalah "touroku". Kata ini terdiri dari dua karakter kanji, "登" (tou) dan "録" (roku) yang artinya adalah pendaftaran. Kata ketiga adalah "shoumeisho" yang berarti sertifikat (atau dokumen resmi untuk menyatakan sesuatu), seperti ketika saya dinyatakan lulus sebagai mahasiswa doktor periode April 2012, saya dikirimi "shoumeisho" yang menyatakan saya diterima. Jadi, ada beberapa asosiasi kata "shoumeisho" yang saya dapatkan lewat pengalaman sehari-hari - sehingga ketika kata tersebut muncul, setidaknya muncul juga asosiasi yang pernah saya alami terhadap kata tersebut.

Jadi berbahasa adalah tentang asosiasi.

Asosiasi ini diperoleh lewat cara yang bermacam-macam. Mendengar, membaca, diberi tahu, mengalami, atau melihat. Semakin "mahal" mendapatkan asosiasi tersebut, biasanya kata-kata akan semakin tertancap. Begitu juga sebaliknya, semakin "murah" (atau mudah) mendapatkan asosiasi tersebut, kata akan cenderung dilupakan.

Ngomong2, saya mendapatkan asosiasi kata 入ります ("hairimasu") - yang berarti masuk/bergabung dengan cara yang cukup "mahal". Ketika membeli sepeda di supermarket tahun lalu, si penjual menunjukkan "kartu" yang saya sama sekali nggak punya asosiasi terhadap huruf kanji di dalamnya. Si penjual bertanya sambil menyodorkan kartu, "hairimasuka?" Kata "ka" di belakang adalah kata tanya yang bisa dijawab dengan "ya" atau "tidak". Somehow, saya memilih menjawab dengan "ya". Lalu saya diminta untuk membayar 500 yen (setara dengan 5 kaleng minum/soft drink)

Tanpa banyak tanya (karena belum bisa ngomong), saya membayar tanpa tahu apa yang sedang saya bayar. Terakhir saya tahu bahwa "hairimasu" berarti masuk/bergabung. Kartu yang disodorkan adalah asuransi kehilangan. Jadi si penjual bertanya apakah mau ikut asuransi kehilangan dengan membayar 500 yen? Jika waktu itu saya menjawab "tidak", saya nggak kehilangan 500 yen. Tapi, sebagai gantinya, "hairimasu" tidak akan berasosiasi apapun di otak saya.

Sekarang, uang 500 yen yang saya keluarkan, membuat saya ingat betul dengan arti kata "hairimasu".


Friday, September 2, 2011

Antara jenius dan idiot

Kemarin, ‎saya meletakkan salah satu quotation dari Albert Einstein di status Facebook, "Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid." Artinya kira-kira, "Setiap orang adalah jenius. Tapi kalau Anda menilai ikan dari kemampuannya memanjat pohon, tentu ikan itu akan dianggap sebagai ikan yang bodoh seumur hidupnya."

Einstein benar.

Semua dari kita adalah jenius pada bidang tertentu. Dan dengan rendah hati, mari kita akui bahwa kita juga idiot pada bidang tertentu. 

Saturday, August 27, 2011

Ulang tahun

Usianya sudah nggak muda lagi untuk sekedar mengingat-ingat sebuah tanggal ulang tahun. Memanfaatkan teknologi untuk membuat sebuah reminder tanggal ulang tahun juga bukan hal yang mudah baginya.

Mungkin tanggal ulang tahun saya dicatatnya di sebuah notes. Atau buku catatan tempat beliau mencatat hal-hal yang penting. Atau bisa juga ditulis di kalender - diberikan tanda tebal supaya tidak lupa ketika hari H itu tiba.

Entah bagaimana caranya.

Hari itu, pagi-pagi benar beliau menelepon untuk memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada saya. Saya tahu sekali, ucapan ulang tahun itu diberikan dengan cinta. Dengan doa tulus supaya saya berhasil. Setulus ketika beliau berdoa untuk anak-anaknya.

Terima kasih mama. Terima kasih papa. Terima kasih sudah menjadi teladan dan membimbing Theresia sehingga bisa menjadi istri yang baik untuk saya. Terima kasih sudah senantiasa mendoakan kami di sini. Saya bersyukur bisa menjadi bagian dari keluarga besar papa dan mama.

Kiranya Tuhan yang senantiasa melimpahkan rahmatNya untuk kita semua.
Amin.

NB. Terima kasih juga untuk semua yang sudah memberikan ucapan selamat ulang tahun - baik pada saat ulang tahun maupun pada tanggal yang berbeda (karena mengira saya ulang tahun di tanggal itu). Saya tetap berterima kasih untuk perhatian dan doa-doanya... (dan ngomong2, bukan hari ini ulang tahunnya).

Thursday, August 25, 2011

Nikmatilah pagi

Hari ini, isi twitter saya adalah: "Pukul 7 adalah batas psikologis antara pagi dan siang."
Quote-nya saya dapet dari seorang dosen di Indonesia, Pak A. S. Nugroho. Yang dimaksud tentu pukul 7 pagi, bukan pukul 7 malam.

Implikasinya, kalau masih pukul 6.59 berarti masih pagi, sedangkan pukul 7.01 sudah disebut siang. Bangun setelah lewat pukul 7, artinya kesiangan.

Buat saya, pagi hari selalu menyenangkan (perkecualian ketika malamnya harus lembur sampai dini hari). Udara pagi selalu bersih dan segar. Di manapun saya berada, pagi hari selalu berhasil menampilkan pemandangan terbaik tempat tersebut. Siang hari, pemandangan cenderung nampak panas/terik, sedangkan malam hari cenderung nampak gelap. Pagi harilah yang selalu berhasil memberikan pemandangan terbaik - entah di pantai, di gunung, di kebun ataupun di rumah.

Nikmatilah pagi selagi bisa. Nikmatilah selama dan sebanyak mungkin. Karena sekali terlewat, kita harus menunggu keesokan hari untuk bisa kembali menikmatinya. Sayang jika dilewatkan begitu saja.

Banyak inspirasi yang bisa muncul pada saat kita menikmati keindahan pagi.

Wednesday, August 24, 2011

#nunggupengumuman

Hari ini isi twitter saya: "you are doing okay..." kata sensei setelah ujian masuk program doktor. #nunggupengumuman

Ceritanya, saya kemarin ujian masuk program doktor untuk periode April 2012. Ujiannya, sama seperti sebelumnya, oral interview dan presentasi proposal penelitian. Karena sifat ujiannya formal, diuji di depan 4 orang profesor, maka saya harus mengenakan pakaian formal abad 21, yaitu jas (itulah sebabnya saya mengenakan sabuk sehingga tahu bahwa saya mengenakan sabuk di lobang yang sama sejak pertama beli membeli sabuk 15 tahun yang lalu). Secara nggak pantes kalo pake jas tapi nggak bersabuk.

Presentasi 20 menit. Lalu sesi tanya jawab. Seorang profesor yang masih (nampak sangat) muda memberikan pertanyaan pertama. Bahasa Inggris-nya bagus banget. Nyaris tanpa aksen Jepang. Jarang sekali ketemu langsung dengan orang Jepang yang Bahasa Inggrisnya bagus (mungkin dia lulusan dari English speaking country). Sensei saya aja, kalo ngomong Inggris masih beraksen Jepang - tapi understandable. Inggris saya juga masih beraksen Indonesia (ato Jawa?) - berkali-kali waktu presentasi saya mengucapkan "the" dengan "dhee". Ah, harus terus dilatih...

Pengumuman resmi lulus ato nggaknya baru tanggal 2 September bulan depan. Cuman setelah ujian masuk, sensei dateng ke lab dan ngasih tau kalo kali ini ujiannya "oke". Saya menangkap "oke" yang dimaksud adalah saya berpeluang besar untuk bisa masuk di program doktor periode April 2012.

Kalo beneran jadi mahasiswa Doktor bulan April 2012, berarti normalnya saya akan lulus 3 tahun kemudian, yaitu Maret 2015. Sementara, beasiswa yang diberikan hanya sampai Agustus 2013 (yang kabarnya bisa di-extend 6 bulan ke depan). Artinya, di tahun terakhir (periode 2014-2015), saya harus mandiri membiayai studi tanpa tergantung dari beasiswa. Gimana caranya? Belum tau. Mungkin ini yang disebut dengan "live by faith". Yang jelas, keadaan ini akan membuat kami untuk terus berpikir kreatif dan jeli melihat peluang.

Sepertinya akan jadi episode yang seru dalam perjalanan menempuh studi doktor.


Tuesday, August 23, 2011

Lobang yang sama

Hari ini isi twitter saya: "mengenakan sabuk di lobang yang sama sejak 15 tahun yang lalu. #bodyfit #sabuknyaJadulAmat"

Iya. Sejak pertama beli sabuk 15 tahun yang lalu sampai sekarang, saya mengenakan sabuk di lobang yang sama. Sebuah lobang tambahan karena memang lobang terakhir masih terasa longgar. Harga sabuknya bisa ditebak dengan sedikit petunjuk bahwa saat membeli sabuk itu saya masih kuliah di tahun ke-2 (seberapa mahal sih harga sabuk yang bisa dibeli oleh mahasiswa tahun kedua?)

Dari isi twit itu, ada banyak konklusi yang bisa muncul. Pertama, issue metabolisme tubuh. Fluktuasi berat badan saya sejak 15 tahun yang lalu, nggak banyak berubah. Entah pola makan apapun yang saya terapkan, fluktuasi berat badan nggak lebih dari +/- 3Kg - yang berakibat pada lingkar perut yang (kurang lebih) selalu sama. Saya bisa makan sebanyak yang saya mau (atau nggak makan selama yang saya mau) tanpa harus repot memikirkan berat badan. (Berani bertaruh, pasti most of the girls will do anything to have such kind of metabolism).

Konklusi kedua adalah sabuknya luar biasa awet. Dan konklusi ketiga adalah si pemilik yang terlalu pelit untuk membeli sabuk baru. Sebenarnya, konklusi kedua lebih tepat, karena memang sabuknya masih nyaman untuk dipakai. Lagipula, saya bukan tipe cowok yang terlalu memperhatikan fashion. Selama masih nyaman untuk dikenakan (apapun itu), kenapa harus beli baru? Pelit? Ya depends. Prioritas saya sama sekali bukan untuk membeli fashion yang kayak gitu. Saya jauuuuhhh lebih sering (dan lebih bahagia saat) beli buku ketimbang baju, sabuk atau sepatu. Sekali lagi karena prioritas. Saya merasa nilai diri saya nggak ditentukan oleh fashion yang saya kenakan. Selama masih nyaman dipakai, ya dipakai aja... Simple.

Untungnya, istri saya punya sense of fashion yang jauh lebih baik ketimbang saya. Jadi, masalah fashion, serahkan saja ke yang berwajib. Lalu tentang metobolisme itu... well, let's see. :)

Wednesday, August 17, 2011

Endonesha - Story behind independence day

This is a story of great country named The Republic of Endonesha. A beautiful country located somewhere in Timbuktu. Hit almost 200million population, this country becomes a living legend. True living legend till now, but very few people know the history behind the independence day of this great country. Many blood (and sweat) were shed at that moment.

Here's the story.

Endonesha - What the Endonesha's historian never tell you.

Part I - Rapat Penculikan

Jam 10 pagi, 14 Agustus 1945 TW (Tahun Timbuktu).
Lokasi: Rengasdengklek, Kerawang

Prolog: Saat itu Endonesha masih terjajah dan belum menjadi Republik. Kondisi ekonomi morat marit, tiga tahun bangsa itu dijajah bangsa Jpang. Dalam tiga tahun itu, Sekarno, pemimpin bangsa itu, telah melakukan banyak negosiasi dengan bangsa Jpang agar Endonesha bisa mengatur sendiri kehidupan bernegaranya. Bangsa Jpang menjanjikan bahwa Endonesha segera diberi kemerdekaan. Bahkan agar lebih meyakinkan, Bangsa Jpang membentuk PPKE (Panita Persiapan Kemerdekaan Endonesha) atau Dokuritzu Zyunbi IInkei dan menunjuk Sekarno sebagai ketuanya.

Mereka rapat, 8 orang pemuda jomblo yang sudah ngebet pengen segera merdeka (dan kawin).

"Kita culik saja Sekarno!" Usul Melik, salah satu pemuda yang bersumpah akan menjomblo seumur hidupnya sebelum bangsa tercintanya merdeka.

Saleh, dengan kecerdasan setingkat di atas protozoa berusaha menganalisa ide itu. "Diculik? Untuk apa? Minta tebusan ya?" Jawabnya nggak nyambung, minggu lalu dia mengalami masa kelam hidupnya, yaitu ditinggal selingkuh Tina, pacarnya dengan seorang prajurit Jpang.

"YA UNTUK KITA PAKSA MEMPROKLAMASIKAN KEMERDEKAAN, DODOLLL...!!! Masak untuk kita ajak jalan2 ke Taman Ria..." Jawab Melik, emosi.

"Demi negara ini, gue rela nemenin Sekarno ke Taman Ria..." Jawabnya pragmatis, masih nggak nyambung. Beberapa pemuda di ruangan itu menoleh ke arahnya, memandang dengan iba.

"Culik, lalu paksa dia olang baca-ken ploklamasi...!" Timpal Oei Bun. "Ini waktu... pas buat kita olang untuk ploklamasiken kemeldekaan..."

"Proklamasi kemerdekaan..." Ralat Melik

"Iya, ploklamasi kemeldekaan maksud gwa... kmalen gwa dengel di ladio BBC kalo Sekutu sudah ngebom hilosima..." Sambung Oei Bun.

"Hirosima..." Ralat Melik

"Iya, hilosima maksud gua... Jadi kita atul skenalio penculikannya!!" Kata Oei Bun bersemangat.

"Skenario..." Ralat Melik

Para pemuda itu segera berunding...

"...."
"Loe bawa pentungan..."
"... andongnya mesti disiapin..."
"... iya, jgn lupa karung..."
"... sampe taman Ria..." Bletak! Sebelum Saleh melanjutkan idenya, sebuah jitakan mendarat dengan telak di kepalanya.
"... kudanya ada..."
"... jangan lupa salapan..."
"16 agustus, jam 4 pagi di jalan menteng..."
"... tapi taman Ria blom buka..." Protes Saleh. Kali ini para pemuda segera mengikat Saleh, menyekapnya, dan membuangnya di jalan.
"..."
"... oke, deal or no deal?"
"DEAL...!" Jawab mereka kompak. Kelak salah satu televisi swasta mencuplik kata "Deal or no deal" hari itu sebagai nama kuis.

***

Part II - Peristiwa Penculikan

Dini hari, Pk. 03.00 16 Agustus 1945 TW
Sepanjang jalan Menteng, Rengasdengklek, Kerawang

Segerombolan pemuda itu mengendap2 di Jalan menteng. Melik segera mengambil alih komando.
"Kainnya udah ada?"
"Sip, warnanya merah muda, 1x2 meter, cukup untuk bikin 2 potong baju" Jawab Adam Malich
"Andongnya?"
"Oke!"
"Karung?"
"Ada!"
"Pentungan siap?" Tanya Melik
Bletak...! "Aoowww..." Teriak Saleh, spontan. Kepalanya jadi korban pembuktian bahwa pentungan sudah disiapkan dengan baik.

Tepat di depan rumah no. 31...
"Pagelnya ditutup..." Komentar Oei Bun dengan tampang kecewa. Ia berharap pagar yang setinggi 4 meter itu dibuka lebar lalu mereka disambut dengan umbul2 bertuliskan "Selamat Datang Para Penculik Sekarno... Silahkan Masuk" lengkap dengan petunjuk arah lokasi plus tarian Lenong.
"Jadi kita manjat ya?" Tanya saleh
"YA, IYA LAH KITA MANJAT, DODOLLLL...! Masak kita mo ngetok2 dan bilang kalo kita mo nyulik Sekarno?" Melik emosi.

Mereka segera memanjat dengan susah payah pagar setinggi 4 meter itu. Setelah sukses memanjat pagar, mereka segera masuk ke dalam rumah. Di dalam, Sekarno masih terjaga, berbincang2 dengan Vatmawati, istrinya yang sedang menimang Guntur anak mereka yang berusia 1 tahun (kelak, 55 tahun kemudian adik Guntur, Megahwati menjadi presiden ke-5 Republic of Endonesha). Mereka sedang berbincang2 dalam ruangan yang diterangi cahaya lilin (karena kena pemadaman lampu bergilir) mengenai masa depan negara Endonesha sambil ngemil kerupuk. Ke-8 pemuda itu bersembunyi dan mendengarkan perbincangan itu.

"... kekuatan yang segelintir ini tidak cukup untuk melawan kekuatan bersenjata dan kesiapan total. Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat..."

Bletakk... Melik mengayunkan pentungan dan memukul sebentuk kepala di depannya yang diharapkan itu adalah kepala Sekarno. Tapi yang muncul malah erangan dari Saleh.

"Adduuuhh..." Saleh mengaduh sebelum akhirnya pingsan dengan posisi tertelungkup memegang kepalanya yang dalam waktu dekat akan benjol. Karung yang mereka bawa, segera digunakan untuk menutup obyek kepala yang mengaduh tersebut. Dengan menggunakan andong, mereka membawa objek kepala yang benjol dan tubuhnya ke Jaharta, ibukota negara Endonesha. Sementara Sekarno menyaksikan kejadian tersebut dengan terenyuh dan bertanya2 nasib Bangsa Endonesha ke depan. Demi mendukung terlaksananya rencana mereka, Sekarno ikut naik andong tersebut, bersama Vatmawati dan anaknya, Guntur. Lalu bersama2 mereka menyanyikan sebuah lagu yang akan dikenang oleh anak2 Endonesha sepanjang masa.

"Pada hari minggu, kuturut ayah ke kota,
Naik delman istimewa kududuk di muka..."

***

Part III - Proklamasi Kemerdekaan

17 Agustus 1945 (TW)
Jl. Pegangsaan Timur 56, Jaharta
06.00 WT

Setelah 14 jam perjalanan menggunakan andong dari Kerawang menuju Jaharta, tibalah mereka di Jl. Pegangsaan Timur 56. Beberapa pemuda lain sudah menunggu tibanya mereka.

Sementara Saleh sudah tersadar dari pingsannya, dan bertanya apakah mereka sudah sampai di Taman Ria. Pertanyaan itu disambut dengan pentungan untuk kedua kalinya yang membuat Saleh tak sadar dengan durasi pingsan dua kali lipat lebih lama dari sebelumnya.

Mereka mendudukkan Sekarno dan memaksanya untuk menuliskan naskah proklamasi. Sekarno meminta waktu dan ingin merapatkan dahulu dengan golongan tua, terutama Bung Bhatta yang saat itu menjadi wakil negara.

Para pemuda itu memaksa Sekarno untuk memproklamasikan kemerdekaan dengan cara2 premanisme (kelak, premanisme menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan Republic of Endonesha, kemungkinan para preman2 itu meneladani apa yang telah dilakukan pemuda2 itu).

Tidak ada pilihan, Sekarno dan Bhatta segera berunding untuk menuliskan naskah proklamasi kemerdekaan.

Kami bangsa Endonesha dengan ini menjatakan kemerdekaan Endonesha.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
Semoea peristiwa sebeloem proklamasi dan saat proklamasi ini, harap
dikenang setiap tahoennja.

Djaharta, hari 17 boelan 8 tahoen 45
Atas nama bangsa Endonesha.
Sekarno/Bhatta

Tulisan tangan itu segera diketik oleh Melik dengan menggunakan mesin ketik qwerty yang dibeli dari pedagang kelontong tetangga, Jl. Pegangsaan Timur 58. Tepat pk. 10.00, Sekarno mengenakan peci hitam yang dipinjam dari Bung Bhatta, membacakan teks proklamasi itu.

***

Catatan sejarah yang tertinggal:
Setiap tahun sejak proklamasi kemerdekaan tahun 1945 itu, bangsa Endonesha merayakannya dengan cara yang tidak dilakukan bangsa lain, yaitu mengadakan lomba2. Lomba2 itu sebenarnya merupakan cerminan peristiwa yang terjadi menjelang proklamasi kemerdekaan.
  • Lomba makan krupuk untuk memperingati bahwa saat Sekarno diculik, beliau sedang ngemil krupuk bersama istrinya.
  • Lomba panjat pinang untuk memperingati ke-8 pemuda tersebut memanjat pagar setinggi 4 meter dalam tragedi penculikan Sekarno.
  • Lomba pukul bendok dengan kepala tertutup untuk memperingati bagaimana kepala Saleh terkena pentungan Melik saat terjadi tragedi penculikan Sekarno. Bendok (kendi) digunakan sebagai pengganti kepala, mengingat akan banyak korban yang akan berjatuhan jika lomba diadakan dalam versi aslinya, yaitu memukul kepala.
  • Lomba balap karung, untuk memperingati bagaimana kepala Sekarno ditutup karung saat diculik, walaupun ternyata sebenarnya kepala Saleh yang masuk ke dalam karung. Panitia memodifikasi lomba itu menjadi balap karung yang kita kenal saat ini, mengingat banyak korban tercebur sungai, nyasar ke RT tetangga, menabrak kerumunan penonton bahkan menabrak pagar tetangga ketika mereka berlomba dengan kepala tertutup.
  • Karnaval andong, untuk memperingati bahwa mereka dibawa menggunakan andong dari Jln. Menteng 31 ke Jl. Pegangsaan Timur 56.
***
Happy 66 Anniversary to my country, Indonesia...!
I'm proud to be an Indonesian.

Tuesday, August 9, 2011

Pergi ke kolam renang

Semakin lama tinggal di Jepang, semakin saya menyadari betapa hidup di Indonesia harus disyukuri.

Barusan kami pergi ke kolam renang. Untuk berenang tentunya, bukan untuk mendaki gunung. Yang disebut sebagai kolam renang di Jepang (pool atau dalam lidah jepang menjadi pu-ru) nggak sama dengan kolam renang di Indonesia. Di Indonesia, kita bisa ke kolam renang anytime sepanjang tahun, 7 hari seminggu buka terus. Kalo seneng dengan suasana yang rame2, ya pergi di musim liburan pas hari raya Idul Fitri (yang sebentar lagi dirayakan) ato akhir tahun. Kalo kayak saya, tipe yang seneng suasana yg sepi, lengang, nggak banyak orang, ya pergi pas hari kerja di luar musim liburan.

Di Jepang, mengingat fakta bahwa berenang jelas bukan ide yang baik ketika musim dingin atau ketika suhu mencapai 5 derajat celcius, maka membuka kolam renang untuk publik di musim dingin, jelas hanya menghabiskan biaya operasional. Nggak kebayang para life-guard bercelana renang merah dengan perut six-pack yg berjaga di sudut2 kolam renang, harus pake jaket tebel dan menggigil kedinginan ketika tugas jaga di musim dingin, sementara yg renang cmn ada beberapa gelintir orang yg kurang waras.

Kira2 beginilah percakapan (imajinatif) dua orang life-guard yg kena tugas jaga di musim dingin.
"Buset, gue kena tugas jaga besok, euy... Di prakiraan cuaca, besok 4 derajat... Arghh... Loe kapan, Matsuo?"
"Weee... Gue juga besok. Jangan lupa bawa balsem yak..."
"Ho-oh, bawa kopi ma teh juga ya... Biar rada angetan."
Keesokan harinya, mereka berdua duduk saling rapat di sudut kolam, memandang kolam dengan pandangan kosong. Kopi di depan mereka sudah hampir jadi es kopi. Tubuh mereka dibungkus selimut menyembunyikan perut six-pack nya, sementara di punggung nampak guratan2 merah bekas kerokan karena masuk angin.

Anyway, kejadian itu nggak bener2 terjadi. Kolam renang di Jepang hanya dibuka di musim panas, petengahan bulan Juli sampai akhir Agustus (ketika summer holiday). That's all. Selain hari2 itu, kolam renang tutup. Habis perkara.

Nah, kolam renang di dekat tempat kami, namanya Inage Kaihin Kouen Pu-ru (稲毛海浜公園プール). Kolam renang ini selevel dengan waterboom di Bali atau Ciputra water park. Banyak spot2 yg menarik, lorong sliding sepanjang 80meter, slider dr ketinggian 50meter, kolam renang tertutup, ombak buatan, air terjun buatan, dan macam2 spot lain. Tiket masuknya cukup murah untuk ukuran Jepang, 1000 yen (atau setara dengan harga dua piring ramen - mungkin di Indonesia setara dengan 2 piring pangsit mie).

Catatan kecil:
  1. Walaupun Jepang disebut sbg negara timur dengan budaya timur yang kuat, namun di kolam renang, cewek2nya nggak nampak canggung berenang dengan pakaian renang atau bikini. Banyak pasangan yg juga tanpa canggung saling berpelukan di dalam kolam renang. Nampaknya pengaruh budaya barat sudah mulai nampak di kalangan anak2 muda Jepang.
  2. Ruang loker atau tempat penyimpanan barang juga berfungsi sebagai ruang ganti baju. Hebatnya, ruang loker ini nggak membedakan ruang loker pria dan wanita. Semua jadi satu. Beberapa pria dengan tanpa sungkan telanjang untuk ganti celana renang. Sementara wanitanya juga nampak biasa dengan pemandangan semacam itu.


Nenek dan Jam di stasiun

Jam di stasiun Inage (stasiun kereta terdekat dari tempat kami) adalah jam analog, ada jarum pendek dan jarum panjang, warna angkanya hitam dan tebal-tebal (mirip dengan jam2 kuno di stasiun2 Indonesia). Tergantung di atas platform stasiun. Setiap penumpang yang masuk ke dalam platform, dapat melihat dengan jelas jam tersebut. Setahu saya, jam tersebut tidak pernah berhenti, jarumnya selalu berada di angka yang tepat. (Di stasiun kota Malang, saya beberapa kali mendapati jamnya stasiun mati)

Kemarin saya berjalan di sekitar stasiun untuk naik bis ke kolam renang. Istri saya sedang menuju kantor stasiun dan menanyakan kepada petugas bis mana yang mesti dinaiki.

Di tengah hiruk pikuknya stasiun, tiba-tiba seorang nenek memanggil saya. Saya adalah orang paling dekat. Nenek itu agak bungkuk, membawa tongkat untuk membantunya berjalan, rambutnya sudah memutih. Tas hitam yg dibawanya sudah nampak kumal. Saya menghentikan langkah saya. Lalu berkonsentrasi dengan apa yg ditanyakan. "kono tokei, ima nanji?" (Jam itu, sekarang jam berapa?) Nenek itu menunjuk jam di atas platform. Saya nyaris mengira dia bertanya jalur Tozei berangkat jam berapa (karena jalur-jalur keberangkatan kereta tertulis di papan2 digital yg tidak begitu besar). Tapi saya segera sadar bahwa yang ditanyakan adalah jam saat sekarang.

"Jyu ichi han" (setengah dua belas) jawab saya sambil memeragakan angka 11 dengan kedua telunjuk saya. Dia mengulangi untuk memastikan. Kemudian dia berusaha untuk membungkuk lebih lagi sambil mengucapkan "arigatou gozaimasu..." Saya ikut membungkuk2kan badan sebagai isyarat bahwa saya sama sekali tidak terganggu dengan pertanyaannya. Nenek itu kemudian menyambung, "Gomen neh, me ga warui... tokei ga mienai..." (maaf ya nak, mata tua, sudah nggak bisa liat jam dengan jelas...), "oh iya2... Tidak apa2 kok."

Nenek itu melanjutkan perjalanannya dengan tertatih2. Entah apa yang ada di pikirannya setelah tahu sekarang jam setengah duabelas. Saya melihat kembali jam di stasiun itu. Jarum panjang dan jarum pendek yang berwarna hitam nampak dengan kontras dengan warna kuning jamnya. Saya merenung sebentar, kemudian mengucap syukur untuk mata yang sehat.

Saya segera menyusul istri saya yang nampaknya sudah mendapat jawaban rute bis menuju kolam renang.

Jika tulisan di blog ini masih bisa dibaca dengan baik, tanpa kesulitan, bukankah itu juga sesuatu yang patut disyukuri?


Monday, August 8, 2011

Pertama kali

Ada banyak pertama kali yang saya alami dalam minggu ini.
  1. Pertama kali naik shinkansen (kereta cepat). Tujuannya tokyo-nasushiobara yang jaraknya 157 km dan ditempuh dalam waktu kurang dari 1 jam. Seperti halnya kereta di Jepang, shinkansen juga super tepat waktu. Di tiket tertulis jam 11.20 berangkat, dan tepat jam 11.20 (waktu stasiun) kereta bener2 jalan. Karena nggak ada pedagang asongan yg jual tahu sumedang, nasi campur, ato the kotak, maka penumpang bisa beli bento sblm masuk kereta untuk dimakan di dalam kereta. Istilahnya eki-ben. Harga sekotak bento rata2 1000 yen (nggak perlu diitung kursnya dlm rupiah, karena nafsu makan bisa tiba2 ilang).
  2. Pertama kali melakukan kunjungan ke pabrik Toshiba cabang Nasushiobara yg khusus memproduksi alat2 medis, seperti CT scan, MRI, dan kawan2nya. Saya berkesempatan ngeliat dapurnya pabrik, bagaimana alat2 medis dirakit, mulai dr produksi komponen yg kecil2 sampe yg gede2. Dari sinilah alat2 medis bermerk Toshiba di-shipping ke seluruh dunia. Pabriknya gede, bersih, dan rapi. Bener2 ngerasa jadi mahasiswa jurusan biomedical engineering.
  3. Pertama kali ngerasakan makan (malam) besar ala Japanese style di restoran Jepang. Satu2nya makanan yg saya inget namanya adalah sashimi (ikan mentah). Semua makanan khas jepang, dan saya nggak kepingin nanya itu apa, ato cara masaknya gimana. Karena kl saya tau apa bahan makanannya ato bagaimana makanan itu diolah, saya bisa muntah saat itu juga. Jadi saya makan dgn iman. Just eat them. Makan bersama 8 org lain habis 44rb yen. Jumlah uang itu setara dgn rata2 gaji pegawai di Indo selama 2 bulan.
  4. Pertama kali naik taksi di Jepang. Jarak 3km total yg dibayar adalah 170rb rupiah.
  5. Pertama kali ikut konferensi sebagai pemakalah. Walopun dosen, jujur aja, saya blom pernah sekalipun jd pemakalah pas indonesia. Sebagai peserta pernah, tp mempresentasikan hasil penelitian di konferensi nasional sama sekali blom pernah. Dosen cupu kata orang. Dan disaksikan skitar 80 mahasiswa, dosen, peneliti di bidang biomedical, kedokteran, dan komputer, saya mempresentasikan hasil penelitian ttg pemodelan gerakan diafragma. Dapet pertanyaan yg rada2 nyesek dr seorang dosen dr yamaguchi univ. Kmungkinan antara chiba univ dan yamaguchi univ adalah musuh bebuyutan di bidang biomedical eng, seperti ITS dan UGM yg jd musuh bebuyutan di bidang robotika.
-----
Jadi, ceritanya hasil penelitian saya dan 3 rekan di lab, diterima dan dipresentasikan dalam JAMIT (The Japanese Society of Medical Imaging Technology) annual meeting yg tahun ini diadakan di International University of Health and Welfare di Nasushiobara.

Karena jarak kota Chiba ke Nasushiobara nggak bisa ditempuh dgn sepeda, maka kami berangkat hari Kamis lalu dengan naik shinkansen. Sesampai di Nasushiobara, kami disambut panitia dan acara awalnya adalah kunjungan ke pabrik Toshiba bersama peserta JAMIT lainnya. Sehabis kunjungan pabrik, kami (termasuk sensei dan kolega2nya) makan malam bersama. Karena makan malam baru selesai jam 21.30, kami ke hotel dgn naik taksi. Keesokan harinya, saya presentasi...

Asyik jg ikut conference di Jepang. Hasil2 penelitiannya bener2 fresh dan baru. Perusahaan medis yg jadi sponsor dlm conference spt Toshiba, pasti udah siap nggelontorkan dana penelitian jutaan yen kalo ada penelitian yg berpotensi untuk diterapkan di industri medis mereka. Kecanggihan peralatan medis mereka ditopang oleh penelitian yg dikembangkan di universitas2. Senang saya bisa jadi bagian di dalamnya. Semoga kelak hasil penelitian saya diterapkan di perangkat medis yg bisa berdampak untuk kesehatan jutaan pasien di dunia. Amin.

Antara Nasushiobara dan Tokyo

Nasushiobara, tempat diadakannya JAMIT (The Japanese Society of Medical Imaging Technology) annual meeting 2011, adalah kota kecil. Jaraknya dari Tokyo sekitar 157 Km. Kota ini, kalau di Indonesia, mungkin seperti kota Batu. Suasana kota lengang, tidak banyak kendaraan lalu lalang. Populasi penduduk tercatat hanya 117ribu (bandingkan dengan Malang yang mencapai 800rb jiwa).

Sepanjang perjalanan ke tempat conference banyak keliatan sawah-sawah atau rumah-rumah tak bertingkat. Pemandangan semacam ini nyaris tidak bisa ditemukan di Tokyo. Gedung2 tinggi dan minimarket yg hampir ada di setiap blok kota Tokyo atau Chiba, jarang sekali ditemui di Nasushiobara. Baru ada 1 dalam jarak 2-3km. Ritme kehidupan rasanya berjalan dengan lambat. Saya suka kota kecil seperti ini, tenang, damai, dan masyarakatnya nampak bersahabat.

Ketika melihat hamparan sawah dalam perjalanan, saya ingat pelajaran geografi waktu SMP. Katanya, Jepang adalah negara dgn sumber daya alam terbatas. Waktu itu saya nggak bener2 ngerti apa arti kata "sumber daya alam yg terbatas". Kalau Singapura dikatakan sumber daya alamnya terbatas, ya make sense. Lah wong tanahnya cmn secuil gitu. Tapi Jepang kan luas?

Sekarang, kurang lebih saya bisa paham. Walaupun tanahnya luas, tp nggak ada yg bisa ditambang. Tanah digali jg bakalan dapet tanah doang. Nggak ada batubara kyk di Kalimantan, nggak ada emas dan tembaga kyk di Papua, nggak ada minyak bumi kyk di lepas pantai samudera pasifik. (Kemungkinan, duluuuu karena di Jepang ada musim dingin yg dinginnya menusuk tulang, dan musim panas yg panasnya amit2, maka dinosaurus ogah hidup di Jepang. Nggak ada dinosaurus, berarti nggak ada fosil. Nggak ada fosil, ya nggak ada minyak. Kl di Indonesia, cuaca hangat sepanjang tahun, sehingga banyak dinosaurus kerasan... Pas mati, mereka jadi fosil lalu jadi minyak bumi. Alhasil di Indonesia banyak minyak bumi).

Hasil alam juga nggak bisa melimpah karena adanya 4 musim ini. Bayangkan, enak2 nanem cabe, tau2 pas musim dingin bibitnya mati kedinginan. Nanem apel yg pas di udara dingin, eh, kering juga pas musim panas. Jadi serba repot. Nanem apapun, sebelum dipanen, pasti kebentur dgn musim2 yg ekstrim yg bikin taneman gak bisa tumbuh (mungkin itu sebabnya harga sebiji apel di sini Rp 10rb!). Karena alam yg nggak bersahabat ini, akhirnya teknologi yg jadi fokus mereka. Nah, make sense kenapa teknologi berkembang pesat di Jepang.

Monday, August 1, 2011

Ngomong-ngomong tentang Kanji... (Part 1)


Nah, ngomong-ngomong tentang karakter Kanji... saya terobsesi dengan karakter-karakter itu. Dulu, (pas masih nggak kepikiran bakal sekolah di Jepang), saya sudah tertarik. Gara-garanya sederhana. Beberapa karakter itu ternyata mewakili gambar. Misalnya karakter "gunung" (山) yang dibaca "yama", karakter itu sebenernya adalah gambar gunung yang disederhanakan (3 buah gunung, lalu dari puncaknya ditarik garis vertikal), karakter "pohon" (木) dibaca "ki", juga adalah gambar pohon... Garis horisontal mewakili tanah, di bawah tanah ada akarnya - dan tentu batang pohon muncul di atas tanah. Karakter "manusia" (人) dibuat simple, tubuh dan dua kaki.

Nah, yang lebih menarik lagi, ketika dua karakter kanji disatukan untuk membentuk karakter baru. Misalnya karakter "manusia" (人) + "pohon" (木) = 休. Kira-kira ngapain kalo manusia deket2 dengan pohon? Kalo karakter ini ditulis di Indonesia, mungkin artinya adalah pipis (karena di Indonesia, orang yang deket pohon identik karena mau pipis). Kalo di India, mungkin artinya adalah menari (karena di India, orang nari2 di belakang pohon). Tapi di China, artinya adalah "istirahat" (yasumi). Di duduk di bawah pohon untuk istirahat. Make sense!

Karakter "sungai" (川) - dibaca "kawa" juga mirip dengan gambar sungai yang keliatan arusnya (diwakili dengan 3 buah vertikal). Ketika karakter sungai itu "diikat" jadi sehingga jadi karakter "水", kira-kira apa artinya? Let's think. Sungai terdiri dari air. Kalo sungai-nya di-kompres (squeezed), ditekan apa yang tersisa? Air! Yup, karakter sungai yang diikat tengahnya (水 - dibaca "mizu") adalah karakter air. Brilian!

Karakter "matahari" (yang juga berarti "hari") "日" - dibaca "hi" juga merupakan gambar matahari. Cuman stroke (ato radikal) berbentuk lingkaran nggak dikenal, jadilah matahari digambar dalam bentuk kotak. Tapi, tunggu... karakter kotak polos (口) sudah lebih dulu dipakai untuk karakter "mulut". Untuk membedakan, karakter matahari diberikan garis horisontal di tengah. (Jangan tanya saya kenapa kok nggak garis vertikal aja... Saya dulu nggak ikut pas mereka rapat untuk bikin kesepakatannya).

Karakter matahari (日) di belakang pohon (木) jadi karakter (東) juga mewakili arti tertentu. Ngapain coba matahari ada di belakang pohon? Tebak, di arah manakah matahari ketika baru muncul (sehingga cuman kelihatan di belakang pohon?). Arah timur. Makanya karakter matahari yang keliatan di belakang pohon (東) adalah karakter untuk arah mata angin Timur (dibaca "higashi").

Cerita bagaimana karakter "kuil" (寺 - dibaca "tera") dibentuk juga make sense. Karakter itu terdiri dari dua karakter pembentuk yaitu karakter tanah/bumi (土 - dibaca tsuchi yang mewakili dari tanah, muncul tanaman) dan karakter ukuran ("寸" - dibaca "sun" mewakili gambar tangan yang sedang mengukur). Ceritanya, jaman dulu, satu-satunya organisasi di China yang paling berhak menentukan ukuran/hukum adalah... well, you know, kuil. Jadilah karakter "寺" berarti kuil. Ketika karakter matahari (日) ditambahkan di sebelah kuil (寺) menjadi karakter "時", maka artinya adalah waktu (dibaca "toki"). Faktanya, di kuil-lah waktu ditentukan (dengan cara memukul lonceng kuil). Nah, make sense kan?

Bagaimana kalau karakter "sapi" (牛 - dibaca "gyuu") diletakkan di dekat kuil (jadi karakter 特)? Pasti itu adalah sapi yang spesial. Yup! Arti karakter "特" (dibaca "toku") adalah spesial. Kalau karakter tangan "手" diletakkan di sebelah kuil ("寺") menjadi jadi karakter "持"? Artinya jadi "memiliki" - di jaman itu, kuil-lah yang berhak memiliki barang-barang persembahan dari rakyat... Make sense.

Ada sekitar 300 karakter yang artinya dapat dinalar dengan cara ini. Tapi tahu artinya baru separuh dari perjuangan belajar Kanji. Cara baca dan gabungan karakter-karakter yang membentuk arti baru nggak bisa diabaikan. Ada ribuan karakter yang nggak ada ceritanya... Mnemonic merupakan salah satu cara untuk menghafal karakter kanji. Misalnya karakter "横" (yang artinya "sebelah/sisi horisontal"). Karena ada dua karakter utama pembentuknya, yaitu karakter pohon ("木") dan kuning ("黄"), maka mnemonic yang bisa dibentuk adalah, "di sebelah pohon itu banyak daun-daun kering yang berwarna kuning berjatuhan". Jadi setiap kali muncul karakter "横" (dibaca "yoko"), asosiasi yang muncul adalah "pohon", "kuning" ... jadi "daun-daun warna kuning pada berjatuhan di sebelah pohon" - aha! artinya adalah "sebelah"!

Lama kelamaan, ketika karakter ini sering muncul, mnemonic (atau jembatan pengingat) nggak lagi diperlukan. Secara otomatis karakter "横" akan berasosiasi dengan arti "sebelah" atau "sisi horisontal".

Very Interesting! Itu sebabnya saya terobsesi untuk menghafalkan 2000 joyo kanji (karakter yang paling sering digunakan)... T.e.r.o.b.s.e.s.i. Sekarang, approaching 700... :)

[bersambung]

Note:
  • karena sekarang saya tinggal di Jepang, maka semua cara pembacaan di atas adalah cara pembacaan kanji di Jepang, bukan cara baca Hanzi di China.
  • Gambar diambil dari http://www.nymphusa.com/kanji-imagesdf1j/samurai.jpg. Gambar orang yang menjaga kuil... Artinya adalah seorang samurai (warrior).

Friday, July 15, 2011

Bukan bintang pelajar

Ada anak-anak yang memang terlahir sebagai bintang pelajar. You know, sejak TK mereka sudah menunjukkan ke-"bintang-pelajaran"nya. Mampu menggunting dan melipat kertas dengan rapi, mampu menulis angka dan huruf dengan baik, makan tanpa cemot, baju nampak rapi, bisa mengeja abjad dengan jelas dsb.

Pas SD mereka adalah anak-anak yang selalu mengerjakan pe-er dengan lengkap, mendengarkan guru dengan baik, rata-rata nilai ulangannya 8, 9 atau 10, selalu menjadi contoh bapak dan ibu guru ketika membahas bagaimana seorang siswa yang baik...

Waktu SMP atau SMA mereka selalu berada di peringkat 5 besar, pe-ernya selalu jadi bahan contekan anak-anak lain, jawaban ulangan sering dijadikan kunci jawaban oleh bapak/ibu guru, dsb.

Pas kuliah, dia seolah-olah tahu persis apa yang dimaui oleh si dosen, memberikan jawaban yang jelas, mengerjakan dan mengumpulkan tugas dengan tepat waktu (no matter semepet apapun deadline-nya), lulus dengan IPK di atas 3.5 lebih atau malah cumlaude...

Pendeknya, mereka ini cemerlang secara akademik. Belajar demi nilai raport yang baik. Pernah kenalkan dengan anak-anak semacam itu? Yang kadang2 sering ditanya, kok bisa sih pinter gitu? Tiap hari makan apa?

Iya, ada emang anak-anak yang terlahir sebagai bintang pelajar. Cuman saya nggak termasuk di dalamnya. Saya bukan tipe bintang pelajar yang pe-er selalu dikerjakan dengan rapi, tugas-tugas dikumpulkan tepat waktu, ulangan selalu di atas rata-rata, dijadikan contoh bapak/ibu guru... Nggak sejak SD, SMP, SMA, ataupun kuliah.

Bahkan saat kuliah S3. Di kelas bahasa Jepang, nilai-nilai vocab dan grammar saya ya gitu deh...(sering di bawah rata-rata). Lain dengan pelajar Mongolia yang satu itu... Yang selalu menjawab pertanyaan dosen dengan baik, yang selalu mengerjakan pe-er dengan rapi, yang ulangan vocab dan grammar nggak pernah dapet di bawah 7, yang selalu masuk kelas tepat waktu, jarang absen, yang datang ke ruangan dosen kalo ada yang nggak dimengerti, yang... yang... yang... Well, you know... tipe bintang pelajar.

Saya biasa aja. Kalo pas mood bagus, ya pe-er dikerjakan. Kalo pas ada yang nggak ngerti ya belajar sekenanya. Belajar buat quiz vocab ya pas kalo nggak lagi sibuk baca kompas.com, nyari film2 baru, ato ngeblog... kalo pas rada capek paginya ya istirahat dipanjangin terus dateng ke kelas rada-rata telat. Hasilnya? Ya gitu deh.

Tapi bukan berarti saya males2an. Metode belajar yang dikasi si dosen (ato guru2 itu) dirancang untuk si bintang pelajar - nggak cocok untuk yang nggak terlahir sebagai bintang pelajar. Jadi saya milih metode belajar yang suka2 saya. Misalnya, karena tertarik dengan Kanji, saya self-study belajar Kanji. Setiap hari, 1-2 jam. Hasilnya? Sementara si bintang pelajar baru tahu sekitar 300 kanji, saya sudah bisa baca 600 kanji. Dibandingkan dengan si bintang pelajar itu, I know Kanji and vocabulary more than she knows! Pas ada karakter Kanji yang blom pernah muncul di textbook, saya udah tau dan bisa baca, sementara si bintang pelajar bengong nggak jelas. Nah lo!

Jadi, si bintang pelajar itu boleh selalu rajin masuk kelas, selalu bikin pe-er, selalu dapet baik kalo quiz, selalu bisa jawab pertanyaan dosen... Tapi in term of Kanji, I successfully knocked her down. :)

Kesimpulannya? Ya, karena nggak semua dari kita terlahir sebagai bintang pelajar, jadi nggak perlu maksa jadi bintang pelajar, nggak perlu dibela2in belajar sampe nyaris gila demi nilai yang baik, nggak perlu saingan dengan mereka2 yang sejak orok memang ditakdirkan jadi bintang pelajar. Ambil satu bidang yang disukai, dan perdalam bidang itu... Sedalam-dalamnya. Buat si bintang pelajar itu tau, walopun di nilai-nilai akademik dia lebih baik, tapi untuk bidang yang satu itu, kamu jagonya.

Coba tebak, kalo misal ada proyek, kerjaan, ato lowongan pekerjaan di bidang yang sudah kamu perdalam itu, siapakah yang akan dipilih? Si bintang pelajar atau kamu?


Friday, July 8, 2011

Ber-asosiasi

Ketika belajar bahasa (Jepang), saya menemukan bahwa bahasa adalah tentang asosiasi. Kalo kita baca/lihat suatu kata yang nggak kita ketahui, artinya dalam otak kita kata tersebut nggak punya asosiasi apapun. Akibatnya kita nggak ngerti.

Misalnya, ada kata karakter 船. Bagi yang belom pernah belajar kanji (ato Hanzi) sama sekali, pasti nggak ada sebuah asosiasi pun yang muncul dalam pikirannya. Tapi, bagi yang udah pernah belajar karakter kanji (ato hanzi), paling nggak akan punya asosiasi, ada karakter angka "8" (八), ada karakter "mulut" (口) dan ada karakter "wadah" (舟). Arti karakter itu adalah "kapal/bahtera" (kemungkinan karakter ini diambil dari kisah banjir besar jaman Nabi Nuh, ketika hanya ada 8 orang dalam satu bahtera, nabi Nuh dan istrinya, dan 3 orang anaknya beserta istrinya).

Di Jepang, karakter tersebut dibaca "fune". Waktu pertama dengar kata "fune" tidak ada asosiasi apapun dalam otak saya. Blank sama sekali. Tapi ketika tahu bahwa arti "fune" adalah "kapal", maka kata "fune" sudah berasosiasi dengan "kapal" dalam otak saya.

Itulah berbahasa... tentang asosiasi apa yang muncul ketika membaca/mendengar orang berbicara. Bagaimana asosiasi terbentuk di kepala kita? Lewat pengalaman berbicara, membaca, mendengar, dan menulis.

Apa asosiasi yang muncul ketika kata "kapal" diucapkan ke kita? Beberapa mungkin punya pengalaman buruk ketika naik kapal sehingga kata "kapal" punya asosiasi yang jelek di pikirannya, beberapa mungkin bercita-cita ingin naik "kapal pesiar" sehingga kata "kapal" memiliki asosiasi yang indah dalam pikirannya, beberapa lagi mungkin melihat "kapal" dan mengasosiasikan dengan "kapal terbang" karena rumahnya deket dengan bandara, beberapa akan langsung mengasosiasikan dengan "kapal untuk melaut" karena profesinya sebagai nelayan, bagi yang studi di bidang perkapalan pasti akan memiliki asosiasi secara mekanis dan fisik terhadap kata "kapal".

Itulah uniknya berbahasa... Kata yang sama, bahasa yang sama, namun memiliki asosiasi yang berbeda-beda, bisa positif, bisa negatif tergantung dari pengalaman masing-masing.

Ternyata asosiasi tidak berlaku untuk kata saja. Untuk nama seseorang pun, kita akan mempunyai asosiasi tersendiri, yang terbentuk lewat pengalaman kita. Asosiasi apa yang muncul ketika nama "Ariel Peter Pan" kita dengar? Kira-kira, kalo kita denger nama dia setahun yang lalu, apa asosiasi yang sama muncul? Kayaknya nggak.

Bagaimana dengan nama "Gayus Tambunan" ato "Nazaruddin"? Asosiasi apa yang muncul dalam pikiran kita? Mengapa muncul asosiasi itu?

Ternyata, lewat pengalaman membaca dan mendengar kita mengasosiasikan orang seenak udel kita. Entah betul entah salah. Entah memang orang itu demikian, entah tidak.

Seandainya... seandainya sajaaa... ada koran (ato televisi/website) yang isinya membuat kita nggak meng-asosiasikan pribadi seseorang dengan hal-hal yang negatif, saya pasti akan berlangganan koran itu. Bayangkan, sebuah koran (ato apapun yang bisa dibaca/dilihat), ketika dibaca membuat otak kita senantiasa berasosiasi positif terhadap berita-berita di dalamnya, pasti menarik!

Well, at least itu akan jadi misi saat saya memposting artikel apapun di blog ini.


Wednesday, July 6, 2011

Makanya...

Kata "makanya..." sering diucapkan tidak pada tempatnya.
  • Ma(ng)kanya, lah wong naruh hape kok sembarangan. Ilang kan sekarang.
  • Ma(ng)kanya, kerja itu yang bener. Kalo udah diomelin sama bos kek gini baru tau rasa kan.
  • Ma(ng)kanya, kalo disuruh makan ya mbok nurut. Kalo sakit gini, sapa juga yang repot.
  • Ma(ng)kanya, belajaaaar yang rajin pas kuliah... ditolak perusahaan baru tau rasa.
  • Ma(ng)kanya, jadi orang jangan bego-bego. Tuh, ditipu orang kan kalo bego.
  • dan berbagai versi "ma(ng)kanya" yang lain yang lebih kejam.
Logikanya, kalo orang sampe bilang "makanya..." ke kita (dalam berbagai versi), situasinya adalah kita tertimpa musibah, lalu diolok-olok dan disalah-salahkan karena yang mengolok-olok itu (merasa) paling bener sejagat raya...

Dulu, saya sering (ato pernah?) dapet teguran versi "makanya" semacam ini. Entah dari orang tua, kakak, sahabat, teman ato bahkan orang asing. Kalo dapet "makanya" dari orang tua ato sodara, saya masih bisa dengar dengan hati yang terbuka (walopun nggak kepingin juga mereka sering-sering ngucapkan). Tapi yang menyebalkan kalo dapet "makanya" dari orang laen. Mereka nggak tau urusannya, tau2 ikut nimbrung pake "makanya...". Biar keliatan orang bijak kali. Padahal di mata orang yang menerima "makanya" itu, dia adalah orang yang paling menyebalkan.

Kalo dunia ini bisa bersih dari kata "makanya" yang berkonotasi negatif, yang digunakan untuk semakin menambah dalam penyesalan orang yang tertimpa musibah, yang digunakan untuk menunjukkan betapa benarnya orang yang mengucapkan "makanya", yang digunakan untuk mengolok-olok si objek penderita (yang sudah menderita itu), pasti dunia ini lebih indah.

Oke lah, kalau ada yang mau berkomitmen untuk mulai nggak mengatakan "makanya..." terhadap orang yang tertimpa musibah, selamat datang di club "say-no-to-makanya".

Versi lain "makanya":
"Wes tak kandani biyen..."
"I told you..."
"Muangkane..."
"Gue bilang juga apa..."
"Yo to? Wes a..."

Sunday, July 3, 2011

'Ohana means family (1st year)

'Ohana means family, family means nobody gets left behind. Or forgotten. (Lilo and Sticth, 2002)

3 Juli 2010 tahun lalu, kami menikah - untuk pertama kalinya. Masing-masing dari kami nggak punya pengalaman seperti apa menikah itu. Melihat (bagaimana kehidupan pernikahan kedua orang tua) sudah. Tapi mengalami sendiri seperti apa menjadi suami dan seperti apa menjadi istri, belum.

Setiap hari menjadi hari pembelajaran. Menjadi hari untuk lebih menerima dan adjust.

Senang menjalani kehidupan pernikahan? Ya, senang. Saya bahagia.

Loh, bukannya dengan menikah saya jadi kehilangan (1) kebebasan untuk kelayapan ke mana pun yang saya mau dan pulang jam berapa pun yang saya suka? (2) kebebasan untuk memakai uang seenak udel dan memberi kepada siapapun yang saya mau? (3) kebebasan untuk melakukan apa pun yang saya suka, seperti internet-an seharian penuh, nonton film, menulis apapun, baca buku/belajar sampe dini hari dalam suasana tenang?

Iya, hilang.

Tapi sudah digantikan dengan sesuatu yang lebih berarti, lebih indah, lebih bermakna ketimbang semua kebebasan itu. Nama pengganti untuk semuanya itu: cinta. Mencintai dan dicintai. That's what marriage is all about.




Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Rm 8:28)

Saturday, June 25, 2011

Kisah Rujak Petis

Bulan depan, genap 10 bulan saya di Jepang. Most likely, masih ada 40 bulan lagi yang akan saya lewati di sini. So exciting...dan mulai terbiasa dengan gaya hidup di Jepang yang serba tepat waktu. Ngerti rasanya ditinggal ditinggal kereta gara-gara telat beberapa detik. Kalo di Indonesia, ada angkot yang mau jalan, kita masih bisa lari2 ngejar angkotnya... Dan, para penumpang di dalamnya biasanya akan ber-baik hati untuk menyuruh sopir berhenti agar kita bisa naik. Juga pas angkot nggak mau jalan2 karena nunggu penuh, penumpang juga nggak protes. That's the way it is... Kalo mau ya monggo naek, kalo nggak... ya beli aja kendaraan pribadi.

Di sini, makan di depot ato restoran harus mengikuti aturan baku yang ditetapkan. Sebagian restoran, di dekat pintu masuk dilengkapi dengan vending machine yang ada gambar2 makanan yang siap dipilih. Pembeli tinggal masukkan uang, dan pencet gambar/tombol sesuai dengan makanan yang mau dibeli. Vending machine akan mengeluarkan selembar tiket yang kemudian diberikan ke mbak/mas penjaganya. Kita tinggal duduk dan nunggu. Makanan yang ada bener2 baku sesuai dengan gambar... mulai dari berat, jumlah kalori, panjang dan diameter mie, volume kuah sampe jumlah daun bawang. Next time kita makan dan pesen yang sama, kita akan dapet exactly the same. Nggak ada sistem kekeluargaan kayak di Indonesia... "Mas, mie-nya yang asin ya, nggak pake daun bawang, terus bawang gorengnya yang banyak..." Mas-nya pasti bingung karena mie semacam itu nggak ada di menu.

Kalo restoran nggak vending machine, mas/mbaknya pasti bawa alat pencatat pesanan kayak di Pizza hut Indonesia (nggak pake kertas). Pesanan pelanggan udah ada di menu alatnya. Mas/mbaknya tinggal pencet sesuai pesanan, dan bill akan dicetak saat itu juga. Kita tinggal nunggu. Sekali lagi, kita nggak bisa seenak udel minta customize... "Minta tambah kuah ya", "dagingnya nggak mau, diganti telor ceplok", "mie-nya nyemek2 ya". Nggak bisa kayak gitu, karena nggak ada di menu...

Kalo Indonesia, penjualnya jenius... Bapak yang jual soto di Jl Sempu, bisa ngelayani belasan tipe soto yang berbeda dalam satu waktu, tanpa pake catetan sama sekali! Sekali pesen ada puluhan kemungkinan... Soto biasa nggak pake gubis, soto biasa nasinya separuh, soto jerohan nggak seledri, soto telor saja nggak pake nasi, soto jerohan pake lontong, belum lagi kombinasi untuk porsi separuh dengan add-on/fitur yang berbeda2.

Beli rujak di Indonesia, juga bisa customize. Rujak cabe 5, nggak pake cingur, buahnya timun saja. Rujak nggak pedes, asin, minta tambah kacang, tapi nggak mau sayur, rujak petisnya dikit, nggak mau tahu tapi ganti tempe, rujak nggak pake lontong minta tambah sayur, dan puluhan kombinasi lain. Ajaibnya, penjual di Indonesia, sanggup melayani berbagai kombinasi pesanan pembeli tersebut. Sistemnya juga sistem kekeluargaan, tanpa ada charge tambahan.

Hal yang sama juga berlaku untuk penjual pangsit mie, nasi goreng, pecel, chinese food, atau juice.

Saya bayangkan, kalo sistem ini diterapkan di Jepang.
Warung Rujak Petis Makoto.
Di dekat pintu masuk ada sedikitnya 2 vending machine. Agar mempermudah untuk orang2 yang nggak mau repot, diberikan menu "Rujak petis default 1 (pedas)" dengan komponen standard: cabe 5 biji, tempe 3 potong, tahu 3 potong, menjes 3 potong, lontong 5 potong, cingur 3 potong, "Rujak petis default 2 (sedang)" dengan komponen standard sama seperti default 1, kecuali jumlah cabe jadi 2 biji dan "Rujak petis default 3 (tidak pedas)" yang tanpa cabe. Harga rujak default adalah 300 yen (setara 30ribu) - yang mana bisa dianggap makanan yang sangat murah.

Rujak petis Makoto juga bisa customize. Untuk yang customize, ada tombol cabe (dalam satuan biji, per biji 15 yen - setara dengan dengan Rp. 1500 - iya emang cabe mahal di sini), tombol tempe (dalam satuan potong, per potong 10 yen), tombol tahu (dalam satuan potong, per potong 10 yen), tombol menjes (dalam satuan potong, per potong 10 yen), tombol cingur (dalam satuan potong, per potong 25 yen), tombol sayur (dalam satuan 20 gram, per 20 gram 15 yen), tombol cambah (dalam satuan 10 gram, per gram 5 yen), tombol lontong (dalam satuan potong, per potong 5 yen), tombol timun (dalam satuan potong, per potong 5 yen), tombol kacang plus - untuk rujak dengan tambahan kacang (dalam satuan 10 gram, per 10 gram 10 yen).

Jadi, sekarang pembeli bisa beli rujak cabe 5 (75 yen), tempe 5 potong (50yen), menjes 3 potong (30yen), tahu 3 potong (30yen), cingur 1 potong (25yen), sayur 60gram (45yen), cambah 30gram (15yen), lontong 20 potong - biar kenyang (100yen). Totalnya adalah 370 yen (sekitar Rp. 37ribu).

Yang gawat, kalo ada pembeli bilang... "Mas, saya cuman punya uang 300 yen, tapi pengen makan rujak yang pedes... Tolong diaturkan dong, rujak yang paling pas..."

* Solusi: di vending maching perlu ditambah fitur kecerdasan buatan untuk menentukan pesanan yang optimal berdasarkan konstrain jumlah uang tertentu *




Tuesday, June 21, 2011

(Kisah) Belajar Bahasa (Jepang) - part 5

Suatu hari, ketika belajar Bahasa Jepang, saya dapet pewahyuan. Bukan pewahyuan tentang akhir jaman. Bukan juga pewahyuan tentang siapa presiden Indonesia 2014. Pewahyuan-nya simple, belajar bahasa Jepang tanpa belajar Kanji, ibarat makan rawon tanpa kuah. Ada yang kurang. Tapi sebaliknya, kalo belajar Kanji doang tanpa belajar (grammar) bahasa Jepang, ibarat makan rawon tapi kuah doang. Masih enak - apalagi kalo kuahnya kuah rawon Nguling.

Pewahyuan ini, bikin saya memutuskan untuk secara serius belajar Kanji.

Jumlah karakter Kanji standard yang dipakai di Jepang ada 2.136 biji (joyo Kanji istilahnya). Artinya 99% tulisan dalam Bahasa Jepang, dapat dipastikan menggunakan karakter yang termasuk dalam 2.136 itu. Kalo kita hafal/ngerti arti 2.136 kanji tersebut, berarti mau baca tulisan apapun, pasti secara garis besar bisa ngerti. Tapi kalo nggak hafal satupun, walopun grammar Bahasa Jepang-nya udah tingkat dewa-dewi, baca tulisan apapun dijamin nggak bisa.

Jadilah 5 bulan lalu, saya memutuskan untuk serius belajar membaca Kanji. Kalo di Jepang, 1.006 kanji pertama dipelajari selama SD (6 tahun), dan 1.130 sisanya dipelajari waktu SMP dan SMA. Kalo saya pake metode itu untuk belajar kanji, kelamaan... keburu kanji udah nggak laku... Jadi saya pake metode mnemonic dan spaced repetition system (SRS) - nggak tau kapan bisa saya jelaskan metode yang super duper efektif ini.

Karakter kanji ternyata sangat unik.
  • Sebuah kanji memiliki satu, dua atau lebih arti dasar yang nggak saling berhubungan. Misalnya karakter "長" bisa berarti "panjang", bisa juga berarti "pimpinan". Padahal kata "panjang" dan "pimpinan" nggak ada hubungannya.
  • Sebuah kanji dengan arti yang sama, dapat memiliki satu, dua atau tiga cara baca yang berbeda sama sekali. Kanji "速" (cepat), ketika muncul sebagai kata sifat dibaca "hayai", ketika muncul bersama karakter lain (misalnya pada kata bola yang melesat dengan cepat), karakter "速" dibaca "soku". Dalam pembacaan Kanji, tidak berlaku hubungan "satu-dan-satu" (satu-kanji-satu-cara-baca) - satu kanji dapat memiliki 2-3 cara baca yang berbeda.
  • Satu kata dapat dibentuk dari satu kanji atau gabungan dua, tiga atau empat kanji. Misalnya kata cuaca dibentuk oleh karakter 天 (langit) dan 気 (atmosfir). Kata kompas dibentuk oleh tiga karakter kanji, yaitu"羅" (?), "針" (jarum) dan "盤" (papan). Kabarnya ada satu kata yang terbentuk dari 4 karakter kanji, cuma saya belum pernah ketemu (dan berharap nggak sering2 ketemu).
  • Cara baca sebuah kanji, dapat overlap dengan kanji yang lain. Misalnya cara baca "bun" dimiliki oleh karakter "文" (sastra), "分" (menit), dan "聞" (kabar). Dalam ilmu bahasa, ini diistilahkan dengan homofon (bunyi sama, memiliki arti yang berbeda). Yang gawat, overlap ini sering terjadi dalam Bahasa Jepang, misalnya jumlah karakter yang dapat dibaca sebagai "gi" ada lebih dari 10 karakter, dapat dibaca sebagai "hi" lebih dari 20 karakter, dan karakter yang dapat dibaca "choo"ada lebih dari 30! Jadi kalo tiba2, nggak ada angin nggak ada hujan, ada orang Jepang bilang "choo", kita nggak pernah tau apa maksudnya.
Dan banyak lagi hal lain yang menarik tentang Kanji.

Hasil serius belajar kanji sejak 5 bulan lalu (dengan metode mnemonic dan SRS), telah membuahkan hasil. Kurang lebih 600 kanji sudah bisa saya baca dengan tidak lancar (karena adanya perbedaan cara baca tadi). Setidaknya saya berani diadu lomba baca Kanji dengan anak kelas 3 SD... Semoga di tahun ini lancar jaya bisa baca 1.000 kanji.

Nggak gampang memang belajar Kanji. Butuh waktu dan butuh metode yang tepat. Saya kagum juga dengan orang2 asing yang berhasil menguasai (dan bisa membaca) 2000 lebih kanji. Mereka kemungkinan adalah orang2 yang tekun/nggak gampang nyerah dalam belajar sesuatu, atau sudah terlalu lama di Jepang.

Seandainya saya cuman di Jepang 1 ato 2 tahun, saya nggak akan repot2 belajar Kanji... Tapi karena most likely saya masih di sini 3-4 tahun ke depan, jadi saya perlu belajar Kanji. Hidup di Jepang bisa lebih dinikmati ketika bisa membaca Kanji. Tapi... kayaknya tetep lebih nikmat rawon Nguling.