Friday, December 24, 2010

(Incomplete)Christmas-Story Session 1

So... I was wondering.
Bagaimana hebohnya sorga saat Bayi itu hendak dilahirkan?

Here's the imagination of a-lonely-story-teller-during-Christmas-day-2010-in-Japan.
----
Part 1: Jejaring sosial malaikat
Sejak awal dijadikan, setiap malaikat punya fungsi tertentu. Mereka punya profil siapa dia, apa tugasnya, dan spesialisasi yang dipunyainya. Dan mereka tergabung dalam sebuah jejaring sosial malaikat. That's how they communicate with each others. Biasanya, setelah selesai bertugas di bumi, para malaikat saling share status dan foto-foto aksi mereka saat di bumi - lalu rame2 dikomentari oleh malaikat lain.

(and... one day, ide tentang jejaring sosial semacam ini menginspirasi seorang anak muda yang kemudian diwujudkan menggunakan teknologi internet yang menjadikan anak muda tersebut dinobatkan sebagai people of the year 2010 oleh majalah Times, you-kn0w-who-he-is).

Part 2:
Sometime - somewhere in heaven (estimated earth time: 4-6AD, 2000 years ago)
Rencana kelahiran Bayi itu menjadi trending topic dalam beberapa minggu terakhir di kalangan malaikat. Banyak malaikat yang merasa skeptis dengan ide kelahiran Bayi tersebut. Beberapa merasa ide tersebut doesn't make any sense at all... Bagaimana mungkin seorang Juruselamat harus lahir dalam rupa seorang bayi yang lemah?

Malaikat Jolie yang mendapatkan konfirmasi kelahiran Bayi itu segera menuliskan status "The saviour, it's 100% confirmed born as... a Baby-boy!!".
153 angels like this.
351 Comments:
  • 3212: "Gilleee... Beneran lahir bayi?"
  • 7842: "Ya jadi bayi lah... Yesaya aja tau..."
  • 4321: "Apa kata duniaaa...?"
  • 5542: "@4321: ya... siap2 ditolak... siap2 orang dunia nggak percaya... Manusia gitu looh...."
  • 5661: "@5542: hiks, tugas kita bakal tambah berat kayaknya..."
  • ...
Namun, spekulasi tentang siapa yang akan melahirkan Bayi tersebut dan di mana kelahirannya juga menjadi perdebatan yang tak kalah sengit di jejaring sosial malaikat itu. Malaikat Gabriel yang pernah menampakkan diri kepada Daniel menuliskan status, "Boleh percaya boleh nggak... Dia akan dilahirkan oleh seorang perawan!"
463 Angels like this.
  • 3611: "Perawan...?? HE really has a sense of humor..."
  • 6255: "Creative!!"
  • Gabriel: "Yup... Message dariNya udah sampe oii... Dalam beberapa hari ini gue ditugaskan menemui Ms. X di Bethlehem, nyampekan kabar baik kalo dia akan mengandung ^.^"
  • 6531: "@Gabriel: Wooow... jadi messenger, tugas penting, tugas berat... Ganbatte nee..."
  • 3112: "@Gabriel: Rencana nyamar jadi apa loe?"
  • Gabriel: "@6531: Thanks bro...!!! @3112: jadi diri gue sendiri kaleee... pesen penting kalo pake nyamar jadi manusia bisa tambah berabe... Tempo hari Si 7743 aja nggak dipercaya pas nyampekan pesen ke Zakaria kalo Elisabet akan mengandung, padahal nggak pake nyamar diee... Dasar manusia!"
  • 4121: "@Gabriel Penasaran niii... Ms. X-nya udah punya pacar blom yaa?"
  • @Gabriel: "@4121 Denger2 sih udah tunangan... Itu tunangannya kan masi keturunannya Daud."
  • 4121: "Wiii... ngeri juga kalo tunangannya tau tiba2 Ms. X udah hamil... Nggak kebayang deh..."
  • Gabriel: "Siap2 aja... ntar pasti ada yang dapet tugas nyampekan berita ini ke tunangannya..."
  • ...
------

Part 3:
To be continued on next Christmas. (Aslinya udah kering ide...)
[Or, you might want to read this-5-years-old-Christmas-story, the Christmas story that guarantee you wouldn't have heard before]

Ah, Merry Christmas 2010...



Wednesday, December 22, 2010

Tagihan Air

Jadi, kemaren tiba2 ada surat di kotak pos saya. Seperti biasa, ditulis dengan rapi dalam bahasa Kanji. Tidak ada petunjuk itu surat apa. Yang bisa saya baca, tentunya adalah angka. Ada angka 1.257 dan diikuti simbol untuk mata uang yen.

Angka tersebut punya dua kemungkinan, (1) Saya dapat uang 1.257 yen. (2) Saya disuruh bayar 1.257 yen. Tentu kemungkinan ke-1 lebih menyenangkan ketimbang kemungkinan ke-2. Tapi mengingat saya nggak pernah pasang lotere dalam bentuk apapun, saya mengeliminasi kemungkinan pertama. Jadi tinggal kemungkinan ke-2, yaitu saya harus bayar 1.257 yen. Pertanyaan berikutnya adalah, kenapa.

Pertanyaan itu tidak mudah dijawab jika tidak ada petunjuk angka "5m (kubik)" yang muncul di dekat 1.257 yen. Jadi saya menyimpulkan itu adalah tagihan untuk sesuatu yang saya pakai sebanyak 5m (kubik). Jelas itu bukan tagihan listrik, karena saya nggak pernah pakai listrik dengan menggunakan satuan meter kubik. Saya menggunakan listrik dalam satuan kilo watt hour (KWh).

Saya mulai menganalisa. Seingat saya, zat yang bisa diukur dalam satuan meter kubik (di mana saya gunakan/konsumsi setiap hari) adalah (1) Air untuk masak/mandi (2) Gas untuk masak dan menghangatkan air (3) Udara yang saya hirup. Sepanjang pengetahuan saya, masih belom ada undang2 yang mewajibkan harus bayar 1.257 yen untuk menghirup udara sebanyak 5 meter kubik. Jadi kemungkinannya itu adalah tagihan untuk Air atau Gas, yang mana keduanya sudah saya bayar. Jadi ini tagihan apa?

Ternyata (setelah bertanya ke teman Lab yang sudah 20-an tahun lebih hidup sebagai warga negara Jepang), dia jawab:
"Oh, itu tagihan air..."
"Tagihan air? Tapi saya udah bayar tagihan air bulan ini."
"Iya... Yang dibayar baru air yang dipake..."
"Hah? Lalu saya mesti bayar air yang nggak saya pake?"
"Bukan gitu... Air yang dipake bayar. Air yang DIBUANG setelah kamu pake juga mesti dibayar."

Greaaattt...!! Welcome to Japan, di mana setiap tetes air yang kamu buang harus bayar. Berdasarkan fakta tersebut, let me propose some tips to reduce your water bill when you're living in Japan:
  • Mandilah di bak mandi dan jangan buang airnya. Bekas air itu bisa dipake untuk mandi keesokan harinya.
  • Kalo pipis, tampung dulu di bak. Kalo bak-nya sudah penuh, gunakan untuk menyiram tanaman di kebun - dan jangan dibuang melalui pembuangan air.
  • Kalo pas buang air besar, jangan buru2 disiram. Pastikan sudah nggak ada lagi yang keluar, barulah disiram. Jadi disiram sekali.


Tuesday, December 21, 2010

Selamat Ulang Tahun

Saya nggak lagi ulang tahun. Juga nggak lagi dapet ucapan selamat ulang tahun ato kepingin dikasi ucapan ulang tahun. Dan sedang nggak ada rencana ngucapkan selamat ulang tahun... Emang sekarang ada yang lagi ulang tahun? Ya pasti ada... Cuman saya nggak tau siapa. Lalu kenapa judul postingnya selamat ulang tahun? Ceritanya begini...

Dulu, waktu saya masih kecil , saya ngerasa sedikit bangga/senang kalo ada yang ngasi ucapan selamat ulang tahun (plus kado) ke saya. Siapapun dia, pasti dia nganggep saya spesial sampe mau "merepotkan" diri mengingat ato mencatat hari ulang tahun saya. Mau repot menemui saya untuk ngasi ucapan ke saya (secara waktu itu nggak ada hape).

Tapi sejak munculnya berbagai gadget dengan fitur reminder, nilai dari memberi ucapan selamat ulang tahun menjadi turun. Siapapun yang punya hape, bisa dengan mudah mencatat ulang tahun temannya. Pada hari-H, akan muncul reminder bahwa si X sedang ulang tahun hari ini. Si empunya HP, yang tadinya nggak sadar kalo hari itu hari ultahnya si-X, jadi tahu karena adanya reminder. SMS ucapan selamat ulang tahun segera dikirim... "Selamat ulang tahun, bla... bla... bla...". Somehow, saya merasa cara mengucapkan selamat ulang tahun ini (dengan diingatkan menggunakan reminder) seperti ini kurang bermakna ketimbang ucapan selamat ulang tahun jaman dahulu kala, ketika orang2 berusaha menghafalkan tanggal tertentu atau merepotkan diri mencatat pada buku catatan tertentu.

Fitur notifikasi siapa-yang-berulang-tahun-hari-ini di Facebook, membuat ucapan selamat ulang tahun lebih turun lagi harganya. Ngasih ucapan selamat ulang tahun, bisa dengan gampang diketik di wall dengan nyaris tanpa "cost" ato pengorbanan apapun (apa susahnya ngetik "Selamat ulang tahun..." di wall seseorang).

Saya kuatir, jangan2 hanya sekedar karena ada notifikasi yang nongol di FB bahwa si A, B, X ulang tahun, kemudian teman2 laen nulis di wall-nya dia, lalu kita jadi ikut2an nulis selamat ulang tahun. "Ya... Mendinglah, daripada nggak ngucapkan sama sekali..." ato "Kalo kita ngucapkan selamat ulang tahun, kan artinya kita perhatian sama dia..." Bukannya gitu?

Really?? Coba ukur, seberapa perhatiannya kamu dengan orang yang kamu kasi ucapan selamat ulang tahun? Kenal baik sama dia? Apa ucapan yang dikasi bisa "mengena" dan bener2 pas buat dia (ato asal ngasi ucapan? ato malah copy-paste dari "database ucapan selamat ulang tahun")?

Ucapan "Selamat ulang tahun... Semoga panjang umur, semoga banyak rejeki, dll, dll..." bukan ucapan yang salah, tapi lebih bermakna kalo kita bisa memberikan ucapan (dan doa) yang spesifik khusus untuk yang sedang berulang tahun, "Selamat ulang tahun, semoga langgeng selalu sama Tini ya dan sukses untuk studi magister-nya...!". It simply implies bahwa yang dikasi ucapan punya pacar namanya Tini dan sedang studi S2... Ucapan ini jelas nggak relevan ketika di-copy-paste untuk ngasi ucapan selamat ulang tahun ke Tono yang pacaran sama Tuti dan nggak lulus SMA.

Tapi ya whatever... Ngasih ucapan selamat ulang tahun adalah hak semua orang. I think we can't really appreciate birthday greeting anymore after all. Ucapan selamat ulang tahun (lewat wall di FB ato SMS) mungkin sudah nggak lagi bisa dijadikan patokan seberapa perhatian si pemberi ucapan tersebut kepada kita. Dan, saran garing dari saya: nggak perlu ge-er ketika nerima ucapan selamat ulang tahun dari orang2 yang bahkan nyaris nggak dikenal. It simply means nothing.


Thursday, December 16, 2010

(Kisah) Belajar Bahasa (Jepang) - part 3

Belajar bahasa membutuhkan kerja keras. Nggak bisa sekedar masuk kelas, mendengarkan guru menjelaskan, menghafalkan vocab dan mencontek pe-er teman, tiba2 bisa berbahasa dengan baik... Ada kerja keras lain yang dibutuhkan.

Beberapa hari ini, saya mulai mengubah metode belajar bahasa Jepang. Mungkin selama ini usaha saya belajar Bahasa Jepang kurang keras... Jadi saya mulai menambah porsi belajar saya. Dari yang awalnya hanya 100 menit per hari tatap muka dengan dosen, saya tambah 3-4 jam sehari dengan belajar secara mandiri. Seriously... Pulang dari Lab, sekitar jam 7 ato jam 8 malem. Sebenernya saya sudah capek... Tapi alih-alih istirahat, sambil nyiapkan makan malam, saya belajar... Sambil makan saya belajar. Selesai makan, saya lanjutkan. Beberapa hari ini, saya selalu menambah porsi belajar Bahasa Jepang di malam hari minimal 3 jam non-stop. Kemarin saya bahkan tidur jam 1 pagi.

Capek belajar keras kayak gitu? Jujur, kadang saya capek... Saya bahkan bisa nangis sendiri di tengah2 belajar. Di sini sendirian, struggling sendiri, berusaha ngerti bahasa jepang, tapi msih blom fasih juga... Walopun strategi belajar ini kliatannya berat, tapi saya akan berjuang... Kalopun harus nambah jadi 6 jam sehari, 7 hari seminggu, I'll do it. Kalopun saya harus kecapekan karena kurang tidur, I'll take it. Belajar bahasa butuh kerja kerjas, nggak bisa instan. Kalopun kerja kerasnya harus membuat kita berkorban waktu, pikiran, bahkan sampe harus meneteskan air mata, just do it. No pain no gain.

Saya menyebut metode belajar ini dengan sebutan: metode-tiap-malem-nonton-3-4-episode-drama-jepang-yang-romantis. Kisahnya kadang sangat menyentuh, sampai saya harus meneteskan air mata. Terharu dengan dramanya... (bukan karena capek belajar, hihi2...).


Tuesday, December 14, 2010

Live by faith

Note seorang teman di FB tentang Tuhan membuat saya merenung sepanjang pagi. Nggak peduli seberapa pintar (ato bodoh, kaya, cakep, jeleknya) kita, kita tetep manusia yang terbatas.
  1. Pengelihatan kita terbatas. Kita cuman bisa melihat benda yang memantulkan cahaya. Orang fisika bilang, mata kita hanya bisa menangkap gelombang elektromagnet yang panjang gelombangnya 400-700nm ato istilah mereka visible light. Gelombang lain dengan panjang gelombang di luar itu, sudah nggak bisa ditangkap oleh mata kita. Waktu masak pake Microwave, gelombangnya microwave (yang juga termasuk gelombang elektromagnetik) udah nggak bisa ditangkap oleh mata - tau2 masakannya jadi anget. Gelombangnya radio, televisi, ato hape juga nggak kedeteksi mata, tau2 radionya bisa bunyi, televisinya bisa menghasilkan gambar, hape-nya bisa buat komunikasi. Gelombangnya ada, tapi mata manusia nggak bisa nangkep.
  2. Pendengaran kita terbatas. Ada syarat yang harus dipenuhi kalau kita mau mendengar sesuatu. Harus ada sesuatu yang bergetar 20-20.000 kali per detik agar telinga kita bisa menangkap suara. Di fisika, namanya frekuensi yang satuannya adalah Hz (atau per detik). Frekuensi lain di bawah 20Hz atau di atas 20.000Hz, nggak akan bisa tertangkap oleh telinga.
  3. Dimensi kita terbatas. Tubuh kita terletak dalam 3 dimensi, yaitu dimensi panjang, lebar dan tinggi. Hanya 3? Iya, hanya 3. Kita nggak bisa membayangkan (atau memvisualisasikan) dimensi ke-4. Di matematika satu dimensi digambarkan sebagai titik. Dua dimensi digambarkan sebagai bidang (yang dimodelkan dalam koordinat x dan y). Tiga dimensi digambarkan sebagai ruang (yang masih bisa digambar dalam sumbu x, y dan z). Empat dimensi? Nggak bisa terbayang oleh otak kita - sama sekali.
  4. Usia kita terbatas. Once in a time, kita check-in di bumi dan akan ada waktunya kita check-out dari bumi. Berapa lama? 60 tahun? 70 tahun? 100 tahun? Somehow tubuh kita dibatasi oleh waktu. Kita nggak bisa berada di dua tempat sekaligus pada waktu yang sama. Kita juga nggak bisa berada di dua waktu yang berbeda. Satu tempat dan satu waktu. Tidak lebih.
So, mari berandai-andai.
Misalkan ada makhluk 2 dimensi (yang hanya punya panjang dan lebar), kemudian melihat kita yang berada dalam 3 dimensi, akankah dia bisa melihat kita dengan sempurna? Nggak akan bisa... Karena makhluk itu nggak kenal dimensi tinggi. Kalo kita ingin dilihat makhluk itu, kita harus memproyeksikan diri kita menjadi 2 dimensi (dengan cara dipenyet sedemikian rupa sampe dimensi tinggi atau dimensi lebar atau dimensi panjangnya menjadi 0), barulah makhluk itu bisa melihat versi 2 dimensi diri kita. Itupun nggak akan semuanya bisa dilihat. Ketika kita dikembalikan menjadi 3 dimensi, kemudian kita melompat (berada dalam dimensi tinggi), maka dalam pandangan makhluk 2 dimensi itu, kita "hilang" (karena mata mereka tidak bisa mengakses dimensi tinggi).

Sama seperti makhluk 2 dimensi itu membayangkan makhluk 3 dimensi, otak kita nggak pernah bisa membayangkan Tuhan. Terlalu banyak batasan pada tubuh kita untuk bisa menjawab seperti apakah Tuhan, di mana Tuhan, bagaimana bisa Tuhan memperhatikan semua manusia, dsb...

Namun Tuhan cukup bijaksana dengan memberikan kepada kita what-so-called-"faith" yang (untungnya) bukan bagian dari tubuh yang terbatas. "Faith" dalam diri kita tidak dibatasi hukum2 alam dan lewat "faith" inilah kita bisa mengenal Tuhan. Tanpa adanya "faith" mustahil kita bisa kenal Tuhan. Terlalu terbatas diri kita untuk mengenal Tuhan kalau hanya mengandalkan apa yang ada dalam otak kita.

-------
"This is thousands of dimensions. We have no clue how does they behave." [Svetlana Avramov, 2009 - Compressed Sensing Online Lecturing]

Friday, December 3, 2010

(Kisah) Belajar Bahasa (Jepang) - part 2

Sebenarnya ya...

Sebenarnya saya agak frustasi belajar bahasa ((di) Jepang). Sudah tinggal 10 minggu di Jepang, dan genap 8 minggu ikut kelas intensif Bahasa Jepang Basic I (seminggu 5x @100menit, diajar langsung oleh profesor dan native speaker pula!) tapi waktu di lab, ketemu dengan teman2 Jepang, boro2 ngomong, dengerkan mereka ngomong aja nggak bisa nangkep... Entah versi bahasa Jepang berapa yang diucapkan temen2 lab saya itu...

Hipotesa saya, teman2 lab saya melakukan persetongkolan jahat dengan menggunakan bahasa yang mereka ciptakan sendiri. Mereka tidak berbicara dalam bahasa Jepang. Mereka punya encoder di pita suara mereka, sehingga waktu mereka berbicara, suara yang muncul bukan Bahasa Jepang, tapi bahasa acak yang memang tidak bisa dimengerti.

Sementara yang mendengar, punya decoder di telinga mereka. Begitu sinyal suara itu masuk di telinga, segera di-decode sehingga bisa dimengerti. Saya sengaja tidak diberi both encoder dan decoder itu sebagai salah satu bentuk ospek sebagai mahasiswa baru. Saya berharap, suatu hari mereka mengatakan, "Hei, Win-san... Here are the encoder and decoder. Welcome to our lab..." Tapi sudah 2 bulan, dan mereka masih tidak mau memberikan apapun kepada saya. Saya berinisiatif untuk memiliki encoder/decoder itu secara alami. Saya akan meng-crack sistem enkripsi mereka, sehingga walaupun tanpa encoder/decoder saya bisa berbicara dan mengerti bahasa Jepang versi mereka.

Butuh waktu memang. Mungkin another 2-3 months.

Tips #3: Memahami bahasa jalanan, nggak cukup kalau hanya belajar 2 bulan (ada yang bilang 5 atau 6 bulan).

Catatan: teman saya pernah share tentang sulitnya bahasa Jepang dibandingkan bahasa2 Eropa yang lain. Dia bilang, bahasa di Eropa seperti Bahasa Perancis, Belanda, Jerman, Italia dan semacamnya, kalo kita tinggal di negaranya langsung, dalam waktu 3 bulan, roughly kita sudah bisa mengerti jika diajak ngobrol (yang sudah tinggal di Eropa bisa konfirm statement ini?) Kalo di Jepang, boro2 ngerti, mau ngajak ngomong orang aja bisa2 ditinggal ngeloyor pergi karena they don't really speak to foreign.

Wednesday, December 1, 2010

(Kisah) Belajar Bahasa (Jepang) - part 1

Hari ini, genap sudah 2 bulan saya ikut kelas Bahasa Jepang. Lama course-nya 100 menit setiap pertemuan. Ada 4 guru berbeda yang ngajar, tapi murid2nya selalu sama. Salah satu gurunya sudah menunjukkan sikap tidak bersahabat dengan cara nggak mau menjelaskan dalam Bahasa Inggris kepada para murid yang jelas2 masih cupu dalam Bahasa Jepang. Gara-gara ibu itu, kelas jadi terbagi menjadi 2 kubu, either mengerti sekali yang dijelaskan ato yang blas nggak ngerti. (tolong, nggak perlu cari tau saya masuk di kubu yang mana).

Di awal pelajaran, selalu ada kuis vocab atau kuis grammar. Kata salah satu profesor bahasa senior di tempat saya kerja, saya punya kemampuan bahasa yang baik. Dari beberapa test potensi akademik yang pernah saya ikuti, juga menunjukkan hal yang sama (nilai verbal di atas 600 dari nilai penuh 800). Suka menulis posting blog juga mungkin bisa menunjukkan indikasi yang sama. Jadi, obvious bahwa belajar bahasa asing bukan masalah bagi saya... dan kalau ada kuis vocab ato kuis grammar, tentunya dengan fakta di atas, bisa dengan mudah ditebak nilai-nilai kuis vocab atau grammar saya.

Iyak, betul sodara-sodara... Nilai kuis vocab saya jelek-jelek (plural, bukan singular). Dan jelek-nya bukan dalam definisi pelajar China di kelas saya yang rajin-bin-pintar-binti-selalu-ngerjakan-pe-er itu (yang mana nilai vocab dapet nilai 9 sudah disesali sepanjang pelajaran dan berjanji akan menambah jam belajarnya lebih lama 3 jam). Nilai jelek(-jelek) dalam kasus saya adalah dalam definisi pelajar normal, di mana nilai 6 (dari maksimal 10) is considered as a very good mark.

Prinsip yang saya pegang teguh dalam belajar bahasa kali ini adalah, "buat-apa-dihafalkan-kalau-sekedar-untuk-bisa-menjawab-kuis". Gara-gara prinsip ini, saya menganggap menghafalkan vocab jadi cuma buang waktu karena apa yang dihafal cuman numpang lewat di short-term memory (dan sejam setelah kuis vocab selesai, segera menguap dari ingatan).

Jadi saya nggak pernah repot2 menghafal. Cukup dibaca sekedarnya. Dari membaca sekedarnya itu, kalo ada yang nyantol dijamin nyantolnya di long-term-memory (yang nggak menguap setelah kuis vocab berakhir). Sukur2 kalo beberapa biji kata yang nyantol itu pas keluar di kuis vocab. Setidaknya jadi ada yang benar 4 ato 5 kata (dari 10 kata yang diujikan).

* Mau bilang males menghafalkan vocab aja pake njelaskan dengan mbulet *

Teman2 lab saya, ada 14. Dari ke-14-nya, 13 orang Jepang dan 1 bukan orang Jepang. Yang 1 ini, dari China - dan sudah 8 tahun tinggal di Jepang. Jadi obvious sudah, siapa yang punya the worst japanese language on the lab.

Nah, kalo masih tertarik bagaimana belajar bahasa dengan cara yang nggak bener (seperti yang saya lakukan), boleh melanjutkan membaca. Sementara kalo tertarik belajar bahasa dengan cara yang baik, benar dan secara empiris sudah dibuktikan kesahihannya, silahkan baca blog belajar bahasa taktis dari Pak Profesor yang satu ini.

Dalam pengamatan saya belajar bahasa, di setiap bahasa, ada dua macam bahasa. Bahasa resmi dan bahasa jalanan. Bahasa resmi adalah bahasa saat rapat, saat presentasi, termasuk bahasa yang digunakan saat menjawab kuis vocab dan grammar. Sedangkan bahasa jalanan adalah bahasa yang digunakan saat menghasut teman untuk skip kuliah, saat ngerasani dosen yang mengajar, atau saat kita tersesat di jalan. Lebih penting yang mana? Ya, bisa diputuskan sendiri.

Pastinya bahasa jalanan seperti ini: "Lapo mlebu kuliah e wong iku... Wong iku lek njelasno geje... Melu aku ae, mlaku2 nyang mall" akan lebih berguna ketimbang bahasa resmi "Ada kuliah tambahan di hari Senin, pukul 12.50-14.30". Juga informasi bahasa jalanan "Ra iso mas lek liwat gang iki, lha wong iki gang buntu... nrabas ndek di gang ngarep ae mas..." akan lebih berguna untuk menunjukkan jalan pulang agar tidak tersesat (dan bisa dijamin, tatanan kalimat semacam itu tidak akan pernah muncul dalam bahasa resmi).

Tips berbahasa #1. Berikan porsi yang seimbang antara belajar bahasa jalanan dengan bahasa resmi.

(Dalam kasus saya, saya belajar bahasa jalanan 80% dan bahasa resmi 20% - itu sebabnya nilai vocab dan grammar yang mana menggunakan bahasa resmi, jelek2 -- alasan lain untuk membenarkan diri nggak belajar vocab)

Kedua, bagaimana belajar bahasa dengan cara nggak bener yaitu pemilihan buku teks.
Buku-buku teks resmi yang ditulis oleh bapak/ibu profesor bahasa akan mengajarkan bahasa resmi yang menunjukkan betapa berpendidikannya mereka yang belajar bahasa tersebut. Sementara sumber-sumber yang kurang terpercaya, lebih memberikan cara berbahasa yang lebih luwes. Belajar karakter "好", kalo menurut buku teks yang ditulis bapak/ibu profesor akan mengatakan, itu karakter "suki (すき)" yang artinya "suka". Telan itu mentah!! Jangan tanya kenapa karakter aneh itu berbunyi "suki"!! (atau profesor yang lebai akan bilang, "tanya ke nenek moyang mereka kenapa karakter itu dibaca "suki"). Lalu mungkin pada textbook akan diberikan contoh kalimat super garing sesuai dengan grammar yang baik dan benar, "watashi wa uta ga suki (好) desu" (saya suka menyanyi) -- adooh, please deh... emang masih ada yang ngomong dengan contoh kalimat kayak gitu?!

Sementara belajar bahasa dari sumber jalanan akan mengatakan, karakter itu disusun dari dari karakter perempuan "女" dan anak "子". Perempuan yang di sebelahnya ada anak... Jadi karakter itu bisa dibasa, "Dasar perempuan, SUKA-nya cuma sama anak-anak...!!" Jadilah karakter "好" disebut dengan "suka". Sekali hafal, akan sulit lupa... Contoh kalimatnya akan semacam, "suka makan ikan? emangnya gue kucing suka makan ikan?" Beda dengan buku teks bapak/ibu profesor itu.

Tip berbahasa #2. Dalam belajar bahasa jalanan, jangan sekali-kali mengandalkan textbook yang disusun oleh profesor bahasa.

----------------------
to be continued...