Friday, November 26, 2010

Beda Suami dan Istri - part 2

* ...ditulis dalam keadaan melo... *

Untuk para istri, tulisan ini bisa ditunjukkan ke suaminya (masing2). Terutama kalo udah males jelaskan kebutuhan istri yang (bisa jadi) sering dilupakan suami (ato suami yang pura2 nggak tau). Untuk para suami, tulisan ini penting, agar bisa ngerti kebutuhan emosional istri (dan memenuhinya) demi menjaga kesehatan jiwa dan raga dari omelan istri.

Kebutuhan istri nggak sama dengan kebutuhan suami. Buat istri, punya suami yang keren tentu membanggakan, tapi buat apa suami keren, perlente, dan modis tapi nggak cinta ma istri ato anak2nya? Buat istri, punya suami yang bisa sama2 jadi companionship untuk hobi2 si istri bagus juga, tapi buat apa suami yang bisa jadi companionship tapi nggak ngasih keamanan finansial (=duit)? Para istri bukannya mata duitan, they're just being realistic.

So, here are "Her needs" based on Dr. Willard Harley's book ("His Needs, Her Needs : Building an Affair – Proof Marriage"), after counseled 40 thousands married couple.

* kebutuhan emosi istri yang diurutkan secara menurun*

Kebutuhan ke-5: Komitmen keluarga
Istri punya kebutuhan emosi agar suami berkomitmen penuh terhadap keluarga, bisa mengutamakan kepentingan istri dan anak2nya. Bisa diandalkan dari kebutuhan mengatur anak2 dengan baik sampe masang pipa elpiji, ato ngangkatin galon aqua seberat 19kilo. Kalo si anak susah diatur, si istri berharap si suami yang dapat mengatasi kenakalan si anak, kalo si anak kesulitan belajar, si istri berharap si suami yang bisa mengatasi kesulitan dalam belajar si anak, kalo si anak di-palak sama temen sekolahnya, si istri berharap suami balas memalak si teman sekolah itu... Istri bisa jengkel setengah mati kalo suami nggak bisa nunjukkan komitmen-nya untuk kepentingan keluarga... Bisa ngomel puluhan ribu kata kalo si suami yang diharapkan dapat menyelesaikan berbagai situasi dalam keluarga dengan enteng merespon, "urus aja sendiri... capek ngurusin yang gitu2".

Kebutuhan ke-4: Dukungan keuangan
Sekali lagi, kebutuhan ini bukan berarti para istri mata duitan, they're just being realistic (saya bisa melihat para wanita tersenyam-senyum dengan statement di atas). Kalo suami nggak bisa memberikan dukungan keuangan, lah terus gimana mau memenuhi kebutuhan keluarga? Kalo istri terpaksa bekerja gara2 kebutuhan primer keluarga nggak bisa didapetkan oleh suami, maka keluarganya akan timpang... Istri jadi lebih superior (karena mentang2 dialah yang lebih berperan dalam andil memenuhi kebutuhan keluarga), sehingga muncullah organisasi terlarang "ikatan suami takut istri". Para suami, make sure kebutuhan primer keluarga bisa dicukupi dari penghasilan yang didapatkan... At least kebutuhan primer, sukur kalo kebutuhan rumah mewah, mobil baru, gadget, fashion, baju, makeup, salon, menicure, pedicure juga dapat dipenuhi... (senyum para wanita tambah lebar, sementara para pria yang belom menikah jadi pikir2 lagi untuk nikah).

Kebutuhan ke-3: Kejujuran dan Keterbukaan
Jujur berarti suami bisa terbuka tentang keadaan dirinya kepada istri, nggak ada yang disembunyikan ketika istri bertanya2 tentang apapun... Rasa aman istri akan rusak kalo istri mendapati suaminya bohong, even untuk hal2 yang kecil. Kalo rasa aman istri udah rusak karena suami nggak jujur, jangan heran kalo si istri akan berpraduga yang mengerikan kepada suami... Tuduhan, "kamu selingkuh ya!!????", "kamu maen wanita ya???", "kamu nggak pulang karena janjian sama cewek itu yaa???" akan muncul dari hati seorang istri yang judes, bengis dan cemburuan... eh, maksudnya dari hati seorang istri yang rasa aman-nya terusik gara2 tidak lagi mempercayai suami.

Make sure, kejujuran dan keterbukaan jadi dasar dalam komunikasi keluarga. Jika suami istri punya pondasi yang kuat dalam kejujuran dan keterbukaan, dapat dipastikan spirit ini akan turut terbawa untuk anak2 yang dilahirkan dalam keluarga tersebut... Hal yang sebaliknya akan berlaku.

Kebutuhan ke-2: Percakapan
Jangan terkejut dengan hasil survei ini. Tahun pertama pernikahan, pasangan menghabiskan 70% untuk ngobrol (dan 30% lainnya untuk... bercinta?). Dan lamanya waktu mengobrol itu berkurang 20% seiring bertambahnya tahun. Sehingga di tahun ke-8 pernikahan, suami istri akan kurang punya kesempatan ngobrol, kecuali benar-benar diusahakan.

Isteri pingin suaminya bisa memberikan perhatian secara kata-kata. Istri pingin suaminya tahu gimana perasaannya, tentang hari2 yang dia alami. Tapi, sebagai seorang pria dan suami, saya bisa berempati terhadap para pria yang lain... Pria umumnya nggak gitu suka basa-basi atau percakapan yang bertele-tele. Pria suka hal-hal praktis yang memang perlu dibicarakan. Di sini jadi critical point buat suami, suami perlu menghargai istri dengan meluangkan waktu untuk bercakap-cakap secara santai. (Iya2... saya juga msih blom bisa)

Kebutuhan ke-1: ...
Guess what? Bukan... bukan seks... Seks bukanlah kebutuhan utama para istri. They might enjoy sex, but that's not her first emotional needs... Para suami pasti kehabisan ide untuk nebak kebutuhan pertama istri... Lah kalo bukan seks, apa lagi donggg???

Kebutuhan pertama istri adalah DISAYANG. Penting para suami bisa membedakan antara "disayang" dengan "hubungan seks". That's VERRRYYY different (with capital V)... Hubungan seks adalah ekspresi dari sayang. Dan untuk istri, ekspresi sayang dari suami yang diharapkan NGGAK SEKEDAR CUMAN ngeseks (yang jadi kebutuhan pertama dari suami).

Ekspresi sayang yang dibutuhkan istri lebih luas daripada sekedar seks. Istri butuh ekspresi sayang dari suami dalam bentuk: sikap yang gentlemen, membawakan belanjaan istri, melindungi, meluangkan waktu untuk mendengarkan keluh kesahnya, menghormati dan memperlakukan sebagai seorang istri di depan publik, mengekspresikan kebanggaannya menjadi suami dari sang istri di depan teman2nya, bersikap romantis, menggandeng tangan, membelai, dipanggil dengan panggilan sayang, dsb... That's the number one of her needs. (maaf untuk para istri yang berharap saya bisa lebih mendeskripsikan kebutuhan utama ini... saya nggak bisa panjang2 nulis bagian ini... lha wong juga masih belajar untuk lebih bisa memenuhi kebutuhan ini... tulis di komen kali ya?).

-------------------
End of note.

Prolog:
Suami dan istri adalah dua manusia dengan kebutuhan yang SANGAT berbeda. Keduanya nggak akan bisa secara otomatis, secara alami memenuhi kebutuhan masing2. Harus diusahakan. Love is a verb. Cinta itu kata kerja dan bukan bentuk pasif.


Tuesday, November 16, 2010

Beda Suami dan Istri - part 1

[Bagi wanita lajang yang belum menikah, you might want to bookmark this page, and re-read when you got married. Bagi istri yang baru menikah, you might want to practice it to your own (!) husband.]

Waktu kami menikah, Ps. Yusak mengatakan kepada kami, bahwa menikah itu nggak ada sekolahnya. That's true. Tau2 menikah. Pasangan baru segera dihadapkan pada berbagai situasi yang belum pernah dialaminya sebelumnya. Nggak pernah diajarkan di sekolah. Nggak ada kursus menikah. Nggak ada buku manual yang bisa dicontek untuk secara tepat menghadapi berbagai situasi sehari2. Semua harus dialami secara pribadi dan belajar dari segala kejadian... Trial and (berharap semoga nggak) error.

Dr. Willard Harley adalah seorang konselor pernikahan. Beliau menulis sebuah buku berjudul "His Needs, Her Needs : Building an Affair – Proof Marriage" setelah meneliti 40rb kasus yang terjadi dalam pernikahan. Saya tentu kurang bisa empati (ato nggak pernah bisa empati) dengan apa yang dirasakan Dr. Willard Harley. Satu kasus pernikahan saja bisa membuat saya kehilangan nafsu makan, apalagi 40rb kasus (tapi secara statistik, sample 40rb kasus itu bisa sangat mewakili sebagian besar kasus yang terjadi dalam pernikahan).

Di salah satu bagian dari bab-nya, beliau menuliskan 5 kebutuhan teratas dari seorang suami dan 5 kebutuhan teratas dari seorang istri. Menurut beliau, ketika kebutuhan ini saling tidak terpenuhi, baik suami maupun istri, akan cenderung untuk mencari pemenuhan kebutuhan dari pihak ke-3 (suami berusaha memenuhi kebutuhan dari wanita lain, dan wanita berusaha memenuhi kebutuhan dari pria lain = "selingkuh").

Saya nggak surprise ketika tau bahwa fakta kebutuhan suami itu (bener2) berbeda dengan kebutuhan istri (sehingga berpotensi membuat para istri bisa jengkel setengah mati pada suaminya - karena suami kok nggak bisa ngerti kebutuhan istri).

Dari hasil penelitian tersebut, Pak Willard menuliskan 5 kebutuhan teratas dari seorang suami adalah: (diurutkan dari urutan ke-5 sampai ke-1). -- Women, hold your breath and get ready to face the fact.

Kebutuhan ke-5: Dihormati
Make sure para istri bisa mengekspresikan kebanggaannya pada sang suami. Saat nggosip di arisan PKK, please, don't say something dishonor your husband...
Ibu A: "Bapaknya anak2 itu taunya pulang kerja, makan... urusan cuci, setrika, ngepel, mana mau ikut2... capek deh!!"
Ibu B: "Waahh... sampe segitu ya? Pasti capek ya jeng, jadi istrinya bapaknya anak2..."
Ibu A: "Nggak juga sih, saya juga nggak mau cuci2, setrika2 ato ngepel2 rumah... Pake pembantu aja, praktis, hihihi..."

Saat bersama koleganya, saat bersama teman2nya, saat bersama anak2, please respect your husband. Tunjukkan ke anak2 bahwa ayahnya adalah seorang pahlawan keluarga. Pria akan menjadi lebih bertanggung jawab ketika dia tahu bahwa istrinya menghormati dia.

Kebutuhan ke-4: Rumah diatur dengan baik
Bagi suami, rumah adalah tempat untuk melepas semua kepenatan setelah bekerja seharian. Harapan ketika sampai di rumah adalah mendapati rumah yang rapi, bersih, sedap dipandang dengan makan malam yang lezat (plus istri yang menyambut kedatangan dengan ceria dan siap ML bersama suami tercinta... --> ML= Makan Lemper).

Jika istri terlalu capek untuk menata rumah atau membersihkan rumah karena istri juga harus bekerja, berdiskusi untuk hire a maid will be a good idea... ato "paksa" suami untuk berbagi tugas.

Kebutuhan ke-3: Pasangan yang menarik
Ada kata-kata bijak bahwa manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati. Saya suka dengan kata2 ini (sehingga berusaha memastikan apa yang di hati saya berkenan di hadapan Tuhan). But, wives... let me tell you a little secret about your husband... He is not God... Para suami bukan Tuhan yang hanya melihat hati.

Para suami adalah manusia yang melihat apa yang di depan mata... That simply means, he needs to see an attractive wife. Menarik berarti istri bisa berpenampilan seperti yang menurut suami itu menarik... Kalo seorang suami menganggap istri gemuk itu menarik, for the sake of your marriage, make sure your weight is above 80Kg. Kalo menurut suami, istri berkulit hitam itu menarik, make sure berjemur di bawah terik matahari menjadi hobi barumu. Kalo menurut suami, suara omelan itu menarik untuk didengarkan, please, pastikan setiap hari ada omelan setidaknya 5-7 jam sehari untuk suami tercinta.

Kebutuhan ke-2: Ditemani melakukan aktivitas yang menyenangkan
Hobi suami adalah istri keduanya. Pastikan istri pertama tidak memusuhi istri kedua... Pastikan istri pertama kompatibel dengan istri ke dua. Sukur2 kalo istri pertama juga mencintai istri kedua... Kalo mereka berdua bermusuhan, suami akan kebingungan menentukan istri utamanya... - dan terjadilah konflik.

Istri: "PAAA...!!! Burung aja diurusin. Tuh, genteng bocor, cepet dibenerin."
Suami: *nggak terima* "Mending ngurusin burung, suaranya merdu...!! Ketimbang ngurusin kamu yang suara kayak genteng bocor."
Istri: *lebih nggak terima* "Eee... emang suara genteng bocor kayak apa coba??? Awas ya... nanti di pasar aku ambil kucing, biar tuh burung buat makan siang...!!!"

Kalo memang istri nggak bisa menemani aktivitas suami, at least lakukan aktivitas yang sama2 disukai. Pasti ada suatu aktivitas yang sama2 disukai both oleh suami dan istri... (misal, semua orang suka tidur, jadi lakukan aktivitas tidur bersama2, atur posisi sedemikian rupa sehingga keduanya sadar bahwa mereka tidur bersama2).

Kebutuhan ke-1: ...
Can you guess?? It's only 3-words and sometimes doesn't make any sense for women. It's called S-E-X. Kebutuhan pertama suami adalah seks. You-know-what-that-implies... Suami butuh bercinta dengan frekuensi yang lebih sering dibandingkan dengan istri. Istri yang nggak ngerti kebutuhan suaminya bisa menuduh si suami, "dasar maniak-seks!!!" Ato istri yang manipulatif, akan memanfaatkan kebutuhan ini untuk ancaman... "yaaangg... ntar kalo udah beli mobil, kita bisa bercinta seminggu 4x deh... kalo blom ada mobil ya... 4 minggu sekali aja..."

Suaminya cuman bisa membatin, "Bitch...!"

-------------------

End of note, to be continued.


Tuesday, November 9, 2010

Culinary: Table For Two

Suka dengan wisata kuliner?

Saya nggak termasuk di dalamnya. Saya rewel dengan makanan. Di Jepang saya kesulitan mencari makanan yang cocok dengan lidah saya. Makanan yang bernama "ikan-salmon-beku-di-supermarket-yang-kemudian-digoreng-di-rumah-dan-dimakan-dengan-nasi-anget-plus-sambel-dari-indonesia" saya nobatkan sebagai The-best-food-I-ever-tasted-in-Japan (setelah mengalahkan kandidat kuat lainnya, yaitu indomie-goreng dan nasi-goreng-telor).

Berbagai macam bentuk sushi, yakiniku, atau okonomiyaki, masih nggak bisa cocok dengan lidah saya. I prefer lemper instead of Sushi. I prefer bakso bakar instead of yakiniku dan I prefer dadar jagung instead of okonomiyaki (fyi: lemper and sushi, bakso bakar and yakiniku, dadar jagung and okonomiyaki, they look alike)...


Forget about my weird-meal-preferences (make sure you know what you'll offer to me when you invite me for lunch or dinner at your house... ).

For those who wants to have (or already have) a resto, let me propose an interesting concept of culinary. It's called table for two.

Saya mengamati bahwa manusia sebenarnya ingin berbagi. Perasaan bahwa kita berguna untuk orang lain, membuat kita excited dalam menjalani hidup (seorang suami mungkin akan mengatakan "wow, hidup saya berguna bagi istri dan anak saya...", seorang sahabat mungkin mengatakan "wow, hidup saya ternyata membuat teman saya berubah menjadi lebih baik", seorang donatur untuk anak angkat akan mengatakan "wow, apa yang saya berikan ternyata membuat dia bisa melanjutkan sekolah dan mengubah masa depannya", seorang dokter mungkin akan mengatakan, "wow, hidup saya berguna untuk pasien-pasien yang saya rawat", seorang dosen akan mengatakan, "wow, hidup saya membuat mahasiswa saya menjadi berilmu").

Tapi perasaan bahwa kita sudah tidak ada gunanya, membuat kita berpikir untuk mengakhiri hidup... ("ah, ngapain saya hidup... hidup cuman jadi beban orang lain", "ah, hidup saya sudah nggak ada gunanya, nggak bisa bantu orang lain, nggak bisa ngasih apa2 ke orang lain, ngapain juga saya hidup...", dsb).

Perasaan bahwa kita berguna, membuat kita lebih manusiawi... Konsep resto "Table for Two" adalah konsep wisata kuliner yang mengubah manusia menjadi lebih manusiawi. Alih-alih menikmati makan yang dimakan sendiri dan untuk mengenyangkan perut sendiri, kenapa tidak berbagi "meja" dengan "manusia" lain yang kekurangan? Setiap satu suap makanan yang dimakan oleh setiap pelanggan, akan juga memberikan satu suap yang sama kepada someone, somewhere yang sedang kelaparan (tentu mereka nggak makan di meja yang sama...). Sekian persen dari keuntungan penjualan makanan tersebut, akan menjadi makanan yang sama dan dibagikan kepada orang lain yang kekurangan.

Jika seorang pelanggan makan bakso bakar sebanyak 5 biji di resto "Table for Two" ini, maka someone juga akan bisa menikmati 5 biji bakso bakar yang sama somewhere. Jika seorang pelanggan makan dua piring nasi soto ayam, maka someone (atau sometwo?), somewhere juga akan menikmati dua piring nasi soto ayam tersebut. Jika seorang pelanggan minum segelas es jeruk, maka somewhere akan ada seseorang yang juga turut menikmati segarnya es jeruk tersebut. That's why it's called, "Table for two".

Someone yang dimaksud adalah orang2 yang kekurangan. Anak2 panti asuhan yang kurang beruntung karena orang tua mereka terpaksa meninggalkan mereka (entah karena sudah meninggal atau karena sangat miskin sehingga can't afford to raise them). Anak2 jalanan yang harus mencari uang karena orang tua mereka tidak sanggup memberikan mereka makan. Gelandangan/homeless people yang harus bertahan hidup dengan tidur di bawah jembatan. Para korban bencana alam yang harus kehilangan semua harta bendanya karena kedasyatan alam. Orang-orang itu yang akan mendapatkan apa yang kita makan dari resto "Table for two".

Jika kita tahu bahwa apa yang kita makan akan juga mengenyangkan orang lain, kita akan merasa bahwa diri kita berguna... Kita merasa bahwa diri kita bisa berbagi untuk orang lain, dan membuat orang lain merasakan apa yang kita rasakan. Kita menjadi lebih manusiawi.

Saat kita makan... kita akan berpikir, seseorang yang membutuhkan akan juga ikut menikmati makanan yang sedang saya makan ini. Wow, hidup saya berguna! (Make sure untuk menyediakan tissue di meja, karena bagi orang2 yang lembut hatinya, makan di resto semacam itu bisa membuatnya menitikkan air mata).

Gambar diambil dari:
Please, let me know if you already have this concept for your resto. I'll be you loyal customer!

Friday, November 5, 2010

Indonesia dan Human Development Index

Baru-baru ini, PBB mengeluarkan laporan tentang Human Development Index (HDI) dari negara-negara di dunia. Indeks ini menunjukkan bagaimana kualitas hidup manusia di sebuah negara yang diindikasikan dari: (1) Rata-rata harapan hidup (life expentancy), (2) rata-rata lama menempuh pendidikan (years of schooling), dan (3) rata-rata pendapatan per kapita (Gross National Income per capita).

Indeks ini memiliki skala 0 sampai 1. Indeks yang mendekati 0 berarti rakyat di negara tersebut memiliki rata-rata harapan hidup yang jelek (misalnya banyak yang meninggal di usia 40-50 tahun), rakyatnya tidak memiliki pendidikan yang baik (hanya lulus sekolah dasar) dan pendapatan perkapitanya rendah (kurang dari 1.5jt per bulan). Sementara indeks yang mendekati 1 berarti rata-rata harapan hidup rakyat di negara tersebut tinggi (misal rakyatnya rata2 meninggal di usia 80 tahun), rakyatnya memiliki pendidikan yang baik (rata2 lulus perguruan tinggi S1), dan pendapatannya tinggi (income rata2 per bulan rakyatnya 40jt).

HDI tertinggi dari seluruh negara, bernilai 0.938 yang dimiliki oleh Norwegia. PBB mencatat bahwa rata-rata harapan hidup di Norwegia adalah 81 tahun, rata-rata pendidikan rakyatnya adalah 12.6 tahun studi (setara dengan lulusan SMA) dan pendapatan per kapita rakyatnya adalah Rp. 44jt per bulan (US $ 58,810/tahun). Peringkat ke-2 adalah negara Australia yang rata-rata harapan hidup rakyat sedikit lebih lama dari Norwegia, yaitu 81.9 tahun, namun pendapatan perkapitanya (lebih rendah dari Norwegia) "hanya" Rp. 29jt per bulan. Sementara penduduknya lebih berpendidikan karena rata-rata menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi. Peringkat ke-3 adalah Selandia Baru diikuti oleh Amerika Serikat dan Irlandia.

Tidak ada negara Asia yang berada di 10 besar HDI tertinggi. Jepang berada di peringkat ke-11 dengan mencatatkan rata-rata harapan hidup tertinggi di dunia, yaitu 83.2 tahun dengan pendapatan per kapita Rp. 26jt / bulan.

Bagaimana dengan Indonesia? (apapun faktanya, saya tetap cinta Indonesia). Indonesia berada di peringkat 108 dan masuk dalam kategori medium human development. Peringkat ini masih kalah dengan negara-negara Amerika latin (produsen aktif Miss Universe) seperti Mexico, Peru, Brazil, Venezuela, Chili dan Panama. Juga masih di bawah negara Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia (peringkat 57), Thailand (peringkat 92), atau Filipina (peringkat 97).

Indeks untuk Indonesia adalah 0.6, dengan harapan hidup 71.5 tahun, rata-rata pendidikan rakyatnya 5.7 tahun (lulus SD) dan pendapatan per kapita rakyat Indonesia (yang saya agak surprise) adalah Rp. 3jt/bulan (US $3,957/tahun) - angka ini lebih besar dari yang saya perkirakan. Sepertinya Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat dalam 3 tahun terakhir.

Dari fakta itu, jika seorang pegawai di suatu organisasi digaji Rp. 2jt/bulan, artinya gaji dia berada di bawah rata-rata pendapatan per kapita rakyat Indonesia. Seandainya dia digaji Rp. 3jt/bulan (which I'm quite sure that amount is considered as "big-salary" especially in my hometown - mau nulis "my ..." tapi nggak tega - kalau ada "kolega" yang mau neruskan boleh diteruskan di dalam hati) maka pendapatannya masih berada di level rata2, Human Development Index-nya masih dalam level medium...

A simple suggestion will be: tetaplah bekerja dan cintailah pekerjaan yang saat ini dijalani JIKA dan HANYA JIKA gaji/pendapatan per bulan bisa lebih dari rata-rata pendapatan perkapita. Tapi jika gaji per bulan kurang dari pendapatan per kapita, dan tidak ada harapan/tidak ada celah (atau sistem karir yang nggak feasible) untuk bisa melampaui pendapatan perkapita, there's no reason you stay any longer in that place. Why should you? You simply make donation for those who are paid big-buck in that organization. Hukum pareto 20%-80%, di mana 80% total gaji jatuh hanya kepada 20% pegawai sementara 80% pegawai yang lain berebut 20% total gaji sisanya, semestinya tidak perlu terjadi.

Mari kita bersama-sama meningkatkan HDI Indonesia, sebuah negara yang diberkati dengan sumber daya alam melimpah... Suatu ketika, orang2 akan mengatakan, "Ya nggak heran kalo HDI-nya Indonesia mendekati 1, lha wong sumber daya alamnya melimpah ruah kayak gitu..."



Wednesday, November 3, 2010

Mesin Waktu

Judulnya mungkin cukup provokatif untuk membuat beberapa orang meluangkan waktu membaca blog ini (di tengah ke-sibuk-an atau ke-nganggur-annya). Tapi, sebelum dilanjutkan membaca, let me clarify bahwa sampai saat ini saya belum menciptakan mesin waktu seperti di film-film, yang memungkinkan seseorang berkelana ke masa lalu atau ke masa depan dan bertemu dengan versi muda atau tua dirinya sendiri. Riset saya di sini tentang compressed sensing untuk citra medis, juga nggak ada kena-mengenanya dengan mesin waktu.

Jadi, lalu kenapa postingnya dikasi judul "Mesin Waktu"?

Salah satu film tentang berkelana ke masa lalu adalah film The Time Traveler's Wife (2009) yang menceritakan romantika tentang seorang istri yang bersuamikan Time Traveler. Si suami memiliki gen yang membuat dirinya secara acak "pergi" ke masa silam. Di suatu waktu, dia bertemu dengan istrinya yang masih berusia 6 tahun, dan "calon" istrinya inipun jatuh cinta kepadanya. Di masa sekarang, mereka menikah dan memiliki anak, sementara si suami masih secara acak pergi dan datang ke masa lalu... Interesting movie, tapi trilogi Back to the Future-nya Steven Spielberg (1985, 1989, 1990) masih lebih bagus.

Jadi, kenapa sih postingnya dikasi judul "Mesin Waktu"?

Mari membayangkan. Seandainya mesin waktu ada di depan kita. Kita bisa masuk dan mengatur mesin itu untuk bisa berkelana ke masa lalu, bertemu dengan diri kita versi muda, apa yang akan kita lakukan? Atau lebih spesifik lagi, pesan apa yang bisa kita berikan kepada diri kita versi muda agar tidak sampai melakukan kesalahan yang berakibat fatal? Ada orang2 (para kandidat miss universe ato miss-miss yang laen) menjawab dengan filosofisnya, "Saya tidak akan mengubah apapun dari diri saya, karena dari kesalahan tersebut membuat saya belajar untuk menjadi lebih baik." (yang kemudian disambut dengan gemuruh tepuk tangan dari para hadirin - entah bertepuk tangan karena jawaban itu ato karena yang lain).

Saya kira, jawaban seperti ini muncul karena mesin waktu masih belum ada. Seandainya perjalanan menembus waktu benar2 bisa dilakukan, mungkin jawabannya akan berbeda. Mungkin jawabannya adalah, "Saya bisa berada di sini, karena saya menggunakan mesin waktu. Waktu saya berusia 60 tahun dan saya bukan menjadi siapa-siapa, saya berpikir... Saya seharusnya bisa menjadi miss-universe ketika berusia 20an. Agar hal itu dapat terlaksana, saya perlu memberikan pesan kepada saya yang masih muda agar jangan sampai setelah berusia 60 tahun tapi masih tetap belum menjadi apapun. Akhirnya, saya yang berusia 60 tahun melakukan perjalanan menembus waktu, kembali ke 50 tahun silam ketika saya berusia 10 tahun. Saya memberikan pesan2, to-do-list dan don't-do-list kepada saya yang masih 10 tahun agar dapat mengambil keputusan yang tepat untuk menjadi miss-universe... Saya yang masih 10 tahun segera belajar dengan giat berdasarkan to-do-list dan don't-do-list yang diberikan oleh saya versi 60 tahun. Semua to-do-list dan don't-do-list itu begitu akurat, sehingga akhirnya membawa saya ke panggung miss-universe ini... Dan pasti ketika saya kelak berusia 60 tahun, saya tidak akan menyesal karena telah melakukan yang terbaik."

Ya, lupakan tentang jawaban imajiner dari kandidat-miss-universe itu... Let me propose a new way of creating a time-machine. Alih-alih kita berkunjung ke masa lalu, mengapa kita di masa depan tidak mengunjungi kita di masa sekarang? Kita di masa depan adalah imajinasi kita di masa sekarang.

Misalnya (sekedar contoh): saya di masa depan adalah seorang profesor bidang computer science, mendapatkan Ph. D dari Chiba University, Jepang. Melakukan postdoc di UK/USA selama 2 tahun, mendapatkan grant research dan penghargaan dari beberapa organisasi internasional karena kontribusi research untuk dunia medical imaging. Saya membayangkan... Jika saya di masa depan (dengan keadaan seperti yang disebut tadi) dapat melakukan perjalanan menembus waktu dan menemui saya di masa sekarang, (more-less) saya akan tahu apa yang akan disampaikan kepada saya di masa sekarang. Saya bisa membayangkan to-do-list dan don't-do-list yang diberikan kepada saya agar saya bisa menjadi seperti saya seperti yang tersebut di masa depan. Ketika saya melakukan to-do-list dan don't-do-list yang ada, maka perjalanan waktu secara tepat akan menggiring saya kepada garis masa depan seperti yang seharusnya. Tapi jika saya melenceng dari to-do-list dan don't-do-list itu, perjalanan waktu akan membawa saya kepada garis masa depan yang lain - which is mungkin worse (or better?).

Intinya?

Coba kita membayangkan hidup seperti apa yang kita inginkan di masa mendatang... (mungkin ingin berprofesi sebagai pengusaha, sebagai profesional, menjadi dokter spesialis, menjadi profesor, mendapatkan beasiswa, punya suami/istri, anak, penghasilan sekian digit per tahun, bisa travelling ke luar negeri, dsb). Bayangkan kita di masa depan (yang telah mengalami itu semua) menembus masa lalu dan menemui kita sekarang. Kira2 apa yang akan disampaikan agar bisa mendapatkan itu semua? Apa saja to-do-list dan don't-do-list yang disampaikan kepada kita? Setelah kita dapatkan to-do-list dan don't-do-list, mengapa nggak segera kita lakukan? Waktu akan membentuk rel-nya, usaha kita sebagai daya dorongnya (dan Tuhan -if you believe in God- sebagai perancang dari semua skenarionya), sehingga membawa kita kepada titik yang kita harapkan. Isn't that wonderful to be alive?