Saturday, October 30, 2010

Di Jepang Mahal?

Menurut ECA Internasional (perusahaan human resource consulting di Amerika), Tokyo menduduki kota termahal peringkat 1 di dunia. Di peringkat berikutnya ada Oslo (Norwegia), Luanda (Angola), Nagoya (Jepang), Yokohama (Jepang), Stavanger (Norwegia), Kobe (Jepang), Copenhagen (Denmark), Genewa (Swiss), Zurich (Swiss). Kota New York (USA) berada di peringkat 29 (mungkin terpengaruh melemahnya nilai dolar). Peringkat 1, 4, 5, 7 adalah kota di Jepang. Dari fakta ini, (dengan sedikit nggak rela) bisa ditarik kesimpulan bahwa biaya hidup di Jepang mahal.

Semahal apa? [For the sake of simplicity, I will use rupiah instead of yen]

Di tempat saya tinggal (which is 40km from Tokyo - yang berarti sedikit banyak kena imbas ke-mahal-an biaya di Tokyo), saya mencatat beberapa harga kebutuhan pokok [P] dan nggak pokok [GP]:
  • [P] Harga beras 5KG rata-rata 200rb (atau 40rb/kg) - (di Indonesia: 4rb/kg).
  • [P] Harga nasi putih 200gram 10rb - (di Indonesia: 2rb).
  • [P] Harga sekotak bento biasa 50rb - ada juga yang 30rb, tapi nasinya cuman 3 ato 4 sendok (mungkin itu sebabnya mereka makan pake sumpit, biar bisa disuap berkali-kali)
  • [P] Harga mie instan 20-30rb sementara di Indo 2rb.
  • [GP] Harga ramen (mie) di depot 50rb (di Indo pangsit mie hanya 5rb ato 10rb).
  • [GP] Harga 1 roti sekelas bread story, 20rb (di Indo 10rb).
  • [GP] Harga softdrink/minuman kaleng 10rb.
  • [P] Harga apartemen yang paling murah 3jt/bulan (setidaknya saya blom pernah mendengar ada apartemen di bawah harga tersebut), rata2 (apartemen kelas menengah) 5jt/bulan. (Di Indo kost 300-700rb)
  • [P] Harga tiket kereta antar stasiun (2-3menit perjalanan) 13rb. (Di Indo, angkot 2-5rb)
  • [GP] Harga potong rambut di barber shop kelas menengah 400rb. (Di Indo, sekitar 20rb)
  • [P] Harga satu buah apel: 15rb (iya, satu biji, bukan 1 kilo).
  • [GP] Harga satu tandan pisang (isi 8 biji): 20rb (di Indo, kalo udah musim pisang malah dibuang2)
  • [P] Harga 4 batang cabe merah (yang udah keriting dan rada2 kering gak jelas), 15rb!! (dan ini yang bikin saya rada ilfeel sampe berkeinginan nanem lombok di pot agar bisa makan nasi pake sambel).
Mahal ya? Emmm.... Depends on your framework.

Gaji seorang pegawai fresh graduate di Jepang, berkisar antara 200-250rb yen/bulan (yang kalo di-rupiahkan adalah 20-25jt). Gaji seorang fresh graduate di Indonesia, berkisar antara 1.5-2jt rupiah/bulan. Supaya gampang, anggep aja gaji pegawai A yang kerja dan hidup di Jepang adalah 20jt/bulan dan gaji pegawai B yang kerja dan hidup di Indonesia adalah 2jt/bulan. Perbandingan uang yang diterima antara pegawai A dan pegawai B adalah 10:1.
  • Seandainya seluruh gaji pegawai A di dibelikan beras (yang harga sekilonya 40rb), maka dia akan mendapatkan 20jt/40rb = 500Kg beras. Sementara, bagi pegawai B (Indonesia) jika seluruh gajinya dibelikan beras maka dia akan mendapat 2jt/4rb = 500Kg. Sama.
  • Seandainya seluruh gaji pegawai A dibuat untuk sewa apartemen, maka dia bisa menyewa apartemen selama 20jt/4jt = 5 bulan. Sementara, bagi pegawai B, gajinya yang 2jt juga bisa digunakan untuk kost selama 5 bulan. Sama.
  • Seandainya pegawai A ingin berwisata ke Tokyo Disneyland, dia harus spend untuk tiket masuknya sebesar 580rb (atau let's say 1jt untuk belanja dan makan siang di sana - which means 5% dari total gaji). Sementara pegawai B yang ingin berwisata ke Jatim Park, dia harus spend untuk tiket masuk sebesar 50rb (atau let's say habis 100rb untuk makan dan beli oleh2, which means juga 5% dari total gajinya). Sama.
  • Untuk sekali makan siang biasa, pegawai A spend 50rb-100rb (atau 0.25-0.5% dari seluruh total gajinya), sementara bagi pegawai B, sekali makan siang spend 5-10rb (atau 0.25-0.5% dari seluruh total gajinya). Nggak jauh beda.
Harga di Jepang akan sangaaaattt mahal ketika pegawai B dengan standard gaji Indonesia, hidup di Jepang. Tapi kalau pegawai B tetap hidup di Indonesia, maka pegawai B punya strata sosial yang sama dengan pegawai A. That's why ketika ada yang bilang, "Biaya hidup di Jepang mahal ya?", obviously si penanya menggunakan framework "penghasilan Indonesia"... Jika memandang dari framework "penghasilan Jepang", ya sebenarnya nggak mahal juga. In fact, beberapa produk lokal seperti ikan laut, udang, cumi, kepiting, dan telor harganya bisa SAMA (atau bahkan lebih murah) dibandingkan Indonesia!

Seorang profesor senior Indonesia yang sudah melanglang buana dan pernah bekerja di Jepang selama 1tahun mengatakan kepada saya, "Yang enak itu kalo hidup di Indonesia dan kaya." Saya merenungkan kata2nya... Maknanya dalam, khususnya untuk professor-wanna-be seperti saya.

[Diketik di Lab, hari Sabtu, 30 Oktober, Pk. 11:23, sementara hujan dan taifun menderu2 di luar]

Gambar bento 70rb rupiah yang kalo dimakan dengan framework "Penghasilan Indonesia" bisa langsung kehilangan selera makan.


Monday, October 18, 2010

Beda Pria dan Wanita

Setelah beberapa minggu menikah, saya jadi (lebih) tahu beda pria dan wanita (yang simply nggak akan pernah saya mengerti seandainya saya nggak menikah).

case #1:
Wanita: "Yang... Kamu beli baju baru ya."
Pria: "Loh...? Kenapa harus beli lagi? Kan masih punya banyak baju di lemari... "
Wanita: "Yaah... Kita perlu punya banyak baju, agar bisa ganti-ganti dan nggak pake baju yang itu-itu terus..."
Pria: "Banyak-banyak baju buat apa? Kan sekali pake cuman SATU rangkap? Lagian semakin sedikit baju, maka efisiensi masing-masing baju akan semakin tinggi. Artinya masing-masing baju akan benar-benar optimal sebelum habis masa pakainya. Kalo bajunya banyak, maka akan ada baju2 yang terlalu lama idle di lemari pakaian karena nggak terpake sehingga efisiensinya berkurang..."
Wanita: ... [ speechless ] ...

case #2:
Wanita: "Yang... kamu kok nggak pernah nelepon aku kalo lagi kerja?"
Pria: "Lah, untuk apa?"
Wanita: "Yaaaa... telepon aja kan nggak ada salahnya?"
Pria: "Kalo nggak ada perlu kenapa harus telepon? Bukannya telepon itu pake prinsip, 'bicara seperlunya?'"
Wanita: ... [*ngomel*] ...

case #3:
Pria: "Yang, kamu kalo kemana-mana kok mesti bawa tas buat apa?"
Wanita: "Ya, aneh aja kalo nggak bawa tas..."
Pria: "Aku nggak bawa tas nggak ngerasa aneh..."
Wanita: "Ya, pria lain... Kalo wanita harus bawa tas..."
Pria: "Terus tas-nya diisi apa?"
Wanita: "Ya... diisi Hape, dompet... makeup kalo perlu..."
Pria: "Jadi kalo Hape dan dompetnya aku yang bawa, kamu nggak bawa tas nggak papa?"
Wanita: "Nggak bisa, harus bawa tas pokoknya..."
Pria: ... [speechless]...

case #4:
Wanita: "Yang, hari ini bawa bekal nasi dan telor ceplok ya..."
Pria: "Iya..."
Wanita: "Telor ceploknya dikasi saos pedes ya..." [*sambil mengoleskan saos pedes ke telor ceplok*]
Pria: "Iya..." [*mengamati proses pengolesan saos pedes ke telor ceplok*] "... loh, kok saosnya dibuat kayak mata2an gitu?" [*setelah melihat telor ceplok dihias dengan digambar mata dan mulut yang lagi ketawa*]
Wanita: "Iya... Biar lucu."
Pria: "Emang rasa telornya jadi lebih enak beda kalo modelnya lucu gitu...??"
Wanita: "Ya... Nggak sih... tapi kan lucu, telornya jadi kayak orang ketawa."
Pria: ... [*ngomel* - emangnya anak TK dikasi telor ceplok dengan hiasan??]

case #5:
Pria: "Yang, besok kita ke Tokyo Disneyland ya..."
Wanita: "Asyiikkk...!!"
Pria: "Asyik kenapa...?"
Wanita: "Ya... kan asyik... nanti bisa foto ma Mini, Donald, Clarabella..."
Pria: "Foto gitu apanya yang asyik...?"
Wanita: "Ya, kan mereka lucu..."
Pria: "Lucu gimana?"
Wanita: "Ya, lucu... Nanti kita foto bareng sama mereka ya?"
Pria: "Biar apa?"
Wanita: "Ya... Biar ada kenang2an kalo kita pernah foto sama mereka"
Pria: "Lalu kalo nanti kalo udah foto ma mereka, terus fotonya bisa kita jual?" [*berharap, mungkin si wanita punya channel sesama wanita lain yang mau beli foto "lucu" gitu*]
Wanita: "ya nggaaak lahh...!!!"
Pria: "Kalo gitu, kamu aja yang foto..."
Wanita: ... [*grrrrrr*]...
Pria: [*nggak pernah ngerti di mana "lucu" ato "asyik" nya berfoto dengan tokoh2 aneh jika memang fotonya nggak punya nilai ekonomis apapun* - foto di bawah diambil dengan sedikit nggak rela dan memaksa senyum]



----------
Wanita perasa. Pria berlogika.
Itu one-to-one relationship yang unik.
Satu umur hidup mungkin nggak pernah cukup untuk bisa mengerti satu sama lain.

(Diketik saat sedang kangen dengan istri di Indonesia)

Friday, October 15, 2010

(Universitas) Chiba

I've passed the first month in Japan dengan sehat, selamat, dan masih belum bisa ngomong Jepang. At least, saya sekarang sudah bisa baca hiragana dan katakana sedikit lebih cepat dari anak kelas 2 SD di Jepang. Untuk karakter Kanji, saya juga sudah bisa baca... Ya sekitar 20-an karakter dari total 2.000 karakter agar bisa baca koran dengan lancar. At least, saya sudah bisa membedakan kanji untuk karakter "Pria" dan "Wanita" yang tentunya sangat berguna ketika ke toilet umum. Pinginnya di tahun ke-3, sudah menguasai 2000 karakter kanji agar bisa survive di negara lain yang juga menggunakan karakter tersebut, seperti China, Taiwan atau Hongkong. Amin!

Saya mulai suka dengan Universitas Chiba dan lingkungannya (padahal dulu nggak pernah kebayang bakal sampe di Universitas Chiba untuk dapetin Ph. D, kebayangnya ya dapetin Ph. D di computer science dari MIT, Harvard ato Universitas Ma Chung gitu...).

Kenapa saya suka (Universitas) Chiba?

First of all, lokasi Universitas Chiba ini di kecamatan Nishi-Chiba, kota Chiba, Propinsi Chiba (iya, nama kota dan propinsinya sama... Yang jelas di Indonesia, nggak ada Kota Jawa Timur, ada juga kota Malang, Surabaya, Pasuruan yang mana beda dengan nama propinsinya). Kota Chiba ini bukan kota besar kayak Surabaya. Apalagi kecamatan Nishi-Chiba... Suasananya jauh dari keramaian, hingar-bingar ataupun night-club - which is bagi sebagian orang, pasti bisa pusing karena bosan (kalo rame, saya yang pusing)... Di Nishi-Chiba, hampir semua tempat dapat dijangkau dengan naik sepeda engkol dan sebotol minuman dingin. Entah itu ke stasiun, supermarket, kampus, ato kantor catatan sipil untuk ngurus KTP, semua dekat. Dengan 30.000 yen per bulan, sudah bisa sewa apartemen, which is kalo di Tokyo, uang segitu cuman buat sewa secuplik tempat parkir di apartemen yang ada di gang buntu.

Kedua, walopun sama-sama universitas negeri, tapi Universitas Chiba beda dengan Universitas Tokyo. Kalo di Indonesia, Universitas Tokyo ini kayak UI ato ITB, jadi kiblat untuk universitas-universitas lain di Jepang... Penelitian terbaru, jurnal-jurnal nasional dipenuhi dengan afiliasi Universitas Tokyo, alumninya banyak yang jadi pejabat, saintis, menteri, dan orang2 top. Kalo Universitas Chiba Nusantara Jaya (UCNJ) mah, mungkin kayak UGM Jogja ato Unpad Bandung. Universitas negeri, di kota pendidikan yang biaya hidupnya nggak tinggi2 amat. Mahasiswa di Chiba juga nggak "seaneh" mahasiswa di Universitas Tokyo. Teman lab saya pernah bilang, dari penampilan aja mereka bisa membedakan mana mahasiswa dari Universitas Tokyo dan mana mahasiswa dari Universitas Chiba. Sampe segitunya... (saya jadi membayangkan bagaimana modisnya mahasiswa di Universitas Tokyo atau... kupernya mahasiswa Universitas Chiba? Entahlah).

Ketiga, teman-teman lab saya jumlahnya ada 14 orang dan semuanya Japanese. I'm the only foreign student - dari Indonesia pula. This means, the only way I communicate with them is either using English or Japanese. Both is an advantage for me to develop my foreign language skill. Cool. Nggak mungkin saya pake Bahasa Indonesia, baik pas ngomong sama prof ato presentasi di depan. (Di Lab gedung sebelah, Lab Remote Sensing, prof-nya orang Indonesia dan most of the students juga Indonesian. Kata temen saya yang masuk di Lab itu, nggak kerasa kayak di Jepang kalo pas di Lab, kalo ngomong tetep pake Bahasa Indonesia).

Keempat, lab di mana saya spend most of the time untuk research adalah lab yang bebas (dan lengkap dengan segala perkakas memasak, microwave, kulkas, sumpit, gelas, piring - walopun ini bukan Lab jurusan Culinary). Nggak ada check-clock. Nggak ada finger-print. Nggak ada presensi. Nggak ada larangan maen game. Nggak ada pembatasan akses alamat Internet. Totally free!

Lab bebas diakses oleh anggota lab kapanpun, karena kunci lab ditaroh di samping lemari loker di sebelah toilet pria, pintu ke-3, dekat tong sampah (dan ini menjadi rahasia besar bagi kami yang nggak boleh dibocorkan ke siapapun). Karena kalo sampe di Lab ada yang masuk dan mengambil data2 penelitian kami, yang diletakkan dengan di komputer server 3, drive C dengan password R4i2po4D, maka tentu kami yang rugi sendiri. Jadi kami berjanji untuk nggak membocorkan rahasia ini.

Dengan jam bebas seperti itu, sama sekali nggak ada niatan bagi kami untuk skip, bermalas2an ato nggak ngerjakan research. In fact, saya seringkali keasyikan sampe overtime di Lab (seperti sekarang ini). Sesekali profesor melihat ke Lab dan bertanya sampe di mana research masing-masing, kendala2 yang dialami. Seminggu sekali ada group meeting di mana para anggota lab diminta untuk mempresentasikan progress research masing2 dan didiskusikan bersama. What a condusive environment to do research!

Terima kasih untuk rakyat Indonesia yang telah membayar pajak. Pajak yang masuk jadi kas negara, kemudian disusun anggaran belanja negara, yang mana 20%-nya dianggarkan untuk pendidikan. Dari 20% itu, sepersekiannya dialirkan untuk membiayai kuliah saya di sini selama 3 tahun. Arigatouuu gasaimashita (sambil membungkukkan badan 90 derajat)...


Diketik di Lab Center Research for Frontier Medical Engineering, Universitas Chiba Nusantara Jaya (UCNJ) hari Jumat 15 Oktober 2010, Pk. 21.39.


(Foto Universitas Chiba yang diambil dari jendela samping meja kerja, di Lt. 4)

Friday, October 1, 2010

Riset seksi

Hari ini, 1 Oktober adalah awal semester genap. Saya officially resmi menjadi research student periode Oktober 2010-April 2011 di bawah bimbingan Prof. Hideaki Haneshi, Laboratorium Frontier for Center Medical Engineering, Universitas Chiba Nusantara Jaya (UCNJ) (yang belakang itu tambahan aja, biar kliatan nasionalis, hihi2...)

Kemaren diskusi dengan Pak Prof tentang topik riset - dan saat itu baru nyadar bahwa bidang beliau sebenarnya nggak terlalu nyambung dengan computer science yang saya harapkan. Dia pakar di medical imaging (seperti MRI, CT/PET dan teman2nya yang kurang saya kenal dengan baik). Sementara saya belom pakar di bidang apapun... Jadi, ya pantes kalo nggak nyambung, hihi2...

Sebenernya, saya berharap untuk ada di Lab yang topik penelitiannya fokus di pengolahan citra medis yang erat kaitannya dengan kecerdasan buatan (seperti thesis master saya dulu). Tapi di lab ini, penelitiannya lebih ke arah citra medis dari sisi rekayasa, fisika ato matematika - dikit banget sisi computer science-nya (lebih nyambung ke arah engineering ketimbang computer science). Pantesan kemaren seminar nggak bisa nyambung... Topiknya, "An Imaging Spectroscopy Approach for Measurement of Oxygen Saturation and Hematocrit During Intravital Microscopy" - ngetiknya aja udah bikin sakit jari2. Saya cuman bisa bengong selama seminar 2 jam (karena nggak ada kena-mengena-nya dengan computer science, pake Bahasa Jepang pula!).

Waktu diskusi kemaren, Pak Prof-nya ngasih saran riset di bidang computer science...Topik besarnya tentang "Compressed Sensing" - yang merupakan bidang baru di computer science. Intinya adalah melakukan rekonstruksi sinyal (bisa berupa citra ato sinyal lain, seperti sinyal hape, radio, tv) dari sinyal yang low-res menjadi sinyal yang hi-res. Salah satu penerapan praktisnya di bidang medis. Misalnya ada pasien yang organ pernapasannya hendak dipindai (di-scan) menggunakan MRI, maka pasien tersebut HARUS bisa menahan nafasnya selama proses pemindaian (scanning). Otherwise, hasil pemindaian MRI akan kabur ketika ada pergerakan dari organ pernapasan. Nah, di sini compressed sensing memegang peranan penting.

Dari hasil pemindaian yang cepat (agar pasien nggak keburu mati karena disuruh menahan nafas terus2an), akan didapatkan MRI yang "under-sampling" atau kualitasnya kurang baik (sementara untuk mendapatkan pemindaian dengan resolusi tinggi, pasien harus menahan nafas lebih lama). MRI yang "under-sampling" tentu akan menyulitkan radiolog untuk melakukan analisa (lah, gambarnya low-res). Nah, "Compressed Sensing" memegang peranan penting di sini. Masukkan MRI yang "under-sampling" tersebut ke software yang menerapkan "Compressed Sensing", dan pop! akan dihasilkan MRI dengan kualitas ketajaman yang cukup baik untuk dapat dianalisa oleh radiolog. Rekonstruksi citra (ato sinyal) yang under sampling dilakukan secara "magic" oleh "Compressed Sensing". It's a brilliant idea!

Sekilas saya baca, teori dari "Compressed Sensing" ini membuat saya bingung... Di jurnal2 penelitian tentang topik ini selalu melibatkan hitung2an dengan simbol-simbol ajaib seperti y, f, e, |, d, q, d dan tak ketinggalan muncul simbol kebangaan para matematikawan sedunia, ò (integral).

Tapi saya bisa sense ini topik penelitian yang "sexy"... Ya, let's see apa saya akan bergumul dengan those symbols selama 3.5 tahun ke depan. Sekarang saya mau week-end dulu... Mau kencan... Bukan, bukan dengan istri. Dengan mbak "C"...

Mbak "Compressed Sensing" yang "sexy" itu.